
Melewati jam tujuh malam, acara resepsi pernikahan Azkia dan Raffasya semakin ramai dengan para tamu yang memilih datang di malam hari agar lebih menikmati nuansa romantis wedding party milik Azkia dan Raffasya.
" Selamat datang untuk tamu undangan yang baru datang, silakan menikmati menu makanan yang sudah kami sajikan." Fenita kembali menyapa para tamu yang baru tiba
" Dan untuk menemani para undangan menyantap hidangan, akan ada special performance dari Mas Raffa sebagai pengantin pria. Mungkin para tamu nggak banyak yang tahu jika Mas Raffa, pemilik cafe ini mempunyai suara yang sangat merdu." Fero menyahuti perkataan istrinya, Fenita.
" Benar sekali, Mas Fero. Biasanya kalau ada acara wedding atau engagement party di sini, Mas Raffa ini selalu menyumbangkan suaranya untuk pasangan yang berbahagia seperti kita dulu ya, Mas? Dan saat ini di acara hajatannya sendiri, sepertinya tidak afdol kalau Mas Raffa tidak tampil untuk bernyanyi. Mas Raffa selalu bernyanyi lagu-lagu romantis untuk mereka yang baru saja menikah atau bertunangan. Sudah pasti di wedding party nya sendiri Mas Raffa juga sudah menyiapkan lagu untuk sang istri tercinta, Mbak Azkia. Bagaimana, Mas Raffa?" Fenita menanyakan kepada Raffasya apakah siap untuk tampil menyanyikan sebuah lagu di pestanya sendiri.
" Kamu ingin aku menyanyi?" Raffasya bertanya kepada Azkia saat diminta Fenita dan Fero untuk tampil bernyanyi, yang dibalas istrinya dengan mengedikkan bahunya.
Raffasya langsung mengacungkan ibu jarinya ke arah Fenita dan Fero memberi kode kalau dia bisa tampil untuk menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur para tamu undangannya.
" Ikut aku, yuk!" Raffasya menggenggam tangan Azkia kemudian membawa Azkia untuk tampil menyanyi.
" Ngapain Kak Raffa ajak-ajak aku, sih?" bisik Azkia memprotes suaminya yang tiba-tiba saja menariknya dan ikut bersama Raffasya duduk di depan sebuah piano.
" Biar terlihat sama orang kita ini pasangan romantis." Raffasya menyahuti enteng.
" Selamat malam para tamu undangan pesta perayaan pernikahan kami. Kamu ucapkan beribu-ribu terima kasih atas kehadiran Anda semua dalam meluangkan waktu untuk memenuhi undangan dari kami hari ini. Terima kasih juga atas ucapan dan doanya, semoga bisa terkabulkan, aamiin. Sebenarnya saya juga bingung memilih lagu apa yang cocok untuk menggambarkan hubungan kami sampai akhirnya bisa masuk dalam ikatan pernikahan ini. Mungkin ... kami ini bukan sosok pendamping yang diharapkan oleh masing-masing."
Azkia menoleh ke Raffasya yang berbagi kursi di sampingnya. Dia khawatir Raffasya akan mengatakan hal-hal yang aneh di hadapan publik.
" Hubungan kami terlalu rumit untuk dijelaskan namun sangat berwarna. Sejak kecil kami selalu saja berdebat bahkan mungkin tidak pernah akur. Namun Tuhan lah yang punya kuasa. Dia lah yang mengatur dengan siapa kita akan berjodoh, seperti saya dan Almayra. Apapun yang terjadi dengan masa lalu, yang pasti kami sudah berikhar untuk membangun mahligai rumah tangga ini dalam pernikahan, dan akan kami jalani sebaik mungkin. Insya Allah bisa langgeng sampai maut memisahkan."
" Aamiin ..." Beberapa tamu undangan ada yang menyahuti perkataan Raffasya.
