
" Baby Aisha lucu banget ya, Kak? Cantik, imut, gemesin banget, deh!" Azkia sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya terus saja memuji anak dari sepupunya itu.
" Mau, punya baby yang cantik gemesin gitu? Aku siap bikinin kalau kamu mau, May." Raffasya tersenyum menyeringai seraya melirik ke arah Azkia yang duduk si sebelahnya.
Azkia pun langsung mendelik mendengar ucapan Raffasya, dan dia mendapati suaminya itu tersenyum meledek seraya mengedipkan matanya. Azkia lalu menatap ke arah anaknya yang sudah terlelap di pangkuannya.
" Papa nggak kasihan sama Naufal, ya? Sudah pingin bikin adek buat Naufal?" Azkia menggerakkan tangan Naufal menunjuk ke arah Raffasya.
" Kalau kamu kerepotan nanti kita cari baby sitters buat jaga Naufal, May." Raffasya memberi solusi seandainya Azkia sampai hamil lagi.
" Bukan masalah ada yang bantu mengurus, Kak. Tapi aku ingin fokus memberi perhatian dan ASI dengan nutrisi yang cukup untuk Naufal sampai Naufal sudah bisa lepas ASI dari aku." Azkia menjelaskan alasannya menolak hamil dalam waktu dekat.
" Memang usia berapa Naufal akan lepas dari ASI?" tanya Raffasya penasaran.
" Mendekati dua tahun lah, Kak. Delapan belas atau dua puluh bulan sambil belajar menyapih dan mulai menggunakan su su formula untuk tambahan tumbuh kembangnya." Azkia menerangkan.
" Nanti cari su su formula yang bagus ya, May. Biar Naufal tumbuh sehat." Raffasya sudah memikirkan bagaimana jika Naufal harus lepas dari ASI nya.
" Iya, Kak. Nanti aku pakai sufor kayak waktu aku kecil dulu saja. Itu sudah terbukti bagus untuk bayi seusia Naufal saat mulai memasuki masa penyapihan," ucap Azkia.
" Su su formulanya merk apa. May? Nanti aku cari di mini market." Raffasya terlalu bersemangat ingin membelikan su su formula untuk pertumbuhan Naufal jika anaknya itu sudah berhenti mengkonsumsi ASI.
Azkia tersenyum melihat suaminya yang sangat antusias menyiapkan keperluan untuk Naufal.
" Sabarlah, Kak. Masih lama ini. Naufal saja baru empat bulan, kok. Masa mau dibeli sekarang? Nanti keburu expired duluan, dong!"
" Aku 'kan mau jadi Papa yang sayang anak, May." Raffasya membela diri.
" Iya, Kak. Aku tahu, kok! Kak Raffa itu suami dan juga Papa terbaik pokoknya!" ujar Azkia dengan mantap mengacungkan ibu jarinya ke atas.
Raffasya tersenyum senang mendengar pujian dari Azkia.
" May, kamu nggak mau merubah panggilan buat aku? Masa panggilnya Kak terus?" tanya Raffasya tiba-tiba mempertanyakan panggilan Azkia untuknya.
" Kak Raffa ingin aku panggil apa memangnya?" tanya Azkia dengan kening berkerut. Dia pun sempat terpikirkan untuk mengganti panggilan kepada suaminya namun dia belum menemukan sebutan yang pas untuk panggilan sayang kepada pria yang sudah menjadi ayah dari anaknya itu.
" Terserah kamu mau panggil apa yang mesra gitu ..." Raffasya kembali menoleh ke arah Azkia.
" Memang panggilan Kak kurang mesra, ya?" Azkia mengusap rahang hingga ke dagu suaminya.
" Kalau kamu yang manggil sih, tetap terasa beda, May." Raffasya menyentuh tangan Azkia lalu mengecupnya.
" Gimana kalau kita panggilnya Papa Mama saja, Kak? Biar nggak ribet. Kita ini sudah jadi orang tua, sekalian membiasakan diri dengan panggilan itu untuk anak-anak kita nanti?" Azkia tidak ingin dipusingkan dengan panggilan sayang untuk mereka. " Lagipula, apalah arti sebuah panggilan sayang, yang penting hati kita ini sudah saling sayang dan cinta satu sama lain," tutur Azkia.
" Kamu benar, May. Aku setuju dengan pemikiranmu," sahut Azkia.
