MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Panggilan Mesra



Raffasya yang berada di belakang kemudi memarkirkan mobilnya saat memasuki pekarangan Alexa Boutique, milik Mama mertuanya. Karena Azkia memintanya mengantar ke sana sepulang kuliah.


" Selamat siang, Mbak Kia. Mas Raffa" Sapa security menyapa Azkia dan Raffasya.


" Siang, Pak." Azkia dan Raffasya menyahuti bersamaan sebelum masuk ke dalam butik.


" Siang, Mbak Kia." Wanda yang kebetulan sedang ada di bawah dan melihat kehadiran Azkia langsung menyapa Azkia. " Siang, Mas Raffa." Kini mata Wanda melirik ke arah Raffasya seraya tersenyum tersipu.


" Dilarang lirik-lirik suami orang ya, Mbak Wan!" Azkia yang melihat asistennya itu tersipu-sipu sambil melirik suaminya langsung melakukan protes keras.


" Mbak Kia galak banget, sih! Mas Raffa ini ganteng lho, Mbak. Sayang kalau nggak dipandang." Wanda terkikik seolah tak perduli teguran yang dilancarkan Azkia.


" Mbak Wanda nggak usah kecentilan gitu, deh!" protes Azkia karena melihat asistennya itu malah tidak takut dengan tegurannya.


" Cuma memandang dan mengangumi tanpa harus memiliki nggak masalah 'kan, Mbak?" celetuk Wanda kembali.


" Justru tadinya hanya menggangumi suami orang, lama-lama timbul keinginan ingin memiliki, itu yang bahaya! Kak Raffa ini sudah punya istri dan sebentar lagi mau jadi seorang Papa, jangan macam-macam ya, Mbak!" Azkia langsung menarik lengan Raffasya dan menempatkan tubuh Raffasya berdiri di belakang tubuhnya. Sementara Raffasya hanya tersenyum melihat Azkia yang nampak posesif terhadapnya.


" Sudah deh, May. Jangan marah-marah. Ayo kita ke ruangan Mama." Raffasya kemudian meminta istrinya untuk tidak memperpanjang urusan dengan Wanda dan mengajak Azkia untuk naik ke lantai atas di mana ruangan Natasha berada.


" Kak Raffa sebaiknya pergi saja, deh!" Tiba-tiba Azkia menyuruh suaminya pergi dari butik milik Natasha.


" Lho, kok aku diusir?" tanya Raffasya heran. " Kalau Mama nanyain aku gimana? Nanti Mama pikir aku nggak sopan nggak masuk menemui Mama." Raffasya menolak dengan memberikan alasan yang masuk akal.


" Daripada di sini banyak cewek-cewek yang melirik Kak Raffa! Masalah Mama, biar nanti aku jelasin ke Mama." Azkia mengedar pandangan, dan memang hampir sebagian besar pegawai wanita di sana terlihat asyik menikmati wajah tampan Raffasya.


" Hanya melirik saja nggak masalah dong, May. Sekali-sekali mereka disuguhi pemandangan yang bikin seger mata mereka." Raffasya malah sengaja menggoda Azkia membuat istrinya itu melotot.


" Iya, iya, ya sudah ... aku pergi." Raffasya terkekeh sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, melihat istrinya sebentar lagi akan mengamuk, Kemudian pria itu menangkup wajah Azkia lalu mengecup kening istrinya.


Namun Azkia kini menunjuk ke arah bibirnya meminta Raffasya mencium bibirnya. Dia ingin menunjukkan kepada pegawai di butiknya jika dia dan Raffasya adalah pasangan yang romantis.


" Nggak apa-apa memangnya? Ini tempat umum lho, May." bisik Raffasya.


" Nggak masalah, tempat ini punya Mamaku. Buruan deh, Kak! Terus cepat pergi dari sini!" Azkia meminta Raffasya segera melakukan apa yang diinginkannya.


" Oke, oke ..." Raffasya lalu mencium bibir Azkia seperti keinginan istrinya itu. " Nanti aku jemput lagi," sambungnya.


" Nggak usah! Kak Raffa nggak usah jemput aku, aku nanti pulang sama Mama saja." Azkia menolak dijemput oleh Raffasya.


" Lho, kok nggak mau aku jemput, sih?" Kening Raffasya seketika berkerut mendengar penolakan istrinya.


" Aku nggak mau pegawai wanita di butik ini melirik suamiku!" tegas Azkia kemudian menarik lengan suaminya agar keluar dari pintu masuk butik.


" Ya sudah kalau begitu, aku ke cafe dulu. Assalamualaikum ..." Sebelum meninggalkan Azkia, Raffasya masih sempat mengecup kembali kening Azkia.


