MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Jebakan Gladys



Sekitar setengah jam kemudian wanita yang mengaku bernama Melanie pun datang menghampiri Azkia di cafe tempat mereka janji bertemu setelah cafe itu buka.


" Hai, Mbak Azkia, ya?" sapa seorang wanita berpostur tinggi langsing dengan model rambut curly.


Azkia yang sudah sangat kesal karena harus menunggu selama setengah jam itu kemudian menaikkan pandangannya menatap sosok wanita yang menyapanya.


" Iya, Mbak Melanie, ya?" tanya Azkia kemudian.


" Iya, sorry ya, aku telat. Soalnya saya baru pulang dari Garut ini." Melanie mengatakan alasannya sampai bisa telat tiba di cafe itu.


" It's OK." sahut Azkia. " Oh ya, Mbak Melanie bawa contoh baju-bajunya?" tanya Azkia karena dia tidak melihat Melanie membawa apa-apa selain tote bag nya.


" Contohnya ada di mobil, sebentar saya ambilkan dulu. Oh ya, Mbak Azkia mau pesan makan dan minum apa?" tanya Melanie menawarkan.


" Saya orange juice saja, Mbak." ujar Azkia.


" Oke, sebentar saya pesankan dulu ya, Mbak." Melanie kemudian berjalan masuk ke arah pantry. Tak lama kemudian Melanie keluar dari arah pantry dan berjalan ke luar bangunan cafe untuk mengambil beberapa contoh baju yang ingin dia tawarkan kepada Azkia.


" Ini saya cuma bawa dua sampel saja Mbak Azkia, tapi model lainnya ada di notebook." Melanie lalu menyerahkan dua contoh baju berbentuk tunik dan mini dress kepada Azkia lalu dia mengambil notebook dari tote bag nya.


Sementara Melanie mengaktifkan notebook nya, Azkia sibuk memperhatikan dua sampel baju yang akan ditawarkan untuk dipasarkan di Alexa Butique. Dari kerapihan kancing dan jahitan, Azkia sangat detail mengamatinya.


" Ini bahannya nggak luntur 'kan, Mbak?" tanya Azkia kepada Melanie, karena memang semua produk yang dipasarkan di butik Mamanya itu berkualitas tinggi.


" Nggak dong, Mbak. Kan Mbak Kia minta yang tidak luntur bahannya. Saya nggak ingin mengecewakan Mbak Azkia dan Alexa Butique dalam kerjasama ini," ucap Melanie kemudian.


" Oke, dua contoh baju ini saya rasa bisa dipasarkan di Alexa Butique. Berapa harga yang ditawarkan untuk kedua baju ini?" tanya Azkia kepada Melanie.


" Yang mini dress saya minta lima ratus, yang tunik tiga ratus lima puluh." Melanie membuka harga.


" Saya berani tiga ratus lima puluh ribu untuk mini dress, dua ratus ribu untuk tunik." Azkia langsung melakukan penawaran harga karena dia melihat kualitas dan juga bahan kedua pakaian itu sangat bagus nyaman dipakai.


" Wah, Mbak Azkia menawarnya bikin saya pusing, nih." ucap Melanie terkekeh.


" Permisi, Mbak." Seorang pelayan cafe membawakan dua gelas minuman, orange juice untuk Azkia dan cafe latte untuk Melanie dengan fried fries dan onion ring.


" Makasih, Mbak." Azkia mengucapkan terima kasih kepada pelayan cafe yang memperhatikan Azkia dengan tatapan yang sulit untuk dipahami. Lalu pelayan itu melirik ke arah Melanie yang juga sedang melirik ke arahnya. Dan pelayan cafe itu langsung pergi saat Melanie melakukan gerakan isyarat yang menginginkan pelayan itu segera meninggalkan mereka.


" Bagaimana, Mbak? Apa Mbak Melanie setujuh dengan harga yang saya tawarkan?" tanya Azkia kemudian.


" Oke, deh. Karena saya baru, saya setuju dengan harga itu. Tapi jika sudah berjalan dan ternyata produk saya banyak peminatnya, saya minta ada kenaikan harga bisa 'kan, Mbak?" pinta Melanie kemudian.


