
Setelah berbincang sejenak di teras rumah, kini Azkia membawa Atika masuk ke dalam kamar untuk berbincang di balkon kamar Raffasya.
" Suami lu ganteng banget, Az." Atika yang melihat foto akad nikah Azkia dan Raffasya memandang dengan penuh kekaguman.
Azkia langsung melirik ke arah Atika yang berhenti di depan foto akad nikah dirinya dan Raffasya.
" Ngapain dilihatin, sih?!" Azkia langsung menarik lengan Atika dan membawanya segera ke arah balkon.
" Hahaha ... lu cemburu? Takut gue rebut laki lu, ya?" Atika tergelak melihat Azkia sepertinya tidak suka dirinya mengangumi Raffasya.
" Jangan ngawur, deh! Siapa juga yang cemburu?" Azkia menampik dugaan Atika.
" Eh, gue penasaran deh, Az. Sebenarnya suami lu itu sikapnya gimana sih ke lu? Cuek? Baik? Perhatian? Atau ... Terus gimana kalian melakukan hubungan itu lagi? Lu bilang kalau kalian selama ini selalu bermusuhan, berdebat, bahkan pakai adu fisik segala. Apa kalau mau uhuuk uhuuk pakai jurus karate dulu juga?" Atika kembali menggoda Azkia membuat sahabatnya itu mendelik.
" Nggak usah tanya soal itu, deh!" Azkia mengibas tangannya meminta Atika tidak membahas masalah seputar Raffata dan hubungan suami istri.
" Suami lu tokcer lho, Az. Sekali buat langsung jadi. Kayaknya lu benaran bakal menurunkan bakat nyokap bokap lu. Akan punya banyak anak."
" Eh, gue itu suruh lu datang kemari bukan untuk membahas Kak Raffa." Azkia kesal karena Atika masih saja membahas seputar Raffasya.
" Gue spontan membahasnya, habis dia ganteng, cool abis. Biasalah, kalau soal cowok ganteng, mulut gue itu reflek untuk berkomentar." Atika terkikik.
" Tapi gimana-gimana? Dalam kondisi lu sadar dan nggak terpengaruh obat pe rangsang, lu menikmati percintaan kalian, kan? Maksud gue menikmati saat kalian hubungan?"
" My goodness, Atika!" Azkia langsung melancarkan cubitan ke lengan Atika karena Atika tak juga berhenti menanyakan seputar hubungan in tim suami istri.
" Gue penasaran, Az. Bagaimana rasanya menikah dengan musuh itu? Ya kalau dapat musuhnya ganteng seperti suami lu sih, sayang kalau ditolak, kan?" Atika belum juga puas meledek Azkia membuat Azkia memutar bola matanya karena lagi-lagu Raffasya lagi yang dibahas.
" Tapi beneran serius gue tanya, bagaimana permainan dia di ranjang? Lu bilang dia maksa lu supaya mau melayani dia, apa mainnya kasar? Apa lu nggak bisa menikmatinya?"
" Eheemm ...."
Azkia dan Atika tersentak saat mendengar seseorang berdehem dari arah pintu balkon membuat kedua orang itu langsung mengarahkan pandangan ke sana. Dan mereka semakin terbelalak saat mengetahui ternyata Raffasya yang berdiri bersandar di pintu balkon.
" Kak Raffa?"
Azkia dan Atika langsung bangkit dari duduknya dengan salah tingkah karena ketahuan sedang membicarakan orang yang ada di hadapan mereka.
" Hai, Kak Raffa. Apa kabar? Masih ingat aku, kan? Aku teman kampus Azkia. Kita pertama kali ketemu di cafe Kak Raffa waktu Azkia hampir jatuh di tangga Raff Caffee." Atika langsung menyapa Raffasya. Namun Raffasya tidak memanggapi ucapan Atika, dia lebih memfokuskan pandangannya dengan menatap tajam Azkia yang sengaja memalingkan wajah tak ingin menatap suaminya itu.
" Az, gue balik dulu ya kalau gitu ..." Atika yang menyadari situasinya kurang kondusif langsung berpamitan.
" Kok buru-buru sih, Tik?" Azkia merasa keberatan Atika buru-buru meninggalkannya.
" Gampang lain waktu gue main ke sini lagi. Gue pamit, ya." Atika memeluk dan cipika-cipiki menempelkan pipinya ke pipi Azkia.
" Permisi, Kak. Assalamualaikum ..." Atika berpamitan kepada Raffasya.
" Waalaikumsalam, gue antar lu ke depan." Azkia langsung menggandeng lengan Atika dan membawa Atika segera pergi dari kamar suaminya itu.
