
Tangan Gibran kini menangkup wajah cantik Azkia yang lembab karena air mata. Dia merasa sedih mengetahui wanita yang sangat dicintai itu kini sedang mengandung janin pria lain yang tidak dia ketahui melalui peristiwa yang menurutnya sangat mengerikan.
" Kia, menikahlah denganku. Kita akan menghadapi ini bersama," ucap Gibran dengan nada yang lembut membuat air mata Azkia kembali menetes di pipinya. Dia benar-benar merasa telah mengkhianati cinta mereka.
" Aku akan terima semua yang terjadi denganmu, kita akan bersama-sama membesarkan anak kamu ini." Kini tangan Gibran menyentuh perut Azkia.
" Nggak, Kak! Kia nggak bisa ... aku sudah ternoda. Aku nggak pantas untuk Kak Gibran." Azkia merasa jika dia sudah tidak pantas mendampingi Gibran.
" Kenapa Kia bicara seperti itu? Semua itu bukan kesalahan Kia. Aku bisa memahami hal itu. Aku akan bertanggung jawab, karena akulah yang menyebabkan kamu mengalami hal ini. Kalau saja saat itu aku ikut mendampingi kamu ke Bandung, kamu tidak harus mengalami hal itu dan tidak akan menjadi seperti ini." Gibran masih menyesali karena dia tidak mengantar Azkia kala itu karena dia sendiri harus pulang ke Jambi.
" Kia sudah mengecewakan Kak Gibran." ucap Azkia dengan nada sedih.
" Bukan kamu yang mengecewakan aku, tapi akulah yang mengecewakan, karena aku nggak bisa melindungi kamu. Aku ingin bertanggung jawab atas kesalahan aku, aku akan bertanggung jawab karena nggak bisa menjaga kamu, Kia." Gibran mencoba meyakinkan Azkia jika dia tidak mempermasalahkan apa yang terjadi dengan Azkia.
Azkia menggelengkan kepalanya tetap menolak apa yang diinginkan dan rencanakan oleh Gibran.
" Aku nggak bisa, Kak."
" Kenapa memangnya, Kia?"
" Aku nggak bisa bersama Kak Gibran."
" Tapi, Kenapa?"
" Kak, tolong jangan paksa aku!" Azkia kemudian berlari ke luar ruangan kerja Papanya meninggalkan Gibran.
" Kia, tunggu ...!" Gibran mencoba mengejar Azkia yang berlari meninggalkannya.
***
Seharian ini keluarga Yoga benar-benar dibuat bingung dengan sikap diam Azkia. Azkia yang keras kepala benar-benar ingin menutupi siapa yang sudah menjebaknya dan siapa pria yang telah mehamilinya.
Di dalam kamarnya Azkia kini terlihat mengemas beberapa pakaian ke dalam koper. Sementara ini dia ingin menenangkan diri, dan dia merasa di tempat Mama Nabilla, ibu dari Mamanya lah dia bisa mendapat ketenangan. Karena jika dia memilih ke Bogor dan pergi ke rumah orang tua Papanya, Mamih Ellena, neneknya pasti akan mengintrogasi dirinya melebihi Mamanya.
" Kia, kamu mau ke mana? Kenapa kamu mengepak pakaian ke dalam koper?" Natasha yang masuk ke dalam kamar Azkia terkejut melihat putrinya itu terlihat ingin pergi dari rumah.
" Kia mau ke rumah Nenek, Ma." Azkia menyahuti pertanyaan Mamanya tanpa menghentikan aktivitasnya memindahkan pakaian dari lemari ke dalam koper.
" Mau apa Kia ke sana? Maksud Mama, dengan masalah yang kamu hadapi, kamu ingin membuat Nenek pingsan saat Nenek kamu tahu kamu sekarang hamil?" Natasha merasa keberatan dengan keputusan Azkia yang ingin pergi ke rumah Neneknya.
