MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Baby Alma



Azkia mengatur nafasnya karena pembukaannya saat ini sudah lengkap dan sebentar lagi bayi di dalam perutnya siap untuk hadir di muka bumi ini.


" Sudah siap, Bu. Bismillahirrahmanirrahim ... sudah pernah melahirkan pasti sudah tahu, ya? Jangan mengejan sebelum ada aba-aba dari saya, ya!?" Dokter Selly memberikan arahannya terlebih dahulu sebelum membantu persalinan Azkia.


" Iya, Dok." sahut Azkia dengan memejamkan matanya karena merasakan sakit di seluruh bagian perut, pinggang dan pinggulnya.


" Pak Raffa siap menemani Ibu Kia melahirkan.?" Kali ini Dokter Selly bertanya kepada Raffasya karena melihat pria itu terlihat tegang. " Rileks saja, Pak." lanjutnya tersenyum.


" Ssssshhh ... aduh, Dok. Ini rasanya kayak mau keluar, deh!" Rasa mulas yang menyerang Azkia secara tiba-tiba seolah mendorongnya untuk mengejan. Tangannya bahkan begitu kencang menggenggam tangan suaminya hingga kuku panjangnya membuat Raffasya meringis.


" Oke, dedek bayinya sudah nggak sabar ingin ketemu Papa Mamanya, ya? Jangan diangkat pan tatnya sangat mengejan ya, Bu. Setelah dengar aba-aba dari saya baru boleh mengejan." Dokter Selly mengecek posisi bayi yang sudah benar-benar siap untuk dilahirkan.


" Tahan dulu, sabar ...."


" Ssshhh ... Allahu Akbar ... Astaghfirullahal adzim ..." Sambil merasakan sakit Azkia selalu mengucapkan kalimat takbir dan terus beristighfar.


Raffasya sendiri tidak tega melihat wajah Azkia yang terlihat pucat dengan peluh yang mengembun di wajahnya. Dia menyeka keringat Azkia dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tak juga dilepaskan oleh istrinya itu.


" Kamu pasti kuat, Ma." Raffasya mengecup kening Azkia yang ditanggapi dengan anggukkan lemah kepala Azkia.


" Hitungan ketiga nanti mengejan ya, Bu. Satu ... dua ..." Dokter Selly menunggu beberapa detik sebelum melanjutkan kalimatnya. " Mengejan sekarang! Dorong, tapi pan tat jangan diangkat ..." perintah Dokter Selly


Azkia pun mengejan dan berusaha tidak mengangkat bo kongnya agar tidak menyebabkan sobekan.


" Oek ... oke ... oek ...." Suara tangisan bayi seketika terdengar beberapa detik kemudian.


" Alhamdulillah, akhirnya dedek bayinya lahir. Assalamualaikum, Mama. Assalamualaikum, Papa ..." Dokter Selly memperlihatkan bayi munggil kepada Azkia dan Raffasya dengan menyapa Azkia terlebih dahulu karena Azkia baru saja berjuang melahirkan anaknya.


" Alhamdulillah, Waalaikumsalam, Nak ..." Suara lemah Azkia dibarengi oleh tangisan haru melihat bayi mungil yang menangis kencang itu


" Waalaikumsalam, selamat datang, Nak." Tak beda dengan Azkia, Raffasya juga terlihat haru dengan kehadiran putri kecil mereka.



" Masya Allah, cantik sekali dia, Ma." Raffasya bersyukur dan menciumi Azkia tak henti-henti. " Terima kasih ya, Sayang," sambungnya.


Sementara itu Dokter Selly langsung menyerahkan bayi perempuan itu kepada perawat lalu membantu Azkia mengeluarkan plasenta dari perut Azkia.


Setelah plasenta dikeluarkan dan perawat sudah membersihkan bayi perempuan Azkia dan Raffasya. Dokter Selly menyerahkan bayi cantik itu kepada Raffasya untuk diadzankan terlebih dahulu sebelum diberikan ASI pertamanya.


" Selamat ya, Bu Kia, Pak Raffa atas kelahiran putrinya. Semoga dedek bayinya kelak menjadi anak yang Sholehah dan berbakti kepada orang tua." Dokter Selly memberikan ucapan selamat kepada Azkia dan Raffasya.


" Aamiin, makasih, Dok." Azkia dan Raffasya menyahuti bersamaan.


" Ya sudah, saya tinggal dulu, ya. Assalamualaikum ..." Dokter Selly berpamitan dan segera meninggalkan ruangan persalinan.