" Waalaikumsalam ..." sahut Azkia mengantar kepergian suaminya sampai mobil Raffasya keluar dari halaman Alexa Boutique. Kemudian dia masuk kembali ke dalam butik milik Mamanya.


" Kalian lihat apa?" tanya Azkia kepada beberapa pegawai yang menoleh ke arahnya.


" Nggak lihat apa-apa kok, Mbak." Sebagian pegawai menjawab kompak dengan kalimat yang sama.


" Kak Raffa itu sudah beristri, jadi jaga pandangan kalian!" Azkia memperingatkan para pegawainya sambil berlalu menuju lantai atas ruangan Natasha.


" Iya, Mbak." jawab pegawai butik bersamaan. Kebanyakan dari mereka saling berbisik melihat perubahan sikap Azkia yang kini terlihat lebih cerewet dari sebelumnya.


" Assalamualikum, Ma." sapa Azkia saat memasuki ruangan kerja Natasha.


" Waalaikumsalam, Kia. Masuk-masuk, Nak." Natasha langsung bangkit dan menyambut putrinya tersebut dan membawa Azkia duduk di sofa.


" Lho, kamu sama siapa ke sini?" tanya Natasha karena tidak melihat kehadiran Raffasya bersama putrinya itu.


" Sama Kak Raffa, tapi Kak Raffa sudah Kia suruh pergi, Ma."


" Kok disuruh pergi? Memangnya kenapa?" tanya Natasha heran mengetahui putrinya itu mengusir suaminya sendiri.


" Di sini banyak calon bibit-bibit pelakor, Ma. Pegawai di sini pada melotot melihat Kak Raffa. Mereka pada terpesona melihat Kak Raffa. Daripada banyak pegawai yang tebar pesona sama suami aku, mending Kia suruh Kak Raffa pergi dari sini saja." Azkia menjelaskan alasannya menyuruh suaminya pergi dari butik.


" Ya ampun, Kia, Kia ..." Natasha tertawa kecil mengetahui permasalahan yang terjadi.


" Oh ya, kamu sudah makan belum?" tanya Natasha kemudian.


" Sudah, Ma. Tadi sebelum ke sini kami makan dulu di restoran Padang. Ini, Kia bawakan.untuk Mama." Azkia menunjuk bungkusan plastik kepada Mamanya.


" Wah, kebetulan sekali Mama belum makan." Natasha menerima plastik berisi box nasi itu.


" Ya sudah Mama makan dulu saja, deh!" Azkia menyuruh Mamanya menyantap makanan yang dibawanya. " Kia suruh Mbak Wanda ambil piring dan sendoknya dulu."


" Nggak usah, Kia." Natasha melarang Azkia yang hendak menyuruh Wanda. " Mama makan pakai tangan saja." Natasha menggulung lengan bajunya hingga sebatas siku kemudian berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum menyantap makanannya.


" Ma, Papa dan Mama dulu menikah bukan karena cinta, kan? Waktu Mama pertama kali menikah dengan Papa, Mama ingat nggak, berapa lama waktu yang dibutuhkan Papa untuk menyatakan kalau Papa mencintai Mama? Papa mengungkapkan kata cinta ke Mama nggak?"


Natasha menghentikan kunyahan saat mendengar pertanyaan dari Azkia. Dia lalu mengerutkan keningnya mencoba mengingat kapan suaminya pertama kali menyatakan ungkapan rasa cintanya.


" Hmmm, satu bulan mungkin. Apa kurang, ya? Kayaknya nggak lebih dari sebulan Papa kamu itu mengungkapkan perasaan sayang dan cinta ke Mama," sahut Natasha.


" Berarti Papa mengungkapkannya lewat kata-kata 'kan, Ma?"


" Iya, memangnya kenapa? Apa Raffa belum menyatakan perasaan sayang dan cinta ke kamu?" tanya Natasha yang sepertinya mengerti maksud pertanyaan Azkia kepadanya.


Azkia mengedikkan bahunya, " Ya gitu, deh ..." sahutnya kemudian.


" Tapi selama ini sikap Raffa sama kamu baik, kan? Dia selalu perhatian sama kamu, kan?" tanya Natasha lagi.


" Iya sih, Ma."


" Ya berarti Raffa itu memang sayang sama kamu, cuma tidak dia ucapkan lewat kata-kata rasa sayangnya itu. Karena kadang bagi sebagian pria, ucapan itu tidak terlalu dianggap penting. Mereka lebih senang membuktikan dengan sikap dan perbuatan, karena itu akan lebih berkesan dan lebih terasa di hati. Sementara bagi kebanyakan wanita, kalau belum ada ungkapan kata-kata, rasanya masih ada yang kurang. Tapi nggak ada ucapan sayang lewat kata-kata bukan berarti nggak ada rasa sayang, kan?" Natasha mencoba menjelaskan.


