MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Hasil Test Pack



" Aliza, Kak Kia mana? Suruh cepat turun! Kita mau makan." Natasha meminta putri bungsunya itu memanggil Azkia yang masih berada di kamarnya.


" Kak Kia sekarang kok malas sekali sih, Ma?Maunya tiduran terus ..." keluh Aliza segera bangkit dari tempat duduk ingin memanggil Aliza.


" Siapa yang malas?" Azkia terlihat masuk ke dalam ruangan makan.


" Eh, orangnya datang." Aliza menyeringai saat melihat kemunculan kakaknya.


" Nyinyirin Kakak, ya?" Azkia berkacak pinggang seraya membulatkan matanya.


" Hihi, bercanda, Kak Kia." Aliza mengacungkan jari telunjuk dan tengah secara bersamaan.


" Ayo sini makan dulu, Kia." Natasha menarik kursi di sebelahnya.


" Makan sama apa, Ma?" tanya Azkia kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Natasha.


" Mama bikin ayam geprek sambal matah sama cah kangkung, tempe goreng dan krupuk udang," Natasha lalu menyendokkan nasi di piring setelah itu mengambil lauk untuk suaminya.


Ketika semua anggota keluarga sudah mengambil nasi dan lauk di piring dan menaruh di atas meja mereka, Azkia hanya bertopang dagu sambil memandangi makanan yang ada di atas meja makan.


" Kok Kak Kia nggak ambil makanannya?" tanya Yoga yang hendak memimpin doa sebelum mereka semua memulai menyantap makanannya, saat dia melihat putrinya itu hanya berdiam tak menyiapkan makanannya.


Natasha langsung menoleh ke arah Azkia yang memang tidak menyentuh piring yang disediakan untuknya.


" Kok nggak ambil makanannya, Kia?" Natasha pun kemudian menanyakan Azkia kenapa tidak juga mengambil makanan.


" Kia juga mau diambilin seperti Papa dong, Ma." Azkia lalu mengambil piringnya lalu menyodorkan ke Mamanya.


" Manja banget sih, Kak! Nggak malu sama adik-adiknya, tuh?" Abhi menunjuk Aulia dan Aliza yang langsung cekikikan melihat tingkah kakaknya itu.


" Iya, Kak Kia manja banget kayak anak kecil." Aulia kini ikut menimpali.


" Eh, nggak boleh nyinyir sama kakak sendiri, weekk ..." Azkia menjulurkan lidahnya meledek Aulia.


" Sudah-sudah jangan pada ribut!" tegur Yoga karena kegaduhan di meja makan karena permintaan Azkia yang tidak seperti biasanya.


" Sini Mama ambilkan." Natasha lalu menyendokkan nasi untuk Azkia.


" Tambah lagi dong, Ma! Sedikit banget sih nasinya!" Azkia memprotes Mamanya yang hanya mengambilkan nasi yang menurutnya sedikit, padahal menurut Natasha itu adalah takaran normal yang biasa anaknya makan.


" Cewek-cewek tapi makannya kayak kuli, banyak banget." Abhi kembali meledek Azkia.


" Berisik!" sergah Azkia.


" Lauknya pakai semua, Kia?" tanya Natasha kemudian.


" Iya, Ma. Sambalnya yang banyak, Ma."


" Jangan banyak-banyak nanti sakit perut!" larang Natasha.


" Makan nggak pedas rasanya nggak mantap, Ma." Azkia beralasan.


" Nanti perut kamu sakit lagi, Kia." Yoga ikut menasehati Azkia..


" Kia 'kan kuat tahan pedas, Pa." Azkia menyahuti. " Satu sendok lagi sambalnya, Ma."


Setelah Natasha menyediakan makanan untuk Azkia dan Yoga memimpin doa. mereka pun menyantap menu makanan mereka.


" Ssshh ... sambalnya enak banget deh, Ma. Ini Mama yang bikin sendiri?" tanya Azkia seraya mencocol sambal dengan potongan ayam lalu memasukan ke dalam mulutnya.


" Sudah deh, Kia! Nanti perut kamu sakit, lho!" Natasha kembali memperingatkan.


" Ma, mumpung selera makan Kia lagi muncul, jadi harus makan yang banyak. Dan makan yang banyak itu terasa lebih nikmat kalau pakai sambal ini." Azkia kembali memberikan alasan.