" Waalaikumsalam, makasih, Dok." Raffasya mengucapkan terima kasihnya.


Tak lama setelah Dokter Selly keluar dari ruang persalinan, terdengar suara gaduh di luar tyang berasal dari suara Natasha yang sudah tidak sabar ingin melihat cucu keduanya.


" Mana cucu Mami? Mami mau lihat cucu Mami ..." Suara Natasha semakin terdengar jelas dibarengi dengan kehadiran wanita pemilik butik itu.


" Mama ..." Azkia memanggil dengan nada pelan Mamanya.


" Masya Allah, cucu Mami cantik banget, sih." Natasha terlihat bahagia mendapati anak kedua putrinya itu akhirnya telah hadir.


" Kia, selamat ya, Nak." Natasha memeluk dan mencium Azkia.


" Makasih, Ma." sahut Azkia.


" Papa mana, Ma?" tanya Raffasya karena tidak melihat Yoga ikut masuk ke dalam ruangan.


" Papa sedang sholat Shubuh." Natasha mengatakan jika suaminya itu sedang menjalankan kewajiban dua rakaat karena saat ini sudah memasuki waktu Shubuh.


" Kalian sudah kasih nama siapa cucu Mami yang cantik ini?" tanya Natasha langsung mengambil bayi cantik yang mungil itu.


" Aretha Almasyiffa Ananda, Ma." sahut Raffasya.


" Namanya cantik, pakai nama Alma kayak Mama, Ananda kayak Papa ya, Nak?" Natasha tidak tahan ingin tidak mencium pipi halus Baby Alma.


" Setelah ini jangan sampai kebobolan lagi ya, kasihan anak-anak kamu masih kecil." Natasha yang merasakan sendiri bagaimana repotnya harus mengurus anak dengan jarak usia yang tidak terlalu jauh, meminta agar anaknya itu jangan menambah anak lagi dalam waktu dekat.


" Mama bilang sama suamiku, tuh! Yang nggak bisa sabaran." Azkia menyalahkan Raffasya yang menyebabkan dirinya hamil cepat.


" Ya sudah jangan saling menyalahkan. Yang penting hati-hati saja kalau berhubungan. Kamu masih muda masih panjang kesempatan punya anak lagi, jadi tunggu tiga atau empat tahun lagi kalau mau berencana punya anak ke tiga.." Natasha menasehati Azkia dan juga Raffasya.


" Iya, Ma." Raffasya dan Azkia pun menjawab bersamaan.


***


Hanya semalam Azkia menginap di rumah sakit. Hari ini mereka sudah kembali ke rumah mereka. Suasana di rumah milik Raffasya pagi ini terasa bergitu ramai. Lusiana bahkan tidak berangkat ke kantornya sejak kemarin karena harus mengurus Naufal.


" Cucu Oma cantik sekali persis Mamanya, kalau Naufal ini persis kayak Papanya." Lusiana mengendong Baby Alma.


" Amaaaa ..." Melihat Lusiana menggendong adiknya, Naufal langsung menarik rok panjang yang dipakai oleh Lusiana. Sepertinya Naufal merasa cemburu karena Omanya tidak menggedong dirinya namun menggendong bayi lain.


" Kakak Naufal sepertinya cemburu sama Adik Alma, ya?" Natasha langsung mengambil Naufal dan menggendong cucu pertamanya itu.


" Ammaaaa ..." Namun Naufal berontak saat digendong oleh Natasha. Bayi itu sepertinya ngotot ingin digendong oleh Omanya.


" Biar, Alma saya yang pegang, Mbak." Natasha menurunkan Naufal dan mengambil Baby Alma dari tangan Lusiana agar besannya itu bisa menggendong Naufal.


" Kakak Naufal mau digendong sama Oma, ya? Kan Kakak Naufal sudah sering digendong sama Oma. Kalau Adik Alma ini belum pernah digendong sama Oma." Lusiana menciumi pipi anak pertama dari putranya.


Setelah Baby Alma berpindah tangan ke Natasha, kini Naufal merengek mengulurkan tangannya ke arah Natasha, sama seperti terhadap Lusiana kali ini Naufal pun tidak ingin melihat nenek-neneknya itu menggendong Baby Alma.


" Wah, Kakak Naufal sepertinya benar-benar cemburu sama adiknya. Sama seperti Kakaknya Kia waktu aku melahirkan Kia, Mbak. Alden kecil marah waktu aku gendong Kia." Natasha menceritakan bagaimana sikap Alden saat dirinya melahirkan Azkia.


" Iya, Mbak. lebih dekat dari jarak Naufal sama Alma," jawab Natasha.


