
Buugghh
Benturan itu terjadi saat lengan kekar Raffasya menyentuh bahu Azkia hingga membuat posisi Azkia yang memang tidak menguntungkan, karena sedang berjalan menaiki tangga menjadi kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke bawah kalau saja tangan Raffasya tidak cepat menahan tubuh Azkia.
Raffasya yang merasa khawatir karena dia hampir mencelakai orang langsung menunjukkan rasa bersalahnya dengan menanyakan keadaan wanita itu. Namun jawaban tak ramah wanita yang ditabraknya membuat Raffasya kaget karena ternyata orang yang bersenggolan dengannya itu adalah Azkia.
" Lu? Ngapain lu di sini?" tanya Raffasya dengan nada sama tak bersahabat seperti Azkia tadi berkata.
" Masalahnya bukan sedang apa aku di sini! Ini tempat umum, kok! Kak Raffa itu yang jalan nggak pakai mata!" ketus Azkia.
" Gue jalan itu pakai kaki lah!" sanggah Raffasya dengan bahasa yang tak kalah ketus.
" Dasar cowok sableng! Lepasin! Ngapain masih pegang-pegang tubuh aku?! Dasar me sum! Lepasin!" Azki langsung melepaskan tangannya yang tadi melingkar di leher pria yang gemar melatih ototnya itu.
Raffasya yang tersadar jika dia sedang memeluk tubuh Azkia sontak melepaskan tubuh gadis itu. Namun karena posisi berdiri Azkia yang memang tidak menguntungkan membuat gadis itu kembali kehilangan keseimbangan hingga dia harus menahan tubuhnya dengan melakukan pendaratan yang salah hingga membuat kakinya terkilir.
" Aaawww ...!" pekik Azkia menahan rasa sakit di kakinya hingga membuat Raffasya kembali memegang tubuh Azkia agar tidak terjatuh.
" Aduuuhh ..." Azkia terus merintih karena kakinya yang terkilir itu.
" Makanya kalau ditolongin itu bilang terima kasih bukan mengomel dan menggerutu!" sindir Raffasya walaupun dia kembali menolong Azkia.
" Semua ini 'kan gara-gara Kak Raffa! Kalau Kak Raffa nggak menabrak, aku nggak akan jatuh! Bawaannya apes kalau aku dekat-dekat Kak Raffa!" gerutu Azkia.
" Ya lu kenapa nggak menghindar? Sudah tahu gue mau lewat!" Raffasya tidak mau disalahkan.
Mereka berdua sampai tidak sadar jika mereka sedang menjadi pusat perhatian para pengunjung. Tak sedikit orang yang tersenyum melihat tingkah kedua anak muda yang sedang berdebat di tangga itu.
" Iiihh, Kak Raffa itu sudah jelas-jelas salah malah nggak mau disalahkan!" Azkia masih saja mencaci Raffasya yang dianggapnya paling bertanggung jawab atas musibah yang menimpanya.
" Azkia, lu kenapa?" Atika yang menunggu Azkia di lantai atas namun tidak juga terlihat Azkia muncul di sana berinisiatif untuk turun ke bawah hingga akhirnya dia melihat Azkia yang sedang berdebat dengan Raffasya.
" Tik, tolongin gue, dong!" Azkia mengulurkan tangannya meminta bantuan Atika. " Lepas, nggak usah pegang-pegang!" Azkia menepis tangan Raffasya yang masih memegangi tubuhnya.
" Lu bisa jalan, Az?" tanya Atika saat mencoba membantu Azkia melangkah.
" Aakkhhh ... gue nggak bisa jalan ini, Tik. Kaki kanan gue sakit kalau dipakai buat menopang badan," keluh Azkia seraya meringis kesakitan.
" Ya terus gimana, Az? Lu mesti jalan dengan satu kaki. Mana ini di tangga pula ... repot banget jadinya, Az." Tika pun merasa bingung harus bagaimana untuk membantu Azkia.
" Biar gue yang bantu!" Raffasya yang melihat teman Azkia itu kebingungan langsung mengangkat tubuh Azkia dengan kedua lengannya membuat Azkia terperanjat.
" Eh, eh, eh, Kak Raffa mau apa? Turunkan aku! Ngapain sih pakai gendong-gendong segala?!' Azkia berontak seraya memukuli tubuh Raffasya.