" Baiklah, saya akan mencoba menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur para tamu undangan semua. Selamat menikmati hidangannya dan semoga menikmati lagu yang akan saya nyanyikan ini, terima kasih." Raffasya lebih dahulu menyapa tamunya sebelum memainkan intro lagu yang akan dinyanyikan.
...When everything is cloudy...
...And the sun won't shine for me...
...And it seems like nothing's goin' right...
...There's a place I want to be...
...Just laying there beside you...
...In the shelter of your room...
...I leave the world outside your door...
...Lose myself in you...
Tepuk tangan riuh dari para tamu undangan saat mendengar suara Raffasya menyanyikan lagu lawas milik Bad English, Time Alone With You
Azkia sendiri memperhatikan Raffasya yang sedang menyanyi sambil memainkan alat musik piano. Harus dia akui suara Raffasya memang terdengar merdu, apalagi lagu yang dinyanyikan suaminya itu liriknya terdengar sangat romantis.
...When you're in my arms...
...I find all that I need...
...I could never live without...
...The heaven that you showed me...
...🎶🎶...
...I've been waiting all my life...
...Just to look into your eyes...
...I live for, the time alone with you...
...And when I climb the stairs to find you...
...And we reach for the light...
...I thank God I've got...
...This time alone with you...
Sementara di antara ratusan tamu yang hadir di sana, seorang wanita menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum mendengarkan Raffasya bernyanyi dengan memainkan piano.
" Masya Allah, suara Kak Raffa ternyata bagus ya, Kak?" Rayya yang terkagum dengan suara Raffasya tanpa sadar memuji suami sepupunya di hadapan Ramadhan. " Aawww ..." Rayya langsung memegang pipinya karena Ramadhan baru saja mencubit pipinya.
Rayya menoleh ke arah Ramadhan yang baru saja melakukan kekerasan walau tidak terasa sakit dan dilakukan dengan lemah oleh Ramadhan.
" Berani sekali kamu memuji pria lain di hadapanku, Rayya!" Ramadhan melotot ke arah Rayya.
" Ya ampun, Kak Rama. Aku ini bicara sejujurnya, masa suara bagus dibilang jelek, sih??"
" Tapi nggak perlu diucapkan segala di depanku!" protes Ramadhan. " Aku cemburu ..." Ramadhan merajuk membuat Rayya terkekeh seraya mengusap rahang keras tunangannya itu.
" Untuk apa Kak Rama harus cemburu? Yang ada di hati aku itu hanya Kak Rama, bukan pria lain, termasuk Kak Raffa."
Kata-kata Rayya membuat Ramadhan tersenyum lebar.
" Rasanya aku ingin memeluk dan menciumu, Sayang."
" Kita belum sah, jadi ditahan dua bulan lagi ya, Kak." Rayya kembali terkekeh melihat Ramadhan yang sepertinya sudah tidak sabar ingin bermesraan dengannya.
...I've been waiting all my life...
...Just to look into your eyes...
...I live for ... the time alone with you...
...Cause everytime I see your face...
...All my troubles fade away...
...I live for ... the time alone with you...
...And when I climb the stairs to find you...
...And we reach for the light...
...I thank God I've got this time alone with you...
...Oh, this time alone with you ......
Suara tepuk tangan kembali bergemuruh diikuti suara siulan saat lagu yang dibawakan oleh Raffasya berakhir. Sedangkan Raffasya sendiri langsung merangkul Azkia dan mengecup pipi istrinya membuat Azkia terkesiap hingga membuat pipinya merona karena saat ini semua mata sedang tertuju ke arah mereka berdua. Dan sudah pasti tindakan Raffasya membuat tepuk tangan semakin riuh.
" We want more ....!"
" Lagi, lagi, lagi ...!"
Bahkan kerabat Raffasya dan Azkia meminta Raffasya kembali bernyanyi.
" Wah, sepertinya banyak yang minta nambah, nih. Bagaimana kalau mereka berduet? Setuju nggak?" Fero langsung mengambil kesempatan untuk membuat Azkia ikut bernyanyi.
