
Di sebuah kamar hotel di Jakarta ...
" Bagaimana, Pih?" Seorang wanita cantik bergelayut manja pada seorang pria paruh baya yang baru saja mengakhiri percakapannya via telepon.
" Dia menolak Papih ajak bekerjasama.."
" Ck, dasar keras kepala," gerutu wanita cantik itu, membuat Pria yang dipanggil Papih itu menolehkan wajahnya ke arah wanita muda yang sedang melingkarkan tangan di tubuhnya.
" Kenapa kamu ingin Papih memberikan bantuan kepadanya? Bukankah kamu bilang dia itu sudah mencampakkanmu, Sayang? Apa kamu berencana ingin kembali padanya?" tanya pria paruh baya menatap curiga
" Bukan begitu, Pih. Aku hanya ingin membalas dendam saja saat cafe itu sudah bisa aku miliki." Wanita cantik itu beralasan.
" Oke lah jika itu yang kau inginkan, Sayang. Papih akan cari cara untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi sebelumnya kau harus memberikan apa yang Papih inginkan terlebih dahulu." Pria paruh baya tersebut lalu menggiring tubuh sang wanita cantik hingga terjatuh di atas tempat tidur dan tak butuh waktu lama mereka segera melakukan aktivitas bercinta walaupun mereka bukanlah pasangan yang disatukan oleh ikatan pernikahan.
***
Raffasya fokus memperhatikan laporan laba rugi di Raff FM & Caffee selama tiga tahun terakhir. Dia memperhitungkan, apa profit dari usaha tersebut bisa mengcover? Seandainya dia mengambil kredit di bank, jika dana simpanan yang dia miliki tidak mencukupi untuk membangun La Grande kembali.
Raffasya merasa perlu segera bangkit dan merenovasi, dengan memperhitungkan berapa besarnya dana yang dibutuhkan untuk membuat cafenya kembali beroperasi. Karena dia tidak bisa mengabaikan La Grande begitu saja, dia pun harus memikirkan nasib pegawainya. Banyak pegawainya yang akan kehilangan pekerjaan jika dia tidak bangkit dengan cepat.
" Permisi, Mas Raffa. Ada Pak Dimas." Adam yang mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan kerja Raffasya memberitahukan kedatangan Dimas yang sudah berada di sebelahnya.
" Eh, Bang. Masuk, Bang." Raffasya segera bangkit dan mempersilahkan Dimas duduk.
" Mau minum apa, Bang?" Raffasya menawarkan minuman untuk Dimas.
" Terserah saja." sahut Dimas.
" Dam, suruh orang buatkan ice Americano sama bawakan makanan kemari. Bang Dimas sudah makan?" tanya Raffasya kembali.
" Gue masih kenyang, Raf. Minum saja cukup." Dimas menolak ditawarkan makanan. Sementara Adam segera keluar dari ruangan Raffasya.
" Gimana, Bang? Apa Bang Dimas sudah bisa memperkirakan dana yang dibutuhkan untuk merenovasi kerusakan La Grande?" Raffasya mendudukkan tubuhnya di kursi depan sofa yang ditempati Dimas.
" Ya, kalau gue lihat dari tingkat kerusakan akibat kebakaran kemarin, sepertinya untuk bangunan atas memang tidak layak digunakan lagi, harus dibangun dari awal lagi." Dimas lalu menyebutkan berapa perkiraan nominal yang harus dikeluarkan Raffasya untuk merenovasi cafenya. " Nilai itu hanya mencakup bangunan dan interior saja plus mini bar, nggak termasuk furniture cafe, kursi, meja dan lainnya," lanjut Dimas.
Raffasya menghempas nafas kasar seraya memijat pelipisnya.
" Dana gue nggak ada setengahnya dari angka yang Bang Dimas sebutkan tadi," sahut Raffasya kecewa.
" Artinya lu harus cari sokongan dana segar. Mencari investor atau mengajukan pinjaman ke bank," ujar Dimas.
