
Azkia tersentak kaget ketika sebuah bogem mentah dari kepalan tangan Gibran mendarat di wajah Raffasya walaupun tanpa sengaja Gibran lakukan. Azkia langsung berlari menghampiri Raffasya yang tadi melepas genggaman tangan darinya karena mencoba menghalangi Budi yang ingin membalas serangan Gibran.
" Kak Raffa ...! Ya Allah, Kak Raffa nggak apa-apa?" tangan Azkia menangkup wajah berahang tegas milik Raffasya yang terlihat mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
" Astaghfirullahal adzim, Kak Raffa berdarah ..." Azkia terkejut saat mendapati darah di sudut bibir pria tampan itu. Azkia segera mengambil tissue dari clutch bag nya dan membersihkan darah itu dari sudut bibir Raffasya.
Sikap Azkia yang secara spontan mendekati Raffasya dan membersihkan luka di bibir Raffasya tentu saja merupakan pandangan paling menyakitkan bagi Gibran. Di saat hatinya masih belum bisa berdamai dengan kenyataan jika cinta pertamanya telah kandas, kini dia dihadapkan dengan sikap Azkia yang terlihat sangat mengkhawatirkan Raffasya. Tentu saja hal tersebut semakin membuat gemuruh di dadanya semakin bergejolak.
Azkia segera menolehkan wajahnya ke arah Gibran saat teringat jika pelaku yang memukul suaminya adalah mantan kekasihnya itu.
" Kak Gibran kok jadi kasar gini, sih??" Azkia terlihat kecewa dengan perubahan sikap Gibran yang berubah menjadi kasar.
" Dia itu pasti dendam lah! Kan dia kalah saing sama Raffa, pastilah dia kesal karena sekarang lu sama Raffa bukan sama dia. Dia belum bisa legowo menerima kenyataan itu." Sekali lagi Budi kembali mencoba mematik emosi Gibran.
" Kak Budi bisa nggak sih, mulutnya nggak usah nyinyir kayak cewek!?" hardik Azkia kini menoleh ke arah Budi karena sebenarnya Budi lah yang memang sejak awal mulai memprovokasi hingga terjadi keributan itu.
" Ups, gue lupa kalau bini lu ini sejak dulu memang galak." Bukannya merasa bersalah, Budi kali ini malah menyindir Azkia saat melihat Azkia terlihat melotot ke arahnya.
" Ky, sebaiknya lu bawa Budi pergi dari sini!" Raffasya meminta Oky segera membawa Budi menjauh.
" Oke, Raf. Gue balik duluan. Ayo, Bud. Kita cabut saja daripada lu makin menjadi." Oky menarik lengan Budi agar menjauh dari Azkia dan Raffasya.
Selepas kepergian Budi dan juga Oky, Gibran pun berniat meninggalkan kedua orang yang mungkin tidak ingin dia temui lagi dari hidupnya.
" Sekali lagi gue minta maaf, Gib." Sebelum Gibran melangkah jauh, Raffasya sempat mengucapkan permintaan maafnya, karena dia tahu, semua ini terjadi karena Gibran masih belum bisa memaafkannya yang sudah mengambil Azkia dan Gibran.
" Semua sudah terjadi dan itu bukan atas kehendak kami, Tapi yang pasti Almayra saat ini sudah menjadi bini gue, suka atau tidak, lu mesti menerima kenyataan itu agar lu bisa berdamai dengan kekecewaan lu atas pernikahan kami," lanjut Raffasya mencoba membuat Gibran bisa berbesar hati menerima kenyataan.
Tak ada respon dari Gibran, pria itu justru terus saja berjalan menjauh meninggalkan Raffasya dan Azkia.
Raffasya menoleh ke arah Azkia yang sedang menatap punggung Gibran yang semakin menjauh.
" Kita pulang sekarang ..." Raffasya merengkuh pundak Azkia dan ingin mengajak Azkia ke mobilnya.
" Apa wajah Kak Raffa masih sakit?" Azkia kini menatap wajah suaminya dengan khawatir.
Raffasya menyentuhkan jari ke bekas luka di bibirnya lalu memperhatikan jarinya yang terlihat ada sedikit noda darah di sana.
" Aku yakin apa yang aku rasa tidak sebanding dengan rasa sakit Gibran, jadi ini tidak masalah untukku. Lupakan saja, kita pulang sekarang, aku kangen Naufal." Raffasya tak mempermasalahkan cidera yang dialaminya dan dia pun tak berniat membalas apa yang dilakukan Gibran kepadanya.
***
Eheeekk ... eheeekk ...."
