MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Wanita Kedua



Raffasya dan Gibran saling memandang dengan tatapan yang berbeda. Jika Gibran masih dengan rasa kesalnya karena Raffasya telah merebut kekasihnya. Sementara Raffasya tak beda jauh dengan Mamanya, merasa khawatir jika kedekatan Gibran terhadap adiknya hanya sebagai pelarian karena kegagalan kisah cinta Gibran dulu dengan Azkia terlebih setelah tahu jika Rosa adalah adiknya.


Namun tatapan mata Raffasya terputus saat tangan Azkia kembali menggenggam tangan Raffasya, membuat Raffasya menolehkan pandangan kepada istrinya.


" Ma, Kia kenal Kak Gibran dengan baik. Kia yakin Kak Gibran tidak akan menyakiti hati Oca. Benar 'kan, Kak?" Azkia mencoba membela Gibran karena dia tahu jika mantan kekasihnya adalah pria yang baik.


" Kia, namanya orang itu bisa berubah sikap. Yang tadinya jahat bisa jadi baik, yang tadinya baik bisa berubah jahat. Seperti suami kamu itu, dulu kamu tahu sendiri Raffa itu bandelnya seperti apa? Sekarang suami kamu itu jadi pria yang baik, sayang sama keluarga, sama istri sama anak ...."


" Ma, jangan berburuk sangka terhadap Gibran. Kalau Kia bilang Gibran orang baik, pasti Gibran ini pria baik." Fariz memotong perkataan Lusiana dengan mencoba bersikap bijak dan tidak berburuk sangka dengan niat Gibran mendekati Rosa.


" Saya tidak berniat mempermainkan Oca, Tante." Gibran menegaskan jika kedekatan dia dengan Rosa bukan karena kesengajaan ataupun karena dia kenal Rosa adalah adik Raffasya.


Rosa tetap tertunduk. Hatinya yang berbunga-bunga sejak awal berangkat ke restoran tiba-tiba kini berubah layu saat mengetahui fakta yang sesungguhnya tentang Gibran. Dia sungguh tidak menyangka jika wanita yang dimaksud Gibran sebagai mantan kekasihnya itu adalah Azkia.


" Oke, sekarang kamu sudah tahu siapa Oca, kan? Apa kamu tetap meneruskan niat kamu untuk dekat dengan Oca? Tante merasa, tidak akan baik jika kalian meneruskan hubungan seperti ini. Tidak baik untuk kamu, Oca, Kia dan Raffa. Jadi menurut Tante, kamu harus memikir ulang untuk mendekati Oca, mumpung kalian baru kenal dan belum saling berpacaran." Lusiana sudah menempatkan posisinya sebagai seorang Ibu yang sangat posesif terhadap anak-anaknya. Dia berpikir tidak baik seandainya mantan kekasih menantunya itu berhubungan dengan Rosa. Lusiana juga harus waspada agar tidak sampai terjadi sesuatu yang mengganggu rumah tangga Azkia dan Raffasya jika sampai Gibran tetap bersama Rosa.


" Ma, jangan seperti itu! Kasihan jika melarang Oca berhubungan dengan Gibran," tegur Fariz yang melihat istrinya itu meminta Gibran menyudahi hubungannya dengan Rosa yang mungkin baru saja bersemi.


Rosa menggigit bibirnya, sementara hatinya sangat kacau. Acara makan malam yang dia harapkan sangat berkesan karena dia akan memperkenalkan Gibran seketika menjadi berantakan saat terungkap fakta siapa Gibran sebenarnya. Belum reda rasa syoknya dengan kenyataan itu, kini dia dihadapkan dengan sikap Lusiana yang menuduh Gibran berniat tidak baik kepadanya dan melarang Gibran terus mendekatinya. Rasanya Rosa ingin menangis sementara hatinya meledak-ledak, hingga akhirnya dia berdiri dari tempat duduk dan berlari tanpa meninggalkan sepatah kata pun kepada Gibran atau keluarganya.


" Oca ...!" Semua orang menyerukan satu sama secara bersamaan saat melihat Rosa pergi.


" Permisi, Om, Tante." Gibran yang melihat Rosa berlari pergi langsung berpamitan dan mengejar gadis itu.


Raffasya juga ingin melakukan hal yang sama namun Fariz menahannya.