***
" Habis mengadu apa saja dengan sahabatmu itu?" tanya Raffasya saat Azkia kembali ke kamarnya.
" Nggak mengadu apa-apa ..." Azkia mengelak kalau dia sudah mengadu pada Atika tentang Raffasya.
" Tidak mengadu? Lalu apa yang dimaksud temanmu itu dengan memaksa? Memaksa apa?" Raffasya mendekat ke arah Azkia lalu menarik pinggang istrinya hingga saat ini tubuh ramping Azkia berada dalam belitan lengan kokoh Raffasya.
" Apa kau tidak menikmati saat aku memaksamu?" Raffasya mendekatkan wajahnya ke wajah Azkia.
Azkia menjauhkan wajahnya saat melihat wajah Raffasya mendekatinya dan mengarah ke arah bibirnya.
Melihat Azkia yang menghindar tangan Raffasya yang lainnya menarik tengkuk Azkia, hingga Azkia tidak bisa menghindar kembali saat bibir Raffasya menyentuh bibirnya. Dan menggigit bibir Azkia, membuat bibir Azkia yang awalnya mengatup kini terbuka dan langsung dimanfaatkan oleh Raffasya untuk memperdalam ciumannya. Hal itu berlangsung beberapa saat hingga tanpa terasa Azkia pun mulai menikmati sentuhan bibir Raffasya dan membalas permainan bibir yang dilakukan Raffasya terhadapnya. Bahkan suara decapan mulai terdengar di kamar Raffasya.
Namun saat Azkia mulai terhanyut dalam permainan yang diciptakan suaminya itu, tiba-tiba Raffasya menghentikan pagutannya di bibir Azkia.
" Bagaimana? Setelah dipaksa, lama-lama kamu menikmati juga, kan?" Raffasya menyeringai lalu mengurai pelukannya dari tubuh Azkia.
" Kau siap-siaplah, kita mau ke La Grande sekarang." Raffasya lalu melangkah ke luar meninggalkan kamarnya dan juga Azkia yang langsung memberengut, karena ternyata Raffasya hanya mengerjai dan menjebaknya.
" Aku nggak mau ikut!" Suara Azkia berhasil menghentikan langkah Raffasya yang sudah melewati pintu kamarnya.
" Aku tunggu di bawah, cepatlah!" Raffasya tidak memperdulikan penolakan Azkia terhadap ajakannya. Dia pun melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah.
***
Dekorasi outdoor pesta pertunangan yang diadakan di La Grande terlihat nampak indah dan terkesan romantis. Azkia sendiri tidak tahu siapa yang mengadakan acara pesta pertunangan itu. Dia pun tidak mengerti kenapa dia harus ada di tempat itu.
Azkia mende sah, suasana outdoor party di cafe ini mengingatkannya kepada Gibran. Karena dia dan mantan kekasihnya itu pernah datang ke tempat ini saat Gibran menghadiri pesta pernikahan temannya
" Mengingatkan pada seseorang?" bisik Raffasya di telinga Azkia membuat Azkia yang sedang menikmati suasana malam yang terlihat romantis itu terkesiap.
Azkia mendelik ke arah suaminya saat Raffasya meledeknya. Dia sudah menduga jika Raffasya sengaja menyindirnya.
" Untuk apa aku ikut ke sini?" tanya Azkia ketus.
" Untuk melihat kalau di sini juga bisa mengadakan even-even romantis seperti ini, walaupun dulu kamu pernah lihat sebelumnya dengan mantanmu itu." Raffasya menyeringai saat menyinggung masa lalu.
" Jadi kamu nggak perlu khawatir kalau pesta kita juga pasti akan berjalan dengan meriah dan tidak akan mengecewakan keluarga besar kamu," lanjut Raffasya kemudian.
" Hai, Raf ... Hai, Azkia ..." Fero yang mendekati Azkia dan Raffasya langsung menyapa pasangan suami istri itu.
" Hai, Fer ..." Raffasya melakukan fish bump dengan Fero.
" Lu nanti perform ya, Raf. Sebagai tuan rumah nyanyi buat mereka yang bertunangan." Fero meminta Raffasya tampil untuk menyanyikan sebuah lagu sebagai persembahan untuk yang bertunangan.
" Ijin sama bini gue dulu lu." Raffasya menyeringai melirik ke arah Azkia, membuat Azkia mengeryitkan keningnya.
" Gimana, Azkia? Bolehkan Raffa perform nyanyi nanti?" Fero kini bertanya kepada Azkia.
" Terserah ..." Azkia hanya bisa menjawab itu, karena dia tidak punya hak melarang Raffasya.
