MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Sejak Kapan Mual-Mual?



Suara musik hinggar bingar begitu memekakkan telinga ketika Raffasya masuk ke sebuah night club. Puluhan wanita cantik dan berpenampilan seksi begitu memanjakan pandangan mata para lelaki terutama para lelaki hidung belang yang hanya memikirkan kesenangan semata.


" Apa yang bisa saya sediakan untuk Anda?" Seorang bartender bertanya kepada Raffasya saat Raffasya duduk di kursi bar.


" Non alcoholic beer," sahut Raffasya.


" Oh, oke ..." Bartender itu kemudian mengambil pesanan Raffasya.


" Thanks." Raffasya mengambil kaleng minuman yang disuguhkan bartender untuknya.


" Hai ..."


Saat Raffsya mulai meneguk minuman kaleng yang dimintanya, seseorang menyapa Raffasya hingga Raffasya menoleh orang yang menyapa seolah mengenal dirinya.


" What's up, Bro!" Pria yang menyapanya itu kemudian melakukan fist bump kepada Raffasya.


" Baru pertama kali kemari, Bro?" tanya pria itu.


Raffasya mengeryitkan kening hingga memicingkan matanya mencoba mengingat pria di hadapannya itu.


" Sorry, kita pernah bertemu di mana, ya?" Raffasya masih terus mencoba mengingat.


" Lu pemilik radio FM itu, kan? Gue Bimo, temannya Thomas. Kita pernah ketemu waktu Thomas mau ajak kerjasama event dance kemarin."


" Oh iya iya ... sorry gue lupa." Raffasya akhirnya mengingat orang yang menyapanya adalah teman dari Thomas.


" Baru pertama kali mampir ke sini?" tanya Bimo lagi.


" Iya."


" Lu mau pesan apa?" tanya Bimo lalu menoleh ke arah bartender. " Jhon, pesanan dia biar gue yang bayar." Bimo berbicara pada sang bartender.


" Nggak usah, Bro! Biar gue bayar sendiri saja." Raffasya menolak saat Bimo berniat membayar pesanannya.


" Nggak apa-apa, Bro. Lu tamu di sini, jadi sepatutnya gue menyambut dengan baik. Lu mau tambah pesan apa?" Bimo justru menawarkan Raffasya untuk memesan food and beverage lainnya.


" Thanks, Bro! By the way ... bar ini milik lu?" tanya Raffasya karena melihat bagaimana Bimo meminta Jhon melayani Raffasya seolah dia adalah pemilik dari bar ini.


" Ini punya teman gue, dan kebetulan gue dipercaya ikut urus bar ini," sahut Bimo.


" Berarti lu hapal pelanggan-pelanggan yang biasa datang ke sini, Bro?" tanya Raffasya kembali.


" Iya, makanya gue tanya apa lu baru pertama kemari? Karena gue baru lihat pertama kali lu di sini." Bimo mengiyakan pertanyaan Raffasya.


" Hmmm, gue sedang cari orang, menurut kabar yang gue dengar sering datang kemari," ucap Raffasya. " Mungkin lu bisa bantu, siapa tahu lu pernah lihat juga di sini."


" Siapa yang lu cari, Bro?" tanya Bimo serius. " Lu ada foto orang yang lu cari?"


" Gue nggak punya fotonya tapi dia cewek, cantik, seksi, namanya Gladys."


Bimo sedikit membulatkan bola matanya saat mendengar nama Gladys disebut oleh Raffasya.


" Gladys?" Bimo mengeryitkan keningnya. " Lu kenal Gladys juga, Bro?" Bimo terkesiap saat mengetahui jika Raffasya ternyata kenal dengan Gladys. Tapi apa Gladys yang ditanya oleh Raffasya adakah Gladys yang dia kenal? pikir Raffasya.


" Lu kenal?" tanya Raffasya.


" Gue ada kenalan namanya Gladys, tapi gue nggak tahu apa Gladys yang dimaksud itu adalah Gladys yang lu cari," sahut Bimo. " Memang lu ada urusan apa dengan Gladys?"


" Ada masalah pribadi." Raffasya sengaja tidak mengatakan alasan yang sesungguhnya.


Bimo terkekeh seraya menepuk pundak Raffasya.


