MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Mengantar Rosa



Raffasya memasukan dua koper milik Rosa ke dalam bagasi mobilnya. Siang ini dia memang menjemput Rosa di bandara, karena adiknya itu agar segera melanjutkan kuliahnya di Jakarta.


" Kamu ke rumah Kakak saja dulu, besok baru ke kampus. Nanti Mamanya Naufal dan supir yang akan mengantar kamu karena besok Kakak ada urusan ke luar kota," ujar Raffasya kepada Rosa saat mobil yang dikendarainya meninggalkan bandara.


" Iya, Kak." sahut Rosa.


" Kamu yakin akan tinggal di rumah Mamaku, Ca?" Raffasya menoleh ke arah Rosa memastikan keputusan adiknya itu yang memutuskan untuk tinggal di rumah Lusiana.


" Iya, Kak." sahut Rosa kembali. " Aku berpikir jika aku bisa dekat dengan Tante Lusi, akan lebih memudahkan Papa untuk bisa kembali bersama dengan Mama Kak Raffa."


Raffasya sedikit tertegun dengan ucapan adiknya yang terdengar sangat bijak mengharapkan Fariz dah Lusiana agar bisa hidup bersama lagi. Tentu tidak mudah bagi Rosa, jauh di lubuk hati gadis itu menginginkan cinta Papanya hanya untuk Mamanya seorang. Karena itulah Raffasya terlihat agak kaget di usianya yang masih muda, Rosa bisa berpikiran sangat dewasa dan tidak mementingkan egonya sendiri saja.


" Apa kamu menginginkan Papa dan Mamaku bersatu kembali, Ca?" tanya Raffasya mencoba memastikan.


" Kak Kia sangat menyanyangi Tante Lusi begitu juga sebaliknya. Aku rasa Mama Kak Raffa itu adalah seorang Mama yang baik terlepas dari kegagalan rumah tangganya bersama Papa dulu. Aku lebih baik melepas Papa untuk Tante Lusi daripada Papa didekati wanita lain yang belum ketahuan bagaikan sifat dan perilakunya, Kak." tutur Rosa mengungkapkan alasannya kenapa lebih memberikan jalan untuk memuluskan rencana Azkia yang ingin menjodohkan kembali Lusiana dengan Fariz.


Raffasya melengkungkan senyum tipis mendengar alasan yang disebutkan oleh Rosa. Jujur dia merasa bahagia ternyata Rosa ternyata mempunyai hati yang sangat baik dan tulus.


" Makasih kamu bisa menerima Mamaku, Ca. Sebenarnya Kakak juga kaget saat Kakak iparmu bilang kamu menyetujui untuk tinggal di rumah Mamaku. Setahu Kakak, Mama nggak mudah percaya sama orang apalagi sampai membiarkan orang lain tinggal di rumahnya. Kakak harap kalau kamu tinggal di rumah Mamaku, jangan terlalu diambil hati jika Mamaku berbicara dengan nada yang keras. Karakter Mamaku memang begitu, tapi sebenarnya Mama itu baik. Itu sudah terbukti dengan Kakak iparmu yang bisa mengambil hati dan mengimbangi sifat Mamaku." Raffasya menasehati Rosa agar tidak kaget jika harus tinggal satu rumah dengan Lusiana.


Sementara itu di kantornya Lusiana sedang menerima panggilan telepon dari Azkia.


" Assalamualaikum, ada apa, Kia?" tanya Lusiana saat dia mengangkat panggilan telepon dari menantunya.


" Waalaikumsalam ... Ma, hari ini Oca pindah ke Jakarta. Papanya Naufal sedang menjemput Oca di bandara, Ma." Azkia mengabari soal kedatangan Rosa di Jakarta kepada Mama mertuanya.


" Oh ya?" sahut Lusiana menanggapi.


" Iya, Ma. Tapi sementara ini Oca akan tinggal bersama kami karena besok Kia akan mengantar Oca ke kampusnya." Azkia kembali menjelaskan.


" Sampai kapan Rosa akan tinggal bersama kalian?" tanya Lusiana kemudian.


" Sampai Mama mau jemput Oca, hehehe ..." Azkia terkekeh.


" Mama jemput Rosa?" Lusiana mengerutkan keningnya heran.


" Iya dong, Ma. Kan Mama yang mengajak Oca tinggal di rumah Mama, jadi Mama dong, yang harus jemput di rumah kami, kalau Rosa yang yang langsung datang ke rumah Mama 'kan nggak enak." Ada saja alasan yang diberikan Azkia untuk mengerjai Lusiana, walaupun tujuannya untuk memastikan keseriusan Mama mertuanya itu untuk membawa Rosa tinggal di rumah Lusiana.


