
Rosa merasa bersalah dan tidak enak hati atas perlakuan Lusiana terhadap Gibran sore tadi. Dia memang tidak menyalahkan Lusiana kerena sikap calon Mama sambungnya itu adalah bentuk keperdulian Lusiana terhadap dirinya. Tentu saja sebagai anak gadis yang masih polos dan belum pernah menjalin hubungan asmara dengan seorang pria, dia memang tidak berpengalaman bagaimana harus menilai apakah pria itu berniat baik atau tidak terhadapnya. Namun selama beberapa kali berjumpa dengan Gibran, dia tidak merasa jika Gibran adalah pria yang tidak baik.
Rosa sendiri tidak berani menyanggah tuduhan Lusiana yang mengatakan jika Gibran adalah pria beristri karena sejujurnya dia sendiri tidak tahu apakah Gibran itu masih sendiri atau sudah berkeluarga.
Rosa berjalan mondar-mandir di dekat tempat tidurnya dengan ponsel digenggam di dekat dadanya. Dia ingin memberanikan diri untuk menghubungi Gibran, namun dia ragu untuk melakukannya.
Ddrrtt ddrrtt
Rosa seketika tersentak saat ponsel di tangannya bergetar. Dan dia semakin terkejut saat mengetahui jika orang yang menghubunginya saat ini adalah Gibran.
" Assalamualaikum, Kak Gibran?" Entah mengapa hati Rosa tiba-tiba serasa berbunga-bunga saat mengangkat panggilan telepon dari Gibran, orang yang sejak tadi ingin dia hubungi.
" Waalaikumsalam, saya ganggu kamu tidur, ya?" tanya Gibran.
" Ah, nggak kok, Kak. Saya juga tadinya ingin menghubungi Kakak." Rosa seketika menutup mulutnya karena dia keceplosan mengatakan jika dia sejak tadi merasa galau antara ingin menelepon atau tidak.
" Kamu ingin menghubungi saya, ada apa?" Terdengar suara Gibran dibarengi suara kekehan pria itu.
" Oh itu, saya tadi mau minta maaf sama Kakak karena perlakuan Mama Lusi terhadap Kakak. Saya minta maaf ya, Kak. Saya jadi nggak enak sama Kak Gibran, padahal Kakak sudah baik sama Rosa selama ini." Rosa mengutarakan permintaan maafnya.
" Nggak masalah, kok. Saya mengerti jika Mama tiri kamu itu bersikap seperti itu." Gibran sepertinya memaklumi dengan sikap yang ditunjukkan oleh Lusiana kepadanya.
" Tapi kamu aman-aman saja 'kan tinggal sama Mama tiri kamu itu?" Gibran khawatir jika Rosa diperlakukan tidak baik oleh Lusiana.
" Aman maksudnya, Kak?" Rosa tidak memahami maksud dari kata yang diucapkan Gibran.
" Apa dia bersikap tidak baik sama kamu? Ya, kebanyakan orang menganggap Mama tiri itu 'kan selalu tidak adil terhadap anak dari suaminya." Sepertinya Gibran terlalu terpengaruh dengan imej buruk sosok Ibu tiri yang selalu digambarkan memiliki karakter yang antagonis.
" Oh, itu ... Nggak kok, Kak. Mama Lusi itu baik banget sama saya. Malah Mama Lusi sudah menganggap saya seperti anak sendiri. Ke istrinya Kakak saya juga begitu. Bahkan Mama Lusi lebih dekat ke menantunya daripada sama anaknya sendiri, mungkin karena Mama Lusi nggak punya anak perempuan jadi seperti itu."
Gibran hanya mendengar cerita yang disampaikan Rosa, dia begitu menikmati suara gadis cantik itu di telinganya.
" Eh, maaf, Kak. Saya jadi cerita panjang lebar." Rosa yang menyadari jika dirinya sudah banyak bicara merasa malu sendiri.
" Nggak apa-apa, Ca. Aku senang kok dengar kamu ngomong." Gibran bahkan mulai mengikuti memanggil Rosa dengan Oca. Dan merubah memanggi saya menjadi aku.
" Duh, jadi malu saya, Kak." Rosa sendiri agak terkejut dengan panggilan Gibran kepada dirinya.
