
Abhinaya nampak gelisah menunggu mobil orang yang mengantar Raffasya ke rumah sakit. Setiap kali ada mobil yang berhenti di pintu masuk ruang IGD, dia langsung menolehkan pandangannya untuk mengetahui apa mobil itu yang membawa kakak iparnya.
Abhinaya mencoba menghubungi ponsel Raffasya kembali untuk memastikan posisi orang itu saat ini ada di mana.
" Halo, Pak. Maaf, sekarang ini posisinya sudah sampai mana, ya?" tanya Abhinaya dengan nada santun.
" Kami baru masuk gerbang rumah sakit." Diding menyahuti pertanyaan Abhinaya.
" Langsung ke IGD saja ya, Pak. Saya tunggu di pintu masuk," ujar Abhinaya kemudian.
" Oke."
" Makasih ya, Pak."
Tidak lebih dari lima menit, sebuah mobil angkot yang dikendarai Diding yang membawa Raffasya akhirnya sampai juga di depan lobby IGD. Abhinaya langsung meminta petugas untuk menyiapkan brankar untuk membawa Raffasya.
" Kak Raffa ..." Abhinaya sangat prihatin melihat kondisi kakak iparnya yang harus mengalami musibah di saat Azkia sedang berjuang untuk melahirkan.
Setelah mengantar Raffasya sampai di ruangan dan mendapatkan penanganan dokter, Abhinaya kembali menemui Diding yang telah menolong kakak iparnya.
" Pak, terima kasih sudah menolong kakak saya," Abhinaya menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Diding. " Oh ya, saya Abhi, Kak Raffa itu suami dari kakak saya." Abhinaya memperkenalkan dirinya kepada Diding seraya mengulurkan tangannya.
" Diding." Diding menerima jabat tangan Abhinaya dan menyebutkan namanya.
" Apa Pak Diding tahu kronologi kejadian kecelakaan yang menimpa Kak Raffa?" tanya Abhinaya setelah dia mengajak Diding berbincang.
" Kebetulan tadi angkot gue ada di belakang mobil kakak lu dan sebuah mobil yang sengaja menghantam mobil kakak lu itu." Diding yang merupakan saksi mata kecelakaan Raffasya menceritakan kejadian yang sesungguhnya terjadi.
Abhinaya membelalakkan matanya saat mendengar cerita Diding.
" Ada mobil yang sengaja menghantam mobil Kak Raffa?" Abhinaya tentu saja terperanjat. " Maksud Pak Diding, kecelakaan yang menimpa Kakak ipar saya ini adalah faktor kesengajaan?" tanya Abhinaya penasaran.
" Iya kalau gue lihat memang seperti itu. Mobil Kakak lu itu dipepet mobil lain sampai disenggol dan diseret sampai hampir tercebur ke parit tapi malah menabrak pohon kencang banget. Sedangkan mobil yang nabrak langsung tancap gas." Diding menjelaskan.
" Astaghfirullahal adzim .... Siapa mereka, ya?" Kening Abhinaya berkerut, dia tidak tahu siapa orang yang telah membuat kakak iparnya itu sampai celaka.
" Mungkin ada orang yang dendam atau sakit hati sama kakak lu, soalnya tujuan orang itu cuma mencelakai, dan nggak mengambil atau mencuri barang dari kakak lu itu." Diding menyampaikan kecurigaannya.
" Apa Pak Diding ingat mobil yang menabrak mobil Kak Raffa?" tanya Abhinaya lagi.
" Jenis mobil SUV warna silver tapi gue nggak ingat plat nomernya," sahut Diding.
" Oh ya bagaimana kondisi mobil Kak Raffa? Apa sudah ada laporan ke polisi tentang kecelakaan di sana?" tanya Abhinaya teringat mobil Raffasya.
" Sudah ada warga sekitar yang melaporkan kejadian, mungkin saat ini polisi sudah ke TKP."
" Oh ya, Apa Pak Diding ini supir angkot tadi?"