" Setuju ...!" ucapan Fero langsung disahuti oleh sebagian tamu yang hadir.
" Wah, pasti romantis sekali kalau mereka duet, nih. Minta tolong mic nya dikasih ke Mbak Kia biar mereka bisa bernyanyi bersama." Fenita menimpali ucapan Fero dan meminta penyanyi cafe menyerahkan mic kepada Azkia.
" Aku nggak mau, Kak." bisik Azkia menolak diminta berduet dengan Raffasya
" Nggak apa-apa, kan ditemani aku nyanyinya."
" Aku nggak bisa bernyanyi" ujar Azkia berbohong, padahal Azkia sendiri sebenarnya senang bernyanyi.
Raffasya menoleh ke arah istrinya sementara jari-jarinya sudah kembali menari di atas tuts piano mencari-cari lagu apa yang akan dia nyanyikan berdua bersama Azkia.
" Suara aku jelek ..." Azkia kemudian beralasan. Dia berharap suaminya itu tidak memaksanya untuk bernyanyi.
" Siapa bilang suara kamu jelek? Aku sering dengar suara de sahan kamu itu merdu sekali, makanya aku suka dengar suara de sahan kamu terus, hehe ..." Raffasya menyeringai membuat Azkia melotot karena suaminya itu justru masalah soal de sahan di tengah-tengah ratusan pasangan mata yang menatap mereka.
Jari Raffasya kini mulai memainkan intro lagu Right Here Waiting milik Richard Marx.
" Kak, jangan lagu itu!" protes Azkia saat intro lagu yang pernah dia dengar saat dia dan Gibran pertama kali datang di cafe milik Raffasya ini, menghadiri pesta pernikahan Fero dan Fenita beberapa tahun silam.
Raffasya tersenyum seraya menatap Azkia, " Kamu nyanyi dong makanya ..." Raffasya kemudian memulai mengganti intro lagu lain dan bersiap untuk menyanyi.
...You're just too good to be true...
...Can't take my eyes off of you...
...You'd be like heaven to touch...
...I wanna hold you so much...
...At long last, love has arrived...
...And I thank God I'm alive...
...You're just too good to be true...
...Can't take my eyes off of you...
Raffastya kembali menyanyikan sebuah lagu Can't Take My Eyes Off You
" Lanjut sama kamu ..." Raffasya menyerahkan bait selanjutnya untuk dinyanyikan oleh Azkia.
...Pardon the way that I stare...
Satu bait yang dinyanyikan Azkia langsung membuat tamu-tamu terutama keluarga dan kerabat Azkia maupun Raffasya langsung besorak dengan bertepuk tangan riuh.
...There's nothin' else to compare...
...The sight of you leaves me weak...
...There are no words left to speak...
...But if you feel like I feel...
...Please let me know that it's real...
...You're just too good to be true...
...Can't take my eyes off of you...
Dengan sangat terpaksa Azkia melanjutkan lagu yang tadi dinyanyikan oleh Raffasya. Dan saat masuk ke bagian reffrain Raffasya pun ikut bergabung dengan Azkia bernyanyi bersama.
...I love you, baby, and if it's quite alright...
...I need you baby, to warm the lonely night...
...I love you, baby, trust in me when I say...
...Oh, pretty baby, don't bring me down, I pray...
...Oh, pretty baby, now that I've found you, stay...
...And let me love you, baby, let me love you...
Tepuk tangan tamu undangan kembali terdengar saat Raffasya dan Azkia bernyanyi bersama. Hingga mereka berdua nampak seperti pasangan suami istri yang benar-benar bahagia dan saling mencintai.
Setelah mereka selesai menyelesaikan lagu itu Raffasya dan Azkia berdiri bahkan tangan Raffasya kembali memeluk tubuh Azkia dan memberikan satu kecupan lagi di pipi Azkia.
" Yank, aku nggak menyangka hubungan mereka sudah banyak kemajuan seperti ini," bisik Yoga di telinga Natasha melihat momen kemesraan Azkia dan menantunya itu.
