
Sekitar pukul sembilan malam Raffasya sampai kembali di rumahnya setelah dia sibuk mencari cincin dan maskawin yang akan diberikan untuk pernikahannya besok pagi. Dia harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Dari cincin sampai pakaian yang harus dipakainya besok pagi. Dan di saat seperti inilah, dia benar-benar merasa sendiri. Seharusnya semua ini disiapkan oleh keluarganya, namun tak ada keluarganya yang ikut membantu.
" Mas, tadi Mama Mas Raffa datang kemari."
Raffasya yang sedang berjalan menaiki anak tangga langsung menoleh ke bawah saat mendengar Bi Neng berbicara kepadanya.
" Ada apa Mama kemari?" Rasa lelah karena merasa sendiri membuatnya berkata ketus saat mengetahui Mamanya itu datang ke tempat tinggalnya.
" Tadi mengantar semua keperluan untuk besok pagi. Semua sudah ditaruh di kamar Mas Raffa." Bi Neng menjelaskan alasan Lusiana datang ke sana.
" Ya sudah, makasih, Bi." Raffasya melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Raffasya membuka daun pintu kamarnya dan mencari apa yang dikatakan Bi Neng. Dia mengeryitkan keningnya saat melihat satu set beskap berwarna putih di atas tempat tidurnya lengkap dengan pecinya. Dia pun melihat dua buah kotak yang dia duga adalah kotak perhiasan. Raffasya lalu membuka satu persatu kotak itu. Dia membelalakkan matanya saat dia melihat sepasang cincin pernikahan. Dia juga membuka kotak kedua yang ternyata berisi logam mulia seberat seratus gram. Dan sebuah surat di bawah kedua kotak perhiasan itu.
" Raffa, Mama siapkan ini untuk kamu pakai di akad nikah kamu. Mama juga belikan cincin sama maskawin. Semoga cincinnya pas di jari kalian. Besok pagi Mama ke sana bawa orang salon untuk membantu kamu. Jangan tidur terlalu malam agar kamu nggak kesiangan besok pagi."
Raffasya langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ternyata lelahnya hari ini terasa sia-sia karena ternyata Mamanya sudah menyiapkan segalanya. Dugaan jika keluarganya tidak memperdulikannya ternyata tak beralasan.
Ddrrtt ddrrtt
Sebuah notif pesan masuk ke dalam ponselnya. Dia lalu mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, dan membuka layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang mengirimkan pesan kepadanya
" Assalamualaikum, Raffa. Papa baru sampai di bandara. Kamu bisa jemput Papa sekarang?"
Kening Raffasya berkerut saat mengetahui Papanya ternyata berada di Jakarta saat ini. Karena Papanya itu kini menetap di luar pulau Jawa bersama keluarga barunya.
Raffasya seketika bangkit dan bergegas keluar kamarnya untuk menjemput Papanya itu di bandara. Rasa lelah di tubuhnya seketika menghilang begitu saja saat mengetahui Papanya ada di Jakarta dan minta dijemput olehnya. Walaupun tidak dijelaskan oleh Papanya namun dia tahu pasti, apa alasan Papanya datang ke kota Jakarta. Dia tidak pernah merasa seemosional ini dengan perhatian dari kedua orang tuanya.
Hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk Raffasya bisa sampai ke bandara Soetta untuk menjemput Papanya yang habis melakukan perjalanan udara dari Manado. " Apa kabar kamu, Raffa?" tanya Fariz, saat Raffasya menjemput Papanya itu di bandara.
" Seperti yang Papa lihat, aku akan menikah karena menghamili anak gadis orang." Kalimat yang diucapkan Raffasya terdengar sarkasme. Mungkin dia ingin menunjukkan hasil perbuatannya kepada Papanya karena jauh dari kasih sayang kedua orang tua selama ini.
" Papa sempat syok waktu Nenek kamu bilang kamu menghamili anak gadis orang. Tapi Papa sedikit lega saat Nenek kamu menceritakan bagaimana hal itu terjadi bukan karena kesalahanmu." Fariz menepuk pundak kiri Raffasya yang sedang mengendarai mobilnya.
" Setidaknya Papa bangga kamu mau bertanggung jawab atas perbuatan kamu, Raffa. Papa berharap dengan pernikahanmu ini akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Fariz penuh harap.
