MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
B'day Party Naufal



Suasana ballroom di hotel milik Gavin nampak begitu ramai dengan tamu-tamu yang hadir terutama anak-anak yang terlihat gembira dengan dekorasi yang didominasi warna biru muda dan putih. Natasha memang menunjukkan kelasnya sebagai seorang sosialita dengan menggelar pesta ulang tahun cucu pertamanya yang ke satu tahun dengan sangat mewah untuk ukuran anak balita berusia satu tahun.


Tak hanya kerabat atau teman dari Azkia dan Raffasya yang sudah menikah dan punya anak saja yang diundang, tapi juga kerabat dari Natasha dan Yoga tentunya.


Tamu dari tetangga sekitar rumah Raffasya pun hadir di acara ulang tahun Naufal, Sebagian besar dari mereka terlihat takjub dan tak menyangka jika pesta ulang tahun Naufal mungkin terasa lebih meriah dan lebih mewah berkali-kali lipat dari acara pernikahan orang kaya di komplek perumahan mereka. Kebanyakan dari mereka baru mengetahui jika Naufal adalah cucu dari orang kaya di kota itu.


" Naufal, anak Sholeh, anak ganteng ... Barakallah Fii Umrik ya keponakan Tante." Rayya yang datang bersama Ramadhan yang menggendong Aisha memberikan ucapan ulang tahun kepada Naufal yang saat ini duduk di kursi dan fokus dengan mainan yang dipegangnya.


" Makasih, Tante Rayya ..." Azkia membalas ucapan Rayya. " Naufal itu ada Aisha, Nak. Hai Aisha, cantik banget kamu, Sayang ..." Azkia langsung membalas dan mencium pipi Aisha yang terlihat menggemaskan dengan bandana berwarna pink.


" Bumil apa kabar? Kamu sudah USG, Kia? Calon bayinya cowok atau cewek?" Tangan Rayya mengelus perut Azkia.


" Belum, Ray. Nanti saja bulan depan USG lagi," sahut Azkia.


" Sepertinya anakmu ini cewek deh, Kia. Kelihatannya kamu cantik sekali belakangan ini, lebih bersinar auranya." Rayya berpendapat jika calon bayi Azkia adalah bayi perempuan.


" Iiisshh, kalau cantik, sih ... dari dulu juga aku sudah cantik, Ray." Azkia mengibas rambutnya berkata dengan percaya diri.


" Oh ya, Papa sama Mamanya Mas Rama nggak bisa hadir, Kia. Soalnya Papa sama Mama kemarin berangkat ke Tokyo." Rayya memberitahukan jika mertuanya itu tidak bisa hadir di acaranya Naufal.


" Oke, Ray. Urusan itu kamu lapor ke Mamaku saja, yang punya inisiatif mengundang para sesepuh itu 'kan Mamaku." Azkia terkekeh mengatakan jika senior-senior mereka dengan sebutan sesepuh.


Setelah Rayya dan Ramadhan, bergantian para tamu yang memberikan ucapan selamat kepada Naufal. Mereka semua terlihat gemas pada bayi tampan itu.


Di antara para tamu undangan yang datang, tampak istri dan anak dari bos Angkasa Raya Group memasuki ballroom. Mereka berdua hadir tanpa didampingi oleh Dirga yang berhalangan hadir.


" Assalamualaikum, Nat." Kirania menyapa Natasha terlebih dahulu saat tiba di tempat acara.


" Waalaikumsalam, Hai, Ran ... makasih kamu sudah datang ..." Natasha berpelukan dengan Kirania.


" Halo, Mami Tata ..." Kali ini Falisha yang menyapa Natasha dengan mencium tangan wanita yang sudah dia anggap seperti ibu keduanya.


" Oh hai, Sayang ... apa kabar?" Kali ini Natasha berganti memeluk Falisha.


" Alhamdulillah, Fa baik-baik saja, Mami." Sejak kecil Falisha memang senang memanggil Natasha dengan sebutan Mami.


" Syukurlah kalau begitu, Mami senang melihat kamu lagi, Fa." Natasha mengusap kepala Falisha.


" Kak Alden pulang ke Jakarta nggak, Mami?" tanya Falisha kemudian.


" Alden nggak bisa pulang, Fa. Bilangnya nanti kalau liburan saja balik ke sininya," sahut Natasha.


" Yang dicari jangan yang nggak ada dong, Fa. Carinya yang ada saja." Tiba-tiba suara Abhinaya terdengar dari belakang Falisha.


" Kalau yang ada ngapain mesti dicari??" Falisha membalas ucapan Abhinaya. " Ma, Mi, Fa mau ke dedek Naufal dulu, ya?" Falisha kemudian berpamitan kepada Mamanya dan juga Natasha karena ingin segera menemui Naufal dan Azkia.


" Happy Birthday, Naufal ganteng ..." Falisha langsung menghujani ciuman pada bayi berusia setahun itu sesampainya gadis itu di hadapan Naufal.


