MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Hadiah Dari Calon Mertua



Beberapa saat sebelumnya ...


" Abhi, Mama mau ikut ke ruang kerja Papamu ..." Natasha ingin melepaskan diri dari tangan Abhi yang merangkul pada pundaknya karena dia sangat penasaran dengan pengakuan Raffasya tentang perbuatan pria itu yang telah membuat putrinya kini hamil.


" Ma, Papa 'kan tadi sudah bilang nanti Papa yang urus, Mama tunggu saja di kamar jangan ke mana-mana." Abhi melarang Mamanya yang akan mengikuti langkah Papanya.


" Tapi anak itu yang sudah menghamili kakak kamu, Abhi." Natasha merasa kesal dengan Raffasya karena menganggap jika pria itu yang sudah menghancurkan masa depan putrinya.


" Ma, biar Papa yang menangani Kak Raffa. Lagipula Kak Raffa sudah mempunyai niat baik datang kemari dan meminta maaf kepada Mama dan juga Papa." Abhi yang sempat menguping apa yang dibicarakan Raffasya dengan kedua orang tuanya langsung memberikan pendapatnya.


Yoga memang memberi penjelasan kepada putra dan putrinya tentang masalah yang terjadi pada Kakak mereka, terutama kepada kedua adik perempuan Azkia agar mereka selalu bersikap waspada dalam setiap situasi dan siapapun yang dihadapi terutama pada orang yang belum dikenal sebelumnya.


" Kamu membela dia, Abhi?" Natasha menuding Abhi bersikap membela Raffasya.


" Ma, Abhi nggak membela Kak Raffa, Abhi cuma ingin Mama tenang, Mama dari kemarin menangis terus karena masalah Kak Kia. Sekarang ini sudah ada titik terang, kan? Mama percayakan saja pada Papa, Papa pasti bisa mengatasi hal ini." Abhi mencoba memberi pengertian kepada Mamanya.


" Tapi bagaimana kakak kamu nantinya kalau menikah dengan Raffa, Abhi? Dia itu selalu mengganggu Kia, bagaimana dia bisa jadi Papa dari cucu Mama. Ya Allah, Mama nggak mau punya cucu dari pria berandalan itu." Natasha sampai mengedikkan bahunya menolak memiliki menantu seperti Raffasya.


" Ma, jangan bicara begitu. Jangan terlalu keras kepada Kak Raffa. Kak Raffa bisa saja tidak mengaku, apalagi Kak Kia juga nggak mau mengatakan siapa pelakunya, tapi nyatanya Kak Raffa datang ke sini secara baik-baik. Setidaknya Kak Raffa bukan pengecut yang lari dari tanggung jawab, terlepas dari sikap buruk Kak Raffa selama ini kepada Kak Kia." Abhi yang berusia dua setengah tahun lebih muda dari Azkia bisa berpikir lebih dewasa.


Sesampainya di kamar, Natasha langsung menghubungi Gavin, karena dia butuh sekutu untuk menyerang Raffasya.


" Assalamualaikum, ada apa, Teh?" Ternyata Azzahra yang mengangkat panggilan teleponnya.


" Waalaikumsalam, Ra. Kak Gavin mana?" tanya Natasha.


" Ada, sebentar, Teh." Tak berapa lama menunggu, " Ada apa, Alexa?" Kini suara Gavin yang terdengar di telinga Natasha.


" Kak, pelaku yang menghamili Kia sudah ketahuan."


" Siapa pelakunya, Alexa? Biar Kakak hajar dia karena sudah berani membuat hamil keponakanku," geram Gavin.


" Pria itu Raffasya, Kak. Keponakan suaminya Amara."


" Raffasya? Raffasya Anak berandalan yang selalu mengganggu Kia dan Baby dulu, Alexa?" Gavin terdengar kaget saat mengetahui Raffasya pria yang menghamili Azkia.


" Iya, Kak."


