
" Selamat pagi, Nek." sapa Azkia saat dia memasuki ruang makan dan melihat Nenek Mutia yang sudah duduk di kursi meja makan.
Nenek Mutia menoleh saat mendengar Azkia menyapanya.
" Selamat pagi, Kia. Bagaimana, masih mual-mual, Nak?" tanya Nenek Mutia menanyakan kondisi Azkia saat ini.
" Sudah mendingan, Nek." Azkia menjawab pertanyaan Nenek Mutia.
" Syukurlah kalau begitu. Kamu sarapan dulu, Nak. Neng sudah buatkan sayur bayam, bakwan jagung dan ayam goreng." Nenek Mutia menyuruh Azkia ikut bergabung untuk bersarapan bersama. " Raffa mana?" tanya Nenek Mutia kemudian.
" Raffa di sini, Nek." sahut Raffasya yang baru saja masuk ke ruang makan. Pria itu langsung mendekati Neneknya lalu mengecup kening Nenek Mutia. " Pagi, Nek." sapa Raffasya lalu menarik kursi untuk dia duduki.
Pemandangan sikap Raffasya yang manis dan terlihat begitu menyanyangi Neneknya itu membuat Azkia merasa terheran. Karena dia tahu bagaimana sikap Raffasya yang terlihat tidak hormat kepada Lusiana, namun pemandangan terbalik dia lihat pada sikap Raffasya kepada Nenek Mutia. Mungkin karena selama ini Nenek Mutia lah yang selalu ada untuk suaminya itu.
" Pagi, Raffa." Nenek Mutia tersenyum senang menjawab sapaan cucunya. " Raffa, kamu ini bagaimana, sih? Ke Nenek kamu cium kening, masa ke istri sendiri nggak cium kening juga?"
Pertanyaan Nenek Mutia sontak membuat Raffasya dan Azkia terbelalak dan saling bertatapan antara pasangan suami istri itu. Namun tak lama Azkia segera mengalihkan pandangannya.
Baik Raffasya maupun Azkia sama-sama tidak mampu mengucapkan kalimat balasan atas kalimat tanya yang diucapkan oleh Nenek Mutia.
" Apapun alasan yang menyatukan kalian dalam satu ikatan pernikahan, kalian berkewajiban menjaga keharmonisan rumah tangga kalian," tutur Nenek Mutia menasehati kedua anak muda di hadapannya.
" Seperti sikap kamu dalam memperlakukan istri kamu, Raffa. Misalnya melakukan apa yang sering kamu lakukan kepada Nenek, kamu juga harus bisa terapkan pada istri kamu. Agar rasa sayang dan cinta di antara kalian bisa tumbuh dengan sendirinya."
Azkia kembali membulatkan matanya. Apa yang dituturkan oleh Nenek Mutia dianggapnya adalah sebagai suatu hal yang mustahil. Dia tidak akan mungkin bisa jatuh cinta kepada pria yang selama ini diangganya musuh abadi.
" Coba kamu mulai dari sekarang melakukan hal itu, Raffa. Kamu cium kening Kia, tunjukkan kalau kamu akan bisa menjadi pemimpin rumah tangga kalian yang bertanggung jawab dan sayang terhadap keluarga." Nenek Mutia terus berkata-kata yang membuat Raffasya dan Azkia salah tingkah.
" Ayo, Raffa ... kenapa diam saja?"
Raffasya akhirnya berdiri mengikuti apa diperintahkan oleh Neneknya. Dia berjalan mendekat ke arah Azkia lalu mengecup kening Azkia. Sementara Azkia tentu saja tidak dapat menolak apa yang dilakukan oleh Raffasya kepadanya di hadapan Nenek Mutia.
" Wah, Mas Raffa sama Mbak Kia so sweet sekali ya, Bu?" Bi Neng yang membawa sepiring ayam goreng yang baru matang langsung berkomentar melihat sikap Raffasya dan Azkia.
" Itu harus, Neng. Dalam rumah tangga sikap seperti ini harus dibiasakan agar menumbuhkan rasa saling menyayangi satu sama lain," sahut Nenek Mutia.
" Ya sudah, ayo kita mulai makan. Ayam gorengnya sudah matang." ucap Nenek Mutia kembali.
Sedangkan Azkia dan Raffasya yang duduk berhadapan kembali saling berpandangan, namun lagi-lagi Azkia yang memutuskan pandangan matanya dari Raffasya, karena jika mengingat apa yang terjadi semalam membuatnya merasa malu. Dia beranggapan jika saat ini mata Raffasya sepertinya sedang membayangkan dirinya seperti semalam.
