
Gibran segera menepis tangan Shendy yang melingkar di lengannya. Wajahnya pun sudah nampak merah padam karena terlalu emosi. Dia tidak menyangka jika orang yang berniat mencelakai Azkia adalah temannya sendiri.
" Benar kalau kau yang sudah menjebak, Kia?!" geram Gibran. " Tega sekali kamu, Shen! Apa sebenarnya tujuan kamu melukukan hal itu pada Kia?!" Gibran mencengkram lengan Shendy dengan sangat kencang.
" A-aku nggak tahu apa-apa, Gibran!" Shendy mencoba melepaskan diri dari cengkraman Gibran dan menyangkal tuduhan Gibran. " Gibran lepaskan!! Sakit!!" Shendy meringis kesakitan karena cengkraman yang begitu kuat di lengannya.
" Katakan sebenarnya apa tujuanmu, Shendy?!" Gibran tak melepaskan cengkeramanya itu.
" Aku ..." Shendy lalu melirik ke arah Raffasya dengan kesal yang sedang melipat kedua tangan di dadanya. Dia merasa kehadiran Raffasa saat itu tidak menguntungkan untuknya dalam usaha merebut hati Gibran.
" Itu semua rencana dari Gladys!" Shendy melempar kesalahan kepada Gladys. Karena memang Gladys lah yang mempunyai ide untuk menjebak Azkia.
" Gladys? Kau bekerjasama dengan Gladys?" Gibran kembali terkejut ketika nama Gladys disebut oleh Shendy.
" Iya, Gladys sebenarnya yang berencana menjebak Kia. Gladys merasa cemburu kepada Kia, karena Gladys pikir kalau pria itu menyukai Kia." Shendy menunjuk ke arah Raffasya.
" Di mana Gladys sembunyi sekarang?" Raffasya langsung bertanya soal keberadaan Gladys.
" Aku nggak tahu!" sahut Shendy.
" Jadi kau dan Gladys bekerjasama menjebak Kia?" tuding Gibran kemudian.
" Aku hanya diajak saja, Gibran." Shendy membela dirinya.
Gibran kemudian menolehkan kepalanya ke arah Raffasya.
" Kamu lihat, kan? Ternyata wanitamu lah yang mencelakai Kia." Gibran yang merasa tidak terima dengan kehamilan Azkia apalagi saat ini Raffasya sudah resmi menjadi suami dari Azkia. Dia menyerang Raffasya dengan melimpahkan kesalahan itu berpusat kepada Raffasya.
" Lu jangan memutar balikan fakta!" Raffasya pun nampak geram kepada Shendy yang terlihat seperti ingin cuci tangan dan main aman. .
" Almayra sama gue dan Gladys itu nggak ada sangkut pautnya. Gladys itu nggak kenal siapa Almayra, bagaimana Gladys bisa memakai alasan itu? Apa jangan-jangan ini hanya pengalihan? Bisa saja justru lu yang ingin menyingkirkan Almayra dari cowoknya, karena sebenarnya lu sendiri yang naksir sama cowoknya dia. Dan lu meminta bantuan sama Gladys agar Almayra ditinggalkan oleh cowoknya, karena jebakan kalian. Dan lu bisa bebas melenggang bersama mantan cowoknya itu." Tuduhan Raffasya memang beralasan jika dia melihat saat ini Shendy terlihat jalan berdua bersama Gibran.
" Aku benar-benar kecewa sama kamu, Shendy!" Gibran memilih meninggalkan Shendy dan Raffasya dengan langkah lebar.
" Gibran, tunggu dulu!!" Shendy ingin mengejar Gibran namun Raffasya lebih dulu mencekal lengan Gladys.
" Bilang sama teman lu itu, suruh dia keluar. Jangan terus bersembunyi karena kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatannya!" bisik Raffasya kepada Shendy, kemudian melepaskan cekalannya kepada tangan Shendy. Dan Shendy pun langsung bergegas meninggalkan Raffasya dengan ketakutan.
***
" Assalamualaikum ..." Raffasya memasuki rumahnya dengan memberikan salam terlebih dahulu.
" Waalaikumsalam. Kamu sudah pulang, Raffa?" Nenek Mutia yang menyambut Raffasya di ruang tamu. Nenek Mutia senang mendapati Raffasya yang sudah mulai berubah menjadi lebih baik dengan membiasakan diri mengucapkan salam.
" Iya, Nek. Ini agak telat karena harus beli su su hamil dulu untuk Almayra." Raffasya menunjukkan plastik berisi enam dus su su hamil untuk Azkia. Kemudian dia mendekati Nenek Mutia dan mencium punggung tangan Nenek Mutia.
" Nenek senang kamu sekarang sudah banyak berubah lebih baik, Raffa." Nenek Mutia tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, apalagi sekarang ini cucunya itu sudah mulai lagi menjalani ibadah lima waktu.
" Iya dong, Nek. Karena Raffa ingin buat Nenek bahagia." Tangan Raffasya merangkul punggung Nenek Mutia.
