
Raffasya bersorak dalam hati karena dia berhasil mengelabui istrinya yang sedang mengambek karena ucapannya yang menghina masakan Azkia yang tidak dia ketahui jika itu adalah hasil usaha istrinya untuk membuatnya senang.
" Aku nggak masalah Kak Raffa nggak suka sama masakan aku, tapi aku nggak berpisah ..." Azkia terus saja terisak tak ingin berpisah dengan suaminya karena dia sendiri sesungguhnya sudah merasa nyaman bersama Raffasya.
" Sudah nggak usah nangis! Cengeng banget, sih!"
Azkia seketika menarik tubuh dari pelukan suaminya saat mendengar suara Raffasya yang terdengar seperti meledeknya. Apalagi saat dia melihat suaminya itu menyeringai.
" Kak Raffa ngerjain aku, ya??" Azkia sontak merasa kesal karena dia merasa telah tertipu dengan perkataan Raffasya sebelumnya.
" Hahaha, bilang saja kamu nggak mau jauh dari aku." Raffasya meledek Azkia hingga Azkia akhirnya menghempaskan tubuhnya kembali dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
" Yaaahh, ngambek lagi ... Sudah dong, May. Jangan ngambek-ngambek terus. Aku minta maaf, oke? Tunggu sebentar ..." Raffasya kemudian bangkit dan berjalan ke luar kamarnya.
Azkia menoleh saat merasa suaminya itu keluar dari kamar. Dengan mendengus kesal dia kembali menutupi kepala dengan selimutnya. Karena sebenarnya dia berharap suaminya itu akan membujuknya dengan rayuan-rayuan.
Lima menit berselang, Raffasya kembali ke kamarnya dengan membawa nampan berisi dua buah piring nasi beserta lauk, semangkuk sayur dan juga dua botol air mineral.
" May, kamu makan dulu, biar aku yang suapi kamu." Raffasya membujuk istrinya itu untuk menyelesaikan makanan mereka.
" Ini lihat aku habiskan makanan aku tadi. Nggak masalah rasanya seperti apa, aku akan habiskan." Raffasya terpaksa menyantap makanannya demi membuat istrinya tidak mengambek lagi.
" Aku nggak sangka kamu punya keinginan untuk memasak menu makanan favorit aku, May." Dengan mulut penuh dengan nasi dan lauk Raffasya terus saja bicara untuk meluluhkan hati istrinya. Walaupun beberapa kali juga dia meneguk air karena rasa pedas dari makanan yang dibuat oleh Azkia.
Azkia yang mendengar beberapa kali suaminya itu nampak kepedasan langsung membuka selimutnya dan menoleh ke arah Raffasya.
" Jangan dimakan kalau memang pedas, Kak! Nanti perut Kak Raffa sakit." Azkia melarang Raffasya menghabiskan makanannya.
" Nggak masalah asalkan kamu nggak marah lagi sama aku." Raffasya kemudian mengambil piring makanan punya Azkia. " Kamu juga makan, kamu makan menu makanan Nenek saja, jangan makan sapi lada hitam nya. Kasihan dedek bayinya nanti kepedasan. Nih, aaaa ..." Raffasya menyendokkan nasi dan lauk ke mulut Azkia, namun Azkia menggelengkan kepalanya.
" Aku makan punya Kak Raffa saja."
Raffasya menyeringai mendengar ucapan istrinya, " Kamu mau makan punyaku? Boleh, nanti setelah kita selesai makan, kamu boleh makan punyaku." Raffasya memainkan kedua alisnya menggoda Azkia.
Azkia menyipitkan matanya, dia menduga jika suaminya itu menafsirkan lain perkataannya.
" Sudah ayo cepat makan, setelah ini giliran kamu yang aku makan," ucap Raffasya tertawa kecil.
" Dasar me sum!!" umpat Azkia.
" Hahaha, ayo buka mulutnya! Kasihan dedeknya kelaparan," bujuk Raffasya kembali.
" Aku mau yang itu saja kayak Kak Raffa." Azkia menunjuk piring milik Raffasya.
