MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Asisten



" Nenek ...!" teriak Azkia berjalan memasuki kamar Nenek Mutia selepas melaksanakan sholat Maghrib.


" Ada apa, Kia? Kenapa kamu teriak-teriak begitu?" tanya Nenek masih mengenakan mukena karena baru selesai membaca ayat suci Al'quran.


" Nek, cucu Nenek berani-beraninya selingkuh terang-terangan, Nek." Azkia kemudian mendekat dan memeluk tubuh Nenek dari suaminya itu.


" Astaghfirullahal adzim ... kamu bicara apa, Kia?" Tentu saja Nenek Mutia terperanjat mendengar aduan istri dari cucunya itu.


" Kak Raffa mau selingkuh, Nek." Azkia mengadu kepada Nenek Mutia tentang kelakuan suaminya.


" Itu nggak benar, Nek. Almayra cuma salah paham ..." Raffasya yang menyusul Azkia langsung menyangkal tuduhan istrinya yang mengatakan jika dia berselingkuh.


" Bohong, Nek. Kak Raffa tadi itu bertemu dengan wanita yang Kak Raffa kagumi karena mirip dengan Rayya. Waktu pertama kali bertemu wanita itu, Kak Raffa melihatnya nggak pakai kedip, Nek. Terpana ... terpesona, apa namanya kalau bukan selingkuh? Udah gitu namanya Humaira, panggilannya ... Hmmpptt ..." Raffasya lebih dahulu menutup mulut Azkia dengan tangannya agar istrinya itu tidak banyak berkata-kata.


" Raffa, jangan seperti itu kepada istrimu!" Nenek Mutia langsung menegur Raffasya yang dianggapnya bersikap keterlaluan terhadap Azkia, hingga membuat Raffasya melepaskan bekapan dari mulut Azkia.


" Tuh, Nek. Kak Raffa kasar banget 'kan sama Kia?? Pasti gara-gara bertemu wanita itu lagi. Pantas saja panggil aku May, Nek. Ternyata Mai nama panggilan cewek itu." Azkia bersungut-sungut.


" Benar itu, Raffa?" selidik Nenek Mutia.


" Nggak lah, Nek. May itu hanya salah paham saja." Raffasya menjelaskan.


" May siapa? Humaira??" sindir Azkia ketus.


" Nek, apa yang dituduhkan Almayra itu nggak benar," sangkal Raffasya kembali. " Raffa juga baru tahu nama wanita itu hari ini kok, Nek." Raffasya memberi pembelaan terhadap dirinya sendiri.


" Lalu mau apa dia datang ke tempat Raffa? Pasti karena Kak Raffa yang kasih alamat ke dia, kan? Pasti waktu ketemu dulu Kak Raffa tukar-tukaran nomer ponsel sama dia, kan?" Azkia sudah berpikiran yang tidak-tidak. Dia benar-benar sudah cemburu buta. Dia menduga jika Raffasya dan Humaira saling berkenalan dan bertukar nomer ponsel saat pertama kali bertemu.


" Itu karena dia ingin kerjasama mempromosikan acaranya di Raff FM, May." Raffasya menjelaskan masalah yang sebenarnya agar Azkia tidak salah paham.


" Oh, berarti Kak Raffa akan sering bertemu dengan dia, dong?" Azkia langsung berkacak pinggang dengan mata melotot tajam.


" Ya nggak jugalah, May. Kita cuma mempromosikan event yang dia buat." sangkal Raffasya karena dia juga tidak berharap untuk terus bertemu dengan Humaira.


" Bohong!" ketus Azkia seolah menuduh suaminya itu mengingkari perasaannya terhadap Humaira.


" Ya ampun, May. Kamu jangan kayak anak kecil gini, dong." Raffasya hampir hilang kesadaran mendengar Azkia meragukan kejujurannya.


" Nek ..." Azkia kembali mengadu karena Raffasya mengatakannya seperti anak kecil. Apalagi Raffasya hampir terpancing emosinya.


" Sudah-sudah, kalian jangan ribut terus. Raffa, kamu harus ingat jika kamu itu sudah beristri dan akan punya anak. Sebaiknya kamu jangan dekat-dekat dengan wanita lain, kalau bisa sebaiknya kamu batalkan saja kerjasama kamu dengan wanita itu daripada membuat rumah tangga kalian ribut seperti ini." Nenek Mutia menyarankan agar Raffasya tidak terus menerus ribut dengan Azkia.


