MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Mau Coba-Coba Menarik Perhatian Suami Saya?



Sebagian besar pegawai Raff FM & Caffee, memperhatikan Azkia yang datang bersama dengan Raffasya. Pandangan yang sama beberapa pasang mata karyawan Raffasya seperti saat pertama kali Raffasya memperkenalkan Azkia sebagai istrinya kepada para karyawannya itu.


Ya, Raffasya akhirnya mau tak mau mengalah dengan memperbolehkan istrinya itu ikut ke cafe bersamanya. Itu lebih baik daripada dia harus melepas istrinya itu bekerja di Alexa Boutique. Setidaknya jika bersamanya, dia bisa mengawasi Azkia dan tidak akan membuat istrinya itu bekerja keras. berbeda jika di butik milik mertuanya, istrinya itu pasti akan fokus dengan pekerjaannya.


" Siang Mas Raffa, siang Bu Kia ..." sapa Nindi saat melihat Raffasya dan Azkia yang menginjakkan kaki ke lantai atas bangunan cafe dan radio milik Raffasya.


" Siang ..." Raffasya membalas sapaan Nindi.


" Tadi kamu bilang apa? Kamu panggil saya Ibu?" Azkia yang mendengar Nindi menyebutnya dengan panggilan ibu langsung memprotes.


" I-iya, Bu." jawab Nindi langsung gugup karena suara yang keluar dari mulut Azkia bernada ketus.


" Memangnya saya sudah terlihat seperti Ibu-ibu? Lalu kamu panggil suami saya apa tadi?" Azkia melipat tangan di dadanya.


" M-Mas Raffa ..." Nindi melirik ke arah Raffasya.


" Nggak usah lirik-lirik suami orang!" Azkia sedikit menggertak. " Kamu panggil saya Ibu, tapi panggil suami saya Mas. Mau coba-coba cari perhatian suami saya??" Azkia melotot.


" Nggak, Bu. Eh, Mbak ..." Nindi langsung menundukkan wajahnya, bahkan beberapa karyawan lain yang hendak melintasi mereka memilih menunggu bahkan mengurungkan niatnya.


" May, sudah jangan marah-marah. Nanti karyawanku pada ketakutan semua lihat kamu begini." Raffasya merangkul pundak istrinya ingin membawa istrinya segera masuk ke dalam ruangannya.


" Dengarin ya kalian semua!" Azkia kali ini bicara semakin lantang dan untung saja saat itu kondisi cafe memang belum buka jadi tidak ada orang di luar karyawan di sana.


" Mulai saat ini, biasakan kalian memanggil suami saya dengan panggilan Pak, karena dia atasan kalian. Jadi saya nggak mau mendengar ada karyawan yang menyebut suami saya dengan sebutan Mas lagi! Mau itu pegawai pria atau wanita! Kalian semua paham??" tanya Azkia dengan kalimat yang tegas.


" Paham, Mbak." Nindi dan beberapa karyawan lain langsung menyahuti pertanyaan Azkia, sementara Raffasya langsung memijat pelipisnya mendapati sikap istrinya yang mendadak posesif akut.


Ibarat senjata makan tuan, ingin hati mengerjai Azkia dengan membuat istrinya itu cemburu justru membuat dirinya kini tak berkutik karena istrinya itu justru ikut mengawasinya sampai ke tempat kerja. Namun perubahan sikap Azkia karena rasa cemburu menimbulkan rasa bahagia di hati Raffasya, karena dia merasakan jika Azkia mengganggap dirinya merasa dimiliki oleh istrinya hingga tidak ada satupun wanita yang boleh menyentuhnya.


" Sudah ayo kita masuk ke dalam." Raffasya langsung mengajak Azkia masuk ke ruangannya. " Kalian semua kembali ke tempat kalian masing-masing." Sebelum masuk ruangan, Raffasya masih sempat memberikan perintah kepada karyawannya terlebih dahulu.


***


" Kamu jangan galak-galak gitu dong sama karyawanku. Nanti mereka akan takut sama kamu, apalagi kamu akan setiap hari datang ke sini." Raffasya menasehati istrinya yang benar-benar menampakkan sikap kerasnya.


" Aku hanya mengantisipasi agar tidak ada bibit-bibit pelakor di tempat ini." tegas Azkia yang kemudian duduk di sofa.


" Kamu takut banget ya kehilangan aku, May?" Raffasya justru tertawa kecil dan mulai menggoda Azkia.


" Aku hanya nggak sudi anak aku ini punya Mama tiri!"


