
Lusiana turun dari mobilnya saat dia sampai di Raff FM & Caffe. Dia memandang sesaat bangunan di hadapannya itu kemudian melangkah menuju pintu masuk cafe.
" Anak saya ada?" tanya Lusiana kepada security yang berjaga di depan cafe.
" Maaf, maksud ibu ini siapa, ya?" Security itu bingung dengan pertanyaan Lusiana. Karena ini adalah kedatangan Lusiana yang pertama kalinya di tempat itu, wajar jika security tidak mengenal Lusiana.
" Anak saya, Raffa. Apa dia ada di sini?"" tanya Lusiana dengan nada kesal karena Security itu tak cepat paham akan maksudnya.
" Oh, Mas Raffa ada, Bu. Silahkan masuk saja di lantai atas, Bu." Security mempersilahkan Lusiana untuk masuk ke dalam cafe.
Lusiana pun akhirnya masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh security di lantai atas.
" Ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya seorang pegawai cafe, karena saat muncul dari tangga Lusiana terlihat mencari sesuatu, bukan seperti pengunjung cafe lainnya yang ingin menikmati makanan dan minuman di cafe milik Raffasya itu.
" Ruangan Raffa yang mana?" tanya Lusiana kepada pegawai cafe yang menyapanya tadi.
" Ibu mencari Mas Raffa? Maaf dengan Ibu siapa, ya?" tanya pegawai cafe itu.
" Saya Mamanya Raffa, saya ingin bertemu dengan anak saya," sahut Lusiana kemudian.
" Mama? Ada apa Mama kemari?"
Suara Raffasya yang baru saja keluar dari ruangannya terdengar membuat Lusiana menolehkan pandangan ke arahnya.
" Raffa?" Lusiana langsung mendekat ke arah Raffasya dan memperhatikan wajah putranya yang nampak sedikit memar. " Ya ampun, Raffa. Kamu ini sudah mau menikah masih saja berantem-berantem gini." Lusiana menangkup wajah Raffasya dengan telapak tangannya.
Raffasya langsung menoleh ke arah pegawai cafenya seolah memberikan kode kalau pegawainya itu diminta pergi meninggalkan dia.
" Permisi, Mas." Pegawai cafe pun mengerti apa yang dimaksud oleh Raffasya hingga akhirnya meninggalkan Raffasya berdua dengan Mamanya.
" Mau apa Mama ke sini?" tanya Raffasya mencoba mengurai tangan Mamanya yang sedang memegangi wajahnya.
" Mama ingin bicarakan soal pernikahan kamu dengan Azkia. Mama dengar dari Mamanya Azkia kalau Azkia menolak menikah sama kamu. Ini pasti karena sikap buruk kamu selama ini ke dia," tuding Lusiana.
" Mama nggak usah sok tahu, deh!" Raffasya lalu berjalan meninggalkan Mamanya dengan menuruni anak tangga.
" Raffa kamu ke mana?" Lusiana berjalan mengikuti langkah putranya. " Raffa, Mama ke sini itu mau membicarakan pernikahan kalian." Lusiana mencengkram lengan Raffasya agar tidak pergi meninggalkannya.
" Raffa mau jemput Almayra, Ma!"
" Almayra? Siapa itu Almayra? Astaga, Raffa! Kamu sudah menghamili Azkia masih selingkuh dengan wanita lain?"
Raffasya menolehkan pandangan ke sekitar, untung saja saat ini sedang diputar musik dari Radio FM nya, jadi apa yang diucapkan Mamanya tidak terlalu menarik perhatian pengunjung cafe yang datang.
" Terus saja Mama teriak biar semua orang tahu apa yang sudah dilakukan Raffa terhadap anak gadis orang!" sindir Raffasya menegur Lusiana, membuat Lusiana langsung menutup mulutnya karena dia keceplosan bicara.
" Raffa mau ke Bandung jemput Almayra. Almayra itu Azkia, jadi Mama jangan halangi Raffa lagi!" Raffasya kembali melangkah meninggalkan Mamanya ke luar dari cafe.
" Raffa, Raffa, tunggu!! Kamu mau jemput Azkia? Mama ikut kalau begitu, siapa tahu Mama bisa bujuk Azkia agar mau menikah dengan kamu." Lusiana berlari mengikuti langkah Raffasya kembali.