" Oke, nanti gue bilang ke MC nya kalau lu akan menyumbangkan lagu. Ya sudah, gue mau ngecek yang lainnya." Fero menepuk pundak Raffasya lalu melangkah meninggalkan Azkia dan Raffasya.
" Kita duduk di atas sana saja." Raffasya menunjuk ke arah atas, di tempat yang nyaman untuk bisa memandang ke halaman belakang cafe di mana pesta outdoor itu diadakan.
" Kamu mau makan apa?" tanya Raffsya saat mereka sudah sampai di meja yang ditunjuk Raffasya.
" Aku mau batagor," ucap Azkia.
" Di sini nggak ada batagor, May." sahut Raffasya.
" Ya sudah aku nggak mau makan!" jawab Azkia.
" Makan yang lain saja dulu." Raffasya menyodorkan buku menu makanan di cafenya.
" Aku maunya batagor. Kalau di sini nggak ada, Kak Raffa cari di tempat lain, dong! Atau Kak Raffa ingin aku saja yang pergi dari sini dan cari sendiri batagornya?" Azkia langsung bangkit dari kursinya.
" Ya sudah nanti aku suruh pegawai aku beli batagornya." Raffasya menahan tangan Azkia dan menyuruh istrinya itu untuk kembali duduk.
" Makanya di sini itu harus ditambah menu batagor biar bervariasi menunya," celetuk Azkia kembali duduk di kursi tadi.
Raffasya mendengus menghadapi sikap istrinya itu. Dia lalu memanggil salah seorang pegawai cafe dan menyuruh membelikan batagor sesuai dengan permintaan Azkia. Dia sendiri memilih menu makanan untuknya.
" Kamu mau pesan apa lagi selain batagor?" tanya Raffasya setelah dia menyebutkan menu yang dipilihnya kepada pelayan cafenya, namun Azkia menggelengkan kepalanya.
" Kau ingin dengar aku menyanyi lagu apa?" tanya Raffasya kemudian saat pelayan cafenya sudah meninggalkan mereka.
Azkia melirik ke arah Raffasya. " Memang siapa juga yang mau dengar Kak Raffa menyanyi??" Azkia memutar bola matanya.
" Sakit nggak tadi aku gigit?" Raffasya tersenyum seraya mengusap bibir milik Istrinya itu, membuat Azkia tersentak saat jari Raffasya menyentuh bibirnya.
" Kenapa sih Kak Raffa cium-cium aku terus?" Azkia menepis tangan Raffasya di bibirnya.
" Biar mulut kamu itu nggak selalu melawan kalau dinasehati sama suami." Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas.
Azkia langsung mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Raffasya.
" Kak Raffa 'kan dari dulu benci sama aku, kenapa menolong aku? Kak Raffa bisa saja waktu itu membiarkan aku dijebak sama orang-orang itu." Azkia sebenarnya merasa heran kenapa Raffasya yang sejak dulu bermusuhan dengannya justru beberapa waktu terakhir selalu ada disaat dia butuh bantuan.
" Aku nggak sejahat seperti yang kamu bayangkan, May."
" Tapi Kak Raffa itu menyebalkan!" umpat Azkia.
" Sampai sekarang?"
" Iya!" sahut Azkia cepat.
" Oke, nanti aku akan merubah sikap menyebalkanku."
Beberapa menit kemudian pesanan yang diminta Raffasya sudah tersedia sementara batagor yang sedang dibeli belum juga datang.
" Batagornya belum datang, kamu makan punyaku saja dulu." Raffasya menyuruh Azkia memakan chicken steak dan fried fries yang dia pesan.
" Nggak mau." Azkia menolak makanan yang disordorkan suaminya.
" Nggak apa aku makan duluan?" tanya Raffasya karena dia merasa lapar dia segera memotong chicken steak.
Azkia menganggukkan kepala seraya menelan salivanya mencium aroma dari makanan yang dipesan Raffasya. Tangannya pun secara reflek mengambil kentang goreng dan sayuran di tepi piring steak.
" Mau coba chicken steaknya? Di sini terkenal enak menu ini." Raffasya akhirnya menyodorkan garpu berisi potongan chicken steak ke mulut Azkia, namun Azkia menggelengkan kepalanya.
" Coba saja dulu ..." Raffasya memaksa Azkia membuka mulutnya, membuat Azkia akhirnya menuruti apa yang diminta oleh Raffasya.
" Enak, kan? Mau lagi?" Raffasya kembali menyodorkan potongan steak ke mulut Azkia saat mulut istrinya itu telah kosong dan Azkia pun menerima potongan steak itu.
