
" Assalamualaikum ..." Natasha dan Azkia sama-sama memberi salam saat mereka sampai di rumah mereka.
" Waalaikumsalam ..." sahut Abhi yang berjalan turun dari anak tangga. Jika dilihat dari penampilannya, anak ketiga dari pasangan Yoga dan Natasha itu terlihat hendak pergi ke luar rumah.
" Abhi mau ke mana?" tanya Natasha.
" Mau kumpul sama teman, Ma." sahut Abhi menghampiri dan mencium punggung tangan Natasha.
" Pulang jam berapa? Jangan pulang malam-malam, Abhi! Mama takut! Sekarang ini kejahatan makin marak. Tadi kakakmu ini baru saja mengalami penjambretan. Untung saja penjambretnya bisa dikalahkan ." Natasha segera menasehati pemuda yang hampir mendekati usia sembilan belas tahun itu. Karena dia sangat khawatir dengan pergaulan putra dan putrinya.
" Mbak Kia dijambret? Memang ada orang yang berani jambret Kakak aku yang galak ini? Wah, cari mati itu orang." Abhi terkekeh meledek Azkia membuat Azkia memutar bola matanya.
" Terus penjambretnya gimana, Ma? Dilepas?" tanya Abhi tertarik dengan cerita Mamanya.
" Enak saja dilepas, dibawa ke kantor polisi, dong! Sudah bikin kejahatan masa dilepas gitu saja!" Azkia menjawab pertanyaan adiknya.
" Wah, Kakakku ini memang jagoan." Abhi merangkul pundak dan memeluk tubuh Azkia erat.
" Sudah sana kalau mau pergi." Azkia mengurai pelukan Abhi.
" Ingat jangan malam-malam pulangnya!" Natasha mencoba mengingatkan Abhi.
" Paling sebelum Shubuh, Ma." Abhi menyeringai.
" Astaghfirullahal adzim! Nggak Mama kasih pintu kalau kamu pulang jam segitu!" tegas Natasha mengancam putranya yang lahir setelah Azkia.
" Hehe, bercanda, Ma. Jam sembilan juga sudah pulang, kok." Abhi langsung terkekeh melihat Natasha sudah mengeluarkan ancamannya.
" Abhi pergi dulu ya, Ma, Assalamualaikum ..." Abhi pun berpamitan kepada Mamanya.
" Waalaikumsalam ..." Natasha dan Azkia menjawab bersamaan.
" Kamu mandi dulu, Kia. Berendam pakai air hangat nanti Mama ambilkan rempah mandi. Biar badan kamu segar lagi." Natasha menyuruh Azkia ke kamar putrinya itu sedangkan dia sendiri masuk ke kamarnya sendiri untuk mengambil rempah mandi yang sering dia pakai untuk rileksasi menyegarkan tubuhnya.
" Kamu sudah pulang, Yank? Bagaimana urusannya sudah beres?" Saat Natasha hendak menuju kamarnya terlihat Yoga keluar dari ruang kerja pria yang berprofesi sebagai dosen itu. Natasha memang sudah memberi kabar kepada Yoga tentang kejadian yang menimpa mereka sepulang dari senam. Awalnya Yoga ingin menyusul mereka di kantor polisi namun Natasha melarang karena mereka sudah bisa mengatasi masalahnya.
" Sudah, Mas." Natasha lalu mencium punggung tangan suaminya.
" Kia nya mana?" tanya Yoga.
" Di kamar, aku suruh berendam air hangat pakai rempah, soalnya dia 'kan habis berkelahi melawan orang-orang jahat itu." Natasha menjelaskan.
" Aku mau ambil rempah-renpahnya dulu, Mas." Natasha meminta ijin untuk lebih dulu berjalan ke kamarnya yang diikuti oleh Yoga di belakangnya.
Setelah mengambil dan menyerahkan rempah mandi kepada Azkia, Natasha pun kembali ke kamar karena dia juga ingin membersihkan tubuhnya.
" Kenapa bisa Kia kena jambret sih, Yank?" tanya Yoga lagi saat Natasha kembali ke kamarnya.
" Kia habis ambil uang di ATM setelah dia isi bahan bakar di SPBU, Mas." Natasha membuka kancing bajunya satu persatu.
" Kamu mau ngapain buka baju di hadapanku, Yank? Mau kasih kode, nih?" Yoga menyeringai. Dia sebenarnya tahu jika istrinya itu membuka kancing baju karena ingin mandi, tapi kebiasaan menggoda istrinya itu tidak pernah hilang sampai sekarang.