" Yang ada Mama nanti akan bikin kacau dan membuat Almayra malah terus menolak. Sudah deh, Ma. Mama nggak usah campur urusan ini." Raffasya melarang Mamanya yang berminat ingin mengikutinya menemui Azkia. Setelah itu Raffasya berjalan menuju mobilnya meninggalkan Lusiana yang menggerutu karena tidak diijinkan ikut menemui Azkia.
***
Azkia menatap pria yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumah Mama Nabilla. Pria yang selama ini dicintainya.
" Kak Gibran?"
Gibran langsung menaikkan pandangan ke arah Azkia saat mendengar suara wanita itu memanggil namanya.
" Kia ..." Gibran langsung berdiri lalu menghampiri Azkia dan langsung menggenggam tangan Azkia.
" Ada apa Kak Gibran kemari?" tanya Azkia, dia tidak tahu siapa lagi yang akan datang menemuinya lagi setelah ini.
" Kia, Kia aku nggak rela kamu menikah dengan Raffa, Kia." Gibran yang merasa takut kehilangan Azkia sampai menemui Azkia di rumah Mama Nabilla.
" Aku juga nggak mau menikah dengan Kak Raffa!" Azkia kemudian melepaskan genggaman. tangan Gibran pada tangannya lalu berjalan dan duduk di sofa.
" Tapi Om Yoga sudah mendaftarkan pernikahan kamu dengan Raffa, Kia." Gibran mengikuti langkah Azkia dan duduk di samping wanita itu.
" Aku nggak perduli Papa melakukan itu! Pokoknya aku nggak mau menikah dengan Kak Raffa!" Azkia melipat tangannya di atas dada dan berkata dengan sangat kesal mengingat rencana Papanya yang memaksanya untuk menikah dengan Raffasya.
" Kia, menikahlah denganku. Nanti aku akan bujuk Papamu untuk membatalkan pernikahan kamu dan Raffa." Gibran berusaha membujuk Azkia agar mau menikah dengannya.
" Pernikahan Kia dan Raffa tidak mungkin bisa dibatalkan, Gibran." Suara Mama Nabilla membuat Azkia dan Gibran tersentak kaget.
" Nenek ..." Gibran langsung salah tingkah karena ketahuan berusaha mempengaruhi Azkia.
" Gibran, Nenek mengerti kamu kecewa dengan peristiwa yang menimpa pada Kia. Tapi saat ini Raffa yang paling berhak menikahi Kia karena ada darah daging Raffa di rahim Kia." Mama Nabilla menasehati Gibran agar mengurungkan niatnya yang ingin membatalkan pernikahan Azkia dan Raffasya.
" Tapi Kia tidak mencintai Raffa, Nek. Bagaimana mungkin Kia bisa hidup dengan Raffa?" protes Gibran.
Mama Nabilla tersenyum menanggapi pernyataan dan pertanyaan yang sama dengan yang pernah dia dengar dari mulut Azkia.
" Bagaimana hidup kita ke depan itu tidak ada yang tahu, Gibran. Yang Nenek lihat niat Raffa mengakui apa yang sudah diperbuatnya kepada Azkia itu adalah suatu yang patut dihargai. Tidak semua orang mau mengakui kesalahannya. Jadi kita tidak boleh menilai buruk terhadap orang lain." Kembali Mama Nabilla memberikan nasehatnya. Membuat Gibran akhirnya diam tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Nenek dari Azkia itu.
Setelah diberi nasehat oleh Mama Nabilla akhirnya Gibran pun memutuskan pulang ke Jakarta dengan sangat kecewa, karena dia tidak berhasil membujuk Azkia untuk mau menikah dengannya, apalagi Mama Nabilla menghalangi niatnya.
***
Azkia termenung menatap langit-langit kamarnya, dia mengingat kata-kata Neneknya yang mengatakan jika pernikahannya dengan Raffasya tidak mungkin bisa dibatalkan, sedangkan dia sendiri tidak ingin menikah dengan Raffasya.
" Aku harus cari cara agar nggak jadi menikah dengan Kak Raffa. Apa aku harus kabur lagi dari sini?" gumam Azkia.
Azkia terus berpikir keras merencanakan agar pernikahannya dengan Raffasya batal.
" Kalau aku kabur, nanti Papa, Mama sama Nenek pada bingung nggak, ya?" Azkia kemudian bangkit dan berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku jari tangan di kamarnya.
Setelah cukup lama dia berpikir, akhirnya dia menemukan cara untuk mengatasi masalahnya.
