MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Melakukan Dosa



Raffasya menghentikan mobil Azkia di parkiran sebuah rumah penginapan yang tidak terlalu besar dan ramai. Hanya ada enam buah motor matic dan dua mobil terparkir di sana.


Raffasya membuka pintu penumpang di mana Azkia terlihat semakin kacau dengan baju bagian atas yang terbuka. Raffasya sampai menelan salivanya saat dia mencoba mengancingkan kembali baju Azkia sedangkan Azkia lansung merangkulkan tangannya ke leher Raffasya hingga membuat tubuh Raffasya tertarik dan menindih tubuhnya dengan kaki masih menjejak tanah.


" Uugghh ... panas, Kak." keluh Azkia lirih.


Raffasya yang kembali melihat Azkia nampak gelisah dan tersiksa langsung mengangkat tubuh Azkia dengan satu lengannya. Dia memposisikan Azkia untuk berdiri dan berjalan walau dengan langkah gontai masuk ke dalam hotel. Tangan Raffasya melingkar di punggung Azkia sementara kedua tangan Azkia memeluk erat pinggang Raffasya sementara wajahnya yang semakin memerah ditenggelamkan di dada Raffasya.


" Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya pegawai di bagian resepsionis.


" Siang, saya sudah pesan satu kamar atas nama Raffasya, Mbak." Raffasya memang meminta bantuan Harlan untuk memesankan kamar hotel untuk membantu Azkia melunturkan pengaruh obat yang sepertinya semakin menguat mempengaruhi bira hi Azkia.


" Oh, yang tadi telepon, ya?" pegawai itu mengira saat Harlan menelepon adalah dirinya.


" Iya."


" Check in nya masih dua jam lagi, Mas." ucap pegawai hotel saat melirik jam dinding masih menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit.


" Saya bayar dua kali lipat asal saya bisa masuk sekarang! Saya harus menolong teman saya ini!" Raffasya menunjuk ke arah Azkia yang terlihat tak tenang.


" Oh, sebentar, Mas." Pegawai itu meminta Raffasya untuk menunggu sejenak.


" Kalau masih nggak bisa juga, kasih tahu siapa pemilik penginapan ini, nanti saya bicara langsung sama orangnya!" tegas Raffasya karena Harlan mengatakan pemilik penginapan itu adalah temannya.


" Iya tunggu sebentar ya, Mas. Mas duduk saja dulu di situ, kamarnya sedang dipersiapkan dulu." sahut pegawai tadi.


Setelah kurang dari sepuluh menit menunggu, Raffasya pun bisa masuk ke dalam kamar yang dipesannya.


Raffasya lalu meletakan tubuh Azkia ke atas tempat tidur namun Azkia terlihat enggan melepaskan pelukannya dari tubuh Raffasya. Bahkan Azkia mulai menempelkan bibirnya di kulit leher Raffasya.


" May, lepasin! Gue nggak ingin nantinya jadi masalah." Raffasya mencoba melepaskan tubuhnya yang masih terus dipeluk erat oleh Azkia. Namun Azkia yang libi do nya sedang meningkat tidak memperdulikan ucapan Azkia, bersentuhan kulit justru semakin merang sang ga irahnya.


" Almayra ..." ucapan Raffasya terpotong saat bibir Azkia kini menyentuh bibir Raffasya. Bahkan hembusan nafas Azkia yang terasa di kulit wajah Raffasya seolah menghadirkan gelenyar aneh di tubuh pria itu. Apalagi Azkia terus saja mengecup bibir Raffasya seolah memercikan has ratnya sebagai pria normal, Belum lagi tubuh Azkia yang terus menggeliat di bawahnya hingga Raffasya merasakan gesekan di bagian pusatnya.


Raffasya yang terus menerus diserbu oleh sentuhan bibir Azkia membuatnya goyah hingga akhirnya dia pun membalas gerakan bibir Azkia yang menempel di bibirnya hingga kini aktivitas yang awalnya hanya sebuah ke cupan kini meningkat saat bibir mereka saling melu mat hingga suara decapan terdengar mewarnai kamar hotel itu. Bahkan pertemuan dua bibir itu semakin meningkat saat mereka saling mengeksplor bagian rongga mulut masing-masing. Mereka bahkan enggan saling melepas pagutannya walaupun sekedar untuk menghirup oksigen.


