MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Aku Akan Melindungimu



Krek


Azkia yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menolehkan wajahnya ke arah pintu saat dia mendengar pintu kamar terbuka dan terlihatlah sosok Raffasya yang masuk ke dalam kamar.


" Ketuk pintu dulu dong kalau mau masuk kamar!" protes Azkia langsung melilitkan kembali handuk yang hendak dilepasnya karena dia ingin memakai baju selepas membersihkan tubuhnya.


" Ini kamarku, untuk apa pakai ketuk pintu segala?" sahut Raffasya kemudian melangkah ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana dengan mata masih mengarah kepada istrinya.


Azkia memutar bola matanya kemudian mengambil pakaian dan memutuskan untuk mengganti pakaian di dalam kamar mandi.


" Kenapa pakai ditutupi segala? Bukannya sudah pernah aku lihat semua? Termasuk yang gersang itu." Seringai tipis terukir di sudut bibir Raffasya.


Azkia langsung mendelik saat Raffasya masih mengolok soal gersang, padahal suaminya kini justru sering mengincar daerah yang disebutnya gersang itu. Namun Azkia memilih terus melangkah ke arah kamar mandi dan tak ingin terus meladeni suaminya, sementara Raffasya terus menyeringai karena berhasil membuat Azkia merasa kesal.


Setelah berpakaian, Azkia kembali ke dalam kamar. Dia masih menemukan suaminya itu duduk bersantai di sofa.


" Weekend minggu depan aku akan menginap di rumah Papa, karena Rayya mau bertunangan dengan Kak Rama." Azkia sengaja menatap suaminya karena dia ingin mengetahui reaksi Raffasya saat mendengar wanita idaman suaminya itu akan bertunangan.


Raffasya menatap serius saat Azkia mengabarkan soal pertunangan Rayya, wanita idamannya sejak dia kecil.


" Kemarin sempat kenalan nggak sama cewek yang mirip Rayya di restoran itu?" sindir Azkia. " Minta nomer HP nya nggak?" ledeknya kemudian.


Raffasya yang mendengar sindiran Azkia langsung bangkit dan berjalan ke arah istrinya itu dengan wajah serius dan rahang mengeras.


Melihat Raffasya berjalan mendekatinya Azkia langsung beringsut dan segera berlari ke arah pintu kamar karena dia takut akan diserang kembali oleh suaminya. Tapi tangan Raffasya lebih cepat menghalangi gerak Azkia hingga berhasil menahan istrinya itu kabur dari kamar.


" Kak aku nggak mau ya, Kak! Sebentar lagi Maghrib, aku nggak mau harus mandi lagi!" protes Azkia.


Ucapan Azkia membuat Raffasya langsung menyeringai.


" Kamu bilang aku me sum, ternyata pikiran kamu ini yang me sum!" Raffasya menyentil kening Azkia.


" Aaawww ...!" Azkia mengusap keningnya yang terkena sentil suaminya.


" Kak Raffa KDRT banget tahu nggak, sih!" tuding Azkia seraya melotot.


" KDRT? KDRT itu yang seperti apa? Seperti ini? Cup ..." Raffasya mengecup kening Azkia yang tadi dia sentil. " Seperti ini? Cup ..." Raffasya kembali mengecup pipi kanan Azkia. " Yang begini? Cup ..." Sebelah kiri pipi Azkia pun kena kecupan bibir Raffasya. " Atau yang seperti ini?" Raffasya lalu membenamkan sebuah kecupan di bibir Azkia yang terasa manis dirasanya.


Azkia sontak terbelalak mendapati sikap Raffasya yang harus dia akui sangat manis itu. Namun dia langsung mengerjapkan mata tak ingin terbuai dengan sikap manis Raffasya.


" Jangan cari-cari kesempatan ya, Kak! Dasar otak me sum!" Azkia mendorong tubuh Raffasya yang memeluknya. " Awas aku mau keluar!"


" Kamu mau ke mana?" tanya Raffasya.


" Aku mau ke Nenek."


" Aku mau mandi, siapkan pakaianku dulu!" perintah Raffasya menghalangi Azkia yang ingin keluar dari kamarnya.


" Tinggal ambil sendiri saja, Kak Raffa 'kan tahu tempatnya di mana." Azkia menolak diperintah Raffasya untuk menyiapkan pakaian suaminya itu.