" Kalau Gladys yang lu maksud itu orang yang sama dengan Gladys yang gue kenal, dia memang oke, cantik dan tubuhnya yang wow ..." Tangan Bimo melakukan gerakan melekuk menyerupai lekukan gitar spanyol. " Tapi sayangnya sudah beberapa Minggu ini dia nggak muncul di sini."


Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas.


" Bukan urusan itu, Bro!" sangkal Raffasya. Dia menepis anggapan Bimo yang mungkin mengira jika mencari Gladys karena dia tertarik pada wanita itu.


Raffasya mengenal Gladys sekitar tiga tahun lalu di La Grande Caffe, saat dia performace di cafe miliknya itu. Sejak itu Gladys yang memang tertarik dengan Raffasya selaku mengejar pria itu, walaupun Raffasya sendiri tidak pernah meladeni Gladys, sehingga dia sendiri tidak tahu banyak tentang Gladys termasuk tempat tinggalnya. Raffasya sampai meminta tolong temannya untuk mencari di mana keberadaan Gladys, dan saat dia mendapat kabar jika wanita itu sering pergi ke salah satu klub malam, dia pun segera mencari keberadaan Gladys.


Tentu saja apa yang telah terjadi pada Azkia, yang menjadi alasan Raffasya mencari Gladys. Dia ingin tahu apa motif Gladys dan teman-temannya itu menjebak Azkia. Raffasya sendiri sempat meminta tolong kepada Harlan untuk mencari tahu tentang rumah yang dipakai oleh Gladys dan kawan-kawan untuk mengeksekusi Azkia. Ternyata tempat itu adalah rumah kontrakan. Sebelumnya Raffasya juga mengunjungi cafe tempat Azkia dijebak. Dia bahkan mengancam pelayan yang disuruh oleh Melanie untuk memasukan obat ke dalam minuman Azkia agar memberi informasi tentang Melanie. Dan ternyata baru diketahui jika pemilik cafe itu tidak mengenal siapa Melanie. Beberapa pelayan di cafe itu justru disuap oleh Gladys untuk mengatakan jika Melanie adalah teman dari bos mereka dengan iming-iming sebesar dua kali lipat dari gaji yang mereka terima hanya untuk bersandiwara. Mengetahui hal itu, pemilik cafe langsung memecat beberapa pegawainya yang dianggap bersekongkol melakukan tindak kriminal.


" Oh ya, sejauh mana lu kenal dengan Gladys? Bagiamana dia? Apa dia punya teman pria?" selidik Raffasya kemudian.


Bimo menyeringai menanggapi pertanyaan Raffasya.


" Oh, come on, Bro! Lu bilang tidak tertarik tapi lu bertanya mendetail tentang dia?" sindir Bimo.


Kini Raffasya yang tersenyum mendengar ucapan Bimo.


" Itu terserah pandangan lu, Bro! Yang pasti gue ingin secepatnya bertemu dengan dia karena gue butuh penjelasan dia soal hal penting." Raffasya lalu mengeluarkan dompet dari saku celananya. Dia mengeluarkan selembar uang seratus ribuan.


" Hei, Bro! Gue bilang gue yang traktir." Bimo segera melarang Raffasya yang hendak membayar minuman. " Hormatilah gue sebagai tuan rumah." Bimo meminta Raffasya untuk tidak membayar minumannya.


" Oke, thanks." Raffasya menaruh kembali uangnya. " Dia lalu menyodorkan kartu namanya kepada Bimo. " Ini kartu nama gue, hubungi gue kalau lu ketemu Gladys." Raffasya lalu berpamitan kepada Bimo dan kemudian meninggalkan klub itu karena dia tidak ingin terlalu lama di tempat yang menurutnya tidak sehat.


***


" Hanya ini koleksi terbaru dari butik, Kia?" tanya Amara melihat-lihat beberapa koleksi yang dibawa Azkia saat Amara meminta beberapa contoh koleksi terbaru dari butik milik kakaknya.


* Iya, Tan." sahut Azkia seraya mendudukkan tubuhnya di sofa.


" Kamu sakit, Kia? Kok kamu kelihatan pucat banget." Amara yang melihat Azkia yang terlihat tak bersemangat langsung menyentuh punggung tangannya ke kening Azkia.


" Nggak kok, Tan. Cuma nggak tahu kenapa?Sekarang ini bawaannya cepat sekali lelah dan lemas banget," sahut Azkia.


