
Azkia hendak mengambil minum dari dispenser di kamarnya namun ternyata air dari galon dispenser itu habis.
" Pa, airnya habis, nih! Ambil dulu barangkali nanti malam Naufal bangun minta bikin su su!" Azkia meminta Raffasya untuk mengisi ulang air mineral dari galon di dispenser.
Raffasya segera menjalankan perintah dari sang istri dengan mengeluarkan galon dari dispenser lalu berjalan ke luar menuju arah dapur untuk mengambil galon isi ulang air mineral yang baru. Namun langkah Raffasya terhenti saat mendengar beberapa ART nya sedang berbincang di dapur membicarakan soal tetangga di kompleknya yang terlihat syok dengan status ekonomi keluarga Azkia.
Selama ini tetangga di sekitar rumahnya memang mengetahui jika keluarga Raffasya termasuk orang berada namun masih dalam kategori orang kaya yang standar. Dan mereka tidak mengetahui jika keluarga istrinya itu termasuk kategori orang kaya di atas rata-rata.
Dan Raffasya semakin menajamkan pendengarannya saat ART nya itu melebar membicarakan soal mantan kekasih dari Azkia. Tak ingin para ART nya terus membicarakan soal Gibran, akhirnya Raffasya keluar dari persembunyiannya sembari berdehem.
" Eheemmm ..." Raffasya masuk ke ruang dapur seraya menenteng galon kosong di tangannya
" Eh, hmmm ... M-Mas Raffa ..." Uni dan Atun tersentak kaget dengan kemunculan Raffasya di hadapan mereka hingga mereka bangkit dari duduknya. Bahkan Uni sampai menggaruk tengkuknya tak tidak terasa gatal.
" Sepertinya seru banget, lagi ngomongin apa, Ni? Mbak Atun?" tanya Raffasya pura-pura tidak tahu apa yang diperbincangkan Ara asisten rumah tangganya itu kemudian berjalan menaruh galon kosong ke dekat kitchen set lalu mengangkat galon isi ulang yang baru.
" Hmmm, lagi ngomongin kemeriahan acara ulang tahunnya Naufal tadi siang, Mas Raffa." Uni menutupi hal yang sedang mereka gunjingkan tadi.
" Oh, oke silahkan lanjutkan, asal jangan ngomongin majikan saja, ya!?" Raffasya mengulum senyuman kemudian berlalu dari ruangan dapur dan meninggalkan para ART nya yang saling berpandangan. Bagi Raffasya sendiri yang terpenting saat ini Azkia sudah menjadi miliknya, meskipun dulu istrinya itu pernah mencintai pria lain, namun dialah pemenang hati dan juga raga Azkia.
" Duh, tadi Mas Raffa dengar nggak, ya? Waktu aku singgung soal Mas Gibran? Aku jadi nggak enak sama Mas Raffa, Ni." sesal Atun yang mengungkit soal Gibran.
" Moga-moga sih nggak, Mbak. Maaf ya, Mbak Atun, gara-gara Uni kepo sama mantan pacarnya Mbak Kia, malah jadi kayak gini. Semoga saja Mas Raffa nggak marah sama kita-kita." harap Uni.
" Lagipula kalian ini, malah bergosip bukannya bekerja." Bi Neng menimpali.
" Ini 'kan waktu istrirahat, Bi Neng, sudah malam," sanggah Uni.
" Kalau sudah malam ya tidur jangan bergunjing terus." Bi Neng kemudian berjalan ke luar dari dapur menuju kamarnya untuk beristirahat meninggalkan Uni dan juga Atun yang masih cemas gara-gara ketahuan menggunjingkan Azkia dan mantan kekasih Azkia itu.
Sementara Raffasya yang hendak kembali ke kamarnya dengan mengangkat galon di tangannya tiba-tiba dicegat Fariz yang baru keluar dari kamar Nenek Mutia.
" Raffa, Papa ingin bicara denganmu sebentar," ucap Fariz.
" Raffa taruh ini di kamar dulu ya, Pa." Raffasya meminta ijin menaruh galon air mineral dulu di kamarnya sebelum berbincang dengan Papanya itu.
" Ya sudah, Papa tunggu di kamar, ya!?"
Setelah menganggukkan kepalanya tanda setuju, Raffasya bergegas ke kamarnya.
" Kenapa balik lagi, Pa?" tanya Azkia saat melihat suaminya itu keluar kamar kembali setelah memasang air galon ke dalam dispenser.