" Kalau diperintah suami itu harus menurut. Menyiapkan pakaian suami itu kewajiban istri tanpa harus diperintah terlebih dahulu. Aku sedang berusaha menjadi suami yang baik, jadi kamu juga harus berusaha menjadi istri yang baik. Cepat siapkan bajuku!" Raffasya mengurai pelukannya melepaskan tubuh Azkia dari dekapannya.


" Aku 'kan nggak tahu Kak Raffa ingin pakai baju apa??" Azkia masih aja beralasan agar tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya.


" Kamu 'kan tahu aku kalau malam pakai baju apa?" sahut Raffasya sambil melangkah ke arah kamar mandi.


" Kamu 'kan tahu aku kalau malam pakai baju apa??" Azkia mengikuti ucapan sang suami dengan mencebik. Dia lalu berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil pakaian yang diminta suaminya itu.


Azkia mengambil kaos tanpa lengan dan celana selutut, dan mencapit CD milik Raffasya dengan ibu jari dan telunjuknya.


" Hiihhh ..." Azkia melempar CD itu ke atas tepi tempat tidur seraya mengedikkan bahunya.


" Hei, kenapa seperti itu pegangnya? Bukannya kamu juga senang menikmati isinya?"


Azkia tersentak saat mengetahui ternyata suaminya itu masih berdiri bersandar di pintu sedang meloloskan pakaiannya, lalu melemparkan ke arah Azkia membuat Azkia segera menghindar agar tidak mengenai tubuhnya pakaian bekas pakai suaminya itu.


" Dasar Jo rok!" gerutu Azkia mendelik ke arah suaminya yang telah menutup pintu kamar mandi.


" Bukannya ditaruh ke keranjang pakaian kotor malah dilempar-lempar." Azkia lalu memungut pakaian Raffasya yang terjatuh di lantai.


Penciuman Azkia menangkap aroma yang menguar dari pakaian milik suaminya itu sama seperti aroma jaket milik Raffasya yang pernah ditinggal di kamar Azkia. Azkia kemudian mendekatkan pakaian itu ke hidungnya hingga dia merasakan aroma yang semakin menyeruak masuk ke dalam penciuamannya seraya memejamkan matanya.


" Kalau berani cium orangnya, jangan pakaiannya!"


Azkia kembali tersentak saat suara suaminya kembali terdengar dari kamar mandi. Azkia langsung menjauhkan pakaian Raffasya dari hidungnya lalu menoleh ke arah kamar mandi. Di sana dia melihat suaminya itu kembali berdiri bertelanjang dada dan berjalan ke arahnya.


Azkia berjalan mundur ke belakang saat suaminya semakin berjalan mendekatinya, hingga akhirnya tersudut di pintu.


" Kamu mulai menyukai aroma tubuhku, kan?" Raffasya menyangga kedua tangannya di pintu hingga posisi dia saat ini mengurung Azkia. Dan Azkia bisa merasakan aroma maskulin yang keluar dari tubuh liat suaminya itu.


" Kamu mau cium yang sebelah mana?" Raffasya mempersilahkan Azkia memilih bagian tubuhnya untuk dihirup aromanya.


" Bau ...!" Azkia langsung menutup hidungnya.


" Bau?? Bukannya kamu suka mencium bajuku?"


" Siapa juga yang mencium baju Kak Raffa?" Azkia mengelak dan menyangkal apa yang dituduhkan Raffasya kepadanya.


" Benar nggak mau cium aroma badanku? Enak, lho! Apalagi yang di sini." Raffasya mendekatkan ketiaknya ke arah wajah Azkia.


Raffasya tertawa melihat Azkia yang kesal dan terus memukuli tubuhnya. Setelah cukup puas mengerjai istrinya, dia pun berjalan meninggalkan Azkia menuju kamar mandi.


***


Nenek Mutia tertawa saat Azkia menceritakan bagaimana waktu Mamanya akan melahirkan dirinya.


" Jadi waktu Mamamu melahirkan, kakakmu ketinggalan di rumah sendirian?" tanya Nenek Mutia menanggapi cerita Azkia.


" Iya, Nek. Saking paniknya Papa sama Bu Ratna buru-buru karena Mama sudah mengalami kontraksi. Waktu hamilnya Kia juga Mama bandel banget deh, Nek. Senangnya jalan-jalan ke mall pas hamil besar tanpa sepengetahuan Papa. Setir mobil sendiri, melanggar lalu lintas sampai kena tilang polisi. Makanya Papa bilang aku jadinya begini orangnya. Beda banget sama dua adik perempuan aku yang kalem." Azkia terkikik kembali menceritakan tingkah Mamanya saat dia masih berada di dalam perut Natasha.


