MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Ketularan Papa



Azkia memasukan beberapa pakaiannya, pakaian Raffasya dan juga pakaian Naufal ke dalam koper kecil. Karena pagi ini Azkia mengajak suaminya menginap di rumah Mama mertuanya.


" Pakai koper segala, memang mau mudik, Ma?" Raffasya meledek istrinya yang sedang merapihkan pakaian yang dimasukan Azkia ke dalam koper.


" Kita 'kan mau menginap, Pa. Kita perlu pakaian untuk ganti," sahut Azkia cuek kemudian menutup koper itu. " Sudah, beres ... tinggal Papa yang bawa ke bawah. Sini aku yang gendong Naufal, Pa." Azkia meminta suaminya menyerahkan Naufal yang sedang bersama Raffasya karena Raffasya harus membawa koper.


" Sudah biar aku saja, Ma. Kamu nggak boleh bawa yang berat-berat." Raffasya menolak permintaan Azkia. Karena dia tidak ingin istrinya yang sedang hamil kecapean harus menggendong Naufal yang semakin berat, apalagi turun dari tangga.


" Tapi Papa repot, nggak? Harus menggendong Naufal sama bawa koper?" tanya Azkia.


" Itu hal kecil, Ma. Tenang saja ..." Raffasya lalu mengangkat koper dan menariknya setelah dia turunkan di lantai. " Kita berangkat sekarang?" tanya Raffasya.


" Ayo ...!" Azkia menganggukkan kepala lalu melangkah mengikuti Raffasya yang berjalan di hadapannya.


" Sini Uni yang bawa kopernya, Mas." Uni yang keluar dari kamar tamu dan baru selesai membersihkan kamar tamu langsung menawarkan bantuan saat melihat Raffasya yang membawa koper dan menggendong Naufal.


" Iya, Mbak Uni. Tolong bawakan ke mobil, ya!?" Azkia langsung menyetujui tawaran bantuan dari Uni.


" Naufal mau ke mana?" Saat melihat Uni, justru Naufal mengulurkan tangannya seolah meminta Uni untuk menggendongnya.


" Naufal minta digendong sama Mbak Uni, ya?" tanya Uni. " Uni yang gendong Naufal saja deh, Mas Raffa." Uni memilih menggendong Naufal karena bayi itu terus bergerak minta digendong oleh Uni hingga akhirnya Raffasya menyerahkan Naufal kepada Uni. Raffasya lalu menggandeng Azkia yang terlihat hati-hati menuruni anak tangga.


" Mbak, jaga rumah baik-baik, ya!? Aku sama Papanya Naufal mau menginap di rumah Omanya Naufal," ujar Azkia setelah sampai di dalam mobil.


" Iya, Mbak. Hati-hati, Mbak."


" Assalamualaikum ... daaaggg, Mbak Uni." Azkia melambaikan tangan Naufal ke arah Uni sebelum menutup kaca jendela.


" Waalaikumsalam ... daaaggg, Naufal ..." Uni pun melambaikan tangannya sebelum kaca jendela pintu tertutup dan mobil Raffasya berjalan keluar dari pekarangan rumahnya.


***


" Naufal apa kabar, Sayang? Oma senang Naufal menginap di rumah Oma." Lusiana membawa Naufal ke dalam kamarnya.


Setelah sampai di rumah Lusiana dan menaruh koper di kamar, Raffasya berpamitan langsung berangkat menuju ke cafenya. Sementara Azkia dan Naufal dibawa Lusiana ke dalam kamarnya.


" Naufal tambah berat sekarang ya, Kia. Kamu jangan lama-lama kalau menggendong Naufal, kasihan bayi di perut kamu itu." Lusiana menasehati Azkia agar tidak mengangkat beban berat.


" Iya, Ma. Naufal juga sekarang jarang minta gendong aku, Ma. Dia sudah senang berjalan jadi maunya bergerak sendiri dengan kakinya." Azkia menyahuti.


" Oh ya, Ma. Kabar Papa Fariz bagaimana?" Azkia tiba-tiba menanyakan soal Papa mertuanya kepada Mama mertuanya itu.


" Kok tanya Mama? Kamu 'kan yang dekat sama Papa mertuamu itu!" protes Lusiana menanggapi pertanyaan Azkia.


" Siapa tahu sudah ada pedekate dari Papa. Soalnya waktu pulang kemarin, Papa sempat tanya ke Papanya Naufal tentang harapan suamiku itu terhadap hubungan Papa dan Mama. Kia pikir Papa sudah berbicara dengan Mama." Azkia memang tidak diberitahu oleh Lusiana tentang kedatangan Fariz ke kantornya beberapa waktu silam. Dan Lusiana juga belum memberikan keputusannya tentang hal yang disampaikan Fariz kepadanya.


