
Raffasya dan Azkia asyik bercanda menikmati Tour Sailing Komodo menuju pulau demi pulang yang akan dikunjungi oleh mereka bersama penumpang-penumpang kapal yang lainnya.
Dengan gitar di tangannya, jari-jari Raffasya mulai memetik senar gitar dan memainkan intro lagu yang ingin dia nyanyikan.
...Akhirnya ku menemukanmu ......
...Saat hati ini mulai merapuh ......
...Akhirnya ku menemukanmu ......
...Saat raga ini ingin berlabuh ......
Raffasya mulai menyanyikan lagu milik Naff yang pernah populer tahun sembilan puluhan. Dia bernyanyi penuh penghayatan dengan menatap lekat Azkia yang duduk di dekatnya.
Azkia pun membalas tatapan Raffasya hingga pandangan mereka kini saling bertautan seolah mewakili perasaan cinta mereka yang semakin hari semakin tumbuh subur di hati mereka berdua.
...Ku berharap engkau lah ......
...Jawaban s'gala risau hatiku ......
...Dan biarkan diriku ......
...Mencintaimu hingga ujung usiaku ......
Suara merdu yang diperdengarkan oleh Raffasya tentu saja menarik perhatian penumpang lain dari kamar pesiar itu yang kebanyakan adalah pasangan-pasangan yang juga sedang menikmati indahnya bulan madu. Hingga mereka pun ikut terhibur oleh persembahan lagu Raffasya yang sebenarnya dia nyanyikan untuk Azkia.
...Jika nanti ku sanding dirimu ......
Azkia bahkan mulai mengikuti Raffasya bernyanyi di bagian chorus lagu itu, membuat Raffasya pun semakin bersemangat menyanyikannya dengan berduet bersama istrinya.
...Miliki aku dengan segala kelemahanku ......
...Dan bila nanti engkau di sampingku ......
...Jangan pernah letih tuk mencintaiku ......
Suara tepuk tangan penumpang yang merupakan peserta tour dari kapal pesiar tersebut yang ikut menikmati nyanyian mereka langsung terdengar saat Raffasya dan Azkia mengakhiri lagu yang mereka nyanyikan.
Raffasya dan Azkia terkesiap seraya menoleh ke arah penumpang yang juga berada di sana. Mereka sama sekali tidak menyadari jika tadi mereka menjadi pusat perhatian para peserta tour kapal pesiar itu.
" Nyanyi lagi dong, Mas. Menghibur kami di sini ..." Salah seorang penumpang wanita yang terlihat sedang bersama pasangannya meminta Raffasya untuk kembali bernyanyi.
" Saya setuju, lagu-lagu yang romantis karena kebanyakan penumpang di sini semua couple-couple yang sedang honeymoon." Penumpang lain bertampang bule namun bisa berbicara bahasa Indonesia juga meminta hal yang sama kepada Raffasya.
Raffasya tersenyum menanggapi permintaan orang-orang itu, " Saya mesti minta persetujuan istri saya dulu, karena saya tadi menyanyi sebenarnya untuk istri saya ini." Raffasya tertawa kecil menjawab permintaan-permintaan dari penggemar dadakannya. Dia lalu menatap ke arah Azkia, " Gimana, May?"
" Terserah Kak Raffa ..." Azkia menyerahkan keputusan kepada Raffasya.
Akhirnya Raffasya menyanyikan beberapa lagu untuk menghibur beberapa peserta tour kapal pesiar lainnya yang juga akhirnya ikut bernyanyi bersama.
Hari pertama tour Sailing Komodo akan menyambangi tempat destinasi yang merupakan bagian dari salah satu pulau dalam kawasan Taman Nasional Komodo adalah Pulau Padar, Bukan hanya keindahan taman bawah lautnya dan keindahan pantai berwarna pink. Salah satu tempat yang banyak diminati wisatawan karena spot foto para dari puncak bukit. Dari sana bisa terlihat keindahan Pulau Padar dan pulau-pulaunkecil di sekeliling pulau tersebut dari atas bukit.
Namun sayang kondisi Azkia yang sedang hamil tidak memungkinkan mereka ikut naik ke atas bukit, karena dari atas bukitlah keindahan Pulau Padar bisa dilihat yang banyak diburu para wisatawan domestik ataupun Mancanegara.
