MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Hanya Menuruti Keinginan Menantu



Setelah mengetahui istri dan anaknya menginap di rumah Lusiana, Raffasya langsung melangkah kembali ke dalam kamarnya. Sebenarnya dia ingin menyusul istrinya ke rumah Lusiana, namun mengingat istrinya itu tidak mengabarinya terlebih dahulu jika akan menginap di rumah Lusiana, membuat Raffasya merasa kesal dan akhirnya memilih beristirahat di kamar karena dia merasakan tubuhnya sangat penat.


" Mas Raffa, Mbak?" tanya Atun ketika Uni kembali ke kamar.


" Iya," sahut Uni.


" Lho, katanya Mas Raffa menginap, nggak pulang malam ini?" tanya Atun.


" Mana kutahu, Mbak. Kan yang bilang begitu Mbak Kia. Kita tahu juga dari Mbak Kia." Uni tidak ingin disalahkan karena memang dia mengetahui kabar bahwa Raffasya akan menginap di Bandung dari Azkia. " Mana Mbak Kia kayaknya nggak bilang dulu sama Mas Raffa, kelihatannya Mas Raffa tadi kesal banget wajahnya waktu tahu Mbak Kia sama Naufal menginap di rumah Bu Lusi." Uni memang melihat wajah kecewa Raffasya saat mengetahui anak dan istrinya tidak ada di rumah.


" Aduh, jangan-jangan nanti akan ada perang lagi," celetuk Atun.


" Nggak mungkin ah, Mbak Atun. Mas Raffa sekarang itu jarang marah sama Mbak Kia apalagi Mbak Kia sedang hamil. Paling kesal sebentar saja terus sudah reda lagi emosinya." Uni mulai memahami karakter Raffasya sekarang ini, terutama setelah menikah, emosinya tidak pernah bertahan lama.


Keesokan paginya, Azkia berniat mengantar Rosa ke kampus sekalian dia juga berniat pulang ke rumahnya.


" Ma, Kia pinjam supir buat antar Rosa ke kampus sama Kia pulang ke rumah, ya?" Azkia meminta ijin ke Mama mertuanya karena ingin meminjam supir untuk mengantar mereka ke kampus dan pulang ke rumah.


" Kamu mau pulang pagi ini, Kia?" tanya Lusiana.


" Iya, Ma. Takut Papanya Naufal keburu datang. Soalnya Kia lupa nggak ijin dulu kalau mau menginap di sini." Azkia terkekeh mengingat keteledorannya tidak memberi kabar kepada suaminya itu.


" Memangnya Raffa melarang kamu menginap di rumah Mama?" tanya Lusiana memprotes.


" Nggak melarang sih, Ma. Hanya memberitahu saja kalau aku menginap di sini." Azkia menjelaskan.


" Oh, ya sudah ... kalian pakai supir Mama saja, biar Mama bawa mobil sendiri ke kantor." Lusiana mengijinkan Azkia memakai supirnya dan dia memilih pergi ke kantor mengendarai mobil sendiri.


***


" Ca, nanti kamu pulang kuliah minta diantar sama Abhi saja, ya!?" Azkia menyarankan Rosa untuk meminta bantuan kepada Abhinaya untuk mengantarnya pulang setelah kuliah selesai.


" Aku nanti naik ojek online saja, Kak. Nggak enak minta antar Kak Abhi." Rosa memang tidak ingin merepotkan Abhinaya dengan mengantarnya pulang ke rumah Lusiana dan lebih memilih mengunakan jasa driver ojek online.


" Kamu berani naik Ojol?" tanya Azkia memastikan karena adik iparnya itu baru tinggal di Jakarta.


" Iya, Kak. Insya Allah aku berani." jawab Rosa.


" Ya sudah, nanti aku hubungi driver Ojol langgananku, ya!? Aku ada driver langganan, kalau pesan makanan aku sering pesan via dia. Sama antar pesanan barang di butik juga aku langganan order dia. Nanti aku suruh dia untuk antar jemput kamu saja ya, Ca!? Biar kamu aman." Azkia menawarkan salah seorang driver Ojol yang sering dia minta tolong untuk memesan makanan dan mengantar barang ketika di butik dulu.