Azkia mende sah, bahkan suara yang keluar dari bibir wanita cantik itu bagaikan rang sangan bagi Raffasya hingga kini tangan Raffasya yang beberapa kali merapihkan kancing baju yang dikenakan oleh Azkia, kini justru melucuti benda kecil yang menempel di baju Azkia hingga terbuka semuanya.


Kini pandangan mata Raffasya dipenuhi tubuh putih mulus dengan pemandangan dua bukit yang masih tertutup. Raffsya kini memainkan bibirnya di leher jenjang Azkia. Memberikan sentuhan dan gigitan hingga meninggalkan warna merah di leher berwarna putih bersih itu. Sedangkan tangannya mulai bergerak menyentuh dan mere mas kedua bukit dan berusaha menyingkirkan penghalangnya. Setelah berhasil menyingkirkan kain yang menutupi keindahan alami perbukitan, Raffasya menatap keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa itu penuh rasa takjup sampai berkali-kali dia menelan salivanya.


Azkia yang merasa Raffasya tertegun tak menyentuhnya, membuat dia kembali menarik tubuh pria itu hingga mereka saling beradu bibir kembali namun dengan tangan Raffasya yang mulai aktif menjajah kedua bukit itu.


Kini bibir Raffasya turun hingga ke dada dan menguasai puncak dari perbukitan yang kini sukses ditaklukannya. Bahkan saat ini rongga mulutnya berhasil menguasai kedua bagian kembar itu membuat Azkia mende sah panjang.


Jari Azkia kini menyisir rambut lebat Raffasya bahkan menekan kepala bagian belakang Raffasya hingga wajah Raffasya benar-benar tersesat di perbukitan itu.


Permainan Raffasya di daerah perbukitan Azkia seakan terus membangkitkan ga irah Azkia hingga membuat daerah di bawah hutan gersangnya lembab.


Setelah puas menjelajah di daerah perbukitan kini Raffasya menatap bagian bawah Azkia yang saat ini mengenakan celana ketat tiga perempat. Tangan Raffasya mengelus bagian yang masih tertutup dan kembali menyatukan bibir mereka.


Azkia yang terus merasa terbakar kini bahkan makin aktif dengan menarik kaos yang dikenakan Raffasya dan meloloskannya dari tubuh pria itu hingga kini menampakkan tubuh berotot Raffasya.


Pemandangan kulit dengan otot liat Raffasya membuat Azkia bangkit dari posisi tidur hingga dia menjatuhkan tubuh Raffasya di atas tempat tidur dan kini Azkia yang berada di atas tubuh Raffasya. Azkia menyentuh bagian dada Raffasya dengan bibirnya membuat Raffasha yang kini mende sah karena dia pun sama-sama sudah terbakar apalagi saat bibir Azkia menyentuh pusarnya, membuat Raffasya sudah kehilangan akal sehatnya.


Raffasya kemudian menarik ikat pinggang dan membuka resleting dan menurunkan celana jeans-nya. hingga memperlihatkan boxer yang menutupi rudal yang menegang siap untuk meluncur.


Bibir Azkia yang terus menikmati kulit berotot liat Raffasya saat ini sudah sampai di bawah perut Raffasya hingga lehernya menyentuh rudal yang masih berbalut penutup. Tangan Azkia mengelus rudal itu dan terus memandanginya hingga akhirnya Raffasya membuka penutup rudalnya hingga rudal itu terlihat berdiri tegak.


Mata Azkia terbelalak melihat benda yang pernah dia lihat di film yang diputar di acara bridal shower Chelsea beberapa hari lalu. Azkia yang penasaran lalu menyentuhkan tangannya ke rudal itu hingga dia mempraktekkan apa yang pernah dia tonton sebelumnya.