" Lu bisa diam, nggak? Atau lu mau gue lempar ke bawah sekalian?!" gertak Raffasya mengancam Azkia yang masih saja tidak mau diam padahal dia berniat membantunya.
Azkia langsung memberengut kesal mendengar ucapan Raffasya dan akhirnya pasrah Raffasya menggendongnya dan membawa masuk ke ruang kerja Raffasya.
Raffasya menaruh tubuh Azkia di sofa dengan posisi menyamping dan dia sendiri duduk di sebelahnya. Raffasya mengambil cushion di pangkuannya dan meletakkan kaki Azkia di atas cushion sofa itu. Raffasya kemudian memijat secara perlahan kaki mulus dan berkulit halus Azkia yang terkilir tadi.
" Aaww ... sakit, sakit, sakit ...!! Kak Raffa mau apain kaki aku, sih? Nggak usah diurut, deh! Nanti malah parah kakiku gara-gara diurut Kak Raffa!" Azkia berusaha menarik kakinya dari pangkuan Raffasya namun Raffasya menahannya.
" Maaf, Mas. Bukannya orang terkilir itu nggak boleh dipijat, ya?" Atika langsung mengomentari tindakan Raffasya.
" Lu tenang saja." Raffasya meminta Atika untuk tidak mengkhawatirkan Azkia. " Kalau diurut makin parah, amputasi saja kaki dia." Raffasya menyeringai mencibir Azkia membuat Azkia melotot.
" Eh, eh, eh ... Kak Raffa mau bikin kaki aku tambah parah?"
" Kalau lu masih bawel, bisa jadi gue bikin seperti itu!"
" Kalian ini sudah saling mengenal, ya?" Atika yang melihat perdebatan Azkia dan Raffasya menduga jika mereka saling mengenal satu sama lain meskipun saling berdebat.
Baik Azkia maupun Raffasya tidak ada yang menjawab pertanyaan Atika.
" Aaawww ...! Sakit, Kak!" pekik Azkia. " Sudah, sudah, jangan urut kaki aku lagi!" Azkia memukul tangan Raffasya yang masih melakukan gerakan mengurut pada pergelangan kaki Azkia.
" Gue patahin juga kaki lu kalau nggak bisa diam!"
" Dasar saja Kak Raffa ingin pegang-pegang kaki mulus aku!"
"Cih, kaki kerempeng nggak ada isi begini gue kagak minat!" cibir Raffasya lagi.
" Eh, sembarangan Kak Raffa bilang kayak gitu! Begini-begini banyak cowok yang antri ingin jadi cowok aku!" Azkia membanggakan diri.
" Banyak cowok antri ujung-ujungnya sama si gembul itu!" ejek Raffasya kembali, karena dia tahu saat ini Azkia sedang menjalin hubungan dengan Gibran yang saat sekolah dasar dulu memang berbadan gemuk.
" Eh, Kak Raffa jangan menghina Kak Gibran! Kak Gibran itu sekarang ganteng, keren, kerja kantoran, jangan sembarang menghina cowok aku itu, ya! Mending Kak Gibran dong, daripada Kak Raffa!" Azkia sewot karena Raffasya menghina kekasihnya.
" Aaaakkhh ... sakit!! Kak Raffa lepasin!! Sakiiiittt ...!" Azkia terus saja merintih kesakitan dengan berteriak karena Raffasya masih berusaha mengobati Azkia.
" Mas, apa nggak bahaya itu?" Atika semakin merasa khawatir karena Azkia sampai menitikkan air mata menahan rasa sakit atas apa yang dilakukan oleh Raffasya.
" Sekarang lu bangun!" Raffasya kemudian meletakan kaki Azkia ke lantai dan menyuruh wanita itu untuk berdiri. Dan Azkia pun kemudian berdiri perlahan.
" Sssshhh ..." Masih ada rasa ngilu tapi dia sudah bisa berdiri sekarang dan bisa berjalan walaupun perlahan.
" Sudah bisa jalan, kan? Apa masih terasa sakit lagi?" tanya Raffasya.
" Sudah." Azkia menyahuti.
" Nanti kalau sampai rumah dikompres pakai air dingin kalau membengkak."
" Iya."
" Ya sudah, kalian boleh keluar dari ruangan gue." Raffasya mempersilahkan Azkia dan Atika untuk keluar dari ruangannya.
