MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Teman Wanita



Raffasya mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang memasuki halaman rumahnya yang sangat asri dengan banyaknya tanaman hias. Raffasya kemudian memarkirkan motor sportnya lalu menghampiri mobil Rayya yang dikendarai oleh Pak Rudi berhenti di belakangnya.


" Non, hati-hati."


Sebelum Rayya turun dari mobilnya, Pak Rudi sempat memperingatkan Rayya.


" Pak Rudi tenang saja, Rayya nggak akan kenapa-kenapa, kok." Rayya mencoba menenangkan supirnya itu.


" Ayo, Rayya. Kita masuk ke dalam!"


Raffasya kemudian mengajak Rayya masuk ke dalam rumahnya.


" Assalamualaikum ..." Rayya mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah Raffasya.


" Waalaikumsalam ..." Raffasya yang menjawab salam yang diucapkan oleh Rayya karena terlihat tidak ada yang menyambut kedatangan mereka.


" Ini rumah Kak Raffa? Kok sepi? Kak Raffa tinggal sendirian di sini?" tanya Rayya heran.


" Iya ini rumah orang tua Kakak, tapi mereka sudah tidak tinggal di sini. Kakak tinggal dengan Nenek kakak dari Papa. Rayya duduklah dulu. Rayya mau minum apa? Nanti Kak Raffa suruh Bibi buatkan minuman untuk Rayya."


" Nggak usah repot-repot, Kak. Rayya masih ada diminum kok di tas. Lagipula nggak akan lama juga, kan?" Rayya menolak ditawari minuman oleh Raffasya.


" Rayya tunggu sebentar, ya!" Raffasya nampak antusias sekali karena kehadiran Rayya di rumahnya. Dia pun kemudian melangkah menuju kamar Neneknya.


" Nek ...!" Raffasya membuka pintu kamar Neneknya namun tak dia temui Neneknya di dalam kamarnya.


" Nek, Nenek ...! Bi, Bibi ...!" Raffasya memanggil neneknya dan ART di rumahnya seraya melangkahkan kaki ke arah dapur.


" Ada apa kamu teriak-teriak, Raffa? Biasakan ucapkan salam kalau masuk ke dalam rumah!" Nenek Mutia yang sedang duduk di kursi menghadap meja makan sambil menikmati pisang rebus langsung menegur Raffasya.


Raffasya menyeringai seraya menggaruk kepalanya.


" Assalamualaikum, Nek." Raffasya mencium tangan dan pipi Neneknya. " Nek, ayo ke depan. Ada yang ingin Raffa kenalkan sama Nenek." Raffasya segera meraih tangan Neneknya untuk dia ajak berkenalan dengan Rayya.


" Memangnya siapa yang ingin kamu kenalkan sama Nenek, Raffa?" Nenek Mutia mengikuti apa yang diinginkan cucunya itu.


" Nanti Nenek lihat sendiri saja orangnya." Raffasya tidak ingin memberitahu langsung kepada Nenek Mutia.


" Kamu kok main rahasia-rahasian seperti ini?"


Raffasya terkekeh mendengar ucapan Neneknya tadi.


" Nek, kenalkan ini Rayya, Rayya kenalkan ini Nenek Kakak." Sesampainya di ruang tamu Raffasya langsung mengenalkan Rayya kepada Nenek Mutia.


" Assalamualaikum, Nek. Apa kabar?" Rayya langsung bangkit dari duduknya lalu mencium tangan Nenek Mutia


" Waalaikumsalam, Masya Allah ... cantik sekali kamu, Nak. Alhamdulillah Nenek sehat." Nenek Mutia terkagum mendapati sosok Rayya yang cantik dan juga santun.


" Cewek ini yang Raffa ceritain kemarin ke Nenek," bisik Raffasya kepada Nenek Mutia.


" Kamu pintar memilih teman wanita, Raffa." Nenek Mutia mengusap lengan Raffasya.


" Pasti dong, Nek." Raffasya terkekeh. " Nenek tolong temani Rayya sebentar ya, Rama mau ke kamar dulu." Raffasya lalu meninggalkan Rayya berdua dengan Nenek Mutia.


" Kamu masih sekolah ya, Nak?" tanya Nenek Mutia kepada Rayya karena melihat seragam yang dikenakan oleh Rayya.


" Benar, Nek. Kelas dua belas sekarang." Rayya menjelaskan.


" Nenek senang akhirnya Rayya mau bawa teman wanitanya ke rumah ini." Nenek Mutia yang menyadari cucunya mempunyai watak yang keras nampak begitu bahagia saat mendapati Raffasya mengenalkan seorang gadis yang nampak kalem, lemah lembut dan sangat sopan seperti Rayya.


" Begitu ya, Nek?" Rayya yang tidak menyangka jika dia adalah wanita pertama yang Raffasya kenalkan kepada Nenek Mutia nampak terkejut.


" Iya, Nak. Nak Rayya sering-seringlah main kemari biar Raffa betah di rumah," ucap Nenek Mutia penuh harap.