" Biarkan saja deh, Ma! Kalau perutnya sakit 'kan Kak Kia sendiri yang merasakannya." Abhi berkomentar, meminta Mamanya itu untuk tidak memperdulikan Azkia yang susah dinasehati.


" Nggak bisa dibiarkan, Abhi! Kalau Kakak kamu sakit, Mama juga yang ikutan repot!" protes Natasha menepis anggapan putranya.


" Sudah jangan pada berantem kalau lagi di meja makan!" Yoga lalu menegur anggota keluarganya yang sedang terlibat perdebatan kecil. " Ayo cepat habiskan makanannya!" perintah Yoga kemudian, yang langsung dituruti oleh istri dan anak-anaknya.


***


Raffasya mengawasi La Grande yang nampak ramai malam hari ini. Dia cukup senang usaha yang dia rintis sejak dia SMA sudah menuai hasil. Raffasya memang tidak melanjutkan kuliahnya karena dia mulai serius merintis usaha pribadinya. Jiwanya yang berontak dan rasa kecewa dia terhadap kondisi rumah tangga orang tuanya membuat dia tidak pernah bisa serius mengikuti setiap mata pelajaran sejak di sekolah dasar.


" Bud, kok yang nyanyi cuma Diah saja, Fenita sama Dion ke mana?" tanya Raffasya kepada Budi, salah seorang pegawai di La Grande Caffe.


" Mbak Fe hari ini jadwal off, Mas. Bang Dion ijin nggak berangkat, sakit katanya." Budi menjelaskan kenapa hanya Diah saja yang malam ini menghibur pengunjung cafe.


" Kasihan Diah disuruh nyanyi sendirian." Raffasya yang sejak tadi hanya mendegar suara Diah yang bersenandung menghibur para tamu cafe berinisatif bergantian dengan Diah menyumbang suaranya untuk memberikan hiburan bagi para pengunjung.


Raffasya lalu duduk di belakang keyboard piano dan mulai menarikan jari-jarinya di barisan tuts yang berjejer memainkan intro lagu Million Reasons milik Lady Gaga seraya menyapa para tamu cafenya.


" Selamat malam para pengunjung La Grande Caffe, selamat menikmati semua pelayanan di cafe kami. Semoga Anda semua merasa senang dan akan selalu teringat untuk selalu kembali ke cafe ini. Sambil menunggu Mbak Diah kembali bernyanyi, saya akan menghibur kalian semua yang malam ini hadir di sini dengan sebuah lagu yang cukup keren dari Lady Gaga, selamat menikmati dan semoga merasa terhibur dengan lagu yang ingin saya persembahkan.


...You're giving me a million reasons to let you go,...


...You're giving me a million reasons to quit the show ......


Suara tepuk tangan langsung terdengar saat Raffasya baru menyanyikan dua baris lagu Million Reasons.


...You're givin' me a million reasons,...


...Givin' me a million reasons...


...Givin' me a million reasons...


...About a million reasons...


Kini mata para pengunjung mulai fokus menatap ke arah stage di mana Raffasya memainkan keyboard sambil menyanyi. Tentu saja wajah tampan ditunjang dengan suara yang indah membuat Raffasya saat ini menjadi pusat perhatian para pengunjung. Tak sedikit pengunjung wanita yang terpesona dengan penampilan pria pemilik cafe itu.


...I bow down to pray...


...I try to make the worst seem better...


...Lord, show me the way...


...To cut through all her worn out leather...


...I've got a hundred million reansons to walk away...


...But baby, I just need one good one to stay...


Pengunjung pun terlihat begitu menikmati alunan lagu yang dibawakan untuk menghibur mereka hingga akhirnya Raffasya mengakhiri lagunya.


" Mas Raffa nih, lagunya sedih-sedih melulu. Kapan lagu yang hepi nya, Mas?" celetuk Diah saat Raffasya turun dari stage.


Raffasya hanya menarik satu sudut bibirnya menaggapi sindiran Diah yang hanya berupa candaan itu.


" Doain biar cepat dapat someone yang bisa bikin Mas Raffa hepi dong, Yah!" Aldi, pemain bass yang kini naik ke stage menimpali.