" Masa dibatalkan, Nek? Itu sama saja Raffa nggak profesional dong, Nek. Lagipula Raffa itu nggak ada apa-apa kok sama cewek itu." Raffasya tentu tidak setuju dengan saran Nenek Mutia karena akan mempertaruhkan nama baiknya karena dianggap tidak profesional. " Apalagi event yang diadakan oleh organisasi dia itu adalah lomba dakwah remaja muslim, itu suatu hal yang positif 'kan, Nek?" Raffasya meminta pengertian dari Nenek Mutia untuk tidak melarangnya meneruskan kerjasama.


" Bilang saja Kak Raffa ingin terus bertemu sama dia! Janjinya akan menjaga dan menutup mata dari wanita lain, dasar gombal!" Azkia kemudian berjalan ke luar kamar dengan kesal.


" Raffa, kamu bisa tidak sih, tidak selalu membuat istri kamu marah-marah? Kia itu sedang hamil, tidak baik kalau dia selalu dibuat kesal oleh kamu." Nenek Mutia menasehati Raffasya.


" Iya, Nek. Tapi Raffa nggak bisa kalau harus membatalkan kerjasama dengan cewek itu, Nek." Sebagai seorang pebisnis, Raffasya harus bersikap profesional, tidak menyangkut pautkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi.


" Kamu yakin alasannya bukan karena kamu ingin terus bertemu dan dekat dengan wanita itu?" selidik Nenek Mutia mencoba mencari kejujuran cucunya.


" Benarlah, Nek. Raffa nggak punya pikiran apa-apa, kok. Raffa hanya merasa tidak profesional jika tiba-tiba harus menghentikan kerjasama ini." Raffasya mencoba meyakinkan Neneknya. " Nek, aku nggak mungkin akan selingkuh dengan wanita lain. Nenek lihat sendiri, kan? Istriku buasnya seperti macan? Bisa-bisa aku dicabik-cabik kalau sampai berani berselingkuh." Raffasya berkelakar.


" Ya sudah, sana kamu susul istri kamu itu. Nenek pusing kalau melihat kalian bertengkar seperti ini terus." Nenek Mutia memijat pelipisnya.


" Maafkan Raffa ya, Nek." Raffasya memeluk Neneknya terlebih dahulu sebelum akhirnya meninggalkan kamar Neneknya.


***


Raffasya terkejut saat mendapati Azkia sedang mengemas pakaiannya ke dalam koper ketika dia kembali dari kamar Nenek Mutia.


" May, kamu mau ke mana? Kenapa baju kamu dimasukan ke dalam koper?" tanya Raffasya bergegas menghampiri Azkia.


" Aku mau pulang ke rumah orang tuaku! Aku nggak sudi diselingkuhi!!" ketus Azkia tak menghentikan gerakannya menaruh baju-bajunya.


Raffasya akhirnya menarik pinggang Azkia dan memeluk istrinya itu.


" Kamu itu cemburu 'kan, May? Mengaku saja kalau kamu itu cemburu padaku," Raffasya justru menggoda istrinya.


" Nggak! Aku nggak cemburu!"


" Kalau nggak cemburu, untuk apa kamu marah-marah begini, hemm?" Raffasya mengusap kepala Azkia.


" Kamu tenang saja, aku nggak akan selingkuh, May. Kalau aku niat selingkuh, untuk apa kasih tahu kamu kalau aku tadi bertemu dengan Humaira?"


" Nggak usah sebut-sebut nama itu!" hardik Azkia dengan kesal karena Raffasya masih saja menyebut nama Humaira.


" Iya, iya, kalau aku berniat selingkuh, pasti aku akan tutup mulut kalau aku tadi bertemu orang yang mirip dengan Rayya."


" Iiihhh ...!!" Azkia memukul lengan suaminya karena Raffasya masih saja meledeknya dengan mengatakan Humaira mirip dengan Rayya.


" Hehe, istriku ini kalau lagi ngambek, macan saja kalah buasnya." Raffasya terkekeh kemudian mendekap erat Azkia, kemudian dia mengurai pelukan dan menurunkan tubuhnya hingga kini wajahnya tepat berada perut Azkia.


" Dedek bayi nanti kalau sudah lahir jangan mengikuti sifat Mama yang suka ngambek, ya!" Raffasya seolah berbicara kepada bayi dalam perut Azkia, membuat Azkia mencebik.


