
Malam ini suasana di rumah Lusiana sudah kembali normal. Semua tamu sudah kembali ke rumah masing-masing. Hanya menyisakan Lusiana, Fariz dan ART mereka. Karena Rosa sengaja dibawa Azkia menginap di rumahnya agar tidak mengganggu acara honeymoon kedua Fariz dan Lusiana.
Lusiana sedang mengoles cream malam di wajahnya saat Fariz masuk ke dalam kamar. Dia lalu bangkit dan menghampiri pria yang hari ini berstatus menjadi suaminya kembali.
" Mas mau aku buatkan kopi?" tanya Lusiana kepada Fariz.
" Tidak usah, kamu duduklah di sini." Fariz mengajak Lusiana untuk duduk di sofa.
" Kenapa, Mas?" tanya Lusiana mengikuti apa yang diperintahkan oleh Fariz.
" Aku dengar dari menantumu kalau kamu itu kecewa karena aku menikah dengan Mamanya Oca. Apa itu benar?" Fariz merasa penasaran dengan cerita yang disampaikan Azkia kepadanya tentang rasa cemburu Lusiana kepada pernikahan kedua dirinya dengan Wina.
Lusiana terperanjat saat mengetahui jika suaminya itu ternyata sudah tahu tentang perasaan cemburunya terhadap pernikahan Fariz dan Wina dari Azkia.
" Anak itu ..." gumam Lusiana mendengus karena menantunya itu sudah membuka rahasianya kepada Fariz.
" Kamu jangan marah kepada menantumu itu, Lus. Kita bisa bersama lagi seperti ini juga karena andil besar dia, kan?" Fariz yang mendengar keluhan Lusiana menasehati istrinya itu agar tidak menyalahkan Azkia dalam hal ini.
" Kamu pikir aku juga tidak kecewa saat kita berpisah? Aku bahkan memilih menikah lagi sebenarnya untuk menghilangkan rasa kecewaku terhadap perceraian kita dulu. Bahkan saat aku menikahi Wina, saat itu aku belum mencintai dia. Aku hanya tidak enak hati karena kebaikan dia dan keluarganya saat aku merantau ke luar pulau." Fariz menceritakan bagaimana perasaan dia yang sebenarnya.
" Nggak cinta, hanya nggak enak hati, tapi tetap bisa punya anak juga ..." sindir Lusiana membuang muka tak ingin menatap Fariz.
Fariz terkekeh mendengar sindiran Lusiana lalu berkata, " Namanya juga suami istri, Lus. Setiap hari bertemu, setiap malam tidur bersama, bukan hal yang mustahil kalau akhirnya kami punya anak. Dan lama-lama rasa cinta juga tumbuh di hati," tutur Fariz bagaimana akhirnya dia pun bisa mencintai Wina.
" Sudah, ah! Jangan bicara soal itu!" Lusiana tentu tidak ingin mendengar kisah cinta suaminya dengan Wina sehingga dia menolak meneruskan pembicaraan itu. Dia lalu bangkit lalu melangkah ke arah tempat tidur.
" Sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin segera bercinta ya, Lus?" Fariz justru menggoda Lusiana melihat istrinya itu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Siapa yang ingin bercinta? Aku ini capek, Mas. Ingin istrirahat." Lusiana menampik anggapan suaminya jika dia memberikan kode untuk mengajak suaminya itu segera bercinta.
" Memang kamu tidak kangen merasakan hubungan in tim, Lus?"
" Sudah jangan bicara seperti itu deh, Mas!" Lusiana segera menutup telinganya dengan guling.
Fariz lalu mendekat ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Lusiana yang tertidur membelakanginya.
" Lus, ini malam pengantin kita, lho. Kamu nggak ingin merasakan malam pengantin?" Fariz terkekeh sengaja menggoda Lusiana, sementara tangannya mengusap tubuh Lusiana yang masih berbalut baju tidur.
" Nanti sajalah, Mas. Hari ini aku lelah sekali." Lusiana beralasan.
" Kamu capek atau hanya alasan karena kamu malu?" ledek Fariz kembali. " Jangan ditutupi sama guling begitu dong, Lus Malu sama Naufal tingkah kamu seperti anak kecil seperti ini." Kini Fariz menyingkirkan guling yang menutupi kepala Lusiana.
" Mas, jangan gangguin, dong!" keluh Lusiana.
" Aku nggak kepingin ganggu kamu kok, Lus. Aku ingin memberikan sesuatu yang nikmat untukmu, yang sudah lama tidak kamu rasakan," bisik Fariz lalu mencium bibir Lusiana.