" Kok masih panggil May sih, Pa?" Azkia memprotes karena Raffasya belum memulai menggunakan panggilan barunya.
" Oh ya maaf, Mama Sayang ..." goda Raffasya menanggapi protes yang dilancarkan istrinya itu. " Jadi mulai sekarang nih, peresmiannya?"
" Iyalah, mau nunggu apa lagi?"
" Oke, mulai hari ini aku panggil kamu Mama, kamu panggil aku Papa, deal?" Raffasya mengulurkan jari kelingkingnya.
Azkia tersenyum dan menautkan jari kelingking dia dengan jari kelingking suaminya itu.
Brraaakkk
" Aaaakkkhh ...!"
" Asataghfirullahal adzim! Kenapa, Kak?" Azkia tersentak kaget saat mobil yang dikendarai Raffasya tiba-tiba berbenturan dengan sesuatu. benda di depannya. Dia pun sampai lupa dengan panggilan baru yang sudah disepakati bersama tadi.
" Ya Allah, kita nabrak apa, Kak?" Azkia masih terlihat panik, dia bahkan memeluk erat Naufal yang terbangun karena benturan tadi, untung saja tidak terjadi apa-apa dengan bayinya itu.
" Nggak tahu, May." sahut Raffasya serius. Serupa dengan Azkia, ketegangan membuat Raffasya melupakan panggilan baru untuk Azkia. " Kamu sama Naufal nggak kenapa-kenapa, kan?" Raffasya mengkhawatirkan istri dan anaknya.
" Nggak apa-apa, Kak. Cepat lihat keluar, apa yang Kak Raffa tabrak tadi!?" Azkia menyuruh Raffasya untuk segera turun dan melihat apa yang baru saja terjadi.
" Iya, May." Raffasya segera turun dari mobilnya dan melihat apa yang terjadi, sementara di luar sudah terlihat beberapa orang berkumpul.
" Permisi, permisi ..." Raffasya membelah kumpulan orang yang menghalangi penglihatannya terhadap sesuatu yang dia tabrak tadi.
Raffasya mendapati seorang wanita muda terjatuh di samping sepeda motornya.
" Mbak, apa Mbak terluka parah? Saya antar ke rumah sakit, ya?" Raffasya langsung duduk berjongkok di depan wanita itu.
Wanita muda yang sedang meringis kesakitan langsung tertegun mendapati Raffasya di hadapannya.
" Biar nanti biayanya saya yang tanggung. Motornya juga nanti diperbaiki saja kalau ada kerusakan. Nanti saya yang akan membayar biaya servisnya," lanjut Raffasya.
" Mbaknya naik motor mau nyebrang nggak pakai lihat-lihat, sih! Main nyelonong saja!" ujar seorang pria di antara orang yang bergerumun, sepertinya pria itu melihat awal kejadian kecelakaan langsung mengomentari.
" Iya, Mbak. Kalau berkendaraan itu harus hati-hati! Kalau kayak gini tetap saja yang kena tanggung jawab yang bawa mobilnya," timpal pria lainnya malah menyalahkan wanita itu.
" Sudah-sudah, nggak usah menyalahkan dia, Pak. Saya juga nggak melihat tadi ada motor yang mau menyebrang. Sekarang Mbak ikut saya saja, saya antar ke rumah sakit, ya?" Raffasya membantu wanita itu untuk bangkit dengan merangkulkan tangannya ke punggung wanita itu.
" Bawa ke puskesmas depan saja, Mas. Sekitar seratus meter dari sini ada puskesmas, kok." Seorang tukang Ojol menyarankan Raffasya untuk membawa korban yang ditabrak oleh Raffasya tadi.
" Di sini ada bengkel motor terdekat? Ada yang bisa bantu bawa motor ke bengkel?" Raffasya meminta bantuan orang-orang yang bekerumun.
" Ada, tapi arahnya berlawanan sama pukesmasnya, Mas. Sekitar lima ratus meter dari sini," sahut Ojol tadi.
" Saya mau antar Mbak ini berobat dulu, saya bisa minta tolong titip motor ini di sini sebentar?" Raffasya meminta bantuan orang yang masih ada di sana.
" Bawa ke warung saya saja dulu, Mas. Aman, kok." ucap orang yang menjadi saksi mata kejadian kecelakaan tadi menunjuk warungnya di depan TKP.
" Boleh, Pak. Nanti saya kembali ke sini ya, Pak. Saya mau bawa Mbak ini ke puskemas dulu." Terima kasih ya, Pak." Raffasya berpamitan dengan membawa wanita itu ke mobilnya.