" Tapi biarpun Mama suka ngambek, Papa sayang kok sama Mamanya dedek bayi." Raffasya melirik seraya mendongakkan kepala menatap ke istrinya.


Azkia langsung menoleh ke arah Raffasya saat suaminya itu mengatakan kepada bayinya jika suaminya itu menyayangi dirinya.


" Papa juga yakin Mamanya dedek bayi juga sayang sama Papa walaupun masih gengsi bilang langsung ke Papa." Masih dengan kepala menengadah ke arah Azkia, Raffasya terus mengajak berbincang calon anaknya.


Mendengar kalimat terakhir dari Raffasya, Azkia langsung memalingkan wajahnya dengan mendengus.


" Tuh, lihat ... gengsi mengakui kalau sudah sayang. Padahal cemburunya sudah akut." Raffasya kini menaikan lagi tubuhnya hingga kini berdiri di hadapan Azkia yang masih memalingkan wajahnya.


" Ampun, ampun, May. Aku minta maaf ..." Raffasya memeluk Azkia kembali untuk meredakan emosi istrinya itu.


" Kak Raffa menyebalkan!!" Azkia bersungut-sungut karena suaminya itu berhasil berkali-kali menggodanya.


" Walaupun aku menyebalkan, tapi kamu nggak rela jauh dari aku, kan?" Raffasya menangkup wajah cantik Azkia yang memerah karena menahan emosi.


" Kamu harus percaya sama aku, aku nggak akan berpaling pada wanita manapun, karena kamu dan bayi kita adalah hal terpenting dalam hidupku saat ini dan selamanya," ucap Raffasya kemudian mengecup lembut bibir Azkia.


***


Raffasya kecil nampak hanya menundukkan kepalanya. Dia seolah sedang disidang atas kesalahannya mengganggu Azkia dengan melempar binatang yang ternyata ditakuti oleh Azkia kecil. Sorot mata penuh intimidasi yang dilakukan Gavin membuatnya susah untuk melirik ke arah Rayya yang saat itu duduk di pangkuan Daddy nya.


" Kia, Kak Raffa datang ke sini mau meminta maaf kepada Kia karena ulah Kak Raffa kemarin yang sudah melempar Hamster saat Kia di toilet." Yoga yang memang memiliki pembawaan tenang dan sikap yang bijaksana mejelaskan kedatangan Raffasya kepada putrinya itu.


" Ayo, Raffa. Ini Kia nya sudah ada. Bilang apa yang tadi Om minta tadi!" Bahkan Raditya, adik dari Mama Raffasya pun seolah menekannya.


" Iya, Kak Raffa itu harus minta maaf dan sungkem sama Kia karena sudah nakalin Kia!" celetuk Azkia membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arah Azkia. Terutama Raffasya yang nampak tidak suka atas apa yang diucapkan Azkia kepadanya.


Raffasya tersenyum mengingat peristiwa demi peristiwa yang terjadi pada masa kecilnya bersama istrinya dulu. Raffasya kini menatap wajah Azkia yang terlelap di sampingnya. Wajah istrinya itu nampak lebih tenang setelah dia membujuknya berkali-kali untuk percaya kepada dirinya jika dia tidak akan menyelingkuhi istrinya itu.


Raffasya mengusap wajah berkulit mulus Azkia. Sebuah senyuman terlukis di sudut bibir pria tampan itu.


" Aku benar-benar nggak menyangka jika kita akan menjadi dekat seperti ini, May. Aku yakin kita akan melalui hari-hari ke depan dengan kebahagiaan dan aku akan membuat kamu tetap bertahan di sisiku," janji Raffasya seraya mengecup kening istrinya itu.


" Awas saja kalau Kak Raffa berani selingkuh! Bukan aku tendang saja, tapi aku cin cang burungnya sekalian sampai nggak berbentuk."


Raffasya terkesiap bahkan sampai membulatkan bola matanya saat mendengar ucapan Azkia yang diucapkan tanpa sadar dengan mata terpejam, namun tak lama Raffasya langsung terkekeh.


" Cemburumu itu menyeramkan, May. Tapi aku suka dengan kamu cemburu seperti ini. Artinya kamu itu sayang sama aku," ujar Raffasya bangga karena dia merasa sangat dicintai oleh istrinya.