" Kia ..." Natasha menyentuh kedua pundak Azkia dan membuat tubuh Azkia kini menghadapnya.
" Kia kenapa nggak jujur saja sama Mama tentang pelakunya? Apa yang Kia takutkan? Jangan lari dari permasalahan, Kia! Orang itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya ke kamu!" Natasha terus saja membujuk Azkia untuk bercerita.
" Bukan orang itu yang salah, Ma! Kia yang dalam pengaruh obat saat itu. Kia yang memulai menyentuhnya. Kia yang memintanya. Mama ngerti nggak, sih?" Azkia berbicara dengan penuh penekanan." Jadi tolong jangan desak Kia terus, Ma!" lanjutnya.
Natasha menghela nafas panjang, sepertinya dia sudah tidak punya cara lain untuk menaklukan kekerasan hati putrinya itu.
***
Walaupun mendapatkan pertentangan dari anggota keluarga lainnya namun Azkia tetap memaksa pergi ke rumah Neneknya di Bandung. Natasha akhirnya menemani mengantar Azkia ditemani oleh Yoga. Sudah pasti Mama Nabilla sangat terkejut saat mengetahui apa yang terjadi kepada cucunya itu. Tak beda jauh dengan Natasha, Mama Nabilla pun menangis sedih saat tahu permasalahan yang terjadi dengan Azkia beberapa waktu lalu.
Sebenarnya Natasha juga ingin menemani Azkia di rumah Mama Nabilla. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana jika nanti Azkia mengalami ngidam yang akan membuat repot Mama Nabilla. Namun Mama Nabilla meminta putrinya itu untuk pulang kembali ke Jakarta bersama Yoga, karena Natasha tidak mungkin meninggalkan suami dan anak-anaknya yang lain.
" Ma, Tata titip Kia ya, Ma." ucap Natasha saat berpamitan kepada Mama Nabilla.
" Iya, nanti Mama coba bujuk Kia secara pelan-pelan supaya dia mau bercerita," sahut Mama Nabilla.
" Kia itu keras kepala sekali, Ma. Tata pusing menghadapi sikap Kia seperti ini," keluh Natasha seraya memijat pelipisnya.
" Dia mewarisi sikap Mamanya." Mama Nabilla tersenyum menyindir putrinya itu membuat Natasha sedikit mencebikkan bibirnya.
" Maaf Yoga merepotkan Mama." Giliran Yoga yang berpamitan kepada Mama mertuanya itu.
" Tidak, Yoga. Kia itu cucu Mama, Mama tidak merasa direpotkan dengan keadaan Kia di sini," sahut Mama Nabilla.
" Terima kasih, Ma." ucap Yoga kemudian.
Sementara itu Azkia di dalam kamar di rumah Mama Nabilla sedang duduk bersandar di headbord springbed dengan mengelus perutnya yang datar.
" Aku nggak mau Kak Raffa sampai tahu jika aku hamil," gumam Azkia, dia memang tidak menginginkan tanggung jawab yang dijanjikan Raffasya jika dirinya sampai hamil.
" Aaarrgghh ... kenapa aku beneran hamil, sih? Anak Kak Raffa lagi! Semoga saja nanti kalau lahir wajahnya nggak mirip Kak Raffa." Azkia tidak bisa membayangkan bagaimana jika wajah bayinya mirip Raffasya.
Tok tok tok
" Kia, Nenek boleh masuk ke dalam, Nak?" Suara Mama Nabilla terdengar dari luar pintu kamar Azkia.
" Masuk saja, Nek! Pintunya nggak dikunci." Azkia menyahuti tanpa beranjak dari posisinya.
" Kia sedang apa?" tanya Mama Nabilla saat memasuki kamar Azkia.
" Sedang duduk merenung, Nek." sahut Azkia jujur.
Mama Nabilla tersenyum mendengar ucapan cucunya itu. Dia lalu berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur.
