MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Mengurus Naufal



Tok tok tok


Terdengar pintu ruang kerja Raffa diketuk, tak lama Adam masuk ke dalam ruangan Raffasya dan berkata, " Maaf, Mas Raffa. Ada tamu yang mencari Mas Raffa, katanya teman sekolah Mas Raffa waktu SD dulu." Adam menyampaikan berita kepada Raffasya tentang kehadiran orang yang datang ke Raff caffee dan mengaku sebagai teman SD Raffasya.


" Teman SD?" Raffasya mengeryitkan keningnya. Dia mengira jika Donny lah orang yang mengaku sebagai teman SD nya yang Adam maksud. Karena hanya Donny teman SD nya yang tahu soal cafenya ini.


" Suruh masuk saja, Dam!" Raffasya memerintahkan Adam untuk membawa masuk orang yang dia sangka adalah Donny.


" Baik, Mas." Adam lalu keluar untuk membawa teman Raffasya yang mendatangi Raff caffee.


Tak lama kemudian Adam sudah kembali ke ruangan Raffasya bersama dua orang pria, dan tak ada Donny di antara dua orang yang datang bersama Adam.


" Hai, Raf. Apa kabar?" Salah seorang pria teman Raffasya berwajah oriental langsung memberikan fist bump ke arah Raffasya. " Masih ingat kami, nggak?" tanyanya kemudian.


" Tunggu, tunggu. lu ini ... Nathan,. kan?" Raffasya mencoba mengingat pria yang menyapanya itu.


" Wah, lu masih ingat juga sama gue. Ingatan lu tajam juga, Raf." ujar Nathan, tak menyangka ternyata Raffasya masih mengingatnya.


" Gue masih muda, belum tua-tua amat, tentu saja masih ingat," sahut Raffasya. Dia lalu melirik ke pria di samping Nathan.


" Kalau sama gue, lu ingat juga nggak, Raf?" tanya pria berwajah timur tengah.


" Lu, Ali, kan?" Raffasya pun menebak pria yang dia ingat sebagai pesaingnya dalam hal pelajaran jaman sekolah dulu.


" Kalau sama Ali mana mungkin lu lupa. Dia 'kan saingan lu kalau kejar-kejaran rangking di sekolah. Walaupun pas akhir-akhir lu banyak kalah dari Ali." Nathan mengingatkan akan masa mereka sekolah dulu. Dampak perpisahan orang tua Raffasya memang mempengaruhi prestasi Raffasya di sekolahnya.


" Ayo duduk-duduk ..." Raffasya mempersilahkan kedua teman sekolahnya itu untuk duduk di sofa. " Lama juga nggak pernah ketemu, ya?"


" Iya, dan nggak sangka lu sudah sukses jadi pengusaha cafe, Raf." sahut Ali.


Raffasya tertawa kecil dan menjawab, " Biasa saja, cuma usaha kecil-kecilan." Raffasya berusaha merendah.


" Tapi lumayan ramai juga cafe lu ini, Raf." Nathan mengomentari.


" Ya, Alhamdulillah ..." sahut Raffasya. " Oh ya, kalian sendiri gimana? Kesibukan kalian apa sekarang?" tanyanya kemudian.


" Gue ikut bantu usaha bokap gue, Raf." ujar Nathan yang mempunyai orang tua sebagai pedagang barang-barang elektronik.


" Kalau lu, Li?" tanya Raffasya.


" Kalau gue kerja di perusahaan BUMN, Raf. Cuma sekarang ini lagi cuti." jawab Ali.


" Ya syukurlah, kita sudah punya kesibukan masing-masing." ujar Raffasya. " Oh ya, ngomong-ngomong ada angin apa kalian kemari? Darimana kalian tahu gue di sini?" tanya Raffasya kemudian.


" Kami dapat info dari Bu Santi kalau tempat usaha lu di La Grande. Tapi ternyata sedang renov dan dapat info dari orang di sana kalau kantoran lu di sini." Ali menerangkan bagaimana dia sampai mengetahui posisi Raffasya saat ini.


