
Punggung tangan Azkia mengusap kulit selembut sutra bayi mungil yang tertidur di sampingnya. Bola matanya berkaca-kaca seakan tak percaya akan pandangannya, jika bayi mungil itu adalah anaknya. Anak yang hadir dari peristiwa yang tak terduga dengan pria yang selalu mencari masalah dengannya.
" Papa mana ya, Sayang? Kok nggak sampai-sampai? Apa masalah yang Papa hadapi sekarang ini begitu rumit sampai belum juga datang ke sini?" Azkia kembali merasa cemas mengetahui Raffasya masih belum juga datang.
" May ...."
Azkia langsung menolehkan pandangannya saat dia mendengar suara Raffasya dari arah pintu.
" Kak Raffa? Ya Allah, Kak Raffa kenapa??" Azkia terperanjat saat melihat penampilan Raffasya dengan plester perban di pelipisnya dengan jalan menyeret satu kakinya meninggalkan Abhinaya yang tadi menuntunnya.
" May ..." Raffasya memaksa langkah dan menahan rasa sakitnya karena dia ingin segera memeluk istrinya itu. Sedangkan Abhinaya memilih meninggalkan pasangan suami istri yang saling melepas rindu itu bertiga dengan bayi mereka.
" Kak Raffa ..." Azkia langsung menangis di pelukan Raffasya saat Raffasya berhasil mendekatinya. " Kak Raffa kenapa kok di perban begini?" Azkia menyentuh perban di dekat pelipis Raffasya.
" Aku nggak apa-apa, May." sahut Raffasya seraya menghujani ciuman di wajah Azkia.
" Nggak apa-apa gimana? Orang luka begini!" Azkia merasa jika Raffasya menutupi sesuatu darinya.
" Aku tadi terlalu terburu-buru ingin ke sini malah kena masalah kayak gini." Raffasya terkekeh tak ingin membuat Azkia khawatir dengan menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
Raffasya lalu menoleh ke arah bayi mungil yang tiba-tiba saja terbangun seakan menyadari kehadirannya, seketika cairan bening mengembun di bola matanya. Sama halnya dengan Azkia, Raffasya pun seakan bermimpi melihat miniatur dirinya itu kini telah lahir ke dunia ini.
" Ini anak kita, Kak." ucap Azkia ikut menatap bayinya itu. " Dia sangat tampan 'kan seperti Papanya?" Azkia kini menatap wajah suaminya kembali seraya mengusap wajah Raffasya yang masih menatap putranya.
" May, maafkan aku, aku nggak bisa menemanimu melewati perjuanganmu melahirkan anak kita. Maafkan Papa ya, Sayang." sesal Raffasya padahal dia ingin sekali menemani istrinya itu melahirkan anak mereka.
" Kenapa Kak Raffa nggak datang dari tadi? Waktu mau melahirkan dedek bayi sakit banget tahu, Kak." Azkia memberengut.
" Maafkan aku ya, May." Kali ini tangan Raffasya yang mengusap wajah Azkia yang masih menampakkan guratan kelelahan. " Tapi aku janji, jika kamu nanti hamil dan melahirkan lagi, aku akan mendampingi kamu."
" Iiiihhh, Kak Raffa." Azkia mencubit pinggang suaminya. " Baru juga melahirkan sudah bicara kalau hamil dan melahirkan lagi," gerutu Azkia mencebikkan bibirnya, membuat Raffasya tersenyum bahagia.
" Kak Raffa ingin gendong dedek bayinya?" tanya Azkia kemudian.
" Aku nggak pernah gendong bayi yang baru lahir, May. Aku takut salah gendong. Lagipula bahu aku masih terasa ngilu." Bukannya Raffasya tidak ingin menggendong anaknya, namun dia masih belum berpengalaman dalam menggendong bayi apalagi bayi yang baru lahir, dan juga akibat kecelakaannya yang baru dialaminya membuat pergerakan tangannya agak terganggu.
" Lho, Raffa. Kamu kok di sini, bukannya istirahat?" Natasha dan Yoga yang masuk ke dalam ruang rawat Azkia terkejut dengan kehadiran Raffasya di sana.
" Ma, Pa ..." Raffasya lalu menyamalami kedua mertuanya itu.
" Bagaimana kondisi kamu Raffa?" tanya Yoga.
" Cuma luka ringan saja, Pa." sahut Raffasya.
" Kamu seharusnya istirahat dulu, Raffa. Biar luka kamu cepat membaik." Natasha masih menyuruh Raffasya untuk beristirahat.