" Kamu ini, Kia. Kenapa sih, selalu saja memikirkan hal itu?" Lusiana merasa kurang nyaman dengan pembicaraan soal Fariz.


" Ma, aku, Papanya Naufal dan Naufal itu ingin melihat Mama bahagia. Saat kami merasa ada kesempatan untuk membuat Mama bahagia, tentu kami nggak ingin menyia-yiakan kesempatan itu. Lagipula Papa dan Mama tidak punya ikatan dengan siapapun. Jadi tidak ada yang salah jika Papa dan Mama hidup bersama lagi, kan?" Azkia tetap kepada keinginannya.


Ddrrtt ddrrtt


Tiba-tiba ponsel Lusiana berbunyi. Dan Lusiana merasa diselamatkan oleh bunyi pesan masuk dari topik pembicaraannya tentang mantan suaminya dengan Azkia. Namun dia melirik ke arah Azkia saat mengetahui ternyata Rosa lah yang saat ini mengirimkan pesan kepadanya.


Sejak pertama kali Rosa meneleponnya, Lusiana memang langsung menyimpan nomer telepon Rosa, karena Rosa beberapa kali mengirimkan pesan kepadanya, walau hanya sekedar menanyakan kabar dan mengingatkan untuk menjaga kesehatan. Rosa sudah seperti seorang anak yang memperhatikan orang tuanya.


" Siapa, Ma?" tanya Azkia heran karena Lusiana menoleh ke arahnya.


" Bukan siapa-siapa, ini urusan pekerjaan," sahut Lusiana menjawab dan menyembunyikan kenyataan jika Rosa lah yang mengirim pesan kepadanya.


" Assalamualaikum, Tante. Naufal sedang ada di rumah Tante, ya? Kangen banget sama Dedek Naufal. Titip peluk dan cium untuk Naufal ya, Tan. Jaga kesehatan selalu juga untuk Tante." Lusiana lalu membaca pesan masuk dari Rosa yang sebenarnya hanya sekedar berbasa-basi namun baginya itu suatu bentuk perhatian kecil yang mulai dia nikmati akhir-akhir ini.


" Waalaikumsalam ... iya, Naufal katanya mau menginap di sini. Makasih, Rosa." Lusiana langsung menjawab pesan Rosa.


Saat Lusiana sedang mengetik balasan pesan kepada Rosa, ponsel Azkia pun tiba-tiba berbunyi.


" Tante Oca telepon ini, Dek." Dan Azkia langsung mengambil ponselnya saat melihat panggilan video dari adik iparnya itu.


Lusiana kembali menoleh ke arah Azkia karena kini Rosa justru menghubungi Azkia. Dia khawatir jika Rosa akan bicara pada Azkia jika belakangan dirinya pernah beberapa kali berkomunikasi dengan anak mantan suaminya itu.


" Assalamualaikum, Tante Oca." Azkia mengangkat video call dari Rosa dan mendekatkan layar ponselnya ke hadapan Naufal. " Dek, ini Tante Oca ..." ucapnya kemudian.


" Waalaikumsalam ... Hai, bayi ganteng. Naufal lagi main ke rumah Oma, ya?" tanya Rosa menyapa Naufal.


" Iya, Tante Oca." jawab Azkia. " Kok, kamu tahu Naufal sedang di rumah Omanya, Ca?" tanya Azkia heran.


" Aku 'kan lihat story WA Kak Kia." Rosa memberitahukan dari mana dia mendapatkan info soal keberadaan Azkia dan Naufal saat ini.


" Oh, iya ..." Azkia menyeringai mengingat jika dia tadi sempat membuat status ' OTW menginap di rumah Oma Lusi'.


" Eh, Ca. Ini ada Mama Lusi juga, lho! Mau menyapa, nggak?" Azkia kemudian mengarahkan layar ponselnya ke arah Lusiana karena Azkia tidak tahu jika sebelumnya Rosa dan Lusiana sudah berkomunikasi.


" Halo, Tante ..." Rosa segera menyapa Lusiana dengan santun dan memberikan senyumannya.


" Halo, Rosa ..." Lusiana membalas sapaan Rosa dengan agak kikuk.


" Panggil Oca saja dong, Ma. Biar lebih akrab," celetuk Azkia seraya menyeringai.


" Pasti ramai di rumah karena ada Naufal ya, Tante?" Rosa berusaha untuk terus berkomunikasi dengan Lusiana, karena bagaimanapun juga dia harus belajar mengakrabkan diri jika memang nanti Papanya akan kembali pada Lusiana.


" Iya, suasana di rumah ini jadi ramai karena ada Naufal di sini," sahut Lusiana.


" Ca, Oca mau nggak tinggal di rumah Mama Lusi kalau pindah kuliah di Jakarta ini? Biar Mama ada teman, nggak kesepian terus." Azkia terkikik, dia terlihat senang menggoda Mama mertuanya itu. Apalagi saat Lusiana langsung mendelik ke arahnya.