" Papaku mau bicara," sahut Raffasya.
" Ada apa memangnya?" tanya Azkia penasaran.
Raffasya mengedikkan bahunya menandakan dia sendiri tidak tahu apa yang ingin Papanya itu bicarakan dengannya.
" Aku mau temui Papaku dulu, Ma." pamit Raffasya yang dibalas dengan anggukkan kepala Azkia.
***
" Duduklah, Raffa ..."
Setelah sampai di kamar Nenek Mutia, Fariz menyuruh Raffasya untuk duduk di samping Fariz.
" Apa yang ingin Papa bicarakan dengan Raffa, Pa?" tanya Raffasya setelah terduduk di kursi yang sejajar dengan Papanya hanya dipisahkan dengan meja kecil.
" Raffa, apa kamu menginginkan Papa dan Mama bersama kembali?"
Raffasya terkesiap dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Papanya itu. Dia tidak mengira jika Papanya memanggilnya untuk menanyakan hal tersebut.
" Jika Papa memang nggak merasa nyaman dengan permintaan Almayra, sebaiknya nggak usah dipaksakan, Pa." Raffasya meyakini jika Fariz menanyakan hal tersebut karena desakan dari Azkia yang tak surut berusaha menyatukan Fariz dan Lusiana kembali. Dia tidak mengetahui jika Mama mertuanya pun turut mendorong kedua orang tuanya untuk rujuk kembali.
" Papa ingin tahu jawabanmu, Raffa."
Raffasya menarik nafas cukup panjang sebelum menjawab pertanyaan dari Fariz.
" Tidak ada kebahagiaan seorang anak terhadap orang tuanya selain melihat kedua orang tuanya bisa bersama dan hidup bahagia, Pa." Dengan suara hampir tercekat di tenggorokan Raffasya mengucapkan kalimat yang sebenarnya dia harapkan dari kedua orang tuanya. Bahkan Raffasya harus menahan hawa panas yang seketika menyerang di bola matanya agar air mata itu tak mengembun di matanya.
Kali ini Fariz yang giliran menghela nafas panjang. Sudah dia duga memang itulah yang diinginkan Raffasya sejak dulu walau tak pernah terucapkan sebelumnya.
" Baiklah, jawaban kamu ini akan Papa pertimbangkan sebelum Papa mengambil keputusan," tegas Fariz.
" Tapi jika itu nggak membuat Papa nyaman nggak usah dipaksakan, Pa. Karena Papa sendiri yang akan menjalaninya." Raffasya memang tidak ingin memaksakan keinginan hatinya dan rencana istrinya itu kepada Fariz.
Fariz tersenyum seraya menganggukkan kepalanya lalu berucap, " Kau kembalilah ke kamarmu, Raffa." Fariz mempersilahkan Raffasya untuk kembali ke kamar karena dia berniat menyudahi pembicaraan dengan putranya itu.
Seandainya dia berani mengakui, hari ini dia benar-benar seperti sedang digurui oleh kedua anaknya. Dulu dia sama sekali tidak pernah memikirkan dampak perpisahannya dengan Lusiana kepada diri Raffasya yang saat itu masih kecil, di usia Raffasya yang sebenarnya masih membutuhkan perhatian Papa dan Mamanya. Dia begitu dipengaruhi ego nya tanpa memperdulikan kebahagian Raffasya. Namun apa yang dia dapatkan hari ini? Kedua anaknya justru menginginkan kebahagiaan baginya. Fariz benar-benar merasa malu dengan dirinya sendiri.
Tok tok tok
" Pa ..." Rosa mengetuk pintu kamar Nenek Mutia karena Papanya itu tidur di kamar yang sebelumnya ditempati Nenek Mutia.
" Ada apa, Ca?" tanya Fariz saat pintu kamar terbuka.
" Pa, Oca mau bicara dengan Papa sebentar." Rosa menyampaikan maksudnya menemui Papanya itu.
Fariz mengeryitkan keningnya mendengar ucapan putrinya dari pernikahan keduanya dengan Wina.
" Masuklah, Nak!" Fariz mempersilahkan putrinya itu untuk masuk ke dalam kamar.
" Ada apa, Oca?" tanya Fariz mengulang pertanyaannya.
