
Azkia memoleskan kembali lipstik di bibir ranumnya karena dia ingin menghadiri acara pertunangan saudara sepupunya. Azkia lalu menatap ke arah Raffasya yang sedari tadi memandanginya.
" Kak Raffa di sini saja, jangan ikut ke rumah Uncle!" Azkia meminta suaminya untuk tetap berada di kamarnya di rumah Yoga karena dia tidak menginginkan Raffasya ikut ke rumah Gavin.
" Kamu tega mengurungku di kamar ini?" Raffasya mendramatisir.
" Nggak usah lebay!" cibir Azkia kemudian melangkah ke arah pintu.
" Jangan lama-lama! Kalau kamu lama, aku akan menyusul ke sana!" ancam Raffasya, membuat Azkia mendelik ke arah suaminya. Namun tak lama dia melanjutkan langkahnya keluar dari kamarnya itu.
" Acaranya sudah mau dimulai, Ma?" tanya Azkia saat melihat Natasha keluar dari kamarnya.
" Iya, sebentar lagi akan mulai. Keluarga Tante Anin sudah di jalan, jadi kita harus sudah di sana. Jangan keduluan mereka yang datang." Natasha menunggu Azkia yang sedang menuruni anak tangga.
" Raffa mana?" tanya Natasha karena tidak melihat Raffasya di belakang putrinya itu.
" Di kamar, Ma."
" Nggak ikut ke acara Rayya sana Rama?"
" Nggak usah ikutlah, Ma. Nanti bikin kacau acara."
" Bikin kacau gimana maksud kamu, Nak?" tanya Natasha mengeryitkan keningnya.
" Mama lupa kalau Kak Raffa itu menyukai Rayya? Aku nggak mau tiba-tiba Kak Raffa mempunyai rencana menggagalkan rencana pertunangan Rayya dan Kak Rama." Azkia menyampaikan rasa khawatirnya.
" Kia, kamu jangan berlebihan seperti itu dong, Nak. Raffa itu sudah menjadi milik kamu dan calon anak kalian. Nggak mungkin dia bertindak seperti itu." Natasha menampik dugaan putrinya itu.
" Sudah deh, Ma. Kita nggak usah mengambil resiko." Azkia kemudian menarik lengan Natasha agar segera menuju rumah Gavin, dimana akan diadakan acara pertunangan Rayya dan Ramadhan.
***
" Kia ...."
Azkia menoleh saat seseorang memanggil namanya. Dan dia mendapatkan Umi Rara yang menyapanya.
" Enin ..." Azkia lalu mencium punggung tangan Umi Rara. " Enin apa kabar? Sehat-sehat 'kan, Nin?" tanya Azkia kemudian.
" Alhamdulillah, Enin masih sehat dan dikasih umur panjang jadi bisa melihat Neng Rayya bertunangan. Insya Allah, mudah-mudahan di hari bahagia Neng Rayya tiga bulan mendatang Enin juga masih sehat-sehat." Umi Rara mengucapkan harapannya.
" Aamiin, Enin. Kia ikut mendoakan Enin, Eyang, Enin Mamih sama Eyang Papih semua sehat-sehat selalu." Azkia menyahuti seraya merangkulkan tangannya di punggung Umi Rara.
" Oh ya, bagaimana kandungan kamu? Rewel nggak janin di perut kamu ini, Geulis?" Umi Rara mengusap perut Azkia.
" Kadang-kadang, Nin."
" Tapi kamu sehat-sehat saja, kan? Kehamilan kamu ini nggak menghalangi aktivitas kamu?" tanya Umi Rara.
" Kehamilan Kia memang nggak menghalangi aktivitas Kia, Nin. Tapi Papanya bayi ini yang menghalangi aktivitas Kia, Nin. Segala kegiatan Kia selalu dilarang," gerutu Azkia mengeluhkan sikap suaminya.
" Itu artinya suami Kia itu sayang sama bayi di perutmu ini, Geulis." Umi Rara menjelaskan.
" Sayang sama bayi ya, Nin?" tanya Azkia.
" Tentu saja, suamimu itu tidak ingin bayi ini kenapa-kenapa kalau Kia banyak beraktivitas."
Azkia mende sah mendengar penjelasan Umi Rara kembali. Ternyata bayi yang dikandungnya itu memang alasan terkuat Raffasya begitu perduli kepadanya.
" Oh ya, di mana suami kamu? Dari tadi Enin nggak lihat dia." Umi Rara mengedar pandangan mencari keberadaan Raffasya.
" Kak Raffa nggak ikut kemari, Nin. Maaf ya, Nin. Kak Raffa nggak bisa hadir di sini."
