MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Kecupan Singkat



Waktu sudah mendekati pukul sembilan malam hingga Gibran memutuskan untuk mengajak Azkia pulang, karena dia memang tidak berani melanggar amanat yang dipercayakan Yoga dan Natasha kepadanya jika mengajak Azkia keluar malam.


" Kita pulang, yuk!" Gibran mengulurkan tangan ke arah Azkia hingga akhirnya Azkia pun menerima tangan Gibran, lalu kini mereka berdua bergandengan tangan dan berjalan ke arah pengantin untuk berpamitan. Namun ternyata saat itu Fero sang mempelai pria sedang berbincang dengan Raffasya.


" Fer, gue permisi dulu, ya! Sekali lagi congrat, Bro!" Gibran berpamitan kepada Fero sehingga menjeda percakapan Fero dengan Raffasya.


" Kok buru-buru, Gib? Belum juga seru-seruan sudah pamitan saja." Fero menyanyangkan Gibran yang sudah meminta ijin meninggalkan pesta.


" Ya gini resikonya bawa anak SMA." Gibran terkekeh lalu dia menoleh ke arah Raffasya yang memasang wajah datar. " Hai, Raf. Ternyata cafe ini punya kau rupanya." Gibran berbasa-basi menyapa Gibran.


" Lho, kalian pada kenal?" Fero nampak terkejut saat melihat Gibran menyapa Raffasya.


" Iya, dulu kami satu sekolah waktu gue belum pindah ke Jambi." Gibran menyahuti.


" Satu sekolah juga kenal sama Kak Raffa, Kak." celetuk Azkia hingga membuat pandangan mata Gibran, Raffasya dan Fero kini tertuju pada Azkia.


" Kamu kenal juga, ya?" Kini Fero bertanya kepada Azkia.


" Kenal, dong! Kak Raffa itu 'kan trouble maker yang senang bikin huru-hara, makanya dulu terkenal di sekolah." sindir Azkia membuat Raffasya mengeratkan giginya merasa kesal karena masa lalunya diungkit Azkia.


" Kia, jangan begitu!" Gibran mencoba menegur Azkia. Karena dia merasa tidak tepat Azkia menjelaskan bagaimana Raffasya dulu di depan teman-teman Raffasya.


" Gue balik dulu ya, Fer." Gibran lalu menarik lengan Azkia agar menjauh dari Raffasya.


" Wherever you go, whatever you do, I Will be right here waiting for you ... ngarep saja teruuuusss ...!" sindir Azkia tergelak saat melewati Raffasya. Rasanya puas sekali Azkia bisa menyindir Raffasya seperti itu.


" Lu kenal sama ceweknya Gibran, Raf?" tanya Fero saat mata Raffasya kedapatan memperhatikan Azkia sampai menghilang di pintu cafe.


" Dia itu bentuknya saja cewek, tapi tingkahnya preman." Raffasya menyahuti dengan kesal.


" Kia jangan selalu bikin masalah dengan Raffa." Gibran kembali menasehati Azkia saat mereka sampai di mobil.


" Yang sering bikin masalah itu 'kan Kak Raffa, Kak!" Azkia memprotes Gibran yang menegurnya dan menuduhnya membuat masalah dengan Raffasya.


" Tapi ucapan kamu saat kita berpamitan sama saja memancing konflik di antara kalian. Kamu nggak lihat wajah Raffa yang terlihat kesal saat kamu bicara tadi?" Gibran ingin bersikap netral dengan tidak membenarkan sikap Azkia tadi.


Sedangkan Azkia langsung memberengut dengan melipat tangan di dadanya dan membuang pandangan ke luar jendela. Dia benar-benar tidak terima Gibran seolah membela Raffasya.


Gibran yang mendapati Azkia yang terdiam dan membuang pandangannya ke luar jendela menyadari jika gadis itu sedang merajuk kepadanya.


" Jangan ngambek gitu, dong. Nanti cantiknya luntur lho, kalau ngambek." Gibran mencoba menggoda Azkia dan mengacak rambut gadis itu namun Azkia bergeming seolah tak terpengaruh dengan apa yang diucapkan oleh Gibran.


" Iya, deh. Kakak minta maaf kalau kamu pikir Kakak membela Raffa dan menyalahkan kamu." Gibran memilih mengalah meminta maaf daripada gadis di sampingnya itu terus saja merajuk.


" Hei, kok diam saja? Nggak mau maafin Kakak?" Gibran menarik lembut dagu Azkia hingga wajah Azkia kini terarah kepadanya. Masih terlihat wajah Azkia yang memberengut dengan mulut mencebik dan pandangan mata terarah ke bawah seolah tak ingin menatap Gibran.