" Iisshh dosen me sum mulai beraksi," celetuk Natasha. " Aku mau mandi dulu, habis senam badan rasanya lengket." Natasha lalu berjalan ke arah kamar mandi di kamarnya seraya melepas baju bagian atasnya.
" Aku juga belum mandi, Yank. Kita mandi bersama saja kalau begitu." Yoga mengekori langkah Natasha dengan meloloskan t-shirtnya dari kepalanya hingga kini pasangan suami istri yang selalu bersikap mesra itu berada di dalam kamar mandi.
" Mas, tahu nggak siapa yang tadi membantu Kia melumpuhkan para penjambret?" Natasha seakan memberikan tebak-tebakan kepada Yoga saat mereka duduk berendam di dalam bathtub dengan posisi tubuh Natasha membelakangi Yoga.
" Siapa memangnya?" tanya Yoga seraya menyabuni punggung mulus istrinya.
" Raffa, Mas. Ternyata anaknya baik juga, nggak cuek saja dan nggak masa bodoh waktu lihat Kia menghadapi orang jahat itu." Natasha menceritakan siapa sosok yang membantu Azkia dalam menghadapi kedua pelaku kriminal tadi.
" Raffa?" Yoga seketika menghentikan gerakan tangannya saat mendengar nama Raffasya disebut sang istri.
" Iya, Mas." Natasha lalu menoleh ke belakang. " Kaget ya, Mas?" tanya Natasha melihat respon suaminya.
" Waktu Kia dulu pernah kempes ban juga Raffa yang menolong mengganti bannya lho, Yank." Yoga teringat saat Azkia mengalami kempes ban beberapa waktu lalu yang juga melibatkan Raffasya yang menjadi penolong putrinya. Walaupun ujung-ujungnya Azkia menabrak motor Raffasya yang membuat anak muda itu kesal dan marah kepada Azkia.
" Hahh? Masa sih, Mas? Raffa yang bantu Kia ganti ban mobil?" Kali ini Natasha yang terkejut
" Iya, Yank."
" Berarti sudah dua kali Raffa tolong Kia ya, Mas. Selama ini kita selalu beranggapan jika Raffa itu bandel, selalu bikin masalah sama Kia. Apalagi kalau aku dengar cerita Amara soal Kia yang bertengkar sama Raffa. Tapi waktu aku lihat tadi dia menolong Kia, dia baik, kok. Ya walaupun ujung-ujungnya mereka berdebat juga, sih. Tahu sendiri 'kan anak Mas Yoga itu keras kepalanya seperti apa?"
" Seperti Mamanya." Yoga menimpali dengan cepat membuat Natasha tertawa mendengar jawaban sang suami.
" Aku jadi ingat kisah kita waktu baru awal-awal bertemu, Mas. Mas selalu ada di waktu yang tepat saat aku membutuhkan seseorang yang bisa membantuku." Natasha mengenang akan masa lalunya.
" Kamu mau menyamakan kisah kita dengan Kia dan Raffa? Kia itu sudah ada Gibran, Yank. Semisal kita anggap saja Gibran itu seperti Andra di jaman kita dulu, tapi Kia sama Raffa nggak akan bisa jadi seperti kita."
" Iissh kenapa bawa-bawa nama orang lain segala, sih?" Natasha mencebik saat Yoga menyebut nama Andra dalam obrolan mereka.
" Dia itu 'kan bagian masa lalu kamu, Yank." Yoga terkekeh.
" Dia itu bagian masa lalu yang nggak perlu diingat-ingat lagi!" protes Natasha.
" Tapi aku salut denganmu, Yank. Mungkin itu juga yang bikin aku bisa belajar mencintai kamu diantara sikap-sikap burukmu dulu."
" Apa?"
" Kamu nggak matre, nggak perduli pekerjaanku saat itu hanya driver ojol. Kamu bisa menerima aku walaupun saat itu kamu belum tahu orang tua dan keluargaku siapa? Aku bahkan tidak pernah memberikan materi yang nilainya fantastis untuk kamu. Mungkin aku nggak bisa seperti Gavin kepada Rara atau Dirga kepada Rania dalam hal memanjakan istri dengan limpahan harta, tapi kamu tetap setia mendampingi aku yang hanya seorang dosen."
Natasha membalikan posisi duduknya hingga kini berhadapan dengan sang suami.
" Aku nggak perduli soal itu, Mas. Aku hanya perduli dengan kasih sayang dan perhatian yang sudah Mas berikan kepadaku sejak pertama kali bertemu. Itu lebih berharga untuk aku. Lagipula aku ini punya usaha sendiri, kalau aku mau sesuatu aku bisa mendapatkannya dengan uangku sendiri. Atau kalau perlu, aku tinggal bilang sama Kak Gavin, dia pasti akan memberikan." Natasha terkekeh mengingat dia sering memanfaatkan kakak sepupunya itu.