" Ya sudah, besok sore saja sepulang dari kantor Mama jemput Rosa." Lusiana memutuskan jika dia akan menjemput anak perempuan dari mantan suaminya itu besok sore setelah dia menyelesaikan tugasnya di kantor.


" Iya, Ma. Kia tunggu ya, Ma." Masih terdengar tawa kecil Azkia di telinga Lusiana menandakan menantunya itu terlihat senang.


" Cucu Mama mana? Sedang apa dia?" Kini Lusiana menanyakan keberadaan Naufal.


" Naufal baru saja tidur, Ma. Tadi habis loncat-loncat main trampolin kayaknya kecapean jadi langsung tidur," ujar Azkia menjelaskan apa yang tadi habis dikerjakan anaknya.


" Pasti anakmu itu nggak bisa diam, ya? Kamu sudah makan belum, Kia? Hari ini Bi Neng masak apa?" Lusiana memang sangat perhatian kepada kehamilan Azkia hingga dia selalu mengecek menu apa yang disuguhkan Bi Neng untuk Ibu hamil.


" Hari ini Bi Neng bikin sayur sup daging, Ma." sahut Azkia.


* Ya sudah, sayuran sama buah jangan ketinggalan, Kia. Vitamin dan su su hamilnya juga jangan lupa diminum." Lusiana kembali mengingatkan.


" Iya, Ma. Kia nggak lupa minum, kok! Kan satpamnya bukan Mama saja, ada Papanya Naufal, ada Maminya Naufal, ada Bi Neng, ada Mbak Uni, ada Mbak Atun," Azkia terkekeh menyebutkan orang-orang yang selalu mengingatkannya hampir tiap hari.


Tok tok tok


" Permisi, Bu. Tamu dari pihak bank sudah datang." Sekretaris Lusiana masuk ke dalam ruangan kerja Lusiana dan mengabarkan kalau tamu yang memang sudah dijanjikan berkunjung ke kantornya telah tiba.


Lusiana menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sekretarisnya. " Kia, sudah dulu teleponnya, ya!? Mama ada tamu. Assalamualaikum ..." Lusiana ijin mengakhiri sambungan telepon dengan Azkia.


" Waalaikumsalam ..." Azkia membalas ucapan salam Lusiana sebelum Mama mertuanya itu menutup panggilan teleponnya.


***


Azkia bersiap untuk mengingat Rosa ke kampusnya pagi ini. Karena Raffasya ada pekerjaan yang harus diselesaikan di luar kota akhirnya hanya Azkia saja yang mengantar Rosa ke kampus. Raffasya pun sudah memperingatkan Azkia untuk tidak mengendarai mobil sendiri dan meminta agar Pak Diding menjemput dan mengantar Azkia dan Rosa nanti ke kampus.


" Kamu sudah siap, Ca?" tanya Azkia masuk ke kamar tamu yang ditempati oleh Rosa. Sementara Atun yang akan menemani menjaga Naufal yang sudah turun terlebih dahulu menggendong anak majikannya itu.


" Sudah, Kak. Ayo ...!" Rosa menyampirkan tasnya.


" Sebentar aku pesan Ojol dulu." Azkia kemudian duduk di tepi tempat tidur dan mengambil ponselnya untuk memesan ojek online yang akan membawanya ke kampus tempat Papanya bekerja.


" Kita naik Ojol, Kak? Bukannya Kak Raffa bilang kita diantar supir?" Rosa bertanya heran karena pesan dari kakaknya sebelum berangkat mereka akan dijemput oleh supir dari Papanya Azkia.


" Kelamaan, Ca. Kita suruh Pak Diding ke sini terus antar ke sana, nanti suruh antar lagi ke sini. Makan waktu banget, mending kita ke sana naik Ojol saja lebih cepat." Azkia lalu memesan mobil di aplikasi ojek online di ponselnya.


" Sudah beres tinggal tunggu saja di bawah, yuk!" Azkia mengajak adik iparnya itu untuk turun ke bawah.


" Tapi kalau Kak Raffa tahu gimana, Kak?" Rosa mengkhawatirkan jika kakaknya itu marah jika tahu mereka tidak menuruti apa yang diperintahkan oleh Raffasya.


" Kamu jangan kasih tahu Papanya Naufal, dong! Sudah diam-diam saja yang penting sampai kampus! Ayo ...!" Azkia menggandeng tangan Rosa dan mengajak adik dari suaminya itu turun ke bawah.