" Alhamdulillah, Raffa. Sebentar lagi kamu akan jadi Papa, kamu harus bisa menjadi panutan dalam keluargamu." Nenek Mutia menasehati.
" Maaf, Bu. Mau makan sekarang atau bagaimana?" Bi Neng yang muncul dari arah dapur bertanya pada Nenek Mutia.
" Lho, Nenek belum makan?" Raffasya menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
" Belum, Mas. Tadi Ibu bilang mau nunggu Mbak Kia datang, Mas Raffa." Bi Neng menjelaskan alasan Nenek Mutia yang belum juga menyantap makan malam.
" Memang Almayra ke mana, Nek?" tanya Raffasya kaget saat Bi Neng mengatakan soal Neneknya yang menunggu Azkia datang.
" Tadi dibawa Mamamu setelah Ashar, tapi sampai sekarang belum pulang, Raffa." Nenek Mutia menceritakan.
" Mama datang dan bawa Almayra pergi?" Raffasya terkesiap saat dia mengetahui ternyata istrinya itu tidak ada di rumah, bahkan sampai petang belum juga sampai di rumah.
" Mama bawa Almayra ke mana, Nek?" Raffasya lalu mengambil ponsel dan segera melakukan panggilan telepon kepada Lusiana.
" Tadi ijin sama Nenek sih, mau fitting baju." Nenek Mutia masih sempat menjawab sebelum panggilan Raffasya ke nomer Lusiana tersambung.
" Halo, ada apa, Raffa?" Suara Lusiana terdengar di telinga Raffasya saat panggilannya terhubung dengan Mamanya itu.
" Mama bawa istriku ke mana?" Nada bicara Raffasya kesal.
" Mama bawa menantu Mama buat fitting baju untuk acara wedding party kalian nanti. Besok kamu juga fitting baju, nanti ajak Kia saja, Kia sudah tahu tempatnya, kok." sahut Lusiana.
" Ma, Mama kenapa nggak ijin Raffa dulu bawa May pergi? Ini sudah malam, Ma. May itu sedang hamil, jangan dibawa pergi lama-lama nanti dia kecapean." Raffasya memprotes Mamanya yang membawa Azkia tanpa mengabari terlebih dahulu apalagi meminta ijin kepadanya." Sekarang Mama di mana? Nanti Raffa susul ke sana."
" Mama lagi makan dulu, habis ini langsung pulang, kok. Kamu tidak usah kemari, Raffa. Sebentar lagi juga kami selesai." Lusiana menjelaskan. " Sudah ya, Raffa. Kalau kamu bicara terus, makan kita nggak akan selesai-selesai." Setelah menyelesaikan kalimatnya Lusiana. langsung mematikan panggilan telepon itu.
Raffasya mendengus kasar mengetahui panggilan teleponnya diputus sepihak oleh Mamanya itu.
" Nek, Raffa ke kamar dulu. Nenek sebaiknya makan sekarang, May sudah makan sama Mama." Raffasya meminta Neneknya untuk segera makan malam. " Bi Neng, tolong taruh ini." Raffasya menyuruh Bi Neng menaruh beberapa box su su hamil untuk istrinya.
" Baik, Mas." Bi Neng segera mengambil plastik yang berisi beberapa box su su itu.
" Kamu sudah makan belum, Raffa? Kamu pasti belum makan juga, kan? Ayo makan temani Nenek." Nenek Mutia meminta Raffasya menemaninya dan Raffasya yang memang belum makan akhirnya mengikuti kemauan Nenek Mutia.
***
" Sudah selesai jalan-jalannya?" sindir Raffasya bangkit dari duduknya dan mendekati Azkia.
" Kak Raffa kenapa di sini?" ketus Azkia.
" Lu nggak bisa larang gue ada di kamar ini." Raffasya lalu berkacak pinggang layaknya seorang ayah yang mendapati anaknya pulang setelah pergi tanpa ijin darinya.
" Habis jalan-jalan dari mana saja? Lupa kalau sedang hamil?" tanya Raffsya kemudian.
Azkia mendelik ke arah Raffasya.
" Aku jalan-jalan itu bukan atas kemauanku sendiri." Azkia kemudian berjalan melewati Raffasya menuju kamar mandi.
" Lu mau mandi? Ini sudah malam, kasihan janinnya kalau harus terkena air di malam hari." Raffasya melarang Azkia yang ingin masuk ke dalam kamar mandi.
" Masa aku harus nggak mandi? Habis pergi dari luar, kena keringat, lengket, nggak baik untuk kesehatan. Lagipula aku ini cewek, aku nggak mau nanti cantikku hilang kalau nggak mandi," sahut Azkia terus berlenggang masuk ke kamar mandi.
" Nggak usah mandi, cuci muka, cuci kaki, cucu tangan dan sikat gigi saja." Raffasya mengikuti langkah Azkia sampai ke kamar mandi.
" Kak Raffa ngapain ikut-ikut masuk ke sini?"
