MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Kamu Memang Luar Biasa



Ditemani Natasha, jelang sore hari ini Azkia duduk bersantai di ruang tamu dengan memegang sebuah majalah Mother & Baby ditangannya sambil sesekali berbincang menunggu suami-suami mereka kembali dari bekerja. Raffasya sendiri setelah selesai menemani Azkia ke mall, dia langsung pergi ke cafenya, namun sebelumnya dia mengantar Azkia pulang terlebih dahulu ke rumah orang tua istrinya.


" Ma, kalau melahirkan nanti rasanya sakit banget nggak. sih?" tanya Azkia yang masih dihinggapi rasa cemas dalam menghadapi persalinanya. Hal yang sangat wajar dirasakan oleh ibu hamil apalagi dipersalinan pertamanya.


" Rasanya ... luar biasa nikmat." Natasha menggunakan kalimat lain agar putrinya itu tidak menjadi stres jika dia harus menceritakan bagaimana rasa sakit yang dia rasakan saat melahirkan anak-anaknya dulu.


" Sakit banget ya, Ma?" Azkia terlihat semakin cemas.


Natasha mendekat ke arah sofa yang diduduki Azkia yang duduk berselonjor.


" Rasa sakit yang akan kamu rasakan nggak akan sebanding dengan kebahagiaan atas kehadiran mahluk munggil darah daging kamu yang sebentar lagi akan kamu lihat, Nak. Wajahnya, suara tangisnya ... itu kebahagiaan yang akan kamu dapatkan atas perjuangan yang akan kamu jalani ketika persalinan nanti." Azkia mencoba memberikan pandangan positif agar Azkia tidak terlalu khawatir.


" Kamu lihat Mamamu ini, Mama sudah melahirkan kamu, kakakmu, adik-adikmu. Dan sampai sekarang Mama masih sehat, kan? Itu artinya kamu juga bisa seperti Mama, Sayang." Tangan Natasha mengusap pucuk kepala Azkia.


" Nanti kalau Kia melahirkan, Kia ingin didampingi Mama," pinta Azkia.


" Sudah pasti Mama akan mendampingi kamu, Kia. Makanya Mama minta kamu sementara tinggal di sini, agar Mama bisa cepat membawa kamu ke rumah sakit jika kamu mengalami kontraksi," sahut Natasha menjelaskan jika tujuannya membawa putrinya itu sementara tinggal di rumahnya agar Azkia tidak kesulitan mendapat pertolongan saat mengalami kontraksi.


" Maksud Kia, Mama yang menemani di ruang persalinan kalau Kia melahirkan, Ma." Azkia memperjelas permintaannya.


" Kamu nggak ingin Raffa yang menemani kamu?" tanya Natasha, karena selama dia melahirkan anak-anaknya, dia selalu ingin didampingi oleh suaminya.


" Kia lebih ingin Mama yang menemani agar Kia bisa melihat Mama saat Kia berjuang melahirkan anak Kia nanti, jadi Kia bisa merasakan bagaimana dulu perjuangan Mama waktu Mama melahirkan Kia. Supaya Kia selalu ingat dan tidak membuat Mama kecewa dan membuat Mama sedih."


Ucapan yang dilontarkan Azkia seketika membuat bola mata Natasha berembun karena dia merasa haru mendengar putrinya berbicara seperti itu. Dia pun kemudian merengkuh tubuh putri pertama yang sangat dia sayangi.


" Iya, Nak. Mama akan menemani Kia." ucapnya seraya mengecup kening Azkia.


" Assalamualaikum, ada apa ini Mama sama anak pelukan begini?" Suara Yoga tiba-tiba terdengar di depan pintu rumahnya.


" Waalaikumsalam ... Sudah pulang, Mas?" Natasha langsung berjalan menghampiri dan menyambut suaminya.


" Iya, sudah beres urusan di kampus." Yoga kemudian berjalan ke arah Azkia setelah Natasha mengambil tas kerjanya.


" Pa ..." Sementara Azkia tanpa bergerak turun dari kursi langsung menyalami Papanya saat Yoga mendekat ke arahnya.


" Kalian sedang membicarakan apa tadi?" tanya Yoga duduk di dekat Azkia.


" Kia ingin aku mendampingi dia kalau melahirkan nanti, Mas." Natasha menjelaskan apa yang dibicarakannya tadi dengan putrinya.