" Oh ya, tadi pagi itu ada orang yang tiba-tiba telepon gue, Bang. Namanya Sony. Gue juga nggak kenal siapa dia, dan dia tahu dari mana nomer ponsel gue? Orang itu bilang berminat membeli La Grande atau menanamkan modal untuk renovasi La Grande." Raffasya seketika teringat akan orang yang menghubunginya tadi pagi.
" Sony siapa?"
" Itu dia yang gue nggak kenal. Aneh saja, Bang. Tiba-tiba ada yang berminat menawar cafe gue itu."
" Lu mesti hati-hati kalau menerima kerjasama dengan orang yang nggak lu kenal, Raf. Cafe lu itu punya tempat yang strategis dan punya banyak pelanggan, jangan sampai salah pilih orang. Apalagi orang itu berniat membeli La Grande." Dimas sebagai orang yang sudah lama dekat dengan Raffasya dan banyak membantu Raffasya dalam proyek-proyek cafe milik Raffasya mencoba menasehati Raffasya agar lebih waspada.
" Gue sudah tolak kok, Bang. Gue nggak mau ada orang luar yang ikut campur dalam urusan cafe gue." Raffasya menegaskan keputusannya.
" Lalu keputusan lu gimana? Mengajukan pinjaman dana ke bank?" tanya Dimas.
" Menurut Bang Dimas sendiri gimana?" Raffasya meminta pendapat Dimas.
" Kalau lu memilih cari investor, lu hanya harus membagi hasil atas keuntungan dari cafe lu. Selama orang itu nggak menarik modalnya di cafe lu, lu berkewajiban membayarkan hasil dari keuntungan cafe dan itu bisa berlangsung dalam jangka waktu yang panjang kalau dilihat dari omzet La Grande selama ini. Beda jika lu pinjam dari bank, setelah pinjaman lu lunas, lu nggak terikat lagi dengan pihak bank dan jangka waktunya pun pendek." Dimas menjelaskan. " Lu juga 'kan pernah jadi debitur, gue rasa lu tahu cara kerjanya gimana? Masalahnya, untuk membayar cicilan pinjaman itu, apa lu sudah memperhitungkan juga dananya dari mana?"
" Gue sedang memperhitungkan laba dari cafe sama radio ini, Bang."
" Kenapa lu nggak coba minta bantuan nyokap lu, Raf? Nyokap lu punya perusahaan leasing, gue rasa nyokap lu pasti bisa bantu." Dimas memberikan solusi.
" Gue nggak mau merepotkan orang lain, Bang." tepis Raffasya.
" Dia nyokap lu, Raf. Bukan orang lain." Dimas meralat anggapan Raffasya kepada Mamanya sendiri.
* Maksud gue, gue ingin mendiri tanpa campur tangan nyokap gue."
" Raf, bagaimanapun juga yang sedang lu hadapi sekarang itu masalah serius, nggak ada salahnya lu berdiskusi dengan nyokap lu. Atau lu diskusikan dengan bini lu, keluarga mertua lu itu keluarga yang cukup terpandang. Gue yakin mereka juga nggak akan membiarkan lu kesulitan seperti sekarang ini. Sayang banget kalau keuntungan yang didapat dari cafe ini habis hanya untuk membayar bunga bank, Raf." Dimas mencoba mencarikan jalan keluar yang baik untuk masalah yang sedang Raffasya hadapi sekarang ini.
" Gue nggak mau dibilang memanfaatkan kondisi ekonomi keluarga mertua gue, Bang. Gue ingin mandiri seperti yang gue jalani selama ini." tegas Raffasya masih tetap menolak meminta bantuan pihak keluarga istrinya.
" Lu waktu single sama lu yang sudah nikah apalagi akan punya anak itu beda, Raf! Kalau semua profit dari cafe lu masukin ke bank, lu mau kasih makan anak bini lu pakai apa? Bini.lu itu dari keturunan keluarga kaya raya, apa dia mau diberi nafkah lu seadanya? Jangan sampai bini lu kecewa nikah sama lu terus dia balikan lagi sama mantannya lho, Raf." Dimas menyeringai. Dia sedikit menebarkan provokasi kepada sahabatnya itu agar jangan lengah.
