MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Selalu Menjadi Penolong



Azkia menemani Natasha berlatih senam Zumba Sabtu siang ini. Azkia yang ingin tetap terlihat cantik dan bugar seperti Mamanya tentu saja selalu melakukan kebiasaan yang biasa dilakukan Mamanya, dari mengkonsumsi makanan, perawatan wajah dan juga tubuh.


" Ini anaknya, Mbak?" tanya seorang member baru di sanggar senam yang biasa dijadikan tempat oleh Natasha untuk melatih kebugaran dan juga keindahan tubuhnya.


" Iya, ini anak saya yang kedua," sahut Natasha.


" Anaknya sudah gadis begini, Mamanya masih terlihat cantik dan awet muda. Jadi seperti kakak adik kelihatannya." Orang itu kembali berkomentar.


" Terima kasih untuk pujiannya." Natasha tentu saja merasa senang setiap kali ada yang memujinya cantik dan awet muda. " Saya permisi duluan ya, Mbak. Assalamualaikum ..." Natasha berpamitan kepada orang itu karena dia sudah selesai latihan senam.


" Oh iya, silahkan. Waalaikumsalam ..." Orang itu menyahuti salam yang diucapkan oleh Natasha.


" Kita langsung pulang, Ma?" tanya Azkia saat mereka berjalan ke arah mobil mereka yang terparkir di halaman sanggar senam itu.


" Iya deh, kita pulang saja. Nanti Papa kamu kehilangan Mama karena ditinggal terlalu lama. Kamu juga mau malam mingguan dengan Gibran, kan?" tanya Natasha.


" Kak Gibran sedang keluar kota, Ma." Nada bicara Azkia terdengar lemas.


" Ciee, yang malam mingguannya ditinggal ke luar kota jadi cemberut begini." Natasha menggoda Azkia seraya mencolek dagu putrinya itu.


" Apaan sih, Ma!" Azkia memberengut saat Natasha menggodanya. " Jadi kita pulang saja, nih?" tanya Azkia kembali.


" Inginnya sih ke mall, tapi Mama takut khilaf." Natasha terkikik mengutarakan keinginannya yang sering membuatnya hilang kendali dalam berbelanja.


" Iya deh, Ma. Kita ke mall saja, yuk!" Azkia nampak antusias menanggapi perkataan Mamanya.


" Tapi nanti Papa kamu cari kita lho, Kia."


" Tenang saja, Ma. Nanti Kia bilang sama Papa kalau Kia akan jagain Mama biar nggak melirik berondong-berondong yang berkeliaran di mall mencari Tante-tante kesepian dan haus belaian." Azkia tertawa saat mengatakan kalimat tadi.


" Iiissshhh, buat apa melirik berondong? Enak juga cari Sugar Daddy yang banyak duitnya." Natasha berseloroh membuat Azkia kembali tertawa lepas. sebelum akhirnya mereka menaiki mobil milik Azkia.


Sebelum ke mall, Azkia mengisi bahan bakar untuk mobilnya terlebih dahulu di SPBU terdekat dengan sanggar senam.


" Mas, pertamax full tank, ya!" Azkia meminta petugas SPBU itu untuk mengisi penuh bahan bakar mobilnya.


" Baik, Mbak. Silahkan dilihat, mulai nol ya, Mbak." Petugas SPBU menyuruh Azkia melihat display di mana akan terlihat angka yang menunjukkan jumlah liter dan nominal yang harus dibayar setelah memasukan nozzle SPBU ke dalam tangki bahan bakar mobil.


Setelah selesai mengisi bahan bakar, Azkia menepikan mobilnya terlebih dahulu karena dia berniat menarik uang tunai di gerai ATM yang ada SPBU tersebut.


" Kia nggak ada tunai, mau ambil uang dulu ya, Ma."


" Ya sudah, hati-hati." jawab Natasha.


" Iya, Ma." Azkia kemudian turun dari mobil dan menuju gerai ATM bank yang dia tuju. Setelah mengambil uang tunai untuk mengisi dompetnya, Azkia pun keluar dari ATM dan berjalan menuju mobilnya kembali.


Namun saat Azkia ingin membuka pintu mobil, sebuah motor tiba-tiba hampir saja menyerempetnya, membuat Azkia kaget dan dengan secepat kilat salah satu dari pengendara motor itu menarik tas Azkia hingga tali sling bag yang dikenakan Azkia terputus dan tas Azkia berhasil diambil oleh penjambret itu.


" Woi, jambret ...!!" teriak Azkia yang spontan langsung berlari mengejar motor penjambret itu.


" Astaghfirullahal adzim, Kia!" Natasha yang melihat Azkia justru berlari bukannya masuk ke dalam mobil untuk mengejar penjambret tadi, segera mengambil alih kemudi dan segera menjalankan mobilnya keluar SPBU ke arah Azkia berlari.