Raffasya hanya diam dan lebih berkonsentrasi dengan kemudinya, meskipun tidak bisa ditampik, rasa bahagia mulai menyeruak di hatinya saat mengetahui kedua orang tuanya ternyata masih perduli kepadanya. Setidaknya dengan kedatangan sang Papa di acara pernikahannya besok sudah bisa menunjukkan hal itu.
***
Sudah hampir jam dua belas malam namun sepertinya sulit sekali untuk Azkia memejamkan matanya, dan rasa kantuk itu sepertinya enggan menghampirinya saat ini. Azkia masih termenung tentang masa depan dirinya dengan pernikahan yang akan dijalaninya besok. Ini bukan yang dia inginkan, ini bukan pernikahan yang dia harapkan. Dia seperti sedang berjudi dengan masa depannya saat ini. Apa dia akan bahagia seperti rumah tangga kedua orang tuanya atau akan berakhir seperti keluarga orang tua Raffasya yang terpisah.
" Astaga, kenapa aku terlalu memikirkan hal itu, sih? Ini nggak akan lama, hanya sampai sembilan bulan ke depan." Azkia kemudian. menurunkan pandangan ke arah perutnya. " Hanya sampai bayi ini lahir." Tangan Azkia kini mengelus perut ratanya itu.
Sementara di lantai bawah, tepat di bawah kamar Azkia, Yoga dan Natasha pun sama-sama belum bisa memejamkan matanya. Mereka pun sama-sama cukup tegang menghadapi acara pernikahan putri mereka besok pagi.
" Aku nggak sangka sebentar lagi Kia akan menikah, Mas." Natasha menyandarkan kepalanya di lengan sang suami.
" Aku juga berpikir seperti itu, Yank.
Rasanya baru kemarin aku membantu membukakan jalan untuk Baby Kia agar persalinannya lancar, sekarang malah Baby Kia sudah akan menikah." Tangan Yoga memainkan anak rambut di kening Natasha. Dia mengingat bagaimana kehebohan yang terjadi saat Natasha akan melahirkan putrinya itu.
Natasha tersenyum mengingat kejadian itu.
" Itu karena Papanya terlalu semangat nengokin baby nya." celetuk Natasha membuat Yoga terkekeh.
" Aku harap Raffa bisa berubah sikapnya menjadi lebih baik, Mas." harap Natasha kemudian.
" Aku pun berharap seperti itu, Yank. Dengan beberapa kali dia menolong Kia saat sedang terkena masalah. Pengakuan dia dan sikap tanggung jawab dia, aku berharap Raffa akan bisa menjadi pribadi yang lebih baik." Yoga pun melambungkan harapannya terhadap Raffasya.
" Sebentar lagi kita akan jadi kakek nenek lho, Mas." Natasha seketika meraba wajahnya. " Apa wajahku sudah terlihat keriput, Mas?" tanya Natasha kemudian menoleh ke arah suaminya.
" Mana yang keriput? Sini aku lihat. Nggak bisa kelihatan keriputnya kalau pakai mata, harus diraba pakai bibir." Yoga kini mulai menciumi wajah istrinya.
" Jangan mulai deh, Mas. Besok kita harus bangun pagi. Jangan sampai kesiangan bangunnya." Natasha berusaha menahan suaminya yang sepertinya sudah mulai berga irah.
Yoga terkekeh menanggapi penolakan dari Natasha.
" Memangnya mencium bisa bikin telat bangun ya, Yank?"
" Aku nggak yakin Mas Yoga hanya minta cium, dong!" sindir Natasha.
" Memang nggak boleh minta lebih dari sekedar cium?" goda Yoga kembali.
" Sudah ah, jangan bercanda melulu. Buruan tidur!' Natasha kemudian menyalakan mematikan lampu dan melingkarkan tangannya di perut Yoga kemudian memejamkan matanya sembari menikmati aroma maskulin sang suami tercintanya.
***
" Ayo masuk, Mbak." Lusiana yang turun dari mobil mempersilahkan seorang perias untuk mengikuti langkahnya yang memasuki rumah Raffasya.
" Assalamualaikum, Bi! Bi Neng ...!" teriak Lusiana saat melewati pintu masuk rumah.