" Aduh, Tante Fa ini gemas banget ya sama Naufal?" Azkia mengomentari sikap Falisha tadi.


" Habisnya Naufal gemesin banget deh, Kak. Mau aku culik saja rasanya ..." Falisha tertawa sambil menggendong Naufal.


" Kalau gemas lihat Naufal, buruan minta sama Kak Alden, minta cepat-cepat dinikahi." Azkia meledek calon tunangan kakak laki-lakinya itu.


" Iiihh, apaan sih, Kak!?" Wajah cantik Falisha seketika merona saat digoda oleh Azkia.


" Sayangnya Kak Alden nggak bisa datang kemari, jadi kamu nggak bisa bertemu dengan kakakku itu, Fa." ucap Azkia kemudian.


" Kak Alden mungkin masih sibuk kuliah jadi belum bisa pulang, Kak." Falisha mengomentari.


" Kamu yang sabar saja menghadapi kakakku itu ya, Fa." Azkia menepuk pundak Falisha seraya terkekeh.


" Hahaha, sudah biasa, Kak." Falisha menyahuti perkataan Azkia sambil tertawa.


Acara perayaan ulang tahun Naufal berjalan dengan sangat meriah. Dan di saat para orang tua dan anak-anaknya sibuk mengikuti susunan acara demi acara ulang tahun, Yoga dan Natasha terlihat berbincang dengan kedua orang tua Raffasya yang duduk di meja yang sama.


" Makasih Mas Fariz sudah meluangkan waktu datang di acara perayaan ulang tahunnya Naufal." Natasha mengucapkan terima kasihnya karena kehadiran Fariz yang datang dari luar pulau ke Jakarta hanya untuk Naufal.


" Naufal itu cucuku juga, sudah pasti saya akan menghadiri acara ulang tahunnya yang pertama." Fariz menanggapi ucapan terima kasih Natasha.


Fariz tertawa kecil menanggapi pertanyaan besannya itu.


" Itu memang keinginan dia ditambah lagi bujukan dari kakak iparnya yang menyuruhnya untuk pindah kemari," sahut Fariz kemudian.


" Kalau memang Oca ingin mendaftar di universitas tempat saya mengajar, Insya Allah nanti saya akan jaga Oca seperti anak sendiri, Mas." ucap Yoga selanjutnya.


" Tapi jangan aneh saja ya, Mas Fariz. Kalau Oca nanti ada salah terus kena tegur suamiku ini. Soalnya dia nggak pandang bulu, Kia saja dulu sempat kena hukuman dari Papanya," sindir Natasha mengingat kejadian saat Azkia dikeluarkan dari kelas gara-gara melamun dan tidak fokus mengikuti pelajaran.


" Memang seperti itu seharusnya, kan? Di rumah memang hubungan Papa dan anak, tapi di kampus, tetap dosen dan mahasiswanya. Nggak heran kalau Mas Yoga ini menjadi dosen teladan ..." Fariz memuji besannya itu.


" Saya hanya berusaha menjalankan tugas saya sebagai pengajar sebaik mungkin, Mas. Dengan memberi contoh yang baik kepada mahasiswa-mahasiswa saya," sahut Yoga merendah.


" Kalau Oca jadi pindah kuliah di sini, Mas Fariz juga ikut menyusul pindah ke sini dong, Mas. Biar kita pada kumpul di Jakarta, jadi kakek nenek Naufal lengkap di sini semua. Apalagi Kia sedang hamil anak kedua, pasti akan lebih ramai dan menyenangkan jika dekat anak dan cucu, Mas." Natasha yang sudah mendengar rencana Azkia untuk menyatukan kembali Fariz dan Lusiana ikut mendukung rencana putrinya itu. Urusan menjodohkan, Natasha pun sangat ahli menjodohkan dua orang yang saling bertentangan yang akhirnya bisa bersatu. Gavin dan Azzahra adalah buktinya.


Fariz tersenyum merespon ucapan Natasha, apa yang dikatakan Natasha sangat mirip dengan menantunya. Benar-benar pasangan ibu dan anak yang klop menurutnya.


" Yaaa ... sedang saya pikirkan ke arah sana, Mbak. Mungkin jika memang saya ketemu rezeki di sini, saya bisa tinggal di Jakarta ini lagi," sahut Fariz.


" Oh ya, Mas Fariz dan Mbak Lusi ini 'kan sama-sama sendiri sekarang, kenapa nggak mencoba untuk balikan lagi?" tanya Natasha kemudian.


" Yank ...!" Yoga langsung menegur istrinya yang menyinggung masalah privacy kedua besannya itu.


Sementara Lusiana langsung membulatkan matanya, dia tidak menduga jika Natasha akan berani membahas hal itu terang-terangan.


" Nggak apa-apa kan aku tanya? Kita ini 'kan sama-sama sudah berumur, jadi seharusnya jangan saling mengedepankan ego masing-masing. Dulu mungkin Mas Fariz dan Mbak Lusi masih sama-sama muda jadi masih sama-sama mempertahankan ego. Sekarang ini sudah ada anak dan cucu, apa salahnya mengalah untuk kebahagiaan anak dan cucu? Benar, kan?" Natasha sudah seperti orang yang sedang mengurui.


