
Azkia menaikan kedua kakinya ke atas headbord springbadnya hingga membuat baju tidurnya menyilak dan memperlihatkan paha putih dan bening miliknya.
" Astaghfirullahal adzim, Azkia! Kakinya kenapa naik-naik ke atas gitu?" Natasha yang masuk ke dalam kamar Azkia langsung menegur Azkia karena dia melihat putrinya itu seolah memarmerkan sepasang kaki jenjangnya yang putih mulus.
" Kalau ada laki-laki yang lihat ini bisa bahaya, lho!" tegur Natasha kembali.
Azkia langsung menurunkan kakinya dan kemudian duduk di atas tempat tidurnya.
" Memang siapa laki-laki yang mau melihat sih, Ma? Kan Mama sendiri yang bilang, dilarang bawa masuk laki-laki ke kamar Kia!" Azkia seolah membalikkan perkataan Mamanya.
" Kakak kamu laki-laki, adik kamu juga Abhi laki-laki."
" Mereka itu 'kan saudara sendiri, Ma. Masa iya?" Azkia memutar bola matanya.
" Walaupun mereka itu saudara, kamu tetap harus bisa menjaga sikap. Kadang orang kalau sedang khilaf, sedang kemasukan se*tan, itu nggak pandang saudara atau bukan. Meskipun Mama juga yakin saudara kamu itu mereka semua laki-laki baik-baik seperti Papa." Natasha menasehati.
" Ma ... Mama pernah nggak sih mengalami sesuatu hal yang memalukan selama hidup Mama?" tanya Azkia kemudian.
" Sesuatu hal yang memalukan? Maksudnya gimana, Kia?" Kening Natasha berkerut.
" Hmmm, nggak jadi deh, Ma." Azkia yang awalnya ingin curhat ke Natasha mengurungkan niatnya itu.
" Kok nggak jadi? Memangnya ada apa, Kia? Apa ada sesuatu hal yang tidak enak menimpa kamu?" Kali ini Natasha menatap penuh curiga.
" Nggak ada kok, Ma. Cuma ... teman Kia itu ada yang baru mengalami pelecehan." Azkia sengaja berbohong dengan mengatakan jika yang mengalaminya pelecehan adalah temannya.
" Memang teman kamu itu mengalami pelecehan apa?"
" Hmmm ..." Azkia berpikir, dia ingin menjelaskan apa kepada Mamanya itu? Pelecehanan apa yang ingin dia ceritakan? Soal Raffasya yang tidak sengaja melihat bagian dari kema*luannya? Rasanya Azkia sendiri malu untuk menceritakan hal itu.
" Ada laki-laki yang nggak sengaja melihat kema*luannya, Ma." Azkia terlihat hati-hati saat mengatakan hal itu.
" Melihat kema*luan? Kenapa bisa begitu? Apa laki-laki itu mengintip teman kamu?" Natasha merasa heran dengan cerita Azkia.
" Hmmm, ya seperti itu, Ma. Jadi ada teman Kia numpang mandi di rumah cowok itu. Waktu baru keluar dari kamar mandi si cowok itu ikut masuk ke kamar, terus cowok itu mendorong teman Kia ke tempat tidur sampai handuknya terbuka dan kelihatan itunya." Azkia merasa ngeri sendiri jika membayangkan hal itu.
" Kok laki-laki itu mendorong teman kamu? Apa dia bermaksud memper"kosa teman kamu itu, Kia?" Natasha terlihat terkejut. Dia sendiri seketika teringat kejadian yang dia alaminya puluhan tahu silam, saat dia hampir kehilangan mahkotanya oleh pria yang dicintainya.
" Kia nggak tahu sih, Ma. Karena pada saat yang bersamaan, Mamanya cowok itu datang dan memergoki mereka berdua di kamar." Azkia teringat betapa terkejutnya Lusiana saat mengetahui jika dia dan Raffasya dalam posisi yang entah akan jadi seperti apa jika Lusiana tidak muncul saat itu.
" Berarti nggak sampai terjadi sesuatu dengan teman kamu, kan?"
" Nggak sih, Ma."
" Hmmm, lalu sikap Mama cowok itu bagaimana setelah memergoki mereka?"
" Iya minta maaf atas kelakuan anaknya, Ma."
" Eh, tapi kok aneh, ya? Kenapa teman kamu bisa mandi di tempatnya cowok itu? Memang teman kamu sedang apa di tempat cowok itu?"
Pertanyaan Natasha kini membuat Azkia kembali berpikir. Alasan apa lagi yang akan dia sampaikan kepada Mamanya. Apa dia juga akan menceritakan jika pria yang tak lain adalah Raffasya itu menceburkannya ke dalam kolam ikan?
***
" Halo, selamat siang, Bu Lusiana." sapa suara seseorang dari dalam selular yang digenggam oleh Lusiana.
" Siang, Tagor. Saya punya tugas lagi untuk kamu." Ternyata Lusiana menghubungi orang yang dia percaya untuk menjalankan misi-misi rahasianya.
" Siap, Bu! Tugas apa yang ingin Ibu perintahkan kepada saya?"
" Apa masih belum ada wanita yang dekat dengan putra saya, Tagor?" tanya Lusiana, karena dari laporan-laporan yang Tagor berikan, selama ini Raffasya tidak pernah terlihat bermesraan dengan wanita.
" Sejauh yang kami pantau memang tidak ada wanita yang disukai oleh putra Ibu. Tapi jika wanita yang berusaha mendekati putra Ibu memang ada. Dan wanita-wanita yang mendekati putra ibu itu, mereka menyukai kehidupan malam, pesta-pesta dan juga hura-hura."