" Iya, gue supir angkot."
" Sama teman Pak Diding yang tadi bawa Kak Raffa kesini juga?" Abhinaya menyebut orang yang mendampingi Diding membawa Raffasya ke rumah sakit.
" Iya, dia teman gue yang kebetulan naik angkot gue," sahut Diding.
" Apa Pak Diding bisa bantu saya untuk menjadi saksi soal kejadian kecelakaan yang menimpa Kak Raffa?" Abhinaya meminta kesediaan Diding untuk bersaksi di depan polisi soal kejadian kecelakaan Raffasya
" Gue sih, siap saja." Untungnya permintaan Abhinaya langsung disetujui oleh Diding.
" Pak Diding nggak usah khawatir, nanti keluarga kami akan ganti kerugian waktu Pak Diding karena sudah bersedia membantu Kakak saya."
" Nggak apa-apalah, namanya juga manusia, kita harus saling tolong-menolong. Ada yang bisa gue bantu, ya gue bantu." Pak Diding menolak apa yang ditawarkan Abhinaya.
" Terima kasih banyak ya, Pak. Alhamdulillah Kak Raffa ditolong orang sebaik Pak Diding ini. Nanti Papa saya sedang dalam perjalanan kemari, Pak Diding bisa tunggu sebentar, kan?"
" Oke, gue tunggu."
" Terima kasih, Pak." Tak bosan-bosan Abhinaya menyampaikan rasa terima kasihnya pada Diding yang sudah menolong Raffasya.
Sementara di rumah persalinan, Azkia masih berjuang menahan rasa sakit menunggu pembukaan demi pembukaan di mulut rahimnya.
" Tan, sudah pembukaan berapa ini, Tan? Lama banget sih, Tan. Kia nggak kuat nahan sakitnya, Tan." Azkia terus terisak dan mengeluh saat Dessy kembali memeriksa Azkia.
" Kia, jangan bicara seperti itu, Nak. Yang kuat, Kia." Natasha terus menenangkan putrinya, sementara dia pun mulai meneteskan air mata karena mengingat Raffasya pun kini sedang tergeletak di ruang IGD.
" Ini sudah pembukaan delapan, sebentar lagi juga akan melahirkan.
" Ma, Kak Raffa nya mana? Kok nggak sampai-sampai? Kia sudah mau melahirkan ini ..." Azkia bertanya kepada Natasha, sementara Lusiana sudah keluar menuju ruang IGD setelah diberitahu oleh Natasha soal Raffasya.
" Raffa pasti ke sini kok, Sayang. Kamu nggak usah khawatir, Nak." Natasha menciumi kening Azkia.
" Aduh, aduh, Tan. Mules banget ini, bayinya kayaknya sudah mau keluar, deh. Tapi jangan dikeluarin dulu, Tan. Tunggu Kak Raffa datang." Azkia mengucapkan permintaan yang sangat konyol dengan meminta Dessy menahan agar bayinya tidak dikeluarkan dulu.
" Lho, memang Kia nggak ingin cepat-cepat melihat bayinya? Kalau bayinya sudah keluar rasa sakitnya 'kan bisa berkurang." Dessy tersenyum menanggapi permintaan Azkia.
" Tapi Kia mau menunggu Kak Raffa dulu, Tan. Ma, suruh cepetan Kak Raffa nya!" Azkia semakin senewen karena suaminya itu tak juga kunjung tiba. " Aduuuuhhh ... sakit banget, Ya Allah ...."
" Raffa sudah dekat kemari, kok. Kamu tenang saja, jangan terlalu stres, Nak." Entah berapa kali Natasha mencoba menenangkan putrinya itu.
" Pembukaannya sudah lengkap, Kia sudah siap?" Dessy sudah bersiap membantu Azkia melahirkan bayinya.
Azkia akhirnya hanya mengangguk lemah karena serangan rasa sakit itu semakin menjadi saat Dessy mengatakan jika bayi di dalam perutnya sudah siap untuk dilahirkan.