Tangan Yoga menyentuh perut Azkia, dia lalu tersenyum dan berkata, " Waktu berjalan terasa begitu cepat. Perasaan baru kemarin kami semua dibuat kalut saat Mamamu ingin melahirkan kamu, Sayang. Sekarang Kia sendiri yang sebentar lagi akan melahirkan. Papa harap persalinanmu nanti berjalan lancar, kamu dan cucu Papa ini sehat," ucap Yoga, dia memang seakan tidak percaya jika waktu begitu cepat berlalu dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang Kakek.


" Aamiin, makasih, Pa." sahut Azkia seraya memeluk tubuh pria yang merupakan cinta pertamanya sebagai seorang anak perempuan.


***


" May, dokter Dessy bilang kalau berhubungan in tim bisa memperlancar persalinan, kan?" tanya Raffasya seraya melipat sajadahnya selepas melaksanakan sholat Isya bersama Azkia


" Ya ampun, Kak Raffa. Baru juga selesai sholat, sudah ngomong begitu! Jangan-jangan tadi waktu sholat juga mikirin itu terus, ya??" tuduh Azkia curiga.


Raffasya hanya terkekeh menanggapi tuduhan istrinya seraya mengulurkan tangan membantu istrinya itu berdiri setelah selesai berdoa.


" Tapi memang bagus memperlancar persalinan kalau berhubungan in tim, kan?"


" Bagus sih bagus, tapi apa Kak Raffa nggak lihat gerak aku saja sudah kewalahan gini? Lagipula kakiku pegal karena tadi dibawa jalan-jalan." Azkia beralasan.


Azkia lalu melipat mukenahnya kemudian duduk di tepi tempat tidurnya.


" Kak Raffa sini pijat kaki aku saja, deh." Azkia kemudian duduk berselonjor dan meluruskan kakinya.


Raffasya menuruti apa yang diminta oleh Azkia. Dia lalu mulai memijat telapak kaki istrinya itu dengan pelan karena dia tidak ingin membuat istrinya kesakitan.


" Jadi jelang melahirkan ini aku nggak boleh mengunjungi dedek bayi, May?"


" Iyalah, Kak! Kak Raffa nggak kasihan sama aku?" ujar Azkia tak perduli melihat suaminya yang menatapnya penuh harap.


" Berarti aku harus puasa lama dong, May."


" Iyalah, setelah melahirkan juga nanti aku harus melewati masa nifas, jadi aku masih belum bisa melayani Kak Raffa," ujar Azkia.


" Hahh?? Berapa lama lagi aku harus puasa, May?" Raffasya yang tidak mengerti tentang masa nifas langsung terkejut saat Azkia mengatakan dirinya tidak bisa langsung menyetu buhi istrinya setelah istrinya melahirkan.


" Setelah melahirkan sekitar empat puluh hari atau mungkin bisa lebih."


" Empat puluh hari??" Raffasya membulatkan matanya, " Alamak ..." Tak lama dia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan tak bergerak seolah pingsan.


" Kak Raffa jangan lebay deh, Kak." Azkia terkekeh melihat kelakuan suaminya itu.


Setelah ditunggu beberapa menit, Raffasya tetap bergeming dan tak berubah posisi.


" Kak, Kak Raffa pingsan beneran?" Azkia lalu mengeser tubuhnya mendekati suaminya yang berbaring.


" Kak?" Azkia mencoba membangunkan Raffasya yang tergeletak dengan mata terpejam.


" Kak, bangun ... jangan buat aku takuuuutt ..." Azkia berkata dengan nada khawatir.


" Kak Raffa ..." Azkia memencet hidung suaminya, mencubit pipinya dan menarik cuping telinga suaminya itu.


" Kak Raffa, iiihh ... sudah deh, bercandanya! Nggak lucu tahu!" Azkia mulai kesal karena suaminya tak merespon ucapannya. Dia pun akhirnya berbaring di samping sang suami dan memeluk tubuh suaminya.


" Aku pingsan, May. Aku syok harus puasa terlalu lama. Kasihan juniorku harus tertidur terus di luar kandang, dan nggak bisa masuk ke kandang lebih dari sebulan," keluh Raffasya menjawab perkataan Azkia.


" Tapi nanti kalau sudah selesai masa nifas 'kan bisa, Kak."


" Masih lama banget, May. Melahirkan saja kamu belum, dan aku sudah harus puasa,"


" Hmmm, tapi kita bisa pakai cara lain 'kan, Kak? Biar Kak Raffa nggak bete waktu nunggu masa nifas aku selesai."


Raffasya melirik ke arah Azkia saat mendengar opsi yang ditawarkan istrinya.