" Berapa lama waktu untuk sampai ke sana, Kak?" Dari arah pantai Azkia menunjuk ke atas Pulau Padar.
" Sekitar satu jam mungkin, tapi kamu tidak boleh ke sana sekarang ini, May." ujar Raffasya memperingatkan istrinya.
" Aku tahu, Kak. Aku juga nggak akan nekat mendaki sampai ke sana, yang ada aku jadi ngos-ngosan." Azkia terkekeh. " Nanti saja kalau aku sudah melahirkan kita berlibur lagi ke sini, aku bisa naik ke atas sana ...." lanjutnya.
" Kamu nggak usah naik ke sana lagi deh, May. Cukup naik di atasku saja." Raffasya mengedipkan matanya melakukan flirting kepada istrinya itu.
" Naik di atas Kak Raffa jauh lebih nikmat, ya?" Azkia membalas kalimat absurd yang diucapkan suaminya itu.
" Nah, itu paham ... lebih nikmat walau sama ngos-ngosan juga, kan?" Raffasya dan Azkia pun tertawa bersama penuh rasa bahagia seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.
Setelah cukup puas menikmati tempat wisata di hari pertama Tour Sailing Komodo di Pulau Padar, Azkia dan Raffasya kembali ke atas kapal. Perjalanan hari pertama di Taman Nasional Komodo di Pulau Padar pun berakhir.
***
Setelah seharian diterpa teriknya sinar matahari, Azkia dan Raffasya kini berendam di bathtub dengan pemandangan langsung ke luar jendela sehingga bisa menikmati indahnya pulau-pulau kecil yang dilewati kapal mereka.
" Biar aku yang sabunin kamu, May." Raffasya melumurkan body foam ke tubuh Azkia.
" Jangan pegang bagian terlarang ya, Kak." Azkia terkikik menasehati suaminya karena dia tahu ada modus dibalik tawaran suaminya itu.
" Nggak apa-apa, bagian terlarangnya 'kan sudah halal dijelajah." Raffasya mengecup dan meninggalkan tanda merah di ceruk leher berkulit putih istrinya itu.
" Kak, iiihhh ... ninggalin kissmark jangan di daerah yang bisa dilihat orang, dong!" protes Azkia saat Raffasya memberikan gigitan cinta di lehernya.
" Suka-suka aku, dong! Ini 'kan daerah kekuasaanku, siapa yang berani melarang?" Raffasya kembali memberikan tanda cinta itu di leher Azkia, hingga Azkia merasa geli.
" Rasanya seperti berada di surga sekarang ini." Azkia menyandarkan tubuhnya dada suaminya, hingga kulit mereka saling bersentuhan.
" Dan aku bisa memberikan kenikmatan surga dunia untukmu, May." bisik Raffasya.
Azkia lalu merubah posisi tubuhnya hingga kini menghadap ke arah suaminya. Dia pun merangkulkan lengannya di tengkuk Raffasya lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Raffasya hingga kini mereka saling berpagutan atas penyatuan bibir mereka yang semakin lama semakin menimbulkan ga irah yang menuntut untuk melanjutkan aktivitas tersebut, tidak hanya sekedar saling bersentuhan bibir masing-masing.
***
" May, kita makan, yuk!" ajak Raffasya kepada Azkia yang sejak lepas Maghrib hanya tertidur di tempat tidur dan hanya menikmati sunset dari dalam kamar di kapal pesiar itu.
" Kak, dibawa ke sini saja makanannya. Aku lelah sekali." Azkia meminta suaminya membawakan makanan ke dalam kamar.
" Ya sudah, nanti aku ambilkan dulu makanannya, ya." Raffasya lalu ke luar kamar untuk mengambil makan malam untuk mereka.
" May, ini makanannya. Kamu makan dulu ..." Setelah sepuluh menit, Raffasya kembali ke dalam kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk mereka menyantap makan malam.
" May ..." Raffasya mengeryitkan keningnya karena melihat istrinya itu sudah terlelap bergelungkan selimut.
" Ya ampun, aku tinggal sebentar. Tuan putri sudah tertidur rupanya." Raffasya menaruh nampan di atas meja kecil kemudian mendekat ke arah tempat tidur.