" Gue cuma mau memastikan kalau lu nggak mandi malam-malam." Raffasya tetap tidak mengijinkan Azkia untuk mandi malam.
" Nggak usah berlebihan deh, Kak. Aku itu beberapa kali mandi malam kalau telat pulang, dan nggak masalah." Azkia menampik anggapan Raffasya yang dianggapnya terlalu berlebihan.
" Tapi sekarang kondisinya beda, lu sedang hamil dan lu istri gue. Gue nggak mau disalahkan oleh kedua orang tua lu kalau nantinya lu sakit." Raffasya beralasan.
Azkia memutar tubuhnya tak perduli ucapan suaminya.
" Kalau aku tetap mau mandi, gimana?" ucap Azkia berjalan membelakangi suaminya menuju arah shower.
" Kalau lu nekat mau mandi, gue akan tetap berdiri di sini. Memang lu berani telan jang bulat depan gue lagi?" Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas. Dia yakin Azkia tidak akan berani melakukan hal itu.
Azkia menghentikan langkahnya saat disinggung soal peristiwa Bandung. " Memangnya Kak Raffa pikir aku nggak berani walaupun Kak Raffa ada di sini?" Azkia akhirnya melanjutkan langkahnya dan memutar kran shower, hingga air shower itu langsung jatuh membasahi tubuh Azkia yang masih lengkap menggunakan pakaiannya.
" Astaga, May!" hardik Raffasya segera menghampiri Azkia dan mematikan kran shower yang sudah membasahi sebagian baju Azkia.
" Ampun lu tuh, ya!!" Raffasya merasa geram akan kenekatan Azkia yang memaksa ingin mandi. Dia pun langsung mengambilkan handuk untuk Azkia. " Cepat ganti baju lu!" perintahnya.
" Ganti baju? Mandi saja belum disuruh ganti baju." Azkia menentang Raffasya.
" Gue bilang lu nggak usah mandi malam ini!"
" Kak Raffa yang cerewet, mandi malam untuk orang hamil itu nggak apa-apa, coba saja baca artikelnya di goo gle. Coba sana baca dulu, aku mau mandi air hangat, bandanku rasanya lengket semua." Azkia menyuruh suaminya untuk keluar hingga dia bisa melanjutkan mandinya.
Lima belas menit kemudian ...
" May ...! Sudah belum? Jangan lama-lama mandinya nanti kedinginan bayinya!" Raffasya mengetuk pintu kamar mandi karena Azkia tidak juga menyelesai mandinya.
" May! Kalau lu nggak keluar juga, pintunya akan gue dobrak!" Raffasya kembali memberi ancaman. Entah sudah berapa ancaman yang dia keluarkan sejak menikah dengan Azkia, karena istrinya selalu saja menentang keputusannya.
Sementara di dalam kamar mandi, Azkia yang sudah berbalut handuk merasa ragu untuk keluar dari kamar mandi, karena dia tidak membawa baju ganti ataupun bathrobe untuk menutupi seluruh bagian pundaknya. Dia berharap Raffasya segera keluar dari kamar itu, namun Raffasya justru sedang menunggu dirinya keluar dari kamar mandi.
" May! Jangan tunggu sampai gue benar-benar dobrak pintunya, ya!" Terdengar lagi ancaman Raffasya dari luar kamar mandi.
Azkia mengigit kuku jari tangannya karena dia bingung ingin keluar dari kamar mandi.
" Kak Raffa pergi dulu dari kamar, baru aku akan keluar dari sini." Azkia mengajukan syarat.
" Lu tuh banyak maunya banget, ya!" sahut Raffasya kesal.
" Aku nggak bawa baju ke kamar mandi, makanya Kak Raffa keluar dulu saja sana!" balas Azkia.
" Ada handuk 'kan tadi?"
" Iya tapi handuknya nggak besar. Aku nggak mau otak me sum Kak Raffa langsung traveling ke mana-mana kalau lihat tubuh mulus aku." Azkia memberi alasan kenapa sejak tadi dia tidak ingin ke luar dari kamar mandi.
Tak langsung ada jawaban dari luar kamar mandi beberapa saat.
" Oke, gue keluar." Akhirnya terdengar suara Raffasya, tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dan tertutup, menandakan jika pria itu sudah keluar dari kamar tidur.
Setelah menunggu hampir satu menit akhirnya Azkia pun membuka pintu kamar mandi. Azkia mengendap seraya mengedar pandangan untuk meyakinkan kalau Raffasya memang sudah keluar dari kamarnya. Dan ketika dirasa sudah aman, dia segera berlari ke arah pintu kamar dan mengunci pintu kamar milik suaminya itu.
" Kalau begini 'kan aman." Azkia tersenyum seraya melepas handuknya dan berjalan ke arah lemari pakaian karena dia ingin mengambil pakaian tidurnya. Namun Azkia nampak terperanjat saat dia melihat Raffasya yang berdiri di samping lemari pakaian dengan bersandar ke sisi lemari itu dan tangan berlipat di dada, juga tatapan mata yang tak berkedip menatap keindahan tubuh mulus istrinya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️