" Nanti rencananya Papa mau cari kost untuk Oca, Kak." jawab Rosa.


" Iiihh, kok pakai ngekost, sih? Kenapa nggak di tempatku saja, Ca? Sayang-sayang kalau kamu kost, mending uangnya ditabungin saja." ujar Azkia melarang rencana Papa mertuanya yang ingin mencari tempat kost untuk Rosa.


" Kenapa mesti nggak enak, Ca? Papanya Naufal itu 'kan Kakak kamu juga ..." Azkia tetap berharap Rosa bisa tinggal bersamanya.


" Kamu sudah dapat tempat kostnya, Rosa?" Lusiana tiba-tiba ikut bertanya.


" Belum, Tante. Rosa mau tanya Kak Kia kost yang bagus di sekitar kampus tempat Om Yoga mengajar di mana?" sahut Rosa.


" Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di sini saja, Rosa."


Ucapan Lusiana membuat Azkia dan Rosa tercengang. Kedua kakak dan adik ipar itu tidak menyangka jika Lusiana akan menawarkan Rosa untuk tinggal di rumahnya walaupun tadi Azkia sempat meledek Mama mertuanya itu. Karena Azkia yakin jika Lusiana tidak akan setuju dengan usulnya.


" Serius, Ma? Oca boleh tinggal di sini, di rumah Mama?" Azkia terlihat girang mendegar tawaran Lusiana.


" Daripada dia kost, belum tentu pergaulan di tempat kost nya itu bagus. Lagipula kalau Rosa di sini, kamu pasti akan sering-sering menginap di rumah Mama." Lusiana tentu saja mengambil keuntungan dengan kehadiran Rosa di rumahnya.


" Beres, Ma. Nanti Kia akan sering-sering ajak Naufal menginap di sini kalau Oca tinggal di sini juga." Tanpa menunggu persetujuan dari Raffasya, Azkia langsung menyetujui apa yang diucapkan Lusiana. Baginya sikap positif Lusiana terhadap Rosa itu adalah suatu kemajuan pesat. Setidaknya jika Lusiana sudah bisa dekat dengan Rosa, peluang untuk menyatukan kembali kedua mertuanya itu akan terbuka lebar.


***


" Pa, tahu nggak? Tadi Mama bilang Rosa boleh tinggal di rumah ini, lho!" Azkia langsung menyampaikan berita baik kepada suaminya saat mereka berdua hendak beristirahat.


" Oh ya? Kenapa Mama tiba-tiba mengijinkan Rosa tinggal di sini?" tanya Raffasya heran. Dia nampak terkejut dengan keputusan Mamanya itu.


" Tadi siang 'kan Oca video call terus cerita mau cari kost kalau pindah kuliah di Jakarta ini. Aku bilang supaya Oca tinggal sama kita, tapi Oca menolak, dia bilang nggak enak kalau ikut sama kita. Terus Mama menawari untuk tinggal di rumah ini. Itu 'kan bagus, Pa! Peluang kita untuk mendekatkan Mama dan Papa semakin terbuka lebar." cerita Azkia begitu bersemangat.


Raffasya melihat istrinya itu memang gencar sekali menjodohkan kedua dua Raffasya. Dia merasa sangat terharu melihat Azkia yang mencintainya. Bahkan istrinya itu pantang menyerah berusaha untuk menyatukan kedua mertuanya hanya untuk melihat dia bahagia.


" Ma, waktu aku memutuskan untuk menikahimu, aku nggak pernah berharap banyak. Aku hanya berusaha bertanggung jawab atas kesalahan yang aku perbuat kerena sudah menghamilimu. Tapi kenyataan yang aku dapat ... Masya Allah, kamu benar-benar membuat aku merasa sangat bahagia, jauh melebihi ekspektasi, Ma. Aku nggak berharap banyak terhadap hubungan Papa dan Mamaku, apapun hasilnya nanti, kebahagiaan aku nggak akan berkurang karena aku sudah mempunyaimu, Naufal dan juga calon anak kedua kita." Raffasya mengelus perut Azkia seraya merangkulkan satu tangan ke pundak sang istri dan langsung mengecup pipi Azkia.


" Ini nggak ada maunya, kan?" Azkia menjauhkan wajahnya dari Raffasya yang baru saja mengecup pipinya. Karena dia tahu suaminya itu pasti akan meminta yang lainnya kalau sudah bersikap mesra seperti ini.


" Kalau ada maunya juga nggak apa-apa 'kan, Ma? Sudah seminggu nggak dikeluarin, nih." Raffasya menyeringai dan menjatuhkan Azkia yang tadi terduduk di tempat tidur hingga berbaring.


" Aakkhh ...! Papaaa ...!" Azkia menjerit karena suaminya itu terus saja menciuminya.