" May, ayo makan dulu ..." Raffasya membelai wajah halus Azkia perlahan.
" May ... ayo bangun. Kasihan dedek bayinya pasti sudah kelaparan." Raffasya masih terus mencoba membangunkan istrinya yang belum juga membuka matanya.
" Ngantuk, Kak." sahut Azkia seraya menggeliat.
" Perut kamu mesti diisi dulu, May. Mau aku suapi?" tanya Raffasya kemudian.
" He-eh." Azkia menganggat tubuhnya hingga kini dia terduduk di tempat tidur.
" Sedikit saja, Kak. Jangan banyak-banyak." pinta Azkia saat Raffasya mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Kalau sedikit, kasihan nanti dedek bayinya nggak kenyang makannya."
Setelah beberapa suap Azkia memilih menghentikan makanannya karena sudah merasa kenyang.
" Kak Raffa nggak makan?" tanya Azkia karena dia tidak melihat suaminya itu menyantap makanan setelah menyuapinya.
" Nanti saja kalau kamu sudah tidur. Kaki kamu pegal, kan? Biar aku pijatkan agar besok siap jalan-jalan lagi." Raffasya menyentuh telapak kaki Azkia dan mulai memberikan pijatan-pijatan dengan jari-jari tangannya di telapak kaki istrinya itu.
***
Destinasi Tour Sailing Komodo hari kedua setelah menyambangi Taman Nasional Komodo di Pulau Padar di hari pertama, kini peserta tour kapal pesiar akan menuju Pulau Komodo, Di sana para wisatawan dapat melihat kehidupan alam liar satwa langka yang hanya ada di Indonesia, Komodo.
" Kamu ingin foto dengan Komodo, May?" tanya Raffasya saat melihat beberapa wisatawan yang bukan hanya dari rombongan tournya yang berfoto dengan kadal raksasa itu.
" Hoohh, nggak deh, Kak. Makasih ... Aku ji jik sama hewan melata." Azkia mengedikkan bahunya.
" Termasuk ular?"
" Itu apalagi, aku merinding kalau lihat ular, hiiiii ..." Azkia memperlihatkan ketakutannya.
" Tapi kalau ular kasur kamu nggak takut, kan? Malah berani pegang juga," bisik Raffasya terkekeh membuat Azkia ikut tertawa seraya mencubit pinggang suaminya.
" Berisik ah, Kak. Jangan bilang begitu, barangkali ada yang dengar, malu ..." Azkia merespon Raffasya dengan berbisik juga.
" Ya sudah, kamu mau foto nggak? Aku mau foto sama Komodo nya."
" Hati-hati, Kak." Azkia melilitkan tangannya di pinggang sang suami.
" Kamu mau ikut foto?"
" Nggak mau ...."
" Kalau nggak mau foto kenapa masih nempel terus?" Raffasya tertawa kecil karena Azkia tak juga melepaskan pelukannya.
" Hahaha, ya sudah kamu ikut foto sama aku saja, ada aku yang akan menjagamu."
Akhirnya Azkia pun bersedia ikut berfoto dengan Komodo bersama suaminya itu. Berkunjung ke Pulau Komodo terasa kurang lengkap jika tidak sampai mengabadikan berfoto bersama hewan purba itu.
Setelah berkunjung ke Pulau Komodo, perjalanan selanjutnya adalah menuju Taka Makassar
Taka Makassar adalah pulau kecil berpasir putih yang berada di laut dangkal dengan warna laut berwarna tosca. Karena ukurannya yang kecil pulau ini hanya akan terlihat jika kondisi air laut surut, namun jika air laut pasang pulau ini tidak akan terlihat karena tertutup air.
" Kita seperti berjalan di tengah laut ya, Kak? Masya Allah banget ini indahnya .,." Tak henti-henti Azkia mengagumi keindahan alam semesta ciptaan Allah SWT.
" Sayang nggak bisa ikut menyelam ke bawah." Azkia memberengut.
" Lain waktu kita akan kembali kemari dengan anak-anak kita." Raffasya memeluk Azkia dan mengecup kening istrinya itu. Walaupun sebenarnya dia sendiri sebenarnya ingin turun ke bawah, namun dia tidak mungkin meninggalkan istrinya sendirian begitu saja.
