MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Fakta Yang Terungkap



Azkia bergegas bangkit dari kursi santai di teras balkon kamarnya saat mendapatkan informasi dari Raffasya bahwa ternyata teman Papanya itu bekerjasama dengan Gladys untuk menghancurkan Raffasya.


" Kamu mau ke mana, May?" Raffasya menahan langkah Azkia dengan memegang lengan istrinya itu.


" Aku mau kasih tahu Papa siapa Om Sony itu yang sebenarnya." Azkia terlihat emosi karena dia merasa Sony sudah mengkhianati bersahabatan dengan Papanya.


" Sony itu awalnya nggak tahu kalau aku ini menantunya Papa, makanya dia menuruti saja kemauan Gladys untuk mengambil La Grande agar Gladys bisa balas dendam. Tapi setelah dia tahu siapa aku, Sony justru menolak membantu Gladys, dan karena itu dia diputusin sama Gladys." Raffasya mencoba menenangkan Azkia agar Azkia tidak menceritakan soal Sony kepada Yoga.


" Iya karena Om Sony itu tahu kalau Kak Raffa suami aku, kalau waktu acara makan malam ultah Papa kemarin dia nggak ketemu sama kita, bisa saja mereka masih menyusun rencana untuk menghancurkan Kak Raffa, kan?" Azkia merasa tetap perlu mengadukan hal itu kepada Papanya.


" Papa belum pulang 'kan, May? Kamu tenang saja dulu, sini duduk." Raffasya menyuruh Azkia untuk kembali duduk.


" Tapi mereka nggak bisa dibiarkan terus Kak. Selama ini kita diam saja, mereka justru semakin menjadi bukannya sadar diri!" Azkia merasa menyesal tidak menindak tegas Gladys, karena dia mempertimbangkan nama baik kedua orang tuanya jika publik sampai tahu apa yang pernah terjadi dengannya.


" Kalau kamu ingin mengadukan hal ini kepada Papa, artinya kamu harus siap jika Papa tanya tentang siapa Gladys dan kenapa Gladys ingin membalas dendam kepadaku. Dan itu juga pasti akan melebar ke peristiwa di Bandung. Termasuk keterlibatan wanita teman Gibran yang juga tidak menyukai kedekatan kamu dan Gibran." Raffasya mengajak istrinya itu bertukar pikiran terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menceritakan kejadian yang selama ini mereka tutupi dari keluarga.


" Daripada mereka tetap berkeliaran dan terus mengganggu kita." Azkia sudah yakin memutuskan untuk terbuka pada Papanya.


" Ya sudah kalau kamu sudah siap untuk terbuka pada Papa, tapi biar aku saja yang bilang sama Papa. Kamu nggak usah ikut-ikutan ngomong sama Papa. Bumil harus tenang, nggak boleh emosi dan nggak boleh emosi." Raffasya menasehati Azkia.


" Tapi ...."


" Nggak ada tapi! Kamu harus menuruti keputusanku!" tegas Raffasya tidak ingin ditentang oleh Azkia, membuat istrinya itu hanya bisa menuruti apa yang sudah diputuskan oleh dirinya.


***


Selepas makan malam, Raffasya memang meminta waktu kepada Yoga untuk berbicara empat mata. Dan Yoga pun membawa Raffasya ke ruang kerjanya untuk membicarakan apa yang ingin disampaikan menantunya itu.


" Ada apa, Raffa?" tanya Yoga menyandarkan punggungnya dibandaran sofa yang ada di ruang kerjanya.


" Begini, Pa. Sebelumnya Raffa minta maaf kepada Papa dan juga keluarga yang lain, kalau selama ini kami tidak jujur soal kejadian di Bandung," tutur Raffasya sangat hati-hati. Selain karena permintaan Azkia yang tidak ingin masalah itu sampai terungkap, juga karena dia takut karena posisi Gladys sebagai orang yang berambisi memilikinya akan membuat keluarga Azkia tidak akan menyetujuinya bertanggung jawab atas kehamilan Azkia, Alasan Gladys yang cemburu kepada Azkia padahal saat itu antara Raffasya dan Azkia tidak sedang menjalin hubungan asmara, Itulah alasan dia menyetujui untuk merahasiakan para pelaku penjebak Azkia.


" Tidak jujur tentang apa?" Kening Yoga berkerut hingga membuat alisnya hampir bertautan.


" Soal pelaku yang menjebak Almayra, Pa. Sebenarnya kami tahu siapa mereka-mereka itu," lanjut Raffasya, membuat Yoga membelalakkan matanya.


" Siapa mereka itu? Dan kenapa kalian menyembunyikannya dari kami?" Yoga kini menegakkan punggungnya hingga kini dia terlihat lebih serius mendengar penjelasan dari Raffasya.