Raffasya memejamkan matanya saat bagian intinya sedang dimainkan oleh tangan Azkia. Dia merasa tidak kuasa menahan serbuan ga irah. Raffasya lalu bangkit dan berganti posisi dengan Azkia. Saat ini Azkia yang berada di bawah tubuhnya. Lalu dengan cepat Raffasya pun membuka pakaian bawah Azkia yang menyisahkan satu CD yang nampak basah di bagian tengahnya.


Raffasya kemudian membuka kain penutup berenda yang sudah mulai lembab itu dari tubuh Azkia hingga saat ini bagian tubuh Azkia dari ujung kepala sampai ujung kaki terlihat jelas di mata Raffasya. Dan Raffasya kembali menelan salivanya saat dia akhirnya melihat kembali dengan jelas bagian yang dia sebut gersang. Kini tangannya justru memainkan hutan gersang Azkia hingga Azkia melenguh dan menggeliat. Raffasya pun kini menurunkan wajahnya dan bermain-main sebentar di sekitar hutan gersang hingga dia menemukan goa yang sudah lembab.


Kabut ga irah semakin tebal menutupi kedua insan berbeda jenis. Akal sehat pun sudah tak berfungsi saat itu. Yang ada hanya cara menyalurkan gelora has rat yang terus membara hingga kini Raffasya menempelkan dan menepuk rudalnya di hutan gersang sebelum diluncurkan.


Setelah beberapa saat akhirnya Raffasya siap meluncurkan rudal yang siap menerbangkan mereka berdua hingga ke atas awan. Raffasya sedikit kesulitan karena area yang masih sangat sempit untuk dijajahnya saat dia mencoba memasuki Azkia.


" Aaakkhh .. sakiiiitttt ..." Azkia menge rang panjang bahkan hampir menjerit saat akhirnya rudal berhasil diluncurkan Raffasya, membuat Raffasya menyumpal bibir Azkia dengan bibirnya.


" Sakiiittt ..." keluh Azkia saat pagutan mereka terjeda sementara Raffasya terus bergerak.


" Lu bisa cakar tubuh gue kalau masih merasa sakit, May." bisik Raffasya di telinga Azkia saat Azkia terus meringis mengeluh sakit.


Hingga berjalan beberapa menit, Azkia kini lebih tenang, rasa sakit yang dia rasa diawal bahkan kini hilang berganti dengan suatu yang nikmat yang dia rasakan hingga kini suara de sahan dan era ngan silih berganti keluar dari mulut Raffasya dan Azkia. Mereka berdua layaknya sepasang suami istri yang sedang menikmati malam pertama mereka tanpa menyadari jika saat ini mereka sedang melakukan dosa karena aktivitas penyatuan tubuh mereka.


Tubuh mereka berdua berpeluh, bahkan pendingin ruangan tidak mampu meredam panasnya has rat mereka yang bergelora. Raffasya masih terus bergerak. Rudal yang Raffasya luncurkan sukses membawa mereka terbang hingga menembus awan. Dan saat dirasakan akan mencapai puncak, Raffasya semakin mempercepat gerakannya.


" Almayra ... aaakkkhh ..." Raffasya akhirnya mencapai pelepasannya dan melelehkan cairan ke dalam bagian dalam Azkia, hingga tubuh Azkia menggelinjang dengan nafas tersenggal-sengal.


Raffasya menjatuhkan tubuhnya di samping Azkia yang terlihat kelelahan setelah aktivitas panjang lebih dari sejam mereka lalui.


Raffasya lalu menolehkan wajahnya ke arah wajah Azkia yang berpeluh. Dia lalu menyampirkan rambut Azkia yang menempel di pipi wanita itu karena terkena keringat. Dia melihat Azkia tertidur setelah aktivitas berbagi peluh mereka.


Raffasya lalu bangkit dari tidur lalu mengusap kasar wajahnya karena saat ini akal sehatnya telah kembali dan dia menyadari jika apa yang mereka lakukan adalah salah, apalagi saat dia melihat bercak darah di sprei. Raffasya mendengus kasar sebelum akhirnya dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah dia membersihkan diri, dia lalu membersihkan tubuh Azkia yang telah dia jajah untuk pertama kalinya. Dia membersihkan jejak percintaan mereka di inti Azkia. Dia pun kembali memakaikan lagi baju Azkia seperti semula.