" Iya, Mas. Semoga mereka bisa saling menerima masing-masing. Sepertinya selama mereka menikah Raffa memperlakukan Kia dengan baik deh, Mas. Aku nggak pernah dengar Kia mengeluh Raffa bersikap kasar. Dia hanya mengeluh Raffa tidak memperbolehkan Azkia terlalu sibuk karena takut bayinya kenapa-napa," tutur Natasha menjelaskan apa yang dia dengar dari putrinya.
" Syukurlah kalau begitu. Aku senang melihatnya. Sepertinya Kia dan Raffa benar-benar akan merasakan seperti apa yang kita jalani sejauh ini." Yoga merangkulkan tangannya ke pundak Natasha. Yoga seperti melihat perjuangan Raffasya dan Azkia dalam menjalani rumah tangganya akan seperti kehidupan rumah tangganya bersama Natasha.
" Iya aku juga berharap seperti itu, Mas," sahut Natasha seraya menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
***
Jam saat ini sudah mendekati pukul sepuluh malam. Acara resepsi pernikahan sudah berakhir sejam yang lalu. Raffasya dan Azkia, sudah sampai di rumah Raffasya dengan mobil yang dikendarai Pak Mamat.
" May, kita sudah sampai, ayo bangun." Raffasya membangunkan Azkia yang justru tertidur saat dia membuka pintu.
" Aku ngantuk, Kak." keluh Azkia justru membaringkan tubuhnya di atas kursi mobil saat Raffasya keluar dari mobil.
" May, kita sudah di rumah, kamu pindah tidurnya di kamar saja." Raffasya kembali membangunkan Azkia.
" Aku tidur di sini saja, sudah ngantuk banget," tolak Azkia.
" May, Pak Mamat mau balik ke rumah orang tua kamu."
" Suruh pulang pakai Ojol saja Pak Mamat nya. Aku mau tidur di sini, Kak." sahut Azkia tanpa merubah posisi tidurnya.
Melihat Azkia yang tetap tidak mau terbangun akhirnya Raffasya berniat menggendong dan memindahkan tubuh Azkia ke kamarnya.
" Aku mau tidur di sini, Kak. Nggak mau di kamar." Azkia menyingkirkan tangan Raffasya yang hendak mengangkat tubuhnya.
" Tidur di mobil nggak nyaman, May. Ayo pindah ke kamar saja." Raffasya kembali ingin mengangkat tubuh Azkia.
" Nggak mau! Aku lagi ngidam tidur di mobil." Azkia bahkan memukul tangan Raffasya yang masih memegang tubuhnya.
" Kalau kamu tetap ingin tidur di sini, aku akan menengok anakku di sini sekarang juga, biar Pak Mamat lihat sekalian!" Ancaman Raffasya sontak membuat Azkia terbelalak dan segera bangkit dari tidurnya.
" Dasar Kak Raffa gi la!!" umpat Azkia, " Awas ...!! Azkia memukul tubuh Raffasya kemudian bergegas turun dari mobil.
" Pak Mamat, silahkan kalau mau kembali ke rumah Papa Yoga. Terima kasihbya, Pak Mamat. Hati-hati di jalan." Raffasya berbicara terlebih dahulu dengan Pak Mamat sebelum menyusul istrinya.
" Baik, Mas. Assalamualaikum ..." Pak Mamat berpamitan.
" Waalaikumsalam ..." Raffasya menyahuti.
Setelah mobil yang dikendarai oleh Pak Mamat meninggalkan rumah Raffasya, Raffasya kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat Azkia tertidur meringkuk di kursi teras rumahnya.
Seraya menggelengkan kepala, Raffasya lalu mengangkat tubuh istrinya hingga kini sudah berada di antara kedua lengannya. Tak ada bantahan atau penolakan dari Azkia, Justru kini tangan Azkia melingkar di leher Raffasya dengan kepala disandarkan di dada bidang Raffasya.