Rayya hanya tersenyum menanggapi ucapan Nenek Mutia karena dia sendiri tidak yakin akan kembali ke sana atau tidak. Kalau saja Daddy nya tahu, Daddy nya itu pasti akan marah besar.


Ddrrtt ddrrtt


" Maaf ya, Nek. Rayya angkat telepon dulu." Rayya meminta ijin mengangkat panggilan teleponnya.


" Iya, Nak." Nenek Mutia tersenyum mendapati bagaimana sikap santunnya Rayya meminta ijin kepadanya.


" Assalamualaikum, Mom." Ternyata Azzahra lah yang menghubungi Rayya karena Rayya tadi belum sempat menghubungi Mommy nya.


"Waalaikumsalam, Rayya sudah sampai mana? Rahsya mau pakai Pak Rudi, Pak Zainal hari ini ijin nggak masuk karena sakit." Rayya yang tadi belum sempat memberi kabar kepada Mommy nya seketika membulatkan matanya saat Mommy nya itu memberi tahu jika mobil yang dipakai menjemputnya akan digunakan oleh adiknya.


" Hmmm, sebentar ya, Mom. Ini Rayya sedang dirumah teman mengunjungi rumah neneknya." Rayya melirik ke arah Nenek Mutia seraya menganggukkan kepala seakan meminta ijin memakai alasan untuk dia pulang telat.


" Ke rumah teman? Kenapa kamu nggak bilang dulu sama Mommy kalau kamu pulang telat, Rayya?"


" Iya maaf, Mom. Soalnya ini mendadak. Ya sudah ini Rayya mau langsung pulang, kok. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam ...."


Rayya segera memasukkan ponsel kembali ke dalam tasnya.


" Nek, maaf Rayya nggak bisa lama di sini, soalnya Pak supirnya mau dipakai antar adik Rayya." Rayya kemudian mendekati Nenek Mutia lalu menyalaminya berpamitan.


" Kamu mau ke mana, Rayya?" tanya Raffasya yang turun dari anak tangga.


" Kak Raffa maaf, Rayya permisi pulang dulu, mobilnya mau dipakai sama Mommy." Rayya kemudian berpamitan dengan Rayya.


" Ya sudah, Pak supirnya saja suruh pulang, nanti kamu Kakak yang antar pulang." Raffasya nampak keberatan dengan Rayya yang terlihat terburu-buru.


" Daddy pasti akan marah kalau Rayya pulangnya nggak sama Pak Rudi." Rayya menolak dengan halus.


" Rayya pamit dulu ya, Nek, Kak Raffa. Assalualakimum ...."


" Waalaikumsalam ...." Nenek Mutia dan Raffasya menyahuti.


Rayya pun segera berjalan ke luar rumah Raffasya dengan Raffasya berjalan di belakangnya.


" Terima kasih ya Rayya sudah mau datang ke rumah Kakak. Lain kali kalau Kak Raffa ajak ke sini Rayya mau, ya?" ucap Raffasya penuh harap.


" Insya Allah ya, Kak. Rayya nggak bisa menjanjikan." Rayya menjawab. Karena Rayya sendiri sudah memutuskan akan kuliah di luar negeri tentu saja dia tidak akan bertemu dengan Raffasya dalam waktu yang cukup lama.


" Rayya itu sepertinya sangat patuh terhadap orang tuanya, ya?" tanya Nenek Mutia saat mobil yang dikendarai sudah keluar dari halaman rumah Raffasya.


" Iya, Nek. Papanya dia terlalu posesif karena dia anak perempuan satu-satunya. Kalau Papanya tahu dia Raffa bawa, bisa-bisa Papanya itu langsung marah besar, Nek." Raffasya terkekeh menerangkan.


" Asataghfirullahal adzim. Memangnya kenapa Papanya itu marah besar? Pasti karena kamu bandel, ya?" Nenek Mutia menggelengkan kepalanya.


" Soalnya Papanya sudah menganggap Raffa itu sudah mengganggu anaknya, Nek. Dari SD malah." Raffasya menyeringai seraya menggaruk tengkuknya.


" Dari SD? Kamu sudah kenal sama Rayya sejak SD?


" Iya, Nek. Waktu Raffa kelas enam, Rayya kelas dua. Raffa waktu itu minta nomer HP nya Rayya, Nek. Biar bisa chating. Eh, Papanya tahu, akhirnya ngamuk deh di Sekolah sampai minta Raffa dikeluarkan dari sekolah segala." Raffasya mengenang kembali masa kanak-kanaknya.


" Astaghfirullahal adzim, dasar anak bandel kamu, Raffa!" umpat Nenek Mutia yang langsung ditanggapi Raffasya dengan tawa kencang.


*


*


*


Bersambung ...


Untuk Readers MYME, mungkin baru bulan depan aku update tiap harinya, bulan ini masih fokus di kisahnya Rayya dulu🙏


Happy Reading ❤️