" Jangan tegang dong, Lus. Kamu sudah lama tidak merasakan berciuman, ya?" Fariz terkekeh melihat Lusiana yang masih nampak canggung bermesrakan kembali dengannya.
" Nggak usah meledek deh, Mas!" kritik Lusiana memberengut membuat Fariz terpingkal.
" Jangan-jangan kamu sudah lupa nikmat bercinta itu seperti apa?" Fariz masih belum berhenti menggoda sang istri namun tangannya mulai melucuti satu persatu kancing baju tidur yang dikenakan oleh Lusiana.
" Selama ini bagaimana kamu melampiaskan has rat kamu jika ingin bercinta?" tanya Fariz penasaran. Karena Lusiana selama ini memilih hidup sendiri.
" Nggak usah kepo deh, Mas!" protes Lusiana.
" Bukan kepo, tapi aku serius tanya. Puluhan tahun kita pisah, apa kamu tidak merasa ingin berhubungan in tim dan bersentuhan dengan pria?" selidik Fariz penasaran apakah istrinya itu pernah berhubungan dengan pria lain karena Lusiana selama ini memutuskan untuk tidak menikah kembali setelah mereka bercerai.
" Aku nggak pernah memikirkan hal itu, Mas. Aku lebih memilih menyibukkan diri dengan bekerja dan berkumpul dengan teman." Lusiana akhirnya menceritakan apa yang dia alami selama hidup menyendiri.
" Benarkah? Tidak pernah berkeinginan bermesraan dengan pria lain?" Fariz kembali mencium bibir Lusiana penuh damba karena sejujurnya dia pun masih menyimpan perasaan cinta di hatinya yang paling dalam kepada Lusiana.
Lusiana menganggukkan kepalanya. " Iya, karena rasa cintaku nggak bisa aku berikan kepada pria lain. Bagaimana mungkin aku mempunyai keinginan untuk bercinta dengan pria lain?" Bagi Lusiana sendiri melakukan hubungan in tim itu harus dengan orang yang dia sayangi, jadi dia tidak pernah melakukannya dengan sembarang laki-laki apalagi hanya pemuas naf su saja.
" Dua puluh tahun lebih kamu tidak berhubungan in tim, apa kamu lupa cara melayani suami?" Fariz menyeringai seraya membelai wajah Lusiana yang belum menampakkan keriput walaupun usianya sudah lima puluh tiga tahun.
" Mana mungkin aku lupa!" sanggah Lusiana.
" Masa, sih? Waktu dulu kita masih menikah saja kamu lebih sibuk dengan pekerjaan daripada memasak untukku, membuatkan kopi untukku. Aku yakin sekarang juga kamu pasti masih lupa melakukan melakukan hal itu." Fariz tertawa menyindir istrinya.
" Siapa bilang? Buktinya aku tadi menawarkan kopi untuk Mas Fariz, kan? Sudah deh, Mas. Jangan meledek terus ..." Lusiana kesal karena Fariz terus saja meledeknya.
" Kamu masih ingat gaya bercinta yang kita sukai, Lus?" tanya Fariz mencoba menguji ingatan Lusiana tentang gaya bercinta mereka dulu.
" Kita sudah nggak muda lagi, Mas. Jangan aneh-aneh, deh!" Lusiana memperingatkan Fariz soal usia mereka saat ini tidak semuda dulu saat mereka sanggup melakukan berbagai gaya dalam menyalurkan has rat bercinta mereka.
Fariz menyeringai lalu berucap, " Usia boleh tua, tapi jiwa dan keinginan untuk bercinta tetap selalu berjiwa muda, Lus." Fariz lalu membuka pakaiannya dan badan berotot pria itu masih terlihat jelas, sepertinya Fariz masih tetap menjaga kebugarannya hingga masih terlihat awet muda. Fariz pun mulai melakukan pemanasan-pemanasan untuk membangkitkan has rat mereka sebelum akhirnya mereka mengakhiri dengan penyatuan untuk mendapatkan pelepasan setelah sekian lama tertahankan.
***
" Pa, Uncle Gavin kasih undangan untuk Papa Fariz dan Mama Lusi beserta keluarga makan malam di restoran hotelnya Uncle sebagai hadiah pernikahan Papa dan Mama." Azkia memberitahukan kabar undangan dari Gavin kepada Raffasya saat mereka menyantap makan malam.
" Di restoran hotel? Pasti mahal makanan di sana, Ma." Raffasya menyahuti.