" Aamiin, Diah ikut doakan Mas Raffa biar cepat ketemu sama belahan jiwanya," sahut Diah kemudian seraya tertawa kecil.


Sementara Raffasya memilih segera pergi dari hadapan kedua orang yang bekerja untuknya itu.


***


Pukul sebelas lewat Raffasya tiba di rumahnya. Dia segera beranjak menuju kamarnya, melepas jaket dan melempar ke arah single sofa yang ada di samping kanan tempat tidurnya. Lalu dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa membasuh wajahnya terlebih dahulu. Hari ini dia harus menyelesaikan urusan karena besok dia akan ke Bandung untuk bertemu dengan salah satu orang yang menjebak Azkia.


Raffasya memejamkan matanya hingga beberapa menit dan dia merasakan sebuah kulit halus nan lembut menyentuh wajahnya.


" Pa ... pa ...."


Raffasya terkesiap saat mendengar suara anak kecil memanggilnya dengan sebutan 'Papa'. Mata Raffasya langsung mengerjap saat dia melihat seorang bayi laki-laki duduk disampingnya dengan tangan menepuk-nepuk wajahnya. bayi laki-laki itu mengembangkan senyumannya hingga memperlihatkan gigi atas dan bawahnya yang baru tumbuh sebanyak gigi.


" Naufal, Sayang ... jangan ganggu Papa! Papa capek lagi bobo, Sayang."


Raffasya kembali terperanjat hingga dia menolehkan wajahnya ke arah suara wanita yang tidak asing di telinganya.


" Maaf ya, Yank. Jadi terganggu bobonya, ya?" Wanita yang tak lain adalah Azkia itu kemudian mengambil tubuh bayi kecil yang dipanggil dengan nama Naufal.


Raffasya kini merasa sulit bernafas bahkan untuk mengerjapkan matanya pun tidak bisa dia lakukan saat mendapati dua orang di hadapannya itu. Dan kini rasa terkejutnya semakin mendera saat dia merasa sentuhan bibir lembut di bibirnya.


" Kamu kenapa sih, Yank? Kok bengong begitu?" Azkia kini mengusap wajah Raffasya dari kening hingga turun ke dagu Raffasya dengan telapak tangannya.


" Emmm ..." Suara Raffasya tercekat di tenggorakan, bahkan bibirnya terasa kelu hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


" Dek, lihat nih, Nyawa Papa kayaknya belum kumpul, deh! Dicium Mama tumben diam saja, biasanya nggak boleh dilepas." Azkia terkekeh melihat Raffasya yang masih terpaku.


" Ne nen ..." Bayi bernama Naufal merengek sepertinya meminta diberi ASI oleh Azkia.


" Naufal mau ne nen, ya?" Azkia lalu membuka kancing bajunya lalu mengeluarkan salah satu asset kembar bagian kanannya dan membuatkan Naufal menyesap ASI hingga bayi itu tenang dalam pangkuannya.


Kini mata Raffasya mulai bisa mengerjap saat melihat aktivitas yang dilakukan bayi kecil itu kepada Azkia. Raffasya bahkan sampai menelan salivanya. Dia pun sempat merasakan tersesat dan merasa nyaman berada di sana, sama seperti yang dirasakan bayi kecil itu.


" Jangan iri sama anak sendiri ya, Yank!" ledek Azkia menggoda Raffasya yang masih belum beranjak dari rasa terkejutnya. " Nanti malam jatah untuk kamu, Yank." Azkia kembali mendekatkan bibirnya ke arah bibir Raffasya, memberikan luma tan lembut pada bibir Raffasya. Namun kali ini Raffasya tidak diam saja. Dia mulai bereaksi dengan membalas apa yang dilakukan Azkia kepadanya, hingga mereka saling menikmati rasa berbagi kenikmatan dari sentuhan bibir mereka.


Buuugghh


" Aaarrrgghh ...." Raffasya merasakan tubuhnya terbentur benda keras hingga membuat matanya terbuka.


Raffasya mendapati dia masih berada di ruangan yang sama. Dia kemudian menoleh ke sebelahnya, ternyata guling yang ikut terjatuh bersamanya tadi.