Raffasya lalu membawa Azkia masuk ke dalam rumah dan kamarnya. Dia lalu membaringkan tubuh Azkia di atas tempat tidur setelah sampai di kamarnya. Namun saat dia ingin berdiri, tangan Azkia yang melingkar di lehernya seolah enggan untuk terlepas. Raffasya sampai harus pelan-pelan mengurai. belitan tangan Azkia di lehernya.
" Mau ke mana? Di sini saja!" Walau matanya tertutup rapat tapi Azkia kembali menolak melepas tangannya di leher Raffasya
Azkia bahkan meminta agar suaminya itu tetap bersamanya.
Raffasya akhirnya mengikuti apa yang diinginkan oleh Azkia hingga kini dia merebahkan tubuhnya di samping tubuh istrinya. Dan saat Raffasya membaringkan tubuhnya, Azkia lalu meletakan kepalanya di lengan milik Raffasya dengan tangan melingkar di perut Raffasya. Raffasya sendiri hanya tersenyum mendapati tindakan tanpa sadar yang dilakukan istrinya tersebut.
Raffasya menatap wajah cantik Azkia yang sudah tak bermake up, karena sebelum pulang dari cafenya Azkia sudah mengganti pakaian dan membersihkan make up yang sejak sore menempel di wajahnya. Raffasya menatap bibir istrinya yang sejak menikah membuatnya ingin selalu menyentuhnya, hingga akhirnya Raffasya pun memberikan kecupan di bibir sang istri.
***
Azkia terjaga pagi harinya. Aoma maskulin yang menguar dari tubuh Raffasya membuat dia akhirnya membuka matanya. Kini pandangan matanya penuh dengan wajah suami yang tertidur di sampingnya. Azkia terus memandangi rahang keras milik Raffasya. Kemudian pandangannya kini mengarah pada bibir sang suami. Bibir yang sejak kecil selalu mengeluarkan kalimat-kalimat tak bersahabat yang ditujukan kepadanya. Bibir yang pernah menyumpahinya akan mengalami kehamilan di luar nikah, dan ternyata hal itu benar-benar terjadi. Ironisnya justru pemilik bibir itulah yang menghamili dirinya.
Perlahan jari Azkia mengusap pelan rahang yang terlihat tegas di wajah Raffasya, hingga kini jarinya menyentuh bibir Raffasya..
" Minta aku cium lagi?"
Azkia terkesiap bahkan menarik tangannya menjauh dari bibir Raffasya saat suaminya itu tiba-tiba berkata, namun dengan mata masih terpejam. Tak lama Raffasya membuka mata dan menoleh ke arah Azkia.
" Kenapa pegang-pegang bibirku? Ingin aku cium?" Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas menggambarkan sebuah senyuman yang Azkia anggap seolah meledeknya.
" Siapa juga yang minta dicium?" sanggah Azkia cepat dengan memberengut.
" Nggak ingin aku cium?"
" Jangan kepedean, deh!"
" Tapi kalau aku yang mau cium kamu, kamu nggak nolak, kan?" Raffasya kemudian langsung menempelkan bibirnya ke bibir Azkia tanpa menunggu lebih dahulu persetujuan dari istrinya itu. " Seperti ini ...."
" Aku ingin merasakan lagi keagresifan kamu seperti di Bandung. Apa bisa diulang lagi sekarang? Kamu menciumi dadaku sampai sini." Raffasya menunjuk arah daerah pusatnya di mana saat ini rudalnya masih terlelap tidur.
Sontak wajah Azkia langsung bersemu merah karena dia masih saja merasa malu jika diingatkan soal bagaimana tingkah dia saat berada dalam pengaruh obat pe rangsang.
" Aku pikir aslinya kamu memang seperti itu, tapi ternyata kamu malu-malu tapi mau." Raffasya terkekeh menyindir Azkia.
" Siapa juga yang mau? Kak Raffa saja yang suka maksa!" Azkia menolak dianggap menginginkan jika mereka bercinta.