Perjalanan Tour Sailing Komodo berlanjut ke Pulau Sabolo. Di sana Lumba-lumba kadang menampakkan diri dari Pulau yang juga dikenal sebagai Le Pirates Island atau Pulau Bajak Laut. Tak kalah cantiknya dari pulau-pulau yang ada di Flores lainnya. Di pulau ini juga menjanjikan keindahan pemandangan laut.
" Kenapa dibawa kopernya, Kak?" tanya Azkia heran saat Raffasya membawa kopernya keluar dari kamar di kapal pesiar.
" Kita akan menginap di resort pulau ini." ujar Raffasya.
" Hahh? Pindah menginap lagi?" Azkia terkesiap karena mereka bermalam di tiga tempat yang berbeda.
" Iya, ayo ...!" Raffasya menggenggam tangan Azkia untuk turun dari kapal.
" Kita menginap di mana lagi sih, Kak?" tanya Azkia penasaran.
" Nanti kamu akan tahu sendiri." Raffasya tersenyum tak menjelaskan ke mana mereka akan menginap. Dan Azkia hanya menuruti saja apa yang direncanakan oleh suaminya itu.
" Di sanalah kita akan menginap nanti malam. " Raffasya menunjukkan bangunan yang terbuat dari bambu dan kayu yang berjejer sepanjang tepi pantai.
" Hahh? Serius, Kak?" Azkia sampai terperanjat mengetahui di mana mereka akan menginap.
" Iya, kenapa? Nggak suka?"
" Bukannya nggak suka tapi ini jauh dari ekspektasi aku, Kak. Aku pikir kita akan menginap di hotel yang sama seperti hari pertama datang ke Labuan Bajo. Tapi nyatanya ..." Azkia menghentikan ucapannya, dia lalu menatap sang suami.
" Nyatanya apa? Kamu kecewa, ya?"
" Ini benar-benar surprise, Kak. Ya ampun Kak Raffa." Azkia langsung memeluk Raffasya. Tentu saja rencana Babymoon yang diberikan Raffasya untuknya dengan menyuguhkan tempat-tempat yang indah walaupun tidak bernilai mahal justru membuatnya lebih terkesan.
" Jadi kamu suka?" Raffasya yang awalnya menduga Azkia tidak menyukai kejutannya langsung tersenyum senang saat istrinya itu nampak antusias.
" Suka dong, Kak. Kita ini berasa romantis banget nggak, sih? Menginap di tempat ini." Azkia terkekeh berjalan mendekat ke arah resort yang mengusung tema eco friendly.
" Kamu kalau mau naik atau turun bilang aku ya, May. Soalnya harus naik tangga." Raffasya mengkhawatirkan tiga anak tangga yang harus dipijak Azkia untuk masuk ke dalam resort itu.
Raffasya menaruh kopernya terlebih dahulu kemudian mengangkat tubuh Azkia dan membawa masuk istrinya ke resort di Le Pirates Island tipe Glamping Sweet Backstage itu.
Tour Sailing Komodo kali ini memang dilewati Raffasya dan Azkia dengan mengunjungi pantai satu ke pantai lainnya yang sama-sama indahnya.
Azkia dan Raffasya menghabiskan sepanjang waktu di dalam resort, berbaring di atas tempat tidur sambil melihat ke arah laut lepas atau duduk di tepi resort, saling berangkulan, berpelukan bahkan kadang saling berciuman.
Petang harinya Raffasya dan Azkia memilih beristirahat dengan tidur saling berhadapan dan saling menatap penuh cinta.
Raffasya mengusap dengan gerakan memutar di atas perut Azkia.
" Dedek bayi senang nggak Papa ajak jalan-jalan?" tanya Raffasya menatap ke arah perut Azkia.
" Senang, Papa."
Raffasya tersenyum kini menatap Azkia, " Kalau Mamanya senang nggak diajak jalan-jalan Papanya Dedek bayi?" Raffasya memainkan anak rambut di kening Azkia.
" Senang juga dong, Papa." sahut Azkia kembali.
" Kalau senang, berarti Mamanya dedek bayi makin sayang nggak sama Papa, kan?"
" Pastilah, Papa." Azkia tertawa kecil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Raffasya.