" Mau pakai nasi?" Raffasya menawarkan nasi untuk dimakan oleh istrinya. Dan Azkia menganggukkan kepalanya. Raffasya meminta pelayan cafenya untuk mengambilkan sepiring nasi karena dia tadi tidak memesan nasi.
" Permisi, Mas Raffa. Ini batagornya. Maaf tadi ramai yang belinya." Akhirnya batagor yang dipesan oleh Azkia datang juga. Pegawai cafe itu pun sudah menyediakan piring dan juga sendok untuk Azkia.
Raffasya lalu membuka kertas pembungkus batagor dan menaruh di hadapan Azkia namun Azkia menyingkirkan batagor pesanannya itu dari hadapannya.
" Aku mau itu lagi." Azkia menunjuk ke arah chicken steak.
" Lalu batagornya?"
" Buat Kak Raffa saja."
Raffasya akhirnya mengalah, dia lalu menukar piringnya yang berisi steak dengan piring Azkia yang berisi batagor. Namun Azkia tak juga memakan chicken steaknya walaupun kini sudah berada di hadapannya.
" Kenapa nggak dimakan?" tanya Raffasya heran karena Azkia hanya diam memandang batagor yang kini sedang disantap olehnya.
" Enak ya batagornya?" tanya Azkia seraya menelan salivanya kembali.
" Kamu mau?" tanya Raffasya, sebenarnya dia heran karena tadi istrinya menukar steaknya dengan batagor milik Azkia, namun sekarang Azkia ingin batagor itu.
" Cobain ..." Azkia langsung membuka mulutnya meminta Raffasya menyuapkan batagor itu ke mulutnya.
Raffaya menyuapkan batagor ke mulut Azkia sesuai dengan keinginan istrinya itu.
" Lagi ..." Azkia kembali membuka mulutnya setelah dia menguyah dan menelan potongan batagor pertama tadi.
" Kamu sebenarnya mau batagor apa steak, sih?" tanya Raffasya seraya memasukan kembali batagor ke mulut Azkia.
" Itu ..." jawab Azkia sambil mengunyah batagor menunjuk ke arah batagor.
" Tadi bilangnya mau steak saja, batagornya buat aku. Nih ..." Raffasya kembali menukar batagor di hadapannya dengan chicken steak di hadapan Azkia.
Namun kejadian yang sama terjadi lagi. Azkia tidak memakan batagor yang kini sudah kembali berada di hadapannya. Dia justru menatap chicken steak di hadapan Raffasya kemudian menatap ke arah suaminya itu.
Raffasya memandang istrinya yang menatap steak miliknya. Dia pun akhirnya mengerti apa yang diinginkan Azkia. Dia menduga jika istrinya itu ingin memakan apapun yang disuapi olehnya, karena itulah piring steak dan batagor itu berpindah-pindah tempat.
Raffasya tersenyum lalu menyodorkan potongan steak ke arah Azkia yang langsung disantap oleh istrinya itu. Akhirnya Raffasya pun meladeni Azkia hingga nasi dan chicken steak itu tandas tak tersisa.
" Mau tambah lagi?" Raffaya menawarkan apakah Azkia ingin menambah makanan itu namun Azkia menolak.
" Batagornya mau kamu makan?" tanya Raffasya kembali. Yang dibalas gelengan kepala istrinya.
" Boleh aku makan?" Raffasya meminta ijin lebih dulu karena dia ingin menghabiskan batagor yang tidak dimakan oleh Azkia.
" Iya."
Raffasya mengambil piring batagor dan mulai menyantap makanan yang tadi diinginkan Azkia karena dia sendiri sudah sangat lapar.
" Aku mau, Kak." Melihat suaminya lahap memakan batagor seolah menggugah selera makan Azkia hingga dia membuka mulutnya.
Raffasya menoleh ke arah istrinya dan kembali menyuapi Azkia.
" Lagi, itu buat aku semua saja. Kak Raffa makan yang lain saja." Azkia melarang suaminya menghabiskan batagor itu dan meminta suaminya menyuapkan batagor sampai habis tak tersisa.
***
Azkia berjalan menuju nakas setelah dia selesai membersihkan wajahnya saat ponselnya berbunyi. Azkia melihat nama Rayya yang terlihat di layar ponsel milik sepupunya itu.
* Assalamualaikum, Ray ..." Azkia melirik suaminya yang sedang menonton siaran live MotoGP di televisi yang menempel di dinding di hadapan tempat tidur mereka.
" Waalaikumsalam, Kia. Kia apa kabar? Gimana kabarnya calon keponakanku? Rewel nggak calon debay nya, Kia?" tanya Rayya.