" Kamu tetap di sini, Raffa!" Fariz melarang Raffasya yang ingin mengejar adiknya.


" Tapi, Pa ...."


" Biarkan Oca dan Gibran bicara berdua. Hal ini pasti membuat Oca syok. Kamu juga jangan terlalu keras seperti itu kepada Gibran, Ma. Setidaknya kamu pahamilah perasaan Oca bagaimana sekarang ini!" Fariz kembali menegur Lusiana.


" Aku 'kan hanya berusaha melindungi Oca, Mas." Lusiana melakukan pembelaan jika yang dia lakukan karena dia sangat menyanyangi Lusiana seperti anaknya sendiri.


" Tapi tidak harus frontal mengatakan hal itu terang-terangan di depan Oca juga, kan?" Fariz tidak sepaham dengan Lusiana.


" Papa kenapa nggak tahu kalau yang nolong Oca itu Kak Gibran, sih?" Azkia kini mencubit lengan suaminya karena merasa suaminya itu kecolongan tidak mengetahui sosok pria yang dekat dengan Rosa ternyata adalah Gibran.


" Aku nggak tahu, Ma. Kalau itu adalah Gibran karena aku sendiri nggak melihat orangnya," jawab Raffasya, sama saja seperti Mamanya yang tidak ingin disalahkan.


Sementara itu di depan pintu lift, Gibran berhasil menyusul Rosa.


" Kamu mau ke mana, Ca?" tanya Gibran menggenggam tangan Rosa namun Rosa menepisnya.


" Kak Gibran kenapa mengikutiku?" Rosa langsung menyeka air mata yang menetes di pipinya.


" Aku rasa kita harus bicara, Ca." ucap Gibran sambil menunggu pintu lift terbuka.


" Apa yang harus kita bicarakan lagi, Kak? Mama Lusi sudah bilang kalau Kak Gibran tidak usah dekati aku lagi." Rosa memalingkan wajahnya tak ingin terlihat oleh Gibran jika saat ini lelehan air matanya tak juga henti membasahi pipinya.


" Tidak ada yang berhak melarang aku mendekatimu, Ca. Aku pria single, bukan suami orang. Kita juga seiman dan aku punya pekerjaan tetap. Tidak ada alasan apapun yang bisa melarang aku mendekati seorang gadis seperti kamu." Gibran merasa alasan kisah masa lalunya tidaklah cukup bijak dijadikan alasan untuk memisahkan hubungan dirinya dengan Rosa.


" Tapi Kak Kia adalah wanita yang Kak Gibran cintai." Dengan suara yang tercekat di tenggorokan Rosa berkata-kata.


Ting


Suara pintu lift terbuka, Rosa bergegas masuk ke dalam lift yang kosong dan Gibran ikut menyusul di belakangnya. Sebelum Rosa menekan tombol lantai satu, Gibran sudah lebih dahulu menekan tombol lantai paling atas bangunan hotel itu


" Sebaiknya kamu ikut aku, Ca. Kita mengobrol di cafe rooftop di atas saja." Gibran mengajak Rosa berbicara di cafe yang ada di rooftop hotel Gavin.


***


" Kamu ingin pesan apa, Ca?" tanya Gibran saat mereka sudah duduk memilih meja, namun Rosa menggelengkan kepalanya.


" Saya pesan banana cafe latte sama chicken fingers, Mbak." Gibran menyebutkan pesanannya kepada pelayan cafe.


" Kamu nggak mau pesan apa-apa, Ca?" tanya Gibran lagi.


" Air mineral saja." Rosa memilih memesan air mineral.


" Oke air mineralnya dua, Mbak." lanjut Gibran menyebutkan apa saja yang dipesannya.


" Baik, Mas. Permisi ..." Setelah mencatat pesanan Gibran, pelayan cafe itu meninggalkan Gibran dan Rosa untuk menyiapkan pesanan Gibran.


Gibran menatap wajah sendu Rosa, dia sendiri tidak menyangka jika gadis yang selama ini dia dekati adalah adik Raffasya. Berkali-kali dia mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan Kakak dari Rosa namun entah mengapa dirinya seakan tidak tergerak untuk berkenalan dengan Kakak Rosa itu.