" Yeee, lagipula siapa yang bawa aku ke ruangan ini?" Azkia yang merasa diusir oleh Raffasya langsung menarik tangan Atika. " Ayo, Tik!"
" Eh, tunggu-tunggu, kenapa kalian buru-buru pergi?" Tiba-tiba masuklah dua orang pria ke dalam ruangan Raffasya, bahkan salah satunya langsung berkata seraya merentangkan tangannya seolah melarang Azkia yang hendak keluar ruangan.
" Lu berdua ngapain di sini?" tanya Raffasya saat melihat kedua orang yang kini muncul di ruangannya yang tadi tidak tertutup.
Dua orang pria turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam cafe dengan bertanya kepada security terlebih dahulu.
" Permisi, Pak. Kami temannya Raffasya, apa dia ada di sini?" tanya salah satu dari mereka.
" Mas ini siapa, ya? Apa sudah ada janji dengan Mas Raffa?" tanya security.
" Saya Billy dan ini Hendra, kami teman Raffa." Hendra menyahuti ucapan security.
" Sudah buat janji sama Mas Raffa?"
" Sudah, Pak. Makanya kami kemari." Billy menjawab cepat.
" Oh, kalau begitu naik saja ke lantai atas. Ruangan Mas Raffa ada di ruang sebelah ruang siaran, Mas." Security memberitahukan di mana ruangan Raffasya berada.
" Oke, makasih, Pak." Hendra dan Billy pun akhirnya masuk ke dalam cafe.
" Memang lu sudah kasih tahu Raffa kau kita mau datang kemari, Bil?" tanya Hendra karena tadi mendengar Billy mengatakan sudah menghubungi Raffasya tentang rencana kedatangan mereka ke cafe milik Raffasya yang baru pertama kali mereka kunjungi.
" Belum, gue tadi jawab sudah biar cepat beres saja." Billy terkekeh. " Nah itu dia bocahnya." Billy menunjuk ke arah Raffasya yang terlihat sedang menuruni tangga. Hendra dan Billy ingin mendekati Raffasya namun langkah mereka seakan tertahan saat tiba-tiba Raffasya menabrak seorang wanita yang sedang menaiki anak tangga hingga membuat wanita itu hampir terjatuh jika Raffasya tidak dengan cepat menangkap tubuh wanita itu.
" Alamak, adegannya sudah kayak di film-film India saja pakai peluk-pelukan segala," komentar Hendra saat melihat Raffasya dan Azkia yang saling memeluk satu sama lain. Raffasya yang melingkarkan lengannya di punggung Azkia, sedangkan Azkia melingkarkan tangannya di leher Raffasya.
" Memang lu pernah nonton film India, Hen? Gue pikir cuma film bo kep saja yang lu tonton." Billy terkekeh menyindir temannya.
" Pernah jaman SD, emak gue senang nonton film India." Hendra menyeringai.
" Jiiirrr, cari-cari kesempatan itu bocah main gendong-gendong cewek itu." Billy yang melihat Raffasya mengangkat tubuh Azkia langsung membulatkan matanya karena setahunya Raffasya paling cuek terhadap wanita.
" Wah, seru ini, Bil! Buruan kita susul ke atas Gue takut Raffa khilaf." Hendra langsung menyusul langkah Raffasya ke atas diikuti oleh Billy di belakanganya.
***
" Kaki kamu sudah sembuh?" tanya Billy saat melihat Azkia yang kini sudah berjalan. Billy dan Hendra mengabaikan pertanyaan Raffasya yang menanyakan alasan dia dan Hendra ada di sana.
" Sudah, permisi, Kak. Aku mau keluar " Azkia meminta ijin kepada dua orang yang kini menghalangi langkahnya.
" Tunggu sebentar, dong! Kita ini belum kenalan. Aku Billy dan dia Hendra." Billy menunjuk ke arah Hendra dengan arahan matanya. " Kita berdua ini sahabatnya Raffasya. " Nama kamu siapa?" tanya Billy kemudian kepada Azkia.
" Lu berdua ngapain sih menghalangi dia segala? Sudah biarkan saja dia mau keluar dari sini!" Raffasya dengan berkacak pinggang memprotes kedua sahabatnya.
" Kita ingin kenalan sama dialah, Raf." Hendra menjawab pertanyaan Raffasya.
