
Azkia menikmati pagi hari sambil berjalan hilir mudik dari ujung rumah Yoga sampai ujung rumah Uncle nya, Gavin. Saran dari Natasha yang menyarankannya agar dia banyak berjalan agar mempermudah proses persalinan, apalagi Azkia sendiri menginginkan persalinan secara normal langsung dilaksanakan oleh Azkia
" Rajin jalan kaki saat hamil tua akan menguatkan otot paha, betis, hingga otot-otot pinggul. Ini akan sangat baik untuk persalinan yang lebih cepat dan mudah."
Mempertimbangkan saran yang diberikan oleh sang mama, Azkia pun tak banyak memprotes dan lebih mengikuti saran yang dianjurkan oleh Natasha.
" Eh, Neng Kia ada di sini? Sudah dekat HPL nya, ya?" tanya Ibu Danar, tetangga rumah Yoga yang sedang menyiram tanaman saat melihat Azkia berjalan hilir mudik di depan rumah.
" Iya, Bu. Mama suruh Kia di sini sampai melahirkan biar ada yang jagain," sahut Azkia.
" Perutnya sudah ke bawah, bayinya sudah pasti laki-laki ini, karena bentuk perutnya lancip begini." ujar Bu Danar mendekat dan mengusap perut Azkia.
" Kata dokter memang laki-laki jenis kelaminnya, Bu." jawab Azkia kembali.
" Wah, pasti nanti gantengnya nyaingin Papanya, ya?" Ibu Danar tertawa kecil memprediksi jika anak Azkia akan setampan Raffasya.
" Iya, Bu." Azkia ikut tertawa sambil mengelus perutnya.
" Nggak sangka, dulu Ibu juga ikut gendong kamu waktu masih bayi, sebentar lagi Ibu juga bisa ikut gendong bayi kamu, Neng Kia. Dulu kamu anak-anak, sekarang kamu sudah mau punya anak." Bu Danar berseloroh.
" Iya, Bu. Nggak kerasa waktu begitu cepat berjalan," sahut Azkia kembali.
" May, aku berangkat sekarang, ya!" Suara Raffasya berseru terdengar keluar dari rumah Yoga, hingga Azkia dan Bu Danar yang sedang mengobrol menoleh ke arah Raffasya.
" Eh, maaf, Bu. Saya nggak lihat ada Ibu." Raffasya yang tidak melihat keberadaan Bu Danar yang berdiri tertutup pohon langsung meminta maaf.
" Nggak apa, Mas Raffa." sahut Bu Danar. " Mau berangkat kerja, ya?"
" Iya, Bu."
" Kak Raffa kok sudah mau berangkat? Memang sekarang jam berapa, Kak?" tanya Azkia.
" Jam delapan kurang, mau ada tamu penting yang mau talk show jam sembilan nanti, jadi aku mesti ada di sana lebih awal." Raffasya menjelaskan alasannya berangkat lebih cepat.
" Ya sudah, hati-hati ya, Kak. Jangan sore-sore pulangnya." Azkia mencium tangan Raffasya kemudian memeluk tubuh suaminya itu.
" Kalau sudah lelah istrirahat dulu berjalan kakinya, May." Raffasya mengingatkan istrinya agar jangan terlalu lelah.
" Iya, Kak."
" Ya sudah, aku berangkat ..." pamit Raffasya mengecup kening Azkia kemudian mengusap dan mencium perut istrinya itu. " Papa berangkat ya, Nak. Jangan rewel di perut Mama." Raffasya seolah menasehati bayi di perut Azkia. " Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam, jangan sore-sore pulangnya, Kak." Azkia mengingatkan kembali suaminya agar tidak telat pulang.
" Iya ... saya permisi dulu, Bu." pamit Raffasya kepada Bi Danar.
" Oh iya, Mas Raffa. Hati-hati ..." sahut Bu Danar.
Setelah berpamitan, Raffasya pun kemudian berjalan menuju mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Yoga.
" Kalian itu pasangan muda yang romantis sekali," ucap Bu Danar melihat kemesraan Raffasya dan Azkia yang sempat dia lihat tadi.
" Kia ingin rumah tangga Kia seperti Papa dan Mama, Bu. Tetap harmonis dan romantis sampai tua dan punya cucu," tutur Azkia menyampaikan harapannya.
" Papa sama Mamanya Neng Kia sih, memang panutan di sini keharmonisannya. Umur sudah tidak muda tapi masih tetap seperti pengantin baru sikapnya terhadap pasangan." Bu Danar sebagai tetangga lama Yoga dan Natasha sudah pasti sangat hapal bagaimana keluarga orang tua dari Azkia itu.