" Nggak apa-apa kok, Ma." Raffasya menyakinkan Mama mertuanya jika dia baik-baik saja.
" Oh ya, siapa nama cucu Papa ini?" tanya Yoga mengusap pipi bayi mungil menggemaskan itu.
" Namanya Athaya Naufal Pramudya, Pa. Anugrah dari Allah SWT yang murah hati dan bijaksana." Raffasya menyebutkan nama dan arti nama anaknya bersama Azkia
" Masya Allah, nama yang bagus dan artinya juga sangat indah. Semoga Athaya Naufal Pramudya kelak menjadi anak yang Sholeh, yang berguna dan bermanfaat bagi banyak orang sehingga bisa menaikkan martabat kalian sebagai orang tua." Yoga mendoakan kebaikan untuk cucunya.
" Aamiin ..." Semua yang berada di ruangan itu meng- Aamiin-kan ucapan bernada doa dari Yoga.
" Oh ya, nanti panggilan kecilnya siapa cucu Mama yang ganteng ini?" Natasha kemudian mengangkat tubuh mungil cucunya.
" Panggilannya Naufal, Ma." sahut Azkia.
" Terus nanti Naufal panggil Papa sama Mama apa? Jangan panggil Kakek Nenek, ya!? Mama 'kan belum tua-tua banget, belum keriput juga." Natasha menolak dipanggil Nenek oleh cucunya.
" Lalu kamu mau dipanggil apa, Yank? Grandma?" sindir Yoga.
" Panggil Mami saja ke Mama sama panggil Papi ke Papa, gimana?" Azkia memberikan pilihan untuk panggilan anaknya ke kedua orang tua Azkia.
" Nah, itu juga nggak apa-apa. Nanti Naufal panggilnya Mami ya, Sayang?" Natasha mencium gemas pipi berkulit lembut cucunya pertamanya itu. Sementara Yoga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang seolah menolak tua.
***
Dua orang pria dan seorang wanita nampak memasuki sebuah gedung kantor lantai lima sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang penjualan suku cadang mobil.
" Kami ingin bertemu dengan atasan Anda, apa dia ada?" tanya pria berambut cepak kepada security yang berjaga di depan.
" Apa Bapak-bapak ini sudah ada janji sebelumnya dengan Pak Nicko?" tanya pak satpam.
" Apa yang ingin kami sampaikan sangat penting, jadi tolong jangan halangi kami untuk bertemu dengan atasan Anda!" Satu pria lainnya yang berambut gondrong berbicara dengan nada tegas dan penuh intimidasi.
" Maaf, Pak. Saya hanya menjalankan tugas saya sesuai aturan yang berlaku. Jika Bapak-bapak ini tidak punya janji sebelumnya dengan Pak Nicko, Bapak-bapak tidak bisa menemui Pak Nicko, karena pekerjaan Pak Nicko itu sangat sibuk, Pak." Pak Satpam tak kalah tegas dengan tak memberikan ijin kepada kedua orang pria bertampang garang tersebut, karena memang dia ditugaskan seperti itu.
Pria berambut cepak itu tersenyum sinis menanggapi ucapan Security itu sambil melirik ke arah wanita yang datang bersamanya yang terlihat ketakutan.
" Jika Anda tetap ingin mempunyai pekerjaan, sebaiknya Anda jangan menghalangi kami! Jika Anda masih tetap menghalangi, itu artinya Anda melindungi seorang penjahat dan itu bisa membuat Anda masuk ke dalam penjara!" Pria berambut cepak itu kembali menggertak security di kantor Nicko.
Wajah security nampak menegang saat mendengar kata penjahat dan penjara.
" Cepat Anda beritahu atasan Anda jika kami ingin bertemu dengannya!" Pria berambut gondrong memerintah security untuk mengerjakan apa yang dimintanya.
Security itu tak punya pilihan selain memberitahu salah seorang pegawai di front office untuk memberitahukan ke sekretaris Nicko tentang kedatangan kedua orang tak dikenal.
Kedua orang pria itu adalah orang-orang suruhan Gavin yang merupakan anak buah dari Rizal. Saat mengetahui jika kecelakaan yang menimpa Raffasya memang direncanakan oleh seseorang, Yoga langsung meminta Gavin untuk meminta orang-orang pilihan dari Rizal untuk menanggani masalah yang menimpa Raffasya, dan orang yang tepat untuk mengatur hal ini adalah kakak sepupu dari istrinya yaitu Gavin.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit kedua pria itu dan wanita yang bersamanya sudah berada di dalam ruangan Nicko.