" Gratis, Pa. Mau mahal seberapa pun harganya judulnya kita nggak usah keluar uang." Azkia menanggapi.
" Enak sekali jadi kamu, ya? Fasilitas lengkap ..." sindir Raffasya terkekeh.
" Iya, dong! Mau nginap di hotel gratis, ada Uncle. Mau makan gratis, tinggal ke cafe suami. Mau kuliah gratis, tinggal minta dibayarin Papaku. Nikmat mana yang mesti aku dustai? Hahaha ..." Azkia berkelakar. " Aduh ..." Azkia tiba-tiba meringis seraya memegang perut.
" Kenapa, Ma? Apa sudah terasa?" Raffasya sampai bangkit dan bergegas menghampiri Azkia.
" Apa mau melahirkan sekarang?" tanya Raffasya cemas.
" Nggak, Pa. HPL masih dua Minggu lagi, kok. Ini tadi dedek bayinya kayak nendang-nendang. Kayaknya dia ikut senang lihat Mamanya ketawa tadi." Azkia lalu terkikik mengelus perutnya.
" Oh, dedek ikut girang kayak Mama, ya?" Raffasya menciumi perut Azkia menunjukkan jika dia begitu menyayangi calon anak mereka.
" Iya, Pa. Kan sama-sama perempuan ..." Azkia terkekeh.
" Minggu depan aku akan mulai kerja dari rumah saja. Aku nggak mau melewatkan persalinan kamu seperti dulu lagi." Raffasya berjanji tidak ingin seperti dulu saat dia tidak bisa menemani istrinya yang akan melahirkan.
" Duuuuhh, sweet banget sih, Papa ini." Azkia sampah mencubit kedua pipi suaminya saking merasa gemas.
" Aku ini 'kan Papa dan suami siaga, Ma." Raffasya menyeringai.
" Ke atas yuk, Pa. Kasihan Naufal sudah menunggu, sama aku mau kasih kabar ke Mama Lusi soal rencana makan malam besok lusa."
***
" Pa, Mama belum pulang?" Saat turun dari kamarnya Rosa menjumpai Papanya sedang duduk di sofa ruang tamu dengan memangku laptop.
" Mama sedang mampir dulu ke rumah Kakakmu. Ada beberapa barang Papa yang ketinggalan di sana," sahut Fariz. " Dan kalau sudah bertemu dengan cucunya, Mamamu itu pasti nggak ingat pulang," lanjutnya.
" Oh ..." Rosa terkekeh, dia sudah menduga jika sudah bertemu dengan Naufal, pasti rasanya tidak ingin berpisah dengan bocah kecil yang menggemaskan itu.
" Hmmm, Pa ... Papa sedang sibuk, ya?" Rosa ingin membicarakan soal Gibran namun dia takut mengganggu aktivitas Papanya yang terlihat sedang sibuk.
" Bicara apa, Ca? Bicara saja, Papa nggak sedang sibuk, kok." jawab Fariz.
" Hmmm, ini soal masalah pribadi, Pa. Tapi Papa janji jangan marah, ya!?" Rosa masih nampak ragu dan takut dia akan mendapat tanggapan kurang menyenangkan dari Papanya.
" Ada apa, Nak? Cerita saja sama Papa." Fariz menaruh laptopnya di atas meja lalu melepas kaca matanya.
" Tapi Papa janji jangan marah dulu, ya?" Rosa meminta Papanya untuk tidak memarahinya.
" Katakan saja, Nak."
" Pa, kalau ada pria yang suka sama Oca lalu dia ingin jadi pacar Oca, apa Papa mengijinkan Oca untuk pacaran?" Walau ragu namun akhirnya Rosa menyampaikan juga apa yang menjadi permasalahannya.
Fariz memperhatikan wajah cantik putrinya itu. Dia menyadari jika putrinya itu sudah beranjak dewasa. Saat ini Rosa sudah memasuki usia dua puluh tahun, tentu tidak bijak jika dia melarang putrinya itu dekat dengan lawan jenis walaupun dia sendiri takut putrinya itu terjebak dengan pria yang tidak baik.
Fariz menarik nafas panjang sebelum mulai mengucapkan kalimatnya.
" Apa Oca juga menyukai pria itu?" tanya Fariz kemudian.
" Dia baik, Pa. Orangnya menyenangkan," aku Rosa jujur.