" Eheeekk ... eheeekk ... Ammmiii ...Ammiii ..." Naufal memanggil Natasha.


" Naufal kenapa, Ma?" tanya Raffasya yang baru mengantar Azkia ke kamar.


" Ini jagoanmu, dia cemburu, nggak boleh lihat adiknya digendong sama Oma dan Maminya." Lusiana menyebutkan alasan kenapa Naufal merengek.


" Benar begitu, Nak? Sini Kakak Naufal sama Papa." Raffasya mengambil Naufal yang sedang merajuk.


" Kakak Naufal, ini 'kan adik Alma. Adiknya Kak Naufal. Dedek bayi yang di perut Mama. Kakak harus sayang sama dedeknya, ya!?" Raffasya mengusap kepala anaknya agar anaknya itu tetap merasa jika dia pun masih mendapat perhatian dan kasih sayang orang-orang yang selama ini memperhatikannya.


" Dede? Yaaa Dede?" celoteh Naufal menatap wajah Papanya.


" Iya, itu dedek bayi ..." Sambil menunjukkan tangannya ke arah Baby Alma yang sedang digendong oleh Mama mertuanya, Raffasya memperkenalkan Naufal kepada adiknya.


" Dede ... ayiii ..." Naufal seakan paham apa yang dikatakan oleh Papanya.


" Iya, dedek bayi, namanya Adik Alma ... dedek Alma ..." Raffasya berusaha terus memperkenalkan Alma kepada Naufal.


" Ammma ..." Naufal justru menunjuk Lusiana saat mendengar kata Alma dari mulut Raffasya.


Sontak tingkah Naufal membuat mereka yang ada di ruangan itu tertawa.


" Bukan Oma, Sayang. Tapi Adik Alma." Raffasya sampai gemas sendiri hingga dia menciumi pipi gembul anaknya itu.


***


Rosa terlihat cemas di kamarnya karena dia masih belum mendapatkan kabar dari Gibran tentang tanggapan kedua orang tua Gibran tentang kedekatan dia dan Gibran. Sejujurnya dia pun cemas jika kedua orang tua Gibran akan mempermasalahkan dirinya yang merupakan adik dari Raffasya, pria yang menggagalkan mereka bermenantukan Azkia.


Rosa ingin sekali menghubungi kekasihnya itu namun dia merasa ragu. Dia takut akan mengganggu Gibran dengan keluarganya. Akhirnya Rosa hanya bisa pasrah menunggu Gibran menghubunginya terlebih dahulu.


Sementara itu di Jambi, Gibran baru terlihat sedang berbincang serius dengan kedua orang tuanya.


" Mama kurang setuju kalau pacar kamu itu adik ipar Kia, Gibran. Mama masih sakit hati ..." Dinar, Mama dari Gibran langsung menyatakan ketidak setujuannya dengan hubungan antara putranya dengan adik dari Raffasya.


" Ma, keluarga Oca juga awalnya menentang Gibran dekat dengan Oca. Mereka takut kalau Oca itu hanya menjadi pelarian Gibran. Mereka takut jika Gibran akan membalaskan apa yang diperbuat Raffa terhadap Gibran dulu. Namun setelah Gibran menjelaskan jika Gibran tidak seperti yang mereka pikirkan, sekarang keluarga Oca sudah bisa merestui Gibran kok, Ma." Gibran mencoba memberikan pengertian agar Mamanya mau memberikannya restu..


" Kamu lihat sendiri, kan? Belum apa-apa saja mereka sudah berburuk sangka sama kamu, Gibran." Namun sepertinya Dinar bersikukuh tidak mau dipengaruhi oleh cerita Gibran.


" Gibran rasa dugaan mereka itu wajar, Ma. Jika Mama yang menjadi orang tua Oca, pasti rasa was-was seperti itu akan muncul." Gibran menjelaskan jika apa yang dilakukan oleh keluarga Rosa dengan mencurigainya akan menyakiti Rosa adalah hal yang wajar.


" Tapi Mama masih kurang setuju, Gibran! Kamu carilah wanita lain, yang baik tapi jangan yang berhubungan dengan keluarga Azkia lagi " Dinar bahkan menyuruh Gibran memilih wanita lain dan bukan Rosa.