" Aku nggak kasih ijin kamu makan pedas! Ayo buruan dimakan!" tegas Raffasya memaksa membuat Azkia akhirnya menerima suapan demi suapan dari suaminya.
Setelah selesai menyuapi Azkia, Raffasya melanjutkan makanannya.
" Kak sudah! Jangan dilanjutkan makannya!" Azkia melarang suaminya itu melanjutkan makanannya.
" Nggak apa-apa, kamu tenang saja." Raffasya meminta Azkia untuk tidak khawatir.
" Kalau Kak Raffa tetap makan itu, aku juga akan ikut makan itu!" Azkia menjauhkan selimut dari tubuhnya dan segera turun dari tempat tidur.
" Mau ke mana, May?" tanya Raffasya heran.
" Aku akan ke dapur dan makan sapi lada hitam buatanku," sahut Azkia.
" Jangan, May!" Raffasya bangkit dan menghadang Azkia yang ingin keluar dari kamarnya.
" Kalau Kak Raffa melarang aku makan masakanku, Kak Raffa juga jangan teruskan makannya. Kalau Kak Raffa mau makan menu yang sama, nanti aku orderkan saja di restoran pake Ojol." Azkia menawarkan pilihan untuk suaminya.
Raffasya tersenyum melihat istrinya yang sangat mengkhawatirkannya. Dia langsung membelai kepala Azkia dan mengecup kening istrinya itu.
" Terima kasih kamu sudah perhatian sama aku, May." ucapnya.
" Iiihh, siapa juga yang perhatian? Aku cuma nggak mau disalahkan oleh Nenek karena membuat Kak Raffa nantinya sakit perut karena makan masakan buatanku." Azkia masih saja menyangkal perasaannya yang memang mencemaskan suaminya jika sakit perut bukan karena takut kena teguran Nenek Mutia.
" Masa sih, nggak mencemaskan aku?" ledek Raffasya.
" Memang nggak, kok. Jangan kepedean deh, Kak." Azkia memalingkan wajahnya tanpa dia sadari jika saat itu semu merah sudah membias di wajahnya.
" Iya deh iya, aku terlalu geer. Memang nasib aku, nggak ada orang yang perduli dan perhatian sama aku selain Nenek," tutur Raffasya lirih.
Azkia langsung mencubit lengan suaminya mendengar Raffasya ternyata tidak menganggap dirinya juga ikut perduli kepada suaminya itu.
" Aaaawww ... kenapa cubit aku??"
" Kak Raffa pikir kalau Kak Raffa pulang telat nggak kasih kabar, aku nggak perduli sama keselamatan Kak Raffa??" protes Azkia.
" Hehehe ... aku mau bilang kamu juga perduli sama aku, takut dituduh aku kepedean lagi," sindir Raffasya, sementara Azkia langsung memberengut mendengar jawaban suaminya.
Raffasya kemudian mendekap tubuh Azkia dan menciumi pucuk kepala istrinya itu.
" Terima kasih, May. Walaupun kamu nggak mau mengakui tapi aku bisa merasakan perhatian kamu untuk aku." Raffasya kemudian melerai pelukannya.
" Ya sudah, kita sholat Isya dulu, setelah itu aku ijinkan kamu melakukan keinginan kamu tadi," lanjut Raffasya.
" Keinginan apa?" Azkia mengeryitkan keningnya menanggapi ucapan suaminya.
" Kamu tadi bilang mau makan punya aku, kan? Punyaku langsung berdenyut dengar kamu ngomong tadi." Raffasya tertawa kecil mengucapkan kalimat tersebut.
" Dasar otak me sum!!" Azkia berkali-kali mencubit pinggang Raffasya membuat Raffasya tertawa kencang.
***
Usia kandungan Azkia sudah memasuki bulan ke tujuh, Azkia pun sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya, hingga dia bisa konsentrasi dengan kehamilan dan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga.
Raffasya sendiri selalu melimpahkan perhatiannya kepada Azkia dan juga calon anak mereka. Tidak bisa dipungkiri olehnya, kehadiran Azkia dan calon bayinya memang seperti penyemangat untuknya. Dia merasa terlahir kembali. Dia bisa memberikan kasih sayang kepada seseorang yang juga membalas perasaannya walau tidak pernah diungkapkan lewat kata-kata.
