
Waktu terus berjalan, usia kandungan Azkia pun sudah mendekati memasuki bulan ke sembilan dan mereka tengah bersiap menunggu hari perkiraan lahir bayi mereka. Sudah dipastikan bagaimana cerewetnya Raffasya melarang Azkia harus begini dan harus begitu.
Dan atas permintaan Natasha, jelang hari melahirkan, Azkia dan Raffasya diminta untuk menginap sementara waktu di rumah Yoga. Pertimbangannya jika putri dan menantunya itu akan kerepotan karena tidak banyak orang di rumah mereka dan tidak berpengalaman menghadapi situasi orang yang akan melahirkan membuat pemilik Alexa Boutique itu menyuruh anak dan menantunya menginap di rumahnya hingga proses persalinan.
" Kenapa nggak Mama saja yang menemani Kia di rumah Kak Raffa, Ma?"
Sebenarnya Azkia awalnya agak keberatan harus menginap di rumah orang tuanya. Sudah pasti dia mempertimbangkan suaminya jika berhari-hari harus tinggal di rumah mertua. Dia yakin jika Raffasya pasti merasa lebih nyaman berada di rumah sendiri.
" Mama nggak bisa ninggalin Papa kamu dan adik-adik kamu berhari-hari, Kia."
Tentu saja tugas Natasha sebagai istri dan seorang ibu tidak bisa dia tampik begitu saja. Jika Azkia berada di rumahnya sampai jelang kehamilan, setidaknya dia bisa menjalankan tugas dia memperhatikan dan. mengurus semua anaknya.
Azkia dan Raffasya pun akhirnya menuruti keinginan Natasha yang menyuruh mereka menginap di sana. Raffasya juga tentu butuh seseorang yang berpengalaman menghadapi orang yang akan melahirkan seperti Natasha juga Yoga.
Pagi ini Raffasya dan Azkia dijadwalkan akan memeriksakan kandungannya sebelum melahirkan di rumah sakit di mana dokter Dessy bertugas.
" Bagaimana, Tan?_ tanya Azkia setelah memeriksakan kandungannya pada Dessy, adik perempuan dari Papanya Ramadhan.
" Posisi kepalanya sudah tepat, berat badannya juga sudah bagus, terlihat sehat, sempurna tinggal kita tunggu persalinannya saja." Dessy menjelaskan. " Sudah siap menghadapi persalinan nanti?"
" Sejujurnya aku deg-degan, Tan." aku Azkia jujur.
" Jangan tegang, Kia. Rileks saja ... jangan dibawa stress biar persalinannya nanti lancar." Dessy mencoba menenangkan kegugupan Azkia.
" Iya, Tan." Azkia menoleh ke arah Raffasya yang langsung menggenggam tangannya saat dia mengutarakan kecemasannya.
" Hubungan suami istri disarankan lho, untuk memberi jalan dan mempermudah proses melahirkan." Dessy menjelaskan seraya tersenyum.
" Aduh, Tante ... kenapa kasih kode begitu, sih?" celetuk Azkia. Sudah pasti Azkia menduga jika suaminya nanti akan mengikuti saran yang diberikan oleh Dessy jika berhubungan menyalurkan kebutuhan biologis dapat memperlancar persalinan. Karena dengan kondisi sekarang ini, dia cepat merasa lelah dan tak akan sanggup harus melayani has rat suaminya yang selalu menggebu jika melakukan hubungan in tim.
Dessy mengeryitkan keningnya seraya melirik ke arah Raffasya yang tersenyum kaku, dan Dessy mengerti apa maksud ucapan Azkia tadi.
" Bisa dilakukan dengan pelan-pelan dan hati-hati agar tidak membuat bumil kelelahan, kok." Kalimat Dessy selanjutnya membuat Azkia memutar bola matanya.
" Iiihhh, Tante. Jangan bicara hal seperti itu di depan suamiku, nanti dia nagih jatah." Ucapan Azkia tentu saja membuat Raffasya malu.
" Wajar 'kan minta jatah? Raffa ini 'kan suami kamu." Dessy tertawa kecil dan justru membela Raffasya. Dia lalu menyerahkan selembar resep kepada Azkia.
" Yang penting kamu harus releks jangan stres dalam menghadapi persalinan nanti, ya!" lanjut Dessy kembali menyemangati.
" Makasih ya, Tan." Setelah mendapatkan salinan resep, Azkia dan Raffasya berpamitan kepada Dessy.
Beberapa menit setelah mendapatkan vitamin yang diberi oleh Dessy, mereka pun segera meninggalkan rumah sakit.
