
" Mbak Oca, dipanggil Bapak sama Ibu di bawah.” ART di rumah Lusiana memanggil Rosa yang sedang berada di kamarnya mengerjakan tugas dari kampusnya.
“ Papa sama Mama manggil Oca, Bi? Kenapa?” tanya Rosa heran karena mereka baru saja selesai makan malam bersama sekitar lima belas menit lalu.
“ Ada Mas Gibran di luar, Mbak.” Sahut ART di rumah Lusiana itu.
“ Kak Gibran?” sorot mata berbinar langsung terpancar dari mata indah gadis cantik itu. Dengan berlari Rosa berniat ke luar dari kamarnya namun ART Lusiana itu menahannya terlebih dahulu.
“ Kenapa, Bi?’ tanya Rosa heran.
“ Sebaiknya Mbak Oca ganti pakaian dulu,” ucap ART Lusiana.
“ Ganti pakaian?’ Rosa menoleh ke pakaian yang dia pakai. “ Memangnya kenapa harus ganti pakaian?” tanya Rosa heran.
“ Karena Mas Gibran datang bersama Papanya, Mbak Oca.” Sahut ART Lusiana.
Rosa membulatkan matanya saat mendengar orang tua Gibran datang bersama kekasihnya saat ini. Seketika itu juga jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia gugup harus bretemu orang tua Gibran secepat ini, apalagi orang tua kekasihnya itu datang langsung ke tempat tinggalnya saat ini. Seketika Rosa teringat apa yang pernah Azkia katakan kemarin. Apakah kedatangan orang tua Gibran itu untuk melamar dirinya? Itu yang berkecamuk di hati Rosa.
“ Ini anak, ditungguin di bawah malah melamun di sini.” Suara Lusiana membuat lamunan Rosa buyar.
“ M-mama?” Rosa terkejut karena Lusiana tiba-tiba sudah muncul di kamarnya.
“ Ngapain kamu melamun, Ca? Gibran sama Papanya datang, tuh! Mereka ingin bertemu kamu, Ca.” Apa yang disampaikan Lusiana semakin membuat rasa gugup Rosa semakin menguat.
“ Ma, kenapa Papanya Kak Gibran datang ke sini, ya?’ tanya Rosa penasaran.
“ Tentu saja untuk Gibran perkenalkan kepada kamu, Ca.” jawab Lusiana.
“ Hanya itu?”
“ Menurut kamu?”
Kata-kata Lusiana semakin membuat Rosa bingung hingga dia menggelengkan kepala dan berucap, “ Oca nggak tahu, Ma.”
“ Ya sudah, kalau kamu penasaran dan ingin tahu, kamu cepat ganti baju kamu dan turun ke bawah.” Sama seperti ART nya, Lusiana pun menyuruh Rosa untuk menganti pakaiannya agar lebih sopan karena saat ini Rosa memakai setelan baju tidur dengan celana selutut.
“ Iya, Ma.” Rosa segera mengganti pakaiannya ditemani Lusiana karena Lusiana ingin turun ke bawah bersama putri sambungnya itu.
“ Nah, itu dia Oca …” Papa Fariz menunjuk Rosa yang berjalan menuruni anak tangga di belakang Rosa setelah beberapa saat menunggu.
Gibran dan Fatur menolehkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Fariz.
“ Hai, Ca.” Gibran.” Gibran menyapa kekasih hatinya itu.
Rosa hanya tersenyum menyambut sapaan Gibran. Dia memilih menyapa orang tua Gibran terlebih dahulu.
“ Om …” Rosa mengulurkan tangannya dan meraih tangan Fatur kemudian mencium punggung tangan Papa dari Gibran.
“ Halo, Oca. Hmmm … pantas saja putra saya ini mendesak saya untuk segera mnemui Anda, Pak Fariz. Ternyata putri Pak Fariz ini sangat cantik. Sepertinya Gibran tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan Oca rupanya.” Fatur berkelakar membuat wajah Rosa bersemu merah.