" Kamu jangan ngoyo, kalau sudah terlalu capek jangan memaksakan diri bekerja. Lagipula butik itu punya Mama kamu sendiri, santai saja." Amara menasehati Azkia agar tidak memforsir tenaganya.


" Iya, Tan." sahut Azkia.


" Kamu sudah makan belum? Tante masak ayam goreng serundeng sama sambal goreng udang, kamu makan, ya?" Amara menawarkan Azkia untuk makan lebih dahulu.


" Nggak ah, Tan. Lagi nggak naf su makan!" tolak Azkia.


" Jangan telat makan, nanti sakit, lho!"


" Nggak tahu, Tan. Perutnya lagi nggak enak, kayaknya apa yang masuk ke perut, mental lagi ke luar," keluh Azkia.


" Mungkin maag, kamu jangan telat-telat makan makanya!"


" Iya Tan. Anak-anak pada ke mana?" tanya Azkia kemudian.


" Haikal sedang belajar di kamarnya, kalau Zyan lagi sedang les privat drum." Amara menyahuti.


" Drum? Bukannya Zyan senangnya gitar?"


" Iya anak itu senangnya berubah-ubah," sahut Amara.


" Memang les di mana, Tan?"


" Sama temannya Raffa ...."


Azkia menghela nafasnya saat mendengar nama Raffasya. Entahlah, jika dulu saat dia mendengar nama pria itu dia hanya memutar bola matanya karena tingkah pria itu yang menurutnya menyebalkan, sekarang ini jika mendengar nama Raffasya, bermacam-macam yang dia rasakan. Marah, kecewa, malu, menyesal, semua itu bercampur menjadi satu jika mengingat tentang Raffasya yang selalu membangkitkan ingatannya kembali pada peristiwa yang tidak akan mungkin bisa dia lupakan begitu saja.


Dan rasa tak nyaman Azkia kini semakin menjadi saat dia mendengar suara motor sport memasuki halaman rumah Amara.


" Nah, panjang umur, deh. Baru diomongin orangnya datang." Amara menoleh ke arah jendela rumahnya dan di sana terlihat Raffasya yang berboncengan dengan Zyan berhenti di halaman depan rumahnya.


Azkia sendiri langsung mendengus saat mengetahui jika Raffasya pun muncul di rumah tantenya yang juga rumah Om dari Raffasya.


" Assalamualaikum, Ma." Suara Zyan memberi salam saat masuk ke dalam rumahnya dan menyalami Mamanya. " Eh, ada Kak Kia juga ..." Kini giliran Azkia yang disalami oleh Zyan.


" Waalaikumsalam, bagaimana latihan drum nya? Bisa nggak?" tanya Amara pada putra bungsunya itu.


" Bisa dong, Ma. Kan ada Kak Raffa yang ajarin."


Raffasya pun akhirnya muncul di ruang tamu rumah Amara. Dia memandang ke arah Azkia yang langsung membuang muka. Raffasya tidak kaget dengan keberadaan Azkia karena dia melihat mobil wanita itu terparkir di halaman rumah Amara.


" Ma, Zyan minta beli drum dong, Ma! Biar bisa latihan di rumah," pinta Zyan kemudian.


" Latihan drum di rumah? Zyan bilang sama Papa dulu, minta dibikinin ruangan kedap suara, biar suaranya nggak bikin bising tetangga komplek sini kalau kamu pukul drumnya," canda Amara terkekeh.


" Suara bising kayak Kak Raffa kalau berantem sama Kak Kia ya, Ma?" kelakar Zyan.


" Nah, tuh ... kalian berdua, apa nggak malu disindir adik kalian?" timpal Amara menanggapi ucapan putranya membuat Raffasya dan Azkia sama-sama terdiam.


" Tan, Kia pulang dulu. Bajunya Kia tinggal di sini saja, ya! Nanti kalau ada yang nggak cocok kabari saja." Azkia langsung bangkit dan mencium tangan Amara.


" Lho, kok buru-buru sih, Kia?" tanya Amara.


" Iya, kok buru-buru pulang, Kak? Kan belum berantem sama Kak Raffa, biasanya ribut dulu baru pada bubar." Zyan menyindir kedua kakak sepupunya itu.


" Assalamualaikum, Tan." Azkia lalu berpamitan kepada Amara tak memperdulikan sindiran Zyan.


" Waalaikumsalam, hati-hati bawa mobilnya, ya!" Nasehat Amara.