Gibran tertawa, dia sudah menduga jika Rosa pasti sedang salah tingkah saat ini.
" Oh ya, Kak. Boleh saya tanya sesuatu?" Rosa memberanikan diri untuk bertanya.
" Tanya apa?"
" Apa Kak Gibran sudah punya istri?" Demi mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya, Rosa pun menanyakan tentang status Gibran.
" Kenapa memangnya? Apa kamu berubah pikiran dan berminat jadi istri aku?" Gibran langsung tertawa kencang setelah mengucapkan kalimat tadi.
" Kenapa Mama kamu itu punya pikiran kalau aku sudah beristri?" tanya Gibran heran.
" Jadi waktu kita ketemu di restoran waktu itu, saya bilang ke Kakak saya kalau tadi bertemu dengan Kak Gibran dan keluarganya. Lalu Kakak saya langsung berpikiran kalau keluarga yang dimaksud itu adalah istri Kak Gibran." Dan Rosa juga menceritakan bagaimana asal usul dugaan Gibran telah beristri itu berasal.
" Kenapa kamu nggak jelaskan kalau yang dimaksud keluarga itu bukan istri?" tanya Gibran menyayangkan Rosa tidak mengatakan yang sebenarnya hingga tidak sampai terjadi kesalahpahaman ini.
" Saya pikir kita nggak akan sering ketemu lagi, eh ... Kak Gibran tiba-tiba muncul di rumah." Rosa memang tidak berpikir akan bertemu kembali dengan Gibran sehingga dia merasa tidak perlu menjelaskan soal hal itu.
Gibran tergelak mendengar alasan Rosa.
" Aku belum punya istri kok, Ca. Jangankan istri, pacar saja nggak punya ..." aku Gibran jujur.
" Kak Gibran nggak punya pacar?" tanya Rosa penasaran.
" Dulu sih ada, tapi diambil orang. Padahal aku sudah menunggu cukup lama untuk mendapatkan cewek itu." Gibran membuka sedikit kisah cintanya dengan mantan kekasihnya itu.
" Pacar Kakak selingkuh?" Itulah yang ada dibenak Rosa.
" Bukan selingkuh, tapi diambil saja sama cowok lain."
" Ya ampun jahat banget sih cowok yang rebut pacar Kak Gibran itu."
" Miris banget memang, kami harus berpisah padahal kami saling menyayangi." Suara Gibran terdengar menahan rasa pilu.
" Apa pacar Kakak dijodohkan sama orang tuanya?" Rosa semakin penasaran dengan kisah cinta Gibran dengan mantan kekasihnya.
" Nggak, orang tua cewek aku itu justru tahu dan merestui jika kami pacaran bahkan rencananya setelah dia lulus kuliah, kami akan menikah. Tapi ternyata dia lebih dulu menikah dengan pria lain."
" Maaf, Kak. Kalau pertanyaan saya membuat Kakak teringat akan kenangan tidak enak untuk Kakak." Rosa menyesal telah menyinggung tentang pacar kepada Gibran.
" Wah, malah aku yang sekarang banyak cerita, ya?" Gibran terkekeh, dia sepertinya ingin menutupi rasa sedih karena harus berpisah dari Azkia.
" Semoga Kakak akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari apa yang Kakak miliki dulu ..." Rosa mendoakan agar Gibran mendapatkan pengganti yang lebih baik dari mantan kekasih Gibran.
" Aamiin ... sepertinya sih, aku memang akan mendapatkan yang lebih baik dari mantanku dulu ..." Gibran terkekeh.
" Alhamdulillah, Kakak sudah dapat pengganti?"
" Sepertinya akan dapat pengganti. Tapi aku nggak tahu apa cewek itu mau atau tidak sama aku." Gibran masih tertawa kecil.
" Kakak orangnya baik, pasti cewek itu akan mau menerima Kak Gibran." Rosa menyemangati agar Gibran tidak patah semangat.
" Tapi cewek itu masih ingin fokus kuliah. Sekarang saja baru semester lima. Aku tanya setelah lulus kuliah apa siap untuk dilamar? Jawabnya belum memikirkan soal pernikahan. Menurut kamu, apa aku punya kesempatan bisa jadi pacar cewek itu?"