" It's Ok kalau memang produk Mbak Melanie ini ternyata diminati konsumen, kita bisa deal harga lagi." sahut Azkia. " Oh ya, saya bisa lihat contoh-contoh lainnya?" tanya Azkia.


" Bisa, Mbak. Sepertinya Mbak Azkia antusias sekali dengan kerjasama ini." ujar Melanie yang melihat sikap Azkia yang bersemangat.


" Saya memang selalu bersemangat dalam menghadapi apapun, Mbak." timpal Azkia terkekeh.


" Diminum dan dimakan dulu cemilannya, Mbak. Melanie meminta Azkia menyantap food and beverage yang sudah dipesannya.


" Iya gampang itu sih, Mbak" Azkia justru penasaran dengan model-model baju yang ingin ditunjukkan oleh Melanie tanpa menyentuh makanan dan minuman yang tersaji di atas meja.


Setengah jam kemudian Azkia masih memilih-milih contoh baju yang akan dijual di display Alexa butique. Sementara Melanie sibuk melirik arloji di tangannya dan gelas orange juice milik Azkia yang masih belum juga disentuh oleh wanita itu.


" Diminum dulu orange juice nya, Mbak. Nanti sudah nggak dingin, lho." Melanie kembali menyuruh Azkia meneguk minuman dingin itu.


" Oh iya, saya sampai lupa. Saking asyiknya milih contoh produk Mbak Melanie. Soalnya modelnya oke semua." Azkia terkekeh seraya meneguk orange juice hampir setengah gelas.


Melanie yang melihat Azkia berhasil meneguk minuman yang disediakan oleh pelayan cafe tadi langsung menarik satu sudut bibirnya ke atas. Melanie lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang.


" Korban sudah masuk jebakan." Itu pesan yang dikirim Melanie kepada seseorang.


Lima belas menit berselang, Azkia merasakan sesuatu yang bergolak di dalam tubuhnya dan dia merasa tidak nyaman dengan apa yang dia rasakan saat ini.


" AC nya mati ya? Kok kayaknya panas banget hawanya." Azkia sampai mengibaskan tangan ke arah lehernya karena dia merasakan hawa panas itu semakin lama semakin merayapi tubuhnya. Berkali-kali bahkan Azkia mengusap wajah, leher dan tengkuknya.


" Hmmm, panas banget perasaan ..." Azkia semakin terlihat gelisah dan tak tenang.


" Mbak Azkia kenapa? Mbak Azkia baik-baik saja?" Melanie berpura-pura tidak mengerti akan apa yang terjadi.


" Kok panas banget rasanya." Azkia kemudian bangkit dari duduknya, dia bahkan berjalan dengan menggerakkan kepalanya karena serbuan hawa panas itu semakin menjadi di dalam tubuhnya.


" Mbak Azkia, tunggu!" Melanie segera mengekor langkah Azkia hingga akhirnya dua orang wanita masuk ke dalam cafe itu dan menyapa Azkia.


" Kamu? Kamu pacarnya Gibran, kan?" tanya Shendy yang sebenarnya bekerja sama dengan Melanie juga Gladys untuk menjebak Azkia.


" Ya ampun, kamu kenapa? Wajah kamu merah begini." Gladys mencoba menyentuh wajah Azkia yang sudah memerah namun Azkia segera menepisnya karena dia benar-benar tidak nyaman.


" Wah, Dys. Sepertinya kita harus menolong dia, deh!" Shendy masih dengan sandiwaranya lalu merangkul pundak Azkia karena tubuh Azkia masih terus menggeliat hingga akhirnya mereka pun keluar dari cafe itu.


***


Sekitar jam sebelas Raffasya sampai di kota Bandung. Dengan menggunakan aplikasi waze dia mencari alamat rumah Harlan, karena selepas Dzuhur, Dimas baru bisa menemui mereka.


Raffasya menperlambat laju mobilnya saat dia melihat mobil yang mirip milik Azkia terparkir di sebelah kanan jalan yang dia lewati. Mobil itu bukan hanya mirip tapi itu memang milik Azkia jika dia lihat plat mobil berleter B itu.


" Si Nenek sihir ada di Bandung juga?" Raffasya menarik satu sudut bibirnya ketika dia teringat akan Azkia.