" Boleh, Mbak." Rosa menyetujui tawaran Azkia, setidaknya dia merasa tenang jika ada driver yang direkomendasikan oleh kakak iparnya itu.


" Oke, sip!" sahut Azkia. " Pak, kita antar ke kampus Oca dulu, setelah itu antar aku pulang, ya!" Azkia berkata kepada Pak Supir yang sedang serius mengendarai mobilnya.


" Baik, Mbak." Pak Supir menjawab.


Ddrrtt ddrrtt


Azkia merasakan ponselnya berbunyi di dalam tasnya. Dia pun lalu mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan masuk dari Uni. Mata Azkia menyipit saat mengetahui Uni mengirimkan pesan untuknya. Dia berpikir ada apa Uni mengirim pesan ke ponselnya pagi-pagi? Apakah Raffasya sudah datang? Kalau sudah datang, kenapa suaminya itu tidak mengabarinya?


Azkia segera membuka pesan masuk dari Uni karena dia tidak ingin menerka-nerka terlalu lama.


" Assalamualaikum, Mbak Kia. Maaf, Mbak. Uni cuma mau memberitahu kalau Mas Raffa sudah pulang dari semalam. Apa Mas Raffa sudah menghubungi Mbak Kia?"


Kini Azkia membulatkan matanya saat mendapat kabar dari Uni bahwa suaminya sudah ada di rumah.


" Gawat ...!" celetuk Azkia spontan.


" Kenapa, Kak?" tanya Rosa menoleh ke Azkia.


" Papanya Naufal sudah pulang semalam, Ca." Azkia menunjukkan isi pesan yang dikirim Uni di ponselnya.


" Aduh, nanti Kak Raffa marah nggak, Kak? Tahu Kakak nggak ada di rumah?" tanya Rosa khawatir.


" Kayaknya sih, Ca. Biasanya kalau Papanya Naufal tahu aku nggak ada di rumah itu pasti menyusul ke tempat aku menginap, tapi semalam nggak menyusul ke rumah Mama." Azkia masih sibuk membalas pesan dari Uni.


" Terus gimana jadinya, Kak?" tanya Rosa lagi.


" Ya nggak gimana-gimana ... biarkan saja, nanti juga marahnya reda kalau melihat Naufal," sahut Azkia merasa yakin jika suaminya itu tidak akan tahan lama-lama marah kepadanya.


" Apa kita antar Kak Kia pulang dulu?" Rosa menyarankan agar Pak Supir mengantar Azkia pulang terlebih dahulu sebelum mengantar dia ke kampus.


" Jangan, dong! Nanti kamu telat. Apalagi di Jakarta ini macet. Sudah antar kamu saja dulu setelah itu baru antar aku sama Naufal pulang." Azkia tidak setuju dengan usul Rosa. Dan menyuruh Pak supir untuk menjalankan tugasnya seperti yang diperintahkan di awal tadi yaitu mengantar Rosa ke kampus dan mengantar Azkia dan Naufal pulang ke rumah Raffasya.


***


Uni dan Atun bergegas menghampiri mobil milik Lusiana yang membawa Azkia dan Naufal saat mobil itu berhenti di halaman rumah Raffasya. Uni langsung membuka pintu dan mengambil Naufal sementara Atun membawa tas dan membantu Azkia turun dari mobil.


" Papanya Naufal sudah berangkat, Mbak?" tanya Azkia kepada Uni dan Atun.


" Mas Raffa masih di kamar, Mbak." sahut Atun.


Azkia menoleh arlogi di tangannya dan bertanya, " Belum sarapan?" Karena saat ini waktu hampir mendekati pukul setengah sembilan pagi.


" Tadi sudah sarapan waktu Uni kirim pesan ke Mbak Kia." jawab Uni.