" Raffa, kamu laki-laki dan pemimpin di rumah ini, jadi kamu yang memimpin doa sebelum makan. Kamu masih ingat 'kan doanya?" tanya Nenek Mutia membuat Azkia langsung menarik sudut bibirnya seakan mengejek suaminya itu pasti akan lupa mengucapkan doa sebelum makan.
" Masih ingat, Nek." Namun jawaban Raffasya mematahkan anggapan negatif Azkia terhadap suaminya itu.
Setelah memaca doa yang dipimpin oleh Raffasya, Mereka bertiga pun mulai menyantap makanan yang telah dihidangkan di meja oleh Bi Neng.
" Sayurnya dimakan, Kia. Agar bayi kalian nanti sehat." ucap Nenek Mutia saat melihat Azkia yang terlihat kurang bersemangat menyantap makanannya.
" Kia nggak suka sayur bayam, Nek." Azkia mengungkapkan alasannya tidak berselera menyantap sarapan paginya.
" Mulai sekarang harus Kia biasakan mengkonsumsi sayuran-sayuran hijau seperti ini. Sejak kamu hamil sampai menyusui sayur bayam bagus untuk bayimu nanti." Nenek Mutia menjelaskan.
" Kamu sukanya makan sayur apa?" Raffasya menanyakan soal sayuran yang Azkia sukai.
Azkia melirik ke arah suaminya itu. Tidak tahu kenapa, sejak tadi pagi ada yang berubah dari panggilan Raffasya kepadanya. Panggilan elu yang biasa dia ucapkan ketika berbicara dengannya tiba-tiba berubah menjadi kata kamu. Entah, Azkia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan Raffasya memanggilnya dengan kata kamu.
" Iya, Kia sukanya sayur apa? Biar nanti Nenek kasih tahu Neng agar masak menunya tiap hari bergantian." Nenek Mutia menimpali.
" Apa saja asal bukan sayur bayam, Nek." sahut Azkia.
" Kenapa Kia nggak suka sayur bayam? Nggak pernah makan sayur bayam sebelumnya, ya?" tanya Nenek Mutia penasaran.
" Pernah sih, Nek. Kia nggak sukanya itu karena trauma aja kok, Nek."
" Trauma? Kenapa?"
" Dulu waktu masih kecil si Bibi di rumah pernah masak sayur bayam, nggak tahunya si Bibi itu waktu cuci sayurannya nggak teliti ternyata masih ada ulat yang menempel di daun bayamnya dan akhirnya ikut termasak. Pas Kia ambil sayur itu ternyata ulatnya ikut kebawa di sendok, Nek. Untung saja nggak sampai kemakan." Azkia sampai mengedikkan bahunya. " Sejak itu Kia jadi trauma makan sayur bayam." akunya kemudian.
" Oh, jadi itu alasannya? Sebenarnya ulat itu tidak hanya bisa menempel di daun bayam aja, tapi bisa juga sayuran lainnya, seperti kangkung atau brokoli dan banyak lagi. Hanya saja kita harus pintar membersihkan sayuran itu agar ulatnya tidak menempel terus saat dicuci. Karena menggunakan air bersih mengalir saja tidak menjamin ulat-ulat itu akan hilang. Harus direndam dulu pakai air cuka, air garam atau baking soda agar ulat dan kotoran yang menempel itu luruh," tutur Nenek Mutia lagi menjelaskan. " Jadi kalau nanti Kia masak di dapur untuk Raffa atau anak kalian nanti, Kia bisa pakai cara-cara tadi."
Kembali mata Azkia dan Raffasya saling bertemu pandang mendengar kalimat-kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nenek Mutia. Nenek Mutia memang jelas sekali menginginkan hubungan antara Raffasya dan juga Azkia berjalan harmonis, karena Nenek Mutia tahu jika mereka berdua itu tidak pernah akur sebelumnya. Tapi dengan perubahan sikap cucunya yang sudah memperlihatkan pribadi yang lebih baik membuatnya yakin cucunya itu akan bisa bertanggung jawab dengan pernikahannya.
***
" Kamu ikut aku ke cafe," ujar Raffasya setelah Azkia kembali ke kamar, karena setelah sarapan tadi, Azkia memang memilih berbincang dengan Nenek Mutia.
" Buat apa aku ikut ke sana?" Azkia masih berkata dengan nada-nada ketus.
" Mama suruh aku fitting baju siang ini dan minta kamu yang antar aku ke salonnya." Raffasya menyampaikan alasannya.
