MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Tidak Boleh Membawa Laki-Laki Ke Dalam Kamar



Azkia tergelak karena dia merasa menang akibat kesialan yang menimpa Raffasya. Hingga tiba-tiba dia merasa tubuhnya melayang di udara.


" Eh, eh, Kak Raffa mau ngapain?" Azkia terperanjat saat merasakan tubuh berotot Raffasya kembali berhasil mengangkat tubuhnya. Azkia sempat berpikir jika Raffasya akan menceburkannya ke dalam bathtub di kamar mandi dan menyiramnya dengan shower. Karena dia tahu pria yang dihadapi saat ini adalah pria yang tidak mempunyai hati nurani apalagi terhadap wanita, membuatnya berpikiran ke arah sana.


Namun Azkia langsung memekik saat Raffasya justru menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur hingga membuat handuk yang melilit di tubuhnya sedikit menyilak dan memperlihatkan area sensitifnya yang terlihat hanya sedikit ditumbuhi sesuatu hingga menampakkan warna merah muda di area sensitinya.


Azkia semakin tersentak saat dia melihat mata Raffasya terbelalak menatap ke bagian tubuh dirinya hingga membuat Azkia langsung berteriak.


" Aaakkkhh ...!! Kak Raffa lihat-lihat apa?!" Antara kaget, kesal dan malu bercampur jadi satu yang saat ini Azkia rasakan, Azkia buru-buru menutupi kembali bagian sensitifnya dengan handuk.


" Astaghfirullahal adzim ...!! Raffa, Kia, kalian sedang berbuat apa?!"


Lusiana yang tadi mendengar ribut-ribut dari kamar tamu langsung bergegas masuk melangkahkan kakinya menuju kamar tamu di mana Azkia berada. Dia menduga jika Raffasya dan Azkia kembali berdebat. Namun saat dia mendapati Azkia yang terbaring di atas tempat tidur hanya menggunakan handuk dan Raffasya yang berdiri di depannya, sehingga menimbulkan kecurigaan di hati wanita paruh baya itu.


" T-tante?" Azkia semakin merasa malu karena kejadian tadi sepertinya dilihat oleh Mama dari Raffasya.


" Ma, lihat, tuh!" Raffasya menunjuk ke arah Azkia yang langsung berdiri memegangi handuk yang dia pakai. " Dia sengaja pakai itu mau coba-coba rayu Raffa, biar orang mengira jika Raffa akan menperko*sa dia, Ma Dia pikir Raffa akan tergoda dengan tubuh jeleknya itu,!" Raffasya menemukan alasan untuk memfitnah Azkia agar Mamanya segera mengusir Azkia dari rumahnya.


Azkia terbelalak mendengar fitnah yang ditudingkan Raffasya kepadanya.


" Bohong, Tante! Kak Raffa bohong! Kia nggak mencoba menggoda Kak Raffa. Kak Raffa yang tadi melempar tubuh Kia sampai tubuh Kia jatuh ke kasur." Azkia menyangkal dengan cepat tuduhan yang dialamatkan Raffasya untuknya. Dia sungguh tidak menyangka Raffasya sampai memfitnahnya seperti itu.


" Mana ada maling ngaku!" cibir Raffasya.


" Kamu diam, Raffa!" bentak Lusiana. " Ini nggak benar! Ini nggak bisa dibiarkan begitu saja! Kamu sudah lihat bagian sensitif Azkia tadi, kamu mesti bertanggung jawab Raffa!" Lusiana langsung mengambil sikap.


" Tanggung jawab? Tanggung jawab apa? Raffa nggak perko*sa dia, Ma! Lagipula yang tadi dilihat Raffa juga nggak ada bagus-bagusnya, kok! Gersang gitu, nggak menarik!" Raffasya sudah pasti merasa keberatan diminta Mamanya untuk tanggung jawab, dia malah kembali melakukan body shaming terhadap Azkia.


Azkia yang mendengar hinaan Raffasya langsung menatap Raffasya dengan penuh kemarahan. Dan Azkia yang kesal langsung mengambil kembali baju miliknya yang tadi basah lalu dia beranjak masuk ke dalam kamar mandi kembali untuk berpakaian.


" Raffa! Kamu ini sudah benar-benar keterlaluan! Kamu itu sama saja sudah melecehkan Azkia! Mama nggak bisa bayangkan kalau Azkia sampai melaporkan kejadian ini terhadap orang tuanya. Tadi itu lebih parah dari menceburkan Azkia yang dilakukan oleh putranya. Dia sampai memijat pelipisnya.


" Ini semua 'kan salah Mama. Siapa suruh dia kemari? Apa ini memang sengaja Mama lakukan untuk menjebak Raffa?" tuding Raffasya menatap Mamanya penuh intimidasi.