Selama Azkia tertidur, Raffasya memandangi tubuh Azkia dari sofa di samping tempat tidur itu berada.


" Si al! Kenapa gue malah terjebak dengan dia?!" Raffasya berkali-kali menyesali apa yang telah dia lakukan tadi dengan Azkia.


Raffasya lalu mengetikkan sesuatu di mesin pencarian informasi tentang berapa lama efek obat itu bekerja di tubuh Azkia. Dia terkesiap saat mengetahui jika efek obat itu bertahan empat sampai lima jam, bahkan ada artikel yang mengatakan bisa bertahan sampai dua puluh empat jam.


Raffasya kini mencari cara untuk menghilangkan efek obat itu, hingga akhirnya dia keluar dari hotel untuk membeli apa saja yang bisa digunakan agar efek obat itu cepat menghilang dari tubuh Azkia.


***


Lima belas menit kemudian Raffasya sudah kembali ke kamar hotel. Dia melihat Azkia masih tertidur. Dia lalu menaruh air mineral, air kelapa muda dan juga obat penahan nyeri dan sakit kepala dan dua bungkus makanan.


Raffasya kini duduk di tepi tempat tidur, namun dia terkejut saat bunyi teleponnya berdering.


" Kenapa, Lan?" tanya Raffasya saat dia menjawab panggilan yang ternyata berasal dari Harlan.


" Woi, lu asyik inde hoy sampai lupa lu punya janji ketemu sama Bang Dimas, lu? Ini sudah hampir jam dua Bro!"


Raffasya menepuk keningnya karena dia, Harlan dan Dimas memang janji bertemu selepas Dzuhur.


" Sorry, Lan. Kayaknya gue nggak bisa ke sana. Lu langsung nego sama Bang Dimas saja, deh." Raffasya yang memang tidak bisa meninggalkan Azkia sendirian memilih batal bertemu.


" Hahaha lagi nanggung atau lagi nambah, lu? Hahaha ..." ledek Harlan. " Gimana rasanya, Bro? Masih virgin nggak? Kalau yang masih ori biasanya legit rasanya ... hahaha ...."


" Si alan, lu!" umpat Raffasya.


" Eh, tapi lu garap juga 'kan sawah cewek itu?"


" Berisik, lu!" Raffasya melirik ke Azkia yang kini menggeliat. " Gue tutup teleponnya, mau kasih dia obat dulu." Raffasya kemudian mematikan sambungan telepon dengan Harlan.


" Uuughhh ..." Azkia mengerjapkan matanya.


" Lu minum dulu air ini." Raffasya menyodorkan air kelapa kepada Azkia.


Azkia menoleh ke arah air kelapa yang disodorkan oleh Raffasya hingga dia bangkit dari posisi tidurnya.


" Aaakkkhh ..." Azkia spontan menyentuh daerah inti yang sudah tertutup celana tiga perempatnya. " Kok nyeri, ya? Aku habis diapain sama Kak Raffa?"


Raffasya melihat Azkia sepertinya merasakan sakit di bagian intinya langsung mendekatkan sedotan air kelapa muda itu ke bibir Azkia.


" Minumlah dulu!" perintah Raffasya hingga akhirnya Azkia menuruti apa yang diperintah Raffasya.


" Sebaiknya lu mandi dulu! Gue siapkan dulu air hangatnya." Raffasya kemudian menyiapkan air hangat di dalam bathtub karena mandi dengan air panas dianggap bisa membantu mengatasi pengaruh obat, setidaknya itulah yang dia baca di artikel di ponselnya.


" Airnya sudah siap, lu bisa mandi sekarang!" ucap Raffasya.


Namun Azkia hanya terdiam tak mengikuti perintah Raffasya. Dia justru terlihat kembali gelisah seraya mengusap tengkuknya.


" Panas sekali rasanya ..." keluh Azkia.


Raffasya yang menyadari Azkia mulai kembali merasakan efek dari obat itu segera mendekati Azkia dan segera melucuti pakaian Azkia karena dia ingin mengguyur Azkia dengan air hangat walaupun dia sendiri harus bersusah payah menetralisir ga irahnya yang seketika bangkit saat melihat tubuh polos Azkia di hadapannya.