" Hmmm, Pa. Oca bahagia selama ini dibesarkan penuh kasih sayang oleh Papa dan Mama. Dulu Oca berharap Papa dan Mama bisa tetap bersama hingga Oca tumbuh dewasa dan berumah tangga. Tapi ternyata takdir berkata lain." Rosa dengan hati-hati menyusun kata demi kata yang ingin disampaikan kepada orang tuanya.
" Sebenarnya Oca ingin Papa tetap setia kepada Mama ...."
Fariz menyipitkan matanya mereaksi ucapan Rosa.
" Tapi Oca menyadari dengan posisi Papa sekarang ini, Papa akan butuh seseorang pendamping yang akan menemani Papa di masa tua Papa nanti."
Kali ini Fariz melebarkan bola matanya seketika.
" Jika Papa ingin mencoba memulai memperbaiki rumah tangga Papa dulu dengan Tante Lusi yang pernah kandas, Oca akan mendukung Papa jika memang itu yang terbaik untuk Papa. Karena Oca ingin melihat Papa bahagia," ucap Rosa dengan suara bergetar.
Fariz tertegun beberapa saat. Dia tidak menyangka putrinya itu begitu bijak cara berpikirnya dan tidak terlihat egois. Anaknya itu memikirkan kebahagiaannya. Dia lalu berjalan mendekati Rosa, mengusap kepala putrinya itu dan memberikan pelukan penuh kasih sayang hingga membuat Rosa meneteskan air mata mendapat pelukan dari Papanya itu.
***
" Permisi, Bu. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Ibu di luar." Sekretaris dari Lusiana memberitahu Lusiana yang terlihat sibuk di dengan laptopnya.
" Tamu? Tamu siapa?" tanya Lusiana membuka kaca matanya. " Hari ini nggak ada jadwal bertemu dengan klien, kan?" Lusiana mengeryitkan keningnya.
" Memang tidak ada, Bu." sahut sekretaris Lusiana.
" Lalu tamu siapa yang datang?" tanya Lusiana heran.
" Aku yang datang ..." Tiba-tiba Fariz masuk ke dalam ruangan kerja Lusiana membuat wanita itu tersentak hingga bangkit dari duduknya.
" Mas Fariz?" Lusiana terlihat terkejut dengan kedatangan Fariz yang tiba-tiba ke ruangannya. " Mau apa Mas Fariz datang ke sini?" Lusiana merasa terganggu dengan kedatangan mantan suaminya itu. Lusiana pun menyuruh sekretarisnya untuk segera keluar dari ruangannya.
" Aku hanya mampir saja sebelum pulang ke Menado," Fariz langsung mendudukkan tubuhnya di atas sofa di ruangan kerja Lusiana.
" Memang apa perlunya Mas Fariz mampir kemari?" sindir Lusiana.
" Ya, siapa tahu kamu merasa kehilangan, Lus. Kalau aku nggak berpamitan." Fariz terkekeh menggoda Lusiana yang langsung memalingkan wajahnya.
" Siapa juga yang akan kehilangan?" Lusiana melipat tangan di dadanya.
Fariz mengedar pandangannya melihat tiap sudut ruang kerja mantan istrinya itu.
" Kamu benar-benat sudah menjadi wanita sukses seperti ambisimu dulu, Lus." Fariz mengomentari keberhasilan wanita yang pernah membina rumah tangga dengannya dulu.
" Kalau Mas Fariz kemari hanya untuk menyindir aku, sebaiknya Mas Fariz pergi saja dari sini!" Lusiana merasa tidak senang karena Fariz selalu saja membully nya.
" Hei, kamu ini masih saja keras kepala dan emosian seperti dulu. Apa kamu tidak ingat apa yang dikatakan besanmu itu? Harus mengesampingkan ego." Fariz mengingatkan apa yang dikatakan Natasha di acara perayaan ulang tahun cucu mereka berdua.
Lusiana mendengus kemudian mengurai tangannya yang tadi terlipat di dada kemudian berjalan dan duduk di kursi yang bersebrangan dengan Fariz.
" Langsung saja deh, Mas. Sebenarnya apa tujuan Mas Fariz datang kemari?" tanya Lusiana dengan nada ketus.
" Aku ingin kamu mempertimbangkan usul menantu kesayanganmu itu yang menginginkan kita rujuk kembali."
Bola mata Lusiana seketika membulat saat Fariz mengatakan tujuannya datang ke kantornya itu karena ingin membahas masalah rencana Azkia yang menginginkan dirinya dan Fariz kembali bersama lagi.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️