" Si*al! Gue mimpi lagi ..." Raffasya kemudian bangkit dan duduk di tepi tempat tidurnya. Dia mendengus seraya mengusap kasar wajahnya.


" Kenapa ada bayi dalam mimpi gue tadi? Apa itu tanda-tanda Almayra hamil? Atau itu karena gue terlalu cemas?" Raffasya kembali menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan pandangan mata menatap langit-langit kamarnya.


Sementara di Jakarta bagian lain ...


Azkia nampak kesulitan untuk memejamkan matanya. Rasanya dia tidak sabar untuk menanti esok pagi saat dia akan mencoba alat test kehamilan. Azkia berharap hasilnya tidak akan menyeramkan seperti yang dia bayangkan, hingga dia bisa tenang dan tak lagi dikerjar-kejar oleh Raffasya.


Azkia kemudian mengambil test pack dari dalam tasnya. Untung saja tadi dia meninggalkan alat itu di mobil dan tidak menaruh di tasnya. Kalau saja tadi dia menaruhnya di tas, mungkin dia sudah langsung disidang oleh Papa dan Mamanya.


" Semoga kamu nggak kasih hasil yang aneh-aneh." Azkia kemudian menggenggam alat test kehamilannya itu hingga akhirnya dia terlelap ke alam mimpinya.


***


Azkia terbangun pagi ini karena dia merasa perutnya seperti diaduk-aduk hingga akhirnya dia berlari ke dalam kamar.


" Hoek ... Hoek ..." Azkia mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya hingga terduduk lemas di atas kloset dengan nafas tersengal-sengal. Azkia kemudian berjalan dengan langkah perlahan untuk mengambil alat test kehamilan yang dia beli di apotik.


Setelah mengambil test pack, Azkia lalu kembali ke kamar mandi untuk mengecek urine nya dengan alat itu. Azkia mencelup urine yang sudah dia taruh di wadah. Dengan tangan bergetar dia menunggu beberapa detik hingga dia mengeluarkan alat test pack itu dari wadah yang berisi urine nya.


Saat itu jantung Azkia berdebar cukup kencang. Rasa takut seakan merayapi hati Azkia. Dia benar-benar takut alat itu akan menjadi bencana bagi keluarganya.


Setelah beberapa menit Azkia menunggu, ternyata alat itu hanya menunjukkan satu garis. Hingga menunggu hampir lima belas menit tak ada lagi garis yang muncul di alat itu, membuat senyumnya kini mengembang lebar.


" Alhamdulillah Ya Allah, aku nggak hamil." Azkia bahkan sampai melompat bahagia karena ketakutannya tidak menjadi kenyataan.


" Terima kasih Ya Allah ..." Azkia lalu kembali ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya dengan hati sangat bahagia seolah dia baru saja mendapatkan jackpot.


" Aku bilang juga apa? Aku itu nggak mungkin hamil! Apalagi hamil anak Kak Raffa." Azkia seolah mengolok Raffasya yang menurutnya terlalu berlebihan mengatakan dirinya hamil.


Azkia kemudian bangkit kembali. Kemudian dia menaruh hasil test kehamilan itu ke dalam plastik lalu dia simpan di dalam tasnya. Saat ini yang terpenting adalah kenyataan bahwa dia tidak hamil.


***


Sepulang kuliah, sebelum pergi ke butiknya, Azkia menyempatkan diri ke cafe milik Raffasya. Tentu saja tujuan dia adalah memberitahu kepada pria itu tentang hasil test kehamilannya agar Raffasya tidak terus memaksanya pergi ke dokter.


Azkia kemudian masuk ke dalam cafe dan langsung melihat ke lantai atas di mana ruangan Raffasya berada. Dia lalu melagkah melalui anak tangga untuk mencapai lantai dua, hingga kini dia sudah berada di depan ruangan Raffasya.


" Mas, maaf ... Kak Raffa ada?" tanya Azkia kepada pegawai di cafe FM itu.


" Oh maaf, Mbak. Mas Raffa hari ini sedang keluar kota jadi kemungkinan nggak datang ke sini." Pegawai cafe memberikan informasi tentang Raffasya yang tidak datang hari ini ke cafe.


" Oh gitu, ya?" Azkia nampak kecewa saat mengetahui ternyata Raffasya sedang tidak ada di tempat saat ini. Padahal dia ingin sekali rasanya menunjukkan hasil test pack itu di hadapan muka Raffasya langsung.


