
Yoga menghentikan langkahnya saat dia mendengar seseorang yang memanggil namanya. Dia lalu mendapati sosok pria paruh baya seusianya dengan rambut putih terlihat jelas mendominasi kepalanya. Dan walaupun badannya agak sedikit melebar tidak seperti saat muda dulu namun Yoga kenal siapa pria yang menyapanya tadi.
" Sony?"
" Wah, kamu masih ingat aku juga, Ga. Apa kabar, Sobat?" Sony bersalaman dan berpelukan dengan Yoga.
" Alhamdulillah sehat, seperti yang kau lihat, Son." sahut Yoga.
" Tapi kamu masih kelihatan awet muda saja, Ga. Tetap keren ..." Sony memuji penampilan Yoga yang masih tetap mempesona meskipun sudah tidak berusia muda.
" Nggak seperti kamu yang ubanan?" Yoga terkekeh.
" Hahaha, iya benar. Badan gue juga nggak seperti waktu muda dulu." Sony pun tertawa.
Sementara Azkia dan Raffasya yang mendapati Sony menyapa Yoga langsung terkesiap saat mengetahui, jika Sony yang siang tadi menemui mereka ternyata sahabat dari Yoga. Azkia dan Raffasya bahkan langsung saling berpandangan.
" Jadi Pak Sony ini teman Papa?" Akhirnya Azkia melontarkan pertanyaan.
Sony yang sejak tadi tidak menyadari keberadaan Azkia dan Raffasya langsung terkejut melihat pasangan suami istri itu ada di hadapannya. Sedangkan Gavin dan keluarganya berserta anak-anak Yoga lainnya memilih berjalan lebih dahulu ke private room di restoran hotel milik Gavin itu.
" Lho, kamu kenal Om Sony, Kia?" tanya Yoga heran karena ternyata putrinya mengenal Sony.
" Tadi siang, Pak Sony ini datang ke cafe Kak Raffa. Pak Sony ini berniat bekerjasama menanamkan modal di La Grande." Azkia menjelaskan.
" Dia putrimu, Ga?" tanya Sony saat mendengar Azkia memanggil Yoga dengan sebutan Papa.
" Iya, dia putriku yang paling besar. Dan ini suaminya, Raffa. Ternyata kalian sudah kenal sebelumnya."
Sony tersentak saat mengetahui jika Azkia adalah anak Yoga dan Raffasya adalah menantu teman kuliahnya itu.
" Pantas waktu aku lihat anakmu ini aku merasa seperti familiar melihat wajahnya. Ternyata aku baru sadar kalau wajah dia mirip bini kamu, Ga." Sony tertawa kecil menyadari kemiripan Azkia dengan Natasha. Dia pun langsung melihat Azkia dan Natasha yang berada di samping Yoga bergantian.
" Maksudnya, kamu selalu teringat sama wajah istriku, gitu?"
" Hahaha ... gi la kamu, Ga. Posesifnya nggak hilang-hilang dari dulu," sindir Sony menanggapi sikap Yoga yang selalu posesif terhadap Natasha. Bahkan untuk berjabat tangan saja Yoga melarang dirinya bersentuhan tangan dengan Natasha.
" Aku 'kan harus menjaga istriku dari laki-laki macam kalian dulu ..." Kalian yang dimaksud Yoga adalah Sony, Rico juga Edwin. Teman jaman dia kuliah yang memang mengadaptasi kehidupan bebas ala kehidupan orang barat.
" Si alan, Kau! Kamu masih ingat saja, Ga. Hahaha ..." Sony justru tertawa disinggung oleh Yoga. Namun tangannya langsung merangkul pundak wanita di sebelahnya. " Tapi nyatanya sampai sekarang aku masih awet sama Diana, kan?"
Yoga tersenyum seraya menoleh wanita di samping Sony. " Halo, Di." Yoga lalu menyapa istri dari Sony itu.
" Hai, Ga ..." Diana membalas sapaan Yoga. Diana pun menyapa Natasha.
" Pa, Ma. Kia sama Kak Raffa nyusul yang lain duluan, ya?" Azkia meminta ijin kepada kedua orang tuanya untuk ikut bergabung dengan anggota keluarga lainnya.
" Ya sudah ..." Yoga mempersilahkan Azkia dan Raffasya pergi ke private room bergabung dengan yang lainnya.
