
Mobil yang dikendarai Pak Mamat berhenti di depan kampus tempat Yoga mengajar. Sementara di belakangnya Natasha sedang melakukan panggilan telepon kepada suaminya.
" Assalamualaikum, Mas. Sudah selesai belum mengajarnya?" tanya Natasha saat panggilan teleponnya tersambung dengan nomer sang suami.
" Waalaikumsalam, baru saja keluar dari kelas. Ada apa, Yank?" tanya Yoga kepada istrinya.
" Aku ada di depan gerbang kampus lho, Mas." sahut Natasha memberitahu suaminya itu.
" Oh ya?" Suara Yoga terdengar agak terkejut mengetahui istrinya berkata ada di depan kampusnya. " Kamu kok kemari? Dengan siapa kemarinya, Yank?" tanya Yoga kemudian.
" Aku sama Pak Mamat, Mas. Aku mau ajak Mas Yoga ke rumah Raffa. Aku kangen banget sama cucuku itu, Mas." Natasha menjelaskan alasannya sampai bisa menyusul Yoga.
" Ya sudah, tunggu sebentar. Nanti aku segera keluar. Aku tutup teleponnya, ya!? Assalamualaikum ..." Yoga menyudahi pembicaraan via telepon dengan Natasha karena dia ingin mengambil tas kerjanya terlebih dahulu.
" Wa'alaikumsalam ..." Natasha pun kemudian menutup panggilan teleponnya.
" Pak Mamat, nanti saya ikut dengan mobil suami saya. Nanti Pak Mamat pulang saja. Sama tolong pindahkan barang-barang yang tadi saya beli ke mobil suami saya, ya!? Yang buat di rumah nanti dibawa saja sama Pak Mamat, kasihkan Bi Jun saja. Biar Bi Jun yang bereskan." Natasha kemudian memberi perintah kepada Pak Mamat yang sejak pagi mengantarnya ke butik dan mall.
Seperempat jam setelah menunggu, mobil milik Yoga yang dikendarai oleh Diding keluar dari gerbang kampus. Natasha segera turun saat melihat mobil Yoga mendekat ke mobilnya.
Bersamaan Natasha yang turun dari mobil, Yoga pun membukakan pintu untuk istrinya itu dari dalam. Dan menggeser posisi duduknya memberi tempat kepada istrinya untuk duduk.
" Pak Mamat langsung pulang?" tanya Yoga saat melihat mobil Natasha yang dikendarai Pak Mamat meninggalkan mereka setelah Pak Mamat memindahkan barang belanjaan Natasha yang dia beli untuk anak dan cucunya.
" Iya aku suruh pulang, Mas." sahut Natasha segera menutup pintu mobil. " Pak Diding, kita ke rumahnya Raffa, ya!? Pak Diding tahu tempatnya, kan?" Natasha meminta Diding membawa mereka ke tempat Azkia.
" Iya saya tahu, Bu. Waktu antar Atun ke rumah Mas Raffa," sahut Diding.
" Ya sudah antar kami ke sana sekarang," perintah Natasha kemudian.
" Baik, Bu." jawab Diding lagi.
" Kamu habis dari mana sih, Yank? Kok nggak bilang-bilang dulu kalau mau menyusul aku ke kampus?" tanya Yoga setelah mobil yang dikendarai Diding meninggalkan kampus.
" Aku tadi dari butik terus beli pakaian dan mainan untuk Naufal sama beli su su hamil untuk Kia." Natasha menjawab pertanyaan suaminya.
" Nggak kerasa kita akan tambah cucu lagi ya, Yank? Seperti mimpi rasanya ..." ucap Yoga yang merasakan waktu begitu cepat berlalu.
" Iya lho, Mas. Perasaan baru kemarin Kia lulus kuliah sekarang sudah mau dua saja anaknya. Sepertinya Kia sama Raffa akan menurun jejak kita punya banyak anak deh, Mas." Natasha memprediksi jika anak perempuannya itu akan memiliki banyak anak sama seperti dirinya.