" Kita ke restoran yuk, May." Raffasya bangkit dari tempat tidur kemudian mengulurkan tangannya ke arah Azkia. Raffasya lalu memasangkan sweater ke tubuh Azkia. Setelah itu dia membawa istrinya ke restoran yang ada di pantai Le Pirates Island itu.
" Raf, Raffa ... Raffasya, kan?" Seseorang menyapa Raffasya saat Raffasya dan Azkia duduk di restoran.
Raffasya dan Azkia menoleh ke arah suara itu. Seorang pria mendekat dan mengulurkan tangannya menjabat tangan Raffasya.
" Lu ingat gue, nggak?" Pria itu kembali berkata sebelum Raffasya sempat membalas pertanyaan pria itu.
Raffasya mengeryitkan keningnya mencoba mengingat pria itu.
" Gue Donny, teman SD lu dulu." Pria yang ternyata adalah teman masa kecil Raffasya itu kemudian menyebutkan namanya.
" Oh, hai, Don. Sorry gue tadi benar-benar lupa." Raffasya akhirnya mengingat nama Donny. " Apa kabar lu, Don? Lu ada di sini? Lagi liburan juga?" tanya Raffasya.
" Seperti yang lu lihat, gue sehat-sehat saja. Gue sedang liburan sama cewek gue di sini," sahut Donny menunjuk seorang wanita yang duduk tak jauh dari mereka.
" Cewek lu? Istri maksud lu?" tanya Raffasya.
" Calon istri."
" Masih calon sudah lu bawa liburan ke sini?" Kening Raffasya berkerut.
" Hahaha, biasalah, Raf. Lu kayak nggak paham saja." Donny terkekeh menepuk pundak Raffasya. Donny lalu melirik Azkia terutama perut Azkia. " Dia bini lu?"
" Iya ..." sahut Raffasya.
" Lu sudah nikah, Raf?"
" Iya seperti yang lu lihat." Raffasya memeluk Azkia. " Lu kenal nggak dia siapa, Don?" Raffasya menguji ingatan teman SD nya dulu.
Donny mengedikkan bahunya. " Yang gue tahu cewek cantik ini bini lu." Donny tertawa. " Setelah lulus SD, kita baru ketemu lagi sekarang ini, gimana gue kenal bini lu ini, Raf?"
" Kamu ingat dia, May?" Kini Raffasya bertanya kepada Azkia.
" Tentulah ... Genk nya Kak Raffa, sudah pasti aku ingat," sahut Azkia, " Hai, Kak Donny. Lama nggak ketemu, ya?" Azkia mengulurkan tangannya menyapa Donny.
" Memang kita pernah bertemu, ya?" Donny terlihat heran karena Azkia seperti mengenalinya.
" Seperti yang dia bilang tadi, Don. Dia nggak mungkin lupa orang yang pernah dekat sama gue waktu SD dulu." Raffasya terkekeh melihat Donny yang nampak bingung.
" Eh, Raf. Gue serius nggak kenal bini lu yang cantik ini, Raf." Donny semakin penasaran.
" Dia cewek yang paling gue musuhi waktu SD dulu ..." Raffasya menjelaskan.
Bola mata Donny langsung terbelalak mengetahui siapa istri temannya itu.
" Musuh lu? Yang dulu pernah tendang itu lu?" Donny menunjuk ke arah alat tempur Raffasya. " Ah, gi la lu, Raf! Serius dia??" Donny kini menatap Azkia seakan tidak percaya mendengar pengakuan Raffasya.
" Iya ...."
" Kok bisa?"
" Itulah yang namanya jodoh ..." Raffasya tersenyum melihat temannya itu masih dalam mode terkejutnya.
***
Ddrrtt ddrrtt
Raffasya mengerjapkan matanya saat mendengar ponselnya berbunyi. Raffasya melihat jam yang masih menunjukkan pukul empat pagi dari ponselnya itu.
" Halo, ada apa?"
" Apa?? Lu nggak bercanda, kan?" Wajah Raffasya terlihat menegang mendengar kabar yang dia terima dari orang di seberang ponselnya.
" Oke, oke, pagi ini juga gue balik ke Jakarta." Raffasya segera menutup teleponnya. Dia mendengus nafas keras seraya mengusap kasar wajahnya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️