" Kami yang meminta dia mengantar kemari, karena kami ingin membawa Anda ke kantor polisi. Anda diduga terlihat dalam kecelakaan yang menimpa Raffasya." Pria berambut cepak menjelaskan tujuannya menemui Nicko.
Nicko tersentak saat mendengar perkataan yang bernada tuduhan kepadanya.
" Hei, Anda jangan sembarangan menuduh! Saya tidak terlibat dengan kecelakaan seperti yang Anda maksud! Ini fitnah! Ini namanya pencemaran nama baik! Saya tidak terima! Saya akan panggil pengacara dan akan menuntut balik kalian berdua!" geram Nicko balik mengancam kedua pria yang datang bersama Gladys dengan menunjuk tangan ke arah pria yang ada di hadapannya.
" Silahkan jika Anda ingin memanggil pengacara, berapapun pengacara yang Anda libatkan tidak akan menyelamatkan Anda dari jeratan hukum atas kejahatan yang telah kalian berdua lakukan!" Pria berambut gondrong tak gentar dengan ancaman yang dikatakan oleh Nicko.
" Dengar, Bung! Kami sudah tahu kalau Anda menyuruh orang untuk mencelakai Raffasya. Kami sudah menangkap orang suruhan Anda, jadi Anda tidak bisa menyangkal keterlibatan Anda dalam kecelakaan yang menimpa saudara Raffasya." Pria berambut cepak semakin menegaskan jika apapun yang dilakukan Nicko tidak akan menolong pria yang merupakan kekasih dari Gladys.
" Asal Anda tahu, Bung. Anda salah memilih lawan, sekali saja kau menyenggol Raffasya, nama besar seperti Prayoga Atmajaya, Gavin Richard dan Dirgantara Poetra Laksmana akan siap menjebloskan Anda. ke dalam penjara," Pria berambut cepak menebar ancaman dengan menyebutkan nama-nama besar pengusaha yang tentu saja sudah pasti Nicko kenal sebagai seorang pebisnis.
" Dan satu lagi, Lusiana Winata, dia adalah orang tua dari Raffasya, pemilik leasing ternama. Mereka-mereka itu adalah pemilik di perusahaan mereka, bukan bekerja pada perusahaan orang lain seperti Anda." sindir pria berambut gondrong.
" Dan nama-nama besar itu pasti bisa menyeret Anda ke jalur hukum dan membuat kalian berdua membusuk di penjara!" sambung pria berambut cepak melengkapi ancaman temannya.
Seketika Gladys dan Nicko langsung memucat saat nama-nama besar yang dia kenal sebagai pengusaha-pengusaha bonafit ternyata dekat dengan Raffasya, orang yang memang sengaja ingin dia singkirkan karena merasa kesal dan dendam karena perlakuan Raffasya di basement apartemen tempat tinggal Gladys beberapa hari lalu.
Beberapa jam sebelumnya ...
Gladys yang ingin keluar dari apartemennya dibuat terperanjat ketika dua orang pria berbadan kekar dengan jaket kulit dan kacamata hitam berdiri menghadang di depan apartemennya. Satu dari dua pria tersebut berkacak pinggang, satu orang lainnya melipat tangan di dadanya.
" Apa Anda yang bernama Gladys?" tanya salah satu pria berambut cepak.
" Memangnya kalian siapa? Ada keperluan apa kalian cari saya??" tanya Gladys ketus.
" Kami akan membawa Anda, karena Anda diduga terlibat dalam peristiwa kecelakaan yang dialami saudara Raffasya." Pria lainnya yang berambut gondrong menjawab apa kepentingan mereka menemui Gladys.
" Kecelakaan Raffa? Apa yang terjadi dengan Raffa? Apa dia baik-baik saja?" Gladys kembali terkejut saat mendengar Raffasya mengalami kecelakaan.
" Anda pintar sekali bersandiwara seolah tidak tahu dengan kelicikan Anda, padahal Anda sendiri pasti terlibat dalam masalah ini." sindir pria berambut cepak karena melihat Gladys yang seolah tidak tahu menahu apa yang terjadi pada Gladys.
" Saya benar-benar tidak tahu jika Raffa mengalami kecelakaan. Bagaimana keadaan Raffa sekarang? Apa dia baik-baik saja?" cemas Gladys.
" Sebaiknya Anda ikut kami untuk memberikan keterangan," ujar Pria berambut gondrong.