" Oh iya, cafe gue itu kemarin kena musibah jadi sedang dalam tahap renovasi."


" Waduh, gue turut prihatin, Raf." Ali langsung menyampaikan rasa empatinya.


" Thanks, Li. Oh ya, jadi ada maksud apa kalian mencari gue?


" Begini, Raf. Kami berencana mengadakan reunian angkatan kita sekolah dulu. Karena sudah lumayan lama juga kita nggak pernah berkumpul untuk menjaga silaturahmi sesama angkatan sekolah kita." Nathan menerangkan maksud dan tujuannya menemui Raffasya.


" Kapan acara reuni diadakan?" tanya Raffasya.


" Rencananya bulan depan. Tadinya sih, kami mau menawarkan proposal untuk acara reuni nanti. Tapi karena lu baru kena musibah, nggak enak rasanya mau mengajukan proposalnya." Nathan merasa tahu diri karena kondisi Raffasya yang baru tertimpa musibah, membuatnya tak enak hati mengajukan proposal reuni kepada Raffasya.


" Mana proposalnya? Nanti gue ikut partisipasi." Raffasya meminta proposal itu dari Nathan.


" Nggak apa-apa nih, Raf? Lu 'kan baru kena musibah." Ali dan Nathan saling berpandangan.


" Nggak masalah, Li. Gue minta nomer rekeningnya saja, nanti dananya gue transfer." Setelah sekilas membaca proposal yang diserahkan oleh Nathan, Raffasya pun menyetujui turut berpartisipasi dalam menyumbangkan dana untuk acara reuni tersebut.


" Thanks banget nih, Raf." Ali dan Nathan nampak antusias mendapat respon positif dari Raffasya.


" Sama-sama, gue juga senang bisa perpartisipasi untuk acara reunian nanti, walaupun gue nggak sumbang tenaga. Sayang banget La Grande masih renov, kalau nggak kena musibah sih, gue bisa pinjamkan tempat untuk acara reuni nanti."


" Nggak apa-apa kok, Raf." Nathan memaklumi. Dia lalu mengedar pandangan, dan menatap foto pernikahan Raffasya dan Azkia yang terpajang menggunakan figuran berukuran besar di ruangan kerja Raffasya. " Lu sudah nikah, Raf?" tanya Nathan kemudian.


Raffasya mengikuti arah pandangan Nathan yang masih belum beralih dari foto pernikahan dirinya dengan Azkia.


" Iya, Tan." Raffasya melebarkan senyum di bibirnya.


" Cantik juga bini lu, Raf. Pintar lu cari bini." Ali memuji kecantikan Azkia.


Raffasya kini menoleh ke arah Ali dan Nathan bergantian.


" Kayaknya kalian juga kenal siapa dia." Karena seringnya Raffasya membuat masalah dengan Azkia saat sekolah dulu, sudah pasti Azkia cukup di kenal di sekolahan mereka terutama di kelas Raffasya.


" Oh ya? Kenal di mana?" Ali mengeryitkan keningnya.


" Apa jangan-jangan dia teman sekelas kita dulu?" Karena setelah lulus SD, mereka tidak saling bertemu, tidak mungkin Nathan kenal dengan wanita yang menjadi istri Raffasya jika bukan di lingkungan sekolah.


" Bukan teman sekelas tapi adik kelas kita," sahut Raffasya tertawa kecil.


" Adik kelas? Siapa? Kok gue penasaran, sih?" Ali makin penasaran.


" Kalian pasti nggak akan percaya kalau gue sebutin." Raffasya kembali terkekeh.


" Siapa sih, Raf?" Nathan tidak sabar ingin segera mengetahui wanita yang menjadi istri Raffasya itu.


" Adiknya Alden ..." Raffasya menyeringai.


" Adiknya Alden? Alden siapa?" tanya Nathan bingung, karena mereka memang tidak satu angkatan dengan Alden.


" Alden yang jago karate itu lho, Tan. Yang anaknya dosen, yang Om nya punya banyak hotel, kan?" Ali sepertinya lebih hapal akan sosok Alden.