" Oh ..." Hanya itu kata yang keluar dari mulut Azkia. Wanita itu pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah.


" Sini Naufal aku yang bawa saja, Mbak." Azkia meminta Uni menurunkan Naufal dan membiarkan Naufal berjalan sesampainya di depan pintu kamarnya.


" Baik, Mbak." Uni pun segera menurunkan Naufal yang langsung digandeng tangannya oleh Azkia lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


" Assalamualaikum, Papa ..." Saat membuka pintu Azkia mendapati suaminya yang sedang duduk bersantai di sofa dengan ponsel di tangannya. Yang langsung menatap dengan tajam ke arahnya saat mengetahui kedatangan dirinya.


" Waalaikumsalam ..." sahut Raffasya ketus.


" Naufal, Papa lagi ngambek nih, sama Mama." Azkia menyeringai dan melepaskan tangan Naufal karena anaknya itu ingin mendekati Papanya.


Raffasya langsung menangkap tubuh anaknya yang berlari kecil ke arahnya, dia lalu mengangkat anaknya itu dan menaruh di pangkuannya. " Naufal habis dari mana? Kok pergi nggak bilang sama Papa?" Seakan menyindir istrinya, Raffasya bertanya kepada Naufal.


" Maaf, Pa. Kirain Papa menginap di Bandung." Azkia langsung meminta maaf atas kesalahannya tak memberikan kabar kepada suaminya itu.


" Iya Maaf, Pa. Aku lupa kasih tahu, Papa." Azkia kemudian berjalan menghampiri Raffasya dan duduk di samping suaminya. Lalu wanita cantik yang sedang hamil anak kedua itu memeluk dan bergelayut manja di bahu sang suami.


" Semalam pulang jam berapa? Kok nggak nyusul aku di rumah Mama Lusi?" tanya Azkia mendongakkan kepalanya ke arah wajah suaminya.


" Jam sepuluh dan aku terlalu penat. Aku memaksakan pulang semalam karena kangen sama istri dan anak, malah ditinggalin gitu saja!" keluh Raffasya menampakkan rahang tegasnya.


" Maaf ya, Pa." Azkia menyandarkan kembali kepalanya di bahu sang suami mencoba untuk meredam kemarahan Raffasya terhadapnya.


Sudah pasti Raffasya akan luluh dengan sikap Azkia yang bergelayut manja di bahunya. Apalagi kehamilan Azkia yang membuatnya selalu mengalah, karena jika mood istrinya itu sedang memburuk, dia jugalah yang akan kerepotan.


" Lain kali kalau mau pergi dari rumah apalagi sampai menginap itu kasih tahu aku dulu," ucapnya kemudian.


" Iya, Pa." Azkia menganggukkan kepala. " Jadi sekarang aku sudah dimaafkan, kan?" Azkia menyeringai menatap wajah tampan sang suami. " Papa pasti kangen ya semalam nggak aku temani." Tangan berjari lentik Azkia mengusap rahang sang suami.


" Kalau aku nggak kangen, nggak mungkin semalam aku bela-belain langsung pulang." jawab Raffasya membuat Azkia terkekeh.


" Papa sudah sarapan belum?" Walaupun Azkia tahu dari ART nya jika suaminya itu sudah sarapan namun Azkia tetap menanyakan hal itu kepada Raffasya.


" Sudah tadi ...."


" Sarapan apa, Pa?" tanya Azkia kembali.


" Nasi goreng."


" Oya, tadi aku antar Oca ke kampus dulu sebelum pulang sama supirnya Mama." Azkia memberitahu suaminya tentang Rosa. " Selanjutnya kalau kuliah, Oca akan diantar jemput Ojol langgananku, biar aman," sambungnya.


" Kalau sempat biar aku saja yang antar jemput Oca, kasihan dia baru di Jakarta ini." Raffasya tentu ingin menjaga keselamatan adiknya hingga rela harus mengantar jemput Rosa ke kampusnya.