Sementara dari dalam mobil, Azkia mengeryitkan keningnya begitu melihat Raffasya merangkul seorang wanita muda dan berjalan ke arah mobil. Apalagi saat Raffasya membuka pintu mobil bagian tengah dan menyuruh wanita itu naik ke dalam mobil.
" Kenapa dia, Kak? Mau dibawa ke mana?" tanya Azkia menyelidik. Walaupun suaminya itu berniat untuk menolong wanita yang menjadi korban, namun sebagai seorang istri tentu saja dia merasa tidak rela melihat Raffasya merangkul wanita lain.
" Puskesmas? Di mana?" tanya Azkia.
" Katanya sekitar seratus meter dari sini ada puskesmas." Raffasya menjelaskan. Setelah wanita itu masuk ke dalam mobil, Raffasya segera naik ke dalam mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya ke arah Puskesmas.
Azkia melirik wanita muda yang mempunyai paras ayu dari kaca spion mobil. Wanita itu pun terlihat sedang memperhatikannya.
" Maaf, Mas, Mbak. Sebaiknya nggak usah repot antar saya ke puskesmas, ini hanya lecet sedikit saja, kok." ujar wanita itu saat melihat Azkia menatapnya curiga.
" Nggak apa-apa, Mbak. Siapa tahu ada yang memar di dalam dan nggak kelihatan. Kalau sudah dicek 'kan enak," sahut Raffasya terus mengendarai mobilnya menuju puskesmas.
Wanita itu pun diam tak mengatakan apapun. Dia hanya bergantian menatap Azkia dan juga Raffasya dari belakang.
" Astaga! Aku lupa kalau ini hari libur." Raffasya menepuk keningnya, karena saat mobil yang dia kendarai sampai di depan puskesmas ternyata puskesmas itu tutup.
" Lalu kita bawa dia ke mana, Pa?" Kali ini Azkia mulai mengingat panggilan untuk suaminya, terlebih lagi dia ingin menunjukkan kepada wanita yang duduk di kursi belakang jika Raffasya adalah suaminya.
Raffasya melirik ke arah wanita itu dan berkata, " Mbak, kita rumah sakit saja, ya?" Raffasya menawarkan untuk membawa wanita itu ke rumah sakit.
" Nggak usah deh, Mas. Nanti malah merepotkan. Antar saya ke tempat tadi saja, saya mau ambil motor saya." Wanita itu menolak diajak Raffasya ke rumah sakit untuk diobati.
" Tapi lukanya gimana?" tanya Raffasya yang tetap merasa bersalah kepada orang yang sudah dia tabrak.
" Nggak apa-apa, ini diobati sama obat luka saja," ujar wanita itu.
" Gini saja, Mbak rumahnya di mana? Nanti saya antar Mbak pulang, Mbak ada keluarga? Nanti motornya dibawa saja sama keluarga Mbak saja. Nanti saya kasih penggantian buat berobat dan reparasi motor Mbak." Raffasya menawarkan solusi.
" Saya di sini tinggal sendirian, Mas."
" Oh ... ada teman atau tetangga yang bisa dimintai tolong?" tanya Raffasya kemudian.
" Saya baru sebulan mengontrak di Jakarta, Mas." sahut wanita itu.
" Hmmm, ya sudah, saya antar ke rumah Mbak dulu saja, ya!? Nanti urusan motor setelah diperbaiki akan diantar ke rumah kontrakan Mbak."
" Terserah Mas saja deh, kalau begitu." Wanita itu menyahuti.
Sementara Azkia hanya menghela nafas mendengar keputusan Raffasya. Seharusnya dia bangga suaminya punya tanggung jawab yang besar, namun saat dia sadari korban yang ditabrak suaminya itu adalah seorang wanita muda membuat Azkia merasa tidak nyaman.
***
Setelah mengantar wanita yang ditabrak dan mengurus motor wanita itu, Raffasya menyuruh anak buahnya untuk mengantarkan motor si korban ke rumah korban. Raffasya pun tak ketinggalan memberikan uang untuk berobat wanita itu.
" Naufal nggak apa-apa 'kan, Nak? Maafin Papa ya, Nak. Papa hampir buat kamu kena musibah." Raffasya menciumi Naufal setelah mereka sampai ke rumahnya.