" Papa nggak pernah mendengar Kakak atau Kakak ipar kamu cerita soal pria yang dekat sama kamu ke Papa. Apa mereka sudah tahu?" Biasanya yang berhubungan dengan Rosa, Raffasya atau Azkia akan mengabarinya. Namun kali ini anak dan menantunya itu tidak memberi kabar apa-apa.
" Kak Raffa, Kak Kia sama Mama salah paham sama dia, Pa. Karena menganggap jika pria itu sudah punya istri." Akhirnya Rosa pun menceritakan kejadian sesungguhnya kepada Papanya bagaimana dia bisa mengenal Gibran sampai dengan kesalahan pahaman itu terjadi. dan pengusiran Gibran oleh Lusiana.
" Apa pria itu benar baik, Nak?" tanya Fariz merasa belum yakin.
" Oca yakin dia baik kok, Pa. Kak Abhi juga kenal kok sama orangnya. Kalau dia bukan pria yang baik, Kak Abhi pasti akan melarang Oca dekat dengan pria itu, Pa." Rosa berusaha meyakinkan Papanya jika Gibran adalah seorang pria yang baik.
" Bawalah dia kemari, perkenalkan dengan Papa, Mama dan kakak kamu agar kami mengenal dia." Fariz meminta Rosa mengenalkan Gibran kepadanya dan keluarga Rosa lainnya. " Besok kita akan ada acara makan malam, ada baiknya kamu mengundang dia untuk diperkenalkan kepada kami."
" Serius, Pa?" aura ceria langsung tergambar di wajah cantik Rosa mendapatkan ijin dari Papanya itu.
" Tentu saja Papa serius, Nak."
" Makasih ya, Pa." Rosa langsung memeluk Papanya karena Papanya memberikan kesempatan kepadanya untuk mengenalkan Gibran kepada keluarganya.
***
Setelah mendapatkan ijin dari Papanya, Rosa langsung bergegas masuk kembali ke dalam kamar karena dia ingin menyampaikan berita baik ini kepada Gibran jika pria itu menghubunginya nanti. Karena hampir setiap malam Gibran selalu meneleponnya.
Dan benar saja, tak sampai lima menit dia sampai di kamarnya suara dering telepon langsung berbunyi.
" Assalamualaikum, Kak." Rosa langsung menyambar ponselnya dan mengangkat panggilan masuk dari Gibran.
" Waalaikumsalam, belum tidur, Ca?" tanya Gibran.
" Belum, Kak."
" Kenapa? Masih tunggu telepon dari aku, ya?" Baru saja mulai menelepon, Gibran sudah mulai menggoda Rosa.
" Iya, Kak." Rosa menjawab seraya terkikik.
" Ada apa ini? Sepertinya kamu happy banget?" Gibran merasa penasaran karena mendengar tawa kecil Rosa.
" Kak, besok malam kami akan mengadakan acara makan malam di hotel. Papaku mengundang Kak Gibran di sana." Rosa mengabarkan berita baik itu kepada Gibran.
" Papa kamu mengundang aku?" Gibran terkejut mendengar undangan Papa dari Rosa. " Serius, Ca?" Gibran hampir tak percaya.
" Iya, Kak. Apa Kak Gibran mau datang ke sana?"
" Sudah pasti aku akan datang, Ca." Tentu saja Gibran tidak akan melepaskan peluang berkenalan dengan orang tua dan keluarga Rosa.
" Memangnya kamu cerita apa ke Papa kamu sampai Papa kamu mengundang aku ke acara keluarga kamu, Ca?" selidik Gibran penasaran dan ingin tahu bagaimana sampai Fariz tahu tentang dirinya. " Apa kamu bilang ada cowok yang sedang mendekati kamu?"
" Hmmm, iya, Kak. Aku bilang apa adanya ke Papa tentang Kakak," aku Rosa jujur.
" Apa Papa kamu marah?"
" Nggak kok, Kak. Papa malah suruh aku kenalkan Kakak ke Papa."
" Ya sudah, aku pasti akan datang untuk bertemu dan berkenalan ke Papa juga keluarga kamu sekalian minta ijin untuk menjadi pacar kamu. Semoga saja Papa kamu merestui."
Rona merah langsung membias di wajah putih Rosa saat mendengar ucapan Gibran yang terang-terang menegaskan jika pria itu berkeinginan menjadi kekasihnya.
*
*
*
Bersambung ...
Untuk readers MYME, mohon dukungan di karyaku yg baru MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO, ya. Like, komen readers semua sangat penting untuk populeritas dan level karya. Makasih🙏
Happy Reading ❤️
"