Dan saat Raffasya melewati mobil Azkia tiba-tiba dia melihat tiga orang wanita keluar dari bangunan cafe dengan memapah seorang wanita yang sudah sangat dia kenal yaitu Azkia. Lalu satu orang dari tiga wanita yang membawa Azkia pun dia kenal.


" Itu 'kan Gladys? Kenapa Gladys bisa sama cewek bar-bar itu?" Raffasya segera melirik dari kaca spion. Dia melihat ternyata ketiga orang itu membawa Azkia ke dalam mobil Azkia dengan salah satu orang mengendarai mobil Azkia. Sedangkan dua orang lainnya mengendarai dua mobil yang berbeda dengan gerak-gerik yang mencurigakan.


" Kok aneh ya melihat mereka? Mencurigakan banget gerak-geriknya. Terus di nenek sihir juga kenapa dipegangi seperti itu jalannya?" Kening Raffasya berkerut mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi di antara empat wanita tadi.


Raffasya melihat ke tiga mobil itu bergerak menjauh dari pandangannya. Raffasya yang semakin merasakan kecurigaan kepada ketiga mobil itu langsung memutar balik mobilnya untuk mengikuti ketiga mobil yang salah satunya adalah milik Azkia itu


Raffasya terus mengikuti ketiga mobil itu dengan jarak lima puluh meter. Untung saja mobil baru yang dipakainya belum pernah diketahui oleh Gladys, jadi tidak menimbulkan kecurigaan.


Sekitar sepuluh menit berselang, ketiga mobil yang diikuti Raffasya memasuki sebuah kawasan komplek perumahan. Dan mobil mereka bertiga berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua. Raffasya tetap menjalankan mobilnya sampai melewati mereka, karena dia ingin tahu apa yang sedang terjadi di antara ke empat wanita itu. Dia tadi sempat melihat tingkah Azkia ketika turun dari mobil sangat aneh, belum lagi saat dia melihat dua orang laki-laki menyambut kedatangan tiga wanita itu plus Azkia.


Raffasya memarkirkan mobilnya. Dia lalu mengirim pesan kepada Harlan dengan mengirim lokasi dia berada saat ini dan meminta Harlan datang ke tempat itu tanpa menggunakan kendaraan pribadi. Setelah mengirimkan pesan, Raffasya kemudian berjalan mendekati rumah itu.


Dengan langkah mengendap Raffasya memasuki rumah itu. Tentu saja berbekal ilmu beladiri yang dia pelajari dulu Raffasya berani mengambil tindakan memasuki rumah itu.


" Kita eksekusi sekarang?"


Raffasya mendengar suara pria dari salah satu kamar.


" Terserah kalian." sahut suara wanita yang Raffasya kenal adalah suara Gladys." Tapi jangan lupa kalian rekam adegannya!" lanjut Gladys.


Raffasya juga bisa mendengar suara Azkia yang meracau tak karuan. Kadang mende sah, kadang melenguh, kadang berteriak dengan menyebut kata panas.


" Wajahnya sudah nggak kuat nahan bira hinya, harus segera disalurkan," sahut pria lain.


Raffasya langsung membelalakkan matanya saat pria tadi mengucapkan kata bira hi. Membuat Raffasya keluar dari persembunyiannya dan menerobos masuk ke dalam kamar yang pintu kamarnya setengah tertutup.


Brraaakkk


" Apa yang sedang kalian rencanakan?!" geram Raffasya kepada orang-orang di dalam kamar itu. Dan kini pandangan Raffasya tertuju pada tubuh Azkia yang terus menggeliat di atas tempat tidur dengan beberapa kancing baju yang sudah terbuka hingga memperlihatkan bagian buah da danya yang sedikit menyembul walaupun masih tertutup kain berenda.


" Hei, siapa lu?!" Dua orang pria di kamar itu langsung membentak Raffasya.


" Raffa?" Gladys yang mengetahui kemunculan Raffasya langsung mendekat ke arah Raffasya dan melingkarkan tangannya ke lengan pria itu.


" Raffa, wanita ini 'kan musuh kamu. Sekarang ini kamu bisa balas dendam sama wanita ini." Gladys yang mengetahui hubungan Azkia dan Raffasya tidak akur mencoba memprovakasi Raffasya. " Aku sudah suruh dua orang ini untuk mengerjai wanita ini. Aku sudah masukan cairan obat pembangkit ga irah ke dalam minumannya tadi dan sekarang obat itu sedang bekerja." Dengan jujurnya Gladys menceritakan rencananya.