Raffasya merasakan dia mendapatkan apa yang hilang dari dirinya dulu. Kekecewaan karena kedua orang tua berpisah, sepertinya terobati dengan kehadiran Azkia di sampingnya walaupun waktu yang dilewati mereka berdua tidak pernah luput dari perdebatan.
" Dam, awal bulan depan kemungkinan gue nggak akan ke sini selama seminggu. Tolong lu handle semua yang ada di sini. Kalau nggak urgent banget, gue nggak ingin diganggu, kecuali ada hal mendesak yang benar-benar nggak bisa lu tangani sendiri," ujar Raffasya saat berbincang dengan Adam sore ini di ruangan kerjanya.
" Baik, Mas. Memangnya ada apa, Mas Raffa?" tanya Adam.
" Gue ingin mengajak bini gue liburan, Dam. Sekali-sekali refreshing jangan cari duit melulu," sahut Raffasya tertawa kecil.
" Sekalian babymoon ya, Mas?"
" Ah, itu juga bisa, karena dulu kami nggak sempat pergi honeymoon jadi momennya sekarang pas."
" Ya sudah, selamat berlibur, semoga kondisi di sini aman terkendali jadi nggak mengganggu acara liburan Mas Raffa dan Mbak Kia," ujar Adam.
" Thanks, Dam."
Tok tok tok
" Permisi, Mas Raffa. Ada tamu yang mencari." Seorang pegawai wanita Raff cafe bernama Nindi berbicara saat masuk ke ruangan Raffasya.
" Tamu? Siapa?" tanya Raffasya yang merasa tidak mempunyai janji bertemu dengan siapapun.
" Mereka bilang sih mau mengadakan event dan mau kerja sama dengan Raff FM untuk mempromosikan acaranya." Nindi menjelaskan.
" Oh, ya sudah suruh dia masuk, Nin." ucap Raffasya menyuruh Nindi mempersilahkan tamunya itu untuk masuk ke dalam.
" Baik, Mas." Nindi pun meninggalkan ruangan Raffasya untuk menemui calon klien Raff FM.
" Alhamdulillah rezeki, Mas." sahut Adam.
" Baik, Mas." sahut Adam.
Tak berapa lama Nindi pun kembali bersama dua orang wanita muda cantik berhijab yang ikut masuk ke dalam ruangan kerja Raffasya.
" Assalamualaikum ..." sapa dua wanita itu bersamaan.
Raffasya mengerjapkan matanya mendapati salah seorang wanita yang muncul di ruangannya. Tak lama keningnya berkerut mencoba mengingat wanita berpenampilan muslimah, karena wanita itu terasa familiar baginya.
" Waalaikumsalam ..." Adam yang menjawab salam dari kedua wanita itu karena Raffasya masih tertegun mendapati wanita berhijab di hadapannya. " Silahkan, Mbak." Adam mempersilahkan wanita itu untuk duduk di sofa.
" Terima kasih, Mas." sahut wanita tadi, sementara Nindi langsung pergi setelah Adam memberikan kode untuk membuatkan minuman.
" Hmmm, maaf, kalau boleh tahu, ada keperluan apa Mbak-Mbak ini datang ke studio saya?" tanya Raffasya setelah bisa menguasai diri dari ketertegunannya.
" Oh ya, perkenalkan nama saya Aisyah dan ini Humaira. Kami kebetulan punya perkumpulan remaja muslim. Dan kami ingin mengadakan perlombaan dakwah remaja. Karena itu kami ingin bekerja sama dengan Raffa FM untuk mempromosikan event ini," ucap wanita bernama Aisyah.
" Oh, begitu. Boleh saja, kami akan membantu, apalagi acara yang akan kalian adakan adalah hal yang positif, sudah pasti kami akan membantu." Raffasya merespon positif rencana lomba dakwah remaja itu.
" Mengenai tarifnya bagaimana, Mas?" suara wanita bernama Humaira terdengar begitu lembut bertanya kepada Raffasya.