" Kamu jangan terlalu sering meminta kepada Gavin, Yank! Nggak enak sama Rara."
" Iiihh, biarin saja. Rara juga nggak masalah, kok! Rara itu tahu kalau aku ini adik sepupu yang paling disayang oleh Kak Gavin." sahut Natasha cuek seraya bangkit dan keluar dari bathtub untuk menyiram tubuhnya dengan shower.
***
Gladys mengedar pandangan ke setiap sudut ruangan tempat hiburan malam yang biasa dia kunjungi. Matanya terus mencari sosok Bimo, temannya yang dia mintai bantuan untuk menjebak Azkia.
" Hai, Dys."
Dari arah belakang meja Gladys ternyata Bimo muncul membuat Gladys menolehkan wajahnya.
" Hai, Bim ..." sahut Gladys. " Gimana? Kamu bilang mau bicara, ada apa?" tanya Gladys setelah Bimo duduk di kursi di hadapannya.
" Dys, kayaknya gue nggak bisa bantu lu, deh! Beberapa waktu lalu gue ketemu cewek itu, dan ternyata dia sahabat dari teman gue."
" Sahabat teman kamu, Bim? Apa teman kamu itu bisa kita ajak kerjasama juga?"
" Jangan gila lu, Dys! Itu namanya bunuh diri kalau sampai lu berencana mengajak teman gue itu!" Bimo bereaksi cepat dengan ide Gladys.
" Intinya gue nggak bisa bantu lu, Dys. Selain dia sahabat teman gue, ternyata keluarga cewek itu bukan orang sembarangan. Bokapnya dosen, kakeknya pengusaha kaya raya di Bogor dan Om nya, ini yang bikin gue ngeri. Om nya itu pengusaha berpengaruh di negeri ini. Dia pemilik hotel xxx yang tersebar di kota-kota besar. Gue nggak mau berurusan dengan mereka." Bimo menyampaikan alasannya karena dia sempat mengorek informasi dari Thomas tentang siapa Azkia.
" Ck, cemen sekali kamu, Bim." cibir Gladys.
" Gue bukan cemen, Dys. Gue cuma berpikir realistis saja. Ibaratnya kita melawan raksasa, belum tanding juga sudah bonyok duluan." Bimo kembali menerangkan kenapa dia mundur membantu Gladys.
" Kamu tenang saja, gue nggak akan bocorin rencana lu ini. Anggap saja lu nggak pernah cerita apa-apa dan gue nggak pernah dengar apa-apa." Bimo mengangkat kedua telapak tangannya ke atas kepala melakukan gerakan orang menyerah kemudian berdiri dan meninggalkan Gladys sendiri membuat Gladys tak habis-habisnya menggerutu dan mengumpat.
***
" Azkia ...!"
Azkia menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang berteriak memanggil namanya saat dia berjalan di koridor kampusnya.
" Ada apa, Tik?" tanya Azkia kepada Atika yang berlari ke arahnya.
" Besok lu datang nggak ke acara bridal shower nya si Chelsea?" tanya Atika setelah mendekat.
" Besok jam berapa acaranya? Kalau malam kayaknya gue nggak bisa, deh! Orang tua gue pasti nggak kasih ijin apalagi kemarin-kemarin gue baru saja kena jambret," sahut Azkia.
" Serius lu kena jambret? Di mana?" tanya Atika terkejut saat Azkia mengatakan jika dia belum lama ini mengalami penjambretan.
" Di SPBU dekat tempat senam. Tapi penjambretnya bisa gue lumpuhkan, kok."
" Wuih, keren banget lu, Az. Bisa membekuk penjambret." Atika berucap kagum karena kemampuan bela diri Azkia sanggup dipraktekkan di waktu yang tepat.
" Hmmm, bukan gue sendirian sih yang mengalahkan penjambret itu, tapi dibantu Kak Raffa juga."
" Kak Raffa? Sebentar-sebentar ..." Atika mencoba mengingat nama yang disebut Azkia. " Kak Raffa yang ketemu di cafe itu, kan? Yang menolong lu itu kan, Az?"
" Iya." jawab Azkia singkat.
Atika kemudian terkikik membuat Azkia melirik ke arah sahabatnya itu.
" Kenapa ketawa lu, Tik?" tanya Azkia heran.
" Apakah ini tanda-tanda jodoh yang diturunkan Tuhan untuk lu, Az?"