" Ma, Mama tahu aku ini susah sekali untuk jatuh cinta dengan sembarangan wanita. Baru Oca ini yang bisa membuka hati aku setelah kekecewaan karena kegagalan hubungan aku dengan Kia dulu. Usia Gibran saat ini sudah dua puluh delapan tahun, Ma. Dan Gibran nggak tahu apakah Gibran bisa membuka hati lagi kepada wanita lain kalau Mama tidak menyetujui hubungan ini." Gibran sangat kecewa terhadap sikap Mamanya. Di saat dia sudah berbesar hati melupakan kisah masa lalunya dan bangkit menyambut cinta barunya, Mamanya justru melarang dia berhubungan dengan Rosa.


" Kamu pasti bisa mendapatkan wanita yang baik, Gibran. Bahkan lebih baik dari Azkia." Dinar berucap sangat yakin jika anaknya akan mendapatkan wanita pendamping yang akan lebih baik dari wanita yang menjadi cinta pertama Gibran.


" Ma, Gibran hanya menginginkan Mama merestui Gibran dan Oca." Dan Gibran pun tetap bersikukuh menginginkan Rosa menjadi pelabuhan terakhir cintanya.


" Dulu kamu juga bilang seperti itu, kan? Hanya mencintai Kia, tidak bisa membuka hati untuk wanita lain, nyatanya ... sekarang kamu bisa jatuh cinta kepada wanita lain, kan? Gibran, wanita di dunia ini bukan hanya Kia dan Oca saja Masih banyak wanita baik di luar sana." Dinar masih mencoba mempengaruhi keputusan Gibran.


" Tapi wanita baik di luar sana nggak bisa bikin Gibran jatuh cinta, Ma." Gibran terus menentang apa yang dikatakan Mamanya hingga Ibu dan anak itu terlibat perdebatan yang sengit.


" Pa, gimana ini anakmu? Papa jangan diam saja, dong!" Merasa ditentang terus oleh anaknya, Dinar meminta dukungan dari Fatur, suaminya yang sejak tadi hanya mendengarkan perdebatan istri dan juga anaknya itu.


" Kalau Papa sih, tidak masalah siapapun yang dipilih oleh Gibran, selama dia wanita baik dan dari keluarga baik-baik. Seiman dan benar-benar sayang sama kamu." Berbeda dengan istrinya yang menentang, Fatur lebih berpikiran terbuka dan lebih bijaksana.


" Pa ...!" Dinar nampak kecewa dengan suaminya yang justru seakan membuka jalan untuk Gibran dan Rosa bersama.


" Semua itu ada di diri Oca, Pa. Bahkan dia itu wanita yang sederhana, Pa. Lembut dan sangat penyabar. Kalau Papa bertemu dengan Oca pasti Papa akan setuju dengan pilihan Gibran ini." Seakan mendapat angin segar saat Papanya mengatakan menyerahkan pilihan kepada dirinya, Gibran langsung menyebutkan sifat-sifat positif Rosa yang sangat dia kagumi yang akhirnya membuat dirinya menyukai gadis itu.


" Kamu kenalkan lah dia ke kami, bawa dia ke sini." Bahkan Fatur menyuruh Gibran mengenalkannya Rosa kepada mereka.


" Pa, kenapa malah menyuruh wanita itu kemari, sih?" komplain Dinar memprotes suaminya.


" Biar kita kenal sama dia, Ma." sahut Fatur.


" Ya sudah kalau dia ke sini, Papa saja yang menemui, Mama nggak mau menemui perempuan itu!" Dinar langsung bangkit dan meninggalkan ruangan keluarga karena merasa tidak didukung oleh suaminya.


" Ma ..." Gibran menyayangkan sikap Mamanya yang masih menolak Rosa.


" Biarkan saja dulu Mamamu seperti itu, nanti juga akan mereda." Karena Fatur sangat hapal sikap istrinya, dia menyuruh Gibran untuk tenang dan memberikan waktu kepada Dinar untuk merenung.


" Jadi kapan kamu akan membawa dia kemari?" tanya Fatur kembali.


" Gibran nggak berencana membawa Oca kemari, Pa." Ucapan Gibran membuat Fatur mengerutkan keningnya mendengar perkataan putranya yang mengatakan tidak akan membawa Rosa untuk diperkenalkan kepadanya juga istrinya.


" Maksud kamu? Kamu tidak ingin mengenalkan gadis itu kepada Papa dan Mama?" tanyanya kemudian.


" Gibran ingin membawa Papa dan Mama datang ke rumah orang tua Oca dan melamar Oca untuk Gibran, Pa."


Fatur terkesiap hingga dia membulatkan matanya mendengar Gibran itu berniat mempersunting kekasih pilihan anaknya yang belum pernah dikenalkan secara langsung kepada dia ataupun kepada istrinya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️