" Ya sudah nggak apa-apa, kan sudah diwakili sama Kia." Umi Rara tidak mempernasalahkan ketidakhadiran Raffasya di acara pertunangan cucunya.
" Kia mau ke Rayya dan Kak Rama dulu ya, Nin." Azkia berpamitan ingin mengucapkan selamat kepada sepasang kekasih yang kini sudah diikat oleh sebuah ikatan pertunangan.
" Ya sudah, silahkan ...."
Setelah berpamitan kepada Umi Rara, Azkia segera menemui Rayya dan juga Ramadhan.
" Rayya, selamat ya ..." Azkia merentangkan tangannya dan memeluk tubuh sepupunya itu.
" Terima kasih, Kia." Rayya pun memeluk tubuh Azkia. " Kak Raffa kok nggak kelihatan? Nggak ikut datang kemari?" tanya Rayya.
Azkia mengeryitkan keningnya karena Rayya malah mencari keberadaan Raffasya. " Kok Rayya cari Kak Raffa? Memangnya kenapa?"
" Kenapa kamu malah mencari Raffa?" Tak beda jauh dengan Azkia, Ramadhan pun bertanya dan memprotes apa yang ditanyakan Rayya kepada Azkia.
" Lho, memangnya kenapa? Kak Raffa 'kan suaminya Kia, memangnya salah kalau aku tanya kenapa Kak Raffa nggak bersama Kia?" tanya Rayya dengan polosnya mengatakan alasan dia mencari Raffasya.
" Aku nggak suka kamu mencari-cari dia!" tegas Ramadhan.
" Kak Rama tenang saja, aku nggak akan membiarkan Kak Raffa mendekati Rayya. Kalau dia berani macam-macam, Kak Raffa harus menghadapi aku lebih dulu." Azkia yang tidak ingin Raffasya mengganggu Rayya sudah bertekad akan menghalangi Raffasya jika suaminya itu berbuat macam-macam termasuk melarangnya datang di acara pertunangan Rayya dan Ramadhan.
" Kalian ini kenapa, sih? Su'udzon terus bawaannya sama Kak Raffa.!" protes Rayya menanggapi perkataan Ramadhan dan juga Azkia.
" Lagian ngapain juga Rayya pakai sebut-sebut nama Kak Raffa segala?" sindir Azkia. " Kamu itu sudah tunangan sama Kak Rama, nggak usah pikirin cowok lain, deh!" lanjut Azkia seraya memutar bola matanya.
" Aku setuju dengan Kia, kamu itu sudah tunangan sama aku, nggak boleh lirik-lirik pria lain!" Ramadhan menimpali ucapan Azkia, membuat Rayya hanya menggelengkan kepala dengan tingkah Azkia dan Ramadhan.
" Kak Rama juga nih, ya! Awas saja kalau berani bikin Rayya sedih lagi!" Kini Azkia justru balik mengancam Ramadhan.
" Tenang saja, aku nggak akan menyakiti Rayya lagi, kok." tegas Ramadhan.
" Sudah ah, Kia mau makan, rasanya lapar sekali." Azkia kemudian berjalan meninggalkan Rayya dan Ramadhan.
" Ya sudah, sana Kia makan yang banyak biar calon bayinya sehat."
Azkia sempat mendengar ucapan Rayya sebelum dia berlalu meninggalkan Rayya dan Ramadhan untuk mengambil makanan.
Ddrrtt ddrrtt
Saat Azkia sedang menyantap hidangan di acara pertunangan Rayya tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Dia pun mengambil ponsel di phone sling bag nya. Azkia melihat ternyata Raffasya yang mengirimnya pesan. Dia membuka pesan yang dikirim oleh suaminya itu.
" Aku lapar. Ambilkan aku makanan di sana. Pasti makanannya enak-enak."
Azkia mencebikkan bibirnya membaca pesan dari suaminya itu. Dia memasukkan kembali ponselnya ke tempat semula dan tak ingin menanggapi permintaan suaminya itu. Azkia justru asyik menikmati sambal goreng dan dan juga rolade ayam lada hitam.
Namun tak lama ponselnya kembali bergetar dan Azkia sengaja mengacuhkan pesan yang dia duga dari suaminya lagi. Beberapa saat kemudian justru terdengar panggilan masuk ke ponselnya itu.
" Apaan, sih?? Rese banget ..." Azkia kembali mengambil ponsel dari phone sling bagnya, namun panggilan masuk tadi sudah terputus. Azkia membaca pesan terakhir yang belum dia lihat.
" Kalau kamu nggak mau mengambilkan, biar aku saja.yang ke sana sekalian culik Rayya!"