Raffasya melirik ke arah Dimas saat mendengar Dimas menyinggung soal mantan kekasih istrinya itu. Tentu saja dia pun tak ingin jika Gibran merebut Azkia dari tangannya.
***
Azkia benar-benar khawatir dengan Raffasya. Sejak ke La Grande sepulang mereka dari Labuan Bajo, Raffasya sama sekali tidak menceritakan bagaimana kondisi La Grande yang sebenarnya. Ditambah lagi kepergian Nenek Mutia membuat semakin tertutuplah informasi yang dia dapat dari suaminya itu. Raffasya hanya mengatakan semua bisa diatasi, namun suaminya itu masih saja terlihat sibuk. Bahkan Azkia melihat guratan kelelahan di wajah Raffasya.
Azkia akhirnya mencoba mencari informasi dari Fero, orang terdekat Raffasya di La Grande.
" Assalamualaimum, Pak Fero. Apa Pak Fero saat ini sedang bersama Kak Raffa?" tanya Azkia dalam sambungan teleponnya bersama Fero terhubung.
" Waalaikumsalam, Kia. Aku nggak sedang sama Raffa, memangnya kenapa? Apa Raffa nggak pulang semalam?" tanya Fero.
" Nggak, bukan begitu, Pak Fero. Sebenarnya aku ada perlu dengan Pak Fero."
" Ada perlu apa, Kia?"
" Hmmm, tapi Pak Fero jangan cerita pada Kak Raffa kalau aku telepon Pak Fero, ya?" Azkia meminta Fero berjanji untuk tidak memberitahu Raffasya soal dirinya yang menghubungi Fero.
" Memangnya ada apa, Kia?" Fero merasa penasaran.
" Sebenarnya gimana kondisi La Grande sekarang, Pak Fero? Apa semua bisa diatasi? Apa pengajuan klaim ke pihak asuransi semua berjalan lancar?" tanya Azkia yang memang tidak mendapatkan informasi dari Raffasya.
" Memangnya Raffa nggak cerita ke kamu, Kia?"
" Kak Raffa sangat tertutup untuk masalah yang menimpa La Grande, Pak Fero. Makanya saya menghubungi Pak Fero untuk mencari informasi. Soalnya sejak pulang dari liburan, Kak Raffa selalu pulang sampai larut malam. Aku khawatir dengan kesehatan Kak Raffa kalau dia pulang telat-telat terus." Azkia mengungkapkan kecemasannya.
" Sebenarnya Raffa nggak bisa mengajukan klaim asuransi karena ternyata bangunan cafe itu sudah tidak tercover asuransi lagi." Fero menjelaskan.
" Kenapa bisa begitu, Pak Fero?" tanya Azkia heran.
" Periode pertanggungan berakhir setelah pinjaman Raffa di bank selesai, dan ternyata kami telat menerima informasi penawaran perpanjangan asuransinya."
" Ya Allah, jadi Kak Raffa nggak mendapatkan uang penggantian dari peristiwa kemarin?" Azkia terkesiap. Pantas saja suaminya merasa pusing setengah mati menghadapi persoalan ini.
" Iya, Kia. Untuk renovasi mau nggak mau terpaksa memakai sana pribadi atau pinjam dana ke bank."
Azkia menarik nafas yang terasa berat dia hirup mendengar kenyataan pahit yang sedang dihadapi sang suami.
" Ya sudah, Pak Fero. Terima kasih untuk informasinya, dan tolong jangan beritahu Kak Raffa ya, Pak Fero."
" Oke, Kia."
" Assalamualaikum ..." Azkia mengakhiri obrolannya dengan Fero.
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Fero, Azkia kembali melakukan panggilan telepon ke nomer yang berbeda.
" Assalamualaikum, Ma. Mama sedang ada di mana sekarang?" tanya Azkia saat panggilan teleponnya diangkat oleh Natasha.
" Waalaikumsalam, Mama sedang di butik. Ada apa, Nak?" sahut Natasha.