" Selama kalian menikah, sikap Raffa ke kamu baik-baik saja, kan? Kalau Mama perhatikan, kalau dibandingkan dengan Raffa yang dulu, Raffa yang sekarang banyak berubah. Lebih hormat terhadap orang tua. Mama saja bisa merasakan kalau Raffa itu sayang sama kamu. Masa kamu nggak bisa merasakannya, Kia?"


" Astaga, Kia. Kamu jangan aneh-aneh, deh. Mama itu memperhatikan perubahan sikap suami kamu, bukan memperhatikan karena terpesona sama suami kamu." Natasha menggelengkan kepala melihat sikap posesif yang mulai ditunjukkan putrinya.


" Sudah, deh! Jangan terlalu dipikirkan tentang hal itu. Kamu nikmati saja semua perhatian yang diberikan oleh Raffa ke kamu dan anak kalian."


" Iya, Ma."


" Kamu sendiri bagaimana? Kamu sudah mulai tumbuh rasa cinta terhadap Raffa, kan?" ledek Natasha.


" Kia sih biasa saja, Ma." sahut Azkia datar.


" Biasa saja? Maksudnya?" Kening Natasha berkerut hingga kedua alisnya hampir saling bertautan. Dia bisa merasakan putrinya itu sudah mulai terkena virus bucin kepada suaminya namun semua itu disangkal oleh Azkia.


" Biasa sajalah, Ma."


" Kamu nggak ada rasa kangen kalau jauh dari Raffa, gitu? Rasa cemburu kalau Raffa dekat wanita lain? Tadi saja kamu curiga sama pegawai di sini, sampai Mama saja kamu curigai." Natasha terkekeh meledek putrinya kembali.


" Nggak deh, kayaknya." Azkia tetap menyangkal rasa yang sebenarnya sering dia rasakan terhadap Raffa.


" Masa, sih?" Natasha tidak percaya dengan jawaban putrinya. " Suami kamu ganteng gitu, lho. Pasti banyak wanita yang mengincar."


" Banyak yang mengincar, tapi dari dulu nggak ada wanita yang berhasil dekat sama Kak Raffa. Artinya Kak Raffa itu nggak mudah didekati, Ma."


" Bagus, dong! Artinya Raffa itu tipe pria setia. Dan kamu jangan terlalu keras terhadap Raffa. Mama dengar dari Tante Mara, kalau Raffa itu sebenarnya sangat mendambakan kasih sayang. Dan sekarang sebagai istrinya, kamu wajib menyayangi dan juga memberikan perhatian kepada suami kamu itu. Kamu juga harus melayani dia sebaik mungkin. Jangan hanya kamu yang menuntut kepada dia. Mama yakin, Raffa akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan kamu akan mendapatkan apa yang seperti kamu cita-citakan, mendapatkan seorang suami yang baik dan sayang sama kamu." Natasha terus berusaha memberikan pengertian kepada Azkia bagaimana seharusnya menjadi istri yang baik agar rumah tangga anaknya itu selalu harmonis.


***


" Pagi, Bi Neng." sapa Azkia saat masuk ke dalam dapur.


" Eh, Mbak Kia. Pagi, Mbak." Bi Nenk yang sedang memotong wortel membalas sapaan Azkia.


" Masak apa, Bi? Ada yang bisa Kia bantu, nggak?" tanya Azkia kemudian duduk di samping Bi Neng.


" Bibi ingin membuat tumis wortel, buncis, udang. Sama ayam goreng tepung," Bi Neng menyahuti. " Mbak Kia bisa memasak?" tanya Bi Neng kemudian.


" Bisa, Bi Neng. Masak air, masak nasi pakai sama masak mie instan." Azkia terkikik.


" Oalah, itu sih menu masakan paling mudah, Mbak Kia." Bi Neng ikut terkekeh.


" Oh ya, Bi. Kalau menu makanan favorit Kak Raffa apa?" tanya Azkia ingin tahu masakan kegemaran suaminya itu.


" Mas Raffa itu sebenarnya nggak rewel sama menu makanan yang disajikan Bi Neng. Cuma tergantung mood nya Mas Raffa saja. Kalau lagi bete, Mas Raffa nggak pernah makan di rumah. Tapi itu dulu, sebelum menikah dengan Mbak Kia. Makanya Bi Neng bilang, sejak ada Mbak Kia di sini membawa aura positif untuk Mas Raffa." Bi Neng menjelaskan bahwa pengaruh kebaradaan Azkia di rumah itu benar-benar berpengaruh besar terhadap perubahan sikap Raffasya.