" Malas, ah ..." Azkia kemudian duduk di sofa dengan melipat satu kaki di sofa. " Nanti aku kasih tahu tempatnya, cari sendiri saja di Maps," lanjutnya.
" Memang kamu nggak bosan di rumah terus?" tanya Raffasya.
" Aku mau ke butik, sudah lama nggak ke sana. Kasihan Mama kalau nggak aku bantu."
" Ya sudah nanti kita ke sana sebentar."
" Sebentar? Aku itu di sana bekerja bukan untuk sekedar mampir doang!" Azkia keberatan jika hanya diberikan waktu sebentar untuk mengunjungi Alexa Butique.
" Sekarang ini status kamu itu seorang istri, jadi nggak bisa semau kamu!" tegas Raffasya.
" Kak Raffa harus ingat perjanjian kita, ya! Kalau kita akan berpisah setelah bayi ini lahir! Jadi Kak Raffa jangan melarang aku. Lagipula pernikahan kita itu hanya pura-pura, hanya untuk menutupi aib ini saja, kok!" Azkia kemudian bangkit dan melangkah ke arah tempat tidur.
" Aku nggak pernah menganggap kalau pernikahan ini adalah pura-pura, May! Dan aku menikahi kamu karena rasa tanggung jawab atas bayi yang kamu kandung bukan hanya untuk menutupi aib. Dari awal juga aku sudah minta untuk membicarakan hal ini. sebelum kejadian kamu hamil." Raffasya menepis anggapan Azkia yang menganggap pernikahan mereka pura-pura dan hanya sebagai sebagai tindakan menutupi aib keluarga.
" Kak Raffa nggak bisa ingkar dengan janji yang sudah kita sepakati. ya!" Azkia memperingatkan Raffasya agar tidak mengingkari kesepakatan yang sudah mereka setujui.
Raffasya menghempaskan nafas dengan kesal dengan sikap Azkia yang masih tidak berubah.
" Cepat bersiap, sebentar lagi aku berangkat. Aku tunggu di bawah." Raffasya kemudian meninggalkan kamarnya. Sementara Azkia memutar bola matanya menanggapi ucapan Raffasya.
***
Raffasya membawa Azkia mengunjungi salon terlebih dahulu untuk melakukan fitting baju.
" Bagaimana, Mas Raffa? Sudah nyaman dengan ukuran baju ini?" tanya Ester saat Raffasya mencoba salah satu baju yang biasa disewakan di salon itu.
" Ya sudah, nanti akan dibuat pakaiannya sesuai dengan size baju ini," tutur Ester kembali.
" Iya, Tan." Raffasya kemudian melepas satu persatu kancing baju dan meloloskan baju itu dari tubuhnya.
" Mbak Kia, lihat ini suaminya, bukan wajahnya saja yang ganteng, badannya juga cakep banget. Hmmm, pantas saja Mbak Kia jatuh cinta sama Mas Raffa." Ester menggoda Azkia yang sejak tadi hanya duduk memainkan ponselnya tanpa memperhatikan Raffasya yang sedang mencoba ukuran baju untuk acara resepsi pernikahan mereka.
" Tapi Mbak Kia nya juga cantik, kok. Jadi cocok untuk Mas Raffa," lanjut Ester kemudian.
Raffasya dan Azkia kembali saling berpandangan. Kali ini tatapan mereka terjadi sangat lama dengan saling menatap lekat.
" Hai, Tante Ester ..." Seorang wanita cantik tiba-tiba datang dan menyapa Ester.
" Oh hai, Brenda. Apa kabar? Ke mana saja selama ini?" Ester membalas sapaan wanita cantik itu.
" Biasalah, Tan. Sibuk pemotretan." sahut Brenda melirik Raffasya yang saat itu bagian dadanya hanya terbalut kaos singlet hingga memperlihatkan otot-otot liat pria itu.
" Siapa dia, Tan?" bisik Brenda bertanya kepada Ester.
" Dia anak teman Tante."
" Body nya wow, wajahnya juga ganteng, Tan." ucap Brenda kemudian.
" Sudah sold dia, tuh yang punyanya. Mereka sedang fitting." Ester melirik ke arah Azkia yang sudah kembali asyik dengan ponselnya.
" Telat dong aku, Tan?" Brenda terkikik.
" Iya, dan kamu jangan macam-macam, ya! Jangan menyimpang dan bikin malu nama baik keluarga!" ancam Ester kepada Brenda.
" Aku hanya bercanda, Tan." Brenda kemudian berjalan ke arah Azkia duduk.