Azkia terbelalak membaca pesan selanjutnya dari suaminya itu.
" Dasar gi la!" umpat Azkia segera menaruh piring yang belum dia habiskan makannya. Lalu menyiapkan makanan untuk Raffasya.
" Mau ke mana, Kia?" tanya Azzahra saat melihat Azkia membawa piring berisi nasi beserta lauknya dan berjalan ke luar.
" Hmmm, Kia mau nambah makannya Auntie, tapi mau makan di rumah saja." Azkia berkata bohong dengan mengatakan jika dialah yang masih ingin memakan makanan itu.
" Iya, Auntie. Kia ke rumah dulu ya, Auntie." Azkia permisi kepada Tantenya itu kemudian melanjutkan langkahnya kembali ke rumah orang tuanya.
Azkia melihat Raffasya sedang duduk berselonjor di atas tempat tidur milik Azkia dengan ponsel di tangannya.
" Ini ..." Azkia menyodorkan piring berisi makanan kepada Raffasya dengan memberengut karena ancaman yang dikatakan Raffasya tadi.
" Kamu suapi aku!"
Azkia mengeryitkan keningnya mendegar permintaan suaminya yang dianggapnya terlalu berlebihan.
" Nggak usah lebay, deh! Bisa makan sendiri, kan?" Azkia keberatan disuruh menyuapi suaminya.
" Kalau kamu menolak, aku ke rumah Rayya." Raffasya bangkit dari tempat tidur.
" Kak Raffa apa-apaan, sih?? Nyebelin banget! Mau bonyok kena bogem Uncle Gavin kalau berani ke sana?!" geram Azkia kesal.
" Kalau aku kena bogem yang malu siapa? Kamu, kan? Papa Mama kamu, kan?" Raffasya seakan tak perduli dengan ancaman Azkia dan melangkah menuju pintu kamar.
" Kak Raffa ...!!" Azkia menarik lengan Raffasya menahan suaminya agar tidak berbuat nekat, karena dia tahu sikap suaminya itu yang tidak merasa takut kepada siapapun termasuk kepada Gavin.
" Kalau kamu nggak mau aku bikin ribut, cepat suapi aku!" Raffasya kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa.
Azkia memberengut dan mengikuti langkah Raffasya dan duduk di samping suaminya itu. Dia akhirnya melakukan apa yang diinginkan suaminya.
" Harus ikhlas kalau melayani suami!" sindir Raffasya karena Azkia terlihat mencebikkan bibirnya saat melakukan tugas yang diperintahkan olehnya, membuat Azkia mendelik mendengar sindiran suaminya.
Setelah beberapa suap makanan masuk ke dalam mulut Raffasya, Raffasya lalu mengambil piring dari tangan Azkia, lalu dia menyendokkan nasi dan lauknya, kemudian menyodorkan ke mulut istrinya.
" Sekarang giliran kamu yang makan," ucapnya kemudian
" Aku sudah makan!" Azkia menolak.
" Aku ingin memberi makan bayi di perutmu. Makanlah ...."
Azkia menoleh ke arah Raffasya, lagi-lagi Raffasya menunjukkan keperduliannya hanya karena bayi yang ada di perutnya.
" Cepat buka mulutnya! Bukankah kau suka jika aku suapi?" sindir Raffasya menyeringai.
" Kasihan bayinya kalau kamu tidak mau membuka mulutmu." Raffasya kembali menyebut soal janin yang ada di perut Azkia.
Akhirnya dengan terpaksa Azkia menerima suapan demi suapan nasi dari Raffasya karena dia pun sebenarnya belum menyelesaikan makannya. Pesan bernada ancaman dari Raffasya yang membuat dia akhirnya menghentikan menyantap makanan tadi.
***
Azkia turun dari ranjang rawat inapnya karena dia baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Dan kini Azkia berjalan menuju kamar bayi karena dia sangat ingin melihat bayinya yang tadi hanya dia lihat sekilas saja.
Azkia melihat beberapa bayi yang tertidur di box bayi dari kaca. Namun dia tidak melihat di mana bayinya berada di antara beberapa bayi yang sedang terlelap di beberapa box bayi.
" Sus, saya ingin melihat bayi saya." Saat melihat perawat keluar dari kamar itu, Azkia segera bertanya kepada parawat tersebut.
" Oh, bayinya Ibu Almayra, ya? Tadi bayinya sudah dibawa pulang oleh Papa dan Tantenya, Bu." sahut Perawat tadi
" Dibawa pulang? Maksudnya gimana, Sus?" Azkia mengeryitkan keningnya.