" Kita makan dulu ya, May?" Raffasya mengajak Azkia untuk pergi makan siang padahal saat ini waktu baru saja melewati pukul sebelas siang.
" Nanti saja, Kak." Azkia menolak ajakan suaminya.
" Mumpung masih di jalan, May. Jadi bisa cari-cari makan dulu."
" Ya sudah, terserah Kak Raffa saja, deh."
" Kamu mau makan apa?"
" Aku mau makan yang berkuah dan segar."
" Sop buntut suka?" tanya Raffasya.
" Nggak pernah makan." Azkia menggelengkan kepalanya.
" Sama seperti sop kebanyakan tapi pakainya ekor sapi." Raffasya menjelaskan.
" Hahh??"
" Enak, kok! Mau coba?"
" Nggak, ah. Yang lain saja." Azkia menolak. " Cari soto saja deh, Kak." lanjutnya.
" Oke, kita cari dulu soto yang enak."
Sekitar setengah jam kemudian mobil Raffasya sudah terparkir di sebuah rumah makan soto Betawi yang terlihat ramai pengunjung. Raffasya pun memesan dua porsi soto beserta kerupuk dan emping serta dua botol air mineral.
" Buat lidah orang kita, makanan di tempat seperti ini tuh terasa lebih nikmat ketimbang makan di restoran yang mahal-mahal," komentar Azkia melihat penuhnya pengunjung rumah makan itu padahal belum menyentuh jam dua belas siang.
" Iya benar, untuk penjual pun, mereka nggak mengambil untung banyak per porsi tapi yang terjual mungkin ratusan porsi per hari tetap saja untungnya besar." Raffasya menyahuti.
" Dan harga yang terjangkau itu membuat semua lapisan masyarakat bisa menikmati makanan ini, kan? Apalagi rasanya juga enak banget di sini." Azkia menimpali.
" Kamu sering makan di sini?"
" Beberapa kali ...."
" Sama siapa?"
" Sama teman."
" Teman atau mantan?"
Azkia menoleh ke arah suaminya saat Raffasya menyinggung soal mantan.
" Kenapa Kak Raffa selalu menyinggung soal Kak Gibran, sih?" tanya Azkia heran.
" Cuma penasaran saja, apa kamu masih ada rasa sama dia?"
" Sudah berlalu lah, Kak. Nggak usah diungkit lagi." Azkia menolak membahas masalah mantan kekasihnya itu.
" Tapi tetap masih ada rasa sayang 'kan sama dia?"
" Kak Gibran sejak dulu baik sama aku, nggak mungkin aku membenci dia. Sudah, ah ... jangan bahas masalah itu lagi!" Azkia mengibas tangannya ke udara menandakan dia tidak nyaman harus memperbincangkan tentang Gibran.
" Hai, Bro! Ketemu di sini kita." Sebuah tepukan di pundak Raffasya membuat Raffasya tersentak kaget hingga membuat pria itu menolehkan pandangannya ke arah orang yang menyapanya.
" Eh, Don. Lu ada di sini juga?" Raffasya langsung menyapa Donny, teman masa kecilnya dulu.
" Iya, gue sedang ada di Jakarta seminggu ini." Donny menjelaskan.
" Lu sama siapa?" tanya Raffasya.
" Sendirian."
" Gabung saja sama kami di sini." Raffasya menawarkan kepada Donny untuk bergabung bersama dia dan Azkia. " Nggak apa-apa 'kan, May?" Raffasya meminta persetujuan Azkia.
" Nggak apa-apa, kok." Azkia mengijinkan Donny untuk bergabung.
" Mbak, pesan satu porsi lagi," ujar Raffasya kepada pelayan yang menyajikan pesanan Raffasya dan Azkia.
" Baik, Mas." sahut pelayan itu kemudian meninggalkan mereka.
" Gue makan duluan ya, Don." Raffasya meminta ijin menyantap sotonya terlebih dahulu.
" Santai saja, Bro."
" Duluan ya, Kak." ucap Azkia mengikuti suaminya.
" Oke, makan saja duluan bumil." Donny memperhatikan Azkia dan Raffasya bergantian.
" Gue masih nggak sangka kalian beneran menikah. Gue masih ingat waktu lu nangis gara-gara alat reproduksi lu kena tendang sama dia." Donny tertawa kecil mengingat kejadian masa kecil mereka, dan Donny tahu bagaimana Raffasya begitu membenci Azkia karena tindakan Azkia dulu.