" Syukur Alhamdulillah kalau Kia dan Raffa dikasih banyak anak, jadi keturunan keluarga kita jadi ramai. Aku anak tunggal, setelah menikah punya anak banyak, cucu juga akan semakin banyak," ujar Yoga menimpali perkataan Natasha seraya terkekeh.
" Kalau masing-masing anak kita punya anak lima, berarti cucu kita dua puluh lima orang ya, Mas?" Natasha terkikik membayangkan jika dia dikelilingi banyak cucu.
" Tapi belum tentu juga anak kita masing-masing punya anak lima. Berapapun jumlah cucu kita, yang penting mereka menjadi anak yang baik, yang berguna bagi keluarganya, bangsanya dan juga agamanya. Dan yang pasti kita berharap, kita masih diberi kesehatan dan umur panjang agar bisa melihat cucu-cucu kita lahir dan tumbuh dewasa," ucap Yoga penuh harap.
" Aamiin, Mas." Natasha lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Walaupun sudah berstatus sebagai kakek dan nenek, namun pasangan suami istri itu tak pernah melunturkan keromantisan dan keharmonisannya. Membuat Diding yang sempat mencuri pandang kedua orang majikan barunya dari kaca spion langsung tersenyum melihat kebahagiaan Yoga dan Natasha.
***
" Naufal, sini jalan ke Mama ...!" Azkia membungkukkan sedikit tubuhnya dan menggulurkan tangannya ke arah Naufal yang sedang berdiri dengan lengan dipegang oleh Atun.
" Lepasin tangan Naufal nya, Mbak Atun." Azkia menyuruh Atun melepaskan Naufal agar Naufal mau berjalan mendekat kepadanya.
" Sini ke Mama, Nak!" Azkia memotivasi anaknya agar mau melangkahkan kakinya berjalan ke arahnya.
" Ayo ke Mama, Dek." Atun pun mencoba memberi dorongan agar Naufal mau melangkah.
Naufal yang sudah berusia sebelas bulan mulai melangkah perlahan dengan langkah gontai dia berusaha mendekat dan hampir berlari ketika sampai di dekat Mamanya.
" Yeah, Naufal bisa jalan ..." Atun langsung bersorak seraya bertepuk tangan.
" Anak Mama yang pintar sudah bisa jalan. Hebat nih anak Mama." Azkia langsung mengangkat tubuh Naufal dan menciumi anaknya itu karena merasa bahagia karena Naufal sudah mulai bisa berjalan walau baru beberapa langkah saja.
Azkia lalu menoleh ke arah jendela saat dia mendengar suara mobil masuk ke pekarangan rumah Raffasya.
" Itu Papa datang kayaknya, Nak" Azkia langsung melangkah ke luar saat mendengar suara mesin mobil yang mirip dengan mobil suaminya.
" Papa? Mama?" Azkia justru terkejut saat mengetahui jika ternyata yang datang bukan suaminya namun kedua orang tuanya.
" Naufal, ada Papi sama Mami, Nak." Azkia langsung mendekat ke arah pintu mobil saat pintu mobil itu terbuka.
" Assalamualaikum, halo cucu Mami ..." Natasha yang turun dari mobil langsung mengambil Naufal dari Azkia. Dan Azkia langsung mencium tangan Mamanya.
" Waalaikumsalam ..." Azkia kini berganti mencium tangan Yoga. " Pa ...."
" Kamu gimana, Nak? Sehat?" tanya Yoga merangkulkan tangannya ke pundak sang putri.
" Alhamdulillah, Pa. Kehamilan sekarang nggak bikin rewel. Papa sama Mama habis dari mana? Kok nggak kasih kabar mau kemari, sih?" tanya Azkia.
" Mamamu itu yang punya acara. Mamamu juga tadi menyusul ke kampus nggak konfirmasi dulu sama Papa." Yoga menunjuk istrinya lah yang merencanakan.
" Sini gantian gendong sama Papi." Yoga kini meminta istrinya menyerahkan Naufal kepadanya.