" Waalaikumsalam, Saya, Bu?" Bi Neng berlari dari arah dapur.
" Raffa mana? Sudah bangun belum dia?" tanya Lusiana.
" Mas Raffa masih di kamar, Bu. Tapi sepertinya sudah bangun," sahut Bi Neng.
" Oh ya sudah." Lusiana lalu berjalan menaiki anak tangga diikuti oleh orang dari salon yang dibawanya.
" Lusi?"
Lusiana nampak terperanjat saat berpapasan dengan Fariz di atas tangga.
" Mas Fariz?" Lusiana tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan mantan suaminya di rumah yang dulu pernah mereka tempati.
" Mas Fariz di sini?" tanya Lusiana masih dalam keterkejutannya.
" Iya, aku ingin menghadiri akad nikah Raffa pagi ini," sahut Fariz.
" Sudah, dia di kamar," jawab Fariz.
" Hmmm, aku temui Raffa dulu. Ayo Mbak!" Lusiana memilih bergegas menuju kamar Raffasya bersama orang dari salon dan meninggalkan Fariz yang masih memperhatikan Lusiana.
" Raffa ...! Kamu sudah bangun belum?" Sesampainya di depan pintu kamar Raffasya, Lusiana mengetuk pintu kamar Raffasya.
Tak lama pintu kamar Raffasya terbuka dan memperlihatkan Raffasya yang masih memakai kaos oblong dan boxer.
" Raffa, Ayo cepat kamu pakai bajunya. Nanti Mbak ini bantu rias kamu biar kamu kelihatan makin tampan di hari spesial kamu ini." Lusiana yang nampak antusias dengan pernikahan putranya dengan Azkia langsung masuk ke dalam kamar Raffasya.
Raffasya pun tidak menolak apa yang diperintahkan oleh Mamanya. Karena dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan.
" Papa kamu kapan datang, Raffa?" tanya Lusiana saat Raffasya sedang memakai beskap setelah selesai dirias wajahnya agar nampak lebih segar.
" Mama sudah ketemu? Kenapa nggak tanya langsung sama Papa?" sindir Raffasya.
" Kalau Mama tanya Papa kamu nanti Papa kamu pikir Mama ini kepo," sahut Lusiana beralasan.
" Apa istrinya ikut kemari juga?" tanya Lusiana penasaran.
" Kalau memang kepo kenapa nggak tanya sendiri saja sih, Ma?"
Lusiana memutar bola matanya menanggapi jawaban Raffasya.
" Sudah selesai semua, Bu." Orang dari salon mengatakan jika tugasnya merias Raffasya sudah selesai. " Ada lagi yang mau dirias, Bu?"
" Sebentar ya, Mbak." Lusiana menyuruh orang salon itu menunggu. " Nenek kamu ikut 'kan, Raffa? Sebentar ya Mbak, saya tanya Neneknya Raffasya dulu." Lusiana lalu keluar dari kamar Raffasya untuk menemui Nenek Mutia.
***
Natasha menatap haru putrinya yang terlihat cantik mengenakan kebaya brokat warna putih menjuntai ke bawah dengan tatanan riasan adat Sunda dengan mahkota siger di kepala dan daun sirih berbentuk wajik di kening, kembang tanjung dan kembang goyang pada sanggul dan untaian melati yang jatuh menjuntai sampai tubuh.
" Kia ..." Natasha menggenggam tangan putrinya itu. Cairan bening mulai mengembun di matanya.
" Ma ..." Tak beda jauh dengan Natasha, bola mata Azkia pun mulai diserang hawa panas siap untuk memproduksi cairan bening yang bisa menetes di pipinya.
" Mama nggak menyangka Kia akan secepat ini menikah," lanjut Natasha menatap sendu.
" Kia juga masih ingin meneruskan kuliah lagi sebenarnya, Ma. Tapi nanti malah mengurus anak," sahut Azkia sedih.
" Kamu harus ikhlas ya, Nak. Bayi di dalam perut kamu tidak bersalah, rawatlah dia dengan penuh kasih sayang." Natasha mengusap perut Azkia.
" Iya, Ma."
Natasha sepertinya tidak kuasa untuk tidak memeluk putrinya hingga saat ini mereka berdua saling berpelukan dengan menahan tangis agar air mata mereka tidak menetes di pipi dan merusak rias wajah mereka.
