
Bagi Azkia dan Rayya bisa bertemu saat mereka keluar bersama keluarga masing-masing sudah pasti menyenangkan. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk makan bersama di sebuah restoran yang ada di dalam mall itu.
Bagi Raffasya sendiri keputusan yang diambil Azkia dan Rayya bukanlah suatu masalah, berbeda dengan Ramadhan yang terlihat agak terpaksa menerimanya. Sepertinya Ramadhan masih belum bisa yakin sepenuhnya jika perasaan suka Raffasya terhadap Rayya benar-benar sudah meredup.
" Kayaknya asyik kalau kita rutin jalan bareng gini ya, Ray?" tanya Azkia saat mereka menyantap makanan yang dipesan si restoran fast food.
" Iya, aku setuju, Kia. Biar rasa kekeluargaan kita makin erat." sahut Rayya menyetujui.
" Pa, aku mau burger, deh. Rasanya makan nasi sama ayam saja masih belum kenyang." Azkia meminta Raffasya untuk memesankan burger seraya mengelus perutnya. " Sama french fries nya sekalian, Pa!" lanjutnya.
" Kamu sedang doyan makan ya, Ma? Dari kemarin makannya nambah terus?" tanya Raffasya heran.
" Iya, lapar bange soalnya, Pa." Azkia menyeringai.
" Oke aku pesankan dulu makanannya. Kalian apa ingin tambah pesanan lagi?" tanya Raffasya menawarkan kepada Rayya dan Ramadhan seraya bangkit dari tempat duduk.
" Nggak, Kak. Ini sudah cukup."
" Tidak, makasih."
Rayya dan Ramadhan menjawab bersamaan.
" Ya sudah, aku pesankan dulu makanannya ya, Ma." Raffasya kemudian beranjak pergi untuk memesankan apa yang diinginkan Azkia.
" Aku senang melihat hubungan kamu dan Kak Raffa semakin hangat dan romantis, Kia. Dari dulu aku merasa jika Kak Raffa itu sebenarnya memang baik orangnya, sekarang terbukti, kan?" Rayya yang dahulu pernah merasakan bagaimana sikap manis Raffasya kepadanya mengatakan hal tersebut tanpa menyadari keberadaan suaminya yang langsung memalingkan wajah ke arahnya.
" Sebaiknya kamu jangan memuji suami orang, Sayang. Itu tidak baik!" Ramadhan langsung memprotes ucapan Rayya yang terkesan memuji Raffasya.
" Iya, Ray. Kamu jangan memuji suamiku nanti suamimu makin cemburu sama Papanya Naufal, hahaha ..." Azkia tertawa puas menyindir. Setelah tadi sempat menendang tulang kering kaki Ramadhan saat di arena permainan anak, kali ini dia mencibir suami dari sepupunya itu.
" Mas Rama nggak perlu terus-terusan cemburu seperti itu, Apa Kak Rama nggak bisa melihat kalau Kak Raffa itu sudah cinta banget sama Kia?" Rayya meminta suaminya agar jangan selalu menganggap Raffasya sebagai musuh.
" Iya, dengar tuh, Kak Rama!" celetuk Azkia menimpali. " Nggak usah cemburu sama suamiku, Rugi banget cemburu sama seseorang yang memang sudah nggak mempunyai perasaan apa-apa! Buang-buang energi saja
..." lanjutnya kemudian.
" Aku mau cuci tangan dulu." Ramadhan beralasan ingin mencuci tangannya. Dia sengaja menghindar dari dua orang wanita yang seperti sedang memperoloknya karena rasa cemburunya yang tidak beralasan.
" Oh ya, Ray. Aku sudah pecat ART ku itu, lho!" Azkia kemudian menceritakan tentang pemecatan Ratih kepada Rayya.
" ART baru kamu itu, Kia?" tanya Rayya.
" He-eh, ART gatel ...!"
" Memang kenapa, Kia? Dia bikin kesalahan, ya?" tanya Rayya penasaran.
" Fatal pokoknya! Kamu tahu, nggak? Dia itu diam-diam menyukai suamiku, bahkan berani sekali dia peluk dan cium-cium pakaian suamiku. Keterlaluan banget kan!? Daripada dia aku pelihara di rumah dan lama-lama menjadi ular, aku langsung saja pecat dia dan aku usir dari rumah." Azkia menceritakan dengan sangat berapi-api.
" Hahh?? Serius dia berani berbuat seperti itu?" Rayya terperanjat mendengar alasan Azkia memecat ART nya.
" Iyalah, aku nggak mungkin asal pecat-pecat orang yang lagi cari nafkah kalau bukan karena suatu kesalahan yang fatal." Azkia memberikan alasan.