" Hati-hati tuh, Pa. Makanya kalau sedang mengendarai mobil jangan banyak mengobrol dan bercanda! Untung saja semuanya bisa beres." Azkia menasehati sambil berjalan mengekori Raffasya yang menaiki anak tangga.
" Yang ajak ngobrol 'kan Mama duluan ..." Raffasya menengok ke belakang seraya menyeringai.
" Besok-besok kita jangan banyak bercanda kalau sedang berkendaraan, Pa. Bahaya ..." Azkia menyusul langkah Raffasya seraya melingkarkan tangannya di lengan Raffasya.
Raffasya melepaskan tangan Azkia yang memegangi lengannya namun tak lama tangan kanannya itu merangkul tubuh Azkia sementara tangan kirinya menggendong Naufal.
" Aku nggak suka tahu, Pa. Papa pegang-pegang cewek tadi kayak gini." Tiba-tiba Azkia teringat saat Raffasya merangkul wanita yang ditabrak Raffasya.
" Iya, maaf, Ma. Aku hanya sekedar menolong, kok. Jangan punya pikiran yang macam-macam." Raffasya mengecup pucuk kepala Azkia agar istrinya itu tidak cemburu karena tindakannya tadi. Dan mereka bertiga pun menuju kamar mereka di lantai atas.
" Papa jagain Naufal sebentar, ya!? Aku mau siapkan air hangat dulu untuk Naufal mandi." Azkia berjalan menuju kamar mandi setelah sampai di dalam kamar mereka.
" Kalau sudah Naufal, giliran Papa yang dimandiin Mama ..." Raffasya tertawa kecil menggoda istrinya.
" Astaga, Papa nggak mau kalah sama anaknya." Azkia memutar bola matanya sebelum akhirnya masuk ke dalam mandi dan menyiapkan air hangat di bak mandi Naufal.
Setelah menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk Naufal mandi, Azkia pun keluar dari kamar mandi. Dia melihat suaminya itu sedang melepaskan pakaian yang dipakai Naufal hingga kini anaknya itu sudah bertelan jang.
" Sudah dibukain sama Papa ya baju, Naufal?" Azkia lalu meggendong Naufal.
" Kalau urusan buka-bukaan baju sih, Papa Naufal ahlinya, Ma." Raffasya menyempatkan mencium pipi Naufal dan Azkia.
" Papa curi-curi kesempatan saja ya, Nak?" sindir Azkia sambil berjalan ke arah kamar mandi kembali. " Naufal mandi sore dulu ya, Sayang."
" Papa mau belajar mandiin Naufal dong, Ma." Raffasya sangat berminat belajar memandikan anaknya.
" Bisa memang?"
" Belajar dulu, pasti bisa ...."
" Ya sudah, ayo perhatikan baik-baik, cara pegangnya bagaimana." Azkia menyuruh Raffasya memperhatikan dia memandikan Naufal.
" Coba sentuh dulu airnya, Pa. Kira-kira hangat segini." Azkia menyuruh Raffasya mencelupkan tangannya ke dalam air hangat yang dia siapkan untuk mengecek suhu air hangat yang dipakai untuk memandikan Naufal. " Cuci tangan dulu dong, Pa! Takutnya tadi ada virus nempel di tangan Papa gara-gara pegang cewek lain!" sindir Azkia menyuruh Raffasya membersihkan tangannya sebelum menyentuh air dalam bak mandi Naufal.
" Hahaha ..." Raffasya tertawa kencang. " Bukannya tadi juga Papa sudah pegang Naufal sama Mama? Berarti virusnya nempel di Mamanya Naufal, dong!" Dia lalu mencuci tangannya terlebih dahulu.
Setelah mencuci tangannya Raffasya pun memeriksa suhu air hangat untuk mandi anaknya.
" Pegangnya seperti ini ya, Pa " Azkia memperagakan cara memegang anaknya. Dia pun mulai menguyur tubuh dan rambut anaknya perlahan dengan air hangat dari tangannya, kemudian dia mulai mengeramasi rambut Naufal, menyabuni badan Raffasya dan mengosik gusi Naufal dengan jarinya.
Raffasya memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan Azkia kepada Naufal. Dia benar-benar ingin bisa menjadi Papa yang teladan yang bisa mengurus anaknya dengan sungguh-sungguh, karena dia ingin membangun kedekatan batin dengan Naufal dengan cara mengurus anaknya seperti apa yang dilakukan istrinya kepada anak pertama mereka.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️