" Iya, Mbak. Mbak dari mana, ya? Apa ada pesan? Nanti saya sampaikan ke Mas Raffa kalau besok datang," tanya pegawai itu.


" Hmmm, saya titip ini saja deh, Mbak." Azkia lalu mengeluarkan amplop berwarna coklat yang dia pakai untuk menaruh alat itu. Azkia memang akhirnya menaruh di amplop coklat, karena jika hanya ditaruh di plastik terlalu riskan terlihat orang jika tiba-tiba ada yang menyentuh tasnya seperti Mamahnya kemarin.


Pegawai cafe itu melirik amplop yang Azkia sodorkan, namun dia tidak segera menerimanya.


" Mas Adam!" Pegawai cafe memanggil salah seorang temannya hingga temannya itu mendekat.


" Ada apa Her?" tanya Adam, salah satu pegawai yang dipercaya Raffasya di cafe itu.


" Mbak ini mau ketemu sama Mas Raffa dan ingin menitipkan barang itu untuk Mas Raffa." Pegawai wanita tadi menjelaskan.


" Oh, biar gue yang menanggani, lu lanjut kerja saja!" Adam menyuruh pegawai wanita yang tadi melayani Azkia.


" Oke, Mas Adam ..." Pegawai itu kemudian berlalu meninggalkan Azkia.


" Maaf dengan Mbak siapa, ya?" Adam menanyakan nama Azkia. " Hmmm, kalau nggak salah Mbak ini yang waktu itu mau terjatuh di tangga, ya?" Adam tentu saja ingat kejadian itu karena dia pun menjadi saksi bagaimana bosnya dan Azkia berdebat dan tak lama Raffasya mengangkat tubuh Azkia, padahal bosnya itu dikenal acuh terhadap wanita.


" Hmmm, iya ..." sahut Azkia pelan. Dia merasa malu dengan kejadian itu sebenarnya.


" Mbak ada titipan apa? Nanti saya hubungi Mas Raffa nya. Sebentar ya, Mbak!" Adam terlihat sedang menghubungi seseorang lewat ponselnya.


***


Raffasya mendendarai mobilnya menuju Bandung. Dia merasakan ponsel dia berbunyi hingga dia menerima panggilan telepon itu.


" Ada apa, Dam?" tanya Raffasya mengangkat panggilan masuk itu.


" Maaf, Mas Raffa. Ada cewek yang cari Mas Raffa."


" Siapa? Gladys?" Raffasya menebak jika yang mencarinya adalah Gladys. Jika memang Gladys yang datang, sayang sekali dia tidak ada di cafe karena dia sedang mencari keberadaan wanita itu yang tiba-tiba saja menghilang.


" Bukan, Mas. Namanya Mbak Azkia ...."


" Azkia? Dia ke cafe?" Raffasya nampak terkejut saat diberitahu oleh Adam jika Azkia lah wanita yang mencarinya. Seketika jantungnya berdebar kencang saat dia mengetahui Azkia ada di cafe nya. Ada apa? Kenapa Azkia mencarinya? Apa ada hal yang ingin disampaikan Azkia? Apa Azkia hamil? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang bermunculan di pikirannya sekarang ini.


" Iya, Mas. Tapi saya sudah bilang Mas Raffa sedang keluar kota. Dan dia mau menitipkan sesuatu untuk Mas Raffa."


" Dam, gue mau bicara sama dia, tolong lu kasih telepon lu ke dia!" Raffasya meminta Adam memberikan ponselnya karena Raffasya ingin sekali tahu alasan Azkia menemuinya.


" Baik, Mas."


Dan tak berapa lama suara wanita yang terdengar di telinga Raffasya.


" Halo ...."


" May, ada apa lu cari gue? Apa ada sesuatu yang ingin lu sampaikan ke gue?" Raffasya merasa sangat penasaran dengan alasan Azkia mencarinya.


" Iya, aku cari Kak Raffa karena ingin menunjukkan sesuatu, jika apa yang Kak Raffa khawatirkan tentang aku, nggak terbukti sama sekali! Jadi mulai sekarang jangan pernah menyinggung soal hal itu lagi! Tut Tut Tut ..." Tiba-tiba nada telepon terputus yang terdengar di telinga Raffasya.