Cup


Azkia langsung terperanjat saat Gibran secara tiba-tiba mengecup bibirnya dengan singkat membuatnya tercengang.


" Kak! Iiihh ..." Azkia segera mengusap-ngusap bibirnya berusaha menghilangkan jejak akibat kecupan yang diberikan Gibran kepadanya.


" Kak Gibran kok berani-beraninya cium Kia?" protes Azkia kesal. " Kalau Papa sampai tahu bisa-bisa Kak Gibran dilarang dekat-dekat Kia lagi, lho!"


" Kalau begitu Kia jangan bilang-bilang sama Om Yoga dong kalau Kakak habis cium Kia " Gibran terkekeh.


" Kakak itu sudah melanggar apa yang Papa ajukan sebagai syarat dan ketentuan berlaku kalau mau mengajak Kia pergi!" ketus Azkia.


" Maaf, deh ... maaf. Habis dari tadi bibir kamu manyun saja seperti itu jadi kakak gemes ingin cium." Gibran meminta maaf karena perbuatannya yang tanpa permisi mengecup singkat bibir Azkia.


" Nggak usah dibersihkan terus seperti itu. Ciumannya juga sudah meresap kok ke bibir kamu jadi nggak bisa hilang." Gibran terkekeh menggoda Azkia hingga membuat gadis itu mendelik ke arahnya.


" Bentar lagi juga kamu lulus sekolah dan sudah boleh pacaran, kan? Nanti Kakak yang langsung daftar jadi pacar kamu," ucap Gibran percaya diri.


" Idiiihh, siapa juga yang mau jadi pacarnya Kak Gibran? Pede banget!" Azkia memutar bola matanya mendengar ucapan Gibran.


" Memangnya Kia nggak mau jadi pacar Kakak? Yakin nggak mau?" Gibran tertawa kecil terus menggoda Azkia. Sementara Azkia hanya memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela, membuang pandangan ke luar. Sebenarnya hatinya merasa berdebar-debar akibat ciuman yang diberikan Gibran tadi kepadanya.


***


Motor yang dikendarai Raffasya berjalan lebih kencang menyusul mobil yang ada di depannya. Setelah dia melewati mobil itu dia lalu menghentikan dan menghalangi mobil yang dilewatinya tadi.


Raffasya turun dari motor dan berjalan menghampiri mobil itu lalu mengetuk kaca jendela penumpang mobil tersebut.


" Kak Raffa? Ada apa?" Setelah kaca pintu mobil dibuka, Rayya yang ternyata ada di mobil itu bertanya pada Raffasya.


" Hai, Rayya. Mau pulang, ya?" tanya Raffasya kepada Rayya yang memang dijemput oleh Pak Rudi pulang.


" Iya, Kak. Ada apa Kak Raffa menghadang jalan mobil ini?" tanya Rayya heran.


" Hmmm, Rayya bisa ikut Kak Raffa, nggak?" tanya Raffasya ragu.


" Ikut ke mana, Kak? Rayya harus cepat pulang." Rayya memang tidak pernah pulang telat jika tidak pergi dengan Azkia.


" Kakak mau kenalin Rayya sama seseorang, sebentar saja. Please ..." Raffasya memohon penuh harap.


" Tapi, Kak ...."


" Please, sebentar saja. Dari sini sekitar lima belas menit sampai, kok. Rayya pakai mobil ini saja kalau nggak mau naik motor Kakak."


Rayya berpikir sejenak menimbang dia akan ikut atau menolak permintaan Raffasya itu.


" Non, kita harus segera pulang." Pak Rudi mengingatkan Rayya.


" Oke, Kak. Tapi sebentar saja, ya? Rayya nggak bisa lama." Akhirnya Rayya menyetujui permintaan Raffasya.


" Non, tapi ...."


" Nggak apa-apa, Pak Rudi. Nanti Rayya jelasin ke Mommy." Rayya mencoba menenangkan Pak Rudi.


" Thanks, Rayya." Raffasya nampak senang dengan keputusan Rayya. Sebenarnya dia sendiri tidak yakin jika Rayya akan menyetujui permintaannya itu.


" Pak, ikuti motor saya, ya!" Raffasya memberi arahan kepada Pak Rudi kemudian dia pun berjalan kembali ke arah motornya.


*


*


*


Bersambung ...


Alur di sini lebih lambat dari kisah RDHR ya, jadi di sini masih ada Rayya.


Happy Reading❤️