" Kalau Kia ingin sesuatu bilang saja sama Bi
Isah sama Bi Cas." Mama Nabilla menyebutkan nama dua orang ART nya.
" Iya, Nek. Kia sedang nggak kepingin apa-apa kok, Nek." sahut Azkia.
" Nenek nggak pernah menyangka Kia akan mengalami hal seperti ini." Mama Nabilla mengusap wajah cucunya.
" Apa Kia kenal dengan pelaku yang berbuat hal ini kepada Kia?" tanya Mama Nabilla mulai menyelidik.
" Memangnya kenapa, Nek?"
" Kenapa kamu nggak mau orang itu tahu kalau kamu saat ini sedang hamil anaknya? Siapa tahu dia mau bertanggung jawab atas perbuatannya dulu ke kamu."
" Nggak, Kia nggak mau, Nek!" tegas Azkia.
" Lalu kamu akan melewati kehamilan kamu sendiri saja? Kalau bayi ini lahir, apa Kia ingin mengurus anak ini sendirian?"
" Nggak masalah, Nek. Biar Kia urus sendiri saja bayi ini." ucap Azkia kembali mengusap perutnya.
" Bagaimana dengan niat Gibran yang ingin menikahi kamu, Kia? Nenek rasa niat Gibran itu baik. Hal itu bisa menyelamatkan nama baik keluarga terutama Papa kamu."
" Kia nggak mau melibatkan Kak Gibran, Nek. Kak Gibran nggak pantas mendapatkan Kia dengan kondisi seperti ini. Nek, tolonglah ... Kia mau menenangkan pikiran dulu sekarang ini." Azkia meminta Neneknya mengerti akan posisinya saat ini.
" Baiklah, kamu pikirkanlah hal ini baik-baik. Jangan terlalu lama, perut kamu semakin hari akan semakin membesar, Nenek mengerti ini berat untuk Kia, tapi Kia jangan hanya memikirkan ego Kia sendiri. Kia juga harus memikirkan nama baik keluarga. Papa Mama Kia selama ini sangat menyayangi Kia Apa yang sudah terjadi dengan Kia sudah membuat mereka kecewa, jadi jangan buat mereka semakin kecewa dengan sikap keras kepala Kia ini." Mama Nabilla membelai kepala Azkia dengan penuh kasih sayang sebelum akhirnya dia meninggalkan kamar Azkia.
***
Sekitar pukul sebelas siang Raffasya tiba di kota Bandung. Selama dua hari ini dia akan berada di kota yang kini punya kenangan yang tidak mungkin bisa dia lupakan begitu saja, apalagi kalau bukan kenangan berbagi kehangatan bersama Azkia beberapa Minggu lalu.
" Bagaimana progres pembangunan cafe radionya, Lan?" tanya Raffasya kepada Harlan saat dia, Harlan dan Dimas mereka bertiga makan siang bersama.
" Lagi mulai pembangunan. Gue rencananya kepingin ditambah ada toko oleh-oleh khas Bandung. Soalnya cafe ini posisinya dekat jalan raya," ujar Harlan.
" Urusan mudah itu sih, asalkan dananya ready," sahut Dimas.
" Tenang, Bang! Dia warisan banyak." Raffasya menimpali.
" Haha ..." Harlan tergelak menanggapi ucapan Raffasya.
Ddrrtt ddrrtt
" Sorry gue terima telepon dulu." Harlan langsung berdiri dan berjalan menjauh saat menerima panggilan telepon masuk ke ponselnya.
" Oh ya, Raf. Malam Minggu kemarin gue ketemu Azkia sama cowoknya. Dan ternyata cowoknya dia itu masih ada hubungan kekerabatan sama bini gue. Om nya Gibran itu suami Tantenya bini gue. Dan Gibran memperkenalkan kepada kami kalau Azkia itu adalah calon istrinya. Gue rasa dia belum tahu masalah yang menimpa Azkia itu." Dimas teringat akan pertemuannya dengan Azkia dan Gibran di mall malam Minggu kemarin.