" Gue jadi beneran penasaran, sejak kapan kalian saling menyadari perasaan kalian masing-masing jika kalian itu saling mencintai?" tanya Donny merasa penasaran dengan perubahan sikap antara Raffasya dan Azkia.
" Kepo banget lu, Don." Raffasya terkekeh.
" Pasti, dong! Gi la saja, lu! Syok banget gue waktu tahu kalian ini sekarang suami istri," sahut Donny.
" Kita ini sudah bosan ribut dan berantem terus, Don. Daripada adu mulut omongan mending adu mulut ciuman, kan?" kelakar Raffasya melirik istrinya yang langsung mendelik mendengar perkataan suaminya.
" Permisi ..." pelayan yang mengantar pesanan Donny tersipu malu mendengar percakapan antara Raffasya dan Donny.
" Kak Raffa sama Kak Donny ini kalau ngomong nggak lihat situasi, deh! Nggak lihat di sini sedang ramai orang." Azkia memprotes kata-kata yang diucapkan oleh Raffasya dan Donny.
" Hahaha, kalau pria dewasa saling bertemu nggak asyik kalau nggak bahas masalah itu, Kia." Donny memberi alasan sambil mengaduk soto yang hendak dia santap.
" Oh ya, gomong-ngomong, saudara kamu yang cewek itu apa kabarnya, Kia? Siapa namanya? Yang pernah ditraksir sama si Raffa ini?" Donny terkekeh teringat akan Rayya.
" Rayya maksud lu?"
" Nah, itu dia maksud gue."
" Dia sudah menikah juga."
" Ah, gi la ... kalian masih muda-muda sudah pada kebelet menikah, ya?" Donny menyebut kata kalian untuk Azkia dan Rayya.
" Mending cepat-cepat nikah daripada lu kebelet gituan tapi nggak dinikahi!" sindir Raffasya.
" Si alan, lu! Hahaha ... eh, jangan-jangan lu nikah sama Kia itu karena patah hati gara-gara sepupunya menikah ya, Raf?" Donny kini menyindir Raffasya.
" Nikahnya juga gue sama bini gue dulu, kok. Nggak mungkin karena alasannya karena gue patah hati." Raffasya menepis anggapan Donny.
" Oh, kirain ..." Donny terkekeh.
" Oh ya, lu sampai kapan di Jakarta, Don?" tanya Raffasya.
" Mungkin sampai akhir Minggu ini, Raf."
" Kenapa lu nggak menetap di Jakarta sih, Don?"
" Di sini terlalu padat, Bro. Lagipula gue sedang mencoba membuka usaha beach club di luar Jawa," ungkap Donny.
" Wah, keren, tuh! Gue juga kalau ada dana kepingin juga bangun beach club gitu."
" Lu mau join sama gue? Lu 'kan pengalaman handle cafe-cafe kayak gitu." Donny menawarkan kerjasama dengan Raffasya.
" Gue sedang nggak ada dana, Don. Sekarang ini gue sedang fokus renovasi cafe gue yang terbakar bulan-bulan lalu." Raffasya menjelaskan alasannya tidak bisa ikut bergabung dengan Raffasya.
" Cafe lu kebakaran? Kapan?" tanya Donny terkejut.
" Waktu gue lagi di Labuan Bajo waktu ketemu sama lu itu."
" Oh, jadi karena itu lu buru-buru pulang ke Jakarta?"
" Iya, Don."
" Gue turut prihatin, Raf." Donny menepuk pundak Raffasya memberi dukungan dan menyemangati.
" Thanks, Don." sahut Raffasya. " Oh ya, lu gimana sama cewek lu yang kemarin itu? Kapan rencana nikah? Kalau nikah jangan lupa undang kami, ya!" Raffasya teringat teman wanita Donny yang dikenalkan kepadanya saat mereka berjumpa di Le Pirates Island beberapa waktu lalu.
" Gue sudah nggak jalan sama dia lagi, Raf. Sudah bubar sebulan lalu," sahut Donny enteng.
Raffasya terbelalak mendengar pengakuan teman kecilnya itu.
" Parah lu, Don! Sudah dibawa ke mana-mana malah putus. Mending cuma dibawa doang, ini sih sudah dikekepin sampai ke pulau yang gue rasa paling cocok untuk couple yang honeymoon, ujung-ujungnya ditinggalin." Raffasya mencibir yang ditanggapi Donny hanya dengan menyeringai. Sementara Azkia hanya menggelengkan kepalanya mengetahui kelakuan teman kecil suaminya yang juga kakak kelasnya dulu.