" Yang jago karate? Oh Alden itu ..." Nathan mulai mengingat siapa Alden.


" Eh, tunggu-tunggu, adiknya Alden itu 'kan ... yang sering ribut sama lu, Raf?" Ali pun ingat jika Raffasya dan Azkia tidak saling akur.


" Oh iya, benar-benar, tuh! Lu sama adiknya Alden 'kan selalu ribut terus. Dan lu hampir dikeluarin dari sekolah gara-gara lu sering gangguin adiknya si Alden itu." Nathan menambahkan karena ingatannya mulai jelas mengenal sosok Azkia.


" Ya, apa yang kalian ucapkan itu memang benar. Bini gue itu adiknya Alden, cewek yang dulu sering gue ajak berantem, yang sering gue gangguin." Raffasya mengiyakan apa yang diucapkan teman-temannya.


" Kok bisa, Raf??" Baik Nathan maupun Ali sama-sama tidak percaya dengan kenyataan yang ditunjukkan Raffasya.


" Jika Allah memang sudah berkehendak, apa yang nggak bisa??" Raffasya mengedikkan bahunya. Mungkin bagi semua orang yang mengenal bagaimana hubungan dia dan Azkia dulu, pasti akan merasa tidak percaya jika kini dia dan Azkia adalah pasangan suami istri yang kini sudah sama-sama saling mencintai.


" Apa jangan-jangan dulu itu lu sudah dijodohkan sama dia?" Ali melemparkan pertanyaan konyol.


" Eh tapi sumpah, gue benaran kaget dengar lu nikah sama dia. Memang benar kali ya, pepatah bilang jarak benci sama cinta itu setipis kulit ari?" Ali mengusap rahangnya yang ditumbuhi rambut halus.


" Bisa dibilang seperti itu," sahut Raffasya.


" Terus rumah tangga lu selama ini baik-baik saja?" Nathan menyeringai karena merasa kepo dengan perjalanan kisah cinta Raffasya.


" Alhamdulillah, baik-baik saja. Bini gue baru melahirkan dua Minggu lalu." Dengan wajah sumringah Raffasya mengatakan kondisi rumah tangganya kepada kedua teman sekolahnya itu. Rasanya tak ragu dia membagikan kebahagiaannya kepada banyak orang sebagai rasa syukur atas apa yang sudah Tuhan berikan kepadanya, seorang istri dan juga bayi yang sangat lucu.


****


" Assalamualaikum ..." Raffasya mengucapkan salam saat masuk ke dalam kamarnya sepulangnya dia dari cafe. Sejak kelahiran Naufal, Raffasya semakin bersemangat pulang lebih awal ke rumahnya karena rasa excited bercampur rasa kangen pada putranya tersebut membuat Raffasya merasa lebih betah berada di rumahnya.


" Waalaikumsalam, Papa sudah pulang tuh, Dek." Azkia yang sedang menemani Naufal yang diletakkan pada baby bouncer di permadani di bawah tempat tidurnya. Azkia kemudian bangkit dan mencium tangan Raffasya serta memeluk tubuh tegap suaminya itu.


" Halo jagoan Papa ..." Raffasya menyapa putranya yang mencari-cari asal suaranya karena pandangan Naufal masih belum fokus menangkap apa yang ada di hadapannya.


" Kak Raffa mandi dulu, deh." Azkia menyuruh suaminya agar membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menyentuh Naufal. Dia lalu melangkah ke arah lemari pakaian untuk mengambil pakaian yang akan dipakai suaminya.


" Ditemenin sama Mamanya Naufal boleh nggak mandinya?" Raffasya justru mengekor langkah Azkia dan memeluk tubuh ibu dari anaknya itu dari belakang.


" Kak, iihhh ... bukannya cepat mandi!" Azkia memprotes sikap Raffasya yang tidak segera masuk ke kamar mandi, namun malah memeluk dan menciumi pipi dan ceruk lehernya.


" Aku kangen mandi berdua sama kamu, May." Raffasya seolah enggan melepas Azkia.