Seperti yang sudah Raffasya duga sebelumnya jika Azkia telah dijebak ketiga wanita di hadapannya.


" Berani sekali lu berbuat licik ke dia!" Raffasya menepis tangan Gladys dari lengannya. Dia bahkan menunjuk ke arah wajah Gladys dengan sangat emosi. Raffasya kemudian berjalan ke arah Azkia dan mengancingkan kembali baju Azkia.


" Kak Raffa ..." lirih Azkia hingga Raffasya menolehkan wajahnya ke arah wajah Azkia yang terlihat memerah dan tatapan mata penuh gairah. Raffasya bisa melihat wajah Azkia yang terlihat sangat tersiksa. Dia lalu mengangkat tubuh Azkia dengan lengannya dan membawa Azkia pergi dari tempat itu


" Hei, lu mau bawa ke mana mangsa kami?" Salah satu dari pria itu langsung menghadang langkah Raffasya yang akan membawa pergi Azkia.


" Gue minta kalian jangan menghalangi gue untuk membawa dia!" Raffasya yang merasa langkahnya dihalangi langsung menyuruh kedua pria itu untuk menyingkir.


" Hei, lu berani menantang kita?!" Kedua orang itu segera melancarkan serangan ke arah Raffasya yang langsung ditangkis dengan tendangan kaki Raffasya.


Raffasya kembali menaruh tubuh Azkia ke atas tempat tidur karena dia harus meladeni kedua pria itu bertarung dan tak lebih dari dua menit dia berhasil melumpuhkan kedua pria itu.


Melihat kedua pria suruhannya ambruk, Gladys, Shendy dan Melanie langsung melarikan diri dari rumah itu karena mereka takut jika mereka juga akan menjadi sasaran kemarahan Raffasya berikutnya.


Setelah kedua pria itu tak berkutik, Raffasya kembali mengangkat tubuh Azkia dan membawa Azkia keluar dari rumah itu.


Raffasya membawa Azkia ke kursi tengah mobil Azkia yang ternyata tidak terkunci pintunya, bahkan kunci mobilnya pun masih menggantung di tempatnya.


" Aaaakkhh ... panas ..." Azkia terus mengeluhkan hawa panas di dalam tubuhnya hingga dia terus menggeliat.


Raffasya yang melihat Azkia terus saja gelisah segera menghubungi Harlan.


" Sudah sampe mana lu, Lan?" tanya Raffasya dengan nada serius.


" Sekitar lima menit lagi gue sampai. Lu tunggu saja di pinggir jalan biar gue nggak nyasar." Harlan menyahuti dari seberang.


" Oke, gue tunggu! Gue sudah di tepi jalan ini."


" Oke, Bro!"


Raffasya kembali menoleh ke arah Azkia yang terus saja mende sah dengan mengusap bagian tubuhnya dengan tangannya. Bahkan Azkia menyingkap sebagian kemejanya ke atas hingga kini memperlihatkan perut putih mulus milik Azkia, membuat Raffasya langsung mengerjapkan matanya.


" Si al!" Raffasya merutuki matanya yang selalu saja menemukan bagian-bagian tubuh Azkia yang tanpa sengaja tertangkap oleh matanya. Bukan saja tertangkap, bahkan seperti terekam di otaknya hingga kadang bayangan tubuh indah Azkia melintas di pelupuk matanya.


Sekitar lima menit kemudian Harlan sampai di tempat yang dimaksud oleh Raffasya.


" Ada apaan sih, Raf? Lu suruh gue kemari pakai Ojol?" tanya Harlan heran saat turun dari ojek online.


" Ya karena gue mau minta tolong lu buat bawa mobil gue ini. Kalau lu datang bawa mobil sama juga bohong!" sahut Raffasya.


" Lah, lu sendiri pakai mobil apa kalau mobil lu ini gue bawa?" tanya Harlan bingung.


" Gue pakai mobil itu!" Raffasya menunjuk mobil milik Azkia.


" Memang itu mobil siapa, Raf?" tanya Harlan penasaran.


" Hmmm, teman gue." Raffasya menjawab sekenanya.