“ Pak Fatur terlalu berlebihan. Anak saya ini sama saja seperti gadis lainnya. Bedanya hanya baru kali ini dia mengenal kata cinta dan baru merasakan suka terhadap lawan jenis.” Fariz seperti menyambut candaan Fatur hingga dia pun ikut menggoda anak gadisnya itu. Dan ucapan Fariz membuat semua yang ada ruangan tamu tertawa lebar terkecuali Rosa yang tertunduk malu.
“ Beruntung anak saya jika mendapatkan putri Pak Fariz ini.” Dari kata-katanya sepertinya Fatur menyetujui jika Gibran behubungan dengan Rosa.
“ Pak Fatur ini terlalu merendah, justru saya juga bersyukur putri saya ini bertemu pria sebaik Gibran, jadi kami sebagai orang tua tidak merasa khawatir terhadap pria yang dekat dengan Oca. Benar ‘kan, Ma?” Fariz menoleh ke arah Lusiana yang langsung mendapatkan jawaban anggukan kepala istrinya itu.
“ Kalau memang kita saling setuju, sepertinya tidak ada salahnya jika kita membicarakan lebih serius tentang hubungan kedua anak kita ini, Pak Fariz.” ungkap Fatur mulai mengatakan tujuannya menemui Fariz dan Lusiana.
" Begini, Om, Tante. Gibran sengaja membawa Papa kemari menemui Om dan Tante, karena Gibran ingin melamar Oca untuk Gibran jadikan istri Gibran." Gibran menyambung kata-kata Papanya.
Deg
Perkataan yang diucapkan oleh Gibran membuat Rosa tercengang sementara detak jantung berdegup sangat kencang. Apa yang dia khawatirnya tentang apa yang dikatakan Kakak iparnya ternyata benar. Gibran memang datang bersama orang tuanya untuk melamar dirinya. Bukan dia tidak suka dilamar oleh pria yang dia sukai, namun dia merasa belum siap jika harus menikah cepat.
Sementara Fariz menghela nafas sejenak, untung saja sebelumnya Raffasya sudah mengajaknya bicara soal kemungkinan Gibran akan meminang putrinya.
" Kira-kira kapan Om akan mengijinkan saya menikahi Oca, Om?" Gibran nampak tak sabar karena dia memang ingin segera melepas masa lajangnya.
" Bagaimana, Oca? Kapan kamu siap berumah tangga?" Kali ini Fariz bertanya kepada putrinya itu yang seketika terkesiap tak menyangka Papanya akan melemparkan pertanyaan itu kepadanya.
" Hmmm ..." Tentu saja Rosa kebingungan mendapatkan pertanyaan dari Papanya itu.
" Mama rasa Oca membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diri untuk melangkah ke jenjang pernikahan, Pa. Karena sebelumnya dia tidak pernah mempunyai planning menikah di usia muda, kan? Sebaiknya diberi waktu sekitar setahun untuk Oca mempersiapkan dirinya dulu." Lusiana menyampaikan pendapatnya.
" Baiklah, Tante. Saya setuju jika akan menikah dengan Oca tahun depan." Di luar dugaan Gibran menyetujui saran Lusiana untuk memberi waktu satu tahun untuk Rosa mempersiapkan pernikahannya.
" Bagaimana, Oca? Kamu setuju?" tanya Fariz.
Rosa menoleh ke arah Papanya, Gibran, Fatur dan Lusiana secara bergantian.
" Oca ... Oca terserah Papa dan Mama saja,* akhirnya Rosa menyahuti pertanyaan Papanya.
" Alhamdulillah jika Oca pun setuju menikah dengan Gibran tahun depan." Fatur nengarik nafas lega, karena dia juga khawatir keluarga Rosa menolak menikahkan putrinya dalam waktu dekat karena usia Rosa yang terbilang masih muda dan juga masih kuliah. " Sebaiknya kamu mempersiapkan juga untuk acara pertunangan kamu dengan Oca, Gibran," lanjutnya mengingatkan putranya.