Sekitar lima puluh meter dari SPBU, Natasha melihat motor milik penjambret itu terjatuh dan dia mendapati Azkia sedang berkelahi dengan kedua penjamret itu. Natasha yang melihat orang-orang di sekeliling hanya menonton tak membantu Azkia yang sedang dikeroyok dua orang penjambret langsung keluar dari mobil dan berteriak.


" Tolong anak saya! Dua laki-laki itu penjambret!!" pekik Natasha menunjuk dua orang yang sedang bertarung dengan putrinya.


Orang-orang yang awalnya hanya menonton langsung bertindak ingin membantu Azkia, namun langkah mereka tertahan saat salah satu penjambret mengacungkan senjata tajam.


" Jangan berani-berani mendekat!"


Sementara penjambret yang satunya masih terus berkelahi dengan Azkia.


" Kita cabut saja!" penjambret yang tadi membawa senjata tajam segera berlari ke arah motornya dan menyalakan mesin motornya karena jalanan semakin ramai. Terlalu riskan jika mereka tetap ada di sana hingga pelaku tindak kriminal itu memilih untuk kabur. Setelah mesin motornya itu menyala, pelaku lain yang sedang meladeni Azkia berkelahi langsung berlari dan dengan cepat naik ke atas jok motor belakang.


" Hei jangan kabur, lu!" teriak Azkia karena kedua pelaku penjambretan itu sudah siap kabur. Namun disaat yang bersamaan sebuah motor sport melintas dan pengendara motor itu langsung menggerakkan kaki kirinya melakukan gerakan tendangan ke arah motor penjambret hingga dua orang penjambret itu kembali tersungkur jatuh dari motornya.


Azkia yang melihat pelaku kejahatan itu kembali terjatuh dengan cepat menyerang si pelaku. Sedangkan pengendara motor sport yang tak lain adalah Raffasya, yang kebetulan hendak ke La Grande Cafe yang berjarak sekitar lima ratus meter dari tempat itu menyerang pelaku lainnya. Hingga kini pertarungan menjadi imbang dan jumlah orang-orang yang menonton pun semakin banyak.


Natasha yang melihat kehadiran Raffasya yang membantu Azkia langsung menarik nafas lega. Setidaknya Azkia tidak dikeroyok oleh dua pelaku kejahatan tadi.


Sekitar lima menit berselang, kedua penjahat itu sudah berhasil dilumpuhkan oleh Azkia juga Raffasya dan diamankan oleh beberapa orang yang tadi hanya menjadi penonton.


" Kia, sayang kamu nggak apa-apa?" Natasha langsung menghampiri Azkia karena dia sangat khawatir.


" Nggak apa-apa, Ma." Azkia lalu melirik ke arah Raffasya yang sedang berbincang dengan orang-orang yang sedang mengamankan para pelaku kejahatan tadi.


" Untung ada Raffa yang bantu kamu Kia." Natasha yang menyadari putrinya sedang memperhatikan Raffasya langsung berkomentar hingga membuat Azkia menoleh ke arah Natasha.


" Ternyata dia nggak bandel-bandel amat, buktinya sekarang dia tolong kamu, Kia." ujar Natasha, karena selama ini dia selalu mendapat laporan jika Raffasya itu sering membuat masalah.


" Raffa, makasih ya kamu sudah membantu Kia melumpuhkan penjambret itu." Natasha langsung mengucapkan terima kasihnya saat Raffasya berjalan mendekat ke arah mereka.


" Iya." Hanya kalimat singkat itu yang keluar dari mulut Raffasya.


" Apa penjahat itu akan dibawa ke kantor polisi, Raffa?" tanya Natasha kemudian.


" Apa Tante dan anak Tante ini mau ikut ke kantor polisi untuk memberi laporan dan memberi keterangan sebagai saksi juga korban? Mungkin tas anak Tante ini sementara akan ditahan sebagai barang bukti." Raffasya menjelaskan apa yang akan terjadi jika melaporkan pelaku kejahatan itu kepada polisi.


" Lalu mereka akan dibiarkan saja?" tanya Natasha.


" Saya sudah membebaskan masyarakat sekitar sini untuk melakukan apa yang mereka inginkan kepada penjambret itu."


" Maksud kamu mereka mau dihakimi oleh massa? Apa itu tidak berbahaya? Orang itu bisa mati lho kalau massa sudah bertindak." Natasha merasa khawatir jika massa sampai mengamuk.


" Kita lapor polisi saja, biar ditindak secara hukum." Azkia yang tadi hanya diam kini mengambil keputusan. Dia merasa ngeri juga jika massa sampai kalap dan membuat kedua orang itu kehilangan nyawanya.