" Alhamdulillah aku baik, Ray ..." Azkia lalu berjalan ke arah tempat tidur dan medudukkan tubuhnya di atas tempat tidur di sebelah Raffasya. " Kamu gimana, Ray? Sehat juga, kan? Besok kamu mau tunangan dengan Kak Rama, kan? Kamu pasti happy banget, ya?" Azkia sengaja menekan kalimat tunangan di hadapan Raffasya.
" Aku Alhamdulillah sehat, Kia. Aku deg-degan, Kia. Semoga semua berjalan lancar acara pertunanganku dengan Kak Rama," tutur Rayya melambungkan harapannya.
" Aamiin, aku doakan semoga acara besok lancar. Dan sampai ke hari pernikahan kamu dan Kak Rama, Ray."
" Aamiin, Kia. Besok kamu datang, kan?"
" Pasti aku datang dong, Ray. Di hari-hari bahagia kamu, aku akan hadir di sana. Aku ingin melihat kebahagiaan kamu akhirnya bisa mendapatkan pria pujaan hati kamu yang sejak lama kamu idam-idamkan." Azkia melirik ke arah Raffasya yang kini menoleh ke arahnya.
" Makasih, Kia. Aku juga tidak menyangka akhirnya aku dan Kak Rama akan bersama. Ya sudah, aku hanya ingin mengingatkan kamu agar tidak lupa acara besok."
" Aku nggak mungkin lupa dong, Ray. Mama juga ingatkan aku, kok."
" Ya sudah, kalau begitu aku tutup teleponnya ya, Kia. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ..." Azkia mengakhiri pembicaraan via teleponnya dengan Rayya.
" Besok Rayya tunangan, ya?" tanya Raffasya saat Azkia mengakhiri obrolannya dengan Rayya.
" Iya, jangan sedih ya, Kak." Azkia menepuk pundak sang suami seolah meledek suaminya itu.
" Di mana acaranya pertunangannya?" tanya Raffasya kemudian.
" Kak Raffa nggak diundang, jadi buat apa tahu acaranya diadakan di mana?"
" Tapi aku suami kamu, otomatis aku akan menemanimu "
" Aku nggak mau Kak Raffa hadir di acara pertunangan Rayya dan Kak Rama. Jadi Kak Raffa nggak usah ikut ke sana!" Azkia menolak ditemani suaminya datang ke acara pertunangan Rayya dan Ramadhan.
" Kalau aku nggak datang ke sana, apa kata keluarga kamu? Nanti mereka beranggapan aku tidak perduli dengan silaturahmi keluarga kamu."
" Aku yakin Uncle Gavin juga tidak berharap Kak Raffa hadir di sana. Nanti akan mengacaukan acara pertunangan saja! Bisa saja Kak Raffa nanti berencana membawa kabur Rayya, seperti waktu itu Kak Raffa membawa pergi Rayya ke rumah ini tanpa sepengetahuan kami."
Raffasya mengeryitkan keningnya. Dia teringat jika dia pernah membawa Rayya berkunjung ke rumahnya beberapa tahun lalu.
" Apa Rayya yang mengatakan kepadamu soal itu?" tanya Raffasya. Karena dia sebenarnya cukup heran, jika Azkia tahu masalah itu kenapa Azkia tidak bereaksi pada tindakannya yang membawa Rayya pergi. Padahal selama ini Azkia yang selalu menghalanginya mendekati Rayya.
" Kalau Rayya yang kasih tahu aku, sudah dari dulu Uncle Gavin bertindak karena Kak Raffa bawa Rayya pergi tanpa sepengetahuannya."
" Lalu kamu tahu dari mana?" Raffasya merasa penasaran.
" Dari Nenek."
" Nenek? Kapan Nenek kasih tahu kamu?"
" Waktu ..." Azkia menjeda kalimatnya karena dia teringat saat itu dia diceburkan Raffasya ke dalam kolam ikan. Mengingat akan hal tersebut, Azkia seketika menjadi kesal hingga dia mengambil guling dan memukul tubuh Raffasya.
Buugghh
" Kok pukul aku?"
" Karena waktu itu Kak Raffa menceburkan aku ke dalam kolam ikan. Iiiihhh ...!" Azkia kembali memukul guling ke tubuh suaminya.
" Oh, waktu itu ... waktu pertama kali aku lihat daerah gersang kamu, ya?" Raffasya menyeringai mengingat kejadian saat handuk Azkia hampir terlepas di kamar tamu rumahnya.
" Dasar otak me sum!!!" Azkia kembali menghujani tubuh Raffasya dengan pukulan guling sementara Raffasya sibuk menangkis dan tertawa senang karena berhasil meledek istrinya itu.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️