" Mbak Kia, Pak Diding sudah datang." Saat hendak melewati pintu kamar, Uni muncul dan memberitahukan jika Pak Diding, supir yang akan membawanya ke kampus sudah sampai.


Azkia mengerutkan keningnya mendengar kabar yang disampaikan oleh Uni.


" Kok Pak Diding? Aku 'kan nggak telepon Pak Diding untuk datang kemari?" tanya Azkia heran. Dia tidak tahu jika sebelum berangkat ke luar kota, suaminya itu sudah menghubungi Yoga untuk menyuruh Pak Diding menjemput Azkia.


" Nggak tahu, Mbak. Pak Diding bilang disuruh Pak Yoga jemput Mbak Kia dan Mbak Oca." Uni menjawab pertanyaan Azkia.


" Kak Kia sudah pesan ojolnya?" tanya Rosa memastikan apakah Azkia sudah berhasil memesan ojek online.


" Sudah, lagi on the way kemari," sahut Azkia.


" Dicancel saja kalau begitu, Mbak." saran Uni.


" Nggak bisa gitu dong, Mbak! Kasihan kalau dicancel." Azkia langsung menghubungi driver Ojol dan memberitahukan jika dia membatalkan memakai mobil yang dia order namun dia tidak mengcancel orderan di aplikasi agar tidak merugikan pengemudi Ojol tersebut.


***


" Kita ke kantin dulu yuk, Mbak Atun! Aku kangen makanan di kantin kampus." Azkia menggandeng tangan Naufal yang ikut berjalan di koridor kampus bersama Atun.


" Assalamualaikum, halo, Bu Dzul ... apa kabar?" Azkia menyapa Ibu kantin di kampusnya ketika dia kuliah saat Azkia menginjakkan kaki di bangunan kantin.


" Waalaikumsalam, eh ... Mbak Kia. Wah, lagi hamil lagi ini, Mbak Kia?" Bu Dzul langsung menghampiri Azkia dan mengusap perut anak dari dosen yang mengajar di kampus itu.


" Iya, Bu. Alhamdulillah dikasih rezeki lagi ..." Azkia tertawa kecil menanggapi.


" Ini si ganteng sudah besar, sudah bisa jalan. Siapa ini namanya, Mbak?" tanya Bu Dzul duduk berjongkok di depan Naufal dan mengelus wajah tampan anak pertama Azkia dan Raffasya itu.


" Namanya Athaya Naufal Pramudya, Ibu ..." sahut Azkia.


" Anak ganteng namanya juga bagus ... bibitnya unggul hasilnya juga super ya, Mbak Kia?" Kali ini Bu Dzul yang terkekeh.


" Hahaha, Alhamdulillah,. Bu ... Bu aku mau batagor, dong! Sudah matang, kan?" Azkia memesan batagor karena tiba-tiba ingin dia ingin memakan batagor.


" Sudah matang, Mbak. Ayo duduk dulu ..." Bu Dzul menyuruh Azkia untuk duduk terlebih dahulu.


" Mbak Atun mau batagor juga?" tanya Azkia menawarkan kepada Atun.


" Nggak, Mbak. Atun masih kenyang." sahut Atun.


" Mau minum atau lainnya?" tanya Azkia kembali.


" Air mineral saja saja, Mbak." jawab Atun.


" Ya sudah Bu Dzul, pesan batagor sama air mineral dan es teh manis, ya!" Azkia menyebutkan pesanannya kepada Bu Dzul.


" Baik, Mbak. Sebentar, Ibu siapkan dulu pesanannya." Ibu Dzul lalu berpamitan untuk menyiapkan pesanan Azkia.


Tak lama pesanan Azkia pun tersaji di atas meja. Sepiring batagor, segelas teh manis dan sebotol air mineral pesanan Atun.


" Mau ketemu Pak Dosen ya, Mbak Kia?" tanya Bu Dzul setelah meletakan pesanan Azkia di atas meja.


" Iya, Bu. Sekalian mengantar adik ipar aku yang mau lanjut kuliah di sini." Azkia menyahuti. " Aku nanti titip adik iparku itu ya, Bu!? Kalau ada mahasiswa yang coba mengganggu adik iparku, lapor saja ke Papa!" Azkia begitu menjaga Rosa sampai melibatkan ke Ibu kantin segala untuk memantau Rosa selama di kampus khususnya saat kumpul di kantin.