" Breng sek! Dari mana kau tahu kalau dia yang melakukannya, Alexa?" tanya Gavin dengan nada penuh emosi.


" Dia sendiri yang datang memberi pengakuan, Kak. Sekarang ini dia sedang bersama Mas Yoga di ruang kerja Mas Yoga."


" Si al! Aku ke sana sekarang!" Seketika itu juga sambungan telepon Natasha dengan Gavin terputus.


***


" Apa kau cari mati berani datang kemari, breng sek!" Sebuah tinju hampir mengenai wajah Raffasya kembali jika saja Yoga tidak menghalangi Gavin.


" Vin, sudah! Tidak perlu kita terus menghakimi dia!" Yoga melarang Gavin yang ingin menghajar Raffasya.


" Tapi, Ga. Dia yang sudah menghamili anakmu!" Gavin nampak kesal karena Yoga menghalanginya menghajar Raffasya kembali.


" Aku tahu, Vin. Aku juga kecewa. Tapi kita bisa sepenuhnya menyalahkan dia." Yoga mulai bisa bersikap tenang menghadapi masalah Azkia sekarang ini.


" Lalu apa yang anak ini inginkan sekarang?" tanya Gavin dengan menatap tajam ke arah Raffasya.


" Dia ingin beranggung jawab atas perbuatannya terhadap Kia," sahut Yoga.


Kini arah pandangan Gavin beralih kepada suami dari adik sepupunya.


" Apa kau akan menikahkan putrimu dengan lelaki berandalan ini, Ga?" Mengingat bagaimana Raffasya selama ini, Gavin merasa keberatan jika keponakannya harus bersuamikan pria yang selalu menjadi sumber masalah itu.


" Bagaimanapun dia adalah ayah dari bayi yang dikandung Kia, Vin." Yoga melirik ke arah Raffasya yang sedang menundukkan kepalanya.


" Apa Kia mau menikah dengan dia?"


" Mau tidak mau, Kia tetap harus menikah dengan dia."


" Apa kau tahu siapa yang menjebak Kia saat itu?" tanya Gavin pada Raffasya dengan nada tunggi dan berkacak pinggang.


" Saya nggak tahu, Om. Saya hanya ingat mereka itu tiga orang wanita dan dua orang pria," sahut Raffasya.


" Apa kau sendiri tidak terlibat dalam masalah ini? Bisa saja kau ini bagian dari mereka," tuduh Gavin menganggap Raffasya adalah bagian dari orang-orang yang menjebak Azkia.


" Saya bersumpah saya nggak terlibat dalam rencana mereka, Om! Saya ke Bandung karena memang saya ada keperluan. Lagipula apa untungnya buat saya terlibat dalam tindakan kriminal seperti itu, Om? Hanya akan menimbulkan masalah saja buat saya," tegas Raffasya.


" Bukannya kau memang biangnya pembuat masalah?" sindir Gavin tersenyum sinis.


" Sudahlah, Vin. Aku yakin Raffa memang tidak terlibat dengan mereka." Yoga berusaha menengahi. " Sekarang kau pulanglah, Raffa! Mulai besok tolong urus dokumen untuk pernikahan kalian, karena Minggu ini juga kalian harus secepatnya menikah!" tegas Yoga sudah mantap dengan keputusannya.


" Baik, Om. Raffa permisi kalau begitu, Om. Sekali lagi Raffa minta maaf karena sudah mengecewakan Om dan Tante." Setelah berpamitan kepada Yoga dan Gavin, Raffasya pun kemudian pergi meninggalkan rumah Azkia.


***


Setelah mampir sebentar menengok kedua adik sepupunya, dan meyakinkan kedua adik-adiknya itu sudah terlelap, Raffasya kemudian kembali ke rumahnya.


" Nenek belum tidur?" tanya Raffasya saat membuka pintu kamar Neneknya. Terlihat Nenek Mutia masih duduk bersandar di headbord spring bed dengan mata terpejam dan tangan masih memegang tasbih.


" Raffa, kamu baru pulang?" tanya Nenek Mutia.