Raffasya menoleh ke arah wanita yang bernama Humaira itu. Dia akhirnya mulai teringat jika wanita itu adalah wanita yang pernah dia temui di restoran. Wanita yang mengingatkan dia pada sosok Rayya.
" Hmmm, begini Mbak, siapa tadi namanya?" Raffasya sepertinya kurang fokus dengan ucapan Aisyah yang menyebutkan nama Humaira tadi.
" Saya Humaira, panggil saja Maira," ujar Humaira.
Raffasya menghela nafas mendengar suara lembut wanita yang bernama Humaira, namun saat wanita itu menyebut nama panggilannya tiba-tiba saja dia teringat akan istrinya, yang selalu dia panggilan Almayra.
" Bagaimana, Mas?" Aisyah menyambung pertanyaan Humaira.
" Oh, hmmm ... nanti kami beri tarif spesial karena event yang kalian adakan ini sangat positif." Raffasya langsung memutuskan akan memberikan tarif spesial untuk acara mereka.
" Terima kasih banyak, Mas." Humaira dan Aisyah mengucapkan terima kasih secara bersamaan. Lalu Aisyah menjelaskan konsep acara yang akan diselenggarakan oleh perkumpulan remaja muslimnya. Aisyah yang lebih banyak berbicara sementara Humaira lebih banyak mendengarkan rekamnya itu memberi penjelasan. Sedangkan Raffasya sesekali menoleh ke arah Humaira, apalagi saat wanita cantik itu mengembangkan senyuman, tak bisa dipungkiri senyuman wanita itu terasa menyejukkan di hati.
***
" Assalamualikum, May ..." Raffasya menyapa istrinya saat sampai di dalam kamarnya. Namun dia tidak menemukan keberadaan istrinya itu di dalam kamar.
" May ..." Raffasya kemudian melangkah ke arah balkon karena dia melihat pintu balkon kamarnya terbuka.
" Ya ampun, May. Kamu kok tidur di sini?" Raffasya justru menemukan istrinya itu terlelap di kursi ayunan dengan posisi meringkuk.
" May, ayo bangun ..." Raffasya mengusap wajah istrinya.
" Oouugghh ... sudah Shubuh ya, Kak?" Azkia menggeliat merenggangkan otot-ototnya, membuat Raffasya terkekeh mendengar ucapan istrinya yang menganggap jika saat ini adalah pagi hari.
" Iya, itu lihat matahari sudah mau terbit." Raffasya sengaja mengerjai istrinya.
" Yaaahh, aku nggak kebagian sholat Shubuh ... Kak Raffa kok nggak bangunin aku, sih??" protes Azkia kemudian bangkit dari kursi ayunan dan bergegas masuk ke kamar ingin bergerak ke kamar mandi.
" Kamu mau ke mana, sih?" Raffasya mengikuti langkah Azkia dan menahan lengan Azkia hingga langkah istrinya terhenti.
" Aku mau mandi, Kak. Mau Shubuh ..." Dia lalu melihat ke arah jam dinding. " Tuh, sudah setengah enam. Aku juga mau siapkan sarapan untuk Kak Raffa juga," lanjutnya seraya memperhatikan Raffasya terlihat rapih.
" Kak Raffa mau ke mana pagi-pagi gini sudah rapih?" tanya Azkia terheran, karena biasanya suaminya itu akan pergi ke Raff FM & Caffee sekitar jam sembilan pagi.
" Menurut kamu aku mau ke mana?" Raffasya sengaja mengusili istrinya kembali.
" Mau janjian sama cewek, ya??" selidik Azkia dengan sorot mata menatap galak.
Raffasya tergelak mendengar tudingan dari istrinya. Dia pun lalu merangkul pundak Azkia dan membawanya duduk di sofa kamar.
" Kak aku mau Shubuh ..." Azkia menyingkirkan lengan suaminya.
" Hei, kamu ini ngelindur, ya?" Raffasya masih belum menghentikan tawanya.
" Siapa yang ngelindur, sih??" Azkia menyangkal dituduh suaminya itu setengah sadar.
" Yang ngelindur itu kamu ..." Raffasya menarik gemas cuping hidung Azkia. " Kamu lihat baju yang aku pakai?"