" Hmmm, iya juga, ya? Kalau ada pegawai di rumah yang terang-terangan menyukai suami kita, pasti kita nggak akan merasa tenang." Rayya sependapat dengan Azkia.
" Karena itu aku langsung usir dia tanpa harus minta ijin Papanya Naufal lebih dulu. Kalau suamiku memprotes, aku tinggal kasih pilihan ke suamiku, Mau mempertahankan aku dan Naufal atau ART itu!?" Azkia yakin Raffasya memang tidak akan menentang keputusannya dan itu terbukti benar.
" Haha, sudah pasti Kak Raffa pilih kamu dan Naufal dong, Kia." sahut Rayya.
" Iyalah, memangnya nggak rugi harus kehilangan istri cantik kayak aku gini dan anak yang lucu seperti Naufal ini. Iya nggak, Nak?" Azkia mencium anaknya yang didudukan di baby chair yang disediakan oleh restoran cepat saji itu.
" Sayang, Aisha aku ajak ke sana, ya?" Setelah mencuci tangannya, Ramadhan berniat membawa Aisha bermain di tempat permainan anak yang terdapat di dalam restoran tersebut.
" Iya, Mas." Rayya memberikan Aisha kepada Ayahnya yang langsung dibawa oleh Ramadhan untuk berkumpul bersama anak-anak kecil yang lain.
" Ini makanannya, Ma." Tak lama Raffasya pun sudah selesai memesan makanan yang diminta Azkia.
" Makasih, Pa," sahut Azkia segera melumiri burger dengan saos.
" Lho, Aisha sama Ayahnya mana?" tanya Raffasya karena tidak mendapati Ramadhan dan juga Aisha.
" Aku bawa Naufal ke sana juga ya, Ma?" Kini Raffasya pun ingin membawa putranya bergabung bersama Ramadhan dan Aisha.
" Oke, Pa. Tapi hati-hati sama Kak Rama. Dia masih sensi saja sama Papa." Azkia terkikik seraya menyantap burger yang baru dipesannya tadi.
Raffasya hanya tersenyum tipis mendengar kalimat candaan istrinya itu lalu mengangkat tubuh Naufal dari kursi.
" Maafkan suamiku ya, Kak Raffa." Rayya merasa tidak enak dengan sikap buruk Ramadhan kepada Raffasya.
" Nggak apa-apa kok, Rayya." Raffasya menjawab permintaan maaf Rayya lalu beranjak meninggalkan istrinya dan juga Rayya untuk bergabung bersama Ramadhan dan Aisha.
" Sifat Kak Rama dan Kak Raffa dulu dan sekarang seperti tertukar ya, Kia?" celetuk Rayya menatap punggung Raffasya yang menjauh.
Azkia mengeryitkan keningnya mendengar perkataan sepupunya tadi.
" Hei, jangan bilang kamu mulai mengagumi suamiku ya, Ray!" tegur Azkia bernada ketus.
Menyadari jika perkataannya bisa memicu salah paham dengan sepupunya, Rayya segera mengklarifikasi maksud ucapannya itu.
" Nggak kok, Kia. Kamu jangan punya pikiran macam-macam, deh! Kamu sendiri tahu dari dulu di hati aku ini hanya ada Mas Rama, ya walaupun sikapnya kadang sering menjengkelkan ..." ujar Rayya tak ingin Azkia mencurigainya.
" Itu deritamu, Ray!" Azkia tertawa menanggapi sedikit keluhan yang diceritakan sepupunya tentang sikap suami dari sepupunya itu.
Sementara itu, Raffasya sengaja mendekat ke arah Ramadhan karena dia merasa harus ada yang dijelaskan agar hubungan mereka tidak terlihat kaku dan selalu dicurigai oleh Ramadhan.
" Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah?" tanya Raffasya berbasa-basi.
Ramadhan melirik ke arah Raffasya yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
" Kau sendiri sudah mempunyai anak, pasti tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Ayah," sahut Ramadhan datar.
Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas. " Rasanya sangat luar biasa. Menjadi seorang suami dan seorang ayah dari bayi yang lucu benar-benar sangat amazing ..." ungkap Raffasya. " Ya, walaupun tidak direncanakan sebelumnya dan bukan karena kesengajaan. Tapi gue benar-benar merasa sangat beruntung memiliki Naufal. Bukan hanya Naufal tapi juga Mamanya Naufal ...."
Ramadhan melirik kembali ke arah Raffasya hingga dia bisa melihat senyum terkulum di bibir pria tampan di sebelahnya itu. Menandakan jika pria di sampingnya itu merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
" Gue akui, dulu gue sangat mengagumi sosok Rayya," ungkapan Raffasya sontak membuat gigi Ramadhan mengerat hingga membuat rahangnya terlihat mengeras.