" Ah, iya ... kenapa aku nggak kepikiran kesitu, ya? Mending Papa saja yang antar jemput Oca biar lebih aman." Azkia setuju dengan ide dari suaminya itu. " Ya sudah, nanti aku bilang sama Oca, Pa. Biar dia diantar jemput Papa saja. Kecuali Papa berhalangan nanti diantar sama Ojol langganan aku, gitu saja ya, Pa?" Azkia menyampaikan pendapatnya.


" Iya, aku juga setuju itu." Raffasya menyutujui saran dari istrinya.


" Papa hari ini ke cafe, nggak? Buruan ganti baju dulu. Sudah mau jam sembilan, tuh!" Azkia menunjukkan jam dinding.


" Aku masih kangen sama Naufal. Mama sama Naufal ikut saja ke cafe, yuk!" Raffasya merasa belum puas bertemu dengan istri dan anaknya hingga meminta Azkia ikut dengannya ke cafe.


" Ayo, Pa!" Azkia dengan semangat menyahuti karena dia senang tidak menghabiskan waktu di rumahnya, Apalagi di cafe suaminya itu dia bisa bertemu dengan sahabatnya. kembali.


***


Lusiana menatap nama yang muncul di layar ponselnya. Dia bahkan sampai mengambil nafas terlebih dahulu sebelum mengangkat panggilan telepon tersebut karena Fariz lah yang saat ini menghubungi.


" Halo, Assalamualikum ..." sapa Lusiana saat sambungan telepon mantan suaminya itu dia angkat.


" Waalaikumsalam ... apa aku mengganggu waktumu, Lusi?" tanya Fariz menanggapi sapaan Lusiana.


" Ada apa memangnya?" tanya Lusiana ketus.


" Apa Oca sudah menginap di rumahmu?" tanya Fariz.


" Iya, sudah!" jawab Lusiana singkat.


" Terima kasih karena kamu sudah mau menyediakan tempat tinggal sementara untuk Oca sampai aku menemukan rumah yang bisa aku dan Oca tempati, Lusi." ujar Fariz.


" Iya." Masih singkat jawaban-jawaban yang disampaikan oleh Lusiana.


" Oh ya, apa kamu sudah memikirkan apa yang aku katakan tempo hari?" tanya Fariz menyinggung apa yang pernah dia sampaikan kepada Lusiana sebelum kepulangannya ke Manado waktu itu.


" Aku belum memikirkan, dan aku butuh banyak waktu untuk memikirkan hal tersebut," sahut Lusiana hingga membuat tawa Fariz terdengar di telinganya.


" Butuh banyak waktu? Apa kamu cukup galau dengan permintaanku itu, Lusi? Kalau kamu memang tidak setuju kenapa tidak langsung kamu katakan saja? Kenapa membutuhkan banyak waktu? Katakan saja jika kamu sebenarnya ingin kembali bersamaku namun kamu terlalu gengsi mengakuinya." Dibarengi dengan tertawa kecil Fariz menyinggung mantan istrinya itu.


" Mas Fariz jangan terlalu kepedean, ya!" sangkal Lusiana, namun untung saja saat ini dia tidak berhadapan langsung dengan Fariz, kalau saja berhadapan, saat ini Fariz pasti dapat melihat semu merah di pipi Lusiana yang masih nampak kencang meskipun sudah berusia di atas lima puluh tahun.


" Jadi seorang pria itu memang wajib percaya diri," sahut Fariz cepat. " Aku 'kan sudah katakan, buang jauh ego kita masing-masing. Yang harus kita pikirkan sekarang ini adalah kebahagian anak cucu kita. Kamu lihat bagaimana anak perempuanku mau menerima tawaranmu untuk tinggal di rumahmu agar dia bisa mengakrabkan diri dengan dirimu, Lusi? Kenapa kamu masih saja mengedepankan gengsi dan egomu?" sindir Fariz membandingkan sikap Lusiana dan Rosa.