Azkia mengeryitkan keningnya mencoba mengingat baju yang dipakai oleh suaminya.
" Kok Kak Raffa pakai baju itu lagi, sih? Kemarin pakai baju ini, sekarang dipakai lagi. Kayak nggak punya pakaian lain saja. Jangan malu-maluin aku dong, Kak! Mertua punya butik beberapa cabang, pakaiannya kok nggak ganti-ganti? Aku mau Shubuh dulu nanti aku pilihkan pakaian yang lain untuk Kak Raffa." Azkia ingin bangkit namun Raffasya menahan pundak Azkia hingga istrinya itu urung berdiri.
" Aku pakai baju ini hari ini bukan kemarin, May."
" Kak Raffa itu kemarin juga pakai baju ini, orang aku yang siapin bajunya, kok!"
" Iya memang kamu yang siapin tadi pagi dan hari ini bukan kemarin. Kamu itu ngelindur, ini tuh sore bukan pagi hari. Coba kamu lihat langitnya jelang senja." Raffasya menunjuk ke arah jendela.
" Hahhh? Jadi bukan pagi?"
" Bukan, May. Makanya kalau habis Azhar itu jangan tidur, nggak baik tidur selepas waktu Ashar, karena akan mengganggu kesehatan dan jadi linglung seperti kamu sekarang ini."
" Aku tadi habis mandi, sholat Ashar terus duduk di teras, nggak tahunya malah ketiduran." Azkia menjelaskan kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.
" Oh ya, May. Kamu tahu nggak, tadi siapa yang datang ke radio?" Raffasya sengaja ingin menguji tingkat kecemburuan istrinya.
" Siapa memangnya?"
" Cewek yang pernah bikin kamu jealous ke aku." Raffasya terkekeh.
" Hahh? Aku jealous ke Kak Raffa karena cewek siapa? Maaf ya, nggak pernah tuh, aku jealous sama cewek-cewek yang dekati Kak Raffa." Azkia menampik dianggap cemburu karena seorang wanita yang dimaksud suaminya.
" Masa sih nggak jealous? Padahal saat itu sampai kamu kabur ninggalin aku di resto sendirian, lho." Raffasya mencoba membuka ingatan istrinya.
Azkia mengeryitkan keningnya, sepertinya dia ingat siapa yang dimaksud Raffasya. Tentu saja dia tidak akan lupa kejadian saat Raffasya menatap seorang wanita berhijab yang mirip dengan Rayya.
Azkia segera memutar posisi duduknya dan menatap curiga kepada suaminya.
" Kok Kak Raffa masih ingat kalau orang yang datang itu adalah orang yang Kak Raffa temui di restoran dulu? Terus mau ngapain dia datang-datang ke radio, Kak Raffa? Kak Raffa mau selingkuh, ya?!" Azkia sudah mulai tersulut api cemburu.
Raffasya justru terkekeh menanggapi sikap Azkia.
" Buat apa aku selingkuh? Istri aku ini sudah paket lengkap begini, kok. Mau cari yang gimana lagi??" Raffasya dengan tenang menanggapi Azkia yang mulai kesal.
" Eh, iya ... nama dia juga ternyata hampir sama dengan kamu lho, May. Namanya Humaira, panggilannya Maira. Mai, Maira ...."
Azkia langsung bangkit dengan sangat emosi, " Pantas saja Kak Raffa senang panggil aku May, rupanya karena nama wanita itu, hahh??" Azkia langsung berkacak pinggang.
" Ya ampun, May. Kamu jangan aneh-aneh, deh! Orang aku tahu nama dia saja baru hari ini, kok." Raffasya dengan cepat membantah.
" Oke, kalau begitu, mulai hari ini jangan panggil aku May, Mey, May, Mey lagi! Aku nggak suka!" Azkia kemudian beranjak masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu.
Sedangkan Raffasya langsung terkekeh melihat sikap istrinya yang jelas-jelas menunjukkan kecemburuannya Tak lama Raffasya pun menyusul langkah Azkia ke kamar mandi untuk memulai aksinya membujuk istrinya yang kembali merajuk.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️