" Iya, tadi Pak Raffasya dan Mbak Rayya mengambil Baby Naufal, dan katanya akan membawa Baby Naufal pulang ke rumah." Perawat itu menjelaskan.
" Nggak! Nggak mungkin itu! Kenapa Suster membiarkan dia membawa anak saya tanpa sepengetahuan saya? Harusnya Suster tidak membiarkan anak saya dibawa pergi begitu saja, dong!"
" Maaf, Bu. Tapi ayah si bayi yang meminta Baby Naufal." Perawat itu mencoba membela diri.
" Suster tahu nggak, sih?! Kalau anak saya itu diculik!"
" Maaf, Bu. Saya pikir Pak Raffasya itu adalah ayahnya, dan saya tidak berpikir kalau Pak Raffasya menculik Baby Naufal. Permisi, Bu." Perawat itu kemudian meninggalkan Azkia.
Azkia bergegas kembali ke kamarnya dengan air mata berderai di pipinya. Dia berharap jika bayinya ada di kamar inapnya saat ini.
" Ma, anakku mana?" tanya Azkia saat melihat Mamanya keluar dari kamar rawat inapnya.
" Ada di kamar bayi, kan?" sahut Natasha.
" Nggak ada, Ma. Ma, anak aku diculik." Azkia terisak.
" Diculik? Siapa yang culik cucu Mama Kia?" Natasha terperanjat mendengar berita yang disampaikan oleh Azkia kepadanya.
" Kak Raffa, Ma. Kak Raffa sama Rayya yang culik anak aku." Azkia semakin tersedu.
" Raffa sama Rayya? Ya ampun, Kia. Nggak mungkin Raffa sama Rayya menculik Baby Naufal, Nak. Raffa itu Papanya Naufal, Rayya itu sepupu kamu, untuk apa mereka menculik Naufal?" Natasha menganggap jika perkataan Azkia tidak masuk akal.
" Tapi Kak Raffa benar-benar membawa Naufal pergi, Ma. Tadi susternya bilang kalau Kak Raffa bawa pergi anak aku bersama Rayya. Kak Raffa itu hanya ingin anak itu. Setelah anakku lahir dia akan mengambilnya dan dia melakukan apa yang direncanakannya, Ma. Dia bawa anak aku pergi dengan Rayya, Ma. Hiks ... hiks ..."
***
Tak berapa lama setelah menyantap makanan yang disuapi oleh suaminya, Azkia pun tertidur di sofa kamarnya sementara Raffasya yang turun ke bawah untuk menaruh piring kotor justru berbincang dengan Abhi di ruang tamu.
Selepas berbincang ringan dengan Abhi, Raffasya kemudian naik kembali ke kamar Azkia, dan dia mendapati istrinya itu terlelap dengan nyenyaknya di atas sofa.
Raffasya mengangkat tubuh Azkia dengan kedua lengannya dan memindahkan tubuh Azkia ke atas tempat tidur. Raffasya menatap wajah Azkia yang terlihat gelisah walaupun matanya itu terpejam.
" Hiks ... hiks ...."
Raffasya mengeryitkan saat melihat Azkia menangis.
" May, bangun, May ..." Raffasya menepuk pipi Azkia menyuruh Azkia untuk bangun karena Raffasya menduga jika Azkia mengalami mimpi yang menyedihkan.
" Bangun, May." Raffasya kini menguncang lengan Azkia agar istrinya itu terjaga. " Kamu mimpi apa, May? Bangun ...."
Azkia mengerjapkan matanya dan pandangannya kini menatap suaminya itu kini berada di hadapannya.
" Mana anakku, Kak? Di mana Kak Raffa sembunyikan anakku?" Azkia mencengkram kuat lengan Raffa hingga kuku wanita itu menancap di kulit tangan Raffasya.
" Bayi? Maksud kamu apa, May?" Raffasya mengeryitkan keningnya.
" Kak Raffa yang menculik anakku, kan? Di mana Kak Raffa sembunyikan anakku?" geram Azkia diselimuti emosi.
" Bayi? Aku menculik bayimu?" Raffasya akhirnya menemukan jawaban kenapa Azkia menangis dalam mimpinya. Raffasya lalu melepas tangan Azkia yang mencengkram tangannya.
" May, gimana aku mau menculik bayimu? Bayi itu masih ada di sini." Raffasya kini mengarahkan tangannya ke perut Azkia. " Kamu tadi mimpi apa sampai berpikir aku menculik bayimu?" Tangan Raffasya kini mengusap air mata yang menetes di pipi Azkia, membuat Azkia tertegun beberapa saat, namun dia menarik nafas lega karena apa yang terjadi padanya tadi hanyalah mimpi.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️