" Kia ke sana ya, Ma! Kia mau bicara sama Mama."
" Kamu mau bicara sama Mama? Memangnya kamu sama siapa mau ke sininya? Biar Mama saja yang ke rumah suamimu."
" Jangan, Ma! Biar Kia saja yang ke sana. Nanti Kia pesan Ojol saja." Azkia melarang Mamanya datang ke rumah Raffasya.
" Nggak, nggak! Biar Mama yang jemput kamu, kita ngobrol di luar saja kalau begitu, gimana? Kamu belum makan siang, kan?" tanya Natasha.
" Ya oke, Ma. Kia tunggu ya, Ma. Assalamualaikum ..." Azkia akhirnya menyetujui Natasha menjemputnya namun tidak berbicara di rumah suaminya itu.
" Waalaikumsalam, Mama jalan ke sana, ya!" Natasha pun sempat menjawab Azkia sebelum mengakhiri sambungan telepon mereka.
***
" Ada apa, Kia? Apa yang ingin kamu bicarakan sama Mama sampai harus membicarakan hal ini di luar rumah suamimu? Apa Raffa masih bersikap dingin sama kamu? Kalau dia masih seperti itu, Mama akan bawa kamu pulang ke rumah. Mama nggak mau terjadi sesuatu sama calon cucu Mama ini." Saat Natasha dan Azkia sedang menikmati makan siang, Natasha baru menanyakan tujuan Azkia mengajaknya bertemu. Dan Natasha mengira tujuan putrinya itu ingin berbicara karena sikap menantunya yang masih mengacuhkan Azkia.
" Nggak sih, Ma. Bukan itu." Azkia menepis dugaan Mamanya.
" Lalu?" tanya Natasha seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
" Ma, apa Kia boleh memakai uang simpana Kia untuk membantu Kak Raffa?" tanya Azkia dengan sedikit ragu.
Natasha menghentikan kunyahannya saat mendengar permintaan putrinya itu.
" Membantu Raffa?" tanya Natasha dengan kening berkerut.
" Iya, Ma. Aku kasihan sama Kak Raffa. Ternyata Kak Raffa nggak bisa mengajukan klaim asuransi karena asuransinya mati. Kak Raffa pasti membutuhkan banyak dana untuk merenovasi." Azkia menjelaskan kenapa dia ingin memakai uang miliknya.
" Boleh saja, sih. Itukan uang kamu," ucap Natasha.
" Makasih ya, Ma." Azkia terlihat senang karena dia diijinkan untuk menggunakan uang hasil dari keuntungan butik yang sudah menjadi miliknya itu.
" Kalau uang simpanan kamu kurang, kamu tinggal bilang saja sama Mama, nanti Mama diskusikan sama Papa. Siapa tahu Papa sama Mama bisa bantu." Natasha justru menawarkan bantuan lebih dari yang diharapkan Azkia.
" Untuk masalah-masalah seperti itu kamu nggak perlu khawatirlah. Selain ada Mama dan Papa, kamu masih punya Uncle Gavin. Uncle mu itu juga pasti nggak akan tinggal diam kalau kamu mengalami masalah seperti ini, Kia."
" Nggak, Ma. Kia nggak mau melibatkan Uncle juga Mama dan Papa. Biar uang Kia saja dulu yang dipakai." Azkia memang tidak ingin melibatkan keluarganya, karena dia yakin suaminya itu pun belum tentu mau dengan tawaran bantuan yang diberinya.
" Ya sudah kalau mau kamu begitu. Oh ya, malam ini kamu menginap di rumah, ya! Besok Papa ulang tahun, kita kasih kejutan ke Papa nanti malam." ujar Natasha yang mempunyai rencana untuk memberikan kejutan kepada suaminya.
" Oh iya-ya, Papa besok ultah, ya? Hmmm, ya sudah, tapi Kia minta ijin Kak Raffa dulu ya, Ma. Biar Kak Raffa nggak kehilangan." Azkia berniat mengirimkan pesan kepada suaminya.
" Hmmm, apa suami kamu masih acuh sama kamu?" selidik Natasha.