" Mama nggak pernah menjebak kamu! Yang membuat Azkia tercebur ke kolam itu siapa? Kamu, kan?! Kenapa kamu malah menuduh Mama menjebak kamu?" Lusiana menyangkal tuduhan Raffasya, karena walaupun dia ingin mendekatkan putranya itu dengan Azkia tapi tidak mungkin dia melakukan tindakan licik yang beresiko seperti apa yang dia lihat tadi.


Lusiana tidak bisa membayangkan bagaimana kalau tadi putranya itu langsung khilaf dan memper*kosa Azkia? Bisa runyam urusannya.


" Tante, Kia permisi pulang. Gaun yang Tante pesan jika ada yang tidak cocok, Tante kasih tahu saja nanti ada pegawai Kia yang ambil. Kia pulang Tante, Assalamualaikum ..." Azkia yang baru keluar dari kamar mandi setelah berpakaian kembali langsung berpamitan kepada Lusiana.


" Lho, kamu kok pakai baju yang tadi, Kia?" Lusiana yang melihat Azkia memakai bajunya sendiri yang basah karena tercebur langsung menatap heran. Namun ucapannya tak digubris oleh Azkia karena Azkia yang benar-benar merasa kesal dan malu sudah lebih dulu berlari ke luar kamar.


" Kia tunggu dulu!" Lusiana mengejar Azkia namun langkahnya terhenti di dekat pintu kamar karena dia menoleh ke arah Raffasya. " Ini semua gara-gara kamu, Raffa!" geram Lusiana kemudian dia melanjutkan menejar Azkia. " Kia, tunggu ...!!"


***


" Dasar pria me*sum!!" Azkia sampai memukul stir mobilnya karena dia terlalu emosi karena Raffasya telah melihat bagian bawahnya yang semestinya hanya boleh dilihat oleh suaminya kelak.


" Apes banget, sih! Mimpi apa aku semalam ketiban si*al begini?!" Azkia terus saja menggerutu atas musibah yang menimpanya


" Dasar cowok breng*sek!! Awas saja kalau ketemu lagi, aku tonjok matanya yang sudah berani mengintip punyaku!!" umpat Azkia yang sebenarnya merasa malu atas kejadian tadi. Kalau hanya tercebur dia masih bisa menahan malu, tapi kalau sampai bagian sensitifnya dilihat orang lain apalagi itu pria, rasanya itu adalah hal memalukan dalam hidupnya.


***


" Azkia, ya ampun ... kok malah tiduran, sih? Gibran sudah datang, tuh!" Natasha yang masuk ke dalam kamar Azkia dan melihat anaknya berbaring di tempat tidur langsung mendekati Azkia. Karena malam Minggu ini Gibran sudah menjemput putrinya itu untuk pergi bermalam mingguan.


" Azkia nggak enak badan, Ma. Perut Kia sakit, sepertinya masuk angin, deh." keluh Azkia memegangi perutnya.


" Kamu masuk angin? Sudah minum obat belum? Nanti Mama ambilkan obat, nanti kamu minum terus istirahat. Kamu jangan pergi keluar dulu, biar Gibran nanti Papa saja yang temani dia mengobrol." Natasha kemudian keluar kamar Azkia untuk mengambil obat yang dibutuhkan oleh putrinya itu.


" Ini diminum dulu obatnya." Setelah kembali ke kamar putrinya, Natasha kemudian memberikan obat yang akan diminum oleh Azkia.


" Ma, Kak Gibran suruh temani Kia saja di sini." Azkia meminta Natasha memanggil Gibran ke kamarnya.


" Apa? Mama nggak akan membiarkan kamar anak perawan Mama dimasuki anak laki-laki selain anggota keluarga!" tolak Natasha, dia tidak menyetujui permintaan Azkia.


" Orang cuma nemenin doang, Ma."


" Tetap tidak boleh bawa laki-laki ke kamar sebelum menikah!" Natasha dengan tegas kembali menolak.


" Memang sebelum menikah Papa nggak pernah masuk-masuk kamar Mama?" tanya Azkia iseng.


" Kia, Papa kamu itu pria baik-baik! Nggak pernah Papa kamu masuk-masuk kamar Mama sebelum menikah." Natasha membanggakan suaminya.


" Kak Gibran juga 'kan cowok baik-baik, Ma." Azkia pun tak kalah dengan Mamanya memuji Gibran.


" Tapi tetap tidak pantas berada dalam kamar dengan pria lain tanpa hubungan yang legal, Kia!"


Azkia menelan salivanya. Seketika dia ingat kejadian siang tadi saat dia dan Raffasya berada dalam satu kamar sampai terjadi hal memalukan yang menimpa dirinya. Dia tidak membayangkan jika Mama dan juga Papanya sampai tahu tentang hal itu, pasti mereka akan marah.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️