MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Mama Dan Anak Sama-Sama Aneh



Lusiana akhirnya membawa putranya dan Azkia makan di sebuah restoran Jepang. Sudah dipastikan kedua anak muda yang bersamanya kali ini berwajah masam dan memberengut namun Lusiana tidak memperdulikannya.


" Kamu tahu, Azkia? Tante itu jarang sekali bisa makan satu meja begini dengan Raffa, lho." ujar Lusiana kepada Azkia yang duduk di sampingnya membuat Azkia melirik ke arah Raffasya yang hanya fokus dengan ponselnya tanpa menyentuh makanan yang tersaji di depannya.


" Kalau kamu pasti sering makan bersama Papa Mama dan keluarga kamu, kan?" tanya Lusiana kemudian.


" Iya, Tante." Azkia menjawab seraya memasukkan nasi ayam teriyaki ke dalam mulutnya.


" Tante juga ingin seperti itu sebenarnya dengan Raffa, tapi dia ini susah sekali jika diajak makan bareng seperti ini." Lusiana seolah menyalahkan Raffasya karena tidak pernah sejalan dengan keinginannya.


Kalimat Lusiana kali ini berhasil membuat Raffasya menggerakkan ekor matanya ke arah Mamanya. Dan pergerakkan itu tertangkap mata oleh Azkia yang masih memperhatikan pria itu.


" Sudah menjadi kebiasaan Mama selalu menyalahkan Raffa," ketus Raffasya kemudian mengalihkan pandangan ke arah Azkia yang sedang memperhatikannya, hingga membuat kedua anak muda itu saling bertatapan namun tak lama Azkia langsung memutuskan pandangannya.


" Memang kamu itu selalu susah untuk mengikuti kemauan Mama," tuding Lusiana lagi.


" Yang membuat Raffa seperti ini 'kan karena Mama juga." Raffasya seolah tak ingin disalahkan oleh Lusiana.


Perdebatan antara Lusiana dan Raffasya tentu saja membuat Azkia tidak nyaman berada di antara mereka.


" Azkia, coba deh kamu lihat Raffa ini! Nggak ada sopan-sopannya sama sekali sama Tante, padahal Tante ini Mamanya, orang yang sudah melahirkannya," gerutu Lusiana.


" Hanya melahirkan tapi tidak mau mengurus, masih mengharapkan Raffa patuh kepada Mama?!" cibir Raffasya.


" Patuh terhadap orang tua itu wajib Raffa!" tegas Lusiana dengan nada sedikit meninggi.


Azkia yang mendengarkan pertengkaran antara Ibu dan anak itu hanya menghela nafas.


" Apes banget sih, gue. Dapat makan gratis enak tapi harus mendengarkan orang bertengkar," gerutu Azkia dalam hati.


" Kalau Mama mengajak Raffa kemari hanya untuk berdebat, lebih baik Raffa pergi saja." Raffasya kemudian bangkit dari duduknya.


" Kamu mau ke mana?" tanya Lusiana saat melihat Raffasya hendak meninggalkan meja.


" Pulang!"


" Lalu Mama gimana?"


" Mama bisa bawa mobil sendiri."


" Tapi Mama 'kan sudah bilang kalau Mama pusing."


" Kalau Mama sudah bisa mengajak Raffa berdebat artinya Mama itu sudah sembuh," sindir Raffasya yang merasa jika Mamanya itu sengaja beralasan sakit.


" Oke-oke, Mama bisa pulang bawa mobil sendiri. Tapi kamu harus mengantar Azkia kembali ke butik tadi." Lusiana memberikan syarat kepada Raffasya dengan menyuruh putranya itu mengantar Azkia.


Jelas saja permintaan Lusiana membuat Azkia dan Raffasya sama-sama membelalakkan matanya.


" Males banget suruh antar dia."


" Nggak usah repot-repot, Tan. Biar Kia pulang sendiri saja."


Raffasya dan Azkia merespon permintaan Lusiana secara bersamaan.


" Diiihh, siapa juga yang mau diantar Kak Raffa?!" Azkia dengan cepat menyahuti ucapan Raffasya.


" Ma, Raffa itu menyusul Mama nggak bawa kendaraan, jadi gimana Raffa antar nenek sihir ini ke kandangnya?" Perkataan Raffasya membuat Azkia mendelik ke arahnya.


" Astaga, Raffa! Azkia cantik begini kok dibilang nenek sihir, sih? Jangan sembarangan menghina orang kamu!" Lusiana segera memprotes Raffasya yang menyebut Azkia sebagai nenek sihir.


" Memang dia itu nenek sihir! Mama saja yang nggak tahu kelakuannya dia!" Tak puas-puas nya Raffasya mencemooh Azkia.


" Sudah, sudah ...!! Kalian berdua naik taxi saja kalau begitu." Lusiana menyarankan Raffasya dan Azkia kembali ke butik menggunakan taxi.


" Nggak usah, Tante. Nanti Kia order ojek online sendiri saja." Azkia menolak tawaran Lusiana.