" Saya tidak mau! Kalian ini mau apa bawa saya? Saya tidak terlibat dengan tuduhan kalian!" Gladys menolak dibawa kedua orang tersebut.
" Kalau Anda tidak kooperatif, itu akan merugikan diri Anda sendiri, dan akan memudahkan Anda masuk ke dalam penjara."
Gladys membelalakkan matanya mendengar ancaman pria di hadapannya. Tangisnya pun seketika pecah.
" Tidak, saya tidak mau dipenjara! Saya tidak melakukan hal itu!" Gladys berteriak histeris.
" Bukankah Anda memang mempunyai dendam dan berencana ingin menghancurkan Raffasya?" selidik pria berambut cepak.
" Tidak! Saya tidak tahu apa-apa soal kecelakaan yang terjadi dengan Raffa! Bukan saya pelakunya!" sanggah Gladys.
" Anda bisa jelaskan nanti di kantor polisi!" Pria berambut gondrong tak kalah menebar ancaman membuat Gladys semakin ketakutan.
" Tolong jangan bawa saya ke kantor polisi, saya tidak terlibat!" Gladys tetap menolak, tidak mau dibawa oleh kedua pria suruhan dari Gavin Richard itu.
***
Raffasya dan Azkia berbaring di atas brankar yang sama di ruang rawat Azkia, karena baik Azkia maupun suaminya itu sama-sama tidak ingin dipisahkan. Sementara baby Naufal sendiri sudah kembali dipindahkan ke ruang bayi.
" Tadi sakit banget ya, May?" tanya Raffasya menatap wajah Azkia yang memang menyisakan lelah walaupun aura bahagia tetap terpancar di wajah istrinya itu.
" Bangetlah, Kak. Aku sampai cakar-cakar tangan Mama karena nggak kuat nahan sakitnya. Pasti tangan Mama pada lecet-lecet. Coba kalau ada Kak Raffa, pasti Kak Raffa yang aku cakar." Azkia melirik suaminya.
" Sakit dong, May. Masa aku dicakar, sih?"
" Memangnya Kak Raffa pikir melahirkan itu nggak lebih sakit daripada dicakar? Tulang-tulang itu rasanya kayak remuk semua lho, Kak." keluh Azkia karena Raffasya memprotes keinginannya.
" Iya, iya, maaf Mamanya Naufal ..." Raffasya langsung melingkarkan tangannya berniat memeluk Azkia. " Aaaakkkhh ...."
" Tangannya sakit lagi ya, Kak?" tanya Azkia saat terlihat suaminya merintih saat menggerakkan tangannya.
" Iya, masih ngilu."
" Kak Raffa jangan ngebut-ngebut dong bawa mobilnya. Kalau tadi terjadi sesuatu yang buruk sama Kak Raffa, Kak Raffa nggak kasihan sama aku dan Naufal? Aku nggak mau jadi janda muda lho, Kak."
" May, jangan bicara seperti itu! Kamu nggak akan menjadi janda! Kamu lihat aku masih hidup, masih sehat, kan? Aku nggak rela harus mati konyol karena kebut-kebutan dan meninggalkan kalian berdua. Aku masih ingin punya banyak anak bersama kamu dan aku nggak rela kalau kamu sampai menjadi janda, terus banyak pria yang mendekati kamu lagi. Aku nggak rela kamu dimiliki oleh pria lain, May!" Raffasya dengan tegas membantah ucapan Azkia.
" Terus aku mesti jadi janda sampai tua gitu, Kak? Rugi banget, dong! Aku cantik begini masa nggak bisa dapat cowok baru lagi, sih?" Azkia sengaja meledek suaminya.
" Jangan macam-macam kamu, May! Kalau kamu sampai menikah lagi dengan pria lain, aku bersumpah, aku akan gentayangan tiap malam mengganggu kalian berdua agar kalian tidak bisa bermesraan!" Raffasya sepertinya terbawa serius dengan perkataan Azkia.
" Hahaha, serem amat, Kak. Tapi kalau nanti jadi hantu, kira-kira Kak Raffa masih ganteng kayak gini nggak, ya?" Azkia menyeringai.
" Sudah ah, jangan bicara soal itu! Naudzubillahi min dzalik, semoga hal seperti itu nggak terjadi pada kita. Semoga rumah tangga kita langgeng sampai kakek nenek dan kita menua bersama dengan anak-anak dan cucu-cucu kita." ucap Raffasya melambungkan harapannya.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️