" Jadi Kak Raffa nggak ada menu makanan favorit, Bi Neng?"


" Kalau favorit, Mas Raffa itu senang sekali Ayam Taliwang sama sapi lada hitam, Mbak Kia."


" Bi Neng pernah masak makanan favorit Kak Raffa?" tanya Azkia kembali. Sepertinya dia ingin mengikuti anjuran dari Mamanya untuk bisa bersikap baik dan melayani Raffasya sebagaimana tugas dan kewajiban seorang istri kepada suaminya.


" Pernah, memangnya kenapa, Mbak Kia? Mbak Kia mau belajar masak makanan kesukaannya Mas Raffa, ya?" Bi Neng rupanya mengerti maksud ,dari Azkia bertanya soal menu makanan favorit Raffasya.


" Hah? Hmmm ... nggak kok, Bi. Kia hanya bertanya saja." Azkia mengelak jika memang berminat ingin belajar memasak menu kesukaan Raffasya.


" Kalau Mbak Kia mau belajar juga nggak apa-apa kok, Mbak. Bi Neng dengan senang hati membantu Mbak Kia memasak untuk Mas Raffa." Bi Neng menggoda Azkia yang nampak malu-malu.


" Takut Kak Raffa nggak suka masakan aku, Bi Neng."


" Bi Neng yakin kalau yang masak Mbak Kia, pasti Mas Raffa akan suka. Mas Raffa itu 'kan sayang banget sama Mbak Kia. Pasti Mas Raffa senang kalau tahu Mbak Kia yang siapkan makanan untuk Mas Raffa." Bi Neng menyemangati Azkia.


" Kalau masakan Kia nggak enak, gimana?"


" Setidaknya Mbak Kia sudah berani mencoba. Nanti Bi Neng mau ke pasar, kalau Mbak Kia mau, Bi Neng belikan bahan-bahannya." Bi Neng menawarkan.


" Boleh deh, Bi Neng. Aku mau coba masak untuk Kak Raffa." Azkia menyeringai.


" Mbak Kia ini sudah jadi istrinya Mas Raffa, masa panggilannya masih 'Kak' sih, Mbak? Yang romantis gitu, lho. Anak jaman sekarang itu 'kan panggilan sayangnya macam-macam, Mbak." Raffasya memprotes Azkia yang masih menyebut panggilan 'Kak' kepada Raffasya.


" Iiihh, Bi Neng. Nggak usah lebay, deh." Azkia langsung bersemu disindir oleh Bi Neng soal panggilan ke suaminya. " Sudah ah, Kia mau ke kamar dulu ya, Bi Neng." Azkia berpamitan ingin kembali ke kamarnya karena dia ingin melihat apakah Raffasya sudah bangun atau belum.


" Lho, katanya tadi mau bantu Bi Neng memasak?" Bi Neng kembali menggoda Azkia.


" Nanti saja, Bi Neng." Azkia bergegas meninggalkan dapur membuat Bi Neng menggelengkan kepala seraya tersenyum kecil.


***


" Honey? Babe? Yank? Hubby? Oppa? My Love? Iiihhh, apaan sih ...!" Azkia mengedikkan bahunya saat dia membaca nama-nama panggilan kesayangan untuk pasangan yang dia baca di aplikasi pencarian informasi.


" Memang apa salahnya aku panggil Kak? Kan dia memang lebih tua dari aku, ya aku panggil Kak, dong. Masa aku panggil 'Dek'?" Azkia masih kepikiran perkataan Bi Neng yang menyinggungnya soal panggilannya kepada Raffasya.


" Hmmm, Mama panggil Papa ... Mas, Papa panggil Mama ... Yank. Uncle panggil Auntie ... Honey. Auntie panggil Uncle ... Hubby. Tapi mereka itu 'kan sudah jelas-jelas saling mencintai," gumam Azkia kembali.


" Kalau aku sama Kak Raffa 'kan masih abu-abu, alias belum jelas. Biarkan saja aku panggil Kak Raffa. Nanti kalau Kak Raffa memanggil aku dengan panggilan spesial atau kalau Kak Raffa sudah benar-benar cinta sama aku, baru aku ganti panggilanku ini."


" Tapi aku panggil apa ya enaknya nanti? Mas Raffa juga?"


Azkia masih memikirkan kata yang tepat untuk panggilan mesra terhadap suaminya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Readers ada yang bisa bantu kasih nama panggilan yang tepat untuk couple ini?


Happy Reading❤️