" Iya, Nek. Tadi mampir ke rumah Om Radit dulu, nunggu anak-anak tidur," sahut Raffasya seraya menyalami dan mencium kening Neneknya.


" Raffa, kamu habis berkelahi? Wajah kamu memar seperti ini?" Nenek Mutia mengusap wajah Raffasya yang nampak sedikit lebam karena pukulan yang diterima dari Yoga dan Gavin.


" Itu hadiah dari calon mertua Raffa, Nek." Raffasya justru berseloroh seraya terkekeh menanggapi wajah memarnya.


" Maksud Raffa apa? Nenek tidak mengerti." Nenek Mutia menggelengkan kepala tidak memahami maksud dari ucapan cucunya.


" Wanita itu hamil, Nek. Sebentar lagi Raffa akan menjadi seorang ayah." Raffasya menggenggam tangan Nenek Mutia.


" Wanita itu?"


" Wanita yang Raffa ceritakan kemarin, Nek."


" Asataghfirullahal adzim ... dia benar-benar hamil, Raffa?" Walaupun kaget, namun karena Nenek Mutia sudah diberitahu lebih dahulu tentang kejadian di Bandung, membuat Nenek Mutia tidak terlalu syok menerima kenyataan jika cucunya akan menjadi seorang ayah.


" Apa orang tua wanita itu mau menerima kamu, Raffa?" tanya Nenek Mutia kembali mengusap wajah cucu kesayangannya itu.


" Iya, Nek. Walaupun harus diberi bogem mentah lebih dulu." Raffasya kembali terkekeh menganggap apa yang diterimanya adalah suatu yang wajar.


" Ya sudah tidak apa-apa, yang penting kamu benar-benar menyesali apa yang kamu lakukan dan bertanggung jawab. Nenek ingin sekali bertemu dengan calon istrimu itu. Bagaimana orangnya? Apa Raffa punya fotonya?" Nenek Mutia penasaran dengan sosok wanita yang telah dihamili oleh Raffasya.


" Nenek pernah bertemu dengannya, kok."


" Nenek pernah bertemu? Kapan? Di mana?" tanya Nenek Mutia bingung.


" Di rumah ini?" Nenek Mutia terus memutar ingatannya. " Apa wanita yang bertengkar sama kamu itu, Raffa?" Nenek Mutia membulatkan matanya.


" Iya, Nek. Dia keponakan istrinya Om Radit."


" Astaghfirullahal adzim ... Apa Om kamu itu sudah tahu, Raffa?" Nenek Mutia tidak menyangka jika wanita yang hamil atas perbuatan Raffasya adalah wanita yang dia pernah dengar selalu bertengkar dengan cucunya itu.


" Mungkin sekarang ini sudah dengar, Nek." Raffasya menduga jika Om nya pasti sudah mendengar semuanya dari Yoga, atau mungkin Natasha yang telah memberitahu Amara.


" Nenek tidak menyangka jalan hidup kamu akan seperti ini, Raffa." Nenek Mutia merasa sedih karena merasa gagal membimbing cucunya selama ini.


" Maafkan Raffa karena sudah mengecewakan Nenek." Raffasya kini terduduk bersimpuh di hadapan Neneknya.


" Raffa, bertobatlah, Nak. Bertobatlah pada Allah SWT, atas dosa yang sudah kamu perbuatan. Dekatkan dirimu kepada-Nya. Jadilah pribadi yang lebih baik yang taat beribadah kepada Allah SWT. Sebentar lagi kamu akan memimpin sebuah rumah tangga, kamu akan menjadi imam dalam keluargamu. Menjadi panutan untuk istri dan anak-anakmu nantinya. Berubahlah menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang, Nak." Nenek Mutia memang selalu meminta Raffasya untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, namun Raffasya selalu mengabaikannya hingga pria itu jarang sekali bersentuhan dengan Sang Khaliq nya.