" Aku nggak bisa membayangkan kalau aku benar-benar selingkuh. Juniorku ..." Raffasya spontan melirik ke bagian pusatnya. Dia pun langsung mengedikkan bahunya membayangkan alat tempurnya itu akan hancur lebur karena amukan istrinya bar-barnya itu.


***


" Kak, ayo berangkat!" Azkia berkata kepada suinya yang baru masuk ke dalam kamarnya setelah berbincang dengan Nenek Mutia.


Raffasya menatap penampilan Azkia dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Wanita berstatus sebagai istrinya itu sudah terlihat rapih mengenakan dress hamil selutut berwarna blossom dengan rambut diikat ke belakang dan sling bag tersampir di pundaknya.


" Memang kita mau pergi ke mana, May?" tanya Raffasya yang merasa tidak mempunyai janji pergi bersama istrinya pagi dan siang hari ini. " Jadwal periksa kandungan kamu masih Minggu depan, kan?" lanjut Raffasya.


" Iya memang bukan mau cek kandungan." sanggah Azkia.


" Lalu kamu mau pergi ke mana?" tanya Raffasya masih belum memahami ajakan istrinya itu.


" Kerja." sahut Azkia singkat.


" Kerja? Kamu mau kerja?" Raffasya terkesiap saat mengetahui istrinya itu berkata akan berangkat kerja.


" He-eh." Azkia menganggukkan kepalanya.


" Memang kamu mau kerja apa?" tanya Raffasya heran karena istrinya itu tidak pernah bercerita sebelumnya jika akan bekerja.


" Kerja jadi asisten." Azkia mengembangkan senyumnya seraya mengerjapkan matanya.


" Asisten? Di mana? Kok kamu nggak bilang dulu sama aku kalau kamu melamar pekerjaan?" Raffasya nampak tidak suka mengetahui istrinya itu akan bekerja dan tidak meminta ijinya lebih dahulu. Lagipula dia juga tidak akan mengijinkan istrinya untuk bekerja apalagi dalam kondisi hamil seperti sekarang ini.


" Nggak perlu minta ijin lagi, kan aku kerja jadi asisten Kak Raffa di cafenya Kak Raffa."


Raffasya membelalakkan matanya saat istrinya berkata jika Azkia akan bekerja di cafenya.


" Kamu mau kerja di tempatku, May?" tanya Raffasya tak percaya.


" Iya, kenapa? Nggak apa-apa 'kan aku kerja bantu-bantu Kak Raffa?" sahut Azkia enteng.


" May, di sana sudah ada Adam yang bantu pekerjaan aku, jadi aku nggak perlu didampingi asisten lagi." Raffasya tidak setuju dengan permintaan Azkia yang ingin menjadi asistennya.


" Pak Adam itu pegawai Kak Raffa, pasti dia akan menurut perintah Kak Raffa, kan?" tanya Azkia


" Tentu saja, dia pegawaiku!" tegas Raffasya.


" Jadi kalau Kak Raffa suruh Pak Adam tutup mulut dan tidak menceritakan kalau ada wanita-wanita yang sedang mendekati Kak Raffa, pasti Pak Adam akan menuruti perintah Kak Raffa, kan? Aku bekerja sebagai asisten Kak Raffa agar Kak Raffa nggak berani lirik-lirik lagi cewek lain!"


Raffasya mendengus melihat sikap istrinya yang mulai posesif terhadapnya. " Ya ampun, May. Aku nggak berpikiran sejauh itu." ucap Raffasya.


" Ya sudah, kalau begitu nggak masalah dong, aku bekerja menjadi asisten Kak Raffa? Terkecuali memang ada yang Kak Raffa sembunyikan dan tidak ingin aku ketahui." Azkia menatap curiga.


" Nggak gitu jugalah, May. Aku melarang kamu bekerja karena kondisi kamu yang sedang hamil." Raffasya mengungkapkan alasannya tidak mengijinkan Azkia bekerja.


" Kehamilan itu tidak menghalangi kita untuk beraktivitas, kan?" Azkia berargumentasi.


" Ya kalau beraktivitasnya di atas ranjang sih aku juga setuju." Raffasya menyeringai seraya menggaruk tengkuknya.


Azkia memutar bola matanya mendapati jawaban dari suaminya yang mengarah ke hal-hal me sum.


" Sekarang Kak Raffa pilih, aku bekerja menjadi asisten Kak Raffa, atau aku bekerja full di butiknya Mama?" Azkia memberi pilihan yang semuanya tidak diinginkan oleh Raffasya.


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️