" Lu jangan marah dulu. Saat gue mengagumi Rayya, lu sendiri belum mempunyai rasa cinta terhadap Rayya, kan?" ekor mata Raffasya melirik ke arah Ramadhan dengan senyuman tipis dari sudut bibir pria yang mempunyai bisnis cafe itu. Sedikit banyak Raffasya mendengar cerita dari Azkia bagaimana kisah cinta Rayya dan Ramadhan. Dan dia pun tahu jika Ramadhan hampir menyia-nyiakan seorang wanita Sholehah seperti Rayya.
Ramadhan mendengus, harus dia akui apa yang dikatakan oleh Raffasya memang benar. Mungkin saat Raffasya masih berusaha mendekati Rayya, dia justru sibuk memikirkan Kayla.
" Gue memang kagum pada sosok Rayya. Dia wanita yang sederhana walaupun berasal dari anak keluarga terpandang. Pembawaannya tenang dan sikapnya yang lembut. Saat itu gue merasa sosok Rayya lah yang bisa membuat hati gue tenang. Namun waktu berjalan dan merubah nasib gue. Dan gue malah harus bertanggung jawab atas perbuatanku terhadap Almayra." Senyuman masih menghiasi sudut bibir Raffasya saat mengingat kembali bagaimana awal cinta dia dan istrinya akhirnya tumbuh bersemi.
" Saat menikah, nggak ada yang gue pikirkan selain menunaikan tanggung jawab gue. Gue juga nggak memikirkan akan seperti apa rumah tangga gue dengan Almayra. Dan setelah waktu yang kami lalui bersama, semakin hari gue merasakan sesuatu yang berbeda dari diri bini gue. Di balik sifat keras kepala dan bar-barnya. Dia ternyata sosok wanita yang sangat sayang keluarga. Dia nggak hanya memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri, tapi memikirkan bagaimana membuat gue bahagia. Dia selalu membuka jalan agar gue bisa rutin berkomunikasi dengan orang tua gue. Suatu hal yang jarang gue lakukan dulu. Bahkan dia sampai nekat ingin menyatukan kembali bokap sama nyokap gue. Ingin menjadikan keluarga gue utuh kembali." Raffasya terkekeh seraya menggelengkan kepala jika mengingat bagaimana upaya Azkia yang masih bersemangat menyatukan Papa dan Mama mertuanya.
" Semakin lama bersama dia, gue merasa hidup gue terasa lebih tenang dan nyaman. Gue benar-benar mendapatkan kehangatan dari sikap dan kasih sayang yang dia berikan." Kini Raffasya menoleh ke arah istrinya yang sedang tertawa dan berbincang bersama Rayya.
" Dulu gue mengagumi Rayya, tapi saat ini gue begitu mencintai bini gue. Gue selalu berharap ini tetap abadi di hati gue." ujar Raffasya mantap.
" Jadi mulai sekarang ..." Raffasya menjeda kalimatnya dan membalikkan badannya ke arah Ramadhan dengan tangan sibuk memegangi Naufal yang hendak melangkah ke arah permainan. " Berhentilah berpikiran jika gue masih mengharapkan Rayya. Sama sekali nggak terlintas di benak gue saat ini dan gue pastikan itu selamanya. Bini gue sama bini lu punya hubungan keluarga, nggak enak saja rasanya kalau kita malah bersitegang hanya kecemburuan lu itu yang nggak berasalasan." Raffasya ingin mengajak Ramadhan berdamai walaupun dia merasa tidak memulai permusuhan dengan suami dari Rayya itu.
Ramadhan menghela nafas dalam-dalam, dia menyadari sikap bo dohnya selama ini yang terlalu cemburu pada semua pria yang pernah dekat dengan istrinya itu.
" Sorry, aku memang kurang dewasa dalam bersikap." Akhirnya Ramadhan pun mau mengakui kesalahannya. Dia mengulurkan tangannya ke arah Raffasya yang langsung disambut baik oleh Raffasya.
" Sebaiknya kita kembali ke istri-istri kita. Mereka itu bagaikan dua gadis perawan yang siap memukau pria manapun yang melihatnya. Jadi jangan kasih kesempatan pria lain mendekati mereka karena meninggalkan mereka terlalu lama." Raffasya terkekeh mengajak Ramadhan kembali bergabung dengan Azkia dan Rayya. Karena di usia yang belum genap dua puluh empat tahun kedua ibu muda berparas cantik itu tidak akan ada yang menduga jika mereka berdua sudah menyandang status sebagai istri dan seorang Ibu. Tak mustahil juga jika banyak pria-pria yang akan tertarik dengan mereka berdua jika Raffasya dan Ramadhan membiarkan istri mereka terlalu lama berdua tanpa pengawalan suami dan anaknya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️