Raffasya hanya menarik nafas mendengar penjelasan tentang Azkia dan Gibran. Dia tidak bisa meraba apakah Gibran akan bisa menerima Azkia jika Gibran mengetahui Azkia sudah kehilangan keperawanannya. Dan dia juga tidak tahu apakah Azkia akan berkata jujur pada Gibran.
" Sepertinya akan rumit kalau masalah ini sampai diketahui oleh Gibran kalau lu lah pelaku yang mengambil kesucian Azkia," lanjut Dimas.
" Gue sudah siap dengan segala resiko yang akan gue hadapi, Bang."
" Gue percaya lu, Raf. Tapi kalau Gibran bisa menerima dia, lu harus bisa move on, dong!" Dimas menyeringai. Karena dia melihat Raffasya yang hampir tak tersentuh oleh wanita justru kini terlihat sangat perduli dengan Azkia.
" Maksud Bang Dimas?"
" Apa lu sudah merasa jatuh cinta sama cewek itu, Raf?" Kembali Dimas menyeringai.
Raffasya memicingkan matanya mereaksi pernyataan Dimas.
" Nggak lah, Bang! Gue cuma merasa bersalah dan siap bertanggung jawab atas perbuatan gue, dan itu nggak ada sangkut pautnya dengan perasaan." Raffasya menepis anggapan jika sikapnya itu ada hubungannya dengan perasaan dia terhadap Azkia.
***
Azkia sedang menyantap rujak mangga muda di dalam kamarnya seraya menonton drama romantis di dalam kamarnya saat bunyi pintu kamarnya diketuk.
" Assalamualaikum, Kia. Ini Rayya, apa Rayya boleh masuk ke dalam?" Dan kini suara Rayya lah yang terdengar dari balik pintu kamarnya.
Tok tok tok
" Kia ..." Kembali suara Rayya terdengar membuat Azkia segera bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu untuk Rayya.
" Kamu kenapa menangis, Ray?" Azkia mengeryitkan keningnya merasa heran dengan sepupunya itu.
Rayya membulatkan matanya saat mendengar suara Azkia yang terdengar sangat santai seolah tidak menunjukkan jika dia sedang ditimpa masalah. Rayya lalu merenggangkan pelukannya dan menarik tubuhnya sedikit menjauh dari tubuh Azkia.
" Kia? Kamu ..." Rayya menatap heran Azkia.
" Rayya sama siapa ke sini? Kok nggak kasih tahu kalau Rayya mau datang kemari?" tanya Azkia.
" Rayya ke sini sama Pak Zainal," sahut Rayya. " Kia, apa benar masalah yang terjadi sama Kia itu?" tanya Rayya penasaran.
" Masalah itu? Iya benar." sahut Azkia.
" Tapi kok Kia kelihatan santai-santai saja?"
" Terus Kia mesti gimana, Ray? Masa Kia mesti terus menangis? Sampai air mata Kia kering juga, nggak akan membuat Kia bisa kembali seperti dulu."
" Terus siapa yang melakukannya, Kia?"
Azkia menatap Rayya. " Apa Papa Mama aku yang suruh Rayya kemari? Atau Uncle Gavin?"
" Rayya ke sini karena keinginan Rayya sendiri, Kia! Rayya ikut prihatin dengan masalah yang menimpa Kia. Sekarang Kita cerita sama Rayya siapa yang melakukan itu?"
" Nggak perlu bahas itu deh, Ray!" Azkia mengibas tangannya ke udara.
" Tapi, Kia ...."
" Kalau Rayya ke sini hanya ingin mendesak aku supaya aku kasih tahu Rayya tentang siapa pelakunya, lebih baik Rayya pulang saja ke Jakarta!" ketus Azkia seraya berjalan meninggalkan Rayya kembali masuk ke dalam kamarnya.