" Jangan mengejan dulu sebelum Tante perintahkan, ya!? Punggungnya di angkat sedikit, posisi dagu menempel di dada. Tarik nafas perlahan lalu hembuskan sambil mendorong untuk mengejan. Usahakan jangan berteriak ya, agar kamu tidak kehabisan tenaga." Dessy memberikan saran yang kembali hanya dijawab anggukan kepala Azkia yang sudah berpeluh.
" Oke, tarik nafas lagi ... siap, ya ... hembuskan dengan mendorong sambil mengejan ...."
Azkia pun mengejan karena dorongan dalam perutnya semakin kencang seolah ingin mengeluarkan sesuatu.
" Eeemmmmm ...!!" Dengan gigi saling mengerat Azkia berupaya mengeluarkan bayi dari dalam perutnya dengan mengejan.
" Oek ... oek ... oek ...."
" Alhamdulillah ..." Natasha dan Dessy berucap rasa syukur bersamaan.
" Lihat nih, Mama Kia. Dedek bayinya ganteng gini, kan?" Dessy menunjukkan bayi laki-laki ke arah Azkia yang terlihat masih merah.
Azkia menatap haru mahluk mungil yang ditunjukkan Dessy kepadanya. Bola matanya yang belum kering karena dia menahan sakit karena melahirkan kini semakin bertambah basah karena rasa bahagia karena kehadiran bayi kecilnya itu.
" Selamat ya, Sayang. Kia sudah menjadi Mama sekarang ..." Natasha menghujani ciuman di wajah Azkia.
" Dedek bayinya dibersihkan dulu, nanti cari ne nen Mama Kia." Dessy menyerahkan bayi mungil ke perawat untuk dibersihkan.
" Sekarang mengejan lagi untuk mengeluarkan plasentanya, ya!" Dessy lalu membantu mengeluarkan ari-ari dari sang bayi.
" Ma, Kak Raffa mana?" Dengan suara lemah Azkia masih saja mencari suaminya setelah Dessy selesai mengeluarkan plasenta dari dalam perutnya.
" Hmmm, Kia di sini dulu sama Tante Dessy, ya? Mama mau cari Raffa di luar." Natasha meminta Azkia untuk membiarkannya keluar dari ruangan persalinan untuk mencari Abhinaya.
Setelah diijinkan oleh Azkia,. Natasha kemudian meninggalkan ruang persalinan.
Saat Natasha keluar dari pintu persalinan, dia berpapasan dengan suaminya.
" Mas ..." Natasha langsung berhambur ke pelukan Yoga dan menangis tersedu.
" Yank, Kia kenapa? Kia nggak apa-apa, kan?" Mendapati istrinya terisak seketika Yoga kerbingungan. Dia bahkan berpikiran sesuatu terjadi pada putrinya itu.
" Kia sudah melahirkan, Mas. Bayi dan Kia sehat Alhamdulillah, tapi Raffa ... aku nggak tahu bagaimana kondisinya, sementara Kia menanyakan terus kehadiran suaminya itu, Mas." Masih dengan tersedu Natasha menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Yoga menarik nafas lega mendengar jika Azkia sudah melahirkan dengan selamat.
" Aku sudah dapat kabar dari Abhi, Raffa sudah ditangani oleh dokter. Dan dokter bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Raffa sebentar lagi dipindahkan ke ruang rawat." Yoga menenangkan Natasha yang nampak sedih di tengah kebahagiannya mendapatkan seorang cucu.
" Ya sudah, aku mau lihat Kia dulu, setelah itu aku mau ke IGD." Yoga mengajak istrinya itu kembali masuk ke dalam ruangan.
" Papa ..." Azkia langsung memanggil Yoga saat melihat kehadiran Papanya itu di ruang persalinan. Dia sendiri baru saja selesai memberikan ASI pertamanya kepada bayinya itu.