" Kamu yakin akan memproses hal ini ke pihak yang berwajib, Kia? Seperti yang Raffa bilang tadi, pasti kamu nanti harus menghadap untuk dimintai keterangan." Natasha terlihat cemas putrinya akan mendapat kesulitan jika melapor ke pihak berwajib.


" Tenang saja, Ma. Kita ini nggak salah. Lagipula Kia nggak mau dengar berita mereka tewas dikeroyok massa," sahut Azkia.


" Menurut kamu bagaimana Raffa?" Natasha meminta pendapat Raffasya.


" Nggak masalah kalau memang mau lapor ke pihak yang berwajib. Kita bawa saja pelakunya ke kantor polisi biar lebih cepat." Raffasya menyampaikan pendapatnya.


" Bawa mereka? Pakai mobil sendiri? Mama takut, Kia. Mama nggak mau kalau mereka harus semobil sama kita!" Natasha langsung memprotes dan tidak setuju seandainya para pelaku kejahatan itu harus mereka bawa dengan mobil Azkia.


" Nanti kita cari mobil pick up yang lewat saja sekalian angkut motor si pelaku." Raffasya menjawab kecemasan Natasha.


Akhirnya setelah mendapatkan mobil pick up yang kebetulan melintas di sana, kedua pelaku kejahatan yang sudah berhasil dilumpuhkan oleh duet Raffasya dan Azkia pun dibawa ke kantor polisi. Dengan Azkia, Natasha dan juga Raffasya yang menaiki motornya mengikuti di belakangnya.


***


Setelah melakukan pelaporan dan memberi keterangan, Azkia, Natasha dan Raffasya keluar dari kantor polisi.


" Sudah lama nggak latihan sekarang dibawa berkelahi lumayan pegal juga ini badan," keluh Azkia kepada Natasha karena tadi sempat melawan dua orang sekaligus.


" Kamu repot kuliah sama urus butik, ya?" Natasha merangkul pundak Azkia.


" Iya, Ma." sahut Azkia.


" Oh ya, sekali lagi Tante ucapkan terima kasih ya, karena Raffa sudah membantu Kia." Natasha kembali mengucapkan terima kasih kepada Raffasya yang berjalan di belakang mereka.


" Anak Tante sendiri, nggak minat bilang makasih juga?" sindir Raffasya.


" Kalau niat menolong itu yang ikhlas nggak usah haus akan pujian!" celetuk Azkia.


" Gue nggak harus pujian. Gue rasa orang yang waras akan mengucapkan rasa terima kasihnya ketika ditolong seseorang. Kecuali jika orang itu nggak waras!" Sindiran pedas kembali dilontarkan Raffasya.


" Kak Raffa bilang aku nggak waras?" Azkia merasa tersinggung dengan ucapan Raffasya.


" Gue nggak bilang seperti itu, kok! Justru lu sendiri yang merasa begitu, kan?" Seringai tipis terbentuk di sudut bibir Raffasya.


" Eh, Kak Raffa bisa nggak sih? Nggak selalu cari perkara sama aku?" Azkia langsung berkacak pinggang dengan nada bicara meninggi.


" Azkia! Jangan teriak-teriak begitu! Kita ini masih di kantor polisi, apa perlu Mama laporkan kalian berdua karena selalu saja bikin keributan?" Natasha yang melihat Azkia dan Raffasya justru berdebat langsung melontarkan ancamannya,


" Anak Tante ini yang selalu cari keributan!" tuduh Raffasya.


" Nggak salah? Bukannya Kak Raffa yang selalu usil sama Kia? Kak Raffa yang selalu bikin Kia emosi?" bantah Azkia.


" Itu masalah lu! Emosi lu labil, sih!"


" Eh, sembarangan bilang emosi aku labil! Kak Raffa itu yang kalau bicara kasar nggak ada sopan santunnya!"


" Menghadapi cewek bar-bar kayak lu ngapain harus pakai bahasa yang santun?"


" Pak, Pak ...! Bisa tolong pisahkan mereka berdua, nggak? Mereka berantem terus kalau bertemu." Natasha yang melihat Azkia dan Raffasya seolah tidak menggubris ancamannya langung berteriak kepada salah satu anggota polisi yang kebetulan berjalan melewati mereka.


Azkia dan Raffasya sontak menoleh ke arah Natasha saat mendengar Natasha memanggil seorang polisi.


" Mama apa-apaan, sih! Pakai panggil-panggil polisi segala!" Azkia mencebik saat melihat polisi itu akhirnya mendekati mereka.


" Selamat sore, ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya Polisi itu.