" Lalu semalam itu apa? Nggak mau melepaskan tangan dari leher dan menyuruh aku tidur menemani. Tuh, lengan aku saja masih jadi bantal kepala kamu. Masih menyangkal kalau nggak mau?" sindir Raffasya kembali.
" Itu bukan aku yang mau, tapi bayi ini." Azkia beralasan dengan menunjuk perutnya.
" Oh, jadi ini karena keinginan anakku, ya? Wah, dedek bayi pintar, maunya lengket terus sama Papa. Karena dedek bayi pintar, Papa jadi kepingin ketemu dedek bayi, deh." Raffasya menyeringai memanfaatkan jawaban Azkia hingga akhirnya Raffasya memeluk tubuh sang istri dengan tangan yang sudah mulai bergerilya di dada istrinya dan bibir yang mulai menyentuh daerah leher Azkia untuk mencium dan meninggalkan beberapa love bites di kulit putih mulus istrinya itu.
" Kak Raffa jangan macam-macam, ya! Ini sudah mau Shubuh." Azkia yang sudah menyadari suaminya itu sudah mulai melakukan aktivitas pemanasan sebelum melakukan penyatuan langsung menolak apa yang diinginkan suaminya.
" Kita lakukan sebentar saja, nggak akan lama. Sebelum jam lima juga bisa selesai." Raffasya sempat menoleh ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul empat kurang lima belas menit.
" Tapi ...."
" Tidak ada tapi, cukup kamu nikmati saja." Raffasya kini berpindah posisi di atas Azkia. Dia kemudian melu mat bibir Azkia, melakukan gerakan bibir yang memaksa Azkia untuk membalas ciumannya itu. Dan ternyata berhasil karena Azkia pun membalas tindakan yang dilakukan oleh Raffasya sehingga menghasilkan suara decapan di kamar mereka.
" Aku akan belajar menjadi suami yang baik, aku harap kamu juga mulai belajar menjadi istri yang baik. Aku tidak ingin anakku ini merasakan kehidupan sepertiku yang terpisah dari kedua orang tuanya. Aku ingin dia merasakan kasih sayang seperti kamu mendapatkan kasih sayang dari keluargamu," tutur Raffasya saat mereka menjeda pagutan bibir mereka.
" Apapun yang terjadi, aku tidak ingin kita berpisah dan anak ini yang akan menjadi korbannya. Jadi ... apa kamu mau berjanji untuk menerima pernikahan ini? Apa kamu bisa belajar menerima dan mencintai aku, seperti aku juga sedang belajar menerima dan mencintai kamu?" Jari Raffasya kini menyampirkan helaian rambut Azkia ke belakang daun telinga istrinya itu.
Azkia menatap manik mata Raffasya yang tengah menatap lekat seolah menghipnotisnya hingga dia akhirnya menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diminta oleh Raffasya darinya. Dan atas jawabannya yang diberikan kepada Raffasya, dia langsung bisa melihat senyuman dari bibir suaminya itu.
Raffasya mendekatkan keningnya dengan kening Azkia. " Kalau aku mengunjungi anakku lagi, boleh, kan?"
Azkia terdiam sejenak seraya berfikir. Dia ingin menolak karena masih selalu takut berhubungan dalam kondisi kehamilannya yang masih sangat muda. Namun dia tidak memungkiri, berapa kali melakukan hubungan itu dengan Raffasya, dia juga merasakan kenikmatan yang sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.
" Boleh atau tidak?" Ucapan Raffasya membuat Azkia terkesiap hingga dia akhirnya menganggukkan kepalanya.
Mendapatkan tanggapan positif dari sang istri, Raffasya kembali menautkan bibir mereka. Menyatukan dua pasang bibir yang selalu berkata pedas dan saling menghujat satu sama lain, yang kini berubah menjadi manis dan membuat mereka akhirnya menikmati pagutan bibir mereka, dan memulai aktivitas jelang Shubuh sebagai penyemangat aktivitas mereka menghadapi hari ke depan.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
"