" Iya, Bu. Itulah yang membuat Kia ingin bisa seperti Mama." Azkia tersenyum bahagia karena saat ini dia pun mendapatkan suami yang begitu memperhatikan dan melindunginya seperti Papanya.
" Semoga harapan Neng Kia terkabul."
" Aamiin, Bu." Azkia menyahuti. " Bu, Kia masuk dulu, ya!? Sudah mulai kerasa capek berdiri terus." Azkia pamit ingin masuk ke dalam rumahnya karena dia sudah mulai merasa lelah.
" Ya sudah, buruan istirahat. Jangan dipaksa terus berjalan kalau sudah kelelahan." Bu Danar menasehati.
" Iya, Bu. Saya permisi ya, Bu. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Selepas berpamitan, Azkia kemudian kembali ke dalam rumahnya untuk beristirahat setelah merasa cukup berjalan kaki di depan rumahnya.
***
Azkia bergegas dengan langkah berat menuju kamar mandi di kamarnya saat dia merasakan perutnya yang terasa melilit seperti hendak buang air besar, namun dia terkesiap saat dia melihat flek yang menempel di ****** ********.
" Mama ...!!"
Azkia mengurungkan niatnya dan segera ke luar dari kamar dengan berteriak memanggil Natasha.
" Ma, Mama ...!!" teriak Azkia kembali.
" Ada apa, Kia?"
" Kenapa, Non?"
Natasha yang keluar dari kamarnya dan Bi Jun yang masuk berlari dari luar rumah langsung menyahuti teriakan Azkia.
" Ma, Kia keluar flek. Ssshhh ..." Azkia menyahuti sambil mengelus perutnya karena rasa mulas kembali menyerang perutnya saat itu.
" Kamu sudah keluar flek?" Natasha langsung berlari menaiki anak tangga menuju Azkia yang berdiri memegang pagar railing di lantai atas.
" Iya, Ma. Perut Kia sakit banget kayak mau pup, tapi pas buka celana ada flaknya," keluh Azkia.
" Kamu sudah mulai merasakan kontraksi? Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang." Natasha menuntun Azkia untuk berjalan. " Bi, tolong siapkan tas perlengkapan Kia untuk melahirkan di kamarnya!" Natasha menyuruh Bi Jun untuk mengambil tas berisi perlengkapan untuk persalinan Azkia dan bayinya yang memang sudah dipersiapkan jika sewaktu-waktu Azkia mengalami kontraksi seperti sekarang ini.
" Baik, Bu." Bi Jun dengan tergesa menaiki tangga menuju kamar Azkia.
" Aulia, Aliza ...!!" Natasha pun berteriak memanggil kedua anak perempuan lainnya yang sedang berada di kamar mereka.
" Ada apa, Ma? Kak Aulia sedang tidur." sahut Aliza yang berlari menghampiri Mamanya.
" Suruh Pak Supir siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang. Kamu kasih tahu Auntie Rara, bilang Kak Kia mau melahirkan." Natasha meminta putrinya itu segera melakukan apa yang diperintahkannya.
" Iya, Ma." Aliza pun tak kalah repotnya dengan Bi Jun, segera keluar dari rumahnya untuk menjalankan apa yang sudah diperintahkan oleh Mamanya dengan gerak cepat.
" Ma, aduh ... perut Kia sakit, Ma. Kia nggak kuat jalannya deh, Ma." Azkia memgeluhkan rasa sakit di perutnya yang semakin lama semakin menjadi.
" Eh, eh ... Kia, Sayang ..." Natasha menahan tubuh Azkia yang hampir luruh ke bawah dengan memeluknya.
" Sakit banget, Ma." Azkia bahkan meneteskan air matanya menahan rasa sakitnya itu.
" Kak Kia kenapa, Ma?" Abhinaya yang baru pulang dari kuliah langsung menghampiri Mama dan juga kakaknya itu saat masuk ke dalam rumahnya.
" Abhi, Abhi, tolong Kakakmu! Tolong bawa ke mobil, Kakakmu sudah kontraksi, sebentar lagi akan melahirkan." Natasha bisa sedikit bernafas lega karena mendapati kehadiran Abhinaya di saat dia butuh tenaga pria.
Abhinaya langsung mengangkat tubuh Azkia dengan kedua lengannya lalu berjalan ke luar menuju arah mobil yang sudah disiapkan oleh Pak Mamat di depan rumah.
" Kia sudah mau melahirkan, Teh?" Azzhara yang berlari kecil dari rumahnya segera menghampiri Natasha.