" Wah, kayaknya kamu sedang ada acara keluarga ya, Ga?" tanya Sony.
" Biasalah, perayaan kecil sama keluarga dekat," sahut Yoga.
" Ya sudah kalau kamu mau gabung sama yang lain, silahkan, Ga." Sony yang merasa tidak enak menghalangi acara Yoga dan keluarganya mempersilahkan Yoga untuk melanjutkan acaranya.
" Mas, gimana kalau Pak Sony sama Mbak? Diana sekalian ikut gabung saja sama kita?" Natasha berniat mengajak teman lama suaminya itu untuk bergabung dalam acara makan malam mereka.
" Nggak usah repot-repot, Mbak. Nggak enak ganggu acara kalian." Diana menolak secara halus ajakan Natasha.
" Nggak apa-apa ya, Mas? Ini hanya makan malam merayakan hari ulang tahun suami saya ini kok, Mbak." Natasha tak mempermasalahkan kehadiran teman Yoga dan istrinya ikut bersama mereka.
" Oh, ultah kamu, Ga? Selamat ulang tahun, bro!" Sony kemudian memberikan ucapan selamat kepada Yoga. Dan akhirnya setelah dibujuk oleh Yoga dan Natasha, Sony dan Diana pun menyetujui ajakan mereka untuk bergabung dengan keluarga Yoga lainnya.
***
Sebenarnya kehadiran Sony dalam acara makan malam merayakan ulang tahun Yoga tetap membuat Raffasya tidak nyaman. Dia tetap tidak suka dengan cara Sony yang memperhatikan Azkia saat di cafenya tadi siang, walaupun alasan Sony adalah merasa familiar dengan wajah Azkia yang mirip dengan Natasha.
" Jadi selama ini kamu ke mana saja, Son?" tanya Yoga disela-sela menikmati makan malam.
" Selama ini aku di luar Jawa, Ga. Baru kembali ke Jakarta sekitar sepuluh tahun lalu," jelas Sony.
" Oh ya, tadi Kia bilang kamu berminat bekerjasama dengan menantuku." Yoga teringat akan cerita Azkia tadi soal Sony yang ingin mengajaknya bekerjasama dengan Raffasya.
" Ah, iya. Tadinya aku berminat menanamkan modal di cafe yang baru kena musibah itu. Tapi kalau ternyata dia menantu kamu, aku mundurlah. Siapa yang nggak tahu kekuatan finansial keluarga Atmajaya?" Sony terkekeh, tentu saja dia tahu jika keluarga Yoga sangatlah kuat finansialnya, apalagi Yoga adalah anak semata wayang keluarga Atmajaya. Sudah pasti Yoga tidak akan berpangku tangan melihat menantunya mengalami kesulitan.
Sony lalu melirik ke arah Raffasya. Dia mengerti kenapa Raffasya menolak uluran kerjasamanya. Karena dia pikir jika Raffasya akan dibantu oleh Yoga.
" Menantuku ini pria yang sangat mandiri, Son! Jangankan kepada orang lain, ke keluarganya sendiri saja, dia nggak mau meminta bantuan." Yoga menjelaskan bagaimana karakter Raffasya yang sebenarnya.
" Oh, begitu ... cocok sekali jadi menantumu, Ga." Sony menganggap sikap mandiri Raffasya sangat mirip dengan karakter Yoga yang tidak ingin bergantung dengan kekayaan orang tuanya.
" Ya Alhamdulillah, Son. Putriku mendapatkan pria yang tepat untuknya," sahut Yoga. " Oh ya, sekarang kamu kerja di mana, Son?"
" Aku kerja di perusahaan yang bergerak dibidang penjualan dan sewa alat berat, perusahaan yang merupakan salah satu anak perusahaan property ternama Angkasa Raya Group. Banyak perumahan dan apartemen yang merupakan proyek milik Angkasa Raya." Sony membanggakan perusahaan ternama tempat dia bernaung selama sepuluh tahun ini.
" Angkasa Raya? Jadi kamu kerja sama Dirga?" tanya Yoga agak terkejut mengetahui ternyata Sony adalah anak buah Dirga.
" Iya, kamu kenal sama Pak Dirga?" Sony pun nampak terkejut mendengar Yoga menyebut nama Bosnya.