***
Azkia sesekali melirik Raffasya yang sedang mengemudikan mobilnya, tak lama senyuman mengembang di bibirnya.
" Aku bangga sama Kak Raffa," ucap Azkia tak sungkan memuji suaminya.
" Kenapa memangnya, May?" Raffasya menoleh ke arah Azkia, kebetulan saat itu dia berhenti karena traffic light sedang berwarna merah.
" Meskipun Kak Raffa merasa kecewa dengan orang tua Kak Raffa, tapi Kak Raffa nggak sampai terjebak ke dalam pergaulan yang salah."
Raffasya melengkungkan satu sudut bibirnya mendengar perkataan Azkia.
" Tapi ujung-ujungnya tetap saja hamilin anak gadis orang."
" Kak Raffa sedang apes saja kalau gitu."
" Aku nggak mau bilang seperti itu, May. Aku nggak beranggapan aku merasa si al karena sudah menolong kamu." Raffasya mengusap kepala Azkia hingga membelai wajah cantik istrinya itu.
" Papa romantis ya, Dek?" Azkia menanggapinya dengan mengelus perutnya seolah meminta persetujuan bayi di dalam perutnya tentang sikap suaminya yang terasa sangat manis.
" Tentu, dong! Papanya siapa dulu, benar 'kan, Dek?" Kini Raffasya pun ikut mengusap perut Azkia.
" Kita ke mall dulu ya, Kak?!" Azkia meminta suaminya itu untuk menemani ke mall.
" Memang mau beli apa lagi, May?" tanya Raffasya menanggapi permintaan istrinya.
" Kepingin jalan-jalan ke mall saja, Kak." Azkia mengembangkan senyuman manisnya.
" Ingat perut kamu sudah besar begitu, May. Aku nggak mau tiba-tiba kamu mengalami kontraksi dan harus melahirkan di dalam mall. Jangan sampai nanti muncul berita di sosial media, 'Seorang wanita hamil, putri dari seorang dosen di universitas ternama dan juga keponakan seorang pengusaha hotel kaya raya mendadak melahirkan di mall'." Raffasya mencoba menakuti Azkia namun justru membuat istrinya itu tertawa.
" Kok cuma Papa sama Uncle saja yang disebut ?" tanya Azkia, karena Raffasya tidak menyebut dia sebagai istri dari suaminya itu.
" Orang mana ada yang tahu siapa aku, May. Nama Papa sama Uncle kamu lebih populer dibanding suamimu ini." Raffasya berusaha merendah.
" Jangan suka merendah gitu dong, Kak. Kak Raffa itu tetap berarti untuk aku." ucap Azkia mengusap lengan suaminya.
Raffasya menoleh dan menatap wajah istrinya lalu mengusap wajah Azkia kembali.
" Kamu makin lama makin menggemaskan, May."
Azkia menyentuh. tangan Raffasya yang sedang membelainya.
" Istri yang menggemaskan ini milik Kak Raffa, lho."
Raffasya tersenyum, semakin hari kebahagiaan itu semakin dia rasakan bersama Azkia.
" Tentu saja wanita cantik ini hanya milik aku."
" Tapi sebentar lagi bukan hanya milik Kak Raffa sendiri, lho!"
" Memangnya milik siapa lagi kalau bukan milik aku? Berani-berani sekali ingin mengajakku bersaing!" Raffasya terlihat tidak suka saat Azkia mengatakan jika ada orang lain yang akan memiliki istrinya itu selain dirinya.
" Milik dedek bayi ini, dong." Azkia terkikik karena suaminya itu seketika cemburu saat dia mengatakan suaminya itu bukan satu-satu pemilik atas dirinya.
" Duuhh, maafkan Papa ya, Sayang. Papa sudah cemburu sama dedek bayi." Raffasya kembali menyentuh perut istrinya.
" Kak Raffa tadi cemburu, ya?"
" Tentu saja, aku nggak mau ada pria yang memiliki kamu, May. Selain aku dan anak-anak kita nantinya." Raffasya menatap Azkia dengan begitu lekat seakan ingin menyatakan jika dia begitu bahagia hidup bersama Azkia.
Tin tin
Suara klakson mobil terdengar mengangetkan Azkia dan Raffsya yang sedang saling berpandangan mata.
" Ganggu saja itu orang!" gerutu Raffasya menoleh ke arah kaca spion mobilnya. Sementara Azkia hanya terkekeh melihat suaminya menggerutu kepada pengemudi mobil di belakang mobil mereka.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️