" Iya, Ra. Ra, aku titip anak-anak, ya!? Aku mau ke rumah sakit sekarang." Natasha menitipkan kedua putrinya kepada Azzahra.
" Belum, Ra. Nanti saja sekalian di jalan. Sudah dulu ya, Ra. Aku mau langsung ke rumah sakit." Natasha segera berpamitan pada Azzahra.
" Ini tas nya saya taruh di belakang ya, Bu." Bi Jun memasukan perlengkapan Azkia di bagasi belakang mobil milik Natasha.
" Iya, taruh saja di sana!" Natasha mengiyakan pertanyaan Bi Jun. " Abhi, kamu ikut Mama ke rumah sakit! Kamu duduk di depan sama Pak Mamat." ujar Natasha kemudian.
" Iya, Ma." Setelah meletakkan tubuh Azkia di kursi mobil, Abhinaya langsung duduk di kursi depan di samping Pak Mamat.
" Ra, aku ke rumah sakit dulu, ya!? Assalamualaikum ..." pamit Natasha.
" Waalaikumsalam, semoga lancar persalinannya ya, Kia. Auntie doakan semoga kamu dan bayinya sehat dan selamat." Azzahra mendoakan agar persalinan Azkia berjalan lancar.
" Aamiin, makasih, Ra. Aku tinggal ya, Ra!?" Natasha kemudian masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil. Tak lama Pak Mamat pun mengemudikan mobil menuju rumah sakit tepat dokter Dessy bertugas.
" Abhi, kamu cepat hubungi Raffa dan Papamu. Bilang kalau kita sedang menuju rumah sakit." Natasha menyuruh putranya untuk segera memberi kabar kepada Raffasya dan juga Yoga.
" Iya, Ma." Abhinaya langsung mengambil ponselnya, orang pertama yang dia hubungi adalah Raffasya, karena Raffasya adalah suami kakaknya sudah pasti dia memilih menghubungi kakak iparnya terlebih dahulu.
***
Raffasya masih terlihat serius di ruang kerjanya saat sebuah panggilan masuk berbunyi di ponselnya. Raffasya segera mengangkat panggilan telepon itu karena Abhinaya lah yang saat ini menghubunginya. Dia langsung berpikir jika ini ada hubungannya dengan istrinya.
" Halo, Assalamualikum, Kak Raffa. Kak Raffa di mana sekarang? Kak Kia mau melahirkan, sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju rumah saki," suara Abhinaya langsung terdengar di telinga Raffasya mengabarkan soal Azkia yang akan melahirkan.
" Waalaikumsalam, Bhi. Ya sudah gue langsung ke rumah sakit sekarang!" Raffasya langsung bangkit dan mematikan panggilan dari Abhinaya seraya berlari keluar dari ruang kerjanya.
" Ada apa, Mas Raffa?" Adam yang berpapasan dengan Raffasya di tangga bertanya heran saat melihat Raffasya yang berlari terburu-buru.
" Gue mau ke rumah sakit, bini gue mau melahirkan. Titip cafe, Dam!" Raffasya menjawab pertanyaan Adam tanpa menghentikan langkahnya.
" Hati-hati, jangan ngebut, Mas Raffa! Semoga Mbak Kia melahirkannya lancar." sahut Adam walaupun sudah tidak terdengar oleh Raffasya karena sudah berlari ke luar gedung cafe.
Raffasya mengemudikan mobilnya keluar dari halaman parkir Raff Cafe menuju rumah sakit. Namun dia tidak menyadari jika sebuah mobil langsung mengekorinya dari arah belakang saat mobil Raffasya meninggalkan cafe miliknya itu.
Sekitar sepuluh menit sejak mobil Raffasya meninggalkan cafenya, pria itu masih belum juga menyadari jika ada sebuah mobil SUV mengikutinya dari belakang. Raffasya baru menyadari jika dia diikuti oleh sebuah mobil berwarna silver metalik saat dia membelokkan arah mobilnya ke arah kiri di perempatan jalan tadi.
Raffasya memperhatikan dari kaca spion mobilnya.
" Siapa mereka itu? Sepertinya mobil itu selalu ada di belakang gue." Raffasya menaruh curiga. Namun karena dia mengejar waktu untuk cepat sampai di rumah sakit, akhirnya Raffasya tidak terlalu menghiraukan orang yang membuntutinya saat itu.
Sementara itu di sudut jalan yang berbeda di kota Jakarta, Azkia masih saja terus merintih kesakitan saat perjalanan menuju rumah sakit.
" Ma, sakit banget ... Kia nggak kuat nahan sakitnya, Ma. Hiks ..." Azkia terisak karena saat itu rasa sakit seakan meremukkan tulang-tulangnya.