" Iya, aku sama istriku ini teman baik Bang Dirga dan istrinya. Bahkan Insya Allah, jika Allah berkenan kami ini akan besanan. Karena putra pertama kami akan bertunangan dengan putri Bang Dirga." Yoga menjelaskan status Dirga untuk keluarganya. Apalagi istrinya memang sejak lama bersepakat dengan Kirania untuk menjodohkan anak mereka.
***
" Aku nggak sangka ternyata Pak Sony itu ternyata teman Papa, Kak. Tapi setidaknya dia nggak akan berbuat macam-macam sama Kak Raffa. Kalau dia berani macam-macam, aku akan lapor ke Om Dirga, biar Om Dirga pecat si Pak Sony itu." ujar Azkia saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah Raffasya.
" Kamu percayaan diri banget. May." Raffasya tersenyum tipis melihat istrinya berbicara dengan bersemangat.
" Harus percaya diri, dong! Istri Kak Raffa ini bukan wanita sembarangan, lho! Keluarga Papa dan Mamaku keluarga orang terpandang. Uncle ku dan Om Dirga yang akan jadi besan Papa, sultannya bukan kaleng-kaleng. Untuk menghancurkan karir Pak Sony, tinggal menjetikkan jari saja bukan perkara sulit untuk Uncle Gavin dan Om Dirga." Azkia membanggakan keluarganya.
Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas menanggapi sikap Azkia yang menyombongkan diri. " Nggak boleh sombong gitu, May." Raffasya mencoba mengingatkan istrinya.
" Aku bukan sombong, Kak. Tapi aku bicara kenyataan." Azkia enggan dibilang sombong oleh Raffasya.
" Aku kadang suka minder kalau kumpul sama keluarga besar kamu, May. Keluarga sultan soalnya, apalah aku yang hanya pengusaha kelas teri. Usaha kena musibah kebakaran saja sudah pusing tujuh keliling." ucap Raffasya terkekeh.
" Kak Raffa membangun usaha dengan uang Kak Raffa sendiri. Usia Kak Raffa juga masih muda. Aku rasa Kak Raffa juga nanti bisa sukses seperti Uncle juga Om Dirga. Uncle dan Om Dirga mewarisi usaha keluarga, jadi nggak murni hasil jerih payah mereka, kan?"
" Berani bilang seperti itu di depan Uncle mu dan Om Dirga?" Raffasya menantang Azkia.
" Hahaha, nggak, deh." Azkia menyerah tak berani mengatakan hal itu di depan kedua pengusaha bonafit itu.
***
Raffasya mengelus perut buncit Azkia dan berkali-kali menciumi kulit perut Azkia. Dia juga terlihat excited setiap kali terlihat gerakan si bayi menggeliat hingga membuat perut Azkia bergerak-gerak.
" Dedeknya bergerak, May. Pasti dedek bayinya merasa kalau Papa sedang menciumi dedek, ya?" Raffasya kembali mencium perut Azkia.
" Iya, Papa. Dedek senang Papa cium-cium perut Mama." Azkia menjawab menirukan suara anak kecil sambil mengusap kepala suaminya.
" Aku nggak menyangka akan punya anak dalam waktu dekat ini, May." Kini Raffasya membaringkan tubuhnya di samping Azkia dengan menyangga kepala dengan tangannya.
" Mungkin kalau nggak ada kejadian di Bandung, aku nggak pernah kepikiran untuk menikah dalam waktu dekat. Karena yang aku pikirkan adalah menggelola bisnis dan mencari laba yang banyak agar uang tabungan bertambah dan bisa membuka bisnis lainnya," lanjut Raffasya menjelaskan.
" Memang kenapa Kak Raffa nggak kepikiran untuk menikah? Usia Kak Raffa sudah dua puluh enam tahun, kan? Usia yang sudah pantas memikirkan untuk berumah tangga." tanya Azkia seraya mengusap rahang suaminya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu.
" Karena belum ada wanita yang benar-benar membuat aku jatuh hati ...."
" Seperti Rayya?" Azkia memotong perkataan Raffasya.
Raffasya tersenyum, kini dia yang mengusap wajah cantik Azkia lalu menjawab, " Seperti kamu, dong!"
" Gombal!" cibir Azkia namun tak lama dia terkekeh.
" Soal kejadian di Bandung, apa yang ada dipikiran Kak Raffa saat itu sampai mau membantu aku?" tanya Azkia merasa penasaran karena selama ini mereka tidak pernah membahas masalah tersebut.