" Selamat ya, Nak. Papa turut bahagia atas kebahagian kamu." Yoga pun mengikuti yang dilakukan istrinya dengan menciumi wajah Azkia. Yoga lalu mengusap bayi mungil yang digendong oleh perawat yang kemudian diberikan kepada Natasha.
" Pa, Kak Raffa mana?" tanya Azkia menanyakan Raffasya kepada Yoga.
" Raffa nanti juga ke sini, kok. Kamu tenang saja, Nak." Yoga mencoba menenangkan putrinya.
" Mas, bayinya di-adzani dulu." Natasha berbisik kepada suaminya untuk mengadzankan cucunya itu karena Raffasya masih dalam perawatan.
" Iya."
Natasha lalu memberikan cucunya kepada suaminya untuk diadzani.
" Kenapa nggak Kak Raffa yang kasih adzan ke dedek bayi, Pa?" tanya Azkia heran saat melihat Papanya hendak mengadzani bayi mungilnya.
" Raffa sedang ada masalah di jalan, makanya dia akan telat kemari. Jadi Papa saja yang mengadzani anak kamu, ya?" ujar Yoga dengan nada yang tenang agar Azkia tidak menjadi panik.
" Kak Raffa kena masalah apa, Pa?" Azkia terkesiap mendengar jika suaminya sedang terkena masalah.
" Masalah dengan mobilnya, makanya dia telat datang ke sini. Tapi kamu nggak udah khawatir, Raffa nggak apa-apa, kok." Yoga meyakinkan Azkia agar tetap tenang.
Setelah mengadzankan anak dari putrinya, Yoga kemudian meninggalkan Azkia dan Natasha untuk menuju kamar perawatan Raffasya.
" Abhi ...."
" Pa ..." Abhinaya yang sedang berbincang dengan Lusiana dan Diding langsung bangkit dari tempat duduk saat melihat kedatangan Yoga.
" Mbak, Kia sudah melahirkan ..." Yoga memberitahu Lusiana akan kelahiran anak dari Azkia.
" Alhamdulillah, ya sudah ... saya ke sana dulu, ya!?" Lusiana langsung berpamitan dan segera menuju kamar persalinan Azkia.
" Bagaimana?" Yoga kemudian duduk di kursi tunggu.
" Ini yang menolong Kak Raffa, Pa. Namanya Pak Diding. Pak Diding, ini Papa saya." Abhinaya mengenalkan Papanya dengan Pak Diding.
" Terima kasih atas bantuan Mas ini terhadap menantu saya." Tak lupa Yoga mengucapkan terima kasihnya kepada Diding.
" Sama-sama, Pak." Diding yang melihat penampilan orang-orang di sekitar Raffasya ternyata bukan orang-orang sembarangan jika dilihat dari penampilannya,? berucap lebih formal gaya bicaranya.
" Pa, Pa Diding ini cerita kalau ada orang yang sengaja ingin mencelakakan Kak Raffa, karena kejadian kecelakaan Kak Raffa bukan karena murni kelalaian Kak Raffa tapi ada orang yang menginginkan Kak Raffa celaka." Abhinaya menjelaskan kepada Yoga apa yang telah diceritakan oleh Diding.
" Ada yang sengaja ingin mencelakai Raffa?" Yoga langsung mengeryitkan keningnya, seketika dia teringat akan cerita Raffasya soal Sony dan Gladys.
" Benar, Pak. Soalnya orang itu sengaja menabrak mobil menantu Bapak." Diding menegaskan apa yang diucapkan sesuai dengan kenyataan yang dia lihat.
Yoga mendengus kesal. Dia pun langsung bangkit dari tempat duduk dan mengambil ponselnya. Dia lalu mencari nomor telepon Sony yang pernah dia minta saat bertemu dengan temannya itu saat makan malam bersama.
" Halo, Ga. Ada apa?" Suara Sony terdengar di telinga Yoga.
" Apa kau terlibat dengan kecelakaan yang menimpa menantuku, Sony?" Kata-kata Yoga terdengar ketus dan penuh emosi.