" Naufal mau digendong sama Papi?" Natasha bertanya kepada cucunya, yang langsung direspon Naufal dengan mengulurkan tangannya ke arah Yoga. Bayi itu memang mengenal siapa-siapa saja anggota keluarganya hingga tidak menolak saat Yoga mengulurkan tangan ke arahnya.
" Tambah berat kamu sekarang, Nak. Sudah pintar apa saja cucu Papi ini?" tanya Yoga setelah Naufal berada di tangannya.
" Sudah mulai bisa jalan, Papi." Azkia menjawab pertanyaan Yoga.
" Sudah bisa jalan? Pintar ya, cucu Papi." Kini giliran Yoga yang menjajah pipi berkulit lembut Naufal.
" Suamimu belum pulang, Kia?" tanya Natasha karena tidak melihat mobil Raffasya di garasi.
" Belum, Ma. Paling sebentar lagi ..." sahut Azkia.
" Itu tadi Mama beli beberapa baju buat kamu sama Naufal. Mama juga beli su su hamil sama su su untuk Naufal. Ada mainan juga." Natasha menunjuk barang yang ditaruh Diding di kursi teras.
" Makasih, Ma." ucap Azkia. Dia lalu menyuruh Atun untuk membawa barang pemberian Natasha ke dalam.
" Bagaimana kehamilan yang sekarang ini, Kia?" tanya Natasha saat mereka melangkah ke dalam ruangan tamu.
" Nggak ada masalah, Ma. Semua aman-aman saja. Cuma memang sekarang Naufal sering menolak kalau aku kasih ASI, Ma." Azkia menjelaskan bagaimana kondisi Naufal sekarang.
" Nggak apa-apa, mungkin dia sudah ingin lepas dari ASI nya. Yang penting dia mengkonsumi makanan dan minuman yang bergizi hingga nutrisi dia terpenuhi, dan su su pertumbuhannya juga tetap diberikan." Natasha memberikan sarannya yang dia ketahui.
" Iya, Ma. Naufal nggak pernah lepas dari sayur, buah, telur, daging dan ikan, kok. Apalagi Mama Lusi sudah membuat jadwal makanan untuk Naufal setiap harinya supaya kebutuhan gizi Naufal yang harus lebih awal putus ASI bisa dipenuhi." Azkia mengatakan jika dia sudah menjalankan apa yang disarankan Mamanya karena Mama mertuanya memang gerak cepat jika menyangkut hal yang berhubungan dengan kesehatan menantu dan cucunya itu.
" Oh ya, Kia. Ulang tahun Naufal bulan depan, kamu sudah buat rencana apa?" tanya Natasha mengingat bulan depan cucunya itu menginjak usia satu tahun.
" Paling bikin pesta kecil-kecilan saja di rumah, Ma. Seminggu setelah Naufal ultah 'kan aku mau tasyakuran empat bulanan dedek bayi, Ma. Papanya Naufal pasti nggak setuju kalau bikin acara ultah Naufal mewah dan meriah," tutur Azkia. Dia sudah paham dengan jalan pikiran suaminya.
" Kalau begitu Mama saja yang bikin pesta ulang tahun Naufal, ya!? Nanti Mama akan bilang ke Uncle kamu agar bisa pakai hotel Uncle kamu. Semua Mama yang tanggung, kalian nggak usah mikir biaya atau sebagainya, biar Mama yang urus hal itu." Natasha mempunyai rencana sendiri untuk menyambut ulang tahun cucu pertamanya itu.
" Nanti Kia diskusikan dulu dengan Papanya Naufal ya, Ma?" Azkia tidak ingin mengambil keputusan sendiri.
" Suami kamu harus setuju dengan rencana Mama ini. Naufal juga 'kan cucu Mama, anggap saja ini hadiah ulang tahun dari Mama untuk Naufal, jadi Raffa nggak bisa melarang Mama!" tegas Natasha penuh keyakinam jika rencananya itu tidak akan ditentang oleh suami dari anaknya itu.