Raffasya kemudian mengangkat tubuh Azkia dan menaruhnya di dalam bathtub. Dia mengguyur kepada Azkia dengan air hangat, sementara tangan Azkia justru mengelus paha Raffasya.


Raffasya menelan salivanya menghadapi godaan yang tanpa sadar dilancarkan Azkia apalagi di dalam bathtub sendiri Azkia masih saja menggeliat.


" Gue nggak mungkin melakukan hal seperti tadi, May! Gue nggak mau urusannya semakin runyam," ucap Raffasya.


Azkia memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Rasa pusing di kepalanya kini kambuh lagi hingga akhirnya dia menenggelamkan kepala dan wajahnya ke dalam bathtub.


Raffasya terkesiap melihat tindakan Azkia hingga akhirnya dia mengangkat kembali tubuh Azkia karena panik. Raffasya membalut tubuh Azkia dengan handuk lalu meletakan kembali ke atas tempat tidur. Raffasya merasa pengaruh obat itu kembali bekerja di tubuh Azkia.


" Breng sek lu, Dys! Awas saja kalau lu berani muncul di hadapan gue!" geram Raffasya.


Raffasya lalu menyentuh hutan gersang Azkia, dia terpaksa memuaskan Azkia dengan permainan jari tangannya di inti Azkia hingga Azkia kembali merasakan pelepasan.


" May, lu belum makan. Sebaiknya lu makan dulu!" Raffasya kemudian keluar kamar untuk meminjam piring dan sendok kepada pegawai hotel. Raffasya lalu menyusun bantal untuk menyanggah punggung Azkia. Dia lalu membuka bungkusan nasi rendang yang sudah dia beli untuk Azkia.


" Makanlah!" Raffasya menyodorkan makanan itu ke arah Azkia namun Azkia menggelengkan kepalanya seraya memijat pelipisnya.


" Lu harus minum obat jadi lu harus makan dulu." Raffasya kemudian duduk di tepi tempat tidur kembali dan menyendok sesuap nasi yang dia arahkan ke mulut Azkia, namun Azkia menjauhkan wajahnya dari sendok yang disodorkan kepadanya.


" Jangan bandel deh, May! Ini sudah siang dan lu pasti belum makan. Lu itu banyak kehilangan tenaga jadi lu harus makan terus minum obat biar cepat pulih!" ketus Raffasya membuat Azkia akhirnya mau membuka mulutnya dan menyantap makanannya walaupun hanya enam sendok. Setelah itu Raffasya memberikan obat untuk diminum oleh Azkia.


" Kenapa lu bisa sampai dijebak oleh Gladys? Ada masalah apa lu sama Gladys?" Raffasya mencoba menyelidiki kenapa Azkia sampai dikerjai oleh Gladys dan teman-temannya. Mungkin seandainya dia tidak datang di saat yang tepat, Azkia saat ini sudah digilir oleh dua pria teman Gladys tadi. Raffasya sendiri teringat ucapan Gladys yang mengatakan agar jangan lupa merekam adegan yang akan terjadi. Kalau Gladys meminta direkam, Raffasya menduga jika Gladys berniat memeras Azkia.


" May, dari mana lu kenal Gladys?" tanya Raffasya kembali yang dijawab Azkia dengan menggelengkan kepala lemah.


" Ya sudah, sebaiknya lu istirahat saja. Gue mau keluar sebentar nanti gue balik lagi ke sini." Raffasya kemudian bangkit namun tangan Azkia mencekalnya.


Raffasya menoleh ke arah tangan Azkia yang mencengkram pergelangan tangannya, seakan Azkia tidak ingin dia meninggalkannya.


" Ya sudah gue akan di sini temani lu, tapi lu jangan minta yang macam-macam lagi! Jangan bikin kepala atas bawah mendadak pusing lagi!" Raffasya lalu mengambil nasi milik Azkia yang tidak habis tadi, lalu duduk di sofa dan menyantap nasi bekas makan Azkia tadi.


*


*


*


Bersambung ...


Yeaayyy akhirnya sampe juga di part ini😁


Happy Readingā¤ļø