" Apa aku pakai cara itu saja, ya?" Kening Azkia sampai berkerut karena berpikir keras agar keinginannya itu tercapai. " Aku rasa nggak ada cara lain selain itu, karena Papa nggak mungkin membatalkan keputusannya.
Tok tok tok
" Teh, disusulin sama arjunanya tuh di luar!" Suara ketukan pintu dan teriakan Lulu terdengar dari luar kamar Azkia.
Azkia kemudian berjalan dan membuka pintu kamarnya.
" Berisik banget nih, bocil!" ketus Azkia mendengar suara Lulu yang berteriak kepadanya.
" Pangeran kodok?!"
" Ya ampun, ganteng-ganteng seperti itu dibilang pangeran kodok." Lulu tertawa mendengar umpatan Azkia. Dia kemudian menyentuh perut Azkia. " Calon dedek bayi, masa Papanya dikata pangeran kodok sama Mama?" sindirnya kemudian berlalu meninggalkan Azkia yang masih berdiri di dekat pintu.
" Mau apa lagi sih, Kak Raffa kemari?" keluh Azkia, dia kemudian teringat akan rencananya itu, membuat Azkia akhirnya meninggalkan kamarnya untuk menemui Raffasya.
" Mau apa lagi Kak Raffa kemari?" tanya Azkia seraya melipat tangan di dada sesampainya dia di ruang tamu menemui Raffasya yang sedang berbincang dengan Mama Nabilla.
" Kia, Kia nggak boleh bicara seperti itu, Nak. Raffa ke sini itu karena ingin menjemput Kia untuk pulang ke Jakarta." Mama Nabilla kemudian berdiri dan menghampiri Azkia. Mama Nabilla lalu menuntun Azkia untuk duduk dan berbicara dengan Raffasya, setelah itu Mama Nabilla berpamitan meninggalkan mereka berdua.
Azkia terkesiap melihat beberapa lebam di wajah Raffasya. Dia menduga jika itu adalah hasil karya keluarganya.
" Gue datang kemari buat jemput lu, gue ingin bertanggung jawab atas janin yang ada di perut lu itu," ucapan Raffasya membuat Azkia mengerjapkan matanya karena dia tadi sedang memperhatikan wajah lebam Raffasya.
" Pede banget, sih? Siapa juga yang mau menikah dengan Kak Raffa?" Azkia lalu membuang muka tak ingin ketahuan Raffasya jika dia tadi sedang memperhatikan Raffasya.
" Lu nggak bisa begini terus, May. Kita harus menikah secepatnya sebelum banyak orang yang tahu tentang perut lu yang semakin membesar."
Azkia lalu melirik ke arah pintu ke ruangan dalam di mana Neneknya tadi masuk dan berharap Neneknya tidak mendengar perkataannya nanti.
" Oke, aku akan pulang ke Jakarta tapi dengan satu syarat. Kalau Kak Raffa setuju sama syarat yang aku ajukan, aku juga akan setuju dengan pernikahan itu."
" Pernikahan kita ini mendesak, kalau lu nggak hamil dan nggak ada kejadian kemarin, gue juga nggak akan maksa buat nikah sama lu!" Raffasya merasa kesal dengan sikap Azkia yang terlalu keras, padahal semestinya Azkia lah yang membutuhkan dirinya.
" Kalau Kak Raffa nggak mau mengikuti syarat dari aku, ya sudah pulang saja sana!" Azkia kemudian bangkit dan hendak meninggalkan Raffasya.
" Oke, apa syarat yang lu mau?" Akhirnya Raffasya memilih mengalah.
" Aku akan mengikuti apa yang Papa inginkan, tapi setelah anak ini lahir, aku ingin pernikahan itu diakhiri, bagaimana?" Azkia menyebutkan syarat yang dia ajukan kepada Raffasya.
Raffaya terkejut dengan syarat yang diminta oleh Azkia.
" Lalu bagaimana dengan bayi itu?"
" Dia akan ikut aku, biar aku yang mengurusnya. Bagaimana?"
Raffasya mendengus kasar mendengar permintaan Azkia yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.
" Oke, gue terima syarat yang lu ajukan. Tapi lu nggak boleh melarang gue untuk ketemu dia nantinya." Raffasya pun memberikan syarat kepada Azkia.
" Oke kalau Kak Raffa setuju, besok pagi aku akan pulang ke Jakarta. Kak Raffa pulang saja sana! Aku bisa pulang sendiri." Azkia kemudian berjalan meninggalkan Raffasya menuju kamarnya. Raffasya hanya menggelengkan kepala menghadapi sikap Azkia seperti itu.