Raffasya kemudian melakukan panggilan ke nomer Adam karena dia masih ingin bicara dengan Azkia.


" Halo, Mas ...."


" Gue mau bicara lagi sama cewek itu," ujar Raffasya meminta Adam memberikan kembali ponselnya kepada Azkia.


" Orangnya sudah pergi, Mas. Dia cuma menitipkan sesuatu untuk Mas Raffa."


Raffasya mendengus kasar saat mengetahui jika Azkia sudah meninggalkan cafe. Dia sangat penasaran dengan barang yang dititipkan Azkia untuknya. Dia ingin menyuruh Adam membuka dan memperlihatkan kepadanya untuk menghilangkan rasa penasarannya. Namun dia takut jika barang itu sangat privacy dan tidak semua orang boleh mengetahui hal itu. Sedangkan dia sendiri, sekitar setengah jam lagi akan sampai tujuan.


***


Saat ini Raffasya dan Harlan sudah berada di dalam sebuah room karaoke. Harlan sudah meminta agar mereka ditemani oleh seorang pemandu lagu bernama Melati, yang kebetulan saat itu tidak sedang melayani tamu yang lain.


" Gue yakin, dia pasti akan kaget kalau melihat wajah lu, Raf." ucap Harlan seraya menunggu kedatangan Melati.


" Permisi ..." Seorang pegawai karaoke masuk dan membawakan beberapa pesanan makanan dan minuman yang dipesan oleh Raffasya. Setelah itu pegawai itu keluar dari room.


" Jadi kemarin lu berduaan sama cewek yang namanya Melati itu di ruangan begini sambil gelap-gelapan?" tanya Raffasya kepada Harlan.


" Nggak gelap, nggak asyik, dong!" Harlan terkekeh.


" Lu apain apa saja cewek itu?" Raffasya penasaran


" Hahahaha, kepo lu, Raf?" Harlan tergelak.


Bersamaan dengan itu pintu room terbuka dan muncullah Melati, salah seorang wanita yang terlibat menjebak Azkia.


" Kunci saja pintunya, Beib!" ucap Harlan meminta Melati mengunci pintu ruangan. " Nyalakan saja lampunya!" Kini Harlan menyuruh Melati untuk menyalakan lampu.


Setelah lampu menyala, Raffsya bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang dia ingat memang salah satu wajah wanita yang saat itu ikut menjebak Azkia bersama Gladys dengan satu wanita lain yang dia tidak kenal siapa?


Melati nampak terperanjat saat melihat keberadaan Raffasya. Apalagi saat melihat Raffasya menatapnya dengan sorot mata tajam seolah membunuhnya, ditambah lagi dengan seringai di sudut bibirnya.


" Lu masih ingat gue?" tanya Raffasya, walaupun diucapkan dengan bahasa yang halus namun terdengar sangat menyeramkan di telinga Melati.


" Maaf, saya nggak tahu apa-apa, Mas." Melati menyangkal jika dia terlibat terlalu jauh dalam upaya jebakan yang dilakukan oleh Gladys. Saat itu Melati tidak bisa pergi ke luar room karena Harlan sudah menghalanginya di pintu.


Raffasya lalu bangkit dan berjalan mendekati Melati hingga membuat Melati berjalan mundur dan kini tersudut di dinding room.


" Tolong jangan hukum saya, saya benar-benar nggak terlibat penuh. Saya hanya disuruh, saya hanya diberi imbalan." Melani kini menangis karena dia sangat takut jika dia akan mendapatkan amukan dari Raffasya.


" Lu tahu apa yang lu dan teman-teman lu lakukan itu adalah tindakan kriminal? Sekarang pilihan lu hanya dua, lu kasih tahu di mana persembunyian teman-teman lu itu dan apa motif kalian menjebak Almayra, atau lu akan merasakan apa yang Almayra alami? Lu akan diberi obat, dan tubuh lu akan digilir oleh beberapa orang pria dan videonya akan gue sebar!" Raffasya menebar ancaman, walaupun dia sendiri tidak mungkin berani melaksanakan ancaman itu, karena hanya akan beresiko menariknya dalam suatu masalah besar.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️