" Apa, ya?" Kening Raffasya berkerut. " Mungkin karena waktu itu, waktu aku melihat kamu keluar cafe dibawa Gladys dan teman-temannya, aku merasa curiga. Bahasa tubuh kamu yang nggak wajar. Dan sikap mereka yang seperti terburu-buru tidak ingin melihat ada orang yang memergoki mereka, membuat akhirnya aku mengikuti mobil kalian."
" Dan ternyata dugaan aku benar jika mereka memang berniat jahat terhadap kamu, May. Untung aku datang tepat waktu, jadi kamu nggak sampai kenapa-napa," lanjut Raffasya.
" Nggak kenapa-napa gimana? Orang aku sampai hamil gini, kok!" protes Azkia.
" Ya tapi 'kan hamilnya karena aku, May. Bukan sama orang suruhan Gladys." Raffasya menyeringai.
" Lalu setelah kita melakukan hal itu di penginapan, apa yang Kak Raffa pikirkan saat itu?" Azkia nampaknya benar-benar ingin tahu bagaimana Raffasya setelah kejadian di penginapan.
" Kacaulah, May. Yang pasti ada rasa bersalah juga, kenapa aku harus melakukan hal itu. Makanya aku selalu berusaha menghubungi kamu, walaupun kamu selalu menolak dan usir aku." Kini tangan Raffasya mengusap bibir Azkia.
" Kak Raffa nggak pernah pacaran, tapi malah langsung berhubungan badan sama aku yang selama ini bermusuhan dengan Kak Raffa. Pasti Kak Raffa menyesal sekali ya, sudah menolong aku?" tanya Azkia.
" Aku lebih memikirkan harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan kamu, May."
" Bagaimana waktu Nenek tahu masalah kita, Kak?" tanya Azkia.
" Aku cerita sama Nenek beberapa Minggu setelah peristiwa itu, May. Kesehatan Nenek yang selalu aku pertimbangkan. Dan saat aku bercerita tentang hal yang sebenarnya kepada Nenek, yang pasti Nenek merasa sangat sedih dan menangis. Nenek menyuruh aku bertanggung jawab dengan menikahi kamu secepatnya."
" Pantas selama ini Nenek sangat baik sama aku, Kak."
" Iya, dan Nenek pun sangat senang akhirnya aku menikah." Raffasya menatap Azkia lekat. " Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu, May. Selama ini kamu pacaran sama Gibran aman-aman saja, kan? Maksudnya nggak sampai melakukan hubungan yang ...."
" Ya nggaklah Kak! Aku nggak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh dengan Kak Gibran. Paling ciuman juga cuma nempel bibir sedikit doang." Azkia langsung menepis Raffasya yang dia duga akan menuduhnya sering melakukan hubungan in tim dengan Gibran.
" Aku tahu, sih. Soalnya waktu itu kamu masih virgin dan akulah yang merebut mahkota kamu itu, cuma ... aku heran saja, waktu itu permainan kamu kayaknya mahir banget, lho! Makanya aku heran juga, dapat ilmu dari mana aksi kamu yang agresif malam itu? Apa nggak ngerti apa pengaruh obat itu membuat kamu bisa agresif walaupun kamu nggak pernah melakukan seperti itu sebelumnya atau karena kamu sering menonton film-film begituan sampai kamu terlihat liar seperti itu?"
Azkia membelalakkan matanya saat Raffasya meduganya sering menonton film-film dewasa. Dia pun kemudian teringat akan acara bridal shower teman kuliahnya.
" Oh, itu ..." Azkia terkikik. " Hmmm, waktu itu ... beberapa hari sebelum aku ke Bandung, aku 'kan datang ke acara bridal shower temanku, Kak. Eh, ujung-ujungnya malah kami para tamu yang masih tersisa disuruh nonton film begituan ..." Azkia merasa geli saat dia mengingat sempat menonton film dewasa.
" Oh, jadi pernah nonton ... kalau gitu kapan-kapan boleh dong, kita nonton bareng. Biar menambah ilmu dan memperluas wawasan biar gaya bercinta kita lebih bervariasi?" Raffasya menyeringai seraya memainkan alisnya menggoda Azkia.
" Ogah, ih ... ji jik!" Azkia mengedikkan bahunya membuat Raffasya tertawa puas dan langsung menghujani wajah Azkia dengan ciuman-ciuman.
*
*
Bersambung
Happy Reading ❤️