" Beres, Mbak. Lagipula di sini ada Pak Dosen, ada Mas Abhi juga, pasti aman dong, Mbak!" Bu Dzul meyakinkan kalau Rosa akan aman-aman saja di kampus itu.


" Sip, Bu!" Azkia mengacungkan jempolnya.


" Ya sudah, silahkan dimakan batagornya. Ibu pamit ke dalam dulu, Mbak Kia." Ibu kantin berpamitan ingin mengerjakan tugas lainnya karena sebentar lagi kantinya akan diserbu para mahasiswa.


" Iya, Bu." sahut Azkia. " " Mbak Atun beneran nggak mau batagornya? Enak lho, batagor buatan Bu Dzul ini. Kia kangen banget sama bumbu kacangnya, nampol banget ..." Azkia mengaduk makanan itu agar batagor dan bumbu kacangnya menyatu kemudian membaca doa terlebih dahulu sebelum memasukan makanan itu ke mulutnya.


" Nggak, Mbak. Atun beneran sudah kenyang ..." tolak Atun.


" Mbak Atun sudah kenyang, kok aku nggak kenyang-kenyang ya, Mbak?" Azkia terkekeh seraya mengelap bibirnya yang terkena bumbu kacang dengan tissue.


" Mbak Kia 'kan sedang hamil, jadi bawaannya lapar terus, Mbak." Atun mengomentari pertanyaan manjikannya itu.


" Halo, keponakan Om yang ganteng ..." Tiba-tiba dari arah pintu masuk kantin terdengar suara Abhinaya menyapa Naufal.


Azkia langsung menolehkan pandangannya ke arah pintu dan mendapati adiknya dan juga adik ipar ya itu memasuki kantin.


" Sudah selesai, Ca?" tanya Azkia kemudian.


" Sudah, Mbak. Tadi ketemu sama Kak Abhi, terus Kak Abhi tanya Naufal di mana?" sahut Rosa menjawab pertanyaan Azkia.


Sementara Abhinaya langsung mendekat ke arah Naufal dan mengangkat tubuh ponakannya itu yang terlihat sibuk mondar-mandir berjalan tak bisa diam.


" Oh ... kamu mau batagor, Ca?" Azkia menawarkan makanan kepada Rosa.


" Nggak, Kak. Aku belum lapar." Rosa menolak.


" Bu Dzul, aku mau mie ayam, dong!" Sementara Abhinaya langsung berteriak memesan makanan kepada Ibu kantin.


" Iya, Mas Abhi." sahut Ibu kantin.


" Bhi, Mbak titip Rosa, ya!? Kamu jagain dia jangan sampai diganggu sama mahasiswa lain!" Azkia kini menitipkan Rosa kepada Abhinaya.


" Iya kalau aku nggak repot, Kak. Aku 'kan nggak mungkin bisa mengawasi Oca selama di kampus ini." Meskipun menyetujui permintaan kakaknya, namun Abhinaya tidak ingin terlalu dibebani oleh Azkia. Karena dia juga adalah mahasiswa bukan bodyguard yang memang fokus menjaga Rosa.


Rosa sendiri merasa tidak enak hati karena permintaan Azkia terhadap Abhinaya dinilai akan merepotkan Abhinaya saja.


" Aku bisa jaga diri kok, Kak." ucapnya kepada Azkia meyakinkan jika dia bisa menjaga dirinya dan tidak perlu harus menyusahkan Abhinaya.


" Iisshh, kamu itu 'kan baru tinggal di Jakarta, Ca. Jadi kamu harus hati-hati, apalagi menghadapi orang-orang yang belum kenal. Kamu harus pilih mana-mana yang tulus berteman atau nggak." Azkia memperingatkan Rosa agar hati-hati menghadapi karakter mahasiswa yang mungkin nanti akan menjadi temannya.


" Berarti di sini nggak aman dong, Kak?" Rosa seketika cemas mendengar ucapan Azkia.


" Eh, aman kok, Ca. Kamu tenang saja ada Papaku di sini." Azkia mencoba menenangkan Rosa yang seketika khawatir. Azkia menyadari jika dirinya salah menerangkan maksudnya.


" Mbak Kia terlalu lebay, sih! Jadinya Oca senewen ketakutan, tuh!" Abhinaya menyalahkan Kakaknya yang mengkhawatirkan Rosa terlalu berlebihan. Mungkin Abhinaya lupa jika Azkia pernah dijebak oleh orang-orang yang membencinya hingga akhirnya terjebak melakukan kesalahan bersama Raffasya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️