" Iya, Tan." Azkia lalu melangkah ke arah pintu dan melewati Raffasya, namun entah kenapa saat dia melewati Raffasya tiba-tiba saja kepalanya terasa berat dan pandangan matanya seolah berputar-putar hingga membuat langkahnya gontai dan hampir saja terjatuh jika Raffasya tidak langsung menahan tubuh Azkia dengan lengannya.


" Astaghfirullahal adzim, kamu nggak apa-apa, Kia?" Amara langsung mendekati Azkia yang masih berada dalam pelukan Raffasya.


" Ciee, ciee ... Kak Kia sama Kak Raffa pelukan ... suit suit ..." celetuk Zyan yang langsung meledek kedua kakak sepupunya saat mendapati pemandangan langka yang jarang terjadi antara Raffasya dan Azkia.


Azkia yang mendengar ucapan Zyan dan menyadari jika Raffasya kini sedang memeluknya langsung menyingkirkan tangan Raffasya dari tubuhnya, apalagi saat ini Amara sudah membantunya.


" Biar Raffa saja yang antar Almayra pulang ke rumahnya, Tan."


Amara langung terkesiap saat mendengar ucapan Raffasya yang dirasanya tidak nyata. Perkataan keponakan dari suaminya itu ibarat mata air di gurun sahara. Secara tiba-tiba dan diluar perkiraannya, Raffasya menawarkan diri untuk mengantar Azkia pulang. Padahal selama ini Raffasya selalu terlibat perdebatan dengan Azkia keponakannya. Apalagi dengan sebutan yang Raffasya sematkan saat memanggil nama Azkia dengan nama depan putri kakaknya itu 'Almayra'


" Kamu mau antar Kia pulang, Raffa?" Amara masih dalam mode antara percaya dan tidak percaya dengan pendengarannya.


" Iya, Tan."


" Kia nggak mau, Tan. Kia pulang sendiri saja!" Azkia dengan cepat menolak saat dia menyadari tawaran Raffasya yang ingin mengantarnya pulang.


" Tapi kamu nggak mungkin bisa pulang sendirian, Kia! Kamu tadi saja hampir terjatuh, gimana bisa mengendarai mobil sendiri? Itu berbahaya, lho!" larang Amara.


" Kia nggak apa-apa kok, Tan." Azkia lalu bangkit. " Tuh, liat! Tadi cuma pusing dikit saja, sekarang udah hilang. Ya sudah, Kia pulang sekarang ya, Tan." Azkia langsung bergegas keluar dari ruangan tamu rumah Tantenya.


" Kia, Kia tunggu!" Amara berusaha melarang Azkia.


" Biar Raffa saja, Tan." Raffasya lalu menyusul Azkia.


" Ya sudah, cepat kamu susul Kia! Tante khawatir ada apa-apa di jalan." Amara menyuruh Raffasya segera mengikuti Azkia.


" Iya, Tan. Raffa sekalian pulang, Tan." pamit Raffasya kemudian beranjak meninggalkan rumah Amara.


***


Azkia mengendarai mobil dengan satu tangannya sementara tangan lainnya sibuk memijat pelipisnya. Dia sendiri tidak tahu kenapa belakangan ini seluruh tubuhnya terasa aneh. Seperti hari ini yang dia rasakan, lemas, mudah lelah, tidak naf su makan dan tiba-tiba kepala terasa berat.


Tin tin


Azkia menoleh ke arah spion saat terdengar suara klakson.


" Ck, ngapain sih dia ngikutin?!" Azkia berdecak kesal saat dia melihat motor Raffasya berada di belakang mobilnya, membuat Azkia mempercepat laju mobilnya.


Tentu saja apa yang dilakukan Azkia dengan mempercepat laju kendaraannya, membuat Raffasya pun ikut mempercepat laju motornya hingga dia mendahului dan berhasil menghalangi jalan Azkia, dan membuat Azkia terpaksa menghentikan mobilnya.


Azkia segera membuka pintu mobil lalu keluar dari dalam mobilnya.


" Kak Raffa apa-apa, sih? Seenaknya saja menghalangi jalan orang!" Azkia langsung berkacak pinggang karena merasa kesal dengan ulah Raffasya yang tiba-tiba menghalangi jalan mobilnya.


" Gue rasa lu harus ke dokter, May." ujar Raffasya berjalan mendekati Azkia.