" Ma-maksudmu apa, Ga? Kecelakaan apa, Ga? A-aku nggak mengerti dengan ucapanmu." Sony menyangkal tuduhan yang dilemparkan Yoga kepadanya.
" Aku dengar dari Raffa kalau kau bersekongkol dengan wanita yang ingin berbuat jahat kepada putriku. Dengar, Son. Kalau aku punya bukti kau sudah mencelakai menantuku, aku tidak akan memaafkannya, Son! Dan aku akan membawa kasus ini ke jalur hukum!" tegas Yoga penuh ancaman.
" Ga, Oke aku minta maaf kalau aku salah sebelumnya. Aku memang pernah ingin mengambil kepemilikan cafe menantumu itu, tapi sumpah, Ga. Saat itu aku nggak tahu kalau Raffasya itu adalah menantumu. Dan aku pun menolak melanjutkan rencana itu setelah aku tahu dia adalah suami dari anakmu. Dan soal kecelakaan yang kamu katakan tadi, demi Allah aku nggak tahu menahu, Ga." Sony menyangkal apa yang dituduhkan Yoga kepadanya.
" Beritahu aku di mana wanita simpananmu itu tinggal?" tanya Yoga penuh intimidasi.
" Di apartemen xx tower 3 no 15B." Sony kemudian menyebutkan tempat tinggal Gladys. " Ga, please ... jangan beritahu Diana soal ini." Sony meminta Yoga untuk tidak menceritakan soal Gladys kepada istrinya.
" Kalau kau masih takut ketahuan selingkuh, sebaiknya kau pikirkan lagi jika ingin bermain dengan wanita lain," sindir Yoga. " Aku harap kau tidak menghilang, Son. Karena kau harus memberikan kesaksian atas rencana licik wanita itu." Yoga kembali mengintimidasi Sony agar temannya itu tidak melarikan diri dari kesalahannya.
***
Raffasya mengerjapkan matanya. Dia melihat ruangan putih di sekitarnya.
" Gue di mana?" Seketika Raffasya teringat kejadian saat sebuah mobil menabrak mobilnya.
" May ..." Raffasya pun teringat saat itu dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit karena ingin menemani istrinya melahirkan. Raffasya berusaha bangkit, namun dia merasa sakit di kepala dan nyeri di kaki juga bahunya.
" Aaakkkhhh ..."
" Kak Raffa, Kak Raffa sudah sadar?" Abhinaya yang sedang menonton televisi di ruang sebelah langsung menghampiri Raffasya saat mendengar suara rintihan Raffasya.
" Abhi, May di mana? Apa dia sudah melahirkan? Gue ingin lihat bini gue, Bhi." Raffasya memaksa turun dari brankar.
" Kak Raffa tenang dulu, Kak Kia sudah melahirkan dan bayinya sehat tak kurang satu apapun." Abhinaya menghalangi Raffasya yang ingin turun dan berjalan.
" Bhi, gue mau lihat anak gue, gue mau lihat Almayra!" Raffasya bersikukuh ingin menemui Azkia.
" Ya sudah, Kak Raffa tunggu di sini dulu. Aku mau pinjamkan kursi roda untuk antar Kak Raffa ke kamar rawat Kak Kia." Abhinaya berinisiatif meminjam kursi roda untuk membawa Raffasya menemui Azkia.
" Nggak usah, Bhi. Gue bisa jalan sendiri!" Raffasya menolak usul Abhinaya.
" Tapi, Kak."
" Lu tenang saja, gue nggak apa-apa." Raffasya mencoba menenangkan Abhinaya.
" Kalau Kak Raffa memaksakan berjalan, nanti kaki Kak Raffa lama sembuhnya, lho."
" Ini hanya terkilir biasa saja, nggak masalah kok, Bhi. Cepat antar gue ke kamar Almayra." Raffasya bersikukuh tidak ingin menggunakan kursi roda. Dan akhirnya, Abhinaya pun mau tak mau mengikuti apa yang diinginkan oleh kakak iparnya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️