" Hai, sedang fitting baju, ya? Terima kasih sudah mempercayakan salon Tante aku untuk membuat pakaian kalian." Brenda mencoba mengakrabkan diri kepada Azkia.
Azkia langsung menoleh ke arah Brenda. Karena tiba-tiba saja wanita itu menyapa dan mengajaknya bicaranya. Dan Azkia hanya membalas dengan senyuman di bibirnya.
" Kita sudah selesai, mau langsung ke butik?" Raffasya yang telah memakai baju kembali langsung mendekati Azkia.
Azkia tak menjawab hanya berdiri lalu melangkah ke luar dari salon disusul oleh Raffasya di belakangannya.
Brenda memperhatikan sikap Azkia dan Raffasya yang terlihat aneh menurutnya.
" Tan, serius mereka mau menikah? Kok nggak kelihatan ada mesra-mesranya?" tanya Brenda heran.
" Mereka itu sudah menikah, mereka fitting untuk resepsi." Ester menjelaskan.
" Nah, apalagi kalau sudah menikah. Mestinya 'kan sikapnya itu romantis. Tapi ini terlihat cuek-cuek gitu. Apalagi yang cewek, kelihatan jutek banget nggak ada suaranya," tutur Brenda berpendapat.
" Mungkin dia tahu, kamu mengangumi suaminya, jadi saja kamu dijutekin."
Ester dan Brenda seketika tertawa bersama mendengar ucapan Ester tadi.
***
" Siang, Mbak Mbak Kia apa kabar? Selamat atas pernikahannya ya, Mbak."
Beberapa pegawai Alexa Boutique langsung menyapa dan memberikan ucapan selamat kepada Azkia karena mereka sudah pasti mendengar pernikahan Azkia, walaupun tentu saja mereka merasa aneh saat mendengar kabar jika suami dari Azkia bukanlah Gibran. Karena hampir semua pegawai butik milik Natasha itu tahu jika Gibran adalah kekasih dari Azkia sejak lama.
" Makasih ..." sahut Azkia membalas orang-orang yang memberikan ucapan selamat kepadanya saat dia masuk di butik.
Azkia kemudian naik ke atas menuju ruangannya dan Raffasya mengekor di belakangnya. Semua pegawai langsung berbisik memperhatikan sosok Raffasya yang datang bersama Azkia.
" Jadi itu suaminya Mbak Kia?" tanya Yanti, salah seorang kasir di butik itu bertanya Siti, pegawai lainnya.
" Kayaknya iya, deh. Tapi ganteng juga, sih. Nggak kalah sama Mas Gibran," sahut Siti. " Cakep ini malah menurutku, sih." lanjutnya.
" Iya, rada cool gimana gitu ..." Yanti terkikik.
" Lakinya orang itu, Mbak! Bos sendiri lagi, mau dipecat??" sindir Siti.
" Angkat tangan, deh. Lagipula belum tentu dianya mau sama aku." Yanti kembali terkekeh.
Sementara di lantai atas ...
" Siang, Mbak Wan." Azkia menyapa Wanda ketika sampai di lantai dua.
" Eh, Mbak Kia? Wah, happy wedding ya, Mbak." Wanda langsung bangkit dan langsung memeluk Azkia.
" Mamanya Mbak Kia baru saja dari sini tadi." ujar Wanda kemudian.
" Mama tadi ke sini? Ya, sayang banget nggak ketemu," sesal Azkia karena telat datang ke butik.
" Memang nggak janjian sama Ibu Natasha, Mbak?" tanya Wanda.
" Nggak sih, Mbak."
Wanda kemudian melirik ke arah Raffasya yang berdiri di belakang Azkia.
" Halo, Mas. Perkenalkan saya Wanda, asistennya Mbak Kia." Wanda memperkenalkan dirinya kepada Raffasya.
Raffasya hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab sapaan dari Wanda namun tetap menyambut jabatan tangan Wanda.
" Mbak, kok suaminya kaku banget sih, orangnya? Nggak seperti Mas Gibran yang humble," bisik Wanda mengomentari sikap Raffasya.
" Tentulah, Kak Gibran itu paling the best, dong!" sahut Azkia kencang dengan menaikkan ibu jarinya seraya melirik ke arah Raffasya, yang langsung menatapnya dengan sorot mata tajam.
*
*
*
Bersambung ...
Hmmm, yakin Gibran paling the best, May? Tapi kok pake antingnya inisial R bukan G? Uhuuuk 😁
Happy Reading❤️