" Kok Naufal nggak bobo-bobo, sih?" Lusiana terlihat kebingungan karena Naufal tidak juga terlelap, bocah mungil itu justru terus merengek dan terus menggeliat.
" Sssttt ... sssttt ... bobo dong, Sayang. Ini sudah malam." Lusiana berusaha menenangkan bayi dalam gendongannya itu.
" Neng ...! Bi Neng ...!" Lusiana berteriak memanggil nama Bi Neng karena dia merasa kelabakan menghadapi Naufal yang terus menggeliat dan mengamuk.
" Ke mana lagi si Neng itu? Dipanggil dari tadi kok nggak datang-datang?" Lusiana dengan kesal keluar dari kamar Raffasya.
" Bi Neng ...!!"
" Ada apa kamu teriak-teriak, Lusi?" Fariz yang justru keluar dari kamar bawah karena selain mendengar suara teriakan Lusiana, dia juga mendengar suara tangisan Naufal.
" Neng ...!" Lusiana tak menggubris Fariz, dia justru terus berteriak memanggil nama Bi Neng.
" Lus, kecilkan suaramu! Ini bukan hutan, jangan teriak-teriak seperti itu!" tegur Fariz. " Lagipula Neng mungkin sudah tidur, kenapa kamu berteriak seperti itu?"
" Ck, Mas Fariz nggak usah bawel, ya! Nggak lihat apa ini Naufal sedang rewel dari tadi merengek terus? Tolong panggilkan Bi Neng!" Lusiana menyuruh Fariz memanggil Bi Neng.
Namun bukannya memanggil Bi Neng, Fariz justru berjalan menghampiri Lusiana di lantai atas.
" Sini Naufal ikut sama Opa." Fariz mengambil Naufal dari tangan Lusiana. " Naufal kenapa, Sayang? Naufal takut ya sama Oma galak?" Tanpa melirik ke arah mantan istrinya itu, Fariz justru menyindir Lusiana seolah dia sedang berbicara pada cucunya, membuat Lusiana langsung memberengut.
" Naufal sama Opa saja, Naufal kangen sama Mama, ya? Sebentar lagi Mama Naufal pulang, Naufal ditemani Opa dulu, ya? Cup, cup, cup, Sayang ..." Fariz mengayun tubuh Naufal di lengannya dan menepuk pelan paha Naufal sambil membacakan sholawat untuk menenangkan cucunya itu.
Sekitar sepuluh menit kemudian Naufal mulai tenang dan tertidur dalam dekapan Fariz.
" Lihat, kan? Kalau kamu ini belum ahli mengurus anak kecil, Lusi!" tuduh Fariz saat mengetahui Naufal kini sudah tertidur kembali dalam gendongannya.
Lusiana memalingkan wajahnya mendengar sindiran suaminya seraya bergumam, " Begitu saja sudah sombong!"
" Aku bukan sombong, hanya membeberkan fakta!" tegas Fariz yang mendengar umpatan Lusiana.
" Terserah Mas Fariz sajalah! Tolong bawa Naufal ke kamar lagi, dia sudah tidur, kan?" Lusiana yang melihat Naufal sudah terlelap meminta Fariz segera membawa Naufal ke kamar Raffasya kembali.
" Sebaiknya Naufal di kamar bawah saja tidur denganku, supaya kalau dia terbangun dan menangis lagi bisa cepat aku tangani." Fariz berniat membawa Naufal ke kamar yang ditempatinya.
" Jangan bawa Naufal tidur di sana! Sebentar lagi Raffa sama Kia pulang, sebaiknya ditaruh di kamar Raffa saja." Lusiana tidak setuju dengan niat Fariz yang ingin membawa Naufal ke kamar Nenek Mutia. Namun Fariz tetap melangkah menuju kamar yang dpakainya menginap di rumah itu.
" Mas Fariz ...!! Aku bilang Naufal ditaruh kamar atas saja!" Lusiana menyusul langkah Fariz.
" Sssttt kamu jangan berisik dong, Lusi! Nanti Naufal bangun lagi." Fariz menegur Lusiana yang tidak mau kalah dalam memperebutkan Naufal.
" Kalau Mas Fariz tidak ingin aku berisik, jangan berdebat lagi!"
" Kamu yang senangnya mengajak berdebat. Kamu ini tidak mau mengalah dan mau menang sendiri saja!" tuduh Fariz.
Sementara itu dari balik dinding dapur, terlihat Bi Neng dan Uni sedang memperhatikan sepasang paruh baya yang pernah menjadi pasangan suami istri itu berdebat.
" Kok mirip Mas Raffa sama Mbak Kia kalau sedang bertengkar ya, Bi?" Uni terkikik karena melihat dua orang yang sudah tidak muda lagi namun berkelakuan layaknya anak kecil yang saling berebut mainan.