***


Raffasya rasanya sedang berada di alam mimpi saat tiba-tiba tubuhnya terangkat dan sebuah pukulan menghantam wajahnya hingga dia mengerjapkan matanya karena menahan rasa sakit di wajahnya.


" Bikin malu keluarga saja kau, Raffa!"


Dan kini suara Raditya yang menggelegar terdengar jelas di telinganya.


" Pa, sudah ... sudah!" Amara mencoba menenangkan suaminya yang nampak emosi.


" Om ..." Raffasya yang baru merasakan nyawanya terkumpul melihat kehadiran Raditya dan Amara di dalam kamarnya.


" Kamu tahu, Raffa? Apa yang kamu lakukan itu sudah mencoreng muka Om!" geram Raditya dengan nada menyentak.


" Pa, sudah ... yang penting sekarang ini Raffa sudah mau bertanggung jawab atas perbuatannya." Amara masih menahan tubuh suaminya agar tidak terus menghakimi keponakannya.


" Maaf, Om, Tante ..." sesal Raffasya memegangi wajahnya.


" Kenapa kau tidak mengatakan hal ini kepada Om, Raffa? Kenapa kamu menyembunyikan hal ini dari kami?" Raditya masih diselimuti emosi.


" Maaf, Om. Tapi Almayra yang meminta Raffa untuk tidak mengatakan hal ini kepada siapapun termasuk kepada Om," aku Raffasya jujur.


" Dan kamu menurutinya begitu saja? Bukankah selama ini kau selalu bertentangan dengan Kia? Kenapa sekarang kau malah mengikuti kemauannya? Apa kamu memang ingin lari dari tanggung jawab kamu yang sudah menghamili Kia?" Setiap kalimat yang keluar dari mulut Raditya bernada ketus.


" Nggak, Om. Raffa nggak berniat lepas tangan. Raffa berusaha bicara baik-baik dengan Almayra tapi dia selalu menolak." Raffasya membela dirinya.


" Saat kalian bertemu di rumah kami, apa saat itu kamu sudah tahu jika Kia sedang hamil, Raffa?" Amara teringat saat Raffasya dan Azkia bertemu di rumahnya saat itu Raffasya memang terlihat bersikap beda kepada Azkia.


" Raffa nggak tahu, Tan. Tapi saat itu Raffa mengajak Almayra untuk periksa ke dokter tapi Almayra menolak dengan mengatakan kalau dia tidak hamil, bahkan dia kemudian mengirimkan alat test kehamilan kepada Raffa Minggu lalu dan hasilnya negatif." Raffasya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi agar keluarga Azkia dan Om nya tidak salah paham kepadanya.


***


Tok tok tok


" Masuk ..." Suara Lusiana menjawab ketukan pintu di ruang kerjanya.


" Radit? Tumben kemari? Ada masalah dengan Raffa?" tanya Lusiana saat melihat adiknya yang muncul dari balik pintu. Karena selama ini adiknya itu selalu datang menemuinya saat ada masalah dengan Raffasya.


" Iya, Mbak benar. Memang ada masalah dengan anak Mbak itu!" ketus Raditya.


" Ck, bikin masalah apa lagi sih anak itu?" Lusiana memutar bola mata dan melipat tangan di dadanya.


" Masalah yang dibuat oleh anak Mbak sekarang ini lebih serius, karena dia sudah menghamili anak gadis orang!"


" Astaga!!" Mata Lusiana langsung terbelalak dengan mulut menganga saat mengetahui masalah yang telah dibuat oleh putranya saat ini.


" Dasar anak tidak tahu diri! Bukannya bikin orang tua bangga malah bikin malu nama baik orang tua saja!" Lusiana terlihat kesal dengan berita yang disampaikan Raditya kepadanya. " Radit, apa kau bisa membujuk wanita itu agar tutup mulut dan tidak mengumbar aib keluarga kita?"


" Aku nggak bisa membujuk keluarga wanita itu untuk tutup mulut karena orang tua wanita itu sudah meminta Raffa menikahi putrinya secepatnya," sahut Raditya.