" Astaghfirullahal adzim, kamu jangan berpikiran jelek terus tentang aku dong, May! Berkali-kali aku bilang kalau aku nggak akan melakukan hal itu. Kenapa kamu masih nggak percaya sama aku??" Nada bicara Raffasya kini terdengar meninggi. Dia tidak masalah istrinya itu ikut ke tempatnya bekerja tapi jika sampai Azkia berpikiran sejauh itu, rasanya dia juga perlu menegur istrinya tersebut.


Azkia yang mendengar suaminya terlihat marah karena ucapannya tadi seketika berdiri.


" Kamu mau ke mana?" Raffasya menahan Azkia yang ingin berjalan ke luar ruangannya.


" Aku mau pulang ke rumah orang tuaku!" Azkia menepis tangan suaminya dan dengan setengah berlari menuju ke arah pintu.


" May, May, tunggu ...!" Raffasya langsung menyusul Azkia dan memeluk istrinya itu. " Aku minta maaf, oke?" Raffasya yang merasa Azkia marah karena dia tadi berbicara cukup keras langsung mengambil sikap dengan menyampaikan permintaan maafnya. Tak lama Azkia pun ikut melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.


" Aku takut, Kak Raffa akan khilaf." Azkia mengungkap rasa khawatirnya.


Telapak tangan Raffasya kemudian menangkup wajah Azkia.


" Jangan ragukan aku, May. Kamu tahu sendiri selama ini aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun juga, kan?" Dengan lembut jari tangan Raffasya membelai wajah istrinya.


" Iya kalau yang mendekati Kak Raffa model kayak cewek yang pernah jebak aku dulu sih aku nggak khawatir, tapi kalau ceweknya tipe kayak Rayya, aku takut Kak Raffa akan tergoda," cemas Azkia.


" Mau seperti apapun orangnya, aku nggak akan melakukan hal itu, May."


Azkia menatap suaminya seakan menyelidik dan mencari kejujuran dari sorot mata suaminya.


" Awas saja kalau Kak Raffa ingkar, aku nggak akan ijinkan Kak Raffa bertemu anak Kak Raffa!" ancam Azkia.


" Jangan seperti itu dong, May! Mama tahan juniorku dilarang masuk jenguk anakku." Raffasya langsung bereaksi saat Azkia melarangnya bertemu anaknya dalam konotasi yang berbeda.


" Kak Raffa pikir aku hanya melarang Kak Raffa menjenguk di ranjang? Aku itu akan kabur dan menyembunyikan anakku dari Kak Raffa setelah dia sudah lahir kalau Kak Raffa benar-benar selingkuh!" Azkia memutar langkah dan kembali duduk di sofa.


" Ya ampun, May." Raffasya langsung duduk berlutut di depan Azkia sembari memeluk pinggang Azkia dan menciumi perut Azkia.


" Dedek bayi tolongin Papa, dong. Bujuk Mama supaya Mama nggak marah-marah terus sama Papa. Papa pusing, Dek. Mama cemburu sama Papa, padahal Papa itu setia sama Mama. Bujukin Mama ya, Sayang. Kalau dedek bayi bisa bujuk Mama, Papa janji nanti malam Papa akan jenguk dedek bayi."


Azkia terbelalak mendengar perkataan suaminya, " Dasar otak me sum! Sempat-sempatnya mikirnya hal itu terus!" gerutu Azkia memalingkan wajahnya karena saat ini Raffasya sedang menyeringai menggodanya.


" Itu 'kan vitamin, May. Meningkatkan imun kekebalan tubuh, biar selalu sehat dan fit terus." Raffasya menunjukkan otot-otot tangannya yang terbungkus kemeja ketatnya. Raffasya lalu bangkit dan mencium bibir Azkia yang masih mencebik. " Dan kamu adalah vitaminku, May."


Azkia menatap wajah suaminya yang dia sadari memang begitu tampan. Azkia bahkan mengusap wajah Raffasya perlahan dengan jari-jari tangannya.


" Kenapa?' tanya Raffasya.


" Aku nggak mau kehilangan Kak Raffa ..." ungkap Azkia.


Senyuman langsung mengembang di bibir Raffasya. " Kenapa kamu nggak ingin kehilangan aku?" Raffasya memancing istrinya untuk mengungkapkan perasaan Azkia yang sebenarnya.


" Karena Kak Raffa milik Aku, milik bayi di perutku ini. Dan aku nggak mau milik aku dimiliki orang lain!" tegas Azkia.


Raffasya kembali tersenyum, " Aku hanya milik kamu dan milik anak kita, May. Dan tidak ada orang yang bisa merebut aku dari kamu, karena aku menyanyangi kamu dan juga anak kita."