***
" Pa, sambut anaknya, nih!"
Raffasya terkejut saat mendengar Azkia berseru menyuruh menyambut Naufal. Dan dia semakin dibuat kaget saat melihat Naufal berjalan perlahan ke arahnya.
" Naufal sudah bisa jalan kamu, Nak?" Raffasya langsung berlari menghampiri anaknya dan mengangkat tubuh Naufal hingga sampai atas.
" Kenapa diangkat sih, Pa!? Orang Naufal lagi belajar berjalan itu ...!" Azkia memprotes karena suaminya itu malah menyudahi usaha anaknya yang sedang mencoba mendekati Raffasya.
" Oh, Naufal sedang belajar jalan, ya? Maaf ya, Nak." Raffasya kemudian menurunkan kembali Naufal. Namun sepertinya bocah itu enggan mulai berlatih berjalan kembali karena sudah merasakan sentuhan Papanya. Bahkan Naufal merengek minta kembali digendong oleh Raffasya.
" Tuh, kan! Jadinya ngadat, nggak mau belajar jalan lagi!" gerutu Azkia karena merasa suaminya itu menghambat semangat Naufal yang tadi sedang antusias belajar berjalan.
Raffasya terkekeh karena merasa bersalah telah mengacaukan mood Naufal. " Iya maaf, Ma. Mungkin Naufal nya juga capek, pasti sudah belajar jalan dari tadi, kan? Nanti besok belajar jalan sama Papa ya, Nak. Sekarang Naufal nya istrirahat dulu, Mama." Raffasya langsung meminta maaf daripada istrinya terus menggerutu dan mulai merayu Azkia agar tidak marah.
" Naufal pintar sekali sih, kamu sudah bisa jalan, Nak?" Raffasya memang tidak menyangka jika anaknya itu sudah mulai bisa melangkah sendiri.
" Bisa, dong! Sebentar lagi Naufal 'kan mau setahun, Pa." sahut Azkia. " Oh ya, Pa. Mamaku mau bikin pesta ultah untuk Naufal di hotelnya Uncle Gavin. Nggak apa-apa, kan? Itu Maminya Naufal yang bikin acara lho, bukan aku!" Azkia mengangkat kedua telapak tangan di samping kepalanya, untuk menyakinkan suaminya jika dia tidak campur tangan dengan rencana Natasha.
" Nggak apa-apa ya, Pa? Naufal itu 'kan cucu pertama Mama, jadi Mama ingin kasih hadiah spesial untuk cucu pertamanya." Kali ini Azkia yang merayu Raffasya agar menyetujui rencana dari Natasha.
Raffasya menghela nafas, sebenarnya dia tidak ingin perayaan ulang tahun Naufal diadakan di hotel, namun dia tidak bisa menolak keinginan Mama mertuanya itu ingin mengadakan acara pesta ulang tahun Naufal.
" Apa nggak bisa pakai tempat lain selain di hotel? Kenapa nggak di rumah saja daripada di hotel? Ini acara ulang tahun anak umur setahun, bukan sweet seventeen lho, Ma." Raffasya hanya tidak setuju dengan tempat acara pesta ulang tahun Naufal berlangsung. Selebihnya dia tidak mempermasalahkan.
" Nggak apa-apalah, Pa. Sekali-kali mengikuti rencana Mamaku. Kita hanya tinggal mengikuti saja tahu beres. Mamaku yang mengatur semua demi cucunya." Azkia mencoba membujuk suaminya agar mau mengikuti keinginan Natasha.
Raffasya menatap istrinya seraya menyampirkan helaian rambut istrinya itu ke belakang telinga. Dia tak ingin banyak berdebat dengan ibu hamil yang pastinya mempunyai emosi yang sangat sensitif.
" Ya sudah kalau kamu juga menginginkan itu ..." Raffasya hanya pasrah pada keputusan istri dan Mama mertuanya.
Bersambung ...
Happy Reading❤️
*
*
*