" Ah, ini lho, Pak. Dari tadi mereka berantem terus, saya sampai pusing menghadapinya." Natasha mengadukan kelakuan Azkia dan Raffasya.


" Oh, biasa kalau kakak adik memang selalu begitu, Bu." Polisi itu justru menduga jika Azkia dan Raffasya adalah kakak beradik.


" Dia bukan kakak saya kok, Pak!" tepis Azkia cepat. " Males banget punya kakak model kayak dia, Pak!" sambungnya.


" Dih, nggak usah kepedean lu! Lu pikir gue mau punya adik macam preman seperti lu?!" Kini Raffasya membalas ucapan Azkia.


" Oh kalian bukan kakak beradik, ya? Apa kalian ini sepasang kekasih?" tanya Pak Polisi lagi seraya tersenyum.


" Iiihhh amit-amit jabang baby, deh! Jangan sampai punya pacar model gini!" Azkia mengedikkan bahunya.


" Dia bukan tipe cewek idaman saya, Pak!" Raffasya pun menyangkal dikatakan kekasih dari Azkia.


" Mereka itu sejak kecil selalu bermusuhan seperti ini, Pak." Natasha memijat pelipisnya menghadapi dua anak muda di hadapannya.


" Jangan benci-benci sama orang lho adik-adik ini, nanti ujung-ujungnya bisa saling cinta." Polisi itu terkekeh lalu berpamitan meninggalkan mereka bertiga.


" Pak, sampai matahari terbit dari barat juga aku nggak bakalan cinta sama dia!" teriak Azkia kepada Pak Polisi yang kini berjalan menjauhi mereka.


" Kia, sudah-sudah! Ayo kita pulang!" Natasha menarik lengan Azkia membawanya segera kembali ke mobil Azkia.


Sementara Raffasya menyeringai melihat Azkia yang masih mengoceh tak karuan.


" Apa lihat-lihat?!" bentak Azkia melihat Raffasya seolah meledeknya.


" Dasar preman!" Raffasya pun kemudian berjalan ke arah motornya.


" Kia nggak boleh begitu sama Raffa. Dia sudah menolong kita tadi." Natasha mencoba menasehati Azkia saat mobil mereka sudah meninggalkan kantor polisi.


" Dia itu selalu memancing emosi Kia duluan, Ma." Azkia tidak ingin disalahkan.


" Ya kamu jangan ladeni kalau dia sengaja bikin kamu emosi. Setidaknya hari ini dia sudah membantu kamu, nggak ada salahnya bilang terima kasih kepada orang yang sudah membantu kita walaupun dia itu musuh kita sekalipun."


Azkia terdiam, Mamanya tidak tahu jika sebenarnya Raffasya sudah berkali-kali menolongnya dan itu membuat dia merasa tidak nyaman. Karena Azkia tidak ingin berhutang budi kepada seseorang, apalagi orang itu adalah Raffasya, orang yang jelas-jelas selama ini selalu bermasalah dengannya.


" Dia bisa besar kepala, Ma. Karena merasa sudah menolong Kia," ucap Azkia.


" Mama nggak melihat Raffa seperti itu kok tadi. Dia langsung turun bantu kamu. Kalau dia itu benci sama kamu, bisa saja dia langsung pergi saat kamu menghadapi penjambret tadi." Natasha sepertinya bisa menganalisa sikap Raffasya.


" Mama jadi ingat waktu baru kenal sama Papa kamu dulu. Dulu Mama itu jutek sekali sama Papa kamu. Tapi Papa kamu itu berkali-kali menolong Mama. Mama juga nggak mengerti kenapa Papa kamu selalu ada di saat yang tepat ketika Mama membutuhkan bantuan. Mungkin itu yang dinamakan jodoh. Awalnya Papa sama Mama selalu berdebat, akhirnya malah sekarang jadi suami istri. " Natasha tersenyum mengingat perjalanan kisah cintanya dengan Yoga, yang awalnya dia kenal sebagai driver ojek online.


" Mama jangan samakan kisah Mama dan Papa dengan Kia, dong! Memangnya Mama berharap Kia sama Kak Raffa gitu?!" Azkia langsung mencebikkan bibirnya.


" Ya nggak gitu juga, Kia. Mama itu berharap kamu tetap sama Gibran. Karena sikap Gibran itu mirip Papa kamu." Sikap Gibran yang tenang yang membuat Natasha berharap Azkia berjodoh dengan Gibran.


" Tapi masalahnya Kak Gibran nggak pernah ada di saat Azkia kena masalah. Nggak seperti Papa yang selalu ada untuk Mama. Ah, coba kalau Kak Gibran itu kayak Kak Raffa yang selalu menjadi penolong di saat Kia ditimpa masalah." Azkia bergumam dalam hati.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️