" Sedikit sih, Ma. Tapi 'kan itu karena Kak Raffa sedang banyak pikiran." Azkia menjelaskan alasan suaminya masih tidak bersikap romantis lagi kepadanya.
" Kalau gitu kamu sebaiknya nggak usah kasih tahu dia!" Natasha menyuruh Azkia untuk tidak memberitahu Raffasya jika Azkia akan menginap di rumahnya.
" Lho, memangnya kenapa, Ma?" tanya Azkia heran dengan perintah Mamanya yang melarang dia memberitahu Raffasya.
" Kamu ingin tahu, kan? Bagaimana perasaan Raffa sekarang ini ke kamu?"
Azkia menganggukkan kepalanya dengan cepat. Karena dia juga sangat penasaran apakah suaminya itu masih perduli padanya atau tidak.
" Kamu bisa bayangkan, saat Raffa pulang ke rumah dan tidak mendapati kamu di rumah, lalu Bi Neng memberitahukan kalau kamu dijemput sama Mama. Menurut kamu apa yang ada dipikiran Raffa?" Natasha tersenyum licik,
" Kak Raffa mengira Mama menjemput aku pulang ke rumah Papa," sahut Azkia.
" Exactly ...!" Natasha menjentikkan jarinya mendengar jawaban Azkia.
" Tapi aku kasihan kalau nggak kasih tahu Kak Raffa seperti itu, Ma." Azkia sepertinya keberatan diminta Mamanya untuk sedikit mengerjai Raffasya.
" Kia, kamu itu harus pintar, dong! Sekali-kali bikin suami kamu ketar-ketir untuk memastikan perasaan dia ke kamu. Jangan hanya kamu saja yang dibuat galau sama dia." Natasha mengajarkan ilmunya kepada putrinya itu.
***
Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit Raffasya tiba di rumahnya. Dia sama sekali tak menemukan Azkia ataupun Bi Neng di ruang tamu. Dia lalu menoleh ke lantai atas dan tak lama dia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Raffasya mengeryitkan keningnya saat dia membuka pintu kamarnya namun dia melihat tempat tidurnya terlihat rapih dan tak ada istrinya di sana.
" May ...!" Raffasya langsung melangkah ke arah kamar mandi. Di sana pun tak dijumpai istrinya itu.
Raffasya kembali keluar dari kamarnya dengan tergesa.
" May ...! Bi, Bi Neng ...!!" teriak Raffasya memanggil nama Azkia dan Bi Neng.
" Ada apa, Mas Raffa?" Bi Neng yang sudah berada di kamarnya langsung bergegas ke luar saat mendengar Raffasya memanggilya.
" Almayra mana, Bi?" tanya Raffasya.
" Mbak Kia tadi siang dijemput sama Mamanya, Mas."
" Dijemput sama Mama?"
" Memangnya Mbak Kia nggak kasih tahu Mas Raffa, ya?"
" Bi Neng kenapa nggak kasih tahu aku kalau istriku dibawa Mamanya? Aku 'kan sudah bilang kalau ada hal yang genting cepat kabari aku!" Raffasya nampak kesal karena lagi-lagi dia telat mendapatkan informasi.
" Maaf, Mas. Bi Neng kira Mas Raffa sudah dikabari oleh Mbak Kia." Bi Neng langsung menundukkan kepalanya mendengar kemarahan Raffasya.
" Ck ..." Raffasya berdecak kesal dan langsung menghubungi nomer Azkia
" Nomer yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar service area, cobalah beberapa saat lagi ..." suara operator yang justru terdengar di telinga Raffasya saat ini.
" Aaarrgghh ...!" Raffasya cepat-cepat keluar dari rumahnya untuk segera menjemput istrinya di rumah mertuanya. Tanpa mengecek terlebih dahulu apakah pakaian Azkia masih ada atau tidak di lemari kamarnya.
" Dasar aneh, kalau orangnya ada dicuekin, kalau nggak ada dicariin ..." celetuk Bi Neng menanggapi sikap majikannya itu saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️