Mungkin saja jika dia tahu lebih awal, dia bisa langsung bertindak ingin meneruskan mendekati Rosa atau tidak. Namun sekarang, saat dia sudah mulai menyukai Rosa dan mungkin Rosa juga sudah membuka hatinya, rasanya dia juga merasa berat jika harus menjauhi Rosa.


" Aku juga tidak menyangka jika Kakakku yang sudah merebut Kak Kia dari Kak Gibran. Aku bisa merasakan kekecewaan Kak Gibran saat menceritakan kisah cinta Kakak dulu dengan wanita yang Kak Gibran cintai itu. Sebagai adik Kak Raffa, aku minta maaf atas perbuatan Kak Raffa yang sudah merebut Kak Kia dari Kakak." Rosa berusaha tegar mengucapkan permintaan maaf atas kesalahan yang Raffasya perbuat terhadap Gibran.


" Kamu nggak harus meminta maaf, Ca. Kejadian itu juga terjadi di luar kendali kami. Mungkin aku hanya menyesali, kenapa saat itu aku tidak ada di sisi Kia," sesal Gibran.


" Kenapa Kak Raffa tega mengambil Kak Kia dari Kakak?" Rosa yang tidak pernah mendengar cerita sesungguhnya tentang Raffasya dan Azkia merasa penasaran dengan cerita Gibran.


Gibran memicingkan matanya. " Kamu nggak tahu apa yang terjadi sampai Kakak kamu menikah dengan Kia?" tanyanya kemudian.


Rosa menggelengkan kepalanya dan Gibran akhirnya menceritakan secara lengkap apa yang terjadi dengan Azkia dan Raffasya sampai akhirnya dua orang yang awalnya selalu bermusuhan itu terikat dalam satu ikatan pernikahan.


" Astaghfirullahal adzim ... aku nggak pernah tahu ada kisah dibalik pernikahan Kakakku dengan Kak Kia. Papa juga nggak pernah cerita apa-apa." Rosa terperanjat saat mengetahui kehamilan Azkia lah yang menyebabkan Raffasya akhirnya terpaksa merebut Azkia dari tangan Gibran.


Gibran menghela nafas panjang, tentu tidak mudah baginya melupakan kisah cintanya pada wanita yang sejak kecil dikaguminya itu.


" Cinta Kak Gibran dalam sekali untuk Kak Kia. Aku rasa apa yang Mama Lusi katakan benar. Sebaiknya Kak Gibran nggak usah temui aku lagi, ini nggak baik untuk semuanya." Rosa mengambil keputusan untuk menjauhi Gibran yang masih berusaha untuk mengejarnya. Dia takut kedekatannya dengan Gibran akan membuat rumah tangga kakak dan kakak iparnya menjadi tidak harmonis.


" Kenapa kamu berpikir seperti itu, Ca? Kalau kamu menyuruh aku untuk berhenti mendekati kamu, itu sama artinya kamu nggak memberi kesempatan aku untuk bangkit." Gibran merasa kecewa dengan keputusan Rosa.


" Kamu tahu? Selama ini aku tidak pernah mendekati dan menyukai wanita selain Kia. Dan kamu adalah wanita kedua yang aku dekati setelah Kia. Itu artinya kamu itu spesial buat aku, Ca." Gibran mencoba meyakinkan Rosa agar Rosa tidak menyuruhnya menjauhi wanita itu.


" Aku sudah tidak mungkin mengejar apalagi memiliki Kia. Kamu tahu sendiri Kia sudah bahagia dengan Kakak kamu. Dan aku sendiri ingin melanjutkan hidup aku. Dua tahun aku mencoba menata kembali hati aku yang hancur dan mencari pelabuhan terakhir untuk hatiku. Dan saat ini aku sudah menemukannya di diri kamu. Jadi tolong jangan buat aku kecewa untuk kedua kalinya, Ca." Gibran menggenggam tangan Rosa membuat Rosa tidak bisa menahan deraian air mata yang kembali tumpah di pipinya.


***


Azkia dan Raffasya telah kembali ke rumahnya. Mereka berdua akhirnya pulang setelah Fariz menyuruh Raffasya membawa Azkia yang tengah hamil besar kembali ke rumahnya.


" Kira-kira apa yang dibicarakan oleh Oca sama Gibran ya, Pa?" Azkia merasa penasaran ingin tahu apa yang terjadi, karena mereka pulang lebih dahulu hingga tidak bertemu dengan Rosa lagi dan tidak tahu apa yang terjadi dengan Rosa.