" Kamu yang cantik ini namanya siapa? Sudah lama kenal sama Raffasya?" tanya Billy seperti layaknya penyelidik.
" Kalian nggak usah bikin rusuh di cafe gue, ya!" hardik Raffasya yang merasa terganggu dengan kehadiran Billy juga Hendra.
" Ck, berisik banget sih lu, Raf! Kita ini cuma ingin kenalan sama cewek cantik yang sudah buat lu bertekuk lutut," ucap Hendra menyeringai. " Kapan lagi coba kita bisa lihat seorang Raffasya memperlakukan cewek dengan begitu manisnya pakai acara mengendong ala bridal style segala."
" Setuju gue sama Hendra." Billy menimpali.
" Kalian berdua itu jangan berpikir yang macam-macam! Nggak ada yang namanya Raffasya bertekuk lutut apalagi sama model cewek bar-bar kayak dia." Raffasya mengibas tangannya ke udara dan mencemooh.
" Eh, Raf. Kita ini nggak buta ya! Gue lihat kok waktu kalian berdua berpelukan di tangga tadi. Kalian nggak sadar kalau kalian itu jadi tontonan orang-orang tadi?" sindir Billy lagi.
Bola mata Raffasya dan Azkia membulat saat menyadari jika apa yang mereka lakukan tadi jadi pusat perhatian publik. Bagi Raffasya dan Azkia, dunia seakan terlupakan jika mereka sedang berdebat satu sama lain.
***
" Lu yakin sudah enakan kakinya, Az?" tanya Atika ketika mereka kembali ke meja yang tadi ditempati Atika.
" Lumayan daripada tadi buat menginjak lantai saja rasanya sakit banget," sahut Azkia yang masih memegangi lengan Atika.
" Tadi itu siapa, Az? Cowok yang menolong kamu itu." Atika merasa penasaran dengan sosok Raffasya yang dengan cepat membantu Azkia.
" Orang aneh." Azkia menjawab asal.
" Orang aneh? Maksudnya, lu berteman sama orang aneh?" Atika terkekeh seraya berseloroh.
" Ih, sorry, ya! Gue nggak berteman sama dia, tuh!" sanggah Azkia menolak apa yang dikatakan Atika.
" Nggak berteman tapi kalian saling kenal? Terus dia itu siapanya lu, Az? Gue lihat sikapnya oke banget waktu ngetreat lu, sweet kalau gue bilang, sih." Atika sepertinya merasa kagum dengan cara Raffasya memperlakukan Azkia tadi. Walaupun ucapannya terdengar kasar, namun dari pertama Raffasya menggendong Azkia dan mengurut bagian kaki Azkia yang terkilir, dia bisa melihat dua sisi yang berbeda dari diri Raffasya.
" Sweet apanya? Lu nggak lihat dia mengancam mau mematahkan kaki gue?" Azkia memutar bola matanya.
" Nyatanya nggak dia lakukan ancamannya itu walaupun dari tadi lu emang cerewet banget." sindir Atika. " Dia itu kelihatan badboy tapi cara dia memperlakukan cewek kelihatan sweet banget. Asyik kalau punya pacar seperti cowok tadi." Walaupun baru pertama melihat Raffaya, Atika tidak canggung memuji pria itu.
" Lu itu nggak tahu saja aslinya Kak Raffa itu seperti apa!" Azkia sepertinya tidak suka mendengar Raffasya dipuji.
" Memang seperti apa?"
" Preman di pasar saja sih, lewaaaatt " Tatapan mata Azkia menangkap sosok Raffasya yang baru keluar dari ruang kerjanya bersama ke dua temannya. Dan tanpa sadar matanya terus mengikuti langkah Raffasya yang berjalan hingga ke arah tangga.
" Hmmm, bilang bukan siapa-siapa, menyangkal jika dia cowok yang baik, pakai mengatakan mirip preman. Tapi mata nggak bisa bohong." Atika yang menangkap gerakan mata Azkia yang sedang memperhatikan Raffasya langsung menyindirnya.
Azkia yang kepergok sedang memperhatikam Raffasya langsung terkesiap.
" Eh, siapa juga yang memperhatikan dia?!" tepis Azkia berbohong. " Eh, gue pesankan makanan, dong! Laper, nih!" Azkia sengaja mengalihkan pembicaraan agar Atika tidak terus membahas soal Raffasya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ♥️