" Sabar dong, Kak. Suami sabar pasti disayang istri." Azkia memutar tubuhnya. Tangannya kemudian membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Raffasya.


Raffasya menyeringai mendapati tindakan Azkia yang melucuti kancing bajunya. " Kode ini, May?" tanyanya dengan senyum nakal.


" Nggak usah me sum, deh! Aku lepas baju Kak Raffa biar Kak Raffa cepetan mandi. Buruan deh mandi!" Azkia lalu mendorong tubuh suaminya ke arah kamar mandi, sementara Raffasya langsung tergelak dan akhirnya melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


***


" Eheek ... eheek ..."


Raffasya mengerjapkan matanya saat dia mendengar suara rengekan Naufal. Dia menoleh ke arah Naufal yang tidur di antara dirinya dan juga Azkia. Azkia dan Raffasya memang tidak menaruh Naufal tidur di box baby karena mereka merasa kasihan jika Naufal tidur terpisah dari mereka walaupun masih dalam satu kamar.


Raffasya menoleh istrinya yang masih terlelap seolah tak terganggu dengan suara rengekan Naufal.


" Ssssstttt ... kenapa, Sayang?" Raffasya menepuk lembut paha Naufal yang masih terus merengek. Dia lalu menyibak selimut Naufal dan mengecek diapers putranya itu yang ternyata sudah penuh dengan ompol. " Sudah penuh ya pampersnya?" Raffasya lalu bangkit dan mengambil diapers yang baru. Dengan hati-hati dia mencoba mengganti celana dan diapers baru untuk Naufal. " Nah, sudah diganti, sekarang Naufal bobo lagi ya, Sayang." Raffasya kembali membaringkan tubuhnya di samping Naufal dan menepuk lembut paha anaknya itu.


" Eheekk ... eheekk ..." Naufal masih saja merengek.


" Ssssstttt, kenapa, Sayang? Naufal haus, mau ne nen, ya?" Raffasya kembali menoleh ke arah Azkia yang masih saja terlelap. Dia tidak tega untuk membangunkan istrinya itu. Dia menyadari jika sebagian ini pasti Azkia merasa kelelahan mengurus Naufal. " Nanti Papa siapkan dulu su sunya, ya? Mamanya lagi bobo, kasihan Mama capek, Naufal jangan ganggu Mama bobo ya, Sayang." Raffasya mendekatkan jari telunjuknya ke dekat bibirnya kemudian berinisiatif menyiapkan ASI yang disimpan oleh Azkia di lemari pendingin. Dia sering memperhatikan istrinya itu menghangatkan ASI nya yang Azkia simpan di kulkas jika kebetulan istrinya itu tidak dapat memberikan ASI nya secara langsung.


Raffasya mengeluarkan botol ASI dari kulkas. Dia menggunakan cara manual daripada menggunakan bottle warmer. Dia menuang air hangat dari dispenser ke dalam gelas, lalu memasukan wadah ASI itu ke dalamnya hingga hangat kemudian menuang ASI itu ke botol yang baru dan bersih.


" Ini su sunya sudah jadi ..." Raffasya langsung memberikan su su untuk Naufal yang langsung disantap dengan tak sabar oleh Naufal. Namun itu tak berlangsung lama, karena Naufal seakan menolak su su yang Raffasya berikan. Bayi kecil itupun kembali merengek.


" Lho, kenapa lagi, Sayang? Ini su sunya diminum pagi, Sayang." Raffasya terus berusaha memberikan botol su su yang ditolak oleh Naufal.


Naufal terus saja menggeliat dengan menggerakkan tangan dan kakinya ke udara, sementara rengekkannya tak juga berhenti.


Raffasya akhirnya mengangkat tubuh Naufal secara perlahan dan hati-hati kemudian menaruh bayinya itu di lengan kanannya. Sebelumnya dia pernah menggendong Naufal, namun biasanya Azkia lah yang menaruh Naufal di lengan Raffasya karena Raffasya sendiri takut jika harus mengangkat sendiri tubuh Naufal dari tempat tidur. Dia takut jika dia salah mengangkat akan menyebabkan tubuh Naufal sakit terkilir.