" Aku harap Gibran dan Rosa bisa bicara baik-baik dan Gibran nggak mengecewakan Rosa, Ma," sahut Raffasya membantu Azkia membuka resleting pakaiannya.


" Pa, kalau Kak Gibran tetap ingin bersama Oca, apa Papa setuju?" tanya Azkia memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan sang suami.


" Apa kamu masih mempunyai rasa cinta terhadap Gibran?" Raffasya justru balik bertanya kepada Azkia.


" Iiihh ...!" Azkia memukul lengan suaminya. " Aku tanya serius, jawabnya begitu! Aku ini sudah punya buntut dua, bisa-bisanya ngomongin perasaan ke mantan!" keluh Azkia memberengut membuat Raffasya terkekeh.


" Ya siapa tahu, Ma. Iparan sama mantan malah bikin baper." Raffasya tergelak menanggapi istrinya yang mengerucutkan bibirnya.


" Pa, aku ini sudah bahagia sama Papa. Nggak mungkin punya pikiran ke arah sana." Azkia memang sudah memantapkan hatinya kepada Raffasya dan hanya Raffasya lah pria yang saat ini dan selamanya akan dia cintai.


" Kalau Mama sudah yakin dengan hal itu, aku rasa aku juga tidak berhak melarang Gibran dan Oca untuk bersama. Gibran juga kayak mendapatkan pendamping seorang wanita yang baik. Aku harap Gibran benar-benar ikhlas melepaskan perasaan cinta terhadap kamu. Dia harus menyambut kisah cintanya yang baru." Raffasya berpikir terlalu egois jika melarang Gibran mendekati adiknya.


" Jadi Papa setuju Kak Gibran dengan Oca?" Azkia tidak menyangka suaminya berpikiran sangat dewasa dan bijak seperti itu.


" Selama ini aku selalu merasa bersalah setiap berhadapan dengan Gibran, Ma." aku Raffasya jujur. " Mungkin saat ini aku akan membalas rasa bersalahku dengan membantu Gibran meluluhkan hati Mama dan meyakinkan Papa jika Gibran memang baik dan pantas untuk Oca." tekad Raffasya. " Besok aku akan coba ketemu Gibran dan membicarakan hal ini," lanjut Raffasya berencana ingin berbicara dengan Gibran tentang keseriusan pria itu terhadap adik perempuannya dari pernikahan kedua Papanya.


" Oh, suamiku ini baik banget, deh." Azkia langsung memeluk tubuh suaminya walau terhalang perut buncitnya.


" Tentu saja, dong! Biar kamu nggak berani melirik pria lain selain suami kamu ini." Raffasya menyeringai sementara tangannya menurunkan dress hamil Azkia hingga bagian atas tubuh Azkia terbuka.


" Eh, apa-apaan ini? Main buka-buka baju seenaknya!" Azkia mendelik ke arah suaminya.


" Memang enak kalau sudah buka baju, bisa bikin yang enak-enak." Raffasya mengedipkan matanya dan mulai mengiring istrinya itu hingga Azkia tersudut di tepi tempat tidur.


" Papa mau apa?" Azkia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Papa mau nengokin dedek bayi, rasanya sudah lama dedek bayi nggak dikunjungi sama Papanya, kan?" Raffasya melepas kemejanya dan melepas kaos dalamnya. Dia juga meloloskan ikat pinggangnya lalu melepas celana jeans nya dengan cepat.


" Pa, sholat isya dulu, kita belum sholat isya, kan? Memang Papa mau mandi malam-malam?" Azkia terkekeh mengingatkan suaminya jika saat ini mereka berdua belum melaksanakan sholat Isya.


" Oh, Gosh ..." Raffasya langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, padahal dia tadi sudah sangat bersemangat ingin melakukan percintaan dengan sang istri namun terhalang karena harus mengerjakan kewajiban empat rakaatnya.


Azkia terkekeh melihat suaminya itu. Dia lalu bangkit dari tidurnya dan menjatuhkan pakaiannya hingga saat ini hanya menggunakan bra dan celananya membuat Raffasya harus menelan salivanya melihat tubuh molek istrinya yang sengaja menggodanya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️