" Kia, apa Kia nggak sayang sama Papa Mama Kia? Auntie menangis terus memikirkan masalah ini. Kenapa Kia bisa santai saja?" Rayya merasa heran dengan sikap keras kepala Azkia.
" Rayya, Kia itu ke sini itu karena Kia ingin menghindari omongan orang." Azkia memberikan sanggahan.
" Tapi bukan begini cara menghindari gunjingan orang, Kia! Kia harus bicara siapa pelakunya jadi Uncle dan Daddy minta pertanggung jawaban orang itu biar masalahnya cepat kelar." Rayya mengatakan bagaimana cara menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi Azkia.
" Rayya, sudah, deh! Jangan ikut-ikutan menekan Kia! Mending Rayya pulang saja deh, sana!" usir Azkia kembali sambil meneruskan memakan rujak, membuat Rayya hanya bisa menggelengkan kepalanya menghadapi sikap sepupunya itu.
***
Hari ini hari terakhir Raffasya berada di Bandung, dan entah mengapa tangannya yang memegang kemudi mobilnya mengarahkan mobil itu ke arah penginapan saat dia dan Azkia menghabiskan siang yang begitu menggai rahkan.
Raffasya menghentikan mobilnya di seberang sebuah penginapan yang siang ini tidak terlihat ramai. Penginapan di depannya inilah yang dia pakai beberapa Minggu lalu bersama Azkia. Di tempat itulah pertama kalinya dia merasakan bersentuhan dengan wanita layaknya pasangan suami istri.
Raffasya mendengus dengan kasar jika mengingat kenangan kala itu, kenangan yang tentu saja tidak mungkin bisa dia lupakan begitu saja.
Ddrrtt ddrrtt
Raffasya melirik ponselnya yang berbunyi. Dia melihat nama Raditya yang menghubungi saat ini.
" Halo, Om. Ada apa?" tanya Raffasya.
" Raf, kamu ada di mana? Om mau nitip anak-anak karena Om mau ke luar kota dengan Tante kamu."
" Raffa masih ada di Bandung, Om. Ini mau pulang ke Jakarta," sahut Raffasya. " Memangnya Om kapan perginya?" tanya Raffasya kemudian.
" Rencananya sore ini. Kamu sedang di Bandung juga?"
" Iya, Om. Kenapa memangnya, Om?" tanya Raffasya.
" Om juga mau ke Bandung. Mau coba jemput Azkia pulang."
" Jemput Azkia?" Raffasya mengeryitkan keningnya saat mendengar bahwa tujuan Om nya ke Bandung adalah untuk menjemput Azkia. " Memangnya kenapa, Om?" Tiba-tiba rasa penasaran menyeruak di hati Raffasya.
" Dia tertimpa masalah, tapi Om nggak bisa menceritakan ke kamu masalahnya itu apa? Om dan Tante kamu sedang berusaha membujuk Kia agar dia mau pulang ke rumah, kasihan Papa dan Mamanya memikirkan masalah dia." Raditya menceritakan alasan dia pergi ke Bandung.
" Hmmm, Om ... kalau Raffa boleh tahu masalah apa yang sedang terjadi pada Almayra?" tanya Raffasya dengan jantung berdebar-debar. Dia menduga sesuatu yang terjadi dengan Azkia saat ini ada hubungannya dengan peristiwa di Bandung.
" Ada orang yang ingin berbuat jahat kepada Kia."
Degup jantung Raffasya semakin kencang mendengar cerita Om nya tentang niat jahat orang yang ingin mencelakakan Azkia. Dan dugaannya semakin kuat jika hal yang terjadi dengan Azkia memang ada hubungannya dengan dia.
" Om, apa yang sebenarnya terjadi dengan Almayra?" Raffasya kembali bertanya karena Om nya tidak menjelaskan secara spesifik tentang masalah Azkia.
" Om harap kamu jangan mengolok Kia kalau kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pada Kia, Raffa." Tentu saja Raditya takut Raffasya akan menjadikan masalah yang terjadi Azkia sebagai bahan untuk menyerang Azkia jika mereka berdebat nanti.