" Mbak, rombongan pengantin pria sudah datang." Amara memberitahukan dari pintu kamar Azkia. Membuat Azkia dan Natasha mengurai pelukan mereka.
" Ayo kita ke depan." Natasha menggandeng tangan Azkia dan menuntun Azkia turun ke bawah.
Sedangkan di ruang tamu rumah Yoga, semua tamu undangan yang merupakan tetangga di sekitar cluster perumahan elit tempat Yoga tinggal dan keluarga besar Yoga dan Natasha termasuk penghulu sudah berkumpul saat menyambut kedatangan mempelai pria dan keluarganya yang diwakili oleh Fariz, Lusiana dan Nenek Mutia. Sementara Raditya sudah menunggu di rumah Yoga sejak pagi.
Setelah menyambut sang mempelai pria dan keluarga, acara akad pun akan segera dimulai karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Kali ini semua mata menuju ke arah tangga rumah Yoga saat melihat kemunculan sang mempelai pengantin wanita yang nampak cantik berjalan dengan anggun menuruni anak tangga dibantu Natasha dan Amara.
Raffasya pun turut mengarahkan pandangannya ke arah tangga. Dia nampak tertegun beberapa saat ketika melihat Azkia yang memang terlihat begitu cantik bak putri dari kerajaan dengan mahkota yang bertengger di kepalanya. Bahkan pandangannya terus mengikuti pergerakan tubuh Azkia hingga Azkia sampai di lantai bawah dan berjalan mendekat kemudian duduk di sampingnya.
" Alhamdulillah, akhirnya siap disandingkan juga kedua calon pengantin ini. Bagaimana, Mas Raffa? Sepertinya masih terpukau melihat kecantikan Mbak Kia sampai tidak mengalihkan pandangan ke yang lain." Pembawa acara yang memimpin acara akad nikah berkelakar membuat Raffasya tersandar jika dia terlalu fokus menikmati kecantikan calon istrinya itu.
" Coba dilihat lagi Mas Raffa, benar nggak ini calon istrinya?" Bahkan sang penghulu ikut berkelakar membuat beberapa tamu tertawa kecil.
" Kita bisa mulai sekarang Pak Yoga?" penghulu bertanya kepada Yoga.
" Silahkan, Pak Penghulu." Yoga dengan cepat menyahuti.
Namun tak lama setelah Yoga menjawab pertanyaan Penghulu terdengar kericuhan di luar rumah Yoga.
" Aku mau ketemu Kia, Al!" Terdengar suara Gibran dari arah luar.
Azkia langsung menolehkan wajahnya ke arah pintu rumah saat mendengar suara kekasihnya itu. Dia seketika merasa sedih saat mengetahui Gibran ada di depan rumahnya saat ini.
Raditya yang duduk di jejeran belakang pengantin langsung bangkit dan berjalan ke luar rumah untuk membantu mengatasi permasalahan di luar.
***
" Kak, aku ngerti Kak Gibran pasti kecewa, tapi Kia butuh Raffa, karena Raffa ayah dari bayi yang dikandung Kia." Alden mencoba menenangkan Gibran yang tiba-tiba saja datang ke rumah Yoga.
" Tapi Kia nggak cinta sama Raffa, Al."
" Tapi Kia nggak punya pilihan, Kak. Apalagi Raffa juga bersedia bertanggung jawab dengan perbuatannya." Alden berusaha menenangkan Gibran yang masih bersikukuh ingin bertemu Alden.
" Gibran, Om selaku Om dari Raffa minta maaf karena kejadian ini. Om yakin kamu bisa berbesar hati menerima pernikahan Azkia ini. Mungkin Kia memang bukan jodohmu. Om yakin Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kamu, Gibran." Raditya yang mendekati Gibran langsung mengusap punggung Gibran.
" Kalau kamu menyanyangi Kia, Om minta kamu ikhlas melepas Kia. Dengan kamu seperti ini, apa kamu nggak merasa kasihan sama Kia? Sama orang tua Kia? Apa yang terjadi dengan Kia kemarin sudah menjadi pukulan untuk mereka. Jadi Om harap kamu bisa mengerti, Gibran." Raditya terus memberi pengertian kepada Gibran hingga akhirnya pria itu memilih pergi dari rumah Yoga.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️