***
Keesokan harinya Raffasya sudah datang kembali ke rumah Mama Nabilla. Dia sengaja menginap di hotel karena dia tidak mungkin membiarkan Azkia pulang sendirian dalam keadaan hamil muda.
" Nek, saya permisi dulu bawa Almayra pulang ke Jakarta." Raffasya berpamitan kepada Mama Nabilla seraya mencium tangan Mama Nabilla seperti jika dia berpamitan kepada Nenek Mutia, neneknya.
" Ya sudah, kamu hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut-ngebut ya, Raffa. Nenek titip cucu Nenek." Mama Nabilla menyahuti ucapan Raffasya.
" Baik, Nek."
" Kia pulang ya, Nek." Kini giliran Azkia yang berpamitan kepada Neneknya.
" Hati-hati ya, Nak. Jangan bikin pusing Papa Mama kamu." Mama Nabilla memeluk tubuh Azkia. " Nanti Nenek akan datang saat akad kalian."
" Assalamualaikum, Nek."
" Waalaikumsalam ..."
Setelah berpamitan dengan Mama Nabilla, Azkia dan Raffasya kemudian berjalan menuju mobil Raffasya. Raffasya yang membawakan koper milik Azkia dan menaruh di bagasi belakang mobilnya, setelah itu Raffasya membukakan pintu untuk Azkia namun Azkia justru membuka pintu sendiri dan memilih ingin duduk di kursi belakang
" Gue bukan supir lu, lu duduk di depan!" Raffasya menutup pintu yang dibuka oleh Azkia.
Azkia mendelik ke arah Raffasya karena sikap Raffasya yang dianggapnya terlalu memaksa membuat dia akhirnya mengikuti apa yang diinginkan pria itu.
Sepajang perjalanan Bandung-Jakarta mereka berdua hanya terdiam, tak ada obrolan di antara dua manusia berlain jenis itu di dalam mobil, hanya suara penyiar radio dan beberapa lagu yang terdengar di dalam mobil milik Raffasya itu.
" Hoek ..." Tiba-tiba Azkia merasakan mual.
" Lu mual, May?" Raffasya terlihat cemas saat Azkia terlihat ingin mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
" Hoek ...."
" Lu bisa tahan sebentar sampai rest area? Bentar lagi dekat rest area." Raffasya meminta Azkia menahan rasa mualnya karena sebentar lagi mereka akan melewati rest area.
Untung saja mereka hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk sampai di rest area. Setelah mobil Raffasya terparkir, Azkia langsung berlari menuju toilet membuat Raffasya panik melihat Azkia yang berlari.
" May, tunggu! Jangan lari-lari!" Raffasya segera turun dari mobil dan berlari menyusul Azkia.
" Mas, ini toilet wanita." Petugas yang sedang membersihkan toilet menghadang Raffasya yang hendak masuk ke dalam toilet wanita.
" Hmmm, Mbak. Istri saya sedang hamil. Dia mual-mual di dalam, saya hanya ingin membantunya saja." Raffasya sampai harus mengaku jika dia dan Azkia adalah pasangan suami istri agar mendapat ijin masuk ke dalam.
" Maaf ya, Mas. Mas tunggu saja di sini." Petugas itu tetap tidak bisa mengijinkan Raffasya yang ingin masuk.
" May, lu nggak apa-apa?" Teriak Raffasya dari luar toilet wanita karena Azkia tidak juga keluar dan menyahuti perkataan Raffasya.
" Mbak, saya minta bantuan Mbak. Tolong liatin cewek yang pakai sweater warna merah di dalam. Saya khawatir dia kenapa-kenapa." Raffasya meminta bantuan petugas itu untuk mengecek keberadaan Azkia.
" Baik, Mas. Saya lihat dulu ke dalam."
Saat petugas itu memutar badannya ingin masuk ke dalam toilet, terlihat Azkia keluar dari dalam toilet dengan memijat pelipisnya.
" May, lu nggak apa-apa?" Raffasya langsung mendekat ke arah Azkia.
" Ini gara-gara Kak Raffa bawa mobilnya nggak enak! Jadi bikin aku pusing dan muntah-muntah! Makanya kalau nggak bisa bawa mobil jangan gaya-gayaan pakai mobil segala! Nyusahin orang saja!" Gerutu Azkia kemudian meninggalkan Raffasya untuk kembali ke mobil milik pria itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️