" Memang teman lu nya ke mana, sampai lu yang harus bawa?" Harlan sudah seperti wartawan yang bertanya secara mendetail.


" Hmmm, gue nolongin teman gue, sih. Gue baru menyelamatkan dia dari kejahatan." Raffasya memberikan alasan yang sesungguhnya.


" Waduh ... aksi kejahatan apa, Bro?" Tentu saja rasa penasaran Harlan semakin menjadi.


" Dia habis dijebak orang, pakai obat perang sang gitu." Raffasya menjelaskan


" Hahh? Serius lu, Bro? Sekarang mana orangnya?" Harlan semakin antusias. " Eh tapi teman lu cowok atau cewek, nih? Kalau cewek sih enak tapi kalau cowok bahaya, tuh! Takutnya malah perang pedang." Harlan tergelak setelah mengatakan kalimat absurd.


" Si alan, lu!" umpat Raffasya. " Dia ada di dalam mobil itu dan dia cewek!"


" Wah, asyik, dong! Gue boleh dong ikut mencicipi." Harlan menyeringai seraya menggaruk tengkuknya.


" Jangan macam-macam, lu!" gertak Raffasya.


" Ah curang lu, Raf. Mau senang-senang sendiri saja!" gerutu Harlan.


" Heh, gue itu bukan mau bersenang-senang tapi mau menolong dia!" sanggah Raffasya.


" Iya, iya, menolong ... menolong menyalurkan has rat bira hinya, gitu kan?" Harlan meledek Raffasya. " Ayolah, Raf. Jangan pelit-pelit amat! Bagi dikitlah!" Harlan terus membujuk Raffasya.


" Lu jangan macam-macam, ya! Dia itu keponakan istrinya Om Radit, Om gue! Nggak mungkin gue ngapa-ngapain dia!" Raffasya tetap menepis anggapan Harlan yang menganggapnya akan memanfaatkan Azkia.


" Hahh? Dia keponakan istrinya Om lu? Wah seru nih, kalau sesama keponakan sampai bobo bareng, hahaha ..." Harlan kembali tergelak.


" Sudah buruan lu bawa mobil gue itu!" Raffasya menyuruh agar Harlan segera pergi Dan dia pun kembali ke mobil Azkia. Namun matanya kembali disuguhkan pemandangan putih mulus setengah badan Azkia yang terbuka hingga memperlihatkan dua asset kembarnya yang masih terbungkus namun sebagian asset itu tersembul ke luar.


" Jadi lu akan bawa ke mana cewek itu, Raf?" Raffasya buru-buru menutup pintu mobil Azkia saat mendengar suara Harlan di belakangnya


Raffasya segera memutar tubuhnya dan dia menarik lengan Harlan agar menjauh dari mobil Azkia.


" Sudah lu jangan banyak tanya! Lu cepat pergi dari sini!" usir Raffasya


" Eh, terus mau lu bawa ke mana cewek itu? Ke hotel? Bisa-bisa lu digrebek, Raf! Nggak mungkin juga lu melakukannya di dalam mobil itu, kan?" Harlan kembali menyeringai.


" Kalau lu mau, gue punya teman yang punya penginapan. Amanlah di sana. Biasa dijadikan tempat orang transaksi begituan. Kalau lu mau gue bisa hubungi teman gue itu."


" Nggak usah!" Raffasya lalu berjalan meninggalkan Harlan dan masuk ke dalam mobil Azkia.


Raffasya menelan salivanya saat melihat Azkia yang terus bergerak dengan suara yang keluar dari bibirnya seakan menggoda has rat dia sebagai seorang lelaki normal apalagi dengan tubuh bagian atas Azkia yang terbuka.


" Aaakkhh ... panaasss ...!" Azkia kembali mengeluh membuat Raffasya lalu mengambil ponsel dan menghubungi Harlan.


" Gimana, Bro?" Suara Harlan lebih dahulu terdengar di telinga Raffasya.


" Kasih alamat penginapan teman lu itu sekarang!" Setelah mengatakan itu Raffasya kembali mematikan panggilan teleponnya. Raffasya merasa jika dia terus-terusan melihat Azkia seperti ini, bukan hanya Azkia saja yang tersiksa menahan serbuan ga irah, tapi dirinya pun merasakan hal yang sama.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading♥️