" Iya, Pa. Nanti Gibran akan atur semuanya," sahut Gibran tanpa memutus pandangan pada gadis cantik di hadapannya yang hanya menundukkan wajahnya tak berani menatapnya kembali karena malu.
***
Jelang sore tadi di rumah Raffasya nampak ramai karena pasangan suami Raffasya dan Azkia merayakan tasyakuran empat puluh hari kelahiran Baby Alma. Acara itu di hadiri oleh tetangga sekitar komplek perumahan Raffasya dan juga kerabat dekat Raffasya dan juga Azkia.
Malam harinya setelah sanak saudara satu persatu kembali ke rumah masing-masing, Raffasya dan Azkia masuk ke dalam kamar mereka untuk melepas penat karena harus meladeni tamu seharian ini.
" Alhamdulillah acara tadi sore lancar ya, Pa. Alma juga anteng nggak pakai nangis. Naufal juga nggak rewel walaupun banyak orang dan aku lama menggendong Adiknya." Azkia membaringkan tubuhnya setelah menidurkan. kedua anaknya dan meletakan kedua anaknya itu di kasur bayi yang berbeda.
" Aku juga senang, Ma. Akhirnya Alma sudah empat puluh hari, hehe ..." Raffasya menyeringai menanggapi perkataan istrinya.
Azkia menoleh ke arah suaminya saat mendengar tawa nakal suaminya itu.
" Hmmm, paham aku sama tawa Papa itu." Azkia memahami apa maksud perkataan suaminya tadi.
" Oh ya? Memangnya apa maksud tawaku tadi, Ma?" Raffasya memainkan kedua alisnya ke atas seakan memberi kode kepada istrinya .
" Tawa bahagia karena kepingin ganti oli, hahahaha ..." Kali ini Azkia tertawa lebar namun dia segera menutup tubuh dan wajahnya dengan selimut untuk menghindari serangan dari suaminya.
Apa yang dikatakan dan dilakukan Azkia tentu saja membuat Raffasya gemas sehingga dia menggelitik tubuh Azkia hingga Azkia tertawa karena tak tahan dengan rasa geli yang ditimbulkan oleh ulah suaminya.
" Kamu berani ngeledek aku, Ma!? Nih, rasakan ...!" Raffasya masih menggelitik tubuh Azkia.
" Ampun, Pa ... ampun ..." Azkia lalu menyingkirkan selimutnya.
" Papa mau apa?" Azkia mengusap rahang suaminya dengan suara manja.
" Papa ingin bikin Mama bahagia." Raffasya langsung menyerang istrinya dengan mencium bibir sang istri penuh ga irah.
" Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuat Papa bahagia?' tanya Azkia saat pagutan mereka terjeda.
" Kamu sudah banyak membuat aku bahagia, Ma. Kebahagiaan yang tak terhingga yang aku dapatkan setelah menikah denganmu. Aku merasa aku ini adalah pria, suami, dan Papa paling bahagia di dunia ini, dan semua itu karena kamulah penyebabnya. Terima kasih, Sayang." Raffasya pun kembali menyatukan bibir mereka menyalurkan kehangatan yang semakin menguatkan cinta mereka yang semakin berwarna setelah kehadiran buah cinta mereka.
...TAMAT...
Akhirnya selesai juga kisah MARRY YOU, MY ENEMY. Terima kasih untuk semua dukungan readers setia pencinta kisah Kia & Raffa yang sudah setia mengikuti kisah ini selama setengah tahun ini🙏🙏🤗 Sampai jumpa di kisah-kisah dari REZ Zha lainnya.
Jangan lupa baca juga kisah terbaru Kayra & Erlangga. Jika berkenan yang selama ini kasih vote & gift di MYME, dipindahkan saja ke novel baru ini, makasih🙏
Happy Reading❤️