" Mereka itu adalah dua orang wanita yang cemburu terhadap Almayra, Pa. Salah seorang wanita yang sejak lama mengejar Raffa dan satu lagi teman sekolah Gibran yang menyukai Gibran." Raffasya menjelaskan bagaimana Gladys dan Shendy merencanakan penjebakan terhadap Azkia termasuk menyewa dua orang pria dan juga satu orang wanita untuk diajak bekerjasama.


" Asataghfirullahal adzim ... kenapa kalian sembunyikan hal sepenting ini dari Papa, Raffa?" Yoga terlihat kecewa karena dia telat mengetahui hal itu apalagi para pelaku sebenarnya sangat dekat dengan orang yang mereka kenal.


" Kami tidak ingin memperpanjang masalah ini, karena Almayra tidak ingin membuat nama keluarga semakin tercoreng, Pa. Bagaimana jika hal ini sampai ke up dan semakin menuai pergunjingan orang-orang. Almayra memikirkan nama baik Papa dan juga Mama, karena itu kami sepakat untuk mengambil langkah tidak melaporkan pelaku. Namun ternyata kebaikan kamu tidak mengadukan mereka tidak membuat mereka jera dan sadar diri. Terutama Gladys, Pa. Karena dia masih berencana menjebak Raffa dengan memperalat seseorang untuk mengambil alih kepemilikan La Grande. Dan Papa tahu siapa orang yang diperalat oleh Gladys itu?"


" Siapa??" tanya Yoga penasaran.


" Teman Papa, Pak Sonny."


Yoga semakin terperanjat saat tahu jika Sony mempunyai niat untuk menjatuhkan menantunya. Fakta yang diungkap oleh Raffasya benar-benar membuat dia terkejut bukan main.


" Raffa tidak asal menuduh, Pa. Papa dengar sendiri 'kan waktu Pak Sony bilang ingin mengajak bekerjasama dengan La Grande? Tapi memang waktu itu Pak Sony nggak tahu kalau Raffa ini menantu Papa. Dan setelah Pak Sony tahu, dia menolak menjalankan rencana Gladys, Pa."


" Siapa sebenarnya Gladys itu? Kenapa Sony mau saja diperintah oleh Gladys?" Yoga berpikir, untuk orang yang berposisi sebagai direktur di anak perusahaan Angkasa Raya, bagaimana mungkin Sony bisa disuruh oleh seorang wanita. " Apa jangan-jangan ...."


" Iya, Pa. Gladys itu wanita simpanan Pak


Sony." Raffasya membenarkan apa yang diduga oleh Yoga walaupun Yoga sendiri tidak meneruskan kalimatnya.


Yoga mendengus kasar mendengar penjelasan dari menantunya.


" Darimana kamu tahu semua itu, Raffa?" tanya Yoga.


" Tadi Raffa habis mengunjungi teman sekolah Raffa, Pa. Saat Raffa turun ke basement aratemen tempat teman Raffa itu menginap, Raffa melihat Pak Sony sedang bertengkar dan mempermasalahkan soal Gladys yang memutuskan hubungan sepihak karena Pak Sony enggan menjalankan keinginannya." Raffasya kembali menerangkan apa yang tadi dia alami.


" Orang itu nggak pernah berubah dari dulu." Yoga menggelengkan kepalanya menanggapi perilaku temannya itu yang senang bermain wanita.


" Menurut Papa kami harus bagaimana?" tanya Raffasya meminta pendapat Papa mertuanya.


Yoga menghela nafas cukup panjang seraya berpikir.


" Nanti Papa coba bicara dengan Sony."


" Soal Gladys begaimana, Pa? Apa kita harus melaporkan dia ke pihak berwajib karena keterlibatannya yang hampir mencelakai Almayra?" tanya Raffasya.


" Nanti Papa akan bicara kepada Om Gavin tentang masalah ini." Yoga memilih berdiskusi dengan Gavin, karena suami dari Azzahra itu mempunyai orang-orang yang bisa diandalkan untuk menanggani orang-orang licik seperti Gladys. Sepertinya Yoga perlu bertindak tegas jika menyangkut nama baik dan keselamatan keluarganya.


" Baik, Pa."


" Kamu jangan cerita dulu kepada Mama soal ini." Yoga meminta agar Raffasya tidak menceritakan hal ini kepada Natasha.


" Baik, Pa."


" Ya sudah, kau boleh kembali ke kamarmu." Yoga mempersilahkan Raffasya keluar dari ruang kerjanya.


" Terima kasih, Pa. Raffa ke kamar dulu." Raffasya pun kemudian meninggalkan Yoga untuk menuju kamar istrinya.


*


*


*


Bersambung ....


Hari ini up nya sedikit karena harus mengawasi anak belajar untuk PAS besok 🙏


Happy Reading❤️