" Habis kamu itu gemesin banget sih, Ma! Aku lagi bicara serius malah ditanggapi begitu." protes Raffasya yang merasa gemas dengan sikap istrinya tadi.


" Biasanya 'kan Papa kalau sudah rangkul-rangkul terus cium-cium itu ujung-ujungnya minta dienakin," sahut Azkia terkekeh.


" Ya sudah sekarang aku beneran minta dienakin, nih!" Raffasya mulai memainkan kelincahan tangannya dengan mulai menyusup ke dalam pakaian tidur yang dikenakan Azkia. Sejurus kemudian tangan terampil Raffasya sudah berhasil menguasai bukit kembar milik istrinya.


" Pa, geli ..." Azkia mengeluh karena permainan tangan suaminya itu berhasil menguasai puncak bukitnya.


" Geli-geli enak, kan?" Raffasya menyeringai. Dan bukannya melepaskan tangannya, dia justru semakin intens menjelajahi tubuh sang istri.


" Pa, jangan nakal tangannya, nanti kalau aku kepingin gimana?" tanya Azkia dengan nada manja namun kini tangan wanita itu mengusap rahang tegas suaminya.


" Kalau kita sama-sama kepingin, ya sudah dilanjut saja." Dengan cepat Raffasya melahap bibir ranum Azkia penuh has rat. Dia memang susah menahan ga irahnya jika sudah bersentuhan dengan istrinya seperti saat ini, hingga akhirnya melanjutkan kein timan mereka melalui penyatuan tubuh mereka berdua sejatinya pasangan suami istri yang sedang dilanda cinta.


***


Azkia memperlihatkan perut buncitnya kepada Naufal, saat dia hendak menemani anaknya itu tidur siang. Sejak tadi anaknya itu terlihat aktif mengacak tempat tidur dan tidak juga mau terlelap.


" Dedek bayinya dicium ini, Nak." Azkia meminta Naufal untuk mencium perutnya itu.


" Dede ..." ucap Naufal mendekat ke arah perut Azkia.


" Pegang ini perut Mama, tapi jangan dipukul nanti dedek bayinya nangis." Azkia mendekatkan tangan Naufal untuk mengusap perutnya.


" Cium dedek bayinya, Sayang." Azkia kembali menyuruh Naufal mencium perutnya yang langsung dituruti oleh Naufal dengan mencium perut Mamanya itu berulang-ulang hingga meninggalkan cairan salivanya di kulit perut Azkia.


" Hahaha ... wah, dedek bayinya basah, nih! Dicium sama Kakak Naufal ..." Azkia sudah mulai membiasakan diri menyebut kata Kakak pada nama Naufal saat berinteraksi dengan bayi di perutnya, karena sebentar anaknya itu akan menjadi kakak untuk bayi yang dikandung oleh Azkia.


" Sudah sekarang Naufal bobo, sudah siang ..." Azkia mengangkat tubuh Naufal dan membaringkan tubuh anaknya itu kemudian dia mengusap kening Naufal agar cepat tertidur.


" Mamaaa ... ne nen ..." ucap bocah kecil itu.


" Ne nen? Tadi Naufal 'kan sudah mimi su su ..." Azkia menunjukkan botol kosong kepada Naufal.


" Tuh, lihat ... sudah habis ..."


" Ne nen ..." Naufal kini merengek sambil memukul-mukul pa yu dara Azkia.


" Naufal mau ne nen punya Mama?" Azkia lalu menyibak pakaian atasnya dan mengeluarkan satu pa yu daranya karena Naufal menunjuk bagian itu. Walaupun dia sendiri tidak tahu apakah masih mengeluarkan ASI. " Ini ...."


Namun bukannya menyesap, tangan Naufal malah memainkan dan memilin bagian puncak bukit milik Mamanya.


" Iiihh, kok buat mainan sih, Nak? Naufal jangan ketularan Papa, dong! Geli tahu, Nak!" Azkia segera memprotes Naufal dan menjauhkan tangan Naufal dari puncak bukitnya dan menutup kembali pakaiannya.


" Eheekk ... eheekk ..." Namun Naufal justru menangis saat Azkia melarangnya menyentuh pa yu dara Mamanya.


" Sayang, kok nangis, sih? Iya, nih ... sok pegang lagi ..." Azkia kembali menaikan pakaiannya dan membiarkan Naufal memainkan pu tingnya. Azkia pun kemudian menepuk pan tat Naufal dengan pelan agar tidak menyakiti putranya itu hingga tak lama Naufal pun terlelap di sampingnya.


Azkia menggelengkan kepala menanggapi sikap Naufal yang merengek tadi.


" Nggak Papanya, nggak anaknya, senang banget mainin pu ting Mama ..." ucap Azkia mengomentari kelakuan suami dan anaknya yang mirip itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading♥️