" Sabar, Nak. Sebentar lagi sampai ... sebentar lagi kamu akan melahirkan bayi yang lucu. Kamu harus semangat ..." Natasha mengusap kepala Azkia yang sudah nampak berkeringat padaha suhu di dalam mobil Natasha itu sangatlah sejuk.
" Aduh, aduh, Ma ... Kia ngompol deh, Ma." Azkia merasakan air seninya keluar karena dia tidak bisa menahan pipis.
" Kamu ngompol?" Natasha kini membelalakkan matanya mendengar Azkia yang mengatakan jika mengompol.
" Iya, Ma. Baju Kia basah ini, Ma. Aduh, aduh ... perutnya sakit lagi, Ma."
" Pak Mamat bisa cepat dikit nggak bawa mobilnya? Saya takut air ketuban Kia pecah." Natasha dilanda kecemasan.
" Biar Abhi saja yang bawa mobilnya, Pak Mamat." Abhinaya menawarkan diri untuk mengendarai mobil itu.
" Nggak, nggak! Jangan kamu, Abhi! Nanti kamu bawa mobilnya ngebut!" Natasha melarang Abhinaya yang ingin mengambil alih kemudi.
" Katanya disuruh cepat, Ma." sahut Abhinaya.
" Tapi bukan berarti ngebut kayak kamu kalau bawa mobil." Natasha mengomentari.
" Aduh, Ma. bayinya kayak mau keluar lagi dorong-dorong ini, Ma. Gimana kalau Kia lahirannya di mobil, Ma?" Azkia terus saja mengeluhkan kesakitan.
" Kia, kamu harus tenang ya, Nak. Kamu baca doa, minta supaya persalinan kamu lancar." Natasha sendiri pun sebenarnya panik. Walaupun dia sudah berkali-kali melahirkan, namun ini pertama kalinya dia harus menemani orang yang akan melahirkan.
***
Raffasya masih memperhatikan dari kaca spion kendaraan yang membuntutinya walaupun dia tidak berminat mencari tahu siapa mereka itu. Karena Azkia lebih penting baginya daripada orang yang ada di dalam mobil itu.
Ddrrtt ddrrtt
Raffasya melihat ponselnya berbunyi dan itu merupakan panggilan telepon dari Dimas. Raffasya segera memasang headset bluetooth nya untuk menjawab panggilan masuk dari Dimas.
" Assalamualaikum, ada apa, Bang?" tanya Raffasya.
" Raf, lu bisa ke La Grande sebentar? Gue mau lihatin interior mana yang menurut lu paling cocok sama selera lu?" tanya Dimas.
" Nggak bisa hari ini, Bang. Bini gue mau melahirkan, ini gue lagi dalam perjalanan ke rumah sakit. Kalau besok saja gimana, Bang?" tanya Raffasya.
" Oh, Kia mau melahirkan, ya? Ya sudah nggak apa-apa besok juga nggak masalah, kok. Nungguin bini melahirkan juga penting, Raf. Agar lu selalu ingat pengorbanan seorang istri untuk melahirkan darah daging lu, jadi lu bisa nggak macem-macem dan menyakiti bini lu apalagi sampai selingkuh dengan wanita lain." Dimas menasehati sambil tertawa kecil.
" Iya, Bang. Gue juga nggak akan macam-macam kok, Bang." sahut Raffasya terkekeh.
Brraaakkk
" Si al ...!!" umpat Raffasya terperanjat saat dia merasakan mobilnya ditempel bahkan diserempet oleh mobil yang mengikutinya tadi.
" Ada apa, Raf??" Suara Dimas terdengar khawatir dan penasaran mendengar suara benturan keras dan umpatan Raffasya
" Nggak tahu, Bang. Daritadi gue merasa ada yang mengikuti gue dan sekarang orang itu sengaja menyerempet mobil gue." Raffasya mencoba mempercepat laju mobilnya dan memilih tidak ingin meladeni orang yang memang berniat mencari masalah dengannya itu.
" Ya Allah, lu mesti hati-hati, Raf. Posisi lu sekarang di mana? Lu serlok, deh." Dimas meminta Raffasya berbagi posisinya saat ini.
" Oke, Bang."
Brrraaakkk
" Aaaaagggghhhh ...!!!"
Brrraaakkk
" Raf, lu nggak apa-apa, Raf?" Dimas semakin khawatir saat mendengar suara benturan dua kali yang terdengar lebih keras dan suara teriakan Raffasya.
" Raf, Raffa, lu baik-baik saja 'kan, Raf?"
" Raffa? Raffa ...!!"
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️