Azkia langsung mendelik saat mendengar perkataan Atika.
" Eh, nggak usah ngelantur kalau ngomong! Jodoh gue itu Kak Gibran, sudah jelas itu! Kenapa lu bilang tanda-tanda jodoh gue?"
" Gibran itu memang cowok lu, pacar lu, tapi belum tentu dia itu bakal jadi jodoh lu, Az. Jodoh itu misteri, hanya Tuhan yang tahu siapa akan menjadi jodoh kita."
" Lu sudah kayak Ustadzah saja deh, Tik!"
" Aamiin, mudah-mudahan gue bisa dapat hidayah jadi ustadzah."
" Tapi lu mesti ingat ya, gue itu cintanya sama Kak Gibran. Mustahil gue bakal jodoh sama Kak Raffa!"
" Iya, iya ..." Atika memilih mengalah jika berdebat dengan sahabatnya itu.
" Oh ya, lu udah beli kado buat Chelsea, Tik?" tanya Azkia.
" Belum, Az. Lu mau beli kado kapan?"
" Sekarang saja gimana?"
" Oke deh, kita jalan sekarang." Atika merangkulkan lengannya di pundak Azkia hingga akhirnya mereka berdua berjalan ke halaman parkir untuk menuju mobil mereka masing-masing.
***
Keesokan harinya Azkia dan Atika jalan bersama menghadiri acara bridal shower Chelsea di apartemen milik Chelsea.
" Az, lu tahu nggak? Kabarnya apartemen yang pakai Chelsea tinggal sekarang ini pemberian dari sugar daddy nya, lho" Atika bergosip saat mereka berada di dalam lift menuju lantai dua belas tower apartemen itu.
" Iisshh, kemarin lu sudah bagus mau jadi ustadzah, sekarang malah berghibah." Azkia memutar bola matanya.
" Hahaha, mulut gue refleks kalau urusan ghibah." Atika tergelak.
" Eh, tapi Chelsea nikahnya sama pacarnya, kan?"
" Iya memang sama pacarnya, sih."
" Lalu kalau dia nikah apa dia masih hubungan sama penyokong dananya itu?"
" Nah, itu juga yang bikin gue penasaran, kita tunggu saja deh kisah kelanjutannya akan seperti apa?"
" Eh, tapi gimana yang jadi suaminya ya kalau tahu punya Chelsea sudah bolong duluan?" Azkia terkikik seraya menutup mulutnya saat mengatakan hal itu.
" Nggak bakalan heran calon suaminya nanti, Az. Orang dia yang membuka jalan duluan." Atika terkekeh saat menceritakan soal Chelsea.
Azkia menoleh ke arah Atika saat mendengar Atika sedetail itu mengetahui soal urusan Chelsea.
" Lu tahu setail itu, Tik?"
" Chelsea sendiri yang bilang ke gue, kok."
" Oh astaga, moga-moga kita jauh-jauh dari hal begitu ya, Tik."
" Aamiin, mudah-mudahan, Az."
Ting
Bunyi pintu lift terbuka dan mereka pun lalu berjalan menuju kamar apartemen milik Chelsea.
Setelah mendapatkan kamar Chelsea, Azkia dan Atika lalu menekan bel di dekat pintu. Ternyata sudah ada beberapa teman-teman Chelsea yang hadir di sana dan semuanya adalah wanita.
Acara bridal shower dimulai dengan sambutan dari pembawa acara yang juga merupakan teman Chelsea sebelum mereka makan-makan menyantap hidangan yang disediakan. Setelah tu dilanjut dengan game dan diakhiri acara membuka kado. Chelsea pun mendapatkan ucapan serta doa-doa dari teman-temannya.
" Eh, kalian jangan pada pulang dulu, ya! Ada satu acara lagi yang mesti kalian lihat." Chelsea lalu berjalan ke arah dekat LED nya, dia sedang menyalakan sesuatu yang akan ditampilkan di layar televisinya itu.
" Wowww ...."
" Oh my God ...."
" Astaghfirullahal adzim ...."
" Mantap ...."
Suara gaduh langsung terdengar saat layar LED di apartemen Chelsea itu menampilkan video seorang pria dan wanita yang sedang melakukan aktivitas layaknya suami istri tanpa selehai benang pun yang menempel di tubuh kedua orang itu.
" Buat pengetahuan bagi kalian juga nih, biar nanti kalau menikah nggak kaku kalau harus berhubungan sama suami pas malam pertama." Chelsea dengan santainya terkekeh.
" Astaga ..." Azkia memijat pelipisnya saat matanya harus ternoda dengan video beradegan dewasa tersebut.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️