" Pakai cara lain, ya? Cara yang bagaimana, nih? Cara pijat junior atau cara makan ice cream atau cara melintas diampit kedua perbukitan?" Raffasya menyeringai.


" Terserah yang Kak Raffa mau, deh." Azkia menyahuti.


" Istri pintar ..." Raffasya langsung mengangkat dan menyangga kepala dengan tangannya.


" Kak Raffa kepingin banget, ya?" Jari lentik Azkia menelurusi wajah Raffasya hingga kini sampai di bibir suaminya yang selalu memberikan sentuhan-sentuhan mengga irahkan dan sangat memabukkan.


" Pastilah, May."


" Ya sudah, tapi jangan lama-lama, ya? Jangan pakai gaya yang macam-macam," Azkia mengajukan persyaratan yang harus dituruti oleh suaminya jika ingin berhubungan badan dengannya.


" Kita pakai gaya spooning saja gimana?"


Azkia menanggapi tawaran yang diberikan oleh suaminya dengan anggukan kepalanya.


" Siap, Bos!" Raffasya langsung melepas pakaiannya dengan penuh semangat.


" Ya ampun, Kak. Belum apa-apa sudah buka-bukaan gitu ..." Azkia tertawa melihat suaminya saat ini sudah seperti Tarzan, hanya mengenakan satu kain yang menutup alat reproduksinya saja.


" Sudah siap, nih?" bisik Raffasya hingga hembusan nafas yang terasa hangat di kulit Azkia.


" Siaplah, daripada suamiku nanti pingsan lagi," sindir Azkia tertawa kecil. " Aaawww ... kok digigit sih, Kak?" Azkia meringis saat Raffasya tiba-tiba gigi Raffasya menggigit pipinya.


" Gemas sama kamu, May."


Azkia menoleh ke arah suaminya yang berbaring di belakangnya, sementara tangannya terulur menyentuh wajah suaminya.


" Kalau gemas memang harus digigit, ya?"


" Bukan hanya digigit, tapi juga dimakan."


" Apanya yang dimakan?"


" Semuanya, terutama di sini." Raffasya menunjuk bibir Azkia. " Di sini." Dia lalu menunjuk kedua asset kembar sang istri. " Dan juga di sini." Kali ini Raffasya menunjuk bagian inti sang istri.


" Jangan dimakan dong, Kak. Nanti habis, lho!" Azkia terkikik mulai mengikuti alur obrolan suaminya.


" Kalau nggak dimakan, diapain, dong?"


" Hmmm ..." Azkia mengerutkan keningnya. " Diapain, ya? Dipandang, disentuh, diji lat, dimasukin ..." Azkia tertawa menyebutkan kalimat absurd tadi.


" Nah, kan. Kamu sudah mulai me sum sekarang." Raffasya menggelitik pinggang Azkia hingga membuat Azkia tertawa geli.


" Kan aku sudah tertular ilmu dari Kak Raffa ..." Azkia menyahuti hingga saat ini wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang mulai menipis dan mata saling bertatapan.


" Kak Raffa ganteng banget, apalagi ditambah dengan sikap Kak Raffa yang sangat perhatian, benar-benar membuat aku jatuh cinta sama Kak Raffa," ucap Azkia tak malu mengutarakan perasaan hatinya.


" Kamu juga bikin hidup aku lebih berwarna, May." sambut Raffasya.


" Warna apa, Kak? Merah? Kuning? Hijau? Dilangit yang biru." Azkia justru berkelakar di sela-sela adegan romantis mereka.


" Almayraaaa ..." Raffasya yang gemas dengan jawaban Azkia langsung menggigit lemah salah satu asset kembar Azkia yang masih tertutup baju tidur.


" Aaawww ...!! Kak Raffasya kanibal banget, deh!" Walau merintih namun Azkia tetap tertawa penuh rasa bahagia.


" Iya aku memang kanibal yang sedang lapar, ingin memangsa daging empuk ini." Raffasya mengoyak pakaian tidurnya.


" Astaga, Kak Raffa ...!!" Azkia tersentak saat suaminya itu merobek baju tidur. Selama mereka melakukan percintaan, tak pernah sekalipun suaminya itu merobek pakaian tidur seperti saat ini.


" Nanti aku belikan yang baru." Raffasya menyeringai lalu tak menyia-nyiakan kedua bukit yang terlihat jelas menampakkan puncak berwarna merah muda.


" Aaakkhh ..." Azkia mende sah saat puncak bukitnya dimainkan oleh lidah suaminya dan digigit dengan bibir Raffasya.