" Kak Raffa nggak usah aneh-aneh, deh! Aku itu nggak sakit, ngapain mesti ke dokter?" bentak Azkia dengan mata melotot.


" May, gue nggak mau berdebat! Lu mesti periksa, gue mesti pastiin lu hamil atau nggak?!" tegas Raffasya.


" Kak Raffa nggak usah maksa banget pengen aku hamil, ya! Aku itu nggak hamil! Dan jangan sekali-sekali lagi bersikap yang membuat heran keluarga aku! Aku nggak mau keluarga aku tahu tentang kejadian itu! Jadi jangan pernah ungkit-ungkit lagi tentang kehamilan karena aku itu nggak mungkin hamil, apalagi hamil dari Kak Raffa!" Azkia selalu menyangkal tentang kemungkian dirinya akan hamil.


Azkia lalu kembali membuka pintu mobilnya dan kembali masuk ke dalam mobil kemudian kembali melajukan mobilnya dengan cepat.


" Almayra, jangan ngebut!!" teriak Raffasya memperingatkan Azkia untuk tidak mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


***


" Mas Raffa, ada tamu yang mencari ..." Adam memberitahu Raffasya yang sedang berada di ruang kerjanya.


" Siapa, Dam?" tanya Raffasya.


" Mereka bilang mau sewa tempat ini buat acara pertunangan, Mas."


" Oh, suruh masuk saja, Dam."


" Baik, Mas." Adam kemudian keluar dari ruangan Raffasya sementara Raffasya sendiri segera bangkit dari kursi kerjanya bersiap menyambut tamunya. Tentu saja event-event seperti ini yang semakin membuat pundi-pundi tabungannya bertambah.


" Silahkan, Mas, Mbak ..." Tak lama kemudian Adam kembali bersama dua orang tamu Raffasya. Setelah itu kembali pergi dari ruang Raffasya.


" Oh, silahkan Mas, Mbak ... mari silahkan duduk!" Raffasya lalu mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk di sofa.


" Bagaimana, ada yang bisa kami bantu? Oh ya dengan Mas dan Mbak siapa ya?" tanya Raffasya ketika tamunya itu sudah duduk di sofa.


" Saya Jimmy dan ini calon tunangan saya Caroline. Begini, Mas Raffa. Kami berencana mengadakan pesta pertunangan, dan kami berencana ingin menyewa tempat ini untuk acara itu." Jimmy menjelaskan alasannya bertemu dengan Raffasya.


" Memang rencananya kapan acara pestanya dilaksanakan, Mas?" tanya Raffasya.


" Dua Minggu ke depan, Mas Raffa." sahut Jimmy.


" Apa akan memakai EO?"


" Iya, rencananya seperti itu."


" Hmmm, kalau saya menawarkan tempat saya yang lain bagaimana, Mas? Di La Grande Caffe. itu juga cafe punya saya juga. Kebetulan di sana sering dipakai untuk event-event seperti wedding dan party-party lainnya. View nya juga bagus, apalagi bisa outdoor juga. Sebentar saya punya beberapa dokumentasi beberapa acara yang diselenggarakan di sana." Raffasya kemudian mengambil laptopnya. Dia lalu membuka file yang berupa foto-foto acara formal, semi formal bahkan yang santai yang diadakan di La Grande.


" Jika Mas Jimmy belum menyewa EO, kami bisa tawarkan harga paket, akan lebih murah."


" Wah, kebetulan sekali kami memang belum menghubungi pihak EO nya, Mas."


" Apa Mas Jimmy berencana menyerahkan semuanya kepada kami?" tanya Raffasya mencoba menanyakan kepastian dari kedua calon kliennya.


" Gimana, Sayang?" tanya Jimmy kepada calon tunangannya.


" Terserah kamu saja, Mas." sahut Caroline.


" Kalau Mas Jimmy sama Mbak nya nggak keberatan, kita bisa meninjau tempatnya sekarang. Sekitar setengah jam dari sini. Kalau sudab lihat view nya mungkin enak bisa tawar menawar harganya."


" Boleh kalau begitu, kita lihat tempatnya sekarang." Jimmy menyetujui tawaran dari Raffasya untuk melihat salah satu cafenya itu.


***


Azkia bergegas menyibak selimutnya saat dia merasakan sesuatu yang mengaduk-ngaduk isi perutnya sehingga rasa mual terasa mendorong dia untuk mengeluarkan semua yang ada di perutnya. Dia lalu berlari ke dalam kamar mandi dan mencoba mengeluarkan apa yang rasanya harus segera dikeluarkan.