" Eh, jangan sendirian! Tante 'kan yang ajak kamu, jadi biar Raffa yang antar kamu pulang." Lusiana lalu menyampirkan tas di pundaknya.


" Ya ampun, ribet amat sih, Tante satu ini." Azkia memutar bola matanya namun dia tetap melangkah mengikuti Lusiana dengan Raffasya yang akhirnya berjalan di belakangnya.


" Taxi ...!" Lusiana berteriak memanggil taxi yang kebetulan lewat di hadapannya. " Nah, itu kebetulan ada taxi lewat. Sekarang kamu harus antar Kia, Raffa!" Lusiana memang terlihat sibuk berusaha mendekatkan Azkia dengan putranya itu. Dia menarik lengan Raffasya agar cepat masuk ke dalam taxi.


" Pak, Alexa Butique di Tebet, ya!" Lusiana berbicara dengan supir taxi itu.


" Baik, Bu!" Supir taxi itu menjawab ucapan Lusiana.


" Ayo, Kia naik! Raffa bukakan pintu, dong!" Sikap Lusiana benar-benar membuat Raffasya kesal hingga dengan kasar dia membukakan pintu untuk Azkia.


" Kamu juga cepat naik!" Lusiana mendorong tubuh Raffasya agar masuk ke dalam dan memaksa menutup pintu, hingga membuat Raffasya tergesa-gesa masuk ke dalam mobil, hingga terjerembab menimpa tubuh Azkia yang memang belum sempat menggeser posisi duduknya.


" Iiihh, Kak Raffa apa-apaan, sih! Kak Raffa mau berbuat me*sum ke Kia?! hardik Azkia yang merasa kaget karena tubuh Raffasya berada di atas tubuhnya.


" Eh, otak lu itu jangan ngeres!" Raffasya menoyor kepala Azkia mendengar Azkia menudingnya hendak berbuat mesum.


" Terus ngapain main tindih-tindih begini, hah?!" bentak Azkia lagi. " Awas, iihh!! Berat tahu!!" Azkia memukuli tubuh Raffasya yang tidak cepat-cepat menyingkir dari tubuhnya.


" Eheemmm ... maaf, Mas, Mbak. Taxi ini terpasang CCTV, jadi kalau berbuat asusi*la hati-hati tersebar." Supir taxi memperingatkan seraya menunjuk arah CCTV.


" Iiihh, Bapak nggak lihat apa, kita ini berantem?!" sergah Azkia kesal dituding akan berbuat asusi*la.


" Kalau videonya kesebar, wajah saya tolong diblur saja, Pak. Nah, kalau wajah dia biarkan saja terlihat, biar ketahuan anak dosen tapi berbuat asusi*la." Seringai tipis terangat di sudut bibir Raffasya. Dia lalu menjauh dari tubuh Azkia yang tadi ditimpanya.


Azkia pun beringsut ke dekat pintu seraya mengibas tangannya ke arah tubuhnya yang tadi ditindih Raffasya.


" Aku ini mesti mandi kembang tujuh rupa, biar nggak terkontaminasi dengan aura buruknya Kak Raffa," sindir Azkia.


" Kita berangkat sekarang, Mas, Mbak?" tanya supir taxi itu.


" Iya cepetan, Pak! Aku nggak mau lama-lama dekat dia!" Azkia mengedikkan bahunya seolah dekat dengan Raffasya adalah hal buruk.


" Heh, kamu pikir aku juga mau lama-lama sama kamu?! Yang ada apes kalau dekat kamu!" Raffasya tidak mau kalah menyerang balik Azkia.


" Pantes saja, Mama sama anak sama-sama anehnya." Azkia memutar bola matanya kemudian memilih diam sepanjang perjalanan.


Ddrrtt ddrrtt


Tiba-tiba ponsel di tas Azkia berbunyi membuat Azkia mengambil benda pipih itu. Azkia melihat Mamanya lah yang meneleponnya.


" Assalamualaikum, Ma. Ada apa?" Azkia menjawab panggilan masuk dari Natasha.


" Ke rumah sakit sekarang? Memangnya Opa David kenapa, Ma? I-iya, Ma. Kia langsung ke sana sekarang. Assalamualaikum ..." Azkia segera menutup ponselnya.


" Pak, Pak, saya turun di sini saja!" Azkia meminta supir taxi itu menghentikan laju mobilnya. Dia lalu membuka pintu dan turun dari taxi tanpa berpamitan kepada Raffasya.


Raffasya memperhatikan Azkia yang turun dari mobil dengan mendadak. Dia melihat wanita itu terlihat sedang menghubungi seseorang dengan sangat gelisah di tepi jalan.


" Jadi kita lanjut ke Alexa Boutique nya, Mas?" tanya supir taxi kepada Raffasya.


" Hmmm, nggak usah." Raffasya lalu mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. " Ambil saja kembaliannya, saya turun di sini."


" Oh makasih. Mas." sahut supir itu sebelum Raffasya turun dari taxinya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️