" Kia pasti senang ya, banyak saudara?" tanya Nenek Mutia kembali.


" Iya, Nek. Senang banyak saudara. Apalagi kalau lagi kumpul semua, pas Kak Alden pulang dari Aussie. Terus Uncle Gavin juga rumahnya sebelah rumah aku, Nek. Jadi banyak saudara."


" Keluarga Kia sangat dekat dengan sanak saudara lainnya, ya? Berbanding terbalik dengan Raffasya. Sejak Papa Mamanya berpisah, dia malah menjauh dari keluarga Papa dan Mamanya. Kalaupun ada yang dekat, hanya Radit saja, itupun kalau ada masalah dengan Raffa di sekolah, Om nya itu langsung bertindak. Makanya selama ini Raffa lebih dekat dengan Nenek."


" Nenek senang, akhirnya sebelum Nenek menutup mata, Raffa sudah menikah dan akan segera mempunyai anak. Nenek berharap dengan kehadiran Kia dan anak kalian ini, Raffa bisa menjalani hidupnya dengan normal. Nenek berharap, kamu bisa merubah hidup Raffa. Dia selama ini merasa kesepian. Dia membutuhkan sentuhan kasih sayang sebuah keluarga. Kamu terlahir dari sebuah keluarga yang harmonis. Hubungan silaturahmi kamu dan keluarga Papa dan Mama kamu juga sangat baik. Semoga hal itu akan tertular dalam rumah tangga kamu dan Raffa."


" Nenek minta agar Kia sabar menghadapi Raffa. Nenek minta maaf jika selama ini Raffa banyak membuat kesal atau menyakiti hati Kia baik dari sikap atau ucapannya. Nenek berharap Kia bisa memaafkan Raffa dan menerima Raffa sebagai suami Kia sampai kalian menua bersama."


" Raffa itu anak yang baik, hanya saja dia kehilangan tempat untuk bersandar. Nenek yakin, kalau Kia bisa menerima dan mencintai Raffa, Raffa pasti akan menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab."


Azkia mengerjapkan matanya. Dia tidak menduga jika Nenek Mutia begitu berharap kepadanya dan pernikahan dia dan Raffasya.


" Kia mau janji 'kan sama Nenek? Kalau Kia akan menemani Raffa. Jadi seandainya Nenek tutup usia, Nenek akan merasa tenang karena ada yang menjaga Raffa dan menyanyangi Raffa."


" Nek, Nenek jangan bicara seperti itu." Azkia langsung memeluk tubuh Nenek Mutia seraya menitikkan air matanya. " Nenek pasti akan sehat-sehat saja. Nenek nggak ingin melihat anak aku lahir dan tumbuh jadi anak-anak yang lucu memangnya?"


" Tentu saja Nenek ingin melihat cicit Nenek, kalau bisa sampai mereka dewasa. Tapi nanti Nenek akan merepotkan kamu dan Raffa, Nak. Karena mungkin Nenek sudah pikun dan selalu menyusahkan kalian."


" Nggak kok, Nek. Nenek nggak akan pikun. Kia selalu akan mengajak Nenek mengobrol biar Nenek nggak cepat pikun. Kia senang ada Nenek di sini, bisa diajak ngobrol, bisa bertukar pikiran sama Nenek. Jadi Nenek nggak boleh pergi. Nenek akan sehat-sehat saja." Azkia mendadak sedih dan terus memeluk Nenek Mutia.


Sementara dari lantai atas, Raffasya memperhatikan interaksi istri dan Neneknya. Seulas senyuman terukir di bibir pria berwajah tampan itu melihat keakraban dua orang wanita yang saat ini begitu penting dalam hidupnya. Dari apa yang diucapkan Azkia kepada Neneknya, dia yakin jika istrinya itu tidak akan bisa lepas darinya. Setidaknya dia yakin jika pernikahannya akan tetap berlangsung dan tidak berakhir seperti yang diharapkan oleh istrinya selama ini.


***


" May, kamu tahu kalau salah satu cewek yang menjebak kamu itu ternyata teman Gibran? Sepertinya dia itu menyukai Gibran, karena itu dia berbuat licik dengan menjebak kamu," ujar Raffasya saat mereka sedang berbaring di atas tempat tidur yang sama dengan posisi Azkia yang membelakangi suaminya dan bergelung selimut.