" Iya, Ni. Makanya kalau lihat Mas Raffa sama Mbak Kia bertengkar, Bibi jadi ingat waktu masih muda dan melihat Bapak dan Ibu berantem seperti ini," terang Bi Neng.
" Berarti Bapak sama Ibu dari dulu sudah sering bertengkar seperti ini, Bi?" tanya Uni.
" Ya seperti itulah, Ni." Bi Neng menyahuti.
" Pantas mereka bercerai. Padahal Bapak sama Ibu itu cocok ya, Bi Neng. Bapak masih ganteng, Ibu juga masih cantik." Uni berpendapat.
" Iya, Ni."
" Kenapa Bapak sama Ibu nggak rujuk lagi saja ya, Bi? Katanya Bu Wina sudah meninggal." Uni yang mendengar kabar jika istri dari Fariz sudah meninggal pun mempunyai pemikiran seperti Azkia.
" Kamu tahu nggak, Ni? Itu 'kan memang rencananya Mbak Kia, makanya sekarang Ibu disuruh menjaga Naufal di sini sama Bapak." Bi Neng menahan tawa dengan menutup mulut dengan tangannya karena membocorkan rencana Azkia itu.
***
" Assalamualikum ..." Azkia dan Raffasya memasuki rumah sekitar pukul setengah sebelas malam.
" Naufal kenapa, Pa? Dia rewel ya?" tanya Raffasya.
" Iya, tadi nangis ketakutan ditemani Omanya," sahut Fariz.
Raffasya dan Azkia langsung melirik ke arah Lusiana yang terlihat melipat wajahnya.
" Maaf ya, Pa, Ma. Sudah membuat Papa dan Mama kerepotan mengurus Naufal." Azkia langsung meminta maaf kepada mertuanya karena dia sudah merepotkan kedua mertuanya itu untuk menjaga Naufal.
" Tidak apa-apa, Kia. Papa justru senang mengurus cucu Papa ini," sahut Fariz yang merasa enjoy dalam mengurus Naufal.
" Wajah kamu kenapa, Raffa? Kamu berantem sama orang?" Lusiana yang melihat wajah Raffasya sedikit memar langsung menatap curiga.
" Kak Raffa tadi melerai orang yang berantem, dan malah kena tonjok sendiri, Ma." Azkia menjelaskan kepada Lusiana agar Mama dari suaminya itu tidak salah paham.
" Kamu itu jangan suka ikut campur urusan orang lain dong, Raffa! Kamu mau melerai malah kamu yang apes sendiri, kan!?" Lusiana menasehati Raffasya karena tinju salah sasaran yang menimpa putranya.
" Raffa itu bukan ikut campur, Lus. Dia itu mencoba melerai. Kamu tidak bisa membedakan yang namanya ikut campur sama mencoba menghentikan pertengkaran?" Fariz tidak sependapat dengan pendapat Lusiana.
" Pa, Ma, sebaiknya Papa sama Mama istrirahat saja. ini sudah malam." Raffasya mencoba menghentikan perdebatan di antara kedua orang tuanya.
" Ya sudah, Papa kembali ke kamar." Fariz lebih dahulu berniat meninggalkan ruangan tamu.
" Selamat malam, Pa." Azkia mengucapkan selamat malam kepada Papa mertuanya.
" Selamat malam, Kia." Fariz sempat membalas ucapan Azkia sebelum masuk ke dalam kamar.
" Mama juga istrirahat, deh. Pasti Mama capek banget tadi menemani Naufal." Azkia juga meminta Lusiana untuk kembali ke kamarnya.
" Ya sudah, Mama istirahat dulu, ya."
" Iya, Selamat malam, Ma." sahut Azkia.
" Selamat malam, Kia." Lusiana pun kemudian menaiki anak tangga untuk kembali ke kamar tamu. Sementara Azkia dan Raffasya menyusul di belakangnya untuk menuju kamar mereka.
Setelah menganti pakaian dan mencuci wajahnya, Azkia kini mengompres wajah Raffasya dengan air hangat.
" Aaawww ... jangan keras-keras dong, May." keluh Raffasya karena Azkia terlalu keras menekan waslap ke luka di bibir Raffasya.
" Lebay banget sih, Kak! Kayak nggak pernah kena tonjok saja." Azkia memutar bola matanya menanggapi keluhan suaminya.
" Aku kasihan sama Gibran, dia masih belum bisa move on dari kamu, May. Ternyata cinta dia ke kamu dalam juga, ya?"