" Kamu juga nggak akan tahan selama empat puluh hari lebih nggak aku setuh, May." ujar Raffasya saat menjeda sentuhannya di kedua bongkahan kenyal milik Azkia.


" Iya, Kak. Soalnya sentuhan Kak Raffa sungguh memabukkan," sahut Azkia membelai rambut hitam lebat suaminya.


" Aku akan terus membuatmu mabuk dan candu akan sentuhanku, May. Agar tidak akan ada kesempatan untukmu jatuh cinta pada pria lain." Raffasya lalu membenamkan bibirnya pada bibir Azkia, melu mat dengan penuh ga irah. menggigit lemah bibir sang istri hingga terbuka dan memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Azkia hingga mereka saling bertukar saliva. Pertemuan kedua bibir itu berlangsung cukup lama hingga menimbulkan suara decapan di dalam kamar milik Azkia.


" Kak ...."


" Hmmm ...."


Saat mereka menjeda ciuman untuk menghirup oksigen dengan kedua kening mereka saling bersentuhan, Azkia teringat akan sesuatu.


" Pintu sudah dikunci belum?" tanya Azkia.


" Astaga, aku lupa ..." Raffasya bergegas bangkit dan segera berjalan dengan langkah cepat mengunci pintu kamar.


" Kak Raffa teledor banget, deh! Nanti kalau ketahuan Mama lagi, gimana?" Azkia mengerucutkan bibirnya.


" Aku yakin Mama kamu nggak akan berani masuk kamar ini kalau ada aku, May." Raffasya tertawa kecil mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Raffasya lalu melepaskan celananya hingga memperlihatkan alat tempurnya yang menegang.


Azkia langsung menyentuh milik Raffasya itu dengan tangannya.


" Sudah terbangun ya, Kak?" Azkia bahkan kini memainkankan milik Raffasya yang sudah berdiri siap meluncur ke surga dunia penuh kenikmatan. Dia pun lalu bangkit dan duduk di tepi tempat tidur tepat di hadapan Raffasya berdiri.


" Sebelum masuk ke bawah, masukin ke atas dulu, ya?" lanjut Azkia terkekeh.


Raffasya menarik sudut bibirnya hingga membuat lengkungan senyuman.


" Nikmati sesukamu, May." sahut Raffasya membelai rambut Azkia dan menyatukan helaian rambut hitam istrinya itu lalu menggulung dan mengikatnya agar tidak mengganggu aktivitas Azkia yang akan menikmati miliknya.


" Ooouuugghh, May. Kamu memang luar biasa ..." Raffasya merasakan kenikmatan saat intinya dikuasai oleh rongga mulut Azkia.


Permainan mulut Azkia pada inti milik Raffasya membuat ga irah pria itu semakin membuncah hingga rasanya dia tidak sabar untuk memasuki kenikmatan yang sesungguhnya dia butuhkan.


" Berbaringlah, May." Raffasya meminta Azkia menyudahi permainannya dan segera melanjutkan dengan adegan percintaan lainnya. Setelah Azkia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Raffasya pun ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang membelakanginya. Dengan tangan kiri menopang kepala Azkia dan kaki kanan menyanggah kaki kanan milik Azkia, dia segera melakukan penyatuan pada tubuh Azkia. Sementara tangan kanan dan mulutnya terus bergantian memberikan sentuhan di kedua bukit kembar istrinya itu


" Aaakkhh, Kak ..." Azkia mendesah merasa kenikmatan saat milik Raffasya mulai memasuki intinya.


" Ssshhhh ..." Azkia mendesis merasakan kenikmatan yang diberikan suaminya.


" Begini nyaman, May?" tanya Raffasya karena dia tidak ingin Azkia merasa tidak nyaman dengan posisi bercinta mereka.


" He-eh," Azkia menjawab.


" Kalau kaki kamu terasa pegal, bilang aku, ya!?"


Azkia hanya menganggukkan kepala tak menjawab. Dia lebih fokus menikmati sentuhan milik suaminya itu di dalam intinya.


" Atau kau ingin pakai gaya lain?" tanya Raffasya kembali.


" Sudah jangan bicara deh, Kak! Nikmati saja!" protes Azkia yang merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya itu.


" Waduh, istriku lagi sensi, nih." Raffasya justru tertawa melihat Azkia yang nampak kesal kepadanya karena pertanyaannya tadi.


" Kak ....!!"


" Iya, iya, Almayra ku, Sayang." Raffasya langsung mencium dengan rakus bibir Azkia yang memberengut, sementara miliknya masih terus bergerak di dalam inti milik istrinya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️


"


"