" Nggak, Om. Raffa janji. Memangnya apa yang terjadi pada Almayra?"
" Kia hamil,"
Deg
Jantung Raffasya serasa berhenti berdetak saat mengetahui kenyataan yang terjadi pada Azkia saat ini. Akhirnya apa yang dia takutkan benar-benar terjadi.
" H-hamil, Om?"
" Iya, tapi tolong jangan sebarkan aib ini, Raf. Karena Kia masih tutup mulut nggak mau menceritakan siapa orang yang sudah menghamilinya itu."
Raffasya menarik nafas yang seketika terasa sangat berat dihirupnya. " Sekarang Almayra ada di mana, Om?"
" Di rumah Neneknya."
" Om, apa Raffa bisa minta alamat rumah Neneknya Almayra?" tanya Raffasya memberanikan diri untuk bertanya.
" Memangnya kenapa, Raffa?" Raditya merasa heran dengan pertanyaan Raffasya yang menanyakan alamat rumah Mama Nabilla.
" Hmmm, siapa tahu Raffa bisa bujuk dia Om."
" Oh, oke ... nanti Om kasih alamatnya ke kamu." Raditya nampaknya tidak terlalu curiga dengan permintaan Raffasya, karena Raditya juga tidak berpikiran jika Raffasya lah pria yang saat itu bersama Azkia.
" Oke, Om."
***
Satu jam kemudian, Raffasya sudah berada di depan rumah berlantai dua. Alamat inilah yang diberikan oleh Om nya sebagai alamat rumah Nenek dari Azkia. Raffasya memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah Mama Nabilla. Dia lalu keluar dari mobil untuk berbicara pada satpam yang berjaga di depan pintu gerbang.
" Permisi, Pak. Saya ingin bertemu dengan Ibu Nabilla, apa beliau ada?" tanya Raffasya kepada security yang berjaga di depan.
" Maaf, Aa ini siapa, ya? Ada keperluan apa mencari Ibu Nabilla?" tanya Security yang berjaga.
" Saya keponakannya Om Raditya, suaminya Tante Amara, anak dari Ibu Nabilla," sahut Raffasya.
" Oh, keponakannya Pak Radit, ya? Sebentar saya bukakan pintunya dulu. Mobilnya dibawa masuk saja atuh, A." ujar security itu.
" Iya, Pak"
Raffasya kemudian kembali ke mobilnya dan memarkirkan mobilnya itu ke halaman parkir rumah Mama Nabilla.
" Permisi, Nek." sapa Raffasya setelah beberapa saat menunggu di ruang tamu dan melihat kehadiran Mama Nabilla.
" Kamu keponakannya Raditya?" tanya Mama Nabilla.
" Iya, Nek. Saya Raffasya." Raffasya mencium punggung tangan Mama Nabilla seraya memperkenalkan dirinya.
" Raffasya baru pertama kali main ke sini, ya?" tanya Mama Nabilla kemudian.
" Iya, Nek."
" Oh ya, ada apa Raffasya menemui Nenek?" tanya Mama Nabilla yang merasa heran dengan kedatangan Raffasya.
" Hmmm, apa Almayra ada di sini, Nek?" tanya Raffasya. " Saya dengar dari Om Radit, Almayra ada di sini."
" Oh iya, Kia memang sedang ada di sini," sahut Mama Nabilla.
" Apa saya bisa bertemu dengan Almayra, Nek?"
" Oh, mau bertemu Kia, ya? Nak Raffa mau membujuk Kia juga?"
" I-iya, Nek."
" Sebentar Nenek panggilkan dulu Kia nya."
" Nek, tolong jangan bilang saya yang datang kemari, karena Almayra pasti akan menolak bertemu dengan saya, Nek."
Mama Nabilla mengeryitkan keningnya mendengar permintaan Raffasya. Namun dia menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Raffasya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️