" Mas Fariz pikir aku ini berpikir seperti anak kecil? Mas membanggakan kalau anak Mas Fariz itu berfikiran dewasa? Memangnya Mas Fikir aku akan mudah menerima sembarangan orang untuk tinggal di dalam rumahku?" Lusiana merasa kesal karena Fariz seolah mengatakan dirinya terlalu egois dan tidak berpikiran dewasa.


Fariz kembali terkekeh seraya berucap, " Oh ya, aku lupa kalau kamu itu tidak mudah percaya sama orang baru, ya? Lalu sebenarnya apa alasanmu sampai mau menerima Oca tinggal di rumahmu?" tanya Fariz memancing jawaban jujur Lusiana. " Apa kamu juga membiasakan diri agar kamu tidak canggung dengan Rosa jika kita benar kembali bersama?" ledek Fariz dan menghentikan tawa kecilnya.


" Aku hanya menuruti kemauan menantuku! Karena Kia sedang hamil dan itu adalah permintaan Kia makanya aku turuti!" sanggah Lusiana cepat. Memang sebenarnya karena desakan Azkia lah akhirnya Lusiana mau menerima Rosa untuk tinggal di rumahnya. Dia kasihan jika menantunya itu direpotkan dengan kehadiran Rosa di rumah Raffasya dan Azkia jadi Lusiana mengambil keputusan untuk menerima Rosa di rumahnya. Kebetulan Rosa sendiri seorang gadis yang baik, jadi dia tidak takut menerima kehadiran gadis di dalam rumahnya. Dia bahkan sama sekali tidak berpikir jika tindakannya itu sebagai bentuk pendekatan kepada Rosa, namun Lusiana pun bersyukur karena dia bisa diterima baik oleh Rosa karena tidak semua anak bisa ikhlas dan menerima ketika Papanya ingin dijodohkan dengan wanita lain setelah kepergian Ibunya yang belum genap dua tahun.


*


*


*


Bersambung ....


Ada yang baru, nih. Silahkan masukan ke daftar fav kalian. Untuk gift dan vote yang biasa diberikan Kia & Raffa jika berkenan dipindahkan saja ke karya baru ini. Karena kisah Kia & Raffa akan tamat awal Agustus nanti. Makasih atas dukungn readers selama ini🙏❤️



Selama lebih dari lima tahun bekerja di perusahaan swasta yang bergerak di bidang industri suku cadang otomotif, Kayra Ainun Zahra tidak sekalipun terpikirkan di benaknya jika akhirnya dia akan ditakdirkan menjadi istri simpanan dari atasannya sendiri, Erlangga Mahadika Gautama.


Kemelut yang terjadi dalam rumah tangga sang bos, Erlangga dan juga istrinya Caroline membuat Kayra terjebak masuk dalam permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga atasannya itu. Terutama saat Erlangga yang secara tiba-tiba memutuskan untuk menikahinya, karena merasa kecewa dengan kondisi rumah tangganya bersama Caroline, istri sahnya.


Sementara orang tua Erlangga sendiri sebenarnya tidak menyetujui putranya itu menikah dengan Caroline karena profesi Caroline. Orang tua Erlangga sendiri sebenarnya sudah menyiapkan seorang wanita cantik yang ingin dia jodohkan dengan Erlangga. Dan masalah yang terjadi dalam .rumah tangga Erlangga dan Caroline sepertinya akan dimanfaatkan oleh orang tua Erlangga untuk membuat rumah tangga putranya itu bersama Caroline kandas.


Bagi Kayra sendiri menjadi wanita kedua dari seorang pria beristri, apalagi pria itu adalah bosnya sendiri, bagi Kayra adalah suatu hal yang sangat memalukan. Lalu bagaimana Kayra menjalani hari-harinya sebagai istri simpanan atasannya itu? Dan bagaimana juga dia mencoba menutupi statusnya dari rekan sekantornya dan juga dari istri sah sang CEO? Dan bagaimana juga dia harus menghadapi wanita lain yang berambisi mengejar cinta Erlangga?




Happy Reading ❤️