" Aku tahu, aku juga tahu kalau salah satu wanita itu adalah pacar Kak Raffa," ucap Azkia ketus.


Raffasya menatap punggung Azkia yang membelakanginya. " Pacarku? Aku bukan pacar dia!" Raffasya mengelak karena dia menduga jika pacar yang dimaksud Azkia adalah Gladys. " Kamu tahu Gladys dari mana?" tanya Raffasya penasaran karena dia tidak tahu bagaimana Gladys bisa kenal dan ikut menjebak Azkia.


" Dia temannya Shendy, tentu saja dia akan mendukung temannya, apalagi dia sendiri suka sama Kak Raffa." Azkia kemudian memutar posisinya hingga kini menghadap ke arah Raffasya. " Aku nggak ngerti, ya. Kenapa teman wanita Kak Raffa itu berpikiran kalau aku ini ingin merebut Kak Raffa?! Dia bilang kalau aku ini sengaja menggoda Kak Raffa. Aku rasa karena itulah mereka bersekongkol menjebak aku," lanjut Azkia kesal.


Raffasya pun merubah posisi dengan memiringkan tubuhnya dan kini berhadap-hadapan dengan Azkia.


" Kenapa kamu nggak ingin melaporkan mereka, padahal mereka sudah mencelakakan kamu?" Raffasya menatap wajah cantik Azkia yang tanpa make up.


" Kalau saja aku bisa lolos saat itu dan nggak bertemu Kak Raffa, mungkin aku akan mengejar mereka. Tapi apa yang terjadi dengan kita di Bandung, aku takut orang tuaku tahu apa yang terjadi dengan peristiwa itu," ucap Azkia lirih.


" Aku minta maaf, karena kecemburuan Gladys akhirnya kamu mengalami semua ini. Tapi aku janji, aku akan melindungi kamu dari orang-orang yang berniat jahat ke kamu. Termasuk memperkarakan Gladys dan teman Gibran ke jalur hukum, karena sudah berencana melakukan kejahatan ke kamu." Raffasya menyampirkan rambut Azkia yang menjuntai di pipi ke belakang telinga istrinya itu.


" Jangan, Kak. Aku nggak ingin hal ini dilaporkan ke pihak berwajib." Azkia menolak Raffasya yang berencana ingin melaporkan Shendy juga Gibran.


" Kenapa?"


" Aku ingin menjaga nama baik Papa. Aku nggak ingin ada berita-berita yang menyangkut pautkan nama Papa di sini." Dari awal Azkia memang tidak ingin membuat orang tuanya merasa khawatirkan dirinya.


Raffasya mendesah mendengar keputusan istrinya yang tidak ingin pelaku yang sudah berbuat jahat kepadanya itu diadili.


" Ya sudah kalau kamu nggak mau melaporkan mereka. Yang pasti aku akan melindungimu dan aku akan memberi pelajaran kepada mereka agar mereka tidak berani melakukan hal macam-macam lagi sama kamu." Raffasya memang berencana memberi balasan atas tindakan Gladys dan Shendy yang membuatnya akhirnya melakukan dosa dengan Azkia.


" Kak Raffa mau apa? Jangan macam-macam! Jangan cari perkara! Kak Raffa nggak kasihan sama Nenek?" Azkia memprotes sikap Raffasya yang sepertinya merencanakan sesuatu.


" Kau tenang saja, jangan mengkhawatirkan aku."


" Siapa juga yang mengkhawatirkan Kak Raffa? Aku hanya kasihan sama Nenek. Nenek pasti akan merasa sedih kalau Kak Raffa bikin masalah lagi." Azkia menampik jika dirinya merasa khawatir kepada suaminya itu.


" Lagipula apa susahnya, sih? Menikmati hidup tenang, tidak berbuat masalah dengan orang lain?" Azkia melanjutkan omelannya.


" Iya, iya, cerewet banget!" cibir Raffasya.


" Memang aku cerewet, namanya juga wanita!" Azkia memutar bola matanya dan memutar kembali tubuhnya hingga membelakangi tubuh suaminya lagi.


Raffasya tersenyum kemudian mendekati tubuh Azkia dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya itu.


" Terima kasih kamu sudah menyayangi Nenekku." Raffasya kemudian mengecup pipi Azkia dari belakang membuat Azkia tersentak seraya membelalakkan matanya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️