" Raffa harus menikah dengan wanita itu? Ya ampun Radit, apa kamu tidak bisa bertindak? Mbak nggak ingin sembarang orang bisa masuk menjadi anggota keluarga kita! Bagaimana latar belakang wanita itu harus jelas. Lagipula mau-maunya wanita itu melayani Raffa padahal belum menikah, pasti dia itu wanita yang nggak benar, kan?" Lusiana menduga jika wanita yang dihamili oleh Raffasya adalah wanita nakal.


" Dit, Mbak nggak setuju Raffa menikahi wanita itu! Kamu beri saja uang tutup mulut kepada mereka agar Raffa tidak harus bertanggung jawab!"


" Tapi Raffa bersedia menikahi dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Dan aku pun pasti akan mengejarnya kalau Raffa menolak bertanggung jawab, Mbak." Raditya bertentangan dengan sikap Kakaknya.


" Kamu kok membela mereka sih, Dit? Kamu nggak khawatir nama naik keluarga baik kita tercemar?" protes Lusiana yang menganggap Raditya tidak berpihak kepadanya.


" Maaf, Mbak. Tapi Raffa memang harus bertanggung jawab, dan sikap tanggung jawab Raffa itu justru akan menyelamatkan nama baik kedua keluarga. Keluarga kita dan juga keluarga wanita itu." Raditya menjelaskan alasannya kenapa mendukung Raffasya.


" Mbak tetap nggak setuju! Mbak nggak ingin punya menantu dari keluarga yang nggak jelas!" Lusiana bersikukuh menolak rencana Raffasya yang akan menikahi wanita yang telah dibuatnya hamil.


" Wanita itu dari keluarga yang jelas dan terpandang kok, Mbak." tepis Raditya mematahkan anggapan Lusiana yang mengatakan jika wanita yang dihamili Raffasya adalah wanita yang tidak jelas keluarganya.


" Kalau dia dari keluarga terpandang, kenapa dia mau tidur dengan Raffa sampai hamil?" Lusiana masih tidak mempercayai perkataan Raditya.


" Itu karena suatu kesalahan, mereka berdua terjebak hingga akhirnya melakukan hubungan yang terlarang itu."


Lusiana mengeryitkan keningnya menatap Raditya.


" Siapa keluarga wanita itu? Kalau dia dari keluarga terpandang, Mbak pasti akan kenal ..." Lusiana mengangkat dagunya ke atas seakan menantang, siapa keluarga yang anaknya hamil karena perbuatan Raffasya itu.


" Keluarga wanita itu adalah kakak iparku, kakak dari Amara. Keluarga Yoga dan Natasha."


Lusiana kembali terbelalak mendengar nama keluarga dari wanita yang hamil anak dari Raffasya.


" Maksud kamu?"


" Azkia, Azkia yang saat ini sedang hamil anak Raffa."


Kini mulut Lusiana terbuka lebar. " Azkia? Azkia yang akan jadi menantuku?" Wajah penuh amarah Lusiana sebelumnya kini memudar berganti dengan senyuman di bibirnya.


" Azkia hamil cucuku, Dit?" Lusiana terlihat sangat excited.


" Kenapa, Mbak? Kok Mbak kelihatan senang seperti itu? Bukannya tadi Mbak menolak wanita yang dihamili oleh Raffa?" sindir Raditya menanggapi perubahan sikap Lusiana.


" Kenapa kamu nggak bilang dari tadi jika wanita yang sedang mengandung cucuku itu adalah Azkia, Dit? Ah, aku harus menyiapkan untuk menggadakan wedding party mereka secepatnya ..." Lusiana langsung berjalan kembali ke mejanya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi orang-orang yang akan dia suruh mengatur acara resepsi pernikahan Raffasya dan Azkia tanpa menanyakan lebih lanjut kepada Raditya apa yang menyebabkan Azkia sampai hamil anak dari putranya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️