" Eheemm, begini, Nat. Di antara kami itu sudah tidak ada kecocokan satu sama lain, jadi tidak mungkin kalau kami harus bersatu lagi." Lusiana yang sedari tadi hanya menjadi pendengar kini menyampaikan sanggahannya.


" Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah menghendaki, Mbak Lusi. Apalagi hanya membuat rujuk mantan pasangan suami istri." Natasha menangkis anggapan besannya.


" Kia selalu cerita sama aku kalau keinginan terbesar dia sekarang ini adalah bisa membuat Mas Fariz dan Mbak Lusi bersatu, karena kembali bersatunya Mas dan Mbak ini akan menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Raffa yang begitu mendambakan melihat kedua orang tuanya bersama kembali. Kia bahkan berharap jika kehadiran janin di perutnya bisa menjadi pengikat Mas Fariz dan Mbak Lusi." Natasha menyampaikan apa yang diinginkan putrinya terhadap kedua besannya.


" Kia itu sangat mencintai suaminya karena itu apapun akan dia usahakan untuk kebahagiaan suaminya itu." Natasha menambahkan, mencoba mempengaruhi kedua mertua anaknya itu. Sementara Fariz, Lusiana dan Yoga hanya bisa terdiam mendengar semua ucapan-ucapan Natasha.


***


" Bi Neng, tadi waktu di ulang tahunnya Naufal, Uni ngobrol-ngobrol sama ibu-ibu komplek sini. Mereka pada minder ternyata datang ke pesta meriahnya Naufal, sampai ngumpul di belakang. Mereka pada nggak menyangka kalau Mbak Kia keluarganya itu ternyata tajir melintir. Mereka bilang paling datang ke acara ulang tahun anak itu mewah-mewahnya sebatas ke restoran ayam goreng tepung, tapi ini masuk ke hotel bintang lima, sudah gitu pestanya mewah banget kayak pesta pernikahan meriahnya." Uni bercerita kepada Bi Neng soal kejadian di ballroom tempat perayaan pesta ulang tahunnya Naufal.


" Kata Mbak Kia, itu Mamanya yang mengadakan acaranya, Ni." sahut Bi Neng


" Iya, Bi Neng. Mereka nggak sangka ternyata Mbak Kia keluarganya keluarga sultan. Soalnya selama ini Mbak Kia nggak pernah cerita soal keluarganya sama tetangga sekitar sini," lanjut Uni kemudian.


" Mbak Kia sama keluarganya memang nggak pernah memamerkan kekayaannya, Mbak Uni. Jadi saja orang pada kaget, ya?" Atun ikut mengomentari.


" Iya benar, sudah gitu nggak sombong juga. Biasanya 'kan kebanyakan pada sombong dan belagu ya, Mbak Atun?" sahut Uni.


" Betul banget, Mbak Uni. Keluarga Pak Yoga itu memang baik semua, nggak bapaknya, nggak ibunya, nggak anak-anaknya. Makanya Atun betah bekerja di tempat Pak Yoga," tutur Atun kembali.


" Beruntung Mas Raffa dapat istri kayak Mbak Kia. Beruntung juga yang jadi menantu-menantunya Pak Yoga sana Bu Natasha ya, Mbak Atun?" ujar Uni.


" Sudah pastilah, Mbak Uni. Calon besannya Pak Yoga juga nggak kaleng-kaleng. Pak Dirga yang punya usaha properti, itu konglomerat juga, lho! Anaknya itu calonnya Mas Alden, kakaknya Mbak Kia." cerita Atun.


" Eh iya, Mbak Atun. Ngomong-ngomong Mbak Kia pernah punya pacar sebelum menikah sama Mas Raffa?" Seketika Uni kepo dengan majikannya itu.


" Hmmm, ada sih, bahkan aku sendiri kaget waktu Mbak Kia akhirnya menikah sama Mas Raffa soalnya setahu aku Mbak Kia itu sedang pacaran sama Mas Gibran." lanjut Atun.


" Jadi pacarnya Mbak Kia namanya Mas Gibran, ya?" tanya Uni kembali.


" Benar, Mbak Uni. Kasihan kalau ingat Mas Gibran, terpaksa harus berpisah dengan Mbak Kia padahal Mas Gibran itu suka sama Mbak Kia sejak masih kecil sejak masih SD, lho!" ungkap Atun.


Mereka berdua asyik mengobrol dengan Bi Neng yang menjadi pendengar tanpa mereka sadari dari balik pintu ruangan tengah Raffasya sedang mendengarkan obrolan mereka. Raffasya yang ingin ke dapur seketika menghentikan langkahnya saat mendegar ketiga ART nya itu sedang membicarakan istrinya.


Bersambung ..


Happy Reading❤️