Azkia menatap serius mata Raffasya. " Kita nggak usah bahas itulah, Kak!" Azkia menolak membahas soal kisah asmaranya dengan Gibran.
" Apa kamu benar sudah nggak punya perasaan sama sekali terhadap Gibran, May?" Raffasya masih mempertanyakan soal perasaan Azkia terhadap Gibran.
" Memang Kak Raffa kasih ijin aku untuk menyimpan perasaan kepada pria lain?"
" Tentu saja nggak lah, May!"
" Kalau begitu jangan suka mancing-mancing dong, Kak!"
Raffasya terkekeh mendengar ucapan Azkia walaupun masih terasa sakit jika dia melengkungkan sudut bibirnya.
" Kamu tadi nggak lihat ekspresi wajah Gibran waktu kamu mengkhawatirkan aku. Sakitnya tuh di sini banget ..." Raffasya mendramatisir dengan menunjuk dadanya seolah dia merasakan menjadi Gibran.
" Kak ...!!" Azkia mencubit tangan suaminya, membuat Raffasya tertawa lebih keras.
" Aaawww ..." Raffasya kembali meringis merasakan kesakitan.
" Nah, kan! Kua lat, tuh!" sindir Azkia mencemooh Raffasya yang merasakan nyeri di luka bibir suaminya.
" Eh, berani sekali mengatakan suamimu kua lat, ya!" Raffasya menarik tubuh Azkia dan menghempaskannya hingga Azkia kini terbaring di atas tempat tidur. Dan Raffasya langsung mengungkung tubuh istrinya itu.
" Kak, aku belum selesai nifas." Azkia mengingatkan Raffasya agar tidak berbuat sampai jauh.
" Berapa lama lagi sih, May? Sudah lemas punyaku nggak masuk-masuk sarang," keluh Raffasya sambil menciumi wajah dan leher Azkia.
" Sebentar lagi, Kak. Sabar ya, Papa Naufal ..." Azkia tersenyum melihat wajah menderita suaminya. Dia kemudian mengusap wajah berahang tegas Raffasya secara perlahan.
" Aku nggak pernah menyangka bersama Kak Raffa akan sebahagia ini."
" Karena aku memang tidak ingin mengecewakanmu, May. Aku sudah melakukan kesalahan dan aku harus menebusnya dengan tidak mengecewakanmu," tutur Raffasya membenamkan sebuah kecupan di bibir Azkia.
***
" Papa kapan akan main ke sini lagi?" tanya Azkia saat dia, Raffasya, Lusiana dan Fariz sedang menyantap sarapan pagi bersama. Karena siang nanti Fariz akan kembali ke rumahnya.
" Nanti Papa jadwalkan waktunya lagi untuk berlibur di sini, Kia." sahut Fariz.
" Iya, Pa. Kalau kita bisa sering kumpul begini 'kan enak. Kalau Papa Mama kemari, pasti Naufal juga senang kalau Opa Omanya kumpul di sini." Azkia masih mencari jalan untuk mendekatkan Lusiana dan juga Fariz kembali.
" Apa kamu nggak merasa berisik kalau Mama mertua kamu sering menginap di sini, May?" Fariz pun mulai memancing menyindir Lusiana.
" Kia, jangan dengar perkataan Papa mertuamu itu! Justru Papa mertuamu ini yang sering bikin masalah!" sanggah Lusiana.
Azkia terkekeh menanggapi perdebatan kedua mertuanya.
" Papa sama Mama seru banget, deh! Kalau saja Papa Mama masih bersama, Kia pasti akan sering-sering membawa Naufal menginap ke rumah Papa Mama."
Ucapan Azkia kali ini sukses membuat ketiga orang di meja makan lainnya langsung menoleh ke arah Azkia.
" May ..." Raffasya dengan cepat menegur Azkia.
" Hmmm, maaf ya, Pa, Ma ... Kia terlalu senang dengan kebersamaan Papa dan Mama seperti sekarang ini. Walau sering berdebat tapi terkesan cute banget, kayak kita 'kan, Kak?" Azkia malah membandingkan perdebatan yang kadang terjadi dalam rumah tangganya dengan kondisi kedua mertuanya saat itu.
" Kia, Mama tegaskan sekali lagi, ya! Jangan pernah memaksakan kehendak untuk mendekatkan Mama dengan Papa mertuamu ini. Kami ini tidak mungkin bisa bersama! Walaupun nanti Mama akan menikah lagi, yang pasti tidak mungkin dengan mantan suami. Kamu tahu arti kata mantan?? Mantan itu bekas ... jadi untuk apa kita kembali mengambil yang bekas!?" Lusiana sengaja menggunakan kata-kata yang mungkin saja bisa menyinggung mantan suaminya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️