" Hoek ... Hoek ..." Azkia merasakan tenggorokan yang terasa asam dan pahit saat harus mengeluarkan sesuatu yang tidak banyak dia keluarkan. Dia lalu berkumur seraya membasuh wajahnya dengan air kran yang mengalir.


" Hoek ... Hoek ..." Rasa mual itu kembali menyerang hingga Azkia tertunduk lemas dengan wajah menghadap ke wastafel.


Tak lama dia kemudian berjalan ke luar dari kamarnya.


" Bi Jun ...!" teriak Azkia dari kamarnya memanggil keberadaan ART nya itu.


" I-iya, Non." Bi Jun dari lantai bawah menyahuti.


" Tolong ambilkan Kia air hangat untuk minum!" teriak Azkia kembali.


" Iya, Non."


" Ada apa pagi-pagi sudah teriak-teriak, Kia?" tanya Natasha yang keluar dari arah kamarnya di bawah.


" Kia butuh air hangat, Ma. Perut Kia sakit banget," keluh Azkia.


" Perut kamu sakit? Masuk angin?" tanya Natasha kemudian melangkah menaiki anak tangga untuk menghampiri putrinya itu.


" Nggak tahu, Ma. Rasanya mual banget."


" Kamu pasti telat makan, nih! Kemarin Tante Mara bilang wajah kamu pucat terus mau jatuh. Disuruh makan nggak mau."


" Iya, lagi nggak selera, Ma." sahut Azkia kembali masuk ke dalam kamarnya.


" Kalau begitu Mama bikinkan roti sebentar terus minum obat,"


" Nggak mau ah, Ma! Bosen minum obat terus. Sakit dikit minum obat. Nanti juga sembuh sendiri." Azkia kemudian menghirup aromatherapy ke dekat lubang hidungnya.


" Daripada penyakitnya didiamkan saja. nanti malah nggak sembuh-sembuh penyakitnya."


" Hoek ..." Azkia kembali berlari ke dalam kamar mandi saat rasa mual itu kembali kambuh menyiksa perutnya.


" Ya ampun, Kia ..." Natasha mengikuti langkah Azkia hingga ke dalam kamar mandi. Dia pun membantu memijat tengkuk leher Azkia agar Azkia mengeluarkan semua yang mengganjal di perutnya.


" Hoek ... Hoek ..."


" Kamu nggak makan jadi nggak ada makanan yang keluar. Nanti ke dokter saja, ya? Mama takut barangkali kamu kena maag." Natasha mengajak Azkia untuk ke dokter pagi ini.


" Nggak, Ma! Kia nggak mau!" Azkia langsung menolak anjuran Mamanya.


" Dari pada lambung kamu kenapa-kenapa, gimana?"


" Kia nggak apa-apa kok, Ma. Dibawa sarapan juga nanti sembuh, kok!" sahut Azkia.


" Tapi muka kamu pucat begitu lho, Kia." Natasha mengusap wajah Azkia yang berpeluh. " Kamu sejak kapan mual-mual begini?" tanya Natasha tiba-tiba. Entah kenapa rasa khawatir seketika menghinggapi hatinya. Melihat apa yang dirasakan Azkia persis seperti saat dia merasakan hamil. Natasha pernah enam kali mengalami kehamilan, jika dihitung dengan anak pertamanya dengan Yoga yang keguguran. Jadi dia sangat hapal dengan ciri-ciri orang yang sedang hamil. Namun Natasha mencoba menepis semua itu karena dia yakin jika putrinya dan Gibran tidak mungkin terjebak ke dalam hubungan yang akan membawa kedua insan itu mengalami masalah. Apalagi dia tahu Gibran adalah pria yang baik yang dipercaya oleh suaminya dan juga dirinya. Dan Natasha juga sangat mengenal karakter Azkia. Jadi tidak mungkin kalau Azkia mengalami apa yang ditakutkannya itu.


" Ini air hangatnya, Non." Bi Jun membawa sejelas air hangat dan menyerahkannya kepada Azkia.


" Kamu minum dulu airnya." Natasha pun membantu Azkia untuk meneguk air yang disediakan oleh Bi Jun untuk membuat perutnya terasa hangat.


.*


*


*


Bersambung


Happy Reading ❤️