Azkia mengerjapkan matanya mendengar ucapan Raffasya. Tentu saja dia merasa bahagia mendengar kalimat sayang yang terucap dari bibir suaminya. Dia tahu apa yang dikatakan oleh suaminya itu tulus dan bukan modus semata. Azkia bahkan kini mengalungkan tangannya di tengkuk Raffasya. Bibirnya bahkan mendekat ke arah bibir Raffasya seakan mengambil inisiatif untuk memulai kembali aktivitas bercum bu mereka. Dan Raffasya pun dengan senang hati meladeni permainan istrinya yang mulai menampakkan sikap agresifnya.


" Raffa, Kia ma ... na?"


Suara Lusiana dari arah pintu ruangan kerja Raffasya sontak membuat Raffasya dan Azkia yang sedang bercum bu mesra terperanjat.


" Ya ampun ... Raffa, Kia?" Lusiana juga tak kalah kagetnya melihat kelakuan anak dan menantunya yang sedang bermesraan di ruangan kerja. Namun tentu saja hal itu membuat dirinya bahagia, karena semakin lama hubungan Azkia dan Raffasya yang selama ini seperti musuh abadi itu lamban laun semakin terlihat romantis.


" M-Mama?" Azkia langsung menjauhkan tubuh suaminya dengan tangannya lalu bangkit merapihkan pakaiannya dan mencium tangan Lusiana.


" Kalian ini, mesra-mesraannya nggak ingat lagi di tempat kerja, ya?" Lusiana terkikik seraya melirik ke arah Adam yang mengikuti langkahnya.


" Hmmm, maaf ... saya permisi." Adam langsung berpamitan karena dia sendiri merasa serba salah dan malu sendiri mendapati Azkia dan Raffasya saling bercum bu mesra.


" Ada apa Mama kemari? Menganggu kesenangan Raffa saja." Raffasya merasa kehadiran Lusiana mengganggu aktivitas dia dan istrinya menampakkan ketidaksukaannya


" Kak Raffa nggak boleh bicara seperti itu!" Azkia langsung menegur suaminya karena menganggap Raffasya tidak sopan berbicara pada orang tuanya sendiri.


" Kia, Mama tadi ke rumah tapi kata Neng kamu ikut bekerja sama Raffa." Lusiana merangkul Azkia. " Raffa, kamu ini bagaimana, sih? Masa istri sedang hamil disuruh ikut bekerja?" Lusiana seketika menegur putranya karena dia berpikir kalau putranya itulah yang menyuruh Azkia bekerja.


" Kamu nggak lihat istrimu ini kerepotan karena hasil perbuatanmu ini?" Lusiana mengusap perut buncit Azkia. " Sekarang malah kamu suruh bantu kamu di cafe! Kamu jadi suami jangan menyiksa istri seperti ini, dong!" lanjut Lusiana masih terus menyerang Raffasya karena menganggap Raffasya tidak punya hati nurani mempekerjakan istrinya yang sedang hamil.


" Ma, Kia kerja bukan karena perintah Kak Raffa, tapi ini keinginan Kia sendiri yang ingin membantu Kak Raffa di sini." Azkia langsung membantah tuduhan Mama mertuanya terhadap suaminya.


Lusiana kini menatap Azkia, " Kenapa kamu ingin bekerja, Kia? Apa kamu nggak capek nantinya? Kamu sedang hamil, Nak. Mama nggak mau kamu kelelahan dan akan berakibat fatal pada cucu Mama ini." Seperti halnya Raffasya, Lusiana pun mengkhawatirkan Azkia jika ikut bekerja.


" Kia nggak apa-apa kok, Ma." sahut Azkia meminta Mama mertuanya itu tidak cemas.


" Menantu Mama ini sedang jadi bodyguard yang menjaga Raffa agar tidak ada cewek lain, yang melirik Raffa, Ma." Kali ini Raffasya berucap lebih santai terhadap Lusiana.


Namun kata-kata bernada santai yang diucapkan Raffasya justru tidak ditanggapi dengan senyuman oleh Lusiana. Wanita paruh baya itu justru menatap dengan sorot mata tajam kepada anaknya.


" Raffa, kamu jangan macam-macam, ya! Mama nggak akan tinggal diam kalau kamu sampai berani main api di belakang Kia!" Sepertinya bukan hanya istrinya saja yang harus dihadapi oleh Raffasya tapi Mamanya juga siap berada digarda terdepan menentang dirinya jika sampai Raffasya berani berselingkuh dengan wanita lain.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️