Raffasya lalu memberikan botol berisi ASI yang tadi ditolak oleh Naufal. Dan bayi itu pun nampak tenang dengan mulut menyesap ASI dari botol su su.


" Oh, Naufal mau digendong Papa, ya?" Raffasya tertawa kecil saat mendapati putranya itu terlihat tenang dalam gendongnya. Bahkan mata Naufal sudah mulai terpejam walau mulutnya masih terlihat kencang menghisap ASI.


...The Milky Way upon the heavens...


...Is twinkling just for you...


...And Mr. Moon he came by...


...To say goodnight to you...


Pendengaran Azkia merasakan ada suara yang mengusik tidurnya hingga dia mengerjapkan matanya.


...Oh my sleeping child, the world's so wild...


...But you've built your own paradise...


...*That's one reason why...


...I'll cover you sleeping child*...


Mata Azkia kini membulat sempurna saat pendengarannya semakin jelas menangkap suara Raffasya yang sedang menyanyikan lagu Michael Learn To Rock itu. Azkia mendapati punggung Raffasya yang hanya terbalut kaos tanpa lengan yang kini duduk membelakanginya. Dia lalu menoleh ke sebelahnya dan tidak mendapati Naufal berada di sampingnya. Azkia lalu bangkit dari tidurnya saat menyadari suaminya itu sedang menggendong Naufal


" Kak Raffa ..." Azkia langsung menaruh dagunya di pundak suaminya itu. " Tadi Naufal bangun, ya?" tanya Azkia saat melihat putranya itu kini berada di lengan suaminya.


" Iya, tadi dia ngompol sama haus ingin ne nen jadi aku panaskan ASI kamu di kulkas."


" Kenapa Kak Raffa nggak bangunin aku, sih?" tanya Azkia memprotes Raffasya yang tidak membangunkannya.


" Aku nggak tega bangunin kamu, May. Habis kamu kelihatan lelah sekali," sahut Raffasya memberi alasan kenapa tak membangunkan Azkia.


Dari samping Azkia menatap suaminya penuh rasa haru. " Ya ampun, Kak Raffa pengertian banget, deh." Azkia langsung memeluk suaminya dari belakang dan menyandarkan kepala di punggung suaminya beberapa saat. Azkia lalu mengambil Naufal dari Raffasya yang sudah kembali terlelap karena kini mulutnya sudah melepas dot dari mulutnya..


" Padahal nggak apa-apa kok, Kak. Ini 'kan sudah tugas seorang ibu." Azkia tidak masalah harus terbangun untuk mengganti celana dan menyu sui Naufal.


" Ini anak kita, May. Jadi kita harus sama-sama mengurus Naufal. Jangan hanya kamu saja yang merasakan capek mengurus Naufal." Raffasya tetap merasa perlu terlibat dalam mengurus bayinya itu. Karena dia benar-benar ingin memberikan kasih sayang seutuhnya kepada bayinya. Dengan ikut serta mengurus langsung dia harapkan akan semakin menguatkan. ikatan antara dia dan juga darah dagingnya.


" Kak Raffa ..." Azkia kembali merasa terharu. " Aku nggak sangka Kak Raffa mau capek-capek bantu aku urus Naufal."


" Aku nggak mau lihat kamu terlalu capek mengurus Naufal, May. Karena kalau kamu terlalu capek mengurus Naufal, gimana kamu bisa punya waktu mengurus aku? Nanti kalau aku minta jatah, kamu pasti akan bilang ' Aku capek ngurus Naufal, Naufal rewel terus, nangis terus' pasti kamu akan kasih alasan itu, kan?" Raffasya menyeringai.


Azkia langsung membelalakkan matanya mendengar kalimat-kalimat terakhir yang diungkapkan suaminya itu. Ternyata ada maksud tersembunyi dari niat suaminya ingin membantunya mengurus Naufal.


"


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️