" Tolong kamu awasi agar anak saya tidak sampai jatuh pada wanita seperti itu, Tagor!" Lusiana terang saja tidak akan menyetujui wanita seperti wanita-wanita yang mengejar anaknya itu menjadi menantunya.
" Saya ingin kamu bantu saya mengatur cara agar saya bisa mendekatkan putra saya dengan wanita yang ingin saya jodohkan dengan dia. Tapi saya tidak ingin terlibat secara langsung dalam hal ini."
" Wanita yang ingin saya jodohkan dengan putra saya itu sudah punya kekasih. Kau aturlah anak buahmu agar membuat hubungan mereka berakhir." Lusiana menyampaikan rencananya kepada Tagor, sepertinya wanita itu benar-benar berniat menyatukan Azkia dengan Raffasya hingga dia berencana memisahkan Azkia dengan Gibran.
***
Raffasya berada di dalam lift, dia baru saja bertemu dengan salah seorang investor yang berminat mengelontorkan sejumlah modal untuk membangun caffe dengan usaha wash car yang beberapa waktu pernah ditawarkan oleh temannya. Dia menjumpai investor itu di roof top cafe di hotel milik Gavin Richard karena orang itu menginap di sana.
Ting
Raffasya hendak melangkah ke luar lift setelah pintu lift terbuka. Namun pandangan matanya mendapati seorang wanita cantik berhijab yang sangat dia kenal, bukan hanya dia kenal tapi sangat dia rindukan selama ini.
" Rayya?"
Tak berbeda jauh dengannya, wanita cantik yang disapanya pun terlihat terkejut saat melihat dirinya di sana.
" Kak Raffa?"
" Rayya kamu ada di Indonesia? Kapan datang?" Bisa berjumpa kembali dengan Rayya, gadis cantik nan lemah lembut sudah pasti membuat hati Raffasya bahagia. Apalagi sudah bertahun-tahun dia tidak pernah mendengar kabar berita tentang gadis pujaannya itu.
" Rayya, ayo!! Nggak usah meladeni dia!"
Raffasya langsung menoleh ke arah Azkia yang terlihat memasang wajah galak dan menarik lengan Rayya hingga gadis itu masuk ke dalam lift.
" Rayya, tunggu dulu! Rayya, apa nanti kita bicara?" Raffasya malah ikut masuk kembali ke dalam lift.
" Eh, Kak Raffa! Nggak usah ganggu-ganggu Rayya lagi, deh! Rayya itu sudah punya calon suami. Tuh orangnya! Kak Luigi itu orangnya baik, pinter, sopan, dosen pula. Nggak seperti Kak Raffa, pria me*sum yang pengangguran nggak jelas!" bentak Azkia yang merasa terganggu dengan Raffasya.
Raffasya melirik sekilas ke arah pria bule di samping Rayya. Namun Raffasya seolah tidak perduli dengan apa yang dikatakan Azkia tentang pria itu. Dia juga tidak mendengarkan percakapan antara Azkia dan pria bule tadi setelah itu. Dia justru terfokus pada Rayya yang ada di hadapannya.
" Rayya, apa Kak Raffa bisa minta nomer ponsel Rayya yang baru?"
" Eh, Kak Raffa dengar nggak, sih?! Kalau Rayya itu sudah punya calon suami! Jadi jangan ganggu-ganggu Rayya lagi!" Azkia menyetak Raffasya dengan berkacak pinggang.
Raffasya yang merasa kesal mendengar suara Azkia ditambah wanita itu sedang berusaha memprovokasinya langung menatap tajam ke arah Azkia.
" Nggak usah ngotot lu! Mau gue ceburin lagi ke kolam buat makanan ikan-ikan, lu?! Dasar gersang!" Raffasya balas menghardik Azkia kerena merasa terganggu dengan suara bising Azkia dengan kata-katanya yang diucapkan dengan nada suara tinggi.
Bugghh
" Aaakkkhhh ...!! Sh*it!!" Raffasya memekik saat merasakan sebuah tinju mendarat di pipinya.
" Asataghfirullahal adzim!! Kia ...!! Kenapa Kia pukul Kak Raffa?" Rayya tersentak saat melihat Azkia menghajar wajah Raffasya.
" Dasar cewek bar-bar!!" Raffasya yang merasakan ngilu di bagian rahangnya ingin membalas Azkia namun teman Rayya langsung menghalanginya.
" Kak Raffa, Rayya mohon sebaiknya Kak Raffa pergi dari sini." Bahkan Rayya pun meminta Raffasya untuk meninggalkan mereka.
Raffasya kini menatap Azkia dengan sorot mata seperti elang yang siap menerkam mangsanya. Kalau saja tidak dilarang oleh Rayya rasanya dia ingin memberikan pelajaran kepada gadis tomboy itu. Namun karena Rayya yang memintanya, akhirnya Raffasya pun menekan tombol lantai ke dua dari lantai di mana lift itu berada dan keluar dari lift tersebut untuk mengambil lift lain dan turun ke lantai dasar.
" Dasar cewek bar-bar!" Raffasya mengelus rahangnya yang masih terasa linu karena pukulan Azkia. " Dia pikir wajah gue yang ganteng ini samsak apa?! Main tonjok-tonjok gitu saja! Lama-lama gue smackdown juga lu! Dasar gersang!" Satu sudut bibir Raffaya tertarik ke atas mengingat sesuatu